Bumil Jangan Garuk Perut, Hati-hati Stretch Mark!

Familiar dengan anjuran (lebih tepatnya larangan, sih) di atas? Cukup sering kalimat tersebut dilontarkan, biasanya jika ada bumil yang mengeluh gatal-gatal di kulit perut, baik meminta masukan maupun tidak. Umumnya, bumil diminta menahan diri supaya tidak menggaruk kulit perut yang terasa gatal itu, atau kalaupun mau garuk dibilang pakai pembatas seperti baju atau gunakan alat bantu seperti sisir. Tujuannya, agar bekas garukan tidak menjelma menjadi guratan lembah cekung panjang berwarna putih di kulit atau yang biasa disebut dengan istilah stretch mark.

Stretch mark ini sebenarnya bukan hanya rawan dialami oleh ibu hamil. Pada dasarnya orang yang berat badannya berubah secara drastis bisa mendapati keadaan tersebut di kulitnya. Lokasinya pun tidak melulu di perut, bisa saja pada kulit pinggul, paha, payudara, atau betis. Perubahan berat badan tersebut menyebabkan kulit meregang secara drastis dan meninggalkan bekas serupa garis yang tidak melulu berwarna putih. Ada stretchmark alba yang berwarna putih dan stretchmark rubra yang berwarna merah muda. Berikut saya kutip dari Kompas:

Continue reading

[Kliping] Seputar Radang Tenggorokan dari dr. Apin

Mumpung ada waktu, bikin kliping deh dari status-status dr. Arifianto, Sp.A., alias dr. Apin seputar radang tenggorokan. Radang tenggorokan ini bisa dibilang diagnosis yang cukup umum diberikan, termasuk ketika sedang batuk pilek dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Dulu, saya juga termasuk yang menerima saran “kalau tenggorokan sudah mulai gak enak, itu tandanya sudah saatnya minum antibiotik, sebelum menjadi-jadi”. Termasuk isap-isap FG Troches, tablet pink berlubang di tengah yang ternyata mengandung antibiotik juga.

Setelah kenal Milis Sehat sekitar 9 tahun yang lalu, pelan-pelan saya mulai paham. Meskipun, kadang kalau lagi berasa ‘menderita banget’ seperti ketika sakit tenggorokan di masa awal-awal pindah ke Jakarta dan menelan air putih pun sampai berjengit kemudian dokter keluarga kami tetap tidak memberikan resep antibiotik, kadang rasanya pengin nangis menahan nyeri, hehehe. Tapi, ya itu kan memang prosedurnya ya. Kalau tidak terbukti radang tenggorokan karena bakteri, buat apa dikasih antibiotik? Nanti malah membasmi bakteri baik di dalam tubuh kita.

Untuk membedakan radang tenggorokan karena bakteri atau virus, bisa gunakan Centor score yang juga dijelaskan dr. Apin di bawah, atau lebih lengkapnya ada di web Sehat dengan alamat http://milissehatyop.org/strep-throat-infeksi-tenggorokan-oleh-streptococcus-group-a/. Idealnya sih pakai uji usap tenggorok, tapi saya coba tanya lewat e-mail ke Prodia dulu, ternyata biaya tesnya amat mahal. Kultur swab tenggorokan harus bayar Rp477.500, itu tahun 2013 ya.

Siapa yang anaknya pernah didiagnosis dokter kena radang tenggorokan? Hayo angkat tangan! Ya, ya, saya seolah bisa melihat Anda mengangkat tangan.

Lalu…siapa yang anaknya dikasih antibiotik karena radang tenggoroknya? Ah, saya sepertinya melihat sebagian yang mengangkat tangannya tadi kembali mengacungkan telunjuknya.

Jadi…radang tenggorok perlu diobati dengan antibiotik? Kalau tidak diobati dengan antibiotik bagaimana? Katanya nanti bisa kena komplikasi ke jantung, radang ginjal, dan sebagainya.

Nah, ini dia tulisan yang ditunggu-tunggu selama ini: http://milissehat.web.id/?p=2636 yang menjelaskan perbedaan antara radang tenggorok alias sore throat dengan strep throat.

Ya, di artikel yg ditulis oleh seorang ahli infeksi tropis anak alumni Michigan University dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP ini, kita akan tahu fakta bahwa:
– radang tenggorok tidak semuanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A (strep throat). Padahal antibiotik hanya diberikan pada sore throat yang disebabkan oleh strep throat.
– strep throat adalah penyebab 20-35% sore throat pada anak (tidak sampai 50% kan?). Ini pun pada yang usianya 5-15 tahun. Anak di bawah 3 tahun jarang sekali mengalami strep throat
– bila ada gejala pilek, maka kemungkinannya lebih mengarah pada infeksi virus yang tidak butuh antibiotik

Lalu apa gejala strep throat yang membutuhkan antibiotik? Baca dulu ya artikelnya…


Arifianto Apin

Continue reading

Emergensi pada Anak di Sekitar Rumah

Setelah beberapa kali kehabisan tiket, akhirnya kesampaian juga saya mengikuti Parenting Class bersama dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., MARS. atau lebih akrab disapa dengan dr. Tiwi. Beliau termasuk salah satu dokter anak yang aktif berbagi ilmu untuk edukasi, khususnya mengenai kesehatan anak dan MPASI dengan sasaran keluarga muda. Kali ini dr. Tiwi tidak membahas MPASI, melainkan Emergensi pada Anak di Sekitar Rumah. Sesi dr. Tiwi ini merupakan sesi pertama dalam acara Parenting Class: Pertolongan Pertama pada Kedaruratan untuk Anak di Rumah pada tanggal 19 Februari 2017 di RSU Bunda Menteng Jakarta.

Aktivitas edukasi yang dijalani oleh dr. Tiwi menurut beliau bertujuan menyampaikan hal-hal yang seharusnya diketahui oleh orangtua. Orangtua khususnya ibu adalah dokter yang utama untuk anak. Tidak semua kondisi kesehatan anak mengharuskan kunjungan segera ke dokter atau rumah sakit, apalagi rumah sakit justru merupakan tempat yang ‘menyeramkan’ karena banyak kuman ganas di sana. Juga tidak semua sakit yang dialami anak membutuhkan obat, karena obat hanya diberikan pada saat benar-benar diperlukan.

Slide awal yang ditampilkan oleh dr, Tiwi menjelaskan bahwa tubuh sudah punya pertahanan kekebalan tubuh terhadap serangan mikroorganisme yaitu berupa sistem pernapasan (selaput mukosa, sel ephitalia), pencernaan (selaput mukosa, asam dan basa, flora bakteri), dan kulit/mukosa (barrier fisik, kimiawi, maupun flora bakteri). Bekerjanya dengan cara menahan, mengidentifikasi, dan menghancurkan musuhnya.

Continue reading

Update Ilmu Gendong-menggendong Bersama IBW

Urusan gendong anak sepengamatan saya merupakan salah satu hal yang banyak ditanyakan di grup parenting. Lewat pertanyaan-pertanyaan tersebut, dulu, saya jadi mengenal istilah seperti pekeh (“Bun, bayi boleh mulai dipekeh gendongnya umur berapa, ya?”).

Meski konon katanya istilah dalam bahasa Jawa, tapi saya yang lahir dan besar di Jawa Tengah dengan keluarga asli Jawa pula, baru tahu istilah tersebut setelah anak pertama saya menjelang setahun. Rupanya, itu sebutan untuk posisi menggendong di mana kedua kaki anak seperti ‘dibuka’, alias tidak disatukan atau ditangkupkan dekat-dekat. Kedua kaki tersebut bisa dipisahkan oleh badan penggendong (misalnya untuk posisi gendong samping) maupun oleh alat atau kain penggendong.

Belakangan sebuah artikel di website The Urban Mama, lebih tepatnya salah satu komentar di situ, menyadarkan saya bahwa gendong-menggendong ini bukan perkara sepele. Salah-salah, tubuh anak berisiko mengalami gangguan. Artikel yang dirujuk dalam komentar adalah tulisan dalam situs babywearingadvice, http://www.babywearingadvice.co.uk/anatomy.htm. Saya jadi tahu bahwa seharusnya bayi diposisikan sedemikian sehingga kakinya membentuk huruf M.

Posisi ini, dengan kedua lutut setidaknya setinggi pantat bayi, tidak akan tercapai jika bagian bawah gendongan (yang biasanya bermodel mirip ransel depan) terlampau sempit. Posisi ini memang tampak serem bagi yang belum terbiasa, tapi ternyata itulah yang benar. Toh tidak terlalu ngangkang juga kok, jika overspread juga tidak tepat. Ikuti saja posisi kaki alami bayi, seperti foto dari Sheffield Sling Surgery berikut (ada juga yang menyarankan coba angkat bayi mungil dengan bertumpu di ketiak, biasanya kakinya akan membentuk posisi alami mirip ini dan segitulah lebar yang disarankan):

Continue reading

Kemudahan Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit dengan Mobile Skrining BPJS

Awal Februari ini BPJS Kesehatan mengadakan peluncuran aplikasi BPJS Kesehatan Mobile secara nasional, salah satunya diselenggarakan di kantor lama saya. BPJS Kesehatan Mobile ini memiliki fasilitas untuk skrining riwayat kesehatan yaitu dengan cara mendeteksi dini faktor risiko penyakit seperti diabetes militus, hipertensi, gagal ginjal, dan jantung koroner. Melalui aplikasi ini, kita dapat mengetahui kondisi kesehatan di mana saja dan kapan saja sehingga menghemat waktu.

mobile-skrining

Continue reading

Peran Akupunktur dalam Mencegah Serangan Jantung Secara Dini (Sesi II) 

Sesi Peran Akupunktur dalam Mencegah Serangan Jantung Secara Dini ini menyambung bahasan sesi sebelumnya. Dalam acara yang diadakan oleh Balai Kesehatan Kementerian Keuangan bekerja sama dengan RSIA Tambak pada tanggal 8 Februari 2017 ini, dr. Lina Rostini, Sp.Ak. tidak hanya menyajikan presentasi tetapi juga langsung mencontohkan kegiatan senam limfatik dan gerakan akupunjktur sederhana yang dapat dilakukan di rumah sehari-hari. Beberapa peserta juga menjajal langsung akupunktur dengan jarum oleh dr. Lina di akhir acara.

wp-1486603771892.jpg

 

Berikut catatan saya:

Serangan jantung adalah kondisi di mana jantung tidak mendapatkan cukup oksigen dari darah yang mengalir ke jantung, sehingga otot jantung tidak bisa berfungsi (memompa darah) dan aliran darah berhenti. Penyebab: keterlambatan suplai darah ke otot jantung, peningkatan kebutuhan darah dan oksigenisasi. Sedangkan faktor predisposisinya antara lain merokok, stres, obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes, dan stres.

Pilar pengelolaan diabetes bukan hanya minum obat ya, tapi harus jaga input dan output yaitu makanan dan olahraga.

Continue reading

CERDIK Cegah Serangan Jantung Usia Muda (Sesi I) 

Siang tadi saya mengikuti acara edukasi semacam seminar yang diadakan oleh Balai Kesehatan Kementerian Keuangan bekerja sama dengan RSIA Tambak. Narasumber untuk bahasan pertama dengan judul CERDIK Cegah Serangan Jantung di Usia Muda adalah dr. Elli Arsita, Sp.PD.

wp-1486542378558.jpg

Penyakit jantung saat ini tak lagi mengenal usia, banyak orang berusia muda terkena serangan jantung dan meninggal. Serangan jantung terjadi ketika terbentuk gumpalan darah di pembuluh darah, jantung tiba-tiba tidak bisa berfungsi mendadak, berhenti berdetak, bisa meninggal. Penyakit jantung koroner disebabkan penyempitan pembuluh darah koroner oleh plak di dinding pembuluh darah. Plak timbul karena gaya hidup tak sehat: merokok, konsumsi terlalu banyak makanan mengandung kolesterol jahat, dan diabetes mellitus.

Continue reading

Bincang Kesehatan Reproduksi Wanita 

Pernah dapat broadcast soal minum es saat haid bisa bikin kista? Atau baca forward-an kurang jelas tentang makanan-makanan tertentu yang juga terkait kesehatan rahim atau payudara? Masalah kesehatan reproduksi memang patut mendapat perhatian khusus, sayangnya informasi terkait hal tersebut kadangkala simpang siur kalau kita tak piawai memilah sumber. Salah-salah malah terjerumus pada hoax yang bukan hanya tak berguna, tetapi juga bisa berbahaya. Karena itulah saya mendaftarkan diri pada acara Pink Class #TUMMeTime yang diadakan oleh The Urban Mama yang mengangkat tema All About Kesehatan Kewanitaan.

Acaranya sendiri diadakan di fx Sudirman tanggal 28 Januari lalu. Narasumber yang diundang, dr. Riyana Kadarsari, Sp.OG namanya sudah sering saya baca di artikel atau rubrik konsultasi di berbagai media. Senang bisa mendengar penjelasan dari beliau langsung, termasuk bisa berdiskusi interaktif untuk menanyakan hal-hal yang selama ini mengganjal seputar kesehatan reproduksi wanita. Walaupun sudah tiga hari tidak pulang ke rumah (!) saking banyaknya pasien, beliau tetap semangat berbagi dan menanggapi keingintahuan para peserta.

Karena saya datang lebih awal, jadi saya ikut terlibat juga dalam obrolan ringan tapi berisi tentang concern kesehatan perempuan masa kini. Misalnya, kita cenderung kurang aktif bergerak, takut akan sinar matahari, apalagi tertutup hijab, sehingga rawan terkena osteoporosis dan osteopreni. Saat ini mungkin masih kuat, tetapi hati-hati saat menopause datang dan estrogen kita sudah ‘habis’. Sementara stres perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki, karena perempuan biasanya melalui fase hamil, menyusui, plus kurang tidur. Jadi, para mama, harus dibiasakan ya aktivitasnya, jangan sampai menyesal di belakang. Penyakit-penyakit yang dulu hadir di usia tua sekarang makin muda yang terkena. Kalau dulu masalahnya infeksi karena sanitasi yang kurang bagus, sekarang banyak penyakit degeneratif karena lifestyle. Junk food sebaiknya memang jangan sering-sering walaupun tidak secara langsung jelas ada hubungannya. Contoh saja makanan deep fried, tentunya risiko kolesterol jahat.

Beranjak ke materi utama, dr. Riyana mempresentasikan mengenai kanker leher rahim. Penyebab kanker leher rahim sendiri bermacam-macam dan sebagian belum sepenuhnya diketahui. Human papillomavirus atau HPV yang menjadi penyebab utama kanker leher rahim (atau dalam bentuk lebih jinak bisa mewujudkan diri dalam bentuk kutil kelamin) 70% bisa sembuh sendiri karena virus kan pada dasarnya self limiting disease. Sedangkan yang 30% bisa berkembang misalnya karena pengaruh lingkungan. Menikah dan hamil terlalu muda, pola makan yang tidak baik, stres (yang biasanya berdampak juga ke makan sembarangan dan istirahat ikut terabaikan), berganti pasangan/partner seksual, merokok, banyak melahirkan, merokok bisa memicu perkembangan kanker. Kanker leher rahim ini lebih sering terlambat dideteksi. Segala kelainan di organ kewanitaan kita bisa menyebabkan keluhan di area berkemih maupun anus, jadi waspada terhadap gejala yang kita alami atau rasakan, misalnya sering berkemih ataupun keputihan berlebihan. Keputihan ada yang normal ada yang tidak. Yang jelas perlu waspada kalau ada perubahan pola haid, keputihan disertai darah. Keputihan bisa pengaruh ke kesuburan kalau sampai naik ke panggul dan menyumbat saluran tuba misalnya. Tapi tidak bisa langsung disimpulkan sulit punya anak karena keputihan karena ada banyak faktor.

Continue reading

Talk to The Expert: Cegah Stroke

RS Premier Jatinegara termasuk cukup rutin menyelenggarakan seminar awam gratis untuk umum, sepengamatan saya sekitar sebulan sekali. Namun, saya baru kesampaian mengikuti kegiatan edukasi tersebut pekan lalu, tepatnya tanggal 21 Januari. Tema yang diangkat kali itu adalah Cegah Stroke. Mengingat papa dulu terkena stroke sampai dua kali di usia belum 50 tahun, saya pun ingin menambah pengetahuan mengenai kondisi yang satu ini.

img_20170121_091150

Narasumber dalam seminar yang digelar di lantai 9 RS Premier Jatinegara tersebut adalah dr. Sukono Djojoatmodjo, Sp.S., dokter spesialis syaraf sekaligus direktur RS. Sebagai pembuka, dr. Sukono memaparkan bahwa manusia masa kini memang lebih rawan terkena stroke karena gaya hidup modern yang cenderung tidak sehat. Makan enak tapi malas olahraga, misalnya. Stroke merupakan penyebab kematian kelima di Amerika Serikat. Setiap 40 detik ada orang yang terkena stroke. Perempuan, kata dr. Sukono, lebih berisiko terkena stroke karena proses perubahan hormon selama hamil, pemakaian pil KB, maupun terapi sulih hormon. Namun, dari jumlah keseluruhan stroke itu sebenarnya 80% bisa dicegah.

Continue reading

Redwin Sorbolene Moisturiser, Teman Asyik (Bukan Hanya) Saat Mudik

Kulit lembut adalah bagian penting dari penampilan seseorang. Keringnya lapisan pelindung luar tubuh kita akan membuat kita terlihat kusam dan kurang enak dipandang, kadang mengesankan keengganan si empunya merawat, juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan saat bersentuhan. Itu pemahaman saya dulu jika saya ditanya mengenai menjaga kelembapan kulit.

Sekarang? Status sebagai orangtua membuat saya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Kulit kering bukan cuma mengganggu penampilan, melainkan bisa sampai mengganggu kualitas hidup. Terdengar ekstrem, tapi begitulah adanya. Terlalu cepatnya cairan di permukaan kulit menguap bikin kulit mudah kehilangan kelembapannya. Akibatnya kulit bisa pecah-pecah dan rasa tidak nyaman yang diakibatkannya membuat sulit berkonsentrasi pada hal lain.

Putri pertama kami sempat menampakkan gejala kulit kering yang sensitif pada tahun pertamanya. Hanya di area tertentu dan tidak berkepanjangan, syukurnya. Tidak sampai membuat ia rewel karena gatal apalagi sulit tidur. Tapi apa yang ia alami menjadi pembuka wawasan baru saya, bawa pernyataan ‘selembut kulit bayi’ tidaklah selamanya tepat. Adakalanya makhluk mungil tersebut harus berada dalam kondisi tidak nyaman akibat tidak terhidrasinya kulit dengan baik.

Continue reading