Sensor Mandiri, Benteng Keluarga Masa Kini

“Anakku tahu jingle iklan susu itu. lho, padahal di rumah kita nggak pernah nyalain tv. Liat di Youtube, kali, ya?” begitu cerita seorang teman di kantor seminggu yang lalu.

“Ada-ada aja pemerintah sekarang, masak sekarang baju artis di TV pun di-blur. Konyol! Kalau yang nonton nggak suka, tinggal matikan aja, kan?” demikian pendapat lain yang sempat saya baca di dunia maya.

Apa, sih, sebetulnya pengertian dari sensor itu? Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sensor artinya sebagai berikut: sensor1/sen·sor/ /sénsor/ n 1 pengawasan dan pemeriksaan surat-surat atau sesuatu yang akan disiarkan atau diterima (berita, majalah, buku, dan sebagainya); 2 yang menyensor. Sedangkan definisi censor, kata dalam bahasa Inggris yang merupakan asal kata sensor, dalam kamus Merriam-Webster adalah “a person who examines books, movies, letters, etc., and removes things that are considered to be offensive, immoral, harmful to society, etc.” Jadi sensor memang dari sananya terkait dengan persoalan moral dan seberapa besar bahayanya terhadap masyarakat.

Jika ditilik lebih lanjut, wajar bila pemerintah berkepentingan terhadap isi siaran atau media pada umumnya, sebab bisa membawa pengaruh kepada kehodupan masyarakat luas. Pornografi, kekerasan, hal-hal yang sifatnya menghasut, dapat secara langsung maupun tidak langsung merusak pemikiran pemirsa, pendengar, atau pembaca. Untuk tujuan mencegah dampak negatif itulah Lembaga Sensor Film (LSF) didirikan. Kiprahnya memang secara khusus lebih mengarah ke perfilman, yaitu film dan reklame film.

Logo_LSF

Lantas, dengan adanya LSF, apakah masyarakat bisa sepenuhnya bernapas lega? Tentu tidak. Pasti ada saja yang merasa tidak puas. Sebagian tak suka karena sensor seolah menghalangi kebebasan penyiaran atau terlalu ikut campur mengatur kesenangan pribadi, yang lain justru merasa gunting LSF masih tumpul. Lembaga yang dinaungi keberadaannya oleh Undang-undang Nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman ini sejatinya memang tidak maksimal perannya tanpa peran serta aktif masyarakat.

Bayangkan, LSF sudah memberikan batasan usia untuk bisa menjadi penonton sebuah film yang disesuaikan dengan muatan film tersrbut. Namun, pada praktiknya seringkali terjadi di gedung bioskop penonton di bawah umur lolos melihat film untuk usia di atasnya. Sebagian malah diajak oleh orangtuanya, mungkin karena tidak ada yang menjaga di rumah atau tidak sadar bahwa konten filmnya tidak cocok untuk anak-anak (biasanya untuk tema seperti komedi atau film bertokoh superhero yang telanjur identik dengan ‘main-main’ khas anak-anak, padahal terselip adegan syur atau sadis di dalamnya).

Maka, sensor mandiri sudah seharusnya menjadi budaya. Orangtua misalnya, harus aktif mencari tahu rating (dalam hal pengkategorian umur) film yang hendak dinikmatinya bersama anak di sinepleks. Tak terbatas pada sinema layar lebar sebetulnya, media lain pun patut mendapat perhatian. Bajakan film-film box office terbaru baik Indonesia maupun luar negeri banyak beredar dalam bentuk keping DVD/VCD dan dijual di lapak-lapak offline tanpa pengawasan, belum termasuk hasil download alias unduhan yang mudah ditemukan linknya di dunia maya, for free and uncensored. Mau yang gambarnya sudah cling hasil membajak dari edisi blu-ray, extended version, rekaman dari yang nonton langsung, pakai subtitle Indonesia maupun tidak, tinggal pilih. Video di situs penyedia rekaman audio visual gratis pun menjadi contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat masa kini karena bisa diakses lewat gadget di genggaman tangan, di mana pun berada. Bisa jadi film yang diputar oleh anak (balita zaman sekarang canggih-canggih, lho) ‘aman’, channel yang dipilih sudah khusus video edukasi anak, tetapi bagaimana dengan iklan yang lewat? Bagaimana dengan rekomendasi video lain yang acapkali ikut muncul? Ada kemungkinan fitur filter tidak selalu berhasil menghalangi seluruh kata kunci yang berkaitan, salah-salah malah klip xxx yang muncul.

Nah, apa saja sebetulnya yang perlu dicermati dalam menerapkan budaya sensor mandiri ini, khususnya bagi orangtua?

  1. Miliki prinsip dan pegang dengan teguh. Nilai-nilai di tiap keluarga bisa jadi berbeda satu sama lain, ada yang memilih pijakan agama, ada yang berpatokan pada budaya timur. Tentukan pondasi terlebih dahulu agar ada pegangan dalam menentukan langkah ke depannya. Misalnya, adegan ciuman dianggap biasa sebagai bagian dari keragaman pilihan berekspresi yang ada di masyarakat, atau sepenuhnya tabu? Apa tindak lanjutnya jika menemui hal seperti itu, tutup mata anak, alihkan ke kegiatan lain, langsung ceramahi anak, atau biarkan saja anak berpikir sendiri nanti kalau ‘umurnya udah nyampe‘?
  2. Ajak seisi rumah berkolaborasi. Utamanya pasangan (suami/istri) agar kompak satu suara dalam menerapkan aturan. Jika ada nenek/kakek/pengasuh/penghuni rumah lainnya, sampaikan juga apa yang dirasa perlu untuk mencegah anak mengkonsumsi sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
  3. Bicarakan dengan anak sesuai usianya. Anak yang lebih besar sudah bisa diberi penjelasan beserta referensi atau ‘dalil’-nya, juga diberi contoh sebab akibat agar memacunya ikut berperan (bukan hanya didikte), sedangkan anak yang lebih muda mungkin lebih baik diberi benteng secara langsung seperti penjadwalan nonton dan pendampingan.
  4. Usahakan melakukan ‘sensor’ dalam arti yang sesungguhnya, contohnya membaca komik, majalah, tabloid, atau novel yang dibeli anak (termasuk bentuk digitalnya berupa e-book atau versi pdf buku best seller yang sering beredar atau dengan mudah didapatkan di internet) sebelum ia mulai menekuninya, atau menonton duluan DVD yang mau disetelnya maupun game yang hendak dimainkannya (minimal cari review-nya yang umumnya cukup mudah ditemukan di forum-forum atau blog). Keterbatasan waktu mungkin menjadi kendala mengingat sibuknya pekerjaan ayah dan ibu sehari-hari baik di kantor/tempat kerja maupun di rumah, maka kembali lagi ke prioritas keluarga masing-masing: layakkah efek yang mungkin ditimbulkannya kelak jika lolos dari pantauan kita? Pembatasan menyeluruh bisa menjadi solusi kalau belum percaya dengan kemampuan anak menyaring sendiri, dengan konsekuensi orangtua dianggap otoriter.
  5. Bisa juga anak menonton video di luar pengawasan kita, misalnya dari gawai teman, di warnet, saat main ke rumah saudara, dan seterusnya. Kembali lagi ke poin pertama, usahakan anak sudah mengerti akan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga beserta konsekuensinya. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak sedari dini juga bisa membantu agar anak tidak segan/takut menanyakan atau mengobrolkan hal-hal dengan topik sensitif. Jadilah sahabat terbaik bagi anak.

Beberapa tips di atas semoga bisa menjadi awal dari pembudayaan sensor mandiri di masyarakat. Jika bukan kita yang mulai, siapa lagi? Sebab, pembangunan manusia di negeri ini dimulai dari satuan terkecil masyarakatnya yaitu keluarga yang saling mendukung dalam kebaikan, bukan?

 

SMSBunda, Perantara Menuju Keselamatan Ibu dan Bayi

“Wah, boro-boro, deh…baca tulisan di dokumen grup aja suka pada males, kok!” demikian komentar dari seorang kawan sesama admin grup ketika kami membahas kemungkinan penerbitan buku yang dirancang komplet menjawab pertanyaan para ibu dan calon ibu khususnya terkait ASI, MPASI, dan kesehatan keluarga secara umum. Ingin rasanya saya membantah, berhubung saya suka sekali membaca. Namun, saya harus mengakui, sebagaimana yang pernah saya baca, rentang konsentrasi manusia masa kini menurut penelitian memang menurun. Daya tahan untuk membaca artikel panjang konon menipis. Banjir informasi instan di era teknologi informasi seperti sekarang, di mana untuk memperoleh jawaban dari suatu pertanyaan kadang cukup dengan sekali klik, acapkali justru membuat kewalahan. Seringkali sebuah informasi hanya dibaca sekilas kemudian perhatian teralih ke informasi lain yang ‘memanggil-manggil minta dibaca’.

Belum lagi jika bicara soal keterbatasan waktu. Se-multitasking-multitasking-nya seorang perempuan, seolah masih terlalu banyak hal yang ia harus kerjakan. Sebuah tips mengatakan bahwa multitasking dalam tindakan itu produktif dan menghemat waktu, sedangkan multitasking dalam pikiran itu bikin waktu terbuang percuma. Pada kenyataannya, yang namanya ibu pasti pernah mengalami yang seperti ini: menyusun menu untuk esok hari di kepala sambil mengingat-ingat jadwal imunisasi anak sembari memeriksa tas sekolah anak untuk besok seraya menyimak informasi mengenai banjir di televisi.

Di sisi lain, update ilmu baru sepertinya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Panduan MPASI terbaru, step by step IMD (Inisiasi Menyusu Dini), petunjuk perawatan tali pusat bayi baru lahir, jenis vaksin yang belum pernah ada sebelumnya, tata laksana ketuban pecah dini…semuanya perlu untuk dipelajari setidaknya sebagai bekal jika suatu saat mengalami baik diri sendiri maupun orang terdekat, tapi kapan waktunya? Padahal seorang ibu adalah manajer keluarga yang sekaligus menjadi pengambil keputusan-keputusan penting. Tentu, ayah pun seharusnya belajar bersama. Namun, sebagai pihak yang mengalami sendiri kehamilan, juga lazimnya lebih sering berinteraksi dengan bayi/anak, sudah sewajarnya ibu lebih tanggap dan aktif mencari informasi, yang nantinya bisa didiskusikan dengan suami. Kapan harus ke dokter? Bahan makanan mana yang aman dikonsumsi ibu hamil? Bagaimana jika menemui tantangan dalam menyusui? Bolehkah ibu menyusui memakai produk perawatan kulit? Kapan perlu khawatir ketika gigi anak tidak kunjung muncul?

Continue reading

Lebaran di Karanganyar, Setelah Satu Dasawarsa

Salah satu kenangan lebaran masa kecil yang paling berkesan bagi saya adalah tradisi pergi ke tempat mbah buyut dari pihak mama di Karanganyar, Semarang, tiap H+1. Dulu sih saya diberitahu bahwa kalau di desa, lebaran hari kedua memang lebih meriah. Di mata saya, karena semua berkumpul, memang jadinya terlihat ramai. Biasanya kami berangkat dengan menggunakan minimal dua mobil yang berkonvoi (pernah bahkan menyewa minibus dari Jakarta), karena kakak dan adik mama yang berdomisili di kota lain juga bergabung. Orangtua saya memang tinggal di rumah mbah atau orangtua mama, jadi ke situlah tujuan mudik saudara-saudara mama ketika Idul Fitri tiba.

Perjalanan ke Karanganyar biasanya memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Semasa kakak adik mbah (para pakdhe dan budhe dari mama) masih ada, kami biasanya juga menyempatkan sowan ke rumah beliau satu persatu dalam sehari itu. Kebanyakan memang tinggal di kota yang berdekatan seperti Salatiga dan Klaten. Kesempatan berkumpul setahun sekali ini menjadi ajang silaturahmi, semacam halal bihalal yang ditunggu-tunggu, karena jarang-jarang para anggota keluarga besar Hardjasoetaman bisa bertemu sekaligus dalam jumlah yang cukup banyak. Ada juga arisan keluarga yang rutin digelar per triwulan untuk yang tinggal di Jadebotabek memang, tapi tidak semua tinggal di daerah sana, kan.

Di antara acara yang biasanya wajib ada adalah adat sungkeman, sebagai wujud bakti dan hormat dari generasi yang lebih muda. Nyekar atau ziarah ke makam leluhur juga dilaksanakan secara berombongan, walaupun sepertinya karena jarak yang jauh akhirnya keluarga saya jarang bergabung (alias kadang kesiangan, hehehe). Di rumah mbah buyut, sebelum dan sesudah sungkeman, biasanya kami ngobrol santai ditemani hidangan yang tersaji. Sajian khas inilah yang juga ngangenin: ketupat opor, kue-kue basah seperti wajik, jadah, sengkulun, dan tape ketan.

Sejak saya menikah tahun 2006 saya tak pernah lagi bergabung dengan keluarga besar merayakan lebaran di Karanganyar. Kebetulan memang saya mendapat penempatan pekerjaan di pulau lain, yaitu Belitung kemudian Bangka, tepat setelah menikah. Biasanya saya dan suami tetap mudik, sih, selama empat tahun bertugas di luar Jawa itu. Tapi sempitnya waktu cuti yang harus pula dibagi ke dua keluarga (orangtua di Solo dan mertua di Pati) membuat kondisinya tidak memungkinkan bagi kami untuk ikut serta. Saat kami sudah pindah tugas ke Jakarta pun biasanya hari-H idul fitri kami rayakan di Pati karena sepeninggal ibu mertua, suami merasa perlu membantu usaha keluarga yang ramai menjelang lebaran. Tahun lalu kami nyaris bisa ikut karena sudah berangkat ke Solo dari Pati pada hari-H, tapi batal karena ketersediaan tempat di kendaraan yang mepet.

img-20160831-wa0031.jpgTahun ini, 2016 atau 1437 Hijriah, untuk pertama kalinya saya kembali ke rumah mbah buyut di Karanganyar pada lebaran kedua. Ini jadi pengalaman pertama untuk suami dan anak. Lalu lintas hari itu lumayan macet dan banyak jalan ditutup sehingga kedua mobil yang kami pakai kesulitan putar balik dan mencapai tempat tujuan lebih siang. Kesan saya begitu sampai, pangling, tentu. Rumah tersebut memang sudah direnovasi dengan dana patungan bersama, dan laporan perkembangan termasuk foto-foto juga sudah pernah dipresentasikan pada acara arisan keluarga yang saya ikuti. Tapi begitu melihat sendiri…sensasinya berbeda. Yang paling mencolok, lantai tanah berganti ubin keramik. Di sisi lain, kesan klasik dari arsitektur dan aksesoris termasuk perangkat gamelan masih dipertahankan.

Hal berikutnya yang berbeda adalah acara yang diorganisir dengan rapi. Memang sepeninggal para generasi kedua, tradisi sungkeman jarang dilaksanakan lagi. Mungkin agar suasana tambah meriah dan semua berbaur, beberapa saudara mama berinisiatif mengadakan aneka lomba. Bertindak selaku panitia pelaksana adalah generasi saya. Jadi hadirin dibagi menjadi beberapa kelompok (bercampur antara satu keluarga dengan keluarga lain, sebagai contoh saya saja beda kelompok dengan suami), kemudian setiap kelompok berpacu mendapatkan nilai total tertinggi dari beberapa lomba yang diikuti. Tahun lalu ada semacam ‘mencari jejak’, tapi tahun ini ditiadakan. Lomba tahun ini diadakan indoor, paling jauh di halaman saja, meliputi kontes yel-yel, tebak peribahasa lewat peragaan, lomba tali tersimpul, sampai voli air. Seru, memang!

Saya sendiri tidak bisa terlalu aktif berpartisipasi karena putri kecil saya yang baru berusia 19 bulan lebih tertarik menjelajah melihat hal-hal yang belum pernah ditemuinya. Tentu perlu pengawalan karena ‘medan’-nya bagi saya juga terbilang baru. Kakaknya, 4,5 tahun, cenderung lebih anteng dan menempel pada ayahnya, tapi lama-lama ingin ikut jalan-jalan juga.

img-20160831-wa0017.jpg

Jadilah saat lomba terakhir dimainkan kami hanya menonton sesekali, sisanya lebih banyak dihabiskan untuk mengejar Fahira yang mengejar ayam atau menyuapi Fathia. Lomba volinya sendiri sebetulnya asyik, jadi yang digunakan sebagai ‘bola’ adalah kantong plastik berisi air, dan untuk melemparnya para anggota tim harus bersama-sama menggunakan sarung yang dibentangkan. Banyak plastik yang pecah saat dilempar dan akhirnya menyemburkan air ke para peserta. Pada praktiknya banyak hal yang belum diantisipasi panitia seperti batasan bola ‘keluar’ dan kapan skor diperoleh, tapi justru hal inilah yang menambah keseruan. Nah, di akhir acara sambil membagikan hadiah dan cendera mata bagi yang sudah berpartisipasi, diumumkanlah nama-nama anggota panitia tahun berikutnya. Tongkat estafet jatuh ke adik saya, rupanya. PR nih buat bikin acara yang sama mengasyikkannya, kalau perlu lebih seru lagi sekaligus tetap bersahabat untuk semua usia :).

Video dokumentasi ini dikirim oleh mama di Solo yang memperolehnya dari grup keluarga besar, dan terus terang agak tersendat masuk ke ponsel saya. Gadget yang saya pegang memang baru bisa menggunakan jaringan 3G, padahal kalau pakai 4G bisa lebih cepat. Hari gini, harusnya #4GinAja kan ya?

https://m.youtube.com/watch?v=6Lxj5BP4_sk&feature=youtu.be

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Lebaran Seru

GA LEBARAN SERU

 

Lip Tie yang Mengintai

Sekitar lima tahun yang lalu ketika saya menyusui Fathia, tongue tie dan lip tie ini sepertinya belum terlalu popoler dibicarakan di forum-forum ibu menyusui di sini. Belakangan muncul ‘kehebohan’ setelah beberapa bunda posting di media sosial terkait diagnosis tongue tie anaknya disertai foto, lalu banyak di-share, dan ramailah ibu-ibu yang lain ikut mengunggah foto anaknya, menanyakan apakah anaknya ada masalah serupa.

Beberapa orang kemudian mengistilahkannya sebagai semacam ‘epidemi’ baru, karena konon kian banyak tenaga kesehatan yang memberikan diagnosis ini (berikut rekomendasi tindakan bedah untuk mengatasinya).

Muncullah pro dan kontra. Ada yang menganggap kok kondisi ini seperti menjadi kambing hitam dan mudah sekali dilakukan tindakan invasif seperti bedah (walaupun minor), padahal seharusnya bisa diupayakan langkah-langkah lain terlebih dahulu. Sudah bedah pun, belum tentu lancar dan bisa saja nyambung lagi. Yang lain berpendapat tongue tie maupun lip tie tidak boleh diremehkan, tidak ada salahnya waspada dan tindakan jangan sampai ditunda karena efeknya bisa ke pertumbuhan bayi yang terhmbat (karena bayi kesulitan melekat dengan baik jadi ASI yang terambil tidak maksimal dan ibu pun kesakitan).

Ketika seorang dokter anak memposting hal ini pun tanggapan netizen beragam, ada yang memberi testimoni anaknya bisa’ lulus’ tanpa bedah, cukup dengan pemosisian yang pas dan ketelatenan, ada juga yang bilang bersyukur karena anaknya segera mendapatkan tindakan bedah dan selanjutnya memang terasa bedanya, lebih nyaman buat bunda maupun bayinya.

Saya copas dari Detikhealth:

Jakarta, Selain tongue tie, bayi baru lahir juga berisiko mengalami lip tie. Kondisi ini kadang-kadang juga memerlukan tindakan serupa tongue tie seperti frenotomi.

Menurut dr Meta Hanindita, SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, lip tie memiliki empat kelas. Kelas satu, frenulum bibir atas melekat di bagian atas gusi. Kelas dua, frenulum melekat di sebagian besar gusi. Kelas tiga, frenulum melekat di bagian depan papila (jaringan lunak di tepi gusi). Kelas empat, frenulum menempel ke papila memanjang sampai ke bagian dalam gusi.

“Penyebab munculnya lip tie belum bisa dipastikan tapi diperkirakan ada faktor genetik. Lip tie bisa jadi berpengaruh pada proses menyusui, bergantung kelasnya,” ujar dr Meta kepada detikHealth dan ditulis pada Selasa (9/2/2016).

dr Meta menambahkan, lip tie pada kelas berat biasanya harus dilakukan tindakan frenotomi, terutama jika ditemukan ada masalah menyusui setelah dilakukan evaluasi. “Kalau lip tie tidak dilakukan frenotomi, kalau tumbuh gigi bisa jadi ada yang tumbuh renggang. Atau sering juga terjadi kerusakan gigi seri atas karena sisa makanan menumpuk di kantong antara lingual frenulum dan bibir,” imbuhnya.

Baca juga: Infografis: 4 Tipe Tongue Tie pada Bayi

Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengobati lip tie menurut dr Priscilla, SpBP-RE atau dr Priscil dari RS Bunda Jakarta yaitu frenulotomy atau frenotomy atau frenectomy. “Kalau di lidah, untuk tongue tie namanya lingual frenectomy, di bibir jadi labial frenectomy,” tutur dr Priscil.

Berbeda pendapat dengan dr Meta, dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA atau dr Tiwi, dari RS Bunda Jakarta justru menyebutkan bahwa lip tie tidak berpengaruh pada proses menyusui dan biasanya tidak memerlukan tindakan apapun.

Dari pengalamannya menjadi Satgas PP ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Tiwi mengatakan dirinya hampir tak menemukan bayi dengan lip tie yang memiliki masalah dalam menyusui atau memerlukan tindakan khusus.

“Saya pribadi tidak pernah melihat bahwa lip tie punya peran dalam proses menyusui. Pada derajat yang berat mungkin pertumbuhan gigi atas akan lebih rengggang tapi saya rasa itu bukanlah sesuatu yang harus diintervensi segera pada saat bayi. Saya melayani hampir puluhan bayi setiap hari untuk menyusui. Pada tahun 2015 hanya menemukan satu kasus yang benar-benar perlu tindakan,” terang dr Tiwi.

Nah, untuk lebih memastikan apakah anak dengan lip tie membutuhkan tindakan medis atau tidak, sebaiknya orang tua segera memeriksakan anak ke dokter. Nanti akan diperiksa apakah kondisi tersebut mengganggu proses menyusui dan tumbuh kembangnya, atau tidak. Dengan begitu, tindakan medis pun bisa diberikan lebih tepat dan sesuai dengan kondisi anak.

Baca juga: Sulit Menyusu, Bobot Bayi dengan Tongue Tie Derajat Berat Bisa Menurun

http://health.detik.com/read/2016/02/09/201119/3138024/775/bayi-juga-berisiko-mengalami-lip-tie-lho-apa-itu

Continue reading

Aktivitas Menyusui Yang Membuka Cakrawala Baru

Saya kira saya sudah siap dan paham mengenai dunia ASI dan menyusui ketika saya melahirkan anak pertama. Saya sudah bergabung dengan milis ibu menyusui lima tahun sebelum hamil, beberapa teman kantor pun telah menjadi contoh langsung bagi saya tentang bagaimana mengelola ASI perah sebagai ibu bekerja. Buku-buku referensi yang membahas ASI juga telah saya koleksi.

Di usia enam tahun saya bahkan bisa memberi saran pada mama (waktu itu saya baru punya adik) soal mengatasi bayi ‘ngempeng’ tapi tidak aktif menyusu, berkat majalah langganan mama. Lagipula, menyusui adalah hal yang alamiah, bukan?

Ternyata urusan ASI dan menyusui tidaklah sesederhana itu. Bahwa bayi bisa bertahan dengan cadangan makannya dan kalaupun butuh ASI masih sangat sedikit di tiga hari pertama pascapersalinan, itu saya tahu. Pihak rumah sakit tempat saya melahirkan juga alhamdulillah cukup mendukung ASI, termasuk dengan memberikan kelas breast care yang di antaranya mencakup pula praktik posisi menyusui yang tepat.

Ketika putri mungil saya menangis terus di hari-hari pertamanya di rumah akibat tak bisa melekat dengan baik, saya masih bisa menenangkan diri bahwa ‘semua akan berlalu pada waktunya’, sehingga tak berlanjut ke kepanikan akan kecukupan (ketidakcukupan, lebih tepatnya) ASI. Sewaktu tetangga datang menjenguk dan bilang hati-hati kalau pipi bayi terciprat ASI bisa merah-merah karena ASI itu keras, saya menanggapi dengan senyuman karena pernah membaca bahwa itu hanyalah mitos.

Continue reading

Kapan Sebaiknya Mulai Stok ASI?

Kapan sih waktu yang tepat untuk mulai memerah atau memberdayakan pompa ASI setelah melahirkan? Dulu, kalau ada yang nanya di grup ASI yang saya ikuti (dan di grup-grup lain juga) kapan sebaiknya mulai stok ASIP, banyak yang jawab: sesegera mungkin.

Kenapa memangnya the sooner the better? Alasannya banyak, di antaranya:

  • Agar makin banyak stok ASI Perah (ASIP) di kulkas atau freezer yang siap untuk digunakan, supaya enggak deg-degan di awal nanti mulai bekerja lagi. Ibu jadi lebih tenang memasuki dunia kerja kembali
  • Menyediakan ASIP sebagai sarana latihan memberikan ke bayi dengan media pilihan, agar nantinya penyajian ketika ditinggal kerja betulan sudah lancar
  • Membiasakan pakai pompa ASI atau memperlancar teknik perah tangan. Karena memerah ASI itu merupakan keterampilan yang perlu dilatih, kan? Makin sering berlatih biasanya makin luwes dan paham triknya
  • Karena bayi memang memiliki kondisi khusus, ada yang harus terpisah dengan ibu karena perawatan intensif, kelainan anatomi bawaan yang menyulitkan penyusuan langsung, atau kenaikan berat badan bayi kurang sehingga dianggap perlu intervensi berupa suplementasi atau top up dari ASI perah ibu sendiri yang diberikan dengan media lain di sela-sela waktu menyusu
  • Penasaran dan akhirnya ingin mengecek, sebetulnya betul nggak sih ASI-nya sedikit? Kok bayi nangis melulu, dan orang-orang mulai berkomentar, “Gara-gara ASI-nya kurang, tuh…”
  • Berjaga-jaga siapa tahu ibu ada perlu mendadak keluar, misalnya mengurus urusan administrasi yang tidak memungkinkan untuk bawa bayi dan tidak bisa diwakilkan
  • Karena ibu merasa payudara bengkak di sela-sela jam menyusui, dan bayi belum kelihatan lapar lagi atau sulit dibangunkan, sayang kalau dibiarkan saja sampai sakit dan rembes.

Nah, ternyata jawaban ‘lebih awal lebih baik’ untuk menimbun ASIP ini tidak pas.

Membaca postingan di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang nanti saya kutip di bagian bawah tulisan bikin saya senyum-senyum sendiri (senyum kesentil maksudnya) mengingat saya pun sudah mulai memerah ASI sejak hari-hari awal pasca-melahirkan. Padahal tidak ada indikasi yang bikin saya harus memompa.

Setelah melahirkan Fathia, saya memerah ASI karena Fathia kesulitan melekat dengan baik. Jadi ASIP saya perah untuk kemudian disuapkan dengan sendok. Pendekatan yang salah tentunya, karena seharusnya saya lebih fokus pada upaya mencari posisi yang pas dan kontak kulit sebanyak mungkin agar proses menyusui secara langsung lebih lancar.

Continue reading

Demi Oleh-oleh ASIP untuk Anak Tercinta

Tema besar World Breastfeeding Week alias Pekan ASI Dunia tahun lalu adalah “Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work!“. Kenapa sampai ditekankan soal ibu bekerja? Karena menyusui dengan status sebagai ibu bekerja, lebih khususnya bekerja di luar rumah, punya tantangan khasnya sendiri. Dari soal mengatur waktu memerah (harus rutin, kan, kalau tidak produksi ASI terancam dihambat karena payudara dibiarkan penuh terlalu lama),  mencari tempat memerah yang nyaman (tidak semua kantor menyediakan tempat khusus pumping, belum lagi kalau ada tugas lapangan), pandangan heran teman sekerja (ada teman di dunia maya yang katanya dijuluki tukang es karena bawaan cooler bag dkk-nya), bawaan sehari-hari yang nambah (minimal banget botol ASIP dan es pendingin, kalau memerah dengan tangan), melatih anak (sebetulnya lebih ke melatih pengasuhnya, biasanya :D) minum ASIP dengan media yang tepat, sampai ini nih…gimana kalau mendadak jadi harus meninggalkan bayi beberapa hari untuk urusan pekerjaan?

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas (kalau kerepotan mengatur jadwal pumping di ruangan yang disediakan kantor sih iya, hehehe…takut aja diprotes kok loketnya suka kosong, padahal sudah ada aturan pelindungnya ya). Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget. Walaupun sebetulnya kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan.

Continue reading

Ketika Harus Berpisah dengan Calon Buah Hati

Status seorang teman membuat saya tersentak beberapa pekan yang lalu. Beliau mengalami keguguran di kehamilannya yang keempat.

Dulu, ketika tinggal di satu kota, kami sedang dalam kondisi sama-sama hamil setelah sebelumnya keguguran. Alhamdulillah kehamilan kami waktu itu berjalan lancar hingga saya melahirkan anak pertama dan beliau melahirkan anak kedua. Kebetulan keguguran yang saya alami juga terjadi di bulan Agustus, tepatnya awal Agustus 2010, di usia kandungan 9 minggu. Itu kehamilan saya yang pertama setelah empat tahun menikah.

Dari dulu sampai sekarang, tiap mendengar kabar keguguran pastilah jadi banyak dugaan penyebab yang dilontarkan orang-orang di sekitar. Dalam kasus teman di atas, beberapa kawan kami menerka bahwa kesibukan beliaulah yang memberi pengaruh, atau dengan kata lain kecapekan karena aktivitas.

Saya sendiri sempat mengira kehamilan saya tidak berlanjut karena kelelahan, mengingat sebelum sadar kalau hamil saya memang menjalani tugas dinas ke luar pulau, sempat jalan kaki keliling lumayan jauh pula. Tapi, dokter kandungan saya menyatakan bukan itu penyebabnya, melainkan diduga merupakan semacam mekanisme alami karena hasil pembuahan yang memang kurang baik sejak awal. Lupa sih waktu itu tergolong kematian mudigah (death conceptus/kematian embrio, ketika sudah pernah terdeteksi detak jantung janin, umumnya mulai usia kandungan 7 minggu) atau bukan, dokternya tidak menyebutkan diagnosis tersebut.

miscarriage

(gambar dari 123rf)

Jadi, secara ilmiah, apa sih yang sebetulnya menyebabkan terjadinya keguguran? Berikut saya terjemahkan dari March of Dimes, salah satu situs mengenai kehamilan dan kandungan tepercaya:

Keguguran adalah suatu kondisi di mana bayi meninggal di dalam rahim sebelum usia kandungan 20 pekan.

Penyebab keguguran belum semuanya diketahui. Beberapa kemungkinan meliputi:

  1. Masalah kromosom, yang menjadi penyebab lebih dari setengah keguguran pada trimester pertama. Masalah kromosom ini terjadi jika sel telur atau sperma memiliki terlalu banyak kromosom sehingga ketika dipasangkan jumlahnya ‘salah’ dan inilah yang dapat memicu keguguran.
  2. Kehamilan kosong/blighted ovum, jadi telur yang telah dibuahi melekat di rahim tetapi tidak berkembang menjadi embrio. Penyebabnya bisa karena masalah kromosom juga. Umumnya akan ada gejala pendarahan dengan warna coklat tua.
  3. Merokok, mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan.
  4. Kondisi kesehatan ibu. Terdapat beberapa masalah kesehatan yang meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, misalnya masalah hormon, infeksi, diabetes, penyakit tiroid, lupus dan penyakit autoimun lainnya. Terkadang penanganan yang baik sejak sebelum hamil dapat membantu menolong agar kehamilan bisa berjalan dengan sehat dan lancar.
  5. Ada beberapa studi yang menyatakan bahwa terlalu banyak kafein (biasa terdapat dalam kopi, teh, coklat, minuman bersoda, obat-obatan tertentu) dapat mengakibatkan keguguran, tapi penelitian-penelitian yang lain tidak sependapat. Amannya, batasi konsumsi kafein maksimal 200mg/hari saat sedang hamil.
Untuk kasus keguguran berulang, beberapa penyebab yang sudah diketahui adalah:
  1. Masalah pada rahim maupun leher rahim (serviks), misalnya bentuk rahim yang abnormal (sebagian bisa diatasi melalui operasi), fibroid maupun luka operasi pada rahim, inkompetensi leher rahim (mulut rahim lemah dan terbuka terlalu awal, biasanya pada trimester kedua dan dapat dicegah dengan semacam jahitan keliling/cerclage).
  2. Masalah kromosom, sama dengan di atas, tetapi kalau sampai berulang maka baiknya ayah maupun ibu menjalani tes karyotype.
  3. Sindrom antifosfolipid, suatu kondisi sistem kekebalan tubuh yang meningkatkan risiko penggumpalan darah di plasenta. Treatmnet-nya biasanya dengan aspirin dosis rendah dan obat-obatan pengencer darah.
  4. Masalah hormon, misalnya hormon progesteron yang rendah atau bisa juga PCOS (polycystic ovary syndrome) yaitu kista (kantong berisi udara, cairan, atau benda lain yang semi-padat) pada indung telur/ovarium.
  5. Thrombophilias, suatu kondisi penggumpalan darah yang sifatnya menurun.
  6. Infeksi khususnya yang menyerang organ reproduksi seperti ovarium, rahim, maupun leher rahim.
  7. Bahan kimia berbahaya, misalnya jika salah satu dari orangtua sehari-hari karena pekerjaan bersinggungan dengan zat kimia, termasuk pengencer cat.

Sedangkan situs Medscape menyebutkan etiologi keguguran di antaranya sebagai berikut:

  1. Abnormalitas genetik dalam embrio (misalnya terkait kromosom)
  2. Usia ibu maupun ayah yang lanjut.
  3. Abnormalitas struktural pada saluran reproduksi termasuk kelainan bawaan pada rahim, fibroid, inkompetensi serviks.
  4. Defisiensi korpus luteum (massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya–wiki).
  5. Infeksi aktif misalnya virus rubella, cytomegalovirus, listeria, toksoplasma, malaria, brucellosis (infeksi yang disebabkan bakteri yang berasal dari hewan –biasanya hewan ternak– ke manusia), HIV, demam dengue, influenza, dan infeksi bakteri pada vagina.
  6. PCOS.
  7. Diabetes mellitus yang tidak dikendalikan dengan baik.
  8. Penyakit ginjal.
  9. Systemic lupus erythematosus (SLE)
  10. Penyakit tiroid yang tidak ditangani.
  11. Hipertensi/tekanan darah tinggi yang parah
  12. Sindrom antifosfolipid.
  13. Konsumsi tembakau, alkohol, kafein dosis tinggi.
  14. Stres.
  15. Obat-obatan tertentu.
  16. Obesitas/kegemukan (indeks massa tubuh/BMI di atas 30).

Berapa lama harus menunggu sebelum boleh usaha lagi untuk kehamilan berikutnya pasca keguguran? Dokter kandungan saya dulu menyarankan tunggu 3 kali siklus menstruasi normal, jadi selama masa itu diusahakan tidak ada pertemuan sel telur dengan sperma (menggunakan alat kontrasepsi). Kompilasi beberapa penelitian yang dikutip oleh WebMD malah mengindikasikan bahwa kehamilan dalam 6 bulan pertama setelah keguguran cenderung lebih baik kondisinya (risiko komplikasi lebih kecil, tentunya ini kondisi pada umumnya ya), meskipun WHO dalam guideline-nya mencantumkan 6 bulan merupakan jarak minimal.

March of Dimes menyatakan sekali siklus normal biasanya sudah menandakan tubuh siap untuk hamil lagi sedangkan bagian lain dari WebMD menyebutkan 1-3 siklus haid, tetapi kedua situs tersebut juga mengingatkan bahwa keguguran juga punya efek emosional yang biasanya perlu waktu untuk pemulihan sehingga sisi psikologis ini juga harus dipertimbangkan. Termasuk menggarisbawahi agar ibu tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas kejadian tersebut.

Ya, keguguran memang bukan cuma perkara tubuh yang mengalami perubahan dan butuh penanganan, melainkan juga bisa jadi topik sensitif. Suami istri baiknya saling mendukung (bisa juga mencari pertolongan dari supporting group atau ahlinya), termasuk dalam menyaring informasi dan masukan dari pihak luar yang bermaksud baik tetapi terkadang penyampaiannya kurang pas.

Oh ya, sekalian, saya sertakan tulisan mengenai hukum darah yang keluar pada saat/setelah keguguran. Apakah dihukumi darah nifas atau darah penyakit? Sholatnya bagaimana?

Saya sendiri dulu mengalami pendarahan sehari sebelum hingga sehari setelah kuret (bahasa sononya D & C atau dilation and curettage) dilaksanakan, kemudian sempat berdarah lagi ketika kembali bekerja lima hari kemudian. Saya kutip kesimpulan dari situs dr. Raehanul Bahraen, lebih afdol sih baca sendiri lengkapnya di sana ya supaya paham keseluruhan dalilnya.

-yang menjadi patokan adalah sudah terbentuk rupa janin atau tidak (misalnya yang keguguran keluar ada bentuk tangan dan kaki, jika sudah terbentuk maka dianggap nifas, jika tidak maka dianggap darah biasa, wanita tersebut suci (tetap shalat, puasa dan hala bagi suaminya berhubungan dengannya).

-jika terjadi keguguran masih di bawah 80 hari, maka bukan darah nifas, wanita tersebut masih suci.

-jika telah di atas 80 hari perlu dipastikan apakah sudah terbentuk rupa fisik manusia tidak, misalnya bertanya kepada dokter terpercaya.

-jika di atas 90 hari (3 bulan) maka dihukumi dengan darah nifas.

Tentang Jentik Nyamuk, Denda, dan Fogging

Sebuah spanduk menarik perhatian saya saat sedang mampir jajan sepulang kantor.

img-20160813-wa0000.jpg

Wah. Saya baru tahu. Serem juga yak, sanksinya :D. Kalau ada jentik nyamuk ditemukan di rumah kita, kita bisa kena denda s.d. 50 juta!

Seperti biasa, saya tanya paman Google dan menemukan jawaban bahwa memang ada Perda Provinsi DKI Jakarta No. 6 Tahun 2007 tentang Pengendalian Penyakit DBD. Pada pasal 21, disebutkan bahwa:

Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan pada tempat tinggalnya ditemukan ada jentik nyamuk Aedes aegypti atau jentik nyamuk Aedes albopictus dikenakan sanksi sebagai berikut:
a. Teguran tertulis;
b. teguran tertulis diikuti pemberitahuan kepada Masyarakat melalui penempelan stiker di pintu rumah;
c. denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah) atau pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan.

Saya coba cari peraturan yang lebih baru tapi belum nemu, jadi masih pakai yang di atas ya berarti. Ada juga Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 21 tahun 2016 tanggal 17 Februari 2016 tentang Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang di antaranya mencantumkan juga aneka tanaman yang dapat menjadi alternatif pengusir nyamuk.

tanaman nyamuk 1tanaman nyamuk 2tanaman nyamuk 3tanaman nyamuk 4

Pemprov DKI memang tidak main-main soal upaya pencegahan demam dengue ini (soal beda demam dengue dan demam berdarah dengue bisa lihat postingan yang ini ya). Beberapa berita saya kutip dari http://jakarta.go.id sbb:

“Saat pemberantasan sarang nyamuk (PSN) saya akan datangi sekolah-sekolah. Kalau ketika PSN saya menemukan jentik nyamuk, dia sudah melanggar pakta integritas Perda Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Pengendalian Demam Berdarah Dengue,” ujar Edy Suherman, Camat Kebayoran Baru, Selasa (23/2).

Menurut Edy, jika ditemukan jentik, pertama akan ada surat teguran kepada pihak sekolah. Namun setelah diberikan waktu pembersihan masih ditemukan, sekolah tersebut akan ditempel stiker yang menginformasikan bahwa ada jentik nyamuk di lingkungannya.

“Saya akan pasang stiker di sekolah itu dan akan saya ekspos bahwa di sekolah tersebut terdapat jentik nyamuk. Buat sekolah-sekolah yang kita tidak temukan jentik nyamuk kita berikan stiker bebas jentik nyamuk,” tandasnya.

http://www.jakarta.go.id/v2/news/2016/02/ditemukan-jentik-nyamuk-sekolah-dapat-sanksi-sosial#.V6wxwxJ35dY

“Nyamuk DBD ini hanya menggigit pada jam 9 sampai jam 1 siang berarti bisa disimpulkan bahwa sasarannya adalah anak sekolah. Oleh karena itulah, kepala sekolah dan unsur lainnya harus giat mengecek jentik nyamuk di lingkungan sekolah,” jelas Ahok dihadapan ratusan peserta apel gerakan PSN yang terdiri dari siswa, guru, kepala sekolah, kader jumantik, anggota PPSU dan lain-lain.

http://utara.jakarta.go.id/srv4/detail/Gubernur-DKI-Jakarta-Monitoring-Gerakan-PSN

Wilayah yang masih kedapatan jentik nyamuk dan masyarakat yang terjangkit, perangkat pemerintahnya termasuk Camat, Lurah dan para Kepala Bagian terancam  kehilangan TKD (tunjangan kinerja daerah) selama satu bulan serta pemutasian Kepala Sekolah dan para guru di sekolah-sekolah yang kedapatan jentik. Sementara itu Walikota juga menyampaikan ancaman pencabutan satu bulan TKD kepada UKPD yang terlambat dalam memberikan gaji kepada para petugas PPSU.

http://selatan.jakarta.go.id/news/2016/02/tkd-hilang-sebulan-karena-jentik-nyamuk

Ngomong-ngomong pengendalian nyamuk, jadi ingat beberapa bulan yang lalu ketika fogging sedang gencar dilaksanakan. Efektifkah? Beberapa tulisan berikut mungkin bisa menjawab.

Agar terbebas dari penyakit demam berdarah dengue, sejumlah orang kerap melakukan fogging. Kegiatan ini pun dijadikan agenda rutin setiap bulan di lingkungan. Sayangnya, fogging tidaklah efektif.

Menurut ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor dr Saleha Sungkar, SpPar(K) fogging tidak bisa diandalkan untuk menghilangkan nyamuk aedes aegypti dan virus zika. Pasalnya, nyamuk tersebut memiliki pola hidup yang berbeda dari nyamuk lainnya.

“Aedes aegypti sangat suka bau manusia. Di mana yang ada bau paling keras? Ya di kamar tidur, di lemari, di pakaian yang menggantung. Ketika ada upaya fogging di jalanan atau di got nyamuk Aedes yang di kolong tempat tidur nggak mati. Oleh karena itu fogging sampai sekarang tidak pernah berhasil memberantas aedes aegypti,” papar Saleha saat panel diskusi Zika di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Rabu (17/2/2016).

Saleha menjelaskan, selama 25 tahun fogging dilakukan di negara ASEAN sebagai bentuk kontrol penyakit demam berdarah dengue. Namun, angka kejadian penyakit tersebut terus meningkat.

Fogging membuat rasa aman yang palsu, orang senang aja karena sudah disemprot nggak ada nyamuk padahal yang mati nyamuk Culex, nyamuk got, Aedes aegypti-nya masih ada,” kata dia.

Sementara, cara yang paling efektif untuk memberantas nyamuk adalah dengan cara rutin menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air atau mengubur kaleng bekas. “Kalau menutup nggak rapat dia bisa masuk malah jadi merasa terlindung. Kalau mengubur lahan di Jakarta udah sempit,” ujar dia.

(alv)

sumber: http://lifestyle.sindonews.com/read/1086119/155/fogging-tak-efektif-basmi-nyamuk-1455714832

Bila ada kasus seseorang kena Demam Berdarah Dengue di lingkungan, hal yang sering dituntut oleh masyarakat adalah untuk segera melakukan fogging. Alasannya mungkin karena lebih praktis daripada harus bersih-bersih rumah memberantas sarang nyamuk.

Padahal menurut ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor dr Saleha Sungkar, SpPar(K), fogging adalah cara yang tak efektif untuk memberantas nyamuk penyebar Demam Berdarah Dengue dan juga virus Zika: Aedes aegypti. Nyamuk A.aegypti adalah jenis nyamuk yang telah mengembangkan ‘rasa’ terhadap manusia dan pola hidupnya berbeda dari nyamuk lain.

Sebagai contoh bahkan ketika dibandingkan dengan nyamuk kerabatnya Aedes albopictus, A.aegypti lebih berhati-hati. A.aegypti akan memilih tempat yang kuat bau manusianya di dalam rumah sebagai tempat istirahat sementara A.albopictus istirahatnya di semak-semak.

“Aedes aegypti sangat suka bau manusia. Di mana yang ada bau paling keras? Ya di kamar tidur, di lemari, di pakaian yang menggantung. Ketika ada upaya fogging di jalanan atau di got nyamuk Aedes yang di kolong tempat tidur enggak mati. Oleh karena itu fogging sampai sekarang tidak pernah berhasil memberantas Aedes aegypti,” kata dr Saleha ditemui di FKUI, Salemba, Jakarta, Rabu (17/2/2016).

Baca juga: Saktinya Para Nyamuk, Puluhan Tahun Dibasmi Tapi Tidak Punah-punah

“Fogging sudah 25 tahun dilakukan sebagai kontrol Dengue di negara-negara ASEAN tapi angka kejadiannya tetap meningkat. Fogging membuat rasa aman yang palsu, orang senang aja karena sudah disemprot enggak ada nyamuk padahal yang mati nyamuk Culex, nyamuk got, Aedes aegypti-nya masih ada,” lanjutnya.

dr Saleha mengatakan saat ini cara yang paling efektif untuk memberantas nyamuk adalah dengan rutin menguras tempat penampungan air. Saran lain untuk menutup tempat penampungan air atau mengubur kaleng bekas misalnya bisa juga dilakukan namun harus benar.

“Kalau menutup enggak rapat dia bisa masuk malah jadi merasa terlindung. Kalau mengubur lahan di Jakarta udah sempit,” ucap dr Saleha.(fds/up)

sumber: http://health.detik.com/read/2016/02/17/132757/3144280/763/ini-alasan-mengapa-fogging-tak-pernah-berhasil-basmi-nyamuk

KOMPAS.com – Akibat wabah DBD, hampir seluruh wilayah di negara kita melakukan pengasapan atau fogging. Fogging berguna untuk memutus rantai pertama risiko penularan DBD dan penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk.

Kata kuncinya di sini adalah; memutus rantai pertama. Artinya, fogging hanya solusi sementara, bukan solusi jangka panjang untuk menghentikan wabah. Berikut ini alasan mengapa fogging tidak terlaksana dengan efektif dan tidak bisa dianggap sebagai solusi jangka panjang.
1. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa
Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, mengurangi populasinya dan ini hanya bersifat sementara. Larva nyamuk tidak terpengaruh oleh fogging dan hanya butuh beberapa hari bagi mereka untuk menetas menggantikan senior-seniornya yang mati terbunuh.

2. Fogging tidak membunuh larva nyamuk
Fogging bukan jawaban jika Anda ingin mengenyahkan larva nyamuk. Satu-satunya cara untuk membasmi larva itu adalah dengan tidak membiarkan ada air tergenang. Jika ada wadah berisi air yang tidak mungkin dikeringkan, menaburkan bubuk abate bisa membantu membunuh larva.

3. Anda tidak di rumah saat ada fogging
Nyamuk mencari makan bukan hanya di luar rumah, tapi juga di dalam rumah. Karena itu, sebaiknya fogging juga dilakukan di dalam rumah. Ini berarti, Anda harus berada di rumah untuk membukakan pintu bagi petugas fogging.

4. Anda tidak membiarkan petugas masuk rumah
Ada berbagai alasan mengapa orang tidak suka ada orang asing masuk ke dalam rumahnya. Salah satu alasannya adalah kekhawatiran terjadinya pencurian. Untuk mengantisipasi hal ini, sebaiknya petugas fogging didatangkan dari institusi kesehatan pemerintah, memakai seragam dan tanda pengenal. Atau, petugas fogging melakukan tugasnya dengan disertai pengurus warga setempat sebagai penanggungjawab pelaksanaan fogging.

Ada baiknya juga jika beberapa hari sebelum fogging, pemerintah atau pengurus warga membuat pengumuman. Pengumuman ini berguna supaya warga dapat mempersiapkan diri dan mengamankan barang-barang berharga ketika rumahnya dimasuki orang asing.

5. Anda takut fogging bisa membunuh Anda atau hewan piaraan Anda
Konsentrasi pestisida yang digunakan untuk fogging cukup kuat untuk membunuh nyamuk, tapi tidak akan kuat membunuh kelinci, kucing atau hewan peliharaan lainnya, termasuk tidak akan membunuh Anda. Senyawa kimia yang digunakan untuk fogging juga bersifat cepat terurai oleh udara bebas dan sinar matahari. Selain itu, dengan kadar yang tepat, bahan kimia yang digunakan tidak bersifat akumulasi dan tidak menyebabkan keracunan.

6. Perawatan mesin fogging menghabiskan banyak biaya
Ada beberapa wilayah yang memiliki mesin fogging dan melaksanakan program fogging secara mandiri. Anggapan bahwa perawatan mesin fogging adalah pemborosan, dapat membuat warga malas mendukung program fogging. Seperti mesin mobil, mesin fogging juga perlu dirawat dan dibersihkan agar berumur panjang. Mulut pipa mesin fogging harus rajin dibersihkan dari kotoran yang menempel. Kotoran yang menyumbat pipa tidak hanya membuat mesin cepat rusak, tapi juga menimbulkan asap tebal yang memicu batuk dan tidak efektif dalam membunuh nyamuk.

7. Kekurangan petugas, peralatan dan area yang perlu ditangani terlalu luas
Fogging bukan cuma kegiatan menyemburkan asap pestisida. Fogging memerlukan teknik yang benar supaya efektif membunuh sebanyak-banyaknya nyamuk. Selain dosis dan jenis bahan kimia harus tepat, petugas fogging juga harus menguasai teknik ayunan, kecepatan gerak, membaca arah angin dan lain sebagainya. Kurangnya keterampilan dan jumlah petugas, alat dan area yang terlalu luas, membuat program fogging menjadi tidak efektif.

Kesimpulan
Fogging jika dilakukan dengan benar, akan efektif untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di tahap awal. Tahap selanjutnya perlu melibatkan seluruh anggota masyarakat.

Tak perlu alat yang canggih, cukup jaga kebersihan rumah dan lingkungan, singkirkan sampah yang berpotensi menjadi tempat genangan air, gunakan losion antinyamuk, kuras dan tutup tempat penampungan air, pastikan saluran air berjalan lancar tidak tertutup oleh sampah. Lakukan ini setiap hari, bukan cuma saat ada wabah saja.

sumber: http://health.kompas.com/read/2016/02/23/091900623/7.Sebab.Fogging.Tidak.Efektif.Menghentikan.Wabah.DBD

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jambi menilai tindakan fogging atau pengasapan yang dilakukan untuk pemusnahan nyamuk yang menjadi sumber penyakit malaria dan dan demam berdarah di musim hujan saat ini sangatlah tidak efektif.

“Memang salah satu cara yang paling populer yang dilakukan adalah fogging atau pengasapan di kampung-kampung, dan sekolah-sekolah. Tapi cara ini sangat tidak efektif untuk memusnahkan atau menghilangkan tingkat risiko serangan nyamuk,” kata Sekretaris IDI Jambi, dr Emil di Jambi, Senin.

Hal tersebut disampaikannya saat melakukan penyuluhan pencegahan penyakit-penyakit menular ke sekolah-sekolah di kecamatan Jambi Timur belakangan ini.

Menurut dia, cara fogging atau pengasapan terhadap kampung-kampung, sekolah-sekolah dan pasar-pasar bila dilakukan dengan maksud membangun citra sehubungan dengan pencalonan dirinya sebagai kepala daerah menjelang musim Pilkada, justru bisa berdampak negatif.

“Pasalnya dari penelitian yang dilakukan Dinkes dan IDI dari tindakan fogging yang dilakukan hanya 40 persen nyamuk saja yang mati, sementara 40 persen lainnya hanya mengalami pelemahan sementara dan 20 persen lagi justru selamat dan dapat meneruskan hidup serta perkembangkan biaknya,” ujar Emil.

Dikatakannya, yang lebih mencemaskan adalah nyamuk-nyamuk yang selamat dari tindakan fogging tersebut itu adalah nyamuk-nyamuk dengan genetik yang kuat dan tahan, sehingga pada perkembangbiakan berikutnya nyamuk-nyamuk kuat ini akan menurunkan genetis nyamuk-nyamuk yang tahan terhadap fogging.

Sehingga akhirnya tindakan serupa di masa-masa berikutnya tidak akan berdampak meninggalkan efek atau dampak apa-apalagi pada keturunan mereka, karena yang tersisa adalah induk-induk terpilih.

“Selain itu, ketidakefektifan fogging juga dikarenakan tindakan ini hanya akan mengenai induk-induk atau nyamuk-nyamuk dewasa, sementara telur dan jentik-jentiknya yang tersimpan di genangan air justru akan selamat semuanya untuk selanjutnya dalam beberapa hari sudah tumbuh menjadi nyamuk dewasa pula,” ujarnya.

Dia mengingatkan, tindakan pemusnahan yang dilakukan sesungguhnya paling ideal adalah memusnahkan jentik-jentik dan sarang-sarang nyamuk berupa genangan air dengan cara 3M atau menebarkan bubuk abate ke dalam tempat penampungan air keluarga.

“Dari penelitian kami, cara penebaran bubuk pemusnah bibit nyamuk digenangan air ini terbukti sangat ampuh, 100 persen jentik dan telur nyamuk yang ada di wadah air tersebut didapati jadi mati semua. Perlu diketahui satu nyamuk betina bisa bertelur 2000 butir, dengan tindakan ini kesemua telur dan jentik nyamuk itu mati semua,” kata dia.

Lebih jauh, dr Emil mengkritik apa yang dilakukan para tokoh politik yang mencari atau membangun citra melalui tindakan-tindakan kesehatan massyarakat tersebut.

“Wajar fogging dipilih, karena sangat efektif untuk membangun pencitraan diri meski sangat tidak efektif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sesungguhnya. Pasalnya dengan fogging yang bisa menelan biaya belasan hingga puluhan juta sekali aksi itu, keberadaan sang tokoh jadi langsung diketahui masyarakat. Ini sungguh sangat tidak sehat,” tegasnya.

sumber: http://www.tribunnews.com/kesehatan/2012/12/12/fogging-tak-efektif-malah-justru-lahirkan-nyamuk-nyamuk-kebal

Demam Lebih dari 3 Hari, Wajibkah Cek Darah?

Beberapa waktu yang lalu, dr. Apin posting tentang tes lab yang seringkali dilakukan oleh para orangtua ketika buah hatinya sudah beberapa hari demam (nanti akan saya kutip di bawah). Yang saya baca sih, beberapa orangtua sudah tahu bahwa ada batasan tiga hari atau 72 jam untuk cek darah ketika ada yang demam, karena kalau sebelum itu maka penyakit seperti demam dengue (lazimnya disebut sebagai demam berdarah) belum terdeteksi keberadaannya. Karena belum terdeteksi, akhirnya malah bisa berujung hasil negatif palsu alias dianggap bukan padahal iya, baru terlihat setelah fase tertentu.

Saya pun pernah ke puskesmas dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan tanpa batuk pilek, oleh dokter di sana saya tetap tidak disarankan cek lab karena menurutnya tidak akan kelihatan juga di hari kedua. Tentu kalau ada tanda kegawatdaruratan seperti tanda awal dehidrasi, sesak napas, kehilangan kesadaran/tidak respon, harus dibawa ke IGD segera ya (dan bukan ke lab dulu). Tapi benarkah kalau sudah lebih dari 3 hari memang sudah harus cek lab?

Lebih lanjut, apakah cek lab itu melulu hanya cek darah? Bagaimana dengan tes pipis atau urin? Tes ini juga sudah sering disarankan di beberapa grup kesehatan anak, tetapi sepertinya tidak terlalu sering dijadikan prosedur. Setidaknya, jarang ada teman yang cerita anaknya demam lalu bilang diminta tes urin. Hampir selalu pada cerita tes darah. Tapi pernah seorang sahabat, setelah diskusi dengan teman-teman grup, menyampaikan pandangan ke dokter apakah mungkin perlu cek urin alih-alih tes darah yang awalnya diminta. Ketika itu anaknya demam beberapa hari tanpa batpil. Permintaan itu dikabulkan dan ternyata memang bayinya terkena infeksi saluran kemih (ISK).

Kalau pengalaman saya pribadi, karena dokter keluarga kami cukup mudah dihubungi untuk konsultasi dan saya sudah sering mengikuti sesi sharing beliau beserta kawan-kawannya (termasuk dr. Arifianto ‘Apin’, Sp.A.), juga alhamdulillah atas izin Allah tidak pernah sampai pada tahap gawat, saya belum pernah sampai cek lab untuk memastikan penyakit anak-anak. Kalaupun cek lab, biasanya malah (disarankan) bukan dalam keadaan demam, yaitu untuk screening zat besi. Tapi paham juga sih kalau orangtua pastinya ingin yang terbaik, makin cepat diketahui penyebab demamnya kan bisa makin cepat juga ditangani dengan tepat dan harapannya lekas sembuh, anak merasa nyaman kembali.

Di sisi lain, beberapa dokter yang aktif mengedukasi masyarakat juga mengingatkan, cek lab itu juga berisiko, baik risiko trauma pada anak, risiko tertular penyakit dari pasien lain di tempat periksa, risiko biaya (kalau menurut pengobatan rasional menurut WHO kan ada juga prinsip tepat biaya, artinya kalau tidak perlu kan sayang juga uangnya–meskipun orangtua pastinya nggak akan merasa sayang keluar uang untuk kesehatan keluarga), sampai risiko ‘mengobati hasil lab’ padahal seharusnya yang diobati adalah sesuai klinis pasiennya bukan hanya bagaimana agar angka di lembar hasil berubah.

Berikut tulisan dr. Apin selengkapnya:

Wednesday, December 09, 2015
Demam lebih dari 3 hari harus diperiksakan ke laboratorium?

Topik ini sepertinya sudah lebih dari sekali saya bahas, dalam thread yang berbeda. Tapi tak apalah, karena masih banyak yang bingung juga. Demam yang didefinisikan sebagai suhu tubuh lebih dari 38 derajat selsius, adalah salah satu penyebab tersering orangtua membawa anaknya ke dokter. Makanya dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebutkan istilah “fever phobia”.

Nah, lalu bagaimana dengan demam yang cenderung suhunya berkisar di atas 39 derajat selsius dan tidak disertai gejala penyerta lain? Tidak ada batuk, pilek, atau diare. Ya, kalau sejak awal demam disertai batuk dan pilek, kita sudah dapat memperkirakan penyakitnya adalah selesma (common cold) dan seharusnya tidak ada kekhawatiran lebih lanjut (ingat, selama tidak disertai tanda kegawatan ya!). Lalu bagaimana dengan demam yang tidak jelas diagnosisnya ini? Perlukah dibawa segera ke dokter? Kapan? Apakah patokannya “tepat 3 hari” alias 72 jam? Dan haruskah segera diperiksakan laboratorium?

Demam dengan suhu > 39 derajat selsius tanpa gejala penyerta yang jelas, berlangsung kurang dari 7 hari, dan terjadi pada anak berusia 3 – 36 bulan disebut juga dengan fever without source (FWS). Ada juga yang menyebutnya fever without focus atau fever with uncertain source. Umumnya bisa dibagi 2, yaitu anak tampak sakit (cenderung lemah/lesu sepanjang waktu) dan masih relatif aktif (ketika demam anak tampak lemas/rewel, tetapi ketika suhu turun anak kembali aktif bermain/beraktivitas).

Kondisi pertama tentunya mengharuskan segera ke dokter. Tidak perlu memikirkan dulu perlu/tidaknya pemeriksaan laboratorium, tetapi segera bawa ke dokter untuk memastikan kemungkinan diagnosisnya. Kondisi kedua membuat orangtua seharusnya lebih tenang dalam mengobservasi kondisi anaknya dalam 3 hari, atau bahkan lebih. Hal terpenting yang harus diperhatikan orangtua adalah: pastikan anak tidak dehidrasi atau kekurangan cairan. Ya, peningkatan suhu tubuh meningkatkan risiko penguapan dan terbuangnya cairan tubuh. Makanya semua anak yang demam harus banyak minum. Pastikan anak tidak dehidrasi.

Bukankah makin tinggi suhu meningkatkan risiko kejang demam? Sudah berkali-kali dibahas, jawabannya adalah: tidak. Dehidrasi justru lebih dikhawatirkan dibandingkan kejang pada anak yang demam.

Lalu makin tinggi suhu bukankah menggambarkan makin beratnya penyakit? Lagi-lagi ini sudah pernah dibahas: jawabannya adalah tidak. Bisa saja demamnya tidak terlalu tinggi tetapi anaknya sakit pneumonia atau meningitis yang mengancam jiwa. Sebaliknya, sangat mungkin demamnya tinggi, tapi sakitnya hanya selesma saja.

Apa yang dikhawatirkan dari kondisi pertama (anak yang cenderung lemah sepanjang hari)?

Bagaimanapun juga, penyebab tersering demam pada anak adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya. Tentunya antibiotik sama sekali tidak diperlukan pada infeksi virus.

Pada kondisi pertama, beberapa diagnosis penyakit yang paling dikhawatirkan adalah meningitis (radang selaput otak) dan pneumonia (radang akibat infeksi di jaringan paru). Makanya orangtua harus paham benar apa saja kondisi gawat darurat pada anak. Pada meningitis, terdapat tanda-tanda kekakuan tubuh (iritasi selaput otak), penurunan kesadaran, sampai kejang dan kematian. Sedangkan pada pneumonia, anak terlihat sesak napas, bisa dinilai dari gerakan dinding dada dan napas cuping hidungnya. Segera bawa anak ke dokter.

Kondisi kedua adalah keadaan yang paling sering terjadi, yaitu sakitnya sebenarnya “ringan saja” dan tidak potensial mengancam nyawa. Perlukah anak dibawa ke dokter pada FWS? Ya, untuk memastikan apakah diagnosisnya saat itu.
Kalaupun dokter belum bisa memastikan diagnosis pastinya, maka sebut saja FWS.

Apakah pemeriksaan laboratorium perlu dikerjakan pada FWS yang sudah lebih dari 3 hari? Sebenarnya dokte lah yang menentukan perlu tidaknya. Satu hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah: jangan melulu pemeriksaan darah yang harus dikerjakan.

Pemeriksaan air seni alias urinalisis adalah pemeriksaan wajib pada anak FWS. Mengapa? Banyak FWS yang ternyata diagnosisnya adalah infeksi saluran kemih alias ISK. Padahal gejalanya hanya demam saja, dan ditemukan banyak kuman (bakteri) di pemeriksaan urinalisis. Diagnosis ISK jelas adalah infeksi bakteri yang obatnya adalah antibiotik (diberikan setelah sampel untuk kultur urin diperiksa).

Di sini lagi-lagi saya tegaskan bahwa pemeriksaan urin sangatlah penting dan seharusnya rutin dikerjakan. Pemeriksaan ini sama sekali tidak menyakitkan. Bandingkan saja dengan anak yang ditusuk jarum untuk pemeriksaan laboratorium darah.

Apa saja kira-kira penyakit yang sering terjadi pada FWS?

Penyebabnya sangat bervariasi. Yang cukup serjng terjadk dalam pengalaman sehari-hari adalah:
– Common cold. Ya, batuk-pilek bisa saja demamnya setelah masuk hari keempat atau lebih baru muncul batuk-pilek. Ini adalah infeksi virus yang tidak perlu dikhawatirkan. Kecuali di luar dugaan mencetuskan serangan yang menyebabkan sesak napas.
– Roseola alias “tampak” (bukan campak lho yaa…). Ini pun jelas infeksi virus, tetapi anak yang orangtuanya tidak sabaran tidak jarang yang langsung berinisiatif memeriksakan laboratorium darahnya. Ruam-ruam di tubuh baru muncul setelah melewati hari ke-3, bahkan ke-5 demam. Anak tampak jauh lebih aktif sesuah ruam memenuhi seluruh tubuh.
– Demam Dengue atau DBD. Ini yang hampir selalu terlintas di benak orangtua untuk selanjutnya segera memeriksakan sendiri laboratorium darah anaknya. Pelajari ciri-ciri DD dan DBD.
– Infeksi saluran kemih. Ingat, gejala ISK pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Bisa saja anak demam tanpa gejala lain, ternyata sakitnya adalah ISK. Maka jangan lupa mintakan pemeriksaan urin rutin, bahkan kultur urin jika perlu, untuk pasien-pasien semacam ini.
Demam tifoid tidak dipikirkan dalam FWS, karena demamnya berlangsung selama minimal 7 hari.

Continue reading