[Kliping] Seputar Demam Dengue

Buat arsip, sebagian dari akun dr. Arifianto, SP.A.

(Baca juga: https://ceritaleila.wordpress.com/2016/08/11/demam-lebih-dari-3-hari-wajibkah-cek-darah/)

Arifianto Apin
12 October 2014 at 10:27 · Edited ·
Antara Demam Berdarah dan Tipes
Di RS, salah satu aktivitas saya adalah membimbing adik-adik mahasiswa FK YARSI yang menjalani tahap koasistennya (koas). Beberapa hari yang lalu, kami mendiskusikan demam berdarah Dengue (DBD) dan tipes alias demam tifoid dalam bentuk presentasi kasus.
Ada beberapa poin yang saya tekankan sebagai “take home message” dan ingin saya bagikan di sini.
Pertama, nilai trombosit turun tidak hanya terjadi pada DBD dan demam Dengue (DD) saja, tetapi dapat terjadi pada berbagai infeksi virus dan bakteri. Bahkan batuk-pilek alias selesma saja bisa turun trombositnya. Roseola pun cukup sering turun trombositnya. Perhatikan juga nilai hematokrit yang meningkat pada DBD. Jadi perhatikan keduanya.
Kedua, demam tifoid hanya dicurigai bila demamnya minimal 7 hari. Jangan curigai seorang anak mengalami tipes alias demam tifoid bila demamnya baru 3-5 hari.
Lalu, pemeriksaan Widal di Indonesia tidak dapat dijadikan patokan untuk menegakkan diagnosis tifoid, karena kalau saja orang-orang dewasa yang sehat tanpa gejala, ketika diperiksakan Widal-nya bisa jadi mayoritas akan positif. Widal mendeteksi adanya kekebalan tubuh (antibodi) yang dihasilkan ketika seseorang sudah pernah menelan kuman Salmonella penyebab tifoid, tetapi anak-anak yang Widal-nya positif belum tentu sakit.

===============================================================================

Arifianto Apin

2 March at 16:54 · Edited ·

Katanya Demam Berdarah Dengue alias DBD sedang mewabah ya? Bagaimana dengan “tipes” alias demam tifoid? Karena kabarnya ada beberapa yang dirawat akibat DBD dan demam tifoid bersamaan. Mungkinkah?

Ini pertanyaan favorit saya buat para Koas yang sedang menjalankan rotasi di bagian Anak. Apa pasalnya? Beberapa orang bercerita dirinya didiagnosis DBD dan tifoid bersamaan gara-gara: tes Widal!

Banyak orang familiar dengan pemeriksaan laboratorium satu ini. Katanya kalau Widal-nya positif, berarti sakitnya tipes. Ketahuilah bahwa diagnosis demam tifoid dipastikan dengan beberapa hal:

1. Gejala. Ya, namanya saja demam tifoid, jadi yang sedang sakit pasti bergejala demam. Nah, demamnya seperti apa? Ada yang bilang seperti “step ladder”, jadi makin lama hari sakitnya, maka ambang suhunya makin tinggi. Tapi ternyata tidak harus seperti ini. Yang menjadi kata kunci demam tifoid adalah: demamnya mininal 7 hari! Beda kan dengan DBD yang sudah bisa dicurigai sejak demam 2 hari bahkan.

2. Penyakit tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Kita sudah paham bahwa yang namanya infeksi bakteri butuh antibiotik (DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang tentunya tidak butuh antibiotik). Bakteri Salmonella ini masuk ke tubuh lewat makanan/minuman yang terkontaminasi Salmonella. Dan umumnya makanan pinggir jalan yang higienenya buruk yang berisiko menyebabkan tipes. Siapa yang biasa jajan makanan seperti ini? Anda dan saya tentunya. Hehe. Maksud saya, mungkinkah anak berumur 2 tahun atau lebih muda yang belum pernah jajan makanan seperti ini terkena demam tifoid? Inilah sebabnya tifoid umumnya menginfeksi anak besar usia SD ke atas. Evaluasi ulang bila seorang anak balita sampai didiagnosis tifoid.

3. Lalu bagaimana bisa memastikan diagnosis tifoid berdasarkan pemeriksaan darah? Dengan pemeriksaan Widal? Hmmm…

Jadi pemeriksaan laboratorium yang bertujuan menentukan kuman penyebab penyakit ada 2 cara: secara langsung menemukan kumannya dan yang secara tidak langsung.

Cara pertama adalah dengan pemeriksaan kultur (biakan) baik dari darah, air seni (urin), dan tinja (feses), maupun cairan tubuh lainnya. Jadi kuman dibiakkan dalam suatu media, dan ditunggu hingga beberapa hari untuk mendapatkan hasil apa sebenarnya bakteri penyebab penyakitnya. Inilah yang dilakukan pada kecurigaan demam tifoid, yaitu dengan pemeriksaan kultur darah/tinja/urin untuk mendapatkan si kuman Salmonella typhi. Sayangnya tidak semua RS punya fasilitas ini. Dan harganya juga tidak murah (tapi ditanggung BPJS Kesehatan lho…).

Cara kedua adalah dengan mendeteksi “jejak” keberadaan si kuman, yaitu dengan mengetahui adanya antibodi yang dihasilkan si antigen (kuman). Inilah Prinsip pemeriksaan seperti Widal, Tubex, TORCH, dan IgG-IgM Anti Dengue. Jadi ada risiko yang terdeteksi sebenarnya adalah “jejak” si kuman masa lampau, yang pernah masuk ke tubuh berbulan-bulan lalu. Bukan yang menyebabkan sakit saat ini.

Paham tidak sejauh ini? Mudah-mudahan tidak bingung.

Jadi bisa saja Widal-nya “positif”, tapi sebenarnya tidak sakit tipes! Karena Widal ini menandakan berbulan-bulan lalu ia pernah kemasukan kuman tifoid, dan saat itu ia tidak sampai sakit. Sedangkan saat ini sakitnya bukan tifoid dari gejala-gejala yang ada.

Pelajarannya adalah: selalu berhati-hati dalam menginterpretasi pemeriksaan laboratorium yang menilai keberadaan kuman secara tidak langsung, termasuk Tubex (IgM Anti Salmonella) yang katanya lebih sensitif dan spesifik dari Widal. Pemeriksaan semacam TORCH pun juga.

Saya kadang mengajak kawan-kawan berdialog seperti ini: “dari kita semua yang ada di sini dalam kondisi sehat wal afiat, bila “iseng-iseng” dicek Widal-nya, bisa saja mayoritas “positif”, padahal tidak satu pun yang demam tifoid.” Mengapa? Karena kita semua pernah makan jajanan pinggir jalan yang terkontaminasi Salmonella, tetapi alhamdulillah tidak sakit, karena adanya antibodi yang melawan kuman. Dan “jejak” inilah yang terbaca sebagai Widal positif.

Sebagai kesimpulan, lessons learned-nya adalah:

1. Kembalikan kepada diagnosis berdasarkan tanda dan gejala yang dialami. Kalau demamnya baru 3 atau 5 hari, ya kemungkinan kecil, bahkan jangan pikirkan dulu, demam tifoid. Berpikir demam tifoid ya kalau demamnya sudah lebih dari 7 hari. Bahkan kalau demam sudah 3 hari tapi jelas ada batuk pilek ya tidak usah juga berpikir DBD dan cek darah, karena diagnosisnya adalah selesma.

2. Setiap pemeriksaan laboratorium pastilah memiliki keterbatasan. Maka selalu kembalikan kepada diagnosis. Dokter tidak mengobati hasil laboratorium, tetapi dokter mengobati pasien.

Semoga bermanfaat

============================================================================

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal di daerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris. Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

–    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

–  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

–   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemis cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

–   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitif untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Selengkapnya di blog mba Auditya & dr. Ferry, SP.A

http://aufalactababy.com/2012/05/27/demam-berdarah-turun-trombositperdarahan/

===========================================================================

Sementara itu dokter spesialis anak RS Sardjito lainnya dr. Ida Safitri, Sp.A. menambahkan masih ada kesalahan persepsi di kalangan masyarakat bahkan tenaga medis yaitu penurunan jumlah trombosit merupakan penentu derajat keparahan DBD. Padahal yang menentukan derajat keparahan DBD adalah peningkatan kekentalan darah (hematokrit yang meningkat) maupun juga disertai penurunan trombosit.

“Hematokrit naik bisa sebabkan syok. Trombosit turun hanya di fase kritis dan akan normal di fase pemulihan. Sepanjang tak terjadi perdarahan berat tak perlu intervensi medis untuk menaikkan kadar trombosit,” kata Ida.

Sedangkan mengenai obat yang beredar di pasaran yang mengandung angkak, ekstrak jambu biji merah, sari kurma dll sampai saat ini ujar Ida belum ada penelitian atau bukti ilmiah tentang manfaat zat-zat tersebut dalam kaitannya untuk meningkatkan kadar trombosit.

http://m.okezone.com/read/2010/04/07/340/320286/trombosit-bukan-penentu-derajat-keparahan-dbd

=======================================================================

Perjalanan penyakit demam dengue umumnya hanya satu minggu. Setelah itu, pasien akan membaik, asalkan tidak disertai kebocoran pembuluh darah. Jika disertai perdarahan ini disebut DBD (demam berdarah dengue). Dari yang mengalami perdarahan ini, sekitar 30 persennya terkena syok dan 30 persen lagi bersisiko kematian.

Selama ini, anggota keluarga pasien akan merasa sangat khawatir jika kadar trombosit yang sakit dinyatakan turun. Sebetulnya bukan kadar trombosit yang menentukan keselamatan pasien, akan tetapi hematokritlah yang lebih penting diperhatikan.

“Trombosit turun sampai tinggal belasan ribu, kalau hematokrit masih bagus, ya tidak akan meninggal, karena berarti tingkat kebocoran pembuluh darah tidak tinggi,” jelas Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)., M.TropPaed., Ketua Divisi Penyakit Infeksi dan Pediatri Tropis, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

Kondisi demamnya juga harus diperhatikan. Penyakit DBD biasanya ditandai demam tinggi selama tiga hari. Namun, bukan hanya demam pada tiga hari pertama itu yang harus diwaspadai. “Masa kritisnya justru di hari keempat dan kelima. Jadi, jangan lengah, jangan merasa sudah aman jika demam terkesan menurun di hari keempat dan kelima,” saran dr. Hingki, sapaan akrabnya.

http://m.tribunnews.com/kesehatan/2013/06/18/bukan-kadar-trombosit-penentu-keselamatan-pasien-demam-berdarah

================================================================================

Banyak kabar yang beredar di masyarakat kalau terkena demam berdarah diberikan jus jambu atau angkak. Namun sebenarnya tidak ada obat untuk demam berdarah, tapi hanya andalkan banyak cairan.

“Demam berdarah tidak ada obatnya, tapi hanya bermain cairan,” ujar Dr. Rita Kusriastuti, MSc., Direktur Pengendalian Penyakit bersumber Binatang (P2B2) Ditjen P2PL Kemenkes RI dalam acara peringatan pelaksanaan ASEAN Dengue Day ke-2 di Amilun Convention Hall, Medan, Jumat (15/6/2012).

Dr. Rita menuturkan pertolongan pertama untuk demam berdarah adalah memberikan cairan, mau jus jambu, sari kurma atau angkak yang terpenting memberikan cairan ke dalam tubuh. Lalu pantau pada hari ketiga dan kelima yaitu saat masa kritis.

Hal ini karena pada orang demam berdarah terjadi kebocoran di pembuluh darah sehingga harus diberikan banyak minum untuk mengganti cairan agar trombosit tidak makin turun. Tapi pemberian cairan ini jangan dipaksa hanya sekuatnya saja.

“Pada hari kelima trombosit akan naik sendiri meski hanya minum air putih, karena tubuhnya sudah bisa memperbaiki diri sehingga kadar trombositnya naik. Tapi kalau virusnya ganas maka kebocoran bisa parah dan harus dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.

Dr Rita menjelaskan dalam menangani kasus demam berdarah hanya perlu bermain dengan cairan, saat terjadi kebocoran harus banyak minum, tapi saat kebocorannya sudah selesai maka dalam waktu 2×24 jam asupan cairan harus dikurangi.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk pertolongan pertama terhadap penderita demam berdarah yaitu:
1. Memberikan minum sebanyak mungkin.
2. Kompres agar panasnya turun.
3. Memberikan obat penurun panas.
4. Jika dalam waktu 3 hari demam tidak turun atau malah naik segera bawa ke rumah sakit atau puskesmas.
5. Jika tidak bisa minum atau muntah terus menerus, kondiai bertambah parah, kesadaran menurun atau hilang maka harus dirawat di rumah sakit.

http://m.detik.com/health/read/2012/06/15/143241/1942274/763/demam-berdarah-tidak-ada-obatnya-hanya-andalkan-cairan

=============================================================================

Meski sama-sama disebabkan oleh infeksi virus dengue, demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) adalah hal yang berbeda. Mengapa? Dan apa penyebab serta bagaimana penanganan serta perawatan orang sakit demam dengue dan demam berdarah dengue?

Dokter spesialis penyakit dalam FKUI/RSCM Leonard Nainggolan, dilansir Kompas, mengatakan meski demam dengue dan DBD sama-sama disebabkan oleh virus dengue, ada perbedaan dasar pada keduanya, yaitu kebocoran plasma. Pada demam dengue gejala hanya berupa demam dan syok namun tidak sampai disertai dengan kebocoran plasma.

Ia menjelaskan, kebocoran plasma merupakan melebarnya celah antar sel di pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya plasma darah keluar dari pembuluh darah. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah.

Meski plasma darah bisa keluar, lanjut dia, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar. Jika plasma darah saja yang keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya.

Dengan kata lain, DBD lebih berbahaya dan memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan dengan demam dengue. Ini karena jika terjadi kebocoran plasma, DBD bisa berisiko kematian. Ini berhubungan dengan pengentalan darah yang tidak normal di dalam tubuh yang berakibat kurangnya pasokan bagi organ-organ penting dalam tubuh.

Dalam kesempatan berbeda, Profesor Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, ada dua pendapat mengenai demam dengue dan DBD itu sendiri. Pendapat pertama, kedua penyakit itu berbeda, namun ada pula yang mengatakan, demam dengue bisa berkembang menjadi DBD jika dibiarkan.

“Namun yang jelas, orang perlu mewaspadai kebocoran pada plasma karena bisa menyebabkan kematian,” kata Sri.

Mengapa mematikan?

Dengan risiko kematian mencapai 0,9%, penyakit demam berdarah jelas bukanlah penyakit yang bisa diremehkan. Apalagi kasus penyakit ini mencapai 140.000 setiap tahunnya.

“Kalikan saja 0,9% dengan 140.000, sudah 1.400 dalam setahun. Sehingga dalam sebulan paling tidak rata-rata ada 100 kematian karena DBD di Indonesia,” kata dr. Leonard Nainggolan, Sp.PD.

Ia menjelaskan, DBD bisa menyebabkan kematian jika pasien tidak bisa melewati fase kritis dengan baik. Pada fase kritis, virus dengue penyebab DBD mulai beraksi merusak celah antarsel di pembuluh darah.

Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah. Meski plasma darah bisa keluar, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar.

“Jika plasma darah keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya,” tutur dia. Ia menganalogikan dengan cairan gula. Bila satu sendok gula biasa dilarutkan dalam satu gelas air, larutan gula akan lebih pekat bila gula hanya dilarutkan dalam setengah gelas air.

Nah, komplikasi pengentalan darah inilah yang berakibat fatal. Leonard menjelaskan, darah yang lebih kental akan lebih sulit dialirkan ke seluruh tubuh. Lama kelamaan organ-organ tubuh akan kekurangan pasokan oksigen dari darah.

Kurangnya oksigen pada organ akan menganggu fungsinya. Jika dibiarkan, pasien akan mengalami kegagalan multiorgan dan meninggal.

Perawatan Umum

Saat menderita demam berdarah, jus jambu menjadi minuman rutin dikonsumsi pasien. Mitos bahwa jus jambu cepat menurunkan trombosit memang telah mengakar kuat di masyarakat. Tetapi, seperti apakah faktanya? Leonard Nainggolan mengatakan hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat jus jambu untuk penyembuhan DBD. Namun, untuk meringankan fatalitas dari DBD, pasien perlu banyak minum.

“Namun cairan itu bisa didapat dari mana saja, tidak harus jus jambu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, prinsip cairan yang masuk ke dalam tubuh pasien DBD adalah yang mengandung isotonik dan glukosa. Itulah kenapa jus jambu yang umumnya merupakan minuman manis dan mengandung vitamin dan mineral dari buah masuk dalam kriteria minuman yang dibutuhkan oleh pasien DBD.

“Sebaiknya memang bukan air biasa, karena pasien membutuhkan pengganti isotonik dan glukosa yang banyak hilang saat sakit. Itu juga yang direkomendasikan WHO,” kata dia.

Menurut dia, selama pasien tidak mengalami keluhan setelah minum minuman, termasuk jus jambu, maka tidak ada masalah bila pasien meneruskannya. Ia menegaskan, supaya pasien selama sakit minum sebanyak yang ia mampu. Tujuannya untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran pembuluh darah.

Diketahui virus dengue penyebab DBD beraksi dengan merusak celah antarsel di pembuluh darah. Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini.

Perawatan di rumah sakit

Setiap kali terjadi wabah demam berdarah (DB), hampir setiap rumah sakit akan penuh oleh pasien DB yang dirawat inap. Bahkan, di beberapa rumah sakit pemerintah pasien sampai harus dirawat di aula atau selasar karena tidak kebagian tempat tidur.

Meski berisiko mematikan, DB sebenarnya merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa obat. Namun sebelum sembuh, orang yang menderitanya akan melewati masa kritis. Dan pada masa itulah pasien membutuhkan perawatan yang baik untuk menjaga kondisi tubuhnya hingga mampu melewati masa kritis. Perawatan yang baik seringkali diasosiasikan dengan rawat inap di rumah sakit. Namun sebenarnya tidak semua penyakit DB membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Gejala demam berdarah

Leonard Nainggolan mengatakan gejala demam berdarah biasanya mirip dengan gejala penyakit lain. Karena itu jika mengalami gejala demam tinggi secara mendadak selama hampir 7 hari, lesu, tidak ada gejala influenza, dan demam mendadak dibarengi rasa sakit kepala, nyeri pada tulang dan otot, serta nyeri di belakang mata, maka hal permata yang wajib dilakukan adalah membawa pasien ke dokter untuk memastikan diagnosis.

“Namun untuk menentukan selanjutnya apakah pasien harus dirawat inap atau rawat jalan, kuncinya yaitu ada tidaknya kedaruratan. Kedaruratan yang dimaksud adalah syok, kejang, kesadaran menurun, dan pendarahan,” papar dia.

Meski tidak terjadi kedaruratan, ada dua kemungkinan yaitu tetap harus dirawat inap atau rawat jalan. Untuk menentukannya dokter akan melakukan uji Torniquet yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya bintik-bintik merah pada kulit.

Bintik-bintik merah pada kulit merupakan tanda tubuh mengalami pendarahan akibat virus dengue. Jika sudah terjadi pendarahan, artinya sudah terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang menyebabkan pengentalan darah yang berakibatan fatal.

“Namun kalaupun hasilnya positif, perlu dilihat juga jumlah trombosit pada darah. Jika kurang dari 100.000/ul, maka perlu dirawat inap, namun jika lebih dari 100.000/ul bisa dilakukan rawat jalan,” kata Leonard.

Dengan catatan, lanjut dia, rawat jalan perlu disertai dengan kontrol setiap hari sampai demam reda. Dan selama dilakukan rawat jalan, pasien perlu diberikan cairan sebanyak-banyaknya, semampu yang pasien bisa minum.

Infeksi kedua lebih parah

Setiap mengalami penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh virus, tubuh secara alamiah akan membentuk antibodi untuk melawan virus tersebut. Antibodi tersebut kemudian akan terus berada di dalam tubuh sehingga ketika virus yang sama menyerang tubuh sudah memiliki kekebalan.

Kendati demikian, konsep tersebut sedikit berbeda untuk penyakit demam berdarah (DB). Sehingga meski tercipta antibodi, tubuh bukannya kebal melainkan merespon virus dengan berlebihan sehingga menimbulkan gejala yang lebih parah daripada yang sebelumnya.

Menurut Leonard Nainggolan, setelah sembuh dari DB seseorang mungkin terkena DB lagi. Alasannya, virus dengue penyebab DB terdiri dari beberapa tipe, yaitu tipe den-1, 2, 3, dan 4.

“Sehingga misalnya pertama DB seseorang terinfeksi virus tipe den-2, suatu saat mungkin ia terkena DB lagi dari virus tipe den-3,” tuturnya.

Ia menerangkan, saat terkena DB dengan virus dengue den-2, maka antibodi yang terbentuk adalah untuk virus tipe tersebut, bukan tipe lainnya. Maka paparan virus tipe lainnya tetap bisa menyebabkan seseorang itu terkena DB kembali. Sayangnya, gejala yang ditimbulkan dari infeksi yang kedua mungkin lebih berat dari yang pertama. Menurut Leonard, ini karena reaksi antibodi yang sudah diciptakan dari infeksi sebelumnya mengenali virus tipe berbeda, namun tidak bisa melawannya.

“Efek sampingnya tidak ringan karena antibodi merespon (virus tipe berbeda) dengan lebih aktif,” ujar dia.

Ia mengatakan, virus dengue terbanyak yang dijumpai di Indonesia adalah virus tipe den-2 dan 3. Meski gejala dari infeksi masing-masing tipe virus tidak ada perbedaan yang signifikan.

Kewaspadaan

Cuaca yang panas dan hujan datang bergantian dengan selang waktu yang cepat merupakan saat penyakit-penyakit biasanya lebih mudah berdatangan, tak terkecuali DB. Leonard Nainggolan menjelaskan, risiko DBD memang meningkat di musim pancaroba. Pasalnya, penyakit ini disebarkan oleh nyamuk yang berkembang biak di air bersih tergenang yang dibiarkan beberapa waktu.

“Kalau musim hujan, meski ada genangan juga namun relatif lebih mudah terganti dengan air hujan yang baru, air lebih mengalir. Berbeda dengan musim pancaroba, setelah hujan tercipta genangan, kemudian panas lagi. Di genangan itulah nyamuk bisa berkembang biak,” tutur dia.

Ia menegaskan setitik genangan air saja sudah bisa menjadi sarana berkembangbiaknya nyamuk. Sehingga untuk mencegah terjadinya kasus DBD, setiap orang perlu menyadari untuk mencegah terjadinya genangan. Cara yang selalu direkomendasikan untuk pencegahan DBD adalah 3M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur. Leonard menjelaskan, semua tempat yang bisa menampung air, khususnya air yang bening perlu ditutup dan dikuras secara rutin.

Bahkan tempat-tempat yang bukan dikhususkan untuk penampungan air namun bisa terdapat genangan, misalnya wadah pot bunga, dispenser, kaleng bekas, atau ban bekas pun perlu selalu dipantau. Khususnya untuk benda-benda tak terpakai yang berpotensi menyimpan genangan perlu dikubur.

DBD merupakan penyakit infeksi yang dimanifestasikan dengan demam dan pendarahan. DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk tipe tertentu. Leonard menjelaskan, nyamuk yang menjadi vektor virus dengue membutuhkan darah untuk mematangkan telur-telurnya. Itulah kenapa nyamuk yang menggigit adalah nyamuk betina.

Nyamuk juga memiliki sifat sulit kenyang, maka cenderung untuk menggigit beberapa orang sekaligus. Inilah kenapa seringkali kasus DBD yang dijumpai di suatu wilayah tidak hanya satu kasus, melainkan beberapa kasus dalam satu waktu.

Sumber: http://simomot.com/2014/06/17/beda-demam-dengue-dan-dbd-penyebab-penanganan-dan-perawatan/ (tapi mending jangan diklik kali ya, iklan beritanya banyak yang saru 😁, nyari sumber lain yg cukup lengkap menyeluruh tapi bahasanya gak teknis banget belum nemu lagi).

Sudut pandang lain dari pernyataan dr. Nainggolan pada acara yang sama:

Sejumlah orang percaya bahwa memberikan segelas jus jambu merah pada pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD) mampu menggantikan cairan yang keluar dari dalam tubuh selama sakit. Benarkah?

“Saya pribadi bukan antiherbal. Tapi memang, mengenai jus jambu merah ini belum ada penelitian pastinya,” Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI di Jakarta, Selasa (10/6/2014)

Menurut Leonard, dipilihnya jus jambu merah ini karena disinyalir memiliki zat yang mempermudah meningkatkan trombrosit. “Ini masih disinyalir, yah. Soal pastinya, belum,” kata dia menambahkan.

Jika memang dilakukan para peneliti melakukan penelitian terhadap jambu merah, kemungkinan zat untuk menyembuhkan itu benar ada. Bagaimana pun, tambah Leonard, dirinya percaya kalau pencipta alam semesta ini sudah memberikan penangkal untuk setiap penyakit yang diderita oleh tiap manusia.

“Cuma itu masih perlu eksplorasi. Mudah-mudahan nanti kita bisa menemukannya,” kata Leonard.

Sepanjang pasien mampu mengisi tubuhnya dengan banyak cairan, maka tidak ada salahnya untuk memberikan jus jambu merah. Dengan catatan, minuman yang dikonsumsi oleh pasien, tidak menimbulkan gangguan baru yang justru membuatnya semakin sakit.

“Mau minum jus jambu merah atau buah naga, silahkan. Sepanjang tidak menimbulkan keluhan pada pasien, ya,” kata dia menekankan.

https://www.liputan6.com/health/read/2061188/jus-jambu-merah-ampuh-bagi-penderita-dbd

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jus jambu disebut-sebut bisa menaikan jumlah trombosit dari penderita demam berdarah dengue (DBD). Namun hal itu belum pernah terbukti secara klinis.

“Sampai sekarang belum ada uji laboratorium yang membuktikan jus jambu bisa meningkatkan trombosit atau mengatasi DBD,” kata Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) Leonard Nainggolan dalam acara “SOHO #BetterU: Hari Demam Berdarah ASEAN” di Jakarta, Selasa (10/6).

Menurut dia, hal terpenting yang harus dilakukan oleh penderita DBD adalah menjaga asupan cairan tetap cukup. Dengan kata lain, untuk memberikan perawatan kepada penderita DBD tidak wajib dengan pemberian jus jambu.

“Sepanjang penderita minum yang banyak maka itu yang terbaik selama tidak memberi gangguan kesehatan yang lainnya. Jus jambu itu hanyalah salah satu dari sumber cairan bagi penderita DBD. Itu saja,” katanya.

Oleh karena itu, berbagai minuman seperti jus jambu, jus mangga, jus apel ataupun angkak adalah sumber cairan yang bisa dipilih oleh penderita DBD.

“Boleh mana saja cairannya selama tidak membahayakan penderita. Tapi kalau jus jambu dan kawan-kawannya itu dianggap sebagai zat yang bisa menambah trombosit darah ternyata belum pernah ada uji klinis,” katanya.

Ia menyatakan dirinya juga bukan termasuk pihak yang antiherbal. Apapun itu, penderita DBD sangat membutuhkan cairan yang banyak agar keadaannya membaik. “Dengan cairan yang banyak akan mencegah seorang penderita mengalami hematokrit (pengentalan darah). Pengentalan darah akan membahayakan penderita DBD,” katanya.

Menurut dia, jika darah terlalu kental atau tidak encer akan membuat pasokan nutrisi dan oksigen ke sejumlah jaringan tubuh tersendat atau bahkan terhenti. “Untuk itu, cairan sangat penting bagi penderita DBD. Jika terus berlanjut tekanan darah penderita bisa tidak stabil,” katanya. Leonard mengingatkan pentingnya asupan cairan terutama yang memiliki nilai tambah seperti elektrolit.

“Minum air putih atau minuman berelektrolit sangat disarankan bagi penderita DBD. Minumlah minimal sebanyak 2-2,5 liter cairan per harinya. Bila keadaan pasien memburuk sehingga tidak dapat minum, bahkan muntah-muntah, harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan dokter secepatnya,” katanya.

Walapun belum terasa haus, penderita DBD disarankan harus rajin minum, karena jika tidak akan terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan. “Biasanya, rasa haus timbul saat tubuh mengalami kekurangan cairan sebesar 2 persen dari berat badan. Cairan dapat menggantikan kekurangan cairan tubuh yang bocor akibat kerusakan dinding pembuluh darah,” katanya.

https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/14/06/10/n6y8nr-benarkah-jus-jambu-bisa-naikkan-trombosit

 

JUS Jambu dipercaya bisa mengembalikan level trombosit yang menurun akibat demam berdarah. Pasalnya, jus jambu disinyalir memiliki zat bisa meningkatkan kadar trombosit darah.

Hal inipun juga diungkapkan oleh Dr dr Leonard Nainggolan, Sp.PD-KPTI. Meski belum ada bukti penelitian secara nyata, dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu memercayai manfaat jus jambu untuk DBD.

“Diduga ada zat di dalam jus jambu yang dapat meningkatkan trombosit. Mungkin kalau diteliti dengan baik bisa-bisa ada,” katanya pada workshop Soho Global Health bertema “Waspadai Kebocoran Plasma saat DBD” di Artotel Hotel Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa 10 Juni 2014.

Lebih lanjut, Dr. Leonard juga mengatakan masih perlu eksplorasi lagi untuk menemukan penangkal penyakit DBD, termasuk pada jus jambu. Apalagi dia berkeyakinan jika semua penyakit tetap memiliki penangkalnya.

“Karena saya punya kepercayaan, kalau ada penyakit tertentu di suatu wilayah pencipta alam semesta ini sudah menyiapkan penangkalnya, hanya kita perlu mengeksplorasinya. Jadi mudah-mudahan nanti kita bisa menemukan,” ungkapnya.ungkapnya.

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk dan bersifat epidemik atau dapat ditularkan antar manusia.

https://lifestyle.okezone.com/read/2014/06/11/483/997026/jus-jambu-sembuhkan-dbd-perlu-penelitian-mendalam

 

Cara Mengatasi Fb Kita Memposting Link Ajaib

Masih berkaitan dengan postingan sebelumnya, tentang apps dalam facebook yang rawan berefek kurang menyenangkan. Pernah nggak melihat ada teman posting sesuatu yang aneh, bukan dia banget, biasanya menjurus ke pornografi? Tapi waktu ditanya, ybs bilang bukan dia yang posting. Apakah artinya akun fb dia di-hack? Atau kena virus?

Istilah fb di-hack atau kena virus memang menjadi sebutan gampang untuk akun yang mendadak posting aneh-aneh begitu. Ada memang yang di-hack betulan, tapi untuk kasus yang hendak dibahas ini sebetulnya istilah di-hack tidak tepat. Soalnya pemilik akun masih bisa mengakses akunnya dengan normal, bukan sepenuhnya diambil alih oleh orang lain (biasanya melibatkan penggantian password dst). Adapun virus, salah satu jenis malware, sasarannya adalah komputer, bukan hanya menyerang akun maya.

Seperti sudah disebutkan di atas, pemilik akun umumnya justru tidak sadar akunnya sudah menyebarkan link aneh-aneh alias spamming atau nyampah ke grup-grup maupun wall teman. Memang wall pemilik akun sendiri biasanya bersih. Link yang disebar pun tidak selalu berbau porno, bisa jadi berjudul berita terkini (kasus kopi sianida Jessica akhir-akhir ini sering dipasang di judul), update gosip yang mengundang rasa ingin tahu (yang sering saya dapati belakangan ini adalah rumor Raffi Ahmad-Ayu Tingting bahkan Ariel), pokoknya yang memancing orang untuk meng-klik, disertai foto ilustrasi yang mendukung.

Seorang teman pernah penasaran men-tap sebuah link yang dikirimkan member grup. Awalnya sih bermaksud mau menghapus postingan yang jelas-jelas OOT alias out of topic/keluar dari tema grup itu tapi pingin lihat dulu isi beritanya. Akibatnya ia sendiri kemudian secara otomatis mem-post link yang sama ke grup-grup lain yang ia ikuti. Yang lebih bikin gemes adalah kalau kejadiannya tidak disengaja, misalnya terlalu cepat scroll atau tap-nya meleset (risiko jadi admin grup nihh, suka deg-degan juga mau tap remove malah ke-klik preview linknya…moral of the story harus fokus dan hati-hati huhuhu).

Bagaimana cara mengatasinya agar akun kita berhenti mengirim link aneh bin ajaib? Tidak ada tips khusus sebenarnya untuk menghentikannya. Cara menghapusnya kira-kira seperti ini: Masuk ke pengaturan/setting facebook, cari applications/aplikasi, hapus aplikasi yang mencurigakan atau sekiranya jarang dipakai (game-game nggak jelas itu contohnya, buat apa juga, kan?).

Untuk postingan yang sudah telanjur ke mana-mana, bisa cek di activity log fb, hapus satu-satu. Kalau perlu, bikin semacam pengumuman minta maaf. Ganti password, cek add-ons di browser yang dipakai (utamanya di PC) boleh juga kendati kemungkinan pengaruhnya tidak besar. Masalah autopost selesai (semoga), postingan spam stop, tapi bagaimana dengan reputasi? Teman yang sering berinteraksi sih rasanya bisa maklum bahkan mungkin langsung mengabari ketika akun kita melakukan aktivitas di luar kebiasaan. Namun, bagaimana dengan yang lain?

Ada grup di facebook yang adminnya super-tegas, sekali posting OOT maka member tersebut akan di-ban alias diblokir dari keanggotaan grup. Mungkin masih bisa diusahakan dengan cara dilobi langsung (japri) ke admin ya, kalau terjadi seperti ini dan masih merasa perlu jadi anggota grup tersebut yang banyak manfaatnya.

Sekali waktu ada salah satu admin grup yang saya ikuti yang ngomel-ngomel atas postingan cabul yang masuk di grup, malah sampai menuduh anggota tersebut sebagai penyusup yang hendak mengacau. Waktu itu memang sedang ramai dibicarakan adanya akun fetish yang suka inbox ummahat berjilbab rapat untuk memuaskan hasratnya, dengan diawali menyamar sebagai muslimah dan masuk ke grup-grup misalnya grup jual beli hijab. Beberapa anggota grup termasuk saya lalu menjelaskan adanya kemungkinan yang lain, termasuk kena aplikasi autopost.

Sang admin lalu menyadari memang hal tersebut mungkin terjadi. Sayangnya sudah lupa siapa yang tadi ia hapus postingannya sekaligus ia blokir tersebut (kalau pakai komputer bisa sih ya cek daftar blokiran anggota grup), jadi kesulitan juga mau add lagi apalagi klarifikasi langsung. Ini contoh saja terkait ‘nama baik’ di dunia maya, kalau tidak peduli soal itu mari kita lanjut saja ke perkara berikutnya, hehehe.

Buat apa sih, orang bikin aplikasi begituan? Iseng banget kalau tujuannya cuma buat senang-senang. Eits, jangan salah, tujuan yang ingin dicapai biasanya jelas, kok. Meningkatkan klik ke website tertentu, misalnya, yang membuat reputasi website tersebut di mesin pencari jadi tinggi. Ujung-ujungnya situs tersebut bisa dijual lagi dengan harga tinggi.

Contoh kejadian dengan motif serupa untuk akun facebook bisa dibaca di sini https://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/11/20/apakah-anak-durhaka-itu-memakai-foto-anakmu/ dan di sini http://hai-online.com/Feature/Stuffs/Fakta-Mengejutkan-Di-Balik-Post-Komen-Angka-9-Dan-Lihat-Apa-Yang-Terjadi-Di-Facebook. Atau ‘sesederhana’ supaya jualannya yang dipajang di laman itu banyak dilihat orang dan meningkatkan kemungkinan orang beli, setidaknya tahu. Enak banget, yaaa…tapi merugikan orang lain kan kalau caranya begitu.

Tambahan referensi untuk metode atau trik lain yang bisa dilakukan:

Is your Facebook account posting spam? Here’s how to fix it.

http://www.thatsnonsense.com/beware-click-baity-spammy-facebook-apps/

Kliping Susah Makan

Kliping bahasan seputar problem makan anak (cenderung ke kesulitan makan ya) ini sedikit banyak terinspirasi postingan mba Luchantiq di https://keluargasehat.wordpress.com/category/problem-makan/. Semacam nambahin aja sih berhubung beliaunya belum sempat update blog lagi kayaknya.

================================================================

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I, diposting di Milis Sehat)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (<6 bulan) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Seperti kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

Continue reading

Hati-hati Mengisi Kuis di Facebook!

Siapa yang paling sering mengintip profil facebook Anda? Apa arti nama kita? Bagaimana karakter kita kalau dilihat dari wajah? Siapa sahabat terbaikmu kalau dilihat dari postingan facebook? Princess Disney mana yang paling mirip sama kamu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas memang biasanya mengundang rasa penasaran. Umumnya sih ada kontak facebok yang duluan memposting hasil yang ia peroleh, lalu kita tertarik ikut mencari tahu. Cukup dengan beberapa kali klik (atau tap), jawabannya sudah bisa diketahui. Nah, di antara sekian klik/tap tersebut, umumnya akan ada permintaan izin dari aplikasi ‘kuis’ untuk mengakses informasi tertentu di profil kita. Kalau kita menolak/klik tidak setuju, maka permintaan kita tidak bisa diproses lebih lanjut. Pertanyaannya sekarang, sebandingkah ‘kunci’ akses yang kita berikan dengan kepuasan mendapatkan ‘ramalan’ akan sifat atau teman kita?

Sebuah artikel di BBC (http://www.bbc.com/news/technology-34922029) mengingatkan akan perlunya berhati-hati. Walaupun pada artikel yang membuat tulisan di BBC tersebut dibuat (https://www.comparitech.com/blog/vpn-privacy/that-most-used-words-facebook-quiz-is-a-privacy-nightmare/) sudah disertakan tanggapan dari salah satu perusahaan yang membuat kuis yang dimaksud, bahwa data yang diambil tidak akan disimpan maupun digunakan untuk keperluan lain tanpa izin, tapi pesan-pesan di situ layak diresapi. Saya kutip di sini:

“Perilaku orang-orang terhadap privasi itu tidak tetap. Rumah kita pasangi tirai, tapi memakai fb dan google biasanya tanpa mengubah pengaturan privasi,” kata Dr Stuart Armstrong, peneliti dari Oxford University.

Yah, kalau dipikir-pikir kita mau install aplikasi android pun hampir selalu dimintai persetujuan akses terhadap buku telepon, galeri dsb-nya, ya. Dan karena memang kita sekarang susah jauh dari aplikasi tertentu yang sudah bagaikan bagian hidup sehari-hari, plus kalau dilogika pastinya aplikasi tersebut memang butuh akses untuk bisa menyimpan nomor telepon, mengunggah foto dll, akhirnya kita terima-terima aja.

Oh ya, sebelum lanjut lagi, ‘kuis’ yang dimaksud di sini maksudnya ya seperti disebutkan di awal tulisan. Kalau di majalah dulu biasanya diawali dengan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dihitung skornya dari jawaban, lalu bisa dilihat hasilnya berdasarkan skor tersebut. Bukan kuis berhadiah/kontes/giveaway, walaupun pernah juga saya menemukan ada kuis berhadiah yang mengharuskan peserta ‘memasang’ apps tertentu dalam fb, dengan persetujuan akses profil pula. Kuis berhadiah begini, apalagi jika penyelenggaranya bonafid, lazimnya rajin mencantumkan syarat dan ketentuan di awal (untuk mengurangi risiko efek hukum di kemudian hari), dan yang perlu digarisbawahi, dalam bahasa setempat, jadi lebih mudah dipahami pembacanya.

Trus, memangnya data kita bisa diapain, sih? Kok kayaknya parno banget, gitu. Well, kalau kata comparitech sih, “Companies who you have never met can now access your entire Facebook profile–friends, photos, statuses and all–and use them in ways you never directly agreed to. ”

Worth it nggak, tuh?

(astaga, kenapa saya jadi pakai bahasa campur-campur sih ya di sini ;D).

Serba-serbi “ASI Sedikit”

Sebagai salah satu emak rempong yang sok bantu-bantu di grup TATC, terus terang kadang kewalahan juga dengan postingan yang masuk. Banyak pertanyaan serupa yang berulang, yang jujur awalnya bikin gemes tapi lama-lama saya sadar juga bahwa mengikuti perkembangan ilmu di berbagai bidang sekaligus sebagai seorang ibu itu memang tidak terlalu mudah. Jadi ya tetap diusahakan jawab dengan baik.

Masalahnya, saya mengakses facebook hampir selalu melalui hape. Lumayan keriting juga jempol ngetik ulang begitu rupa, hehehe… Kalau soal repot ngetik ini masih mending sih, toh biarpun pakai sepuluh jari sama aja makan waktunya. Nah soal keterbatasan waktu ini juga yang jadi kendala. Postingan pertanyaan yang masuk kan banyak dan semuanya pasti menunggu jawaban. Jadi, agar menghemat waktu dan tenaga (tugas harian saya bukan hanya cek grup, kan), akhirnya saya meniru trik beberapa admin grup lain: bikin template jawaban di note ponsel. Cukup membantu alhamdulillah, apalagi saya sering menyertakan link sumber informasi. Buka ulang linknya biar bisa dikopi bahkan walaupun sudah dibookmark di hp lumayan makan waktu.

Maksud saya membiasakan nambahin tautan ini sih biar semua sama-sama belajar, supaya nggak sepenuhnya ‘kasih ikan’ melainkan juga kasih ‘kail’. Yang baca semoga jadi tertarik mempelajari lebih lanjut (mengenai topik berkenaan bahkan mungkin jadi klik-klik bahasan lain yang juga bermanfaat) dan yang dipelajari juga lebih ‘sahih’, bukan sekadar testimoni atau pemahaman yang didapatkan adalah “kata grup TATC begini nih…”. Saya pun ikutan belajar kalau ada yang mengoreksi atau menambahkan. Lagian saya kan memang belum ‘sah’ jadi konselor laktasi resmi (kapan ya bisa ikutan PKM, ambil cutinya itu yang rada sayang huhuhu…). Memang jadinya menjawab kopas-kopas begitu kayak agak kurang personal ya, tapi sementara ini cara tersebut menolong saya. Di dokumen grup juga bukannya tak ada sih materi FAQ alias pertanyaan yang sering masuk, tapi lagi-lagi alasan waktu agaknya bikin dokumen semacam itu kurang dilirik.

Menjawab pertanyaan seputar ASI yang dirasa sedikit, seret, atau tidak cukup:

Agar ASI bisa memenuhi kebutuhan bayi (tidak harus ‘banyak’ lho, tapi karena menurut cerita menyusuinya sempat tidak intensif maka memang perlu ditingkatkan) kuncinya satu: susui terus.
Paling efektif ASI dikeluarkan dengan isapan mulut bayi, tapi saat ini perlu juga meningkatkan produksi karena kadang bayi menolak karena alirannya sudah lebih lambat daripada dot yang biasa dipakai.

Continue reading

Sejarah Gelar S1 S2 S3 ASI

Istilah S1, S2, dan S3 ASI umumnya tidak asing di kalangan ibu menyusui. Titel ini diberikan untuk pencapaian menyusu eksklusif selama 6 bulan pertama (S1), ASI diteruskan hingga usia bayi setahun (S2), dan lanjut tetap mendapatkan ASI sampai umur anak 2 tahun (S3). Ada yang menambahkan sih, kalau sudah berhasil weaned alias disapih (sudah melalui masa WWL-weaning with love/disapih dengan cinta) setelah usia 2 tahun artinya berhak dapat gelar Profesor ASI.
Beredar juga template semacam sertifikat yang bisa diedit sendiri dengan penambahan nama dan foto anak sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Ada versi AIMI, ada juga versi komunitas lain seperti Tambah ASI Tambah Cinta atau TATC yang saya ikut aktif sebagai adminnya. Belakangan ada pula yang membuatkan sertifikat untuk ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang sudah mendukung kesuksesan pencapaian dalam pemberian ASI, agar semua yang berpartisipasi turut punya cendera mata.
Suatu hari ada member yang bertanya di grup TATC mengenai ‘gelar kesarjanaan’ ini. Saya jadi terpikir untuk mencari tahu lebih jauh, bukan sekadar menjawab menerangkan arti dari masing-masing gelar. Karena setahu saya yang pertama mempopulerkan adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), jadi saya coba menelusuri mailing list atau milis asiforbaby di yahoogroups yang menjadi cikal bakal terbentuknya AIMI. Ternyata memang ada penjelasan dari wakil ketua sekaligus salah satu pendiri AIMI mengenai gelar tersebut.

Continue reading

Sehat Itu Mudah dan Murah

Penting banget, nih.

 

purnamawati's avatarBe Smarter Be Healthier

Purnamawati Sujud Pujiarto

Edisi 645 | 28 Jul 2008 |

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga…

View original post 2,609 more words

[Kliping] Batuk, Pneumonia dan Sesak Napas pada Anak

Awal masuk TK, Fathia malah batuk. Lumayan juga, dari yang tadinya sudah mendingan waktu mudik sepertinya ketularan lagi begitu kamu kembali. Karena sampai demam beberapa kali, jadinya Fathia harus nggak masuk sekolah selama tiga hari dalam dua minggu pertamanya bersekolah.
image

image

Dalam masa itu terus terang saya deg-degan ketika memantau hitung napasnya (selain juga asupan cairan). Soalnya sesak nafas merupakan salah satu tanda kegawatdaruratan, kan? Khawatir kalau ternyata pneumonia. Berikut dari Ayahbunda:

Sesak napas karena pneumonia beda dengan asma. Pada pneumonia, kesulitan napas terjadi pada saat anak menarik napas. Sedangkan pada asma, kesulitannya saat mengeluarkan napas, bahkan terkadang bunyi ngik-ngik atau mengi.
Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)
Usia anak    Napas Normal         Napas Cepat
0–2 bulan    30–50 per menit    > 60 per menit
2-12 bulan   25-40 per menit     > 50 per menit
1-5 tahun    20-30 per menit     > 40 per menit

Saya tetap kontak-kontakan sama dokternya, tentu. Dan buka-buka juga arsip milis sehat. Sekalian dikopi kemari biar gampang. Alhamdulillah sih, sudah berlalu. Tinggal PR balikin bb-nya yang sempat menyusut, huhuhu.

Dari arsip milis sehat bulan September 2013:

  • Dear Mba,

    Coba diperhatikan apakah napas cepat saja (yang umum terjadi kalau sedang demam) atau sesak napas? Coba pelajari ini:

    Definisi sesak napas:

    – tarikan otot-otot perut (sampe kalau napas tuh perutnya keliatan kembang kempis gitu)
    – tarikan otot-otot dada (sama juga kalau napas dadanya keliatan kembang kempis…bahasanya saya sampe keliatan “nekuk” ke dalam, mudah-mudahan bisa dibayangkan)
    – tarikan otot-otot leher
    – cuping hidung kembang-kempis

    Semakin ke atas semakin “parah” sesak napas ya (maksudnya kalau sudah sampe cuping hidungnya yang kembang kempis berarti sesak nafasnya bisa dikategorikan “parah”).

    Video Breathing Problems & Respiratory Distress
    Breathing difficulties:
    1. http://www.youtube.com/watch?v=GUkh1EGXvaE
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi terdengar jelas.

    2. http://www.youtube.com/watch?v=ZpGK8auKh0U&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak terdengar di videonya)

    3. http://www.youtube.com/watch?v=U-RfbrnMJZE&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak kedengeran di video-nya)

    Respiratory distress (derajatnya sudah lebih berat daripada breathing difficulties dalam ketiga video di atas):
    4. http://www.youtube.com/watch?v=pF_1wu4Q7wk
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi
    masih terdengar (ada juga suara lendir di tenggorokan).

    5. http://www.youtube.com/watch?v=sJLHiTaXrtc
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas;
    kemungkinan mengi sudah tidak ada (pada sesak napas berat atau repiratory
    distress, mengi malah sudah tidak ada lagi –lihat pocket guide GINA https://ginasthma.org/pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/).

    Anak sendiri apa lemas, tidak mau beraktivitas, makan minum sam sek? Berapa kali pipis dalam sehari?

    Bila Mba yakin sesak napas juga anak tidak mau makan minum dan menunjukkan tanda dehidrasi ya segera ke dokter.

    Mengenai pemberian paracetamol, pertimbangkan risk vs benefit Mba. Bisa dicoba dulu metoda membuat nyaman yang lain yang trik-triknya sudah buanyak banget di-share.

    HTH

    Your BFF-Breastfeeding Friend, F.B.Monika, @f_monika_b

    La Leche League (LLL) Leader of Roc, South NY,US

  • purnamawati.spak@…
    Sun, 05:44 PM
    Sesak (dyspnea) atau napas cepat (tachypnea)?
    Saat demam, napas pasti cepat.
    Kalau sesak, kan bukan sekedar frekuensi.
    Kedua, saat menghitung frekuensi napas, apakah anak sdg tidur? Ukur frek napas harus saat anak tidur.
    Apakah mungkin lebih dari sekedar common cold?
    Waktu ke IGD, diagnosisnya apa? Kok dinebul NaCl?
    Bukan pneumonia dong ya
    Bukan juga bronkiolitis

    Coba assessment nya diperbaiki

    Wati

    -patient’s safety first-

Yang ini email dr. Anto, Sp.A. Juli 2016

Pneumonia adalah diagnosis klinis, terdapat sesak napas yang ditandai dengan upaya peningkatan volume paru, gejala berupa retraksi atau cekungan dan peningkatan frekuensi napas.
Derajat pneumonia bisa ringan, sedang atau berat. Pada pneumonia terdapat peningkatan upaya pemenuhan kebutuhan oksigen dengan parameter obyektif saturasi oksigen. Bila kadar saturasi oksigen <92% maka perlu terapi oksigen atau bila saturasi >92% tetapi terdapat peningkatan upaya napas (frekuensi meningkat dan dada cekung) maka juga diperlukan oksigen.

Bagaimana penyebabnya?
Pneumonia bisa disebabkan virus atau bakteri bahkan jamur. Yang paling sering tentu virus atau bakteri. Bila gejal awal terdapat common cold maka mengarahkan kepada virus. Namun perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan, kenapa? karena tingkat kesakitan dan kematian pneumonia tinggi apalagi pada kelompok risiko tinggi (neonatus, bayi, gizi buruk, asma kronik, pemakaian steroid lama, penyakit jantung bawaan, gangguan sistem imunitas atau lansia)

Dari laboratorium dinilai adalah leukosit: secara umum 3-36 bulan, bila leukosit >15.000 maka mengarahkan kepada infeksi bakteri. Dilihat hitung jenis leukosit, bila peningkatan pada batang atau segmen maka mengarah kepada bakteri, sementara bila limfosit yang meningkat maka mengarah kepada virus.

Sementara pemeriksaan rontgen thoraks akan membantu: bila infiltrat (gambaran putih tampak pada satu lobus (bagian) paru maka mengarahkan kepada bakteri.

CRP merupakan protein reaktif akut yang meningkat pada proses peradangan, Peradangan dapat disebabkan oleh bakteri atau virus atau luka jaringan, jadi CRP membantu diagnosis, bukan standar emas. Standar emas adalah bilasan bronkus, tetapi ini tidak dilakukan rutin karena tingkat kesulitan dan manfaat dan risikonya.

Bila terdapat keraguan antara virus dan bakteri?
Bila terdapat fasilitas lengkap dan dapat diperiksa lengkap, secara umum bila didahului infeksi virus, tidak terdapat peningkatan leukosit, atau peningkatan pada limfosit saja, gambaran rontgen mendukung virus maka dapat diterapi sebagai pneumonia karena virus dengan pemantauan, dalam 48 jam bagaimana respons klinis, bila perburukan maka dilakukan evaluasi ulang.

Bila terdapat peningkatan leukosit, segmen atau batang, rontgen thoraks sesuai dengan bakteri maka diterapi antibiotik, dan pemantauan sama 48-72 jam harus memberikan respons perbaikan, bila tidak membaik maka perlu evaluasi ulang.

Kortikosteroid setahu saya tidak termasuk dalam tata laksana pneumonia (bisa cek di pneumonia guideline British Thoracic Society, atau IDSA)
semoga bisa membantu dan lekas sembuh.

salam,
-anto- (dr. Yulianto milis sehat)

Ada juga infografisnya lhoo…sila mampir ke blog Icha ini.

 

Catatan tambahan terkait salah satu obat batuk yang biasa digunakan (ambroxol): http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2016/04/SURAT-KE-IDI-DAN-DDL-B-POM.pdf

Cerita Nama Fathia dalam Buku

Mbak Dewi Rieka atau biasa dipanggil mbak Dedew adalah penulis produktif sekaligus blogger yang saya kenal sejak kami sama-sama menjadi anggota milis pembaca majalah Cita Cinta, sekitar sepuluh tahun yang lalu.  Lantas kami pun cukup aktif ngeblog di Multiply. Kini Mbak Dedew makin moncer saja karier menulisnya (tahu seri Anak Kos Dodol yang salah satunya sudah difilmkan, kan?), saya mah masih begini-begini saja, hehehe. Pada suatu hari (ah, saya mencoba menghindari kata ini tapi kok ya susah) mbak Dedew menghubungi saya menanyakan kisah penamaan putri pertama saya dan suami. Berceritalah saya, yang sedang hamil Fahira, melalui pesan singkat.

Continue reading

Ethica, Brand Fashion Muslim Pilihan Keluarga

Saya ‘mengaduk’ tumpukan baju di lemari. Aduh, benar dugaan saya. Baju suami yang satu itu tertinggal di rumah orangtua kami, entah yang di Solo atau di Pati. Saya lupa memperhitungkan kemungkinan ini ketika memesan gamis untuk kedua putri kami, yang warnanya disesuaikan dengan baju yang sudah saya dan suami miliki. Cita-cita bikin foto keluarga dengan busana senada terancam gagal.

Sejujurnya saya tidak terlalu mengikuti tren fashion muslim. Apalagi dulu. Sekarang sudah agak mending sih, walaupun tak sampai memaksakan ikut gaya yang ‘bukan saya banget’.

Kini saya lebih suka jilbab, pashmina, atau khimar yang longgar, menutup dada hingga bagian belakang. Bukaan depan baik berupa ritsleting/zipper atau kancing pada gamis, dress, blus, atau kaos agar nursing friendly karena status saya sebagai busui juga diutamakan. Alhamdulillah makin banyak penjual yang otomatis mencantumkan keterangan seperti ini di galeri produknya.

Bagi saya, tampil trendi ala hijabers tetap harus mempertimbangkan faktor kenyamanan dan kecocokan. Bahan, potongan, warna, semuanya menjadi penting. Plus harga, tentu saja, hehehe. Nah, untuk hal-hal seperti ini sebetulnya lebih pas kalau membeli langsung, ya, bisa melihat, menerawang, meraba… Hahaha, seperti memeriksa uang asli atau palsu saja, ya?

Namun, busana muslimah memang harus memenuhi beberapa syarat. Di antaranya tidak menerawang karena berisiko menampakkan aurat, dan bahannya harus yang nyaman agar pemakai betah mengenakannya untuk beraktivitas termasuk di luar ruangan. Ada pula kemungkinan perbedaan warna di layar akibat pencahayaan. Jadi, sebenarnya belanja ke toko atau pasar akan lebih memuaskan. Bahkan kalau memungkinkan, menjahitkan bahan akan lebih pas khususnya dari segi ukuran.

Sayangnya, seringkali waktu menjadi kendala. Saya sebagai ibu bekerja terus terang sekarang hampir selalu mengandalkan internet untuk berbelanja, termasuk belanja fashion muslim. Kalaupun tidak melalui online shop, ya ke teman atau tetangga yang karena sulitnya menyamakan jadwal juga tetap kirim-kirim katalognya lewat whatsapp misalnya, setelah deal baru deh ketemuan.

Nah, memilih baju dari katalog melalui browsing website maupun kiriman ini tetap saja agak lama, apalagi kalau yang dibeli lebih dari satu. Misalnya saat hendak membelikan baju untuk seluruh anggota keluarga. Adakalanya saya melihat baju anak yang ‘lucu’ buat kakak lalu terpikir bahwa kebetulan saya dan suami punya baju yang senada. Ujung-ujungnya beli yang dilihat lalu harus mencari lagi yang mirip untuk dedek. Lalu setelah tiga-tiganya ada, baru gedabrukan mencari baju suami yang perasaan ada tapi entah di mana.

HAFA-20-297x297 putihTampil dengan baju keluarga yang serasi memang kesannya enak dilihat. Jika diabadikan dalam bentuk foto pun tampak kompak, agar terpancar semangat happy family yang semoga terwujud dalam bentuk keluarga sakinah mawaddah warohmah yang sesungguhnya. Yang jadi pe-er–khususnya bagi ibu-ibu yang jadi penata gaya, pengelola jadwal kegiatan, sekaligus manajer keuangan keluarga– adalah mencari apa yang hendak dipakai.

Adanya kebetulan dan keberuntungan saat berburu secara dadakan bisa saja terjadi, tapi belanja terencana tentu lebih afdol. Apalagi kalau pilihan baju kompakannya sudah ‘tinggal tunjuk’ alias dipaket seperti yang disediakan oleh Ethica. Waktu yang diperlukan untuk memilah dan menentukan mana yang hendak dibeli jadi lebih hemat.

Merk ini awalnya saya kenal dari sebuah majalah wanita yang rutin diantar oleh loper koran ke meja kantor. Rupanya dulu nama yang HAFA-19 denimdipakai adalah Salsa, sebelum diubah menjadi Ethica. Tadinya sih saya amati produknya lebih banyak untuk anak dan remaja ya, tapi ternyata ada baju keluarganya juga, lho, dalam seri Hafa alias #HAppyFAmilyByEthica.

Koleksinya bisa diintip di website. Bahan yang dipakai seperti kaos pilihan dan katun mengakomodir kebutuhan akan material yang menyerap keringat dan luwes mengikuti gerakan, sesuai untuk iklim tropis.

Saya paling ‘jatuh cinta’ dengan model HAFA-20 yang terkesan bersih. Cocok untuk suasana bulan Syawal di mana seringkali ada kegiatan halal bihalal dengan dress code putih, atau event lain yang bernapas keagamaan atau semi-formal.

Sedangkan untuk kesempatan yang lebih santai saya rasa HAFA-19 bisa menjadi pilihan tepat. Model lain yaitu HAFA-23 dengan warna favorit saya, ungu, membuat saya sadar bahwa tampilan baju keluarga tak melulu harus dengan bahan yang persis, kombinasi bahan lain sesuai dengan karakter dan usia masing-masing juga bisa menyenangkan dipandang.

Contohnya, motif bunga nan ceria untuk ibu dan anak perempuan dan motif garis yang menghiasi baju koko atau kemeja untuk ayah dan anak laki-laki, keduanya dalam satu tone warna. Oh ya, sarimbit khusus untuk pasangan saja juga bisa, lho.

HAFA-23-REVISI-WARNA-KAGUMI-13Yang saya suka juga, web resmi Ethica mencantumkan dengan komplet size pack untuk tiap jenis produknya. Ini penting karena patokan ukuran bisa jadi berbeda, dan memakai pakaian dengan ukuran yang tidak pas bisa mengurangi kenyamanan. Harga produk pun tercantum dengan jelas, jadi hitung-hitungan dapat segera dilaksanakan dan keputusan membeli bisa lebih cepat diambil (emak-emak banget, ya, hehehe).

Sistem penjualan dengan agen menurut saya punya nilai plus memudahkan calon pembeli mencari yang terdekat untuk menghemat ongkos kirim, siapa tahu bisa sekalian silaturahim dan memilih langsung jika ada stok, sekaligus membantu menggerakkan perekonomian masyarakat. Testimoni di situsnya juga membuat pengunjung lebih yakin akan kualitas dan keandalan Ethica.

Variasi warna dan motif yang beragam bisa disesuaikan dengan kesukaan tiap anggota keluarga atau tema acara yang hendak dihadiri. Produsen sekelas Ethica tentunya juga akan melakukan pemotretan dengan baik sehingga ketika barang sampai tidak mengecewakan akibat beda warna dengan ekspektasi misalnya. Pas banget lah jika Ethica dijadikan merk baju pilihan keluarga.