Mengkaji Bacaan Anak Bilingual

Tulisan Teh Ary Nilandari atau di grup forum penulis bacaan anak sering dipanggil Bunda Peri ini menjawab kegelisahan saya. Sebelum punya anak, saya sudah membeli beberapa buku anak bilingual tapi terus terang tidak terlalu peduli soal alih bahasanya, karena biasanya saya lebih mengincar isinya yang menarik atau informatif,  ilustrasinya yang keren, atau karena memang suka dengan karya-karya penulisnya (ngeblog di Multiply dulu membuat saya ‘kenal’ banyak penulis bacaan anak). Belakangan setelah punya anak dan saya sendiri lebih banyak terpapar materi yang asli berbahasa Inggris, begitu baca beberapa buku anak bilingual saya jadi mengerutkan kening. Ada saja terjemahan yang kurang pas, entah terlalu baku, tidak taat tata bahasa, atau malah salah sekalian. Ini umumnya terjadi pada buku karya penulis dalam negeri yang memang dikhususkan terbit dalam bentuk dwibahasa, bukan buku terjemahan. Bahasa Inggris yang saya kuasai juga pas-pasan, sih. Tapi seperti yang sering saya sampaikan pada teman-teman yang bertanya kenapa skor TOEFL saya bisa segitu, sering muncul perasaan tidak nyaman kalau ada yang salah saat membaca. Belum tentu juga saya tahu persis koreksinya seharusnya bagaimana, sih, hehehe. Saya masih harus buka primbon dulu kalau soal itu…dan dari melakukan hal-hal seperti inilah saya memang sebetulnya banyak belajar.

Karena saya belajar bahasa Inggris dengan cara seperti ini (seringnya tidak mengkhususkan diri, sambil jalan saja), saya jadi membayangkan bagaimana kalau anak-anak yang baru belajar bahasa asing sudah diberi contoh yang kurang tepat. Dari pengalaman dan pengamatan saya, apa yang diketahui atau dibaca anak sejak dini, apalagi kalau berulang-ulang (anak suka kan ya minta dibacakan sebuah buku berkali-kali) akan menjadi patokan baginya, terbawa sampai besar (kecuali kalau ada yang membetulkan kemudian…itu pun kadang pakai ‘berantem’ pada awalnya, mungkin :), karena telanjur mengakar). Saya sampai berniat menyembunyikan beberapa buku anak bilingual yang telanjur dibeli karena grammar-nya keliru. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak perlu seekstrem itu juga mungkin, ya. Bisa saja saya beri catatan khusus, toh isi ceritanya sendiri bagus dan mendidik. Apalagi saat ini sebenarnya anak-anak saya belum ada yang bisa baca, hahaha.

Saya kutip dari tulisan teh Ary:

Karena kata dua pakar:

Anak-anak TK dan SD kelas rendah sebaiknya diberi bacaan yang berbahasa Inggris saja. ‘Bahaya’ bacaan bilingual adalah mereka bisa mendapatkan informasi yang salah, jika kedua bahasa tidak diperhatikan dengan baik.” (DR. Murti Bunanta SS, MA. Spesialis Sastra Anak, Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak)

“Bacaan bilingual sebagai bahan pelajaran bahasa Inggris untuk anak adalah konsep yang keliru, karena dimulai dengan tahap tersulit, yaitu menerjemahkan. Ditambah kesalahan penerjemahan dan kosa kata yang tidak sesuai, bacaan bilingual semakin tidak efektif.” (Nasti M. Reksodiputro, M.A. Mantan dosen bahasa Inggris,  kepala Pusat Bahasa Universitas Indonesia, Pendiri Yayasan Pustaka Kelana)

Ary Nilandari's avatarMy World of Words

Bacaan Anak Bilingual: Tekstual dan Visual 

Handout Ary Nilandari untuk workshop Editor Buku Anak dengan IKAPI DKI Jakarta, 4-5 Juni 2013, Perpustakaan Nasional Jakarta

Dalam dasawarsa terakhir, bilingual seakan menjadi keharusan dalam menerbitkan bacaan anak di Indonesia. Bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin dipasangkan dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena yang paling sering adalah bahasa Inggris, untuk selanjutnya, bilingual yang dimaksud adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Motif mem-bilingual-kan bacaan anak sangat beragam. Antara lain:

  1. Memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia
  2. Memberi nilai tambah pada bacaan anak.
  3. Merespons kebutuhan orangtua untuk membantu anak-anak belajar bahasa Inggris.
  4. Menjangkau pasar lebih luas, yaitu anak-anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan anak-anak Indonesia yang tinggal di negara-negara berbahasa Inggris.
  5. Memudahkan penjualan copyright ke mancanegara.
  6. Dan diharapkan meraup keuntungan lebih banyak ketimbang buku monolingual

Apapun alasannya, tentu saja mendwibahasakan bacaan anak harus melalui kontrol kualitas ganda, dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Bilingual bukan sekadar proses pengalihan…

View original post 872 more words

Bukan Sakura dalam Pelukan

Bukan, saya memang bukan mau membahas lagu Fariz RM yang belakangan dipopulerkan kembali oleh Rossa kemudian karena masuk dalam CD kompilasi yang diedarkan oleh kantor pusat (saya tidak tahu siapa yang menyanyikan versi yang ini) jadi sering diputar di kantor….

SAMSUNG DIGIMAX A403

Ceritanya, beberapa tahun yang lalu seorang teman sesama pengguna Multiply (penyedia layanan blogging semi-media sosial yang sudah ditutup) memposting soal bunga-yang-sering-dikira-sakura ini. Saya lupa-lupa ingat sih bahasan utamanya waktu itu apa, tapi yang jelas waktu itu mbak Lessy yang lincah ini sedang berada di Jepang dan bercerita mengenai bunga sarusuberi. Melihat foto yang dipasang, saya jadi ingat pohon bunga serupa di rumah orangtua. Ya, selama ini kami tahunya pohon itu namanya pohon (bunga) sakura. Padahal sarusuberi dan sakura adalah dua bunga yang berbeda.

Tahun demi tahun berlalu dan saya sudah lupa nama sesungguhnya yang pernah diceritakan oleh mbak Lessy. Kemudian di pameran Flora-Fauna (Flona) di Lapangan Banteng saya melihat pohon bunga ini dijual dengan papan nama bunga sakura. Karena tidak berhasil mengingat nama asli yang pernah disebutkan itu, saya pun googling sambil bertanya juga ke mbak Lessy via facebook. Jadinya saya malah menemukan bahwa pohon bunga ini punya ‘nama Indonesia’ yang jauh lebih populer: bungur kecil. Nama Inggrisnya sih crape myrtle, sedangkan nama latinnya adalah Lagerstroemia indica L. Beberapa bagian dari tanaman sarusuberi juga ternyata dimanfaatkan orang sebagai obat-obatan, selengkapnya bisa dibaca di sini (walaupun kalau saya juga tidak berani coba-coba sendiri, hehehe).

Blog hasil pencarian saya ini memberikan informasi bahwa berbeda dengan bunga sakura alias cherry blossom yang mekar pada bulan April, sarusuberi akan berbunga pada bulan Agustus. Wah, sebentar lagi dong ya. Pantas saja waktu saya minta tolong adik memfotokan di bulan puasa dia bilang “Lagi ora kembang”. Untungnya ketika buka-buka folder lama masih ada foto di atas.

Masuk Majalah!

Sedikit nostalgia peristiwa lama karena waktu itu belum sempat diposting di blog. Tanggal 29 Agustus tahun lalu untuk pertama kalinya saya ikut gathering anggota grup pendukung ASI TATC (Tambah ASI Tambah Cinta) yang kali itu diselenggarakan di RS Meilia Cibubur. Sekalian seminar keluarga terkait ASI dan postpartum depression sih ceritanya. Nah, sebelum acara dimulai, Mba Wynanda, kreator dan admin grup tersebut sempat bilang bahwa nanti akan ada peliput dari majalah Mother & Baby Indonesia yang wawancara untuk masuk rubrik komunitas. Benar saja, ketika break acara saya dimintai pendapat mengenai TATC dan menyusui oleh perwakilan majalah tersebut.

Selesai rangkaian seminar, kami berempat yang diwawancarai (dua admin dan dua member yang hadir) diambil gambarnya bersama anak-anak. Sayang kedua putri mba Wynanda tidak bisa ikut berfoto, Kirana masih dirawat di RS sedangkan kakaknya Kasih sedang bersama eyang keluar ruangan. Kemudian kami diberi informasi bahwa liputan komunitas ini akan dimuat dalam majalah edisi dua bulan yang akan datang. Dan inilah hasilnya, yang tepatnya dimuat di rubrik Mum’s Club edisi Oktober 2015 (versi digital bisa dilihat di http://www.pressreader.com/Indonesia/mother-baby-indonesia/20151001/textview).

MnB

Sunpride, Kawan Menjalani Ramadhan Sehat

“Pola makan untuk ibu menyusui yang hendak menjalankan ibadah puasa sebetulnya tidak terlalu spesial, hanya pengaturan waktunya yang berubah.”

Demikian pernyataan dari beberapa konselor laktasi yang pernah saya baca. Artinya, makan seperti biasa dengan penyesuaian jam makan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu yang berpuasa maupun bayi yang masih disusuinya. Tidak perlu sampai melipatgandakan porsi, dan kalau mau mengkonsumsi suplemen khusus pun harus sesuai dengan indikasi.

Namun, di sisi lain, bulan puasa juga sekaligus bisa menjadi momentum perbaikan kebiasaan makan. Umumnya di bulan puasa orang merasa perlu memperhatikan asupan gizi lebih dari biasanya. Meski tidak makan dan minum dari subuh hingga maghrib, aktivitas sehari-hari harus jalan terus. Upaya meningkatkan ketakwaan dengan menambah ibadah khusus harian juga tentunya membutuhkan sokongan stamina yang prima.
image

Beberapa tips yang saya baca untuk membantu tubuh tetap fit dengan perubahan jam makan (dan seringkali juga jam tidur) pada umumnya mengingatkan untuk menjaga kecukupan cairan. Jelas, ini penting karena dehidrasi bakal menjadi hal yang tidak menyenangkan di saat kita berpacu memperbanyak amalan baik di bulan penuh berkah. Tips lain yang biasa dibagikan adalah makan dengan gizi seimbang. Nah, apa sih makan gizi seimbang ini?

Continue reading

Menyamarkan Alamat E-Mail

Sekitar dua minggu yang lalu pihak Tabloid Nova menghubungi saya melalui kolom komentar blog, meminta alamat e-mail saya. Tulisan saya dinyatakan sebagai salah satu pemenang blog competition dalam rangka ulang tahun Tabloid Nova yang ke-28. Saya sempat maju-mundur hendak membalas dengan langsung mengetikkan alamat e-mail saya apa adanya di kolom komentar. Soalnya, saya ingat bahwa hal tersebut bisa berisiko alamat e-mail kita jadi ditangkap oleh pihak-pihak yang punya niat tidak baik, lalu digunakan untuk mengirimi kita e-mail sampah atau penipuan.

Salah satu trik yang biasanya dianggap paling praktis dilakukan demi mencegah inbox kita diberondong e-mail gak jelas adalah dengan menyisipkan kata-kata sebagai pengganti tanda baca. Diharapkan web-crawlers (ini terjemahannya yang pas apa sih, hahaha) akan terkelabui dan menganggap kata-kata tersebut bukanlah alamat e-mail yang bisa ‘dipanen’. Namun, apakah sekarang cara tersebut masih efektif?

Pencarian saya membawa ke sini https://www.quora.com/Is-writing-out-the-at-in-email-addresses-effective-to-prevent-spam

That advice was once good, but anti-spam measures have advanced a lot since.

  • we now have massive  public blacklists of known spammer IP addresses to prevent spam being delivered in the first place
  • we have SPF domain name records which allow a website to indicate exactly what servers are allowed to send mail for it, to avoid spoofing
  • mailservers have more memory, and can remember senders that they have seen before recently. If they haven’t seen a sender before, they can “greylist” it by rejecting the connection temporarily. If the sender behaves properly, it should try again in a few minutes and the mailserver will accept the next connection. A spammer sending bulk mail is unlikely to retry sending the message.
  • heuristic spam filtering is much better at filtering spammy messages based on the content and other signals

These days, as long as the mailserver is configured correctly, the impact of spam is a lot lower. You also have to consider that “name at domain dot com” is inconvenient to users who could otherwise click on a mailto link to start a new e-mail without having to type or correct the address in manually. Ultimately, you have to decide if the inconvenience to your users is a bigger pain than receiving spam.

Fortunately, there are some methods that can prevent the stupidest web-crawlers without affecting human users. For example, use HTML entities in the e-mail text or link

    link href: mailto:contact@example.org

    link text: contact@

Serba-serbi MPASI dari Grup HHBF

Disclaimer: tulisan ini disusun berdasarkan rekomendasi pada saat itu (maka dari itu saya sebutkan sumbernya juga agar dapat langsung dicek). Semoga dapat memberikan wawasan bahwa memang ilmu terus berkembang dan akses terhadap informasi pun makin luas sehingga bisa jadi apa yang direkomendasikan dahulu berbeda dengan sekarang.

=======

Melengkapi bahasan MPASI dari AIMI yang sebagian klipingnya pernah saya posting dulu (bisa dibaca di sini https://ceritaleila.wordpress.com/2014/12/05/serba-serbi-mpasi-dari-grup-aimi/), berikut yang dari grup Homemade Healthy Baby Food ya…

Amanda Pingkan Wulandari Pratama Jika anak sembelit, evaluasi komposisi asupan menunya.

* apakah makan lengkap 4 bintang?
* apakah sudah diberi lemak tambahan ?
* apa selingan buahnya ?
* bagaimana tekstur dan porsi makannya ?
* bagaimana asupan asi dan air putihnya ?

MENU 4 bintang yaitu terdiri dari :
🌟Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga). Selain nasi, ada kentang, ubi, singkong, labu kuning, jagung, oat, pasta, bihun, mie, roti.
🌟🌟 Sumber hewani; sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk), dapat diberikan sesering mungkin. Aneka ikan air tawar, ikan laut, daging ayam, sapi, kambing (termasuk otak, ati), telur
🌟🌟🌟 Kacang-kacangan dan olahannya sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur). Ada kacang hijau, kacang merah, kacang polong, kacang kedelai, kacang tolo, edamame, kecambah (toge), buncis, tahu, tempe.
🌟🌟🌟🌟 Aneka buah dan sayuran berwarna hijau dan jingga yang kaya vitamin A (memenuhi fungsi zat pengatur).

Penunjang yang wajib ada yaitu sumber lemak tambahan (minyak/mentega/margarin/santan — boleh dan dianjurkan dikenalkan sejak usia 6 bulan ) untuk menambah nilai kalori makanan (bisa untuk membantu boost BB), sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K; menambah rasa gurih alami makanan serta untuk membantu melancarkan pencernaan.

 

Tentang komposisi makanan yang baik sudah pernah diposting di wall, pembahasan sembelit ada di file grup 🙂

Ol hp, buka fb via browser atau opera mini, masuk ke grup, scroll ke bawah, klik photos untuk ke album foto grups atau klik files untuk dokumen grup.

Yang ol hp fb aplikasi, masuk ke grup, klik tanda i di bawah foto cover grup, klik photos untuk ke album foto grups atau klik files untuk dokumen grup.

Untuk buka link, ol hp buka fb via browser atau opera mini.

Komposisi Makanan Ideal
https://m.facebook.com/groups/208836479136874?view=permalink&id=987647997922381&refid=18&_ft_

Sembelit Bayi Mpasi
https://m.facebook.com/groups/208836479136874?view=permalink&id=209212342432621&refid=18&_ft_

Saat sembelit jangan buru-buru panik ngasih anak buah atau sayur biar lancar BAB.

Bukan sekedar lengkap 4 bintangnya, tapi perlu dievaluasi juga :
* bagaimana komposisinya…apakah sayuran melebihi protein ? Bayi dan anak butuh serat, tapi cukup sedikit. Bayi dan anak butuh banyak protein dan lemak. Jika porsi sayur berlebih, kurangi sayur, perbanyak protein dan lemak tambahan.
* apa saja variasi lemak tambahannya? Apa hanya dikasih kaldu saja? Kenalkan minyak dan juga santan misalnya
* apa saja variasi buahnya? Apakah sering diberi pisang dan pepaya? Saat sembelit dijejali pepaya dan pisang justru makin sembelit. Imbangi dengan buah yang kandungan air (pir, buah naga, jeruk, semangka, melon) atau buah kaya kandungan lemak
* bagaimana asupan asi dan air putihnya? Cukupkah?
* apakah sering diberi oat/jagung/beras merah/beras hitam? Bahan karbohidrat ini tinggi serat.
* seberapa banyak porsinya? Porsi terlalu banyak pun bisa menyebabkan sembelit.
* apakah naik tekstur terlalu cepat? Perpindahan drastis dari lembut ke kasar pun bikin sembelit.
* terkadang sembelit bisa juga indikasi tidak cocok makanan tertentu

Continue reading

Muntah dan Diare yang Menyeramkan

Selain sariawan, satu lagi penyakit anak yang saya takuti adalah diare. Bagaimana tidak, Fathia sehari-hari saja masih butuh trik untuk bisa makan dengan baik, kalau diare kan lebih perlu perjuangan lagi. Tiga tahun pertamanya alhamdulillah terlewati tanpa infeksi pencernaan yang konon menjadi penyakit langganan anak-anak ini. Tapi November 2015 saya ‘dipaksa’ membuka dan membaca lagi dengan lebih saksama segala bekal terkait diare dan muntah atau gastroenteritis ini.

img_20160704_194310.jpg

Kasus yang ini lebih banyak muntah, sih. Diare hanya datang di dua hari terakhir, itu pun ‘hanya’ dua-tiga kali dalam sehari dengan konsistensi pup yang agak encer, tidak benar-benar cair (lebaran kemarin barulah kejadian yang betul-betul nyaris hanya air, tapi alhamdulillah juga tak sampai 5x/hari dan tidak tiap hari dalam satu minggu). Muntah ini sebetulnya tantangan juga karena harus berlomba dengan upaya rehidrasi. Jangan sampai anak kekurangan cairan, kan? Saat itu saya masih menggunakan oralit/cairan rehidrasi oral dalam bentuk bubuk yang dilarutkan dalam air, kalau CRO siap minum (untuk anak, ada merk Pedialyte) baru kami coba saat kejadian waktu mudik. Selama bisa beli, ya pilih pakai oralit/pharolit/sejenisnya yang takaran komposisinya sudah pas, larutan gula garam hanya untuk kondisi darurat.

Continue reading

Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

Repost tulisan dari https://inineracauan.wordpress.com/ yang bagus menurut saya, walau telat bacanya tapi sukses bikin saya jadi ikut merenung, belajar, sedih…. Saya menggarisbawahi yang ini:

Para youtuber atau selebgram yang berani posting segala macem adalah orang yang (harusnya) berprinsip, tau batasnya sharing dan show off, tau kapan harus stop, dan tau gimana caranya tutup mata dan tutup mulut. Ketika kamu jadi sosok yang dilihat semua orang, everyone judges, because you let them to. Dan dalam kasus awkarin ini, aneh rasanya ketika dia playing victim, sedangkan dia sendiri yang mempertontonkan kehidupannya ke semua orang. Dan ketika dia mulai dapat keuntungan dari situ, dia ga lebih dari sekadar pekerja. Don’t play victim, honey, because you pull the trigger – we all just stand by here and watch.


Bukan untuk membenarkan bullying, ya. Hanya saja, memang jadi pengingat buat diri sendiri juga, harus lebih hati-hati dengan tingkah laku, terutama di era gencarnya media sosial sekarang (karena terus terang belum bisa benar-benar tidak menggunakan, toh masih banyak manfaatnya).

Oh, dan tentu saja yang jadi pusat perhatian saya juga adalah soal bagaimana Karin memberi pengaruh :(. Tulisan guru bahasa Inggris di bagian bawah (di versi viralnya jarang diikutkan) menjadi contoh nyata….

Bahwa adalah tugas ortu untuk membentengi anak-anaknya (karena ada yang komen “jangan salahin yang kasih pengaruh, dong!”), ya iyalah memang. Justru karena adanya kepedulian dan biar bisa jadi bekal untuk membentengi makanya tulisan seperti ini banyak di-share, biar bisa digali kan penyebabnya, diprediksi arahnya, dicari penangkalnya (mungkin selama ini belum mengenalkan anak ke idola yang lebih baik dengan anggapan yang kayak gitu juga bakal nemu dengan sendirinya), ortu bisa menyesuaikan pendekatan dan milih kata-kata yang lebih tepat dst. Bukan dengan maksud melimpahkan seluruh kesalahan ke ‘benda’ bernama media sosial, kok.

Tulisan lain terkait hal ini ada di Femina http://www.femina.co.id/trending-topic/fenomena-karin-awkarin-novilda-dan-generasi-swag-inilah-7-alasan-kenapa-para-orang-tua-harus-cemas-.

Yang ini sudut pandang lain dari mami Ubii yang menyatakan pernah segaul Karin dulu, kemudian mengupas apa yang mungkin menjadi akar masalahnya, plus surat terbuka yang semoga dibaca oleh Karin ya http://www.gracemelia.com/2016/07/catatan-untuk-para-orangtua-dulu-saya-pernah-menjadi-karin-novilda.html.

Memanjakan Diri di Salon Haura Muslimah

“Yang ada sepedanya itu ya, Bunda?” dengan mata berbinar putri saya menyambut tawaran yang saya lontarkan. Rambutnya memang semakin panjang, dan menurut kami, dengan persetujuannya juga meski ia pernah melontarkan keinginan memanjangkan rambut (“biar seperti princess“), lebih baik di awal masa sekolahnya ini rambutnya dipotong pendek dulu.

Berhubung saya khawatir tidak cukup kompeten memotong rambutnya sendiri, salon menjadi pilihan saya. Dan hanya satu nama salon yang terlintas, yaitu Haura Salon Muslimah.

Continue reading

Kenangan Kalender Abadi

Sepasang muda-mudi menyetop angkot yang saya tumpangi sore itu di Jatinegara. Mereka naik dengan membawa serta sebuah kardus berukuran besar. Meski bisa saja isinya adalah barang kulakan, alat rumah tangga atau yang lain lagi, saya menerawang (ngasal, maksudnya) bahwa yang mereka angkut itu adalah suvenir nikahan. Lokasinya pas, sih (walaupun Pasar Jatinegara juga terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan perlengkapan rumah tangga).

Sepuluh tahun yang lalu saya pun berbelanja cendera mata untuk resepsi pernikahan kami di lantai dasar Pasar Mester Jatinegara. Saya memperoleh info tempat penjualan ini dari forum Weddingku yang beralamat di http://discussion.weddingku.com/. Forum ini masih eksis tapi saya tidak berhasil menemukan arsip diskusi yang lama. Melalui Weddingku pula saya mendapatkan gambaran mengenai alternatif souvenir yang bisa dibeli berikut harganya. Pilihan saya jatuh ke kalender abadi, harganya tahun 2006 masih di bawah Rp5.000/pc (lupa persisnya, mungkin Rp3.500 ya). Intinya sih pengin cari tanda mata yang unik sekaligus bermanfaat bagi para tamu, meskipun kalau dipikir-pikir sekarang apa ya ada orang yang masih serajin adik saya di Solo sana mengganti angka kalendernya setiap hari :D.

img_20160630_104312.jpg

Berhubung hasil googling menyiratkan bahwa suvenir yang nyata-nyata menampilkan tulisan nama yang jelas akan kurang terpakai, jadi saya sengaja tidak memesan grafir/tambahan tulisan nama pengantin. Cukup diselipkan saja kertas dengan tulisan itu (pesan sekalian di tempat pembuatan undangan). Agak nyesel sih sekarang, sepertinya kan se-nggak mau-nggak maunya orang juga bakal tetap dipakai ya, minimal sebagai pajangan. karena dalam jumlah besar tentu tidak bisa langsung hari itu juga tersedia ya suvenirnya, jadi saya bolak-balik ke sana, pertama untuk berburu, deal, dan memesan (ditemani adik kelas di kampus), kedua untuk mengambil pesanan (ditemani sepupu). Dulu rasanya Jatinegara itu jauuuh banget dari Bintaro, pakai acara muter-muter pula karena naik kendaraan umum. Pulangnya, karena harus membawa dua kardus besar, saya pilih naik taksi yang ongkosnya juga lumayan (artinya sih memang jauh ya, bukan hanya perasaan saya saja). Eh, sekarang malah lewat pasar itu setiap hari, hahaha.