[Kliping] Bedak Bayi, Perlukah?

Awas!!! Bedak dan Minyak Telon Bahaya Bagi Bayi

Nadhifa Putri – detikNews

Jakarta – Aroma tubuh bayi yang wangi dan lembut seringkali membuat kita selalu ingin menciumnya. Wangi yang berasal dari bedak ataupun minyak yang dibalurkan bayi menunjukkan ciri khas buah hati.

Namun, amankah pemakaian produk-produk tersebut bagi si mungil? Dokter Spesialis anak RS Pondok Indah Karel Staa menegaskan, pemakaian bedak, minyak kayu putih, minyak telon dan pewangi (cologne) sangat berbahaya untuk kesehatan bayi di masa datang.

“Partikel-partikel yang terkandung di dalam bedak bayi dan minyak itu bahaya jika dihirup bayi,” kata Karel Staa usai diskusi bertajuk ‘Lindungi Semua Perempuan dari Kanker Serviks’ di RS Pondok Indah, Jl. Metro Duta , Jakarta Selatan, Sabtu (10/5/2008).

Produk tersebut, kata Karel, dapat membahayakan fungsi paru-paru. “Misalnya batuk yang tidak sembuh. Nanti setelah diperiksa, biasanya dokter akan menyuruh memberhentikan pemakaian bedak dan lain-lain. Setelah itu batuknya hilang. Itu bisa saja respirasi paru,” imbuh dia.

Baluran minyak dipercaya dapat memberi kehangatan untuk bayi. Namun hal ini juga dibantah Karel. “Kata siapa? Dari mana? Kulit bayi kan belum berfungsi. Lalu mau ditutupi produk itu, bagaimana pori-porinya bernafas?” ujarnya.

Karel menuturkan, pernah mendapati salah satu pasiennya mengeluhkan kulit anaknya gosong. “Ternyata setelah diperiksa, bayinya dibalurin minyak kayu putih 100 persen,” tutur dia.

Ditambahkan dia, kulit bayi seharusnya dibiarkan apa adanya. Meski bayi baru dapat merasakan rangsangan di usia di atas 1 tahun, pemakaian produk tetap tidak dianjurkan.

“Itu kan tradisi Indonesia, dari orang tua. Biarkan bayi pure. Kecuali ada indikasi medis seperti iritasi, itu harus anjuran dokter,” pungkasnya.

Sebagian besar bedak bayi mengedepankan talc sebagai bahan utamanya. Talc adalah semacam batuan mineral yang melalui proses penambangan dan penggilingan sehingga berubah bentuk menjadi butiran-butiran halus.

Dalam proses penggilingan tersebut beberapa partikel mineral ada yang menghilang namun ada pula yang tertinggal. Partikel abses yang tertinggal inilah yang rupanya membahayakan bagi buah hati Anda.

Apabila seseorang (apalagi bayi) kerap menghirup bedak yang notabenenya mengandung partikel abses tersebut, efeknya dapat terjadi peradangan paru-paru, pneumonia bahkan berujung kematian. Walau belum dapat dipastikan korelasi antara talc dan kanker paru-paru.

Berdasarkan laporan-laporan negatif itulah, American Academy of Pediatrics (Ikatan Dokter Anak Amerika Serikat) melarang penggunaan bedak berbahan dasar talc pada bayi. Apalagi baru-baru ini tersiar berita bahwa kebiasaan menabur bedak pada kemaluan bayi dapat memicu kanker ovarium di kemudian hari.
Sumber: http://news.detik.com/berita/937218/awas-bedak-dan-minyak-telon-bahaya-bagi-bayi

======================================================================

Tulisan mba Fatimah Monika Berliana Purba Konselor Laktasi dan Leader La Leche League

Tulisan ini menyambung comment di tulisan saya mengenai Peran Ayah ASI :
https://www.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/ayah-asibreastfeeding-father-dukunga-ayah-tingkatkan-keberhasilan-pemberian-asi/10201705965316769

Jadi kalau diklik ada foto dokumentasi peserta Kelas Edukasi Persiapan Menyusui yang saya ajar, di mana game-nya itu bapak-bapak kontes siapa yang paling bener & OK dalam mengganti popok bayi. Nah, untuk menjebak ditaruhlah bedak, ternyata bapak-bapak memakaikan bedak semua.

Lalu masuk comment berhubung ga tau bahwa itu games, bilang kan gak boleh bayi dikasih bedak. Banyak yang bertanya, kenapa? Nah, silahkan simak tulisan saya ini. Btw, tahukah para smart parents kalau bayi-bayi Indonesia itu penuh olesan, penuh benda-benda kosmetik yang gak perlu? Mungkin bosan ya saya bilang kalau bayi2 bule juarang bedak2an, minyak telon, cologne, hair lotion, lotion dll.

Continue reading

Serba-serbi MPASI dari Grup AIMI

Disclaimer: tulisan ini disusun berdasarkan rekomendasi pada saat itu. Semoga dapat memberikan wawasan bahwa memang ilmu terus berkembang dan akses terhadap informasi pun makin luas sehingga bisa jadi apa yang direkomendasikan dahulu berbeda dengan sekarang.

=============================

Bahasan mengenai makanan pendamping ASI untuk bayi/batita (sebetulnya bisa juga beberapa prinsipnya dipertahankan hingga anak besar bahkan dewasa, seperti kelengkapan gizi) di grup facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ini panjaaang dan lengkap, sayang kalau nggak disimpan begini.

Untuk catatan MPASI dari grup HHBF bisa dibaca di sini ya https://ceritaleila.wordpress.com/2016/07/27/serba-serbi-mpasi-dari-grup-hhbf/.

Halo, selamat sore..masih ada yang memberikan bubur nasi dan wortel saja atau bubur nasi dan bayam saja sementara bayi sudah berusia lebih dari 6,5 bulan? Atau bahkan hanya memberikan puree buah sebagai makan siang bayi berumur di atas 6,5 bulan? Yuuk segera diubah pola pemberian MPASI-nya Atau bayi Anda bisa mengalami anemia defisiensi besi yang berakibat pada seretnya kenaikan berat badan

Panduan WHO mengisyaratkan agar makanan pertama yang dikenalkan adalah kategori makanan pokok (karbohidrat) sesuai jenis makanan pokok yang dikonsumsi keluarga. Sesuaikan tekturnya dengan syarat tekstur MPASI yang benar. Untuk perkenalan awal mpasi, paling lama 2 minggu pertama dikenalkan bubur/puree tunggal dari satu bahan, boleh ditambah ASI atau air, jaga tekstur agar tetap semi kental (yang bila diletakkan di sendok dan sendok dibalik tidak mudah tumpah). Frekuensi makan 1-2 kali sehari dengan porsi 2-3 sendok makan dewasa tiap kali makan. Kenalkan semua bahan makanan dari mulai kategori karbohidrat/makanan pokok, buah dan sayur, kacang2an dan sumber-sumber protein hewani dan nabati.

Setelah dua minggu masa perkenalan kenalkan bubur saring lengkap karbohidrat dan sayur ditambah protein hewani dan protein nabati serta sumber lemak tambahan seperti minyak/margarin. Frekuensi makan 2-3x sehari dan dapat diberikan 1-2 kali cemilan bila bayi mau.

Jadi, dalam setiap piring makan anak jangan hanya ada nasi dan sayur atau nasi dan telur ya… lengkap semua elemen gizinya dari mulai karbohidrat, vitamin dalam sayur mayur, protein hewani-nabati dan sumber lemak. Jadi sudah seperti piring dewasa yaa…ada nasi, sayur dan lauk

Menunya apa? Sebetulnya apapun yang dimakan keluarga bisa digunakan. WHO menyarankan makanan bayi adalah makanan yang bisa didapatkan di lingkungan kita. Kalau di rumah ibu membuat sayur sop, sayuran yang digunakan utk sayur sop bisa diberikan ke bayi, dengan bumbu dan tekstur sesuai usia bayi. Jika ada riwayat alergi, perhatikan makanan apa saja yang berpotensi alergi pada anak.

Mari perbaiki MPASI si kecil yuk Bu…MPASI berkualitas dan bervariasi bukan hanya membuat bayi tidak mudah bosan, tapi juga menjamin ketercukupan nutrisinya

(admin, KL AIMI)

Continue reading

Tentang Tongkat Ajaib untuk Kewanitaan

Produk ini iklannya cukup sering wira-wiri di media sosial, dengan klaim yang sungguh aduhai. Tetapi, bagaimana sebenarnya dengan keamanannya?

Credit to Umm Hamzah (https://www.facebook.com/umm.hamzah.5?fref=ufi)

Dari grup Curhat Emak-emak:

PERLU DIPELAJARI UNTUK YG MAU JUAL(AN) & BELI PRODUK TRADISIONAL

(halah…judule njilmet…abaikan…)

Mak-mak, sering lewat di wall kita atau grup, tawaran produk ini produk itu yang di-klaim (lengkap dengan testimoni) punya khasiat woooooow…dan punya angka penjualan yang gak kalah woooooow…jadi kita tergoda untuk jualan produk atau beli produk itu.

Sebelum jual atau beli produk tradisional, supaya kita tambah pede jualan dan pakai bahwa produk yang kita pake betul-betul aman, kita intip peraturan BPOM tentang produk tradisional di foto ini:

(keterangan foto) diambil dari sini http://jdih.pom.go.id/produk/PERATURAN%20KEPALA%20BPOM/Per%20KaBPOM_No.%20HK.00.05.41.1384_tentang%20Kriteria%20dan%20Ta_2005.pdf:

Bab IX – LARANGAN
Pasal 34, poin 2:
Obat tradisional dilarang dalam bentuk:
a. intravaginal (keterangan – dipakai dengan cara memasukkan ke dalam vagina)
b. tetes mata;
c. parentral; (ket – dipakai dengan cara disuntikkan)
d. supositoria, kecuali untuk wasir (ket – dimasukkan ke dalam anus)

Jadi, kalau ada produk obat tradisional yang dipromosikan dengan cara pakainya seperti di poin a-d itu, itu artinya, produsen atau distributor atau penjual sudah menyalahi aturan BPOM.

Jadi lagi…kalo ada konsumen yg pake, lalu gak dapet hasil seperti yang dipromokan atau malah ngalami efek samping yang gak diinginkan, BPOM sebagai pemberi ijin edar tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.

Nah…setelah tahu peraturan ini, silahkan cek kalau ada produk-produk berpotensi obat dengan cara pakai di luar yang diizinkan oleh BPOM. APA IZIN EDARNYA? Sesuaikah dengan peraturan perizinan oleh BPOM? Kalau gak sesuai:

a. Kalau tetap pakai, risiko tanggung sendiri;
b. lalu terjadi hal yang tidak diinginkan, silakan komplen ke produsen/distributor/penjual.
c. terjadi hal yang diharapkan, maka perlu diteliti kembali:

– apakah produk tersebut benar-benar telah melalui UJI KLINIS sehingga layak dikatakan bisa memberi hasil sebagaimana produsen/distributor/penjual mengakuinya?
– apakah hal tersebut memang dihasilkan dari produk yang dipakai atau hanya merupakan respon plasebo di mana bahan/tindakan yang sebenarnya tidak bermanfaat tetapi DIRASAKAN bermanfaat oleh pemakai sebagai hasil dari mekanisme sugestif pemakai.
– bagaimana sebenarnya cara kerja bahan tersebut agar betul-betul diketahui apakah cara kerja bahan tersebut benar-benar baik utk tubuh atau baik di satu sisi tetapi merugikan di sisi lain, tidak memperlihatkan dampak merugikan dalam jangka pendek tetapi merugikan dalam jangka panjang, dll.

Trus…gimana tanggung jawab distributor atau penjual yang tetep menjual barang di luar izin edarnya?

Secara etika, penjual bertanggung jawab mencari tahu apakah produknya BENAR-BENAR AMAN untuk digunakan, bukan hanya mengandalkan testimoni. Karena testimoni TIDAK SAMA dengan uji klinis.
Untuk distributor atau penjual…yang masih mau memperbaiki diri, sebaiknya memperbaiki diri, supaya tidak kena masalah di akhirat karena sudah merugikan orang lain.

Ma’ap untuk bagian-bagian yang pake huruf kapital ya, Mak… bukan marah2 lho…cuma menandai bagian penting aja.

Hepi jualan & belian…

Kemudian ada yang menambahkan:

Kalau Crystal X yang ditanyakan adalah produk bernomor registrasi BPOM NA 18111600004, keterangan sebagaimana tertera di kemasan luar yang didaftarkan ke BPOM:

Komposisi: Piper betle leaf oil, aqua water, eucheuma spinosum extract, potasium alum sulfide, aloe extract Vera, CI 42090.

Manfaat dan Fungsi:

Membantu menghilangkan bau tidak sedap di vagina dan sekitarnya.

Membantu membersihkan kotoran di bibir vagina.

Dosis Dan Cara Pemakaian: Oleskan Crystal-X di sekitar bibir vagina 1-2 kali sehari sehabis mandi. Bersihkan Crystal-X dan simpan di tempat yang kering *****

Keterangan bahan:

– piper bettle leaf oil extract = ekstrak berupa minyak atsiri daun sirih

– euchema spinosum extract = ekstrak rumput laut

– potasium aluminium sulfat = TAWAS. –> Tawas inilah yang membuat Crystal-X sangat keras dan membuat vagina kesat (pada pemakaian dimasukkan ke vagina) karena tawas bersifat menarik cairan. Yang patut diperhatikan adalah: ketika cairan lendir yang dibutuhkan ternyata dikurangi, justru berpotensi merugikan dalam jangka panjang.

– aloe vera extract = ekstrak lidah buaya.

– CI 42090 = pewarna.

Crystal-X nomer registrasi NA 18111600004 terdaftar di BPOM sebagai produk KOSMETIK dalam bentuk sabun UNTUK PEMAKAIAN LUAR. Maka tidak dianjurkan menggunakannya dengan memasukkannya ke dalam organ intim perempuan. Termasuk organ intim perempuan bagian luar adalah: labium mayor, labium minor, preputium klitoridis, klitoris, perineum. Liang vagina dan rongga vagina adalah bagian dalam organ intim perempuan.

Dari akun pribadi Umm Hamzah

Umm Hamzah added 2 new photos.

16 April 2013 · Edited ·

PRODUK KEWANITAAN

Telah terjadi perdebatan panjang mengenai produk kewanitaan berbentuk tongkat dengan konsistensi sangat keras berwarna hijau sampai timbul dugaan bahwa saya, Mbak Tami Ummu Shafiyya Tsabita dan Mbak Arnida Sharah Auli berusaha mendiskreditkan produk tersebut, distributor dan penjual.

Maka saya sampaikan keterangan berikut, hasil kolaborasi dengan kedua ummahat di atas:

1. Produk kewanitaan yang banyak dijual dengan petunjuk pakai dimasukkan ke vagina lalu di-unyer-unyer sekian kali dan diklaim bisa mengobati penyakit yang serem-serem itu MEMANG TERDAFTAR DI BPOM. Catet ya…MEMANG TERDAFTAR.

Kami tidak pernah mengatakan bahwa produk tersebut tidak terdaftar. Jika ada yang mengatakan kami mengatakan bahwa produk tersebut tidak terdaftar, silakan datangkan buktinya atau lebih baik Anda diam.

2. Produk tersebut terdaftar sebagai KOSMETIK. Silakan dicek ke sini : http://www.pom.go.id/webreg/index.php/home/produk/12/row/10/page/1/order/4/DESC/search/0/18111600004

3. Sesuai surat BPOM tersebut dalam gambar di bawah ini, peraturan untuk kosmetik adalah untuk PEMAKAIAN LUAR.

4. Produsen sudah benar mencantumkan aturan pakai untuk PEMAKAIAN LUAR sebagaimana tercantum dalam keterangan produk.

5. Itu artinya, JIKA ada produsen atau distributor atau penjual mempromosikan dengan cara pakai DIMASUKKAN ke dalam vagina –> MENYALAHI STATUS DAFTAR.

6. Dengan demikian BPOM sebagai pemberi izin edar tidak bisa dimintai pertanggungjawaban jika terjadi apa-apa dengan konsumen.

7. Setelah tahu peraturan ini, silahkan cek kalau ada produk-produk berpotensi obat dengan cara pakai di luar yang diizinkan oleh BPOM. APA IZIN EDARNYA? Sesuaikah dengan peraturan perizinan oleh BPOM? Kalau gak sesuai:

a. kalau tetep pakai, risiko tanggung sendiri.
b. lalu terjadi hal yang tidak diinginkan, silakan komplen ke produsen/distributor/penjual.
c. terjadi hal yang diharapkan, maka perlu diteliti kembali:

– apakah produk tersebut benar-benar telah melalui UJI KLINIS sehingga layak dikatakan bisa memberi hasil sebagaimana mereka mengakuinya,
– apakah hal tersebut memang dihasilkan dari produk yang dipakai atau hanya merupakan RESPON PLASEBO di mana bahan/tindakan yang sebenarnya tidak bermanfaat tetapi DIRASAKAN bermanfaat oleh pemakai sebagai hasil dari mekanisme sugestif pemakai.
– bagaimana sebenarnya cara kerja bahan tersebut agar betul-betul diketahui apakah cara kerja bahan tersebut benar-benar baik untuk tubuh atau baik di satu sisi tetapi merugikan di sisi lain, tidak memperlihatkan dampak merugikan dalam jangka pendek tetapi merugikan dalam jangka panjang, dll.

Semoga jelas, nggih…

Kalau gambar berikut ini belum cukup meyakinkan, silakan baca sendiri di sini : http://jdih.pom.go.id/produk/PERATURAN%20KEPALA%20BPOM/HK.03.1.23.12.10.12459%20PERSYARATAN%20KOSMET

Tambahan komen dari orang BPOM:

Tami Ummu Shafiyya Tsabita Oya maaf takralat. Kemarin pagi sudah dikonfirmasi, ternyata perbaruan izin obat tradisional 5 tahun, kalo notifikasi kosmetika tiap 3 tahun. Permenkes 661 tahun 94 tidak menyebutkan adanya sediaan tetes telinga untuk obat tradisional. Sedangkan tetes mata, injeksi, intravaginal, supositoria sudah jelas dilarang dalam peraturan yang ada di foto. Kalau produsen/distributor bermaksud menggunakan obat tersebut untuk tetes mata tapi izin yang diajukan bukan itu, yaa…itu namanya pengelabuan alias berdusta. Bisa dinilai sendiri ya dari sini. Mohon dipahami bahwa peraturan dibuat untuk melindungi konsumen dari produk tidak bermutu dan berbahaya, yang pada akhirnya sebenarnya ya menguntungkan produsen/distributor sendiri karena konsumen percaya produk yang dijual berkualitas dan aman. Oya, informasi dari teman sertifikasi dan teman pemeriksaan, produsen cx berlepas tangan dari distribusi dan cara distribusi alias promosi alias cara pemasarannya, karena dia hanya mengurusi produksi, sedangkan pemasaran oleh nasa. Jadi kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan karena penggunaan ilegal, minta pertanggungjawabannya ya sama pihak-pihak terkait distribusinya. Karena memang ada yang mengatakan mengalami perdarahan setelah memakai cx dengan dimasukkan dan diputer-puter gitu.

Komentar dr. Noorma Rina Hanifah:

  • Kemarin ada pasien yang datang dengan vagina melepuh dan perubahan awal ke kanker leher rahim. Dia sudah rutin pakai crystal x selama 5 tahunan. Awalnya seminggu sekali, lama-lama jadi tiap hari. Dia pakai karena keputihan. Sugesti dia, kalau pakai tongkat itu, keputihannya berkurang. Padahal berkurangnya karena lendirnya terbawa tongkat ketika dikeluarkan. Setelah dipakai, 1-2 hari keputihan lagi, lama-lama semakin pendek interval antar pemakaiannya. Sementara proses radang yang menyebabkan keputihan juga jalan terus tanpa ada obat yang tepat. Saya tidak mengatakan kalau crystal x bikin kanker leher rahim. Tapi salah satu pemicu kanker adalah radang kronis.
  • Penyebab radang selain infeksi adalah benda asing. Jadi crystal x pada kasus pasien saya kemungkinan besar: menutupi gejala, memberikan rasa aman palsu dengan sugesti kalau penyakitnya sudah sembuh, menambah radang di daerah itu. Nah, kalau masih mau pakai, silakan. Tapi ketahui bahwa tidak ada obat dewa. Jika dipakai karena keputihan, ketahuilah, keputihan yang tidak diobati dengan tepat bisa berakibat mulai pada nyeri panggul, ketidaksuburan, infeksi rongga panggul, sampai kanker leher rahim (tergantung penyebab). Jika dipakai karena merasa vagina longgar, ada senam yang lebih terbukti manfaatnya.

Terakhir, ulasan lebih mendalam dari dr. Noorma Rina Hanifah

Keputihan, Kanker Leher Rahim dan si Tongkat Keajaiban Dunia ke-20

Sudah cukup bombastis judulnya ? 😀
Ini gara-gara permintaan teman saya supaya ada artikel khusus untuk menanggapi si tongkat ajaib penyembuh segala keluhan itu.
Dibahas singkat-singkat aja lah ya.
Vulva:
Vulva adalah daerah kelamin yang tampak dari luar. Terdiri dari bibir besar kelamin (labia mayora), bibir kecil kelamin (labia minora), lubang vagina (introitus vagina), lubang kencing (meatus uretra) dan klitoris. Penampakan anatomis bervariasi dari orang ke orang. Jadi ingat ya, lubang untuk kencing dan vagina itu beda. Kalau sampai sama, berarti ada kelainan. https://www.nva.org/vulvarAnatomy.html
Vagina:
Vagina berbentuk tabung yang kolaps. Panjangnya 5-10 cm dan lebarnya sekitar 2 cm. Vagina dilapisi oleh cincin otot yang bisa melar kalau dibutuhkan, misal saat melahirkan atau berhubungan seks, dan melarnya itu sesuai dengan ukuran benda yang berada di dalam vagina. Jadi, keluhan vagina terasa melar saat berhubungan seks itu… (tunggu ya pembahasannya).
http://web.carteret.edu/keoughp/LFreshwater/NEO/blackboard/EmbDev/female_reproductive_organs.htm
Vagina juga dilapisi oleh sel-sel selaput lendir yang tebal dan di bawah pengaruh hormon memproduksi lendir sehingga vagina secara normal memang dan harus basah. Kondisi ini menjaga agar vagina tidak mudah teriritasi saat berhubungan seks dan agar flora normal (vagina itu tidak steril) bisa tumbuh baik (kalau yang baik ga tumbuh bisa-bisa diganti dengan yang ga baik).
Uterus– tuba – ovarium ga saya bahas disini, karena permintaan teman saya hanya khusus tentang tongkat sakti.

Nah tentang keputihan/fluor albus/vaginal discharge:
Seperti saya bilang di atas, secara normal, vagina memang dan HARUS basah. Kalau ga kering, maka keseimbangan ekosistem di dalamnya akan rusak. Kalau kering, yang pertama terganggu adalah flora normalnya, koloni-koloni bakter dan jamur itu bisa berkurang populasinya (dan diganti oleh jenis yang mengganggu) atau malah bertambah melebihi kapasitas imunitas vagina. Yang terganggu kedua adalah lapisan mukosanya, kekeringan di vagina membuat vagina mudah iritasi. Dan jika dipakai untuk berhubungan seks, di samping nyeri, lapisan mukosa yang kering akan mudah lecet akibat gesekan. Kalau lecet, ditambah adanya flora vagina yang sudah tidak normal, ya berarti mudah terjadi infeksi. Kalaupun tidak infeksi, sel-sel lapisan mukosa tersebut akan berupaya memperbaiki diri sendiri dengan cara membelah diri, terus menerus. Sel-sel yang demikian mudah mengalami mutasi genetika menjadi sel-sel ganas, apalagi kalau ada stimulus tambahan (misalnya zat asing yang dibawa oleh cairan pembasuh ajaib atau tongkat keajaiban dunia ke-20 itu), waduh, bisa diakselerasi perubahan genetika yang terjadi.
Ok, diulang, lembap dan basah itu normal, terutama jika menjelang haid atau saat hamil. Cukup ganti celana dalam sesering mungkin, menjaga agar daerah ‘itu’ cukup berangin. Kegemukan, yang membuat paha tetap berimpit meskipun kaki terpentang lebar, membuat daerah ‘itu’ tidak cukup berangin, demikian juga pakaian yang ketat. Belum lagi orang gemuk cenderung mengalami sindroma metabolic yaitu rentan terkena diabetes, hipertensi dan hiperkolesterolemia, yang membuat sistem imun lebih lemah.

TAPI TIDAK SEMUA KEPUTIHAN NORMAL. Keputihan yang tidak normal tidak pula selalu disebabkan oleh kanker. Penyebab keputihan bisa jadi karena infeksi (bakter-jamur-virus), iritasi (benda asing) atau tanda awal keganasan. Bagaimana membedakan penyebabnya? Ya dengan pemeriksaan dokter secara langsung. Dilihat apakah ada benda asingnya, atau ada tanda-tanda infeksi (radang/warna lendir/bau) atau ada tanda-tanda keganasan. Biasanya lendir juga akan diambil untuk diperiksa di laboratorium. Kalau dicurigai keganasan akan diambil contoh jaringan (biopsi) atau dengan papsmear, tergantung kondisi saat pemeriksaan. Terapi yang asal, hanya akan memperburuk kondisi. Bisa jadi keputihan berhenti, tapi penyakit yang sebenarnya jalan terus.
Lalu bagaimana dengan tongkat berwarna hijau yang berbentuk mirip dengan “sex toy” itu? Saya ga tau itu tongkat aslinya terbuat dari apa. Kalau dari situs yang menjual (http://www.crystalxkeputihan.com/2013/06/kandungan-cystal-x.html) katanya mengandung:

– Eucheuma Spinosum atau sejenis Rumput Laut, sebagai bahan pangan, rumput laut telah dimanfaatkan bangsa Jepang dan Cina semenjak ribuan tahun yang lalu. Penelitian Harvard School of Public Health di Amerika mengungkap, wanita premenopause di Jepang berpeluang tiga kali lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan wanita Amerika. Hal ini disebabkan pola makan wanita Jepang yang selalu menambahkan rumput laut di dalam menu mereka. –> orang Jepang meMAKANnya bukan menaruhnya ke ‘situ’. Dan, menurut WHO http://www.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v48je08.htm. Tapi ingat, di penelitian WHO itu seaweednya diMAKAN, ga dimasukkan ke ‘situ’.

– Piper betle leaf oil atau Minyak Sirih, masyarakat Nusantara telah lama mengenal manfaat daun sirih untuk mencegah atau membantu mengatasi keputihan. Yang saya temukan ketika mengGOOGLE piper beetle ini malah tentang sifat antifertilitasnya (nah lho!)
http://ajes.in/PDFs/07-1/17-Lalita%20Sharma.pdf
http://www.researchgate.net/publication/256296145_Medicinal_plants_with_potential_antifertility_activity-A_review_of_sixteen_years_of_herbal_medicine_research_(1994-2010)/file/9c9605223442382544.pdf
– Potassium Alum sulfide atau Tawas yaitu mineral alami yang bersifat adstringen. Sifat ini memiliki daya menggumpalkan protein. Sifat ini sebagai antiperspiran, dengan mengerutkan pori kelenjar keringat sekaligus bertindak sebagai antiseptik lemah dengan menggumpalkan protein mikroba –> sudah saya bilang, secara alami vagina memang dan harus basah. kalau kering malah bahaya. Apalagi kalau si tawas punya sifat menggumpalkan protein, bisa merusak organ-organ saluran reproduksi kita. Tentang potassium alum sulphyde : http://chemistry.about.com/od/foodchemistryfaqs/f/Is-Alum-Safe.htm
– Aloe Vera atau kita biasa menyebutnya lidah buaya, tanaman ini secara signifikan dapat memperpanjang hidup pasien kanker dan bahkan merangsang sistem kekebalan tubuh penderita kanker –> Aloe vera punya sifat melembapkan, sementara tawas dan sirih mengeringkan, jadi efek mana yang mau dicapai? Galau kayaknya yang bikin :P. Tentang aloe vera http://idosi.org/aejts/3%283%2911/17.pdf mungkin bermanfaat sebagai antidiabetes jika diMAKAN.
Sekian dulu. Silakan simpulkan sendiri ituh tongkat bermanfaat atau malah berbahaya. Ingat ya, benda asing di vagina justru merupakan iritan yang menimbulkan reaksi radang. Reaksi radang yang lama membuat sel-sel di sekitar situ tumbuh cepat untuk memulihkan kondisi. Sel-sel yang tumbuh cepat punya kemungkinan untuk bermutasi ke arah keganasan (belum lagi jika ternyata benda asingnya bersifat karsinogen).

Yang mau belajar CBSA tentang keputihan, baca ini, jangan mau disuapin ajah
http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/510.html
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2099568/

Kalau tertarik baca lanjutannya: https://www.facebook.com/noorma.hanifah/posts/858539540825186

cx2 cx 1

Payudara Besar Sebelah dan Menyusui Hanya dengan Satu Payudara

[MABES TATC, Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta]

Payudara besar Sebelah dan Menyusui Hanya dengan Satu Payudara

Pagi, Bunda. Lagi iseng ngalong nih ceritanya :D. Hari ini saya ingin membahas mengenai ketidakseimbangan ukuran payudara. Pertanyaan ini cukup sering dilontarkan bunda-bunda di TATC. Umumnya sih mencemaskan apakah bayi akan mendapatkan cukup ASI jika hanya disusui dengan satu payudara. Kekhawatiran lain yang mengikuti adalah perbedaan ukuran yang secara estetika jadi kurang imbang.

Yang perlu diperhatikan pertama-tama adalah, benarkah ini sebuah masalah? Sebetulnya kan seringkali dari sononya bagian tubuh kita kanan-kirinya memang tidak sama persis besarnya ya. Hanya saja, perbedaan ukuran ini memang bisa jadi lebih mencolok semasa menyusui. Biasanya, yang menjadi penyebab adalah aktivitas menyusui di masing-masing payudara yang tidak sama. Baik karena pilihan bayi ataupun Bunda, disadari maupun tidak, dengan latar belakang kenyamanan (posisi menyusui, bentuk payudara, maupun tingkat derasnya ASI), adakalanya salah satu payudara lebih aktif dipakai menyusui ketimbang sebelahnya. Biasanya, yang lebih aktif akan berukuran lebih besar, dan setelah masa penyapihan lewat lama-kelamaan ukurannya akan kembali seperti semula (lebih ‘seimbang’).

Continue reading

Mengukur Suhu dengan Termometer

[MABES TATC]
Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta

Hingga sekarang ketika ada bunda-bunda yang bertanya mengenai kondisi anak yang sedang demam, tidak semuanya siap ketika ditanya balik, “Suhunya berapa?”. Baik karena belum punya termometer maupun mungkin masih bingung mengenai penggunaan alat ukur suhu tubuh tersebut. Yuk, simak sama-sama penjelasan seputar termometer yang dikutip dari situs Milis Sehat dan Tabloid NOVA ini.

IMG_20170314_215803

TERMOMETER AIR RAKSA
Termometer ini terdiri atas tabung gelas tertutup yang berisi cairan air raksa/merkuri. Di tepi tabung terlihat garis-garis yang menunjukkan skala temperatur. Bila suhu meningkat, air raksa dalam tabung yang sempit itu akan naik. Titik di mana air raksa tersebut berhenti naik menunjukkan berapa suhu tubuh si pengguna saat itu.
Termometer air raksa termasuk paling banyak digunakan. Mudah didapat, harganya murah dan pengukurannya akurat. Sesuai dengan desain tabung kaca termometer ini, posisi ujung air raksa sebagai penunjuk derajatnya akan berada di posisi yang tetap kecuali kita menggoyang-goyangkannya secara kuat. Jagalah agar termometer air raksa tidak patah/pecah. Kalaupun pecah, jangan sampai air raksanya terhirup/termakan karena bersifat toksik alias racun bagi tubuh. Oleh karena itu pengukuran lewat mulut sama sekali tidak dianjurkan pada bayi maupun balita karena dikhawatirkan pecah digigit.

Berikut langkah-langkah menggunakan termometer:
* Mengukur suhu melalui mulut (oral):
– Bila anak baru saja makan atau minum, tunggu sekitar 20-30 menit.
– Pastikan tidak ada makanan di dalam mulutnya.
– Letakkan ujung termometer itu di bawah lidahnya selama tiga menit.
– Minta anak untuk mengatupkan bibirnya di sekeliling termometer.
– Selalu ingatkan anak untuk tidak menggigit atau berbicara ketika ada termometer di dalam mulut.
– Minta pula si anak untuk relaks dan bernapas biasa melalui hidung.
– Kemudian ambil termometer dan bacalah posisi air raksanya.

Continue reading

… dan Memberimu Kesempatan Meraih Skor IELTS Lumayan pada Kesempatan Pertama

Judulnya panjang amat, sih? Hehehe, ceritanya postingan ini kelanjutan dari postingan terdahulu tentang nilai TOEFL. Jadi ceritanya awal tahun ini (lama banget baru sempat pegang komputer buat nulis ini) saya berkesempatan mencicipi tes IELTS. Gratis, karena sebetulnya merupakan rangkaian tes beasiswa AAS. Ini pertama kalinya saya ikut tes IETS, jadi saya mencari gambaran dulu tesnya seperti apa. Minimal biar tahu bentuk-bentuknya, karena sebelumnya pengetahuan saya tentang IELTS sangat minim. Buku latihan IETS yang saya beli tipis saja dan memang hanya sempat dibaca sekilas, tetapi cukup membantu.

Oke… jadi IELTS ini ada tes speaking (harinya waktu itu dipisah), listening, reading, dan writing. Waduh, speaking saya kan lumayan… lumayan ancur maksudnya. Lebih karena tidak terbiasa sih sebetulnya. Kemudian writing, nah ini dia, tulisan bahasa Inggris saya masih cenderung berupa terjemahan dari bahasa Indonesia, kaku dan seringkali tidak taat struktur. Tapi saya memang tak menarget dapat nilai sekian. Maka saya juga belajar sekadarnya, cukup tahu kira-kira apa sih yang diharapkan dari tes ini, perintah apa yang biasanya muncul, pembobotan nilainya bagaimana, dan waktu yang tersedia. Tapi saya tak sampai mencoba mengerjakan latihan soal lalu mengkalkulasi perkiraan nilainya.

Continue reading

Kultwit dr. Ian tentang Picky Eater

Berikut ini kultwit dari dokter keluarga kami, dr. Farian Sakinah atau dr. Ian beberapa tahun yang lalu di https://twitter.com/rumahlabeeba tentang picky eater.

Siang, tweeps… Mau sharing lagi. Kali ini tentang si #pickyeater #BabyK. Ada yang punya putra or putri yang sama dengan BabyK?

Sebenarnya #BabyK udah gak baby, sudah 2 tahun. Tapi kalau yang sudah pernah ketemu, first impression-nya (mostly): imut! Apalagi dibandingkan dengan ibunya.

Selama Januari – Mei 2012 #BabyK, #Beeba serta orang rumah 6 kali kena batpil. Ada yang disertai demam ± minggu, ada yang 1 minggu, yang cukup pengaruh terhadap nafsu makan.

Yup, pascasakit lama itu #BabyK jadi sangat sangat #pickyeater, susah sekali makan. Apalagi sejak saya resign dan lebih banyak di rumah, maunya nenen terus.

Hampir setiap makanan yang ditawarkan ditolak, kalaupun mau hanya sesuap dua suap. Bersemangat kalau diberi buah. Sisanya maunya air putih, susu, ASI.

Boleh dibilang sejak saya resign #BabyK kayak bayi lagi, tiap 2 jam minta nenen. Setiap lapar minta nenen. Jadi hampir tidak ada makan berat yang masuk.

Tapi, tetap selalu ditawarkan. Meski ya lebih banyak ditolak. Tapi prinsip saya, saya tidak mau memaksa anak untuk makan. Makan harus jadi momen yang fun.

Meski harus tahan cibiran: “Ih emaknya gede, anaknya segede gini”. Yah gpp, toh anak saya aktif, bahkan perkembangannya termasuk early bloomer.

Alhamdulillah. Dengan keyakinan: anak sehat (tanpa ada kondisi sakit kronis) pasti akan lapar juga. Yah, setelah 2 bulan berlalu #BabyK mulai minta makan.

Continue reading

Memulai Blog Lagi

Dulu saya ngeblog di Multiply, penyedia layanan perpaduan antara blogging dan jejaring sosial yang akhirnya ditutup tahun lalu. Saya mulai ngeblog tahun 2006, untuk melampiaskan hobi menulis, juga sebagai sarana untuk mengabadikan memori. Saya dapat banyak teman baru yang asyik, bisa menjaga silaturahim dengan teman lama, juga beroleh beberapa kesempatan menulis di media lewat Multiply ini. Sekitar empat tahun kemudian saya mulai jarang posting. Keterbatasan waktu menjadi alasannya, karena kesibukan kerja semakin bertambah, juga saya kemudian hamil, melahirkan, dan mutasi ke Jakarta yang beban kerjanya lebih ‘wow’. Kebetulan di saat yang hampir bersamaan terjadi gonjang-ganjing di Multiply sendiri yang berujung beralihnya fungsi Multiply menjadi pasar online, sampai akhirnya resmi berhenti beroperasi.

Setelah punya anak, sebetulnya banyak yang ingin saya tulis. Hanya saja, apa nanti pembacanya tidak bosan, ya? Saya juga sempat dihantui ketakutan kalau akan terjadi kasus seperti yang dialami oleh salah satu kontak Multiply saya. Foto-foto keluarga di blognya diambil oleh orang tak bertanggung jawab dan digunakan sebagai kedok. Maksudnya, foto-foto itu diunggah ke akun facebook pribadi orang tersebut untuk mengesankan punya latas belakang yang jelas, sementara akun tersebut lantas digunakan untuk penipuan. Serem, kan? Pemanfaatan data pribadi kita untuk keuntungan atau bahkan sekadar keisengan oknum-oknum jahat seperti ini adalah salah satu risiko mencantumkan hal-hal yang bersifat pribadi di dunia maya. Memang bisa dibatasi sebagai langkah antisipasi, tapi tetap saja kita tidak pernah tahu jalan pikiran orang-orang iseng itu. Saya sendiri pernah mengalami dampak dari tersebarnya data di internet, bahkan akibatnya masih terasa sampai tujuh tahun kemudian… dengan cara yang cukup menyakitkan. Namun, kalau terus-menerus takut, susah juga, ya. Sementara teman-teman lain sudah move on ke blog barunya, ada yang kemudian sudah dapat kesempatan bisnis atau menulis buku dari situ, menang kontes ini-itu, punya dokumentasi yang rapi dan menarik tentang tumbuh kembang anaknya, bisa berbagi pengalaman, pengetahuan atau tips untuk membantu yang lain, saya masih begini-begini saja.

Maka, bismillah, saya membuat akun di wordpress ini. Ternyata memulai lagi ngeblog itu rumit juga, ya. Saya sampai berbulan-bulan membiarkan ‘rumah’ ini ‘lumutan’ karena bingung mau nulis apa. Mau cerita tentang Fathia buat kenang-kenangan kelak, nulis analisis ala mba Lita (http://litamariana.com/) dulu yang jadi role model saya pada suatu ketika, bikin kliping artikel-artikel menarik biar gampang kalau sewaktu-waktu cari atau link aslinya sudah mati (saya terinspirasi oleh https://keluargasehat.wordpress.com/ yang banyak mengumpulkan artikel kesehatan khususnya yang berbasis ilmiah/EBM dan https://sites.google.com/site/duniabermainattaya/ yang memudahkan membaca banyak materi parenting menarik termasuk rangkuman seminar online maupun offline), berbagi tentang bacaan meskipun sekarang saya lagi agak jarang bisa punya waktu untuk baca serius (jadi ingat Goodreads saya yang debuan :D), mencatat resep biar saya lebih rajin masak, nulis-nulis buat ikutan lomba/kontes/giveaway, atau apa?

Terus, mau fokus di satu tema alias masing-masing bahasan ada blognya sendiri, atau dicampur aja daripada nanti bingung mengelolanya? Belum lagi perkara ide tulisan yang suka muncul tiba-tiba, tapi eksekusinya melempem, gara-gara sibuk mikirin harus ada foto ilustrasi yang pas, nunggu sempat mindahin foto dari kamera dulu, belum ketemu tautan rujukan yang sahih, dan seterusnya. Nah, kebetulan sekali, beberapa waktu yang lalu sepupu saya menuliskan tips memulai blog di blog pribadinya. Yah, coba dari dulu, Mbak, kan saya nggak usah kelamaan ragu dan bimbang begini, hihihi. Jadi pengin mengulas nih, langkah-langkah mana yang sudah dan mana yang belum saya lakukan.

  1. Target Pembaca. Tentukan target pembaca utama blog kamu. Laki-laki atau perempuan? Berapa range usianya? Tinggal di mana? Apa hobi dan minatnya? —> Nah, ini saya juga bingung. Dari pengalaman sih, saya suka blog yang bisa memberi manfaat bagi pembaca. Yang kalau kita lagi bingung trus googling lalu merasa ‘aha!’ gitu begitu nemu tulisan yang membantu. Jadinya ya saya mulai dari hal-hal yang menarik minat saya dulu, dan apa yang menarik untuk saya biasanya akan menarik pula bagi…. sesama ibu muda, mungkin, ya?
  2. Nama. Nama blog ini susah-susah-gampang. Kecuali kalau kamu memang mau memakai nama kamu sendiri, coba cari nama blog yang benar-benar merepresentasikan konten blog sekaligus memberi “perasaan” tertentu. Kalau namanya pakai bahasa asing, usahakan jangan yang sulit ya.(….) Kalau sudah ketemu, langsung periksa apakah nama tersebut sudah dipakai orang lain. (…). –> awalnya saya mendaftarkan diri ke wordpress dengan nama diri, tapi kemudian kepengin nama yang lebih anonim, atau lebih mencerminkan isi…. dan berakhir dengan menjatuhkan pilihan ke nama ceritaleila. Sederhana, gampang diingat, terkesan mentok.
  3. Konten. Buat mapping konten blog kamu dengan menulis apa saja topik yang ingin kamu tulis nanti. (…) Membuat mapping seperti ini akan terasa banget manfaatnya saat nanti blog sudah berjalan dan kehabisan ide. Kita tinggal cek mapping yang sudah kita buat, dan biasanya nih baru sadar kalau ternyata kita sudah jarang membahas 2-3 topik tertentu. –> Iya juga, ya…. baiklah, akan mulai dibikin pemetaannya, mengingat saya juga sudah memutuskan blog ini bakalan ‘gado-gado’ isinya, sekalian biar rapi dan mempermudah pencarian (tapi terus terang nggak terpikir lho sebelumnya bahwa akan bisa digunakan juga untuk mencari ide).
  4. Hosting. (…) Berdasarkan pengalaman pribadi, saya lebih suka menggunakan blog hosting yang sudah ada daripada membangun sendiri (self hosted blog). Kenapa? Karena saya sudah nyaman dengan blog hosting tertentu dan saya mau memastikan kalau saya masih tetap bisa menjalankan blog saya meski web developer saya berhalangan. Blog hosting yang sudah ada, seperti WordPress, juga memudahkan saya untuk update melalui mobile. Selain itu, biasanya persiapannya pun jadi lebih singkat. 🙂 –> alhamdulillah, pilihan saya ternyata tidak salah :D.
  5. Survey. Lakukan survey kecil-kecilan. Tanya teman-temanmu yang kamu tahu suka banget browsing blog dan punya minat yang sejalan dengan konten blog kamu. (….) Lebih bagus lagi kalau ada blog lokal yang punya benang merah dengan konten blog-mu. Selain untuk dipelajari, bisa juga buat diajak kolaborasi suatu hari nanti. –> Rasanya belum sejauh ini sih, tapi menarik juga buat dipertimbangkan ke depannya.
  6. Tampilan. Urusan tampilan ini penting sekali, karena sering jadi kunci orang akan tetap tinggal untuk terus membaca blog-mu atau memilih untuk segera keluar. Pikirkan warna-warna apa saja yang akan dominan. Seperti apa penempatan menu dan konten. Kalau bisa sih jangan terlalu sering mengganti tampilan blog supaya pembaca nggak bingung. Lebih baik urusan tampilan ini memakan waktu berminggu-minggu daripada buru-buru diluncurkan tapi dua bulan kemudian sudah ganti layout/scheme lagi. Oya, jangan lupa pikirkan tampilan di mobile, karena saat ini lebih banyak orang mengakses via mobile/tablet daripada PC. Nah, ini (lagi-lagi) kenapa saya lebih memilih blog hosting yang sudah ada daripada membangun dari awal. 🙂 –> Idem, saya juga pengin sih yang cakep-cakep, yang canggih dan rapi juga menunya, tapi sementara ini yang simpel dulu aja deh. Soalnya saya lebih sering mengakses internet dengan ponsel, dan bete kalau ada blog yang ingin dibaca tapi tampilannya jadi berantakan, atau berat loadingnya, atau navigasinya membingungkan untuk tampilan mobile. Dan, tetep ya, pilih warna ungu :D. Harusnya lebih meluangkan waktu untuk personalisasi juga, ya. Biar tambah cakep hehehe.
  7. HOLD IT! Kalau semuanya sudah siap, saatnya mengisi blog, deh. Saran saya, lebih baik isi blog dengan beberapa post dulu baru luncurkan secara resmi, daripada hanya menulis 1 post “hello everyone” kemudian langsung cerita ke banyak orang kalau punya blog baru. 5-7 post sudah cukup untuk memberi gambaran akan seperti apa konten blog kamu selanjutnya. –> Saya juga sampai sekarang menahan diri dari mempublikasikan link blog bahkan di facebook/twitter sendiri. Paling-paling kasih link untuk syarat ikutan lomba :D. Alasannya lebih kurang sama, penginnya sih ada isinya dulu yang cukup memadai, pasang hiasan-hiasan apa kek, ngepel-ngepel dulu, rapiin barang-barang di rak sebelum membuka pintu buat tamu.
  8. Sebarkan. Nah, kalau sudah punya konten yang cukup, sudah mantap sama tampilan dan sisi teknisnya juga sudah beres semua, berarti sudah waktunya blog kamu disebarkan ke teman-teman dan khalayak luas. Caranya bisa macam-macam. Mulai dari yang simpel seperti memberi tahu lewat social media atau e-mail, sampai mengirim paket ke orang-orang tertentu yang kamu rasa cocok dengan blog-mu. Be creative! 😉 —> Siap! Eh, tapi, nanti dulu kali ya, hehehe *mendadak minder*.

Dongeng Antibiotik (dan Antiseptik)

Copas dari Milis Sehat, antara lain untuk menjawab pertanyaan “Haruskah konsumsi antibiotik yang sudah telanjur diminum (kemudian sadar sebetulnya tidak perlu) tetap diteruskan?”. Memang, jika sudah diresepkan dan tepat diagnosis, antibiotik yang diresepkan harus dihabiskan. Namun, sepertinya ada semacam salah kaprah bahwa yang nantinya kebal dengan antibiotik tersebut kelak (jika minum antibiotiknya tidak dihabiskan) adalah orangnya. padahal yang dikhawatirkan kebal adalah bakterinya. Selengkapnya bisa berkunjung ke situs http://react-yop.or.id. Yang dikampanyekan oleh ReACT ini bukanlah anti-antibiotik, melainkan pemakaian antibiotik secara tepat guna, untuk ‘menyelamatkan’ antibiotik itu sendiri.

Bayangkan tubuh kita adalah suatu negara yang memiliki pertahanan sipil (bakteri baik/flora alami) dan pertahanan militer (antibodi/imun tubuh). Jika tubuh kemasukan pendatang baru/benda asing/musuh (bisa alergen, virus, cendawan, maupun bakteri), maka bakteri baik kita (pertahanan sipil) yang pertama-tama akan melawan pendatang baru tersebut. Jika pertahanan sipil tidak mampu melawan, maka pertahanan militer (sel darah putih) akan datang ke area tersebut untuk melawan musuh. Jika militer kita tidak sanggup melawan, maka perlu bantuan tentara luar untuk berperang melawan musuh tersebut. Nah, tentara luar inilah yang kita sebut antibiotik. Namun, satu hal yang harus dipahami, tentara luar alias antibiotik tersebut tidak mampu untuk melawan virus maupun alergen. Mengapa? Karena sejatinya tentara luar tersebut hanya bisa mendeteksi dan membunuh makhluk hidup, sedangkan virus maupun alergen bukan merupakan makhluk hidup, sehingga tidak terdeteksi dan tidak terbunuh oleh tentara luar tersebut (seperti rudal dengan sensor panas hanya akan menyerang target tertentu).Apa efeknya jika penyakit karena virus atau alergen diobati dengan antibiotik?
1. Tentara luar tersebut mendeteksi dan membunuh mahluk hidup tanpa pandang bulu. Jika tidak ada penyusup/musuh yang diserang, maka yang jadi korban adalah rakyat sipil kita (flora alami). Akibatnya flora alami jadi berkurang dan pertahanan sipil jadi lemah. Kalau pertahanan sipil melemah, maka akan lebih mudah diserang oleh musuh. Tubuh jadi makin gampang sakit.
2. Jika rakyat sipil kita terus-menerus diserang oleh tentara luar, maka suatu saat akan muncul rakyat sipil yang memberontak (mutasi bakteri dari bakteri baik menjadi bakteri jahat).Apa yang terjadi jika konsumsi antibiotik tidak sesuai/di bawah dosis yang dibutuhkan?
Tidak semua musuh musnah, akan ada bakteri jahat/musuh yang bersembunyi dan menyusun strategi pertahanan yang baru (mutasi).Sedikit tambahan, sebenarnya demam itu berfungsi seperti alarm untuk memanggil tentara kita (sel darah putih) untuk datang ke medan perang. Itu sebabnya demam sebenarnya sangat berguna dan tidak seharusnya dibasmi kecuali sudah benar-benar membuat anak tidak nyaman dan tidak bisa istirahat.
Bayangkan tubuh Anda adalah sebuah negara. Flora alami/bakteri baik dalam tubuh sebagai penduduk sipilnya. Imunitas tubuh sebagai tentaranya. Bakteri jahat sebagai musuhnya. Jika ada musuh menyusup, mereka tidak bisa dengan mudahnya menduduki wilayah tersebut karena sudah ada penduduk sipil yang siap siaga untuk melawan pendatang baru yang mau macam-macam. Jika musuh yang datang cukup banyak dan mulai menginvasi suatu wilayah, maka terjadi demam untuk memanggil si tentara ke wilayah tersebut. Jika tentara Anda dalam kondisi lemah dan tidak dpt memberi perlawanan maksimal, maka perlu bala bantuan/tentara dari luar untuk membantu mengalahkan musuh Anda tersebut. Nah, tentara dari luar inilah yang biasa kita sebut dengan antibiotik. Masalahnya tentara AB ini spesifik untuk membasmi bakteri dan fungi saja. Bukan untuk virus. Dalam kasus antibiotik yg dibutuhkan tidak dihabiskan, kejadiannya si tentara luar ini sudah membantu melawan musuh hingga musuhnya klenger, tapi belum musnah semua. Ada beberapa musuh yang masih bersembunyi dan berlindung. Jika hal itu terjadi 1-2 kali mungkin penduduk sipil kita masih bisa menekan musuh tersebut hingga habis seluruhnya. Namun, dalam hal penggunaan AB sembarangan (sering dilakukan) si musuh yang bersembunyi tersebut akan semakin banyak dan pada akhirnya mereka akan mampu membangun kekuatan yang bisa melawan tentara luar tersebut.Inilah yang disebut resistensi antibiotik. Dalam hal penyakit yang disebabkan oleh virus dan diberi AB kejadiannya si tentara luar tidak menemukan musuh untuk dibasmi, akhirnya mereka memakan/memusnahkan penduduk sipil kita sehingga jika ada musuh benaran yang datang, tidak ada lagi penduduk sipil yang melindungi wilayah tersebut. Makanya tubuh jadi gampang sakit. Efek lain dari penyerangan yang salah sasaran tersebut, penduduk sipil jadi merasa ditekan terus menerus hingga akhirnya terjadi pemberontakan (bakteri baik berubah menjadi bakteri jahat). Itulah akibatnya jika penyakit karena virus diobati terus dengan AB, kita menciptakan pemberontakan dalam negara kita sendiri.

Yang ini dongeng dari dokter Fathia ketika beliau mengadakan acara sharing mengenai kesehatan:

Bayangkan kita hidup bertetangga. Ada tetangga yang selama ini hubungannya baik-baik saja, dalam arti tidak saling mengganggu, tapi nggak akrab-akrab banget juga. Nah, suatu hari tetangga ini tiba-tiba mengancam kita dengan senjata. Makin hari makin jadi. Apa reaksi kita? Kemungkinan besar reaksi spontan pertama kali adalah mempertahankan diri, kalau perlu mempersenjatai diri juga karena ancamannya tidak main-main dan cenderung membahayakan.Inilah yang terjadi jika kita terlalu sering memakai sabun antiseptik. Pemakaian yang tepat guna tentu bermanfaat, tetapi untuk keperluan sehari-hari sebetulnya kita hanya memerlukan sabun biasa. Sabun antiseptik idealnya hanya dipakai di kasus ataupun lingkungan khusus. Sebab walaupun hanya dipakai di kulit, sabun antiseptik tetap bisa memicu resistensi terhadap antibiotik.

Nah, soal apakah antibiotik harus ‘dihabiskan’ ini ternyata juga bisa beda-beda persepsi. Saya baru ‘ngeh’ soal ini ketika ada yang menanyakan mengenai haruskan antibiotik dihabiskan dan yang dimaksud ternyata adalah sebotol antibiotik sirup, haruskah diminum sampai isi botol habis atau mengikuti petunjuk dokter terkait lamanya meminum? Jawabannya ada di sini.

Kapan Antibiotik Harus Dihabiskan dan Tidak Dihabiskan?
Oleh Aditya Eka Prawira
Dikatakan dr. Fransisca Handy, Sp.A., IBCLC, perwakilan dari komunitas Milis Sehat, dalam sebuah talkshow yang diadakan di Social Media Festival 2013, bahwa dalam pemberian antibiotik kepada anak, orangtua harus mengetahui terlebih dulu indikasi apa yang dialami anaknya tersebut. Jika sudah tahu indikasinya, maka orangtua akan paham apakah antibiotik harus dihabiskan atau tidak.Misalnya saja penyakit infeksi saluran kencing. Menurut dr. Fransisca, pada anak yang menderita penyakit ini minimal orangtua memberikan antibiotik selama tujuh hari. Dan biasanya, dokter akan memberikan antibiotik dalam bentuk sirup. Bila dalam empat hari sirup sudah habis, maka harus segera dibeli yang baru lagi.”Sirup itu umumnya cukup untuk empat hari. Karena pemberian antibiotik pada anak yang menderita penyakit infeksi saluran kencing selama tujuh hari, ya orangtua harus membelinya lagi, biar genap tujuh hari. Jika sudah genap tujuh hari antibiotik masih bersisa, biarkan saja,” kata wanita yang juga bertugas di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK-UPH), di fX Sudirman, Jakarta, ditulis Selasa (15/10/2013). Begitu juga bila si anak menderita Pneumonia ringan. Biasanya, antibiotik akan dijadikan tata laksana pada anak yang terserang penyakit ini. Dan umumnya, antibiotik yang diberikan cukup untuk tiga hari saja.”Sirup antibiotik biasanya untuk lima hari. Bila sudah tiga hari, hentikan, jangan sampai habis. Harus sesuai dengan durasi yang dianjurkan oleh dokter,” kata Fransisca.
Pneumonia disebabkan berbagai mikroorganisme, dan penyebab terseringnya adalah bakteri (S.pneumonia, H.influenza, S.aureus, P.aeruginosa, M.tuberculosis, M.kansasii, dsb), namun dapat juga disebabkan oleh jamur (P.carinii, C.neoformans, H.capsulatum, C.immitis, A.fumigatus,dsb), protozoa (toksoplasma) serta virus (CMV, herpes simpleks)http://health.liputan6.com/read/719631/kapan-antibiotik-harus-dihabiskan-dan-tidak-dihabiskan/?related=pbr&channel=h

Referensi lain https://lifestyle.kompas.com/read/2014/03/11/1035338/Dosis.Antibiotik.Tak.Selalu.Harus.Dihabiskan
http://m.detik.com/health/read/2014/03/06/185127/2518008/763/tak-kena-bakteri-tapi-telanjur-minum-antibiotik-apakah-harus-dihabiskan

Jakarta, Saat memberi resep antibiotik, dokter biasanya akan meminta pasien untuk menghabiskan obatnya agar bakteri tak menjadi resisten (kebal obat). Tetapi ketika tidak terinfeksi bakteri dan pasien telanjur minum antibiotik, apakah tetap harus dihabiskan?
“Ibaratnya kita mau ke Restoran Gemoelai tapi nyasar dulu ke arah Blok M. Apakah kita terus lanjut aja sampai Blok M? Kan tidak, ya berhenti dan cari tahu,” jelas dr Purnamawati S Pujianto, SpAK, MMPed, penasehat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dalam acara Diskusi Media ‘Bakteri: Kawan atau Lawan?’ di Restoran Gemoelai, Jl Panglima Polim V No 60, Jakarta, Kamis (6/3/2014).
Berhenti dan mencari tahu juga perlu dilakukan ketika seorang pasien yang tidak terinfeksi bakteri telanjur minum antibiotik. Menurut dr Wati, antibiotik yang sudah telanjur diminum harus segera dihentikan ketika diketahui ternyata penyakit yang diderita pasien bukanlah disebabkan oleh bakteri.
“Kadang-kadang butuh waktu untuk diagnosis, kultur darah (pemeriksaan laboratorium). Ketika diagnosis mengindikasikan bakteri, pasien sementara dikasih antibiotik. Tapi diagnosis kan klinis, jadi begitu hasil kultur darah keluar dan tidak ada bakteri, maka antibiotiknya harus dihentikan,” kata dr Wati.
Bila tubuh tidak terinfeksi bakteri dan terus diberi antibiotik, dampaknya bisa membunuh bakteri-bakteri baik yang berperan dalam sistem tubuh.
Akibatnya, bakteri jahat akan berpesta-pora karena ‘kavling’ yang ditadinya dihuni oleh bakteri baik sudah tak lagi berpenghuni. Tubuh akan lebih mudah sakit, bakteri jahat akan semakin kebal, dan tak lagi mempan dengan antibiotik ketika bakteri jahat benar-benar menyerangnya.
“Kalau kita sayang anak, sayang orang tua, bijaklah menggunakan antibiotik sehingga ketika benar-benar butuh, tidak susah mengobatinya. Menemukan antibiotik baru itu butuh waktu lama, jangan sampai antibiotik punah,” tutup dr Wati.
(mer/vit)

Belakangan saya membaca bahwa yang diduga memicu kekebalan bakteri bukan hanya sabun mandi ternyata. Produk lain seperti cairan pel, sabun cuci, peralatan rumah tangga (setahu saya ada produk penyimpanan makanan yang mengklaim punya manfaat antimikrobial) juga punya potensi serupa. Lebih lengkap antara lain bisa dibaca di sini.

Bulan lalu, muncul pula pernyataan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat sbb, sebagaimana dimuat di Kompas:

WASHINGTON, KOMPAS.com – Penelitian meragukan keampuhan sabun antiseptik membunuh bakteri. Bahkan kandungan zat kimia dalam sabun antiseptik tersebut dinilai berisiko mengganggu hormon dan memicu bakteri yang resisten terhadap obat. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan hasil penelitian yang sudah dilakukan selama 40 tahun atas bahan kimia anti-bakteri yang sering dipakai sebagai komposisi sabun antiseptik dan sabun pembasuh badan, Senin (16/12/2013).Penelitian juga mendapatkan peningkatan risiko yang muncul dari penggunaan bahan kimia untuk sabun itu. Food and Drug Administration (FDA) mengatakan, saat ini mereka sedang meninjau kembali keamanan penggunaan bahan kimia semacam triclosan untuk sabun. Berdasarkan penelitian terbaru, zat-zat kimia itu justru mengganggu kadar hormon pemakainya dan memicu pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap obat. Pernyataan awal FDA adalah mendukung hasil penelitian yang menyatakan bahwa penggunaan zat antiseptik -kemungkinan terbaiknya- tidak efektif dan -kemungkinan terburuknya- mengancam kesehatan masyarakat. (selengkapnya di sini)

Update September 2016: https://m.tempo.co/read/news/2016/09/03/116801424/fda-larang-sabun-cuci-tangan-anti-bakteri-beredar-di-as
TEMPO.CO, Washington – Badan pengawasan makanan dan obat Amerika Serikat (FDA) menyatakan sabun biasa dan air bersih lebih efektif untuk membunuh kuman daripada produk sabun cuci tangan anti-bakteri.

Atas temuan terbaru itu, FDA melarang 19 bahan kimia yang digunakan dalam sabun cuci tangan yang diklaim produsennya mengandung anti-bakteri. Menurut FDA, produsen sabun cuci tangan anti-bakteri gagal membuktikan bahwa penggunaan bahan-bahan kimia itu aman dan dapat membunuh kuman.

“Kami tidak memiliki bukti ilmiah bahwa mereka lebih baik daripada sabun biasa dan air,” ujar Dr Janet Woodcock, Direktur Utama FDA.

Seperti yang dilansir Independent pada 3 September 2016, aturan itu berlaku untuk setiap sabun atau produk antiseptik yang memiliki satu atau lebih dari 19 bahan kimia, termasuk triclocarbon, yang sering ditemukan di sabun batang, dan triclosan, dalam sabun cair.

Kedua bahan kimia berbahaya tersebut dikatakan dapat mengganggu kadar hormon dan memacu bakteri kebal terhadap obat serta dapat mengganggu perkembangan janin pada ibu hamil. Menurut FDA, triclosan dapat ditemukan di hampir semua sabun cair berlabel “anti-bakteri” atau “anti-mikroba”.

FDA telah memberikan batas waktu hingga akhir tahun ini bagi para produsen sabun untuk mengubah produk mereka atau menarik sabun cuci tangan anti-bakteri dari peredaran. Namun hal itu tak berlaku pada hand sanitizer yang mengandung alkohol dan produk anti-bakteri yang digunakan di rumah sakit atau klinik.

Bahan-bahan kimia tersebut telah lama berada di bawah pengawasan. Seorang juru bicara industri sabun pembersih mengatakan sebagian besar perusahaan saat ini menghentikan penggunaan 19 bahan kimia yang dilarang dari produk mereka.

Profesor Patrick McNamara, yang telah menerbitkan penelitian tentang sabun anti-mikroba, menyambut baik putusan FDA. Menurut dia, penelitian menunjukkan tidak ada manfaat tambahan dari bahan kimia anti-mikroba dalam sabun.

================================================================

Tambahan dari dr. Arifianto ‘Apin’, Sp.A. (dikutip dari http://arifianto.blogspot.co.id/2016/08/antibiotik-boleh-distop-sebelum-habis.html)
“Anak saya demam sudah 3 hari, disertai batuk-pilek. Lalu saya bawa berobat dan diberi antibiotik. Setelah 2 hari diminum, saya baca-baca lagi bahwa selesma (batuk-pilek) tidak butuh antibiotik. Boleh saya stop antibiotiknya?”

Ini prinsipnya:

– Antibiotik adalah untuk infeksi BAKTERI, bukan infeksi VIRUS. Maka seperti pernah saya sampaikan sebelumnya, selalu tanyakan ke dokter, apa diagnosisnya, dan apakah penyebabnya infeksi virus atau bakteri?

– Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri, tentu antibiotik yang diberikan harus dihabiskan sesuai waktu yang dianjurkan. Mengapa? Dikhawatirkan jika AB dihentikan sebelum waktunya, maka bakteri-bakteri jahat penyebab penyakit sesungguhnya belum dihabisi semuanya,meskipun gejalanya sudah hilang (merasa sudah sembuh). Dikhawatirkan sebagian bakteri penyebab penyakit yang tersisa ini, akan memperkuat dirinya, bermutasi secara genetik dan menghasilkan keturunan-keturunan yang lebih kuat (kebal) dan tidak mempan dengan antibiotik sebelumnya. Jika di kemudian hari orang ini sakit dan membutuhkan antibiotik tersebut, maka penyakitnya sukar disembuhkan karena penyebabnya sulit diatasi.
Ini yang namanya resistensi antibiotik. Salah satu penyakit yang sering dijumpai dengan kasus ini adalah tuberkulosis (TB) paru yang kebal AB. Seharusnya obat anti TB diminum selama 6 bulan, tapi baru 2 bulan sudah merasa enakan, obat malah dihentikan dan berisiko menciptakan kuman kebal AB (multi drug resistant TB).

-Tapi jika ternyata penyebabnya adalah infeksi virus, maka AB dapat dihentikan.kapanpun. Tidak perlu khawatir terjadi resistensi, karena tidak ada bakteri jahat yang bisa dibuat resisten (kebal). Malah bisa membunuhi bakteri-bakteri baik di tubuh dan menyebabkan efek tidak diinginkan yang pernah dijelaskan di tulisan-tulisan sebelumnya.

Beberapa infeksi bakteri yang terjadi pada anak di kasus rawat jalan (bukan rawat inap): infeksi saluran kemih (ISK), pneumonia bakteri, strep throat, impetigo, disentri basiler dan amuba, dan demam tifoid. Selainnya kebanyakan adalah penyakit-penyakit akibat infeksi virus yang tidak butuh antibiotik.

Kakak Mia

Fathia termasuk pelanggan setia odong-odong yang lewat di depan rumah. Odong-odong yang biasa Fathia naiki bentuknya standar, berbentuk boneka hewan di baris depan dan kursi bersandaran di baris belakang. Baru belakangan saya tahu ada yang berbentuk roda juga, tapi jarang lewat di gang kami. Biasanya sih Fathia naik odong-odong bersama teman-temannya, alias tetangga satu gang, ditemani ibu atau pengasuh masing-masing. Ada masanya Fathia sampai nangis-nangis ketika odong-odong keburu berlalu dan ia tak sempat naik (biasanya karena sedang berada di dalam rumah), tapi kadang-kadang juga Fathia melengos begitu saja menanggapi lewatnya bapak operator odong-odong di depan mata.

Serius amat, Nak :D

Serius amat, Nak 😀

Di hari libur, Fathia jarang naik odong-odong karena saya dan suami suka mengajaknya jalan-jalan (entah ke taman atau sekadar ke pasar) pada jam lewatnya odong-odong. Bukan sengaja menghindari sih, hanya kebetulan jamnya kan pas tuh, belum panas-panas banget. Nah, ketika suatu hari saya cuti karena pengasuh Fathia belum kembali, saya berkesempatan menemani Fathia naik odong-odong. Selama odong-odong bergerak, musik pun mengiringi. Alhamdulillah bapak yang biasa lewat ini memutar lagu anak-anak, karena saya pernah dengar ada pula yang menyetel lagu dewasa populer dengan lirik lagu eksplisit. Sekali naik sama dengan dua lagu, cukup dengan membayar dua ribu rupiah perorang.

Sambil senyum-senyum menyaksikan tingkah laku lucu Fathia dan teman-temannya di atas odong-odong, saya menyimak lagu yang diperdengarkan. Salah satu lagunya agak asing di telinga saya, dan saya agak berjengit ketika menyimak lebih saksama.

“Kakak Mia, kakak Mia
Minta anak barang seorang
Kalau dapat, kalau dapat
Hendak saya suruh berdagang

Anak yang mana akan kaupilih?
Anak yang mana akan kaupilih?
Itu, yang gemuk yang saya pilih
Bolehlah ia berjual sirih
Sirih! Sirih! Siapa beli?
Sirih! Sirih! Siapa beli?

Kakak Mia, Kakak Mia
Minta anak barang seorang
Kalau dapat, kalau dapat
Hendak saya suruh berdagang

Anak yang mana akan kauambil?
Anak yang mana akan kauambil?

Itu, yang kurus yang saya ambil
Bolehlah ia jual kerambil
Krambil! Krambil! Siapa beli?
Krambil! Krambil! Siapa beli?”

Minta anak? Buat disuruh jualan? Ini… trafficking-kah? Setelah googling, ternyata tak hanya saya yang berpikir seperti itu yang artinya saya aja yang telat, termasuk penulis keren Sundea yang tentunya menuliskan hal ini dengan lebih baik. Ya, kalau mau berpikir positif sih, lagu yang aslinya konon punya judul ‘Bermain’ dan diciptakan oleh Ibu Sud ini barangkali hendak mengajarkan wirausaha sejak dini. Tapi kenapa harus minta anak ke orang lain segala, ya? Sampai ada blogger yang berpendapat Kakak Mia ini entah penyalur anak untuk dikaryakan atau pengurus panti asuhan. Oya, ternyata ada juga organisasi yang berkecimpung di bidang HAM yang menggunakan lagu ini untuk permainan anak dengan tujuan edukasi, dengan sedikit modifikasi lirik. Dalam materinya antara lain disebutkan “Adakalanya seorang anak harus bekerja, namun demikian anak tetap harus terlindungi hak-haknya dan pihak berwajib harus memastikan bahwa anak terhindar dari eksploitasi maupun trafficking.” (ada modul yang bisa diunduh melalui google, tapi tidak berhasil dicari tautan aslinya di situs yang bersangkutan).