“Bismillah, kita batalin, ya?”
Saya mengangguk, dan suami pun meneruskan proses yang berlangsung di layar ponselnya.
Pandemi Covid-19 membuat kami jadi harus menahan rindu kepada orang tua lebih lama lagi. Tiket mudik Idul Fitri yang pemesanannya perlu perjuangan bergadang beberapa malam pun harus direlakan. Saat itu, kami berharap penundaan hanya sementara. Semoga pada Lebaran Haji kami bisa meluncur ke kampung halaman di Pati dan Sukoharjo. Sayangnya, ini pun belum memungkinkan.
In sya Allah, Idul Adha ini kami akan tetap di Jakarta. Tetap ada yang bakal berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena kami kini menempati rumah baru.
Di lingkungan sebelumnya, biasanya ada acara menyembelih kambing di rumah salah satu tetangga. Daging kambingnya selain dibagikan juga dimasak dan dimakan bersama-sama. Kami belum tahu bagaimana kebiasaan warga sini, ditambah lagi situasi sepertinya belum memungkinkan untuk kumpul-kumpul seperti itu. Pastilah banyak perubahan prosedur dalam penyembelihan hewan qurban juga.





