[Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah

Tulisan dari Abah Ihsan (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, page fb @abahihsanofficial) di bawah ini kemarin lewat di news feed Facebook saya. Saya jadi teringat untuk menghitung hari. Terhitung sampai akhir bulan Juli ini kami telah delapan bulan menyingkirkan televisi. Nggak total banget, sih. Televisi cuma diungsikan ke lantai dua, tempat yang jarang banget dijangkau anak-anak.

Sekali dua, kami masih menyempatkan nonton khususnya jika sedang ada liputan atau ulasan bagus yang informasinya kami peroleh sebelumnya. Beberapa kali anak-anak juga kami ajak ke atas (biasanya sambil salah satu di antara kami beberes) dan akhirnya TV dinyalakan, tapi belum tentu dua bulan sekali kami melakukannya. Kami juga masih belum berniat benar-benar mensterilkan anak-anak dari televisi, apalagi di tempat saudara atau tetangga ketika kami berkunjung. Lebih-lebih di tempat umum. Ya, saya sempat membaca bahwa salah satu tips ayah Musa sang hafidz Al Qur’an ternyata termasuk meminta kepada tuan rumah untuk mematikan TV jika kebetulan sedang disetel.

Continue reading

New Es Krim Tentrem, Nikmat Disantap dan Cantik Dipandang

Beberapa hari setelah idul fitri, sepupu yang sedang mudik (seperti juga saya) menyatakan keinginannya untuk mencicipi es krim Tentrem. Wah, saya jadi ikut kepengin. Yang saya dan mama tahu, es krim ini adanya di Plaza Singosaren lantai dasar, jadi meluncurlah kami ke sana. Dulu, kalau sedang ke Singosaren (yang terkenal karena ada Matahari-nya saat belum banyak department store di Solo), membeli es krim ini jadi semacam agenda khusus yang istimewa. Nggak sering sih memang, karena saya dan adik tidak dibiasakan jajan, bahkan di tempat yang punya nama macam itu.

Sampai ke Singosaren, ternyata gerai Tentrem di sana sudah digantikan oleh penjual ponsel (kalau tidak salah). Di Solo Grand Mall seingat saya ada kafenya, tapi membayangkan parkirnya jadi agak malas, waktu juga beranjak kian malam. Maka saya bertanya ke mbak-mbak yang ada di situ dan dijawab bahwa sudah pindah ke Ngarsopuran. Meluncurlan mobil yang dikemudikan adik saya ke sana, tepatnya Jl Brigjen Slamet Riyadi No. 132, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Langit mendung dan restoran New Es Krim Tentrem ini sebetulnya beberapa puluh menit lagi tutup (tertulis buka 09.00-21.00), tapi sudah kepalang tanggung.
image

Sekilas pandang saja, saya sudah kagum dengan interiornya yang natural-cantik. Ada hiasan tanaman buatan, sangkar-sangkar burung kosong, bingkai-bingkai antik, pernak-pernik dengan warna permen…. Konon restoran ini menyajikan 21 macam menu es krim, tapi keterbatasan waktu, kami hanya bisa memilih es krim contong (cone) dengan pilihan yang tersisa. Tak apalah, sekalian nostalgia. Saya memilih blueberry, suami saya pilihkan yang mocca, Fathia saya pesankan Oreo, sama dengan sepupu.
image

Wah, rasanya enaaakk… Secara tidak langsung saya membandingkan dengan es krim Ragusa dan Baltic Ice Cream di Jakarta yang perah saya makan, yah tekstur lembut dan rasa buahnya yang ‘dapet banget’ mirip-mirip lah, berhubung sama-sama homemade. Restoran atau cafe Tentrem yang ini baru dibuka pada 25 Juni 2016, pantas saja waktu terakhir kami jalan-jalan ke Ngarsapura Night Market (2014 saat hamil Fahira) rasanya kok belum ada. Rupanya ada juga restonya di Urip Sumoharjo, dekat Orion yang berarti dekat kantor mama juga (artinya harusnya cukup sering lewat kalau kebetulan ikut antar/jemput mama), tapi waktu itu tidak memperhatikan dan belum ada minat khusus coba-coba begini, hahaha. Es krim Tentrem sendiri sudah ada sejak tahun 1952, lho.
image

Es krim di bangunan berlantai dua ini sebagian besar (atau semua?) homemade alias buatan sendiri, bukan es krim pabrikan. Hasil browsing sih katanya ada nasi liwet dan gudeg Solo juga, tapi lagi-lagi karena waktunya mepet saya bahkan tidak sempat mengamati daftar menu. Sebetulnya kami masih tinggal agak lama sih sambil menghabiskan es krim masing-masing, tapi karena kami berdua harus bergantian menjaga Fahira yang penasaran dengan benda-benda baru di sekitarnya jadi ya begitulah, hehehe. Boro-boro mau foto-foto :D, padahal tata ruangnya instagrammable bangettt…
image

Beberapa sumber:
http://solo.tribunnews.com/2016/04/07/inilah-21-menu-es-krim-di-kafe-new-es-krim-tentrem-solo
https://m.solopos.com/kuliner-legendaris-es-krim-rasa-klasik-nuansa-kekinian-624156

Monokromatik yang Hipnotik

Sekitar tahun lalu, seorang teman kantor saya bilang bahwa yang sedang tren adalah jilbab monokrom. Saat itu saya jadi penasaran, maksudnya seperti apa, sih? Maklum lagi riweuh sama kerjaan sampai nggak sempat shopping *soksibuk. Belakangan setelah mengecek beberapa toko online khususnya di Instagram, terbukti motif yang menggunakan dua warna ini, biasanya warna gelap dan putih, berseliweran di sana-sini. Muncul di gamis, blus, kerudung, syal, kulot, rok, celana, cardigan, tas, sepatu, sprei, sarung bantal…. Awalnya kalau tidak salah booming-nya busana monokromatik ini memang dalam bentuk jilbab dulu, mungkin sekalian semacam tes pasar sebab motifnya yang cenderung tegas dan terkadang besar-besar belum tentu disukai jika muncul dalam bentuk baju berbahan banyak seperti gamis.

Seorang teman lain pernah bertanya, “Kalau hijab monokrom gitu panas nggak sih ya? Kan kayaknya bahannya kaku…”

Continue reading

Menikmati Kekayaan Wastra Indonesia: dari Songket Palembang hingga Batik Solo

Tulisan lama saya yang dulu menang lomba “Cinta Negeriku” yang diadakan oleh FLP Malang tahun 2010.
=========================================================================================

Berkunjung ke suatu daerah rasanya tak lengkap tanpa menyinggahi tempat-tempat yang menjadi ciri khasnya. Maka jika ada kesempatan pergi ke kota lain, biasanya saya mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasi-lokasi wisata yang kira-kira dapat dikunjungi. Mengingat waktu biasanya sempit karena hanya memanfaatkan cuti yang cuma sebentar atau harus menyempatkan diri di sela-sela tugas kantor, pilihan tempatnya perlu dikerucutkan lagi berdasarkan letak, ketersediaan transportasi atau yang mau menemani, dan jam bukanya kalau

Meskipun begitu, tidak jarang secara tak sengaja saya malah menemukan tempat tertentu. Waktu kuliah dulu misalnya, sementara oom dan tante menghadiri pesta pernikahan koleganya (yang memang menjadi tujuan utama), daripada bengong di kamar saya dan seorang sepupu iseng jalan kaki ke sekeliling Hotel Horison Bandung dan tiba-tiba sampailah kami ke Pasar Palasari. Biarpun mengaku orang rumahan, kadang naluri jalan saya memang timbul sendiri. Lagi-lagi dengan alasan ketimbang hanya menganggur, mumpung ada di kota yang jarang didatangi.

SAMSUNG DIGIMAX A403Dua tahun yang lalu, setelah beres urusan dinas kantor di Palembang dan menaruh berkas-berkas di kamar hotel, saya naik angkot ke Masjid Agung. Tidak lama di situ, hanya shalat Dhuha dan berdzikir sebentar sebab bagian dalam masjid sedang dibersihkan, mungkin juga untuk persiapan shalat Jumat. Usai menikmati martabak HAR di seberang masjid itu yang bikin kangen setelah mencobanya pertama kali tahun 2008, saya bermaksud kembali ke hotel. Di dalam angkot menuju hotel, saya melihat sebuah bangunan bergaya kolonial di kejauhan. Itu dia Museum Tekstil, yang belum sempat saya masuki tahun sebelumnya karena keterbatasan waktu. Mumpung kali ini waktunya cukup luang, saya putuskan untuk turun di situ.

Continue reading

[Ulasan] Belajar Percaya Diri dari Todi

Beberapa hari yang lalu facebook mengingatkan saya bahwa saya pernah ikutan lomba resensi yang diadakan oleh penulis buku ini, Mba Dhonna. Sekalian saya posting ulang di sini saja, nostalgia juga menengok kembali gaya menulis saya lima tahun yang lalu :).

Judul : Todi si Belalang Kerdil
Penulis : RF. Dhonna
Tebal : iv + 53 halaman
ISBN : 978-602-9079-45-6
Penerbit: Leutika
Tahun terbit: 2011
todi belalang 1
Buku untuk anak-anak konon memiliki pakemnya sendiri. Harus mudah dipahami, tetapi sekaligus tanpa mengabaikan kenyataan bahwa daya cerna anak-anak zaman sekarang kian canggih saja. Harus punya pesan moral, sebisa mungkin cukup tersirat tanpa harus menggurui. Dari segi penampilan, sebaiknya buku anak menggunakan huruf yang tidak terlalu rapat dan kecil, serta sebisa mungkin dilengkapi dengan ilustrasi yang semakin menarik minat baca.

Delapan cerita yang termuat dalam buku ini rata-rata tergolong sangat pendek jika dikonversikan ke halaman A4, sehingga bisa dikatakan cukup memadai untuk rentang perhatian anak khususnya usia awal SD (meskipun ternyata di sampul versi barunya tertulis untuk anak usia 9 s.d. 12 tahun). Ukurannya yang mungil dan tipis cocok untuk dibawa ke mana-mana, termasuk untuk dibaca atau dibacakan menjelang tidur. Ilustrasi yang ada pada setiap halaman masih mengacu pada cerita yang menjadi judul buku, sehingga semuanya sama dan tampil hitam-putih. Tema kisah para hewan alias fabel dan dunia khayal putri serta peri menjadi pilihan, dengan satu-dua kisah keseharian masa kini.

Pesan moral yang disampaikan dalam cerita-cerita yang ada cukup bervariasi, di antaranya mengenai makanan sehat, kejujuran, prioritas, kedisiplinan, pergaulan, kesabaran dan ketegaran, inisiatif, serta kerja keras. Benang merah yang paling menonjol di kebanyakan cerita adalah motivasi agar tetap percaya diri dalam berbagai kondisi. Beberapa hikmah cerita disampaikan dalam bentuk pertanyaan di akhir kisah, sehingga anak atau orang dewasa yang membacakan bisa berpikir sendiri atau berdiskusi mengenainya.

Cerita favorit saya adalah Senyum Terindah Molly, karena mengingatkan pada diri saya sendiri. Tidak enak memang disangka sombong karena tampak lebih suka menyendiri. Padahal aslinya hal tersebut disebabkan oleh kepribadian yang memang cenderung introvert (sedikit berbeda dengan Molly yang sempat minder akan keadaan fisiknya). Todi si Belalang Kerdil mengingatkan untuk tidak membalas keburukan orang-orang (atau dalam buku ini, hewan-hewan) lain dengan perbuatan jelek pula. Sedangkan Kisah Peri Warna menggelitik pemikiran saya, adakah cerita di situ dimaksudkan sebagai satir bagi kondisi masyarakat yang enggan mengubah sesuatu yang ‘sudah sejak dulu begitu’, alih-alih mencoba berinovasi demi masa depan yang lebih indah?

Masukan untuk penulis, ungkapan “Rasain!” yang muncul dalam cerita Banguuun, Nanda! tampaknya agak kurang pas karena rawan ditiru oleh anak-anak. Mungkin akan lebih baik jika diganti dengan kalimat lain yang meskipun intinya sama-sama girang karena rencana (yang sedikit ‘curang’ tapi maksudnya baik?) berhasil, tetapi tidak terlalu bernada keras atau puas di atas kesedihan orang lain (kendati tujuannya memang untuk memberi pelajaran).

Harum Apel Yang Bikin Kangen

Saya tidak fanatik terhadap sabun mandi tertentu. Merk dan varian yang digunakan di rumah juga seringkali berganti-ganti. Memang satu dua jenis tertentu rutin saya jadikan pilihan pertama dan kedua kalau sedang berbelanja, tapi lebih sering karena penasaran ingin coba ini dan itu, selama harganya masih masuk akal.

Belakangan setelah tahu bahwa sabun antiseptik tidaklah diperlukan, tidak lebih efektif jika dibandingkan dengan sabun biasa (http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150917144957-277-79384/studi-sabun-antibakteri-tidak-efektif-membunuh-kuman/), bahkan bisa berisiko jika digunakan (http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/12/sabun-antibakteri-justru-membahayakan-kita), saya juga meminimalkan pemakaian sabun yang dipromosikan mengandung antibakteri.

Continue reading

Penulisan insya Allah yang tepat…benarkah?

Hingga sekarang masih sering beredar gambar yang menyatakan bahwa Dr. Zakir Naik mengoreksi penulisan insya Allah. Seharusnya in shaa Allah, demikian disebutkan dalam gambar itu. Benarkah?

11037468_10203062489482772_9070729239158713232_n.jpg

15135824_10205784731737127_1824157765269986179_n.jpg

Saya termasuk yang membenahi cara penulisan saya begitu beredar informasi tersebut. Lupa sih, waktu itu informasinya bawa-bawa nama Dr. Zakir Naik atau tidak. Belakangan, saya membaca ada yang mengklarifikasi bahwa Dr. Zakir Naik tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu. Disertakan pula keterangan singkat bahwa sebetulnya tidak ada masalah karena ini soal transliterasi masing-masing negara saja. Penjelasan selengkapnya sendiri bisa dibaca di bawah, saya kutip dari konsultasisyariah.com.

Continue reading

Menikmati Kembali Gurihnya Siput Gonggong

“Dulu waktu saya kuliah di Jawa, mamak saya suka kirim siput gonggong. Pikir saya makanan apa sih ini, seringnya malah saya kasih-kasih ke teman-teman. Setelah balik ke Bangka saya baru tahu, rupanya itu makanan mahal,” demikian tutur tetangga kami di Pangkalpinang dulu.

image

Siput gonggong atau dog conch atau nama latinnya Strombus canarium (canis=anjing, sedangkan gonggong jelas merupakan tiruan bunyi anjing) menjadi salah satu makanan khas di Bangka Belitung dan di Kepulauan Riau (beberapa website menyebutkan bahwa hewan ini khas masing-masing daerah). Siput ini bisa pula ditemukan di berbagai negara (selengkapnya di https://en.m.wikipedia.org/wiki/Laevistrombus_canarium). Di pulau Bangka, cangkang siput gonggong dijadikan ikon misalnya dalam bentuk patung yang menjadi landmark. Siput gonggong bisa dibumbui kemudian dimasak bersama dengan cangkangnya dan disantap layaknya keluarga gastropod bercangkang, bisa juga digoreng kering menjadi keripik atau dihaluskan lalu digoreng sebagai kerupuk. Satu-satunya bentuk olahan yang pernah saya cicipi, juga yang dimaksud oleh tetangga kami di atas, adalah siput gonggong yang sudah jadi keripik. Mengingat rasanya yang gurih dan renyah sungguh bikin kangen karena sejak pindah dari Pangkalpinang lima tahun yang lalu saya belum pernah memakannya lagi. Harganya memang tergolong mahal, bulan lalu suami saya membelikan saat bertugas ke Pangkalpinang dengan harga Rp40.000,00 untuk kemasan 100 gram, kemudian saya lihat di salah satu lapak online ada yang menjual seharga Rp440.000,00/kg. Saya memang secara khusus minta dibelikan oleh-oleh siput gonggong, selain tentunya keritcu. Harga yang menggiurkan barangkali menjadi penarik minat penduduk berburu siput gonggong, yang lantas berdampak ke terancamnya eksistensi spesies ini seperti dipaparkan di Trubus
http://www.trubus-online.co.id/siput-gonggong-saatnya-budidaya/.

image

Hewan siput sendiri bagi kaum muslim seringkali masih membuat ragu terkait status kehalalannya. Biasanya orang awam akan mengaitkan dengan wujudnya sebagai hewan melata dan bisa hidup di dua alam. Bahasan lengkap mengenai halal atau haramnya siput/bekicot/keong dan sejenisnya bisa dibaca di https://rumaysho.com/2130-halalkah-bekicot-keong.html dan https://konsultasisyariah.com/17052-hukum-makan-bekicot.html. Siput gonggong adalah hewan laut, merujuk ke kedua tulisan tersebut hukumnya adalah halal.

Oh ya, nilai gizi siput gonggong goreng ini seperti dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Bangka Barat adalah sebagai berikut:
Sampel Siput Gonggong Goreng yang telah disampaikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat kepada Balai Riset dan Standarisasi Mutu Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Palembang untuk diuji nilai gizi makronya telah keluar hasilnya.

Berdasarkan hasil uji laboratorium dapat diketahui nilai gizi makro per 100 gram Siput Gonggong Goreng antara lain karbohidrat 4,1% dengan nilai gizi 16,4 kalori, Protein 31,19 dengan nilai gizi 124,8 kalori dan lemak 24,9% dengan nilai gizi 224,1 kalori.

Sampel adalah Siput Gonggong Goreng yang merupakan olahan dari Siput Gonggong yang didapatkan dari Desa Bakit, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat. Semoga Siput Gonggong dapat menjadi komoditi di Kabupaten Bangka Barat dengan nilai gizi dan nilai jual yang tinggi.

RPTRA Utan Kayu Utara

Inilah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Utan Kayu Utara, RPTRA terdekat dari tempat tinggal kami yang baru diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama tanggal 3 Juni 2016. Ada lapangan futsal, perpustakaan, kolam ikan, mainan panjat-panjatan, ayunan, perosotan, taman batu refleksi, taman hidroponik, kantin, ruang semi terbuka serbaguna, ‘amfiteater’, dan ruang laktasi. Selain toilet biasa, toilet untuk warga difabel juga tersedia. Belum sempat mencoba setiap fasilitas karena saat kami ke sana Sabtu 11 Juni lalu jelang buka puasa lagi rame banget, kapan-kapan lah main lagi. Lumayan memang sebagai ruang terbuka atau taman di mana warga bisa berkegiatan. Malah katanya ruang serbaguna yang ada dipersilakan untuk dipakai untuk hajatan warga. Berhubung dananya dari CSR produsen suatu merk mie instan, tak heran warna-warni yang dipakai juga mencerminkan warna yang digunakan dalam logo mie tersebut :D.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Video peresmiannya:

Imsak dan Menahan Diri

Pada suatu bulan Ramadhan saat saya masih jadi anak SD, seorang paman yang sedang mudik karena liburan kuliah (orangtua saya tinggal bersama dengan orangtua mama) menyampaikan sesuatu yang cukup membuat saya kaget.

“Imsak itu bukan waktunya berhenti sahur… Masih boleh makan kok, sampai adzan Subuh,” kata beliau. Diteguknya segelas air meski sirine tanda waktu imsak tiba telah berbunyi, seakan memberi contoh langsung. Hal ini terus terang tidak diajarkan di sekolah saya saat itu. Hingga kini, 20 tahun kemudian, sepertinya masih banyak yang menganggap bahwa waktu imsak, yang jamnya tercantum di jadwal yang sering beredar dan di banyak daerah diumumkan ‘kedatangannya’ secara khusus dengan cara masing-masing, adalah batas awal dimulainya shaum pada hari tersebut. Yang artinya aktivitas seperti makan dan minum harus berhenti pada saat itu. Dengan semakin majunya teknologi informasi khususnya di bidang informasi, tulisan tentang batas akhir yang benar ini juga banyak beredar. Memang kata imsak itu sendiri artinya adalah menahan, jadi ada yang menafsirkannya menahan diri untuk lebih hati-hati, takutnya keterusan makan minum saat sebetulnya sudah tidak boleh. Namun, yang saya baca dari beberapa referensi, imsak itu ya sinonim dari shaum alias puasa, yang disebut dengan menahan diri itu ya berhenti dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa, jadi adanya jadwal imsak yang punya selisih waktu dengan adzan subuh itu bikin rancu karena seolah-olah imsak dan mulai puasa ‘betulan’ setelah terbit fajar itu adalah dua waktu yang berbeda.

Bagi saya sendiri, dibunyikannya peringatan imsak ada manfaatnya untuk bersiap-siap. Terlebih setelah tahu bahwa mengakhirkan makan sahur itu disunnahkan. Maka kadang kami malah baru mulai sahur saat imsak tiba, walaupun tidak sering melakukannya karena khawatir ‘bablas’, terlebih jika anak sedang dalam usia bayi yang berpotensi terbangun minta menyusu sewaktu-waktu. Sebelum imsak artinya masih longgar waktu untuk sholat, sekalian memasak makanan untuk anak, atau menata perlengkapan ke kantor. Atau kalau bangun kesiangan, sudah tiba atau belumnya waktu imsak (ini sih sebetulnya sama aja dengan melirik jadwal adzan Subuh ya kalaupun tidak mendengar peringatan imsak, hehehe) bisa menjadi pertimbangan makanan apa yang bisa disajikan dalam waktu singkat kalau kebetulan tidak ada persiapan dari malam sebelumnya. Jika pun sudah selesai makan sahur, pengumuman imsak bisa dijadikan pengingat untuk minum lagi, sikat gigi dst.
image

image

Begitu pindah ke Jakarta di tahun kelima pernikahan, kami mendapati bahwa di tempat tinggal kami tidak ada peringatan imsak yang dibunyikan. Jadi kami paling-paling mengandalkan jadwal yang tersedia lalu mencocokkannya dengan jam dinding guna mengelola waktu sahur dengan sebaik-baiknya. Baru tahun ini, tahun kelima kami di Jakarta, entah bagaimana ceritanya (lupa terus mau tanya ke suami, barangkali bisa ditanyakan ke pengurus musholla) mulai ada pengumuman waktu imsak yang terdengar dari speaker musholla.

Berikut beberapa referensi terkait waktu sahur dan imsak ini (termasuk bagaimaja ketika tengah makan kemudian mendengar adzan Subuh dikumandangkan):
1. https://muslim.or.id/1290-kekeliruan-pensyariatan-waktu-imsak.html
2. https://muslimafiyah.com/dekat-dekat-adzan-waktu-terbaik-makan-sahur-dan-catatan-terhadap-waktu-imsak.html
3. https://m.facebook.com/notes/moslem-education/imsak-bukan-batas-akhir-makan-sahur/423973898410/
4. https://rumaysho.com/1231-hukum-makan-ketika-adzan-shubuh.html.

*maunya ditulis di bulan Ramadhan tapi nggak sempat-sempat :D*