Siap-siap Imunisasi Usia 2 Tahun

Hari ini usia Fahira alhamdulillah genap dua tahun. Salah satu yang mengucapkan selamat ulang tahun pertama kali di luar orang rumah adalah klinik tempat anak-anak divaksin, In Harmony Clinic. Klinik yang berada di daerah Percetakan Negara, dekat rutan Salemba ini menjadi salah satu pilihan kami untuk imunisasi non-subsidi. Untuk imunisasi bersubsidi atau sering disebut imunisasi dasar/wajib, kami lebih sering memanfaatkan fasilitas pemerintah alias ke Puskesmas.

Stok vaksin di klinik milik dr. Kristoforus Hendra Djaya, Sp.PD. ini cukup lengkap, dulu kami pernah memperoleh vaksin varicella di sana saat di tempat lain sudah langka (walaupun terakhir kami akan booster tifoid untuk Fathia ternyata kosong, dapatnya di Simple Vaccination). Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari rumah, bisa sekali naik angkot, walaupun biasanya kami ke sana naik motor.

Pilihan lain ada juga sebetulnya, yaitu memanfaatkan kunjungan imunisasi ke rumah/lokasi lain sesuai perjanjian dari Simple Vaccination di mana biaya jasa kunjungan bisa dibagi kalau ada barengannya (misalnya tetangga), selengkapnya saya ceritakan di postingan ini: Imunisasi Mudah dan Murah di Simple Vaccination.

Meski tidak secara eksplisit disampaikan, tetapi ucapan yang dikirim melalui e-mail tersebut juga sekaligus menjadi pengingat bahwa di usianya sekarang sudah saatnya Fahira mendapatkan imunisasi kembali. Saya sudah menelepon klinik tersebut beberapa hari yang lalu untuk mengecek ketersediaan vaksin (dan harganya) sekaligus membuat janji. Sesuai dengan jadwal rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2014, 24 bulan adalah waktunya anak mendapatkan vaksinasi tifoid dan hepatitis A dosis pertama (dosis kedua untuk Hepatitis A akan diberikan 6 bulan berikutnya). Oya, sebetulnya ada update yang konon untuk tahun 2016, dengan pergeseran jadwal imunisasi HiB dan tambahan vaksin japanese encephalitis untuk daerah endemis seperti Bali serta vaksin dengue, tetapi informasi di Gesamun menyatakan jadwal yang juga sudah diunggah ke instagram info_pediatri itu belum resmi karena memang di website IDAI sendiri belum ada.

Continue reading

[Kliping] Seputar Puyer

Dari kliping yang saya posting sebagai materi Mabes TATC beberapa tahun yang lalu

[MABES TATC, Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta]
Pagi Bunda (dan Ayah juga), kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai puyer. Mengapa di TATC seringkali ada yang menyarankan lebih baik jangan pakai puyer? Penjelasannya bisa Bunda/Ayah temukan di sini :).
Menyikapi Obat Puyer
Definisi penggunaan obat yang rasional (Rational Use of Medicine / RUM) oleh WHO secara jelas mensyaratkan 5 poin yang harus dipenuhi dalam peresepan/penggunaan obat, yaitu:

1. Tepat pasien

2. Tepat indikasi

3. Tepat obat

4. Tepat cara pemberian obat, frekuensi, dan lama pemberian obat

5. Tepat biaya.

Sedangkan penggunaan obat yang tidak rasional (Irrational Use of Drug/IRUD) ditandai dengan ciri-ciri:

1. Tidak ada atau kecil kemungkinan untuk memberikan manfaat.

2. Kemungkinan efek samping lebih besar dari manfaat.

3. Biaya terapi tidak seimbang dengan manfaat yang diperoleh.

WHO mencatat Polifarmasi adalah salah satu bentuk penggunaan obat tidak rasional/IRUD yang paling sering terjadi. Polifarmasi adalah penggunaan obat lebih dari 3 jenis obat untuk satu pasien.
Puyer Pintu Gerbang Polifarmasi
Puyer adalah bentuk polifarmasi yang paling sering terjadi dalam peresepan obat-obat untuk pasien anak karena obat puyer biasanya mengandung 2 – 5 jenis obat. Obat puyer banyak diresepkan untuk terapi penyakit-penyakit yang umum diderita bayi dan anak seperti batuk pilek dan diare.
Beberapa alasan dokter menuliskan resep puyer:

1. Tidak ada produk obat jadi di pasaran yang komposisi obatnya seperti yang diinginkan. Ujung-ujungnya adalah praktek polifarmasi.

2. Menyesuaikan dosis dengan berat badan anak.

3. Terbatasnya produk tetes dan sirup yang diproduksi oleh pabrik obat.

4. Biaya terapi lebih murah.
Yang perlu dicermati dalam peresepan puyer adalah, apakah pasien bayi dan anak memang sungguh-sungguh memerlukan kombinasi obat yang dipuyerkan, yaitu  hingga 3 – 5 jenis obat, bahkan tak jarang hingga 7 obat? Tidak jarang dokter justru mencampur obat yang hanya diperlukan untuk mengurangi gejala (simpomatik) dengan obat yang menjadi penyebab penyakit (kausal). Padahal ada perbedaan signifikan dalam lama pemberian obat simptomatik dan obat kausal. Obat yang dipakai untuk meredakan gejala cukup diminum hingga gejala berkurang. Sedangkan obat untuk penyebab penyakit misalnya antibiotik harus diminum dalam jangka waktu tertentu (misalnya 3 – 5 hari atau hingga obat habis).
Misalnya untuk kasus batuk pilek pada anak, dokter mencampur dalam satu puyer, obat penyebab penyakit seperti antibiotik dengan beberapa obat pereda gejala seperti:

1. Parasetamol: antipiretik/untuk menurunkan demam

2. Pseudoefedrin: dekongestan/pelega hidung tersumbat

3. Gliseril guaiakolat (GG): ekspektoran, memudahkan pengeluaran dahak

4. Chlorpheniramine (CTM) : antialergi

5. Kortikosteroid: untuk mengurangi peradangan

6. Luminal: obat penenang.

Jika seluruh obat untuk atasi gejala tersebut dicampur dengan obat antibiotik, maka aturan pakai dan lama pemakaian obat akan mengikuti aturan pakai antibiotik, yaitu digunakan selama 3 – 5 hari. Padahal, belum tentu gejala batuk pilek yang dialami si bayi berlangsung hingga 3 – 5 hari. Apakah bayi akan terus menerus mengalami demam selama 3-5 hari sehingga harus terus meminum parasetamol? Belum tentu! Bagaimana jika demam hanya berlangsung di hari pertama sakit, tapi parasetamol masih terus diminum selama 5 hari ke depan karena kadung dicampur dengan antibiotik? Tentu saja bayi dan anak yang paling dirugikan karena harus meminum obat-obat yang tidak perlu. Memperberat kerja hati dan ginjal, meningkatkan insiden efek samping obat dan tentu saja pemborosan biaya terapi. Inilah yang akhirnya menyebabkan penggunaan puyer menjadi tidak rasional. Selain itu perlu juga dipertanyakan efektivitas penggunaan 3 – 5 jenis obat simptomatik. Apakah memang perlu seluruh gejala yang dirasakan anak diatasi dengan obat?
Cermati Kualitas Puyer

Dari segi kualitas, obat puyer juga punya banyak kelemahan di mana kualitas dan keamanannya tidak terjamin. Meskipun ada kaidah-kaidah yang harus ditaati dan dilakukan apotek dalam menyiapkan obat puyer, tetapi tetap saja tidak menjamin sepenuhnya kualitas dan keamanan obat puyer. Berbeda dengan obat buatan pabrik, produsen obat diwajibkan oleh pemerintah memenuhi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada setiap produk obat yang dijual. CPOB dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga proses quality control. Kondisi ruangan pun sangat terkontrol, baik kelembabannya, jumlah partikel, kebersihan, dll. CPOB menjamin obat layak dikonsumsi dari segi kualitas dan keamanannya.
Kekurangan obat puyer dari segi kualitas obat meliputi:

1.Rusaknya obat akibat proses penggerusan. Seringkali pemilihan obat yang akan dicampur dalam puyer tidak memperhatikan aspek sifat fisika kimia obat. Misalnya, meracik obat yang disalut, obat lepas lambat, obat yang tidak stabil atau obat yang sifatnya higroskopis (menyerap air). Padahal proses penyalutan obat dan teknologi lepas lambat, punya tujuan tertentu, misalnya obat disalut karena tidak stabil dalam udara, obat mengiritasi saluran cerna, dan lain sebagainya. Jika obat-obat yang disalut kemudian diracik, itu sama artinya dengan merusak kualitas obat itu sendiri. Padahal harga obat yang dibayar pasien sudah termasuk harga teknologi penyalutan obat. Tapi kualitas obat yang diterima pasien, tidak sesuai dengan harga yang dibayar.

2. Dapat terjadi interaksi akibat pencampuran obat secara fisik. Pencampuran obat secara fisik dalam mortar dapat menimbulkan interaksi kimia fisika dari masing-masing bahan obat, yang kemungkinan besar tidak disadari oleh dokter yang meresepkan maupun Apoteker dan Asisten Apoteker yang menyiapkan puyer karena minimnya pengetahuan mengenai bahan baku obat (yang memang bukan kompetensi mereka, melainkan kompetensi apoteker yang bekerja di pabrik obat).

3. Kontaminasi oleh obat lain. Mortar terbuat dari bahan yang memiliki pori, sehingga besar kemungkinan banyak bahan obat yang terjebak dalam pori-pori mortar. Meskipun mortar sering dicuci, tidak menjamin bahan obat lain yang terjebak dalam pori-pori mortar tidak ikut tercampur dengan obat puyer yang sedang disiapkan. Apalagi jika apotek hanya menggunakan satu – dua mortar untuk segala macam obat yang dibuat puyer dan tidak menyiapkan mortar khusus untuk obat-obat yang seharusnya tidak boleh dicampur pembuatannya dengan obat lain, seperti obat-obat antibiotik betalaktam dan produk hormon. Di pabrik, hal ini tidak akan terjadi karena CPOB mensyaratkan kedua obat tersebut dibuat di fasilitas produksi yang terpisah dengan fasilitas produksi obat golongan lain.

4. Tidak Homogen. Kemungkinan obat yang dicampur tidak homogen dapat saja terjadi terutama jika obat yang digerus seluruhnya berwarna putih. Obat yang tidak homogen sangat berpengaruh pada ketepatan dosis dan efek terapi yang diharapkan.

5. Stabilitas obat tidak dapat dijamin. Selain obat sudah rusak duluan akibat penggerusan, penyimpanan obat dalam kertas pembungkus juga tidak dapat menjamin sepenuhnya obat akan stabil selama penyimpanan. Karenanya, sebaiknya obat puyer tidak disimpan untuk dipakai lagi kemudian hari. Berbeda sekali dengan obat buatan pabrik. Di pabrik obat, obat jadi wajib memenuhi uji stabilitas selama 3 – 6 bulan sebelum obat dipasarkan. Uji stabilitas ini yang menjadi dasar penetapan umur obat (shelf life).

Dosis Puyer Lebih Tepat, Benarkah?

Meskipun dengan puyer, dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak, tapi ketepatan pemberian dosis melalui puyer sebenarnya juga patut dipertanyakan. Kok bisa? Yup, karena pada saat puyer hasil racikan akan dibagikan di kertas pembungkus, kenyataannya serbuk tidak ditimbang terlebih dahulu. Ketepatan pembagian obat puyer hanya berdasarkan evaluasi visual asisten apoteker. Belum lagi jika pencampuran obat tidak homogen yang membuat jumlah obat dan dosis dalam tiap bungkus puyer tidak sama.
Sumber: http://sobatobat.blogspot.com. Lebih lengkap bisa disimak di http://puyer.wordpress.com.
Tambahan catatan dari dokter anak saya:

****bila diresepkan puyer:****

1. tanyakan diagnosis pasti dan penyebab, bila infeksi virus tidak perlu diberi obat kecuali penurun panas jika perlu.

2. bila ternyata butuh obat misalkan antibiotik untuk infeksi bakteri dan butuh pula penurun panas, mintalah resep obat terpisah bukan dalam bentuk puyer. Bila terpaksa harus dalam sediaan puyer, mintalah puyer terpisah untuk setiap satu jenis obat.

3. selalu tanyakan obat yang diberikan, termasuk kandungan obat, nama generik, efek samping/reaksi obat, cara penggunaan dan penyimpanan.

4. jangan lupa untuk minta dibuatkan copy resep.

 

 

=================

Tentu ada yang kontra, ya. Alasan kepraktisan sering dikemukakan. Salah satunya datang dari seorang akwan yang anaknya berkebutuhan khusus, bentuk puyer menurutnya lebih mudah untuk diberikan ke anak apalagi kalau obatnya ada banyak jenis. Nah, biar ‘berimbang’ (walaupun saya lebih cenderung ke tulisan di atas untuk kehati-hatian yang beralasan), berikut tanggapan dari dokter lain saat pro kontra puyer mengemuka di tahun 2009 (karena dibuatkan laporan khususnya oleh RCTI waktu itu): http://news.okezone.com/read/2009/02/13/1/192600/perdebatan-soal-puyer-tidak-pada-substansinya. Salah satu yang disiratkan di situ adalah, kalau memang segitu berbahaya, ke mana WHO sebagai badan kesehatan dunia?

Ternyata pada tahun 2011 WHO mengeluarkan publikasi Indonesia Pharmaceuticals in Health Care Delivery – Mission Report 10 – 23 July 2011 yang dilaporkan oleh Kathleen A Holloway, Regional Advisor in Essential Drugs and Other Medicines, World Health Organization, Regional Office for South East Asia, New Delhi, dan puyer disebut-sebut di situ. Lengkapnya di sini http://www.searo.who.int/entity/medicines/indonesia_situational_analysis.pdf., sebagian saya kutip sebagai berikut:

Prescribing data from MOH in 2010 showed serious polypharmacy and high use of antibiotics. The consultant undertook a rapid prescription survey and also found polypharmacy and high use of antibiotics, vitamins and steroids. At the primary care level most drugs were prescribed by generic name and belonged to the EML, but in hospitals and the private sector few drugs belonged to the EML and most were prescribed by brand name. Puyer is a common unsafe practice observed in all facilities, where different drugs are mixed together, pulverized and then the powder divided into separate doses by eye. There are national standard treatment guidelines for puskesmas (PHCs) but they are not used much by doctors. All hospitals are mandated to have a Drug & Therapeutics Committee, but most of them function poorly and are only involved in development and printing of the hospital formulary.
Continuing medical education (CME) is adhoc mainly consisting of lectures arranged by the local medical association and sponsored by the pharmaceutical industry. The medical council has introduced a CME credit system in which 250 points are needed every 5 years for relicensing but points can be gained without learning anything about prescribing. The Directorate of Pharmaceutical Services undertakes prescription monitoring in the puskesmas, training of pharmacists in good pharmaceutical care and a community empowerment program. However, there appears to be no active program to promote rational use of medicines targeted at doctors, who are the main
perpetrators of irrational prescriptions.

……

The practice of puyer is where 2 or more (often 5-10) different prescribed drugs (the number of tablets varying according to the number of drugs and the amount of each drug prescribed), are pulverized together into a powder and then allocated into a number of doses, packaged separately, by eye. This practice was observed in all facilities. Sometimes a pestle and mortar was used and sometimes a food mixer. The food mixer was wiped with a dry cloth between making different puyers in one puskesmas. Irrational fixed-dose combination products were also frequently used.
Box 1 shows examples of puyers and irrational fixed-dose combination products that were observed to be used.
None of the prescribing doctors met in the puskesmas or district hospitals felt that puyer was unsafe or ineffective. None seemed to know of the effort made by manufacturing companies to ensure bioavailability of fixed-dose combination products or that puyer ignores good manufacturing practices. In addition, many irrational fixed-dose combination products on the market were highly popular. All the prescribing observed was done by doctors. However, it was mentioned by the MOH that in remote parts of Indonesia, prescribing is done by paramedical staff and nurses.

 

Itu data tahun 2011 ya, sementara belum nemu yang lebih baru. Tapi yang jelas, praktik puyer ini masih jalan hingga saat ini di kota besar, baru saja saya baca seorang teman yang tinggal di Jakarta bilang bahwa dokter anak-anaknya selalu meresepkan puyer untuk penyakit common problems. Saya pun bukan tak pernah dikasih puyer untuk anak, hanya saja sebetulnya di resep tidak ada instruksi untuk menghaluskan (karena dokter yang meresepkan jelas-jelas aktif berkampanye tolak puyer pada masanya), apoteker di apoteknya saja yang berinisiatif membuatnya jadi puyer (+gula tentunya) karena tahu ini untuk anak-anak.

Mengenalkan Anak pada Penyandang Kelainan Langka

Bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan berbagai keunikan masing-masing, itu cukup saya pahami. Bagaimana memberikan pengertian ke anak terkait hal tersebut adalah suatu PR lain yang belum usai. Anak-anak cepat atau lambat akan menyaksikan dan bersentuhan dengan keberagaman di masyarakat. Kendati fitrah anak-anak adalah penuh kasih sayang, tetapi sudahkah mereka dibekali dengan benar bagaimana cara bergaul dan memperlakukan orang lain yang mungkin berbeda secara fisik? Terus terang, kalimat yang paling mudah dilontarkan adalah, “Kasihan ya… makanya kamu harus bersyukur.” Namun, apakah sesederhana itu? Benarkah penyandang kelainan langka atau rare disorders, juga keluarganya, adalah insan yang patut menerima pandangan iba?

Saya sendiri pada awalnya mengenal kelainan langka sebagai ‘sekadar’ salah satu kondisi kesehatan yang berbeda dari biasa. Belakangan saya baru tahu, sebagaimana namanya, kondisi yang satu ini ditandai dengan angka keterjadiannya yang kecil. Yang belum teridentifikasi pun ada. Saya kutip dari web resmi Indonesia Rare Disorders,

Suatu kelainan atau penyakit dikategorikan langka jika angka kejadiannya adalah 1 : 2.000 atau lebih. Saat ini ada sekitar 6.000 – 8.000 jenis kelainan langka yang telah teridentifikasi, dan jumlah ini terus bertambah setiap minggunya.

Sekarang mari kita berhitung. Jika populasi Indonesia diperkirakan sebanyak 250.000.000 orang, maka ada sekitar 125.000 orang yang menyandang rare disorder, ini jika angka kejadiannya adalah 1 : 2.000. Ini baru perhitungan jumlah maksimal dari 1 jenis kelainan/penyakit, sementara yang sudah teridentifikasi saja ada sekitar 6.000 – 8.000 jenis, maka jumlahnya sekitar 75.000.000 – 100.000.000 orang atau sekitar 30 – 40% dari total jumlah penduduk. Angka ini bisa lebih kecil karena yang digunakan adalah prevalensi terendah yaitu 1 : 2.000, semakin langka maka tentu saja jumlah penyandangnya akan semakin sedikit, namun bagaimanapun, ini bukanlah jumlah sedikit, bukan hal sepele yang bisa begitu saja diabaikan, apalagi rare disorders ikut menyumbang sekitar 35% angka kematian anak usia di bawah 1 tahun.

Karena langkanya itulah, banyak saya rasa yang belum mengetahui adanya sindrom seperti Cornelia de Lange, Treacher Collins, Pierre Robin Sequence, dan seterusnya. Media massa ada sih yang memberitakan atau mengangkat cerita penyandang kelainan langka, tapi jujur saja, seringkali nama kondisi tersebut singgah sejenak saja di ingatan, apalagi kebanyakan istilah yang digukanan berbahasa asing. Namun, dari yang sedikit itu pun saya rasa cukup turut andil menggugah perhatian pembaca. Siapa tahu ada kenalan pembaca yang punya ciri-ciri atau gejala serupa, lantas pembaca tersebut jadi bisa menyarankan kenalannya untuk mencari tahu lebih jauh dengan lebih terarah atau menganjurkan ke tenaga kesehatan yang tepat. Sebab sebagaimana yang saya ketahui belakangan, terkadang tenaga medis pun tidak mengetahui kondisi rare disorders tertentu kecuali aktif mencari tahu atau bertanya ke sejawat yang lebih berpengalaman, saking langkanya. Belum lagi, kadang kondisi fisik yang berbeda kadang dianggap ‘aib’ yang mesti ditutupi, rawan dihinggapi mitos tak logis, sampai-sampai bisa jadi akibat begitu malu atau tertekannya (bahkan mungkin ada penyangkalan) hingga tidak ada bayangan untuk mencari bantuan (support group, terapi, bahkan mendapatkan diagnosis) yang pas.

Maka kehadiran komunitas Indonesia Rare Disorder saya rasa sangat baik untuk meingkatkan kepedulian masyarakat, juga memberdayakan penyandang dan keluarganya. Awalnya saya kenal dengan mba Wynanda B.S. Wibowo melalui grup pendukung ASI, Tambah ASI Tambah Cinta (TATC). Tahun 2014 mba Wyn melahirkan anak kedua, Kirana, yang mendapatkan diagnosis Pierre Robin Sequence. Dasarnya saya suka kepo, saya pun kadang menyempatkan searching soal sindrom/sequence tersebut, meski pengetahuan saya tentunya tetap jauh tertinggal dari mba Wyn yang saya kenal begitu gigih. Rangkaian konsultasi, pemeriksaan, dan tindakan yang harus dihadapi Kirana cukup banyak dan itu pun masih menyisakan banyak pertanyaan hingga kini. Dari pengalamannya itulah mba Wyn lalu bergerak bersama beberapa orang teman, mendirikan komunitas IRD. Dengan motto “Langka, Nyata, Berdaya” yang juga tampil disimbolkan lewat penyu nan lucu, para orangtua dan penyandang IRD saling mendukung dan mengadakan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan sesama orangtua maupun masyarakat pada umumnya. Di antara informasi yang saya peroleh dari mengikuti (kendati tidak intens sekali) aktivitas komunitas tersebut adalah fakta bahwa kelainan genetika tidak selalu diturunkan dari generasi sebelumnya dan tidak selalu menurun ke generasi berikutnya.

img-20160808-wa0005.jpg

Salah satu kegiatan komunitas IRD yang saya hadiri adalah acara talk show di Casa Grande Residence, Jakarta, pada tanggal 7 Agustus lalu. Materinya mencakup tentang Optimalisasi Kualitas Hidup Bayi Prematur oleh dr. Agung Zentyo Wibowo, B.Med.Sc. yang juga founder Komunitas Prematur Indonesia, Pentingnya Menjaga Kesehatan Mulut dan Gigi Sejak Dini oleh drg. Lila Susanti, Sp. KGA (dokter gigi spesialis anak), dan Memahami Gangguan Makan dan Gangguan Pertumbuhan pada Anak oleh dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A., IBCLC. Penampilan Alafta Hirzi “Zizi” Sodiq, penyandang tunanetra akibat ROP (retinopathy of prematurity) berusia 8 tahun yang piawai memainkan piano (belajarnya otodidak, lho) sambil bernyanyi dengan suara merdu mau tak mau membuat saya berkaca-kaca… bukan apa-apa, saya jadi ingat papa yang selama beberapa tahun terakhir hidup beliau juga kehilangan penglihatan walau karena sebab yang berbeda dengan Zizi.

Apa yang disajikan oleh para pembicara dalam talk show tersebut amat menambah wawasan (kalau mau baca juga presentasinya, bisa ke web IRD). Saat menghadiri acara tersebut saya mengajak serta seluruh anggota keluarga: suami dan anak-anak (Fathia 4,5 tahun dan Fahira 1,5 tahun). Alasan saya membawa anak-anak, pertama karena tak ingin kehilangan momen kebersamaan di akhir pekan sembari tetap ikhtiar memperluas wawasan. Juga agar mereka berinteraksi langsung dengan teman-teman penyandang IRD. Kenyataannya sih 2F malu-malu bergabung dengan anak-anak lain, lebih sering main berdua atau bergelayutan pada kami. Tapi setidaknya mereka bisa melihat teman-teman istimewa yang dengan seru main bersama. Sebelumnya Fathia memang pernah saya ajak juga ke acara talk show grup TATC di mana ia untuk pertama kalinya bertemu dengan mba Wyn dan mba Yola Tsagia (founder IRD juga) dengan putrinya Odil. Fathia juga pernah saya ajak menonton acara televisi yang menampilkan keluarga mba Wyn dan mba Yola dengan tema Mari Mengenal Rare Disorders, serta ikut menyimak artikel majalah yang memuat mereka yang sengaja saya beli.

14124926_1768967536706212_7541180624862574379_o.jpg

Muncul pertanyaan dari putri kecil saya, pastinya. Kenapa wajahnya begitu, kenapa harus pakai alat itu, kenapa jalannya gitu? Hasil silent reader saya di grup membantu saya memilih kata yang tepat untuk disampaikan kepadanya. Penyandang IRD dan keluarganya bukan mengiba belas kasihan, mereka justru mencontohkan sesuatu. Tuhan tentu memberikan kondisi spesial pada ciptaan-Nya yang istimewa dan dikelilingi orang-orang istimewa pula. Bahkan dengan mengesampingkan kondisi psikis yang mungkin terpantik akibat pandangan miring pun, masih tetap banyak tenaga, waktu, bahkan biaya yang perlu dikeluarkan untuk sesi pemeriksaan jasmani, tes lab, terapi khusus, diet tidak biasa, obat, dan alat bantu. Pendeknya, perlu semangat juang yang kuat. Semangat itulah yang patut diteladani. Kalaupun memang penyandang IRD perlu perlakuan atau fasilitas khusus, itu tak lepas dari hak tiap manusia mendapatkan kenyamanan mendasar yang toh tidak sampai mengganggu hak orang lain dan naluri serta kewajiban manusia juga untuk saling menolong. Selain itu, yang saya tanamkan juga adalah kebutuhan, bukan hanya keharusan, untuk mensyukuri segala kondisi.

Selamat ulang tahun IRD, semoga makin berkah dan menyebar manfaat :).

 

(Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “IRD Awareness Writing Contest: Mari Mengenal Rare Disorders”)

#IRDAwarenessMonth #MariMengenalRareDisorders #IndonesiaRareDisorders

 

Pernak-pernik Pap Smear

speculum

Tahun lalu untuk pertama kalinya saya menjalani pemeriksaan pap smear di puskesmas. Akhirnya eksekusi juga, walaupun sebetulnya sih alasan kenapa belum pap smear juga padahal sudah punya anak dua itu karena sok sibuk bukan karena takut hehehe. Nggak mungkin dong pap smear lebih sakit daripada yang saya jalani enam tahun yang lalu, kuret karena keguguran dengan bius total yang tidak sepenuhnya ngefek. Memang sih, baik pap smear maupun kuret sama-sama melibatkan pemakaian speculum alias cocor bebek (gambarnya seperti di samping, ngambil dari fotosearch, ada juga lab yang pakai spekulum dari bahan plastik dan sekali pakai buang). Fungsi spekulum ini adalah untuk menahan atau menyangga bukaan vagina untuk tindakan selanjutnya. Rada nggak nyaman sih, memang, saat eksekusi. Tapi habis itu kan udah, berlalu. Beda dengan keguguran, nyeri badan iya, ngilu di hati juga. Jadi soal takut sakit sih in sya Allah lewat, lah.

Tarif pap smear di puskesmas kecamatan (sekarang sudah jadi RSUK) dekat rumah 70ribu, sambil dikerubutin yang magang, dan hasilnya memang agak lama keluar jika dibandingkan dengan cerita-cerita yang katanya seminggu, soalnya sampel harus dikirim ke lab luar dulu. Sewaktu hasilnya siap, bu bidan mengirimkan sms menginformasikan agar saya mengambilnya. Hasilnya ditemukan ada peradangan dan disarankan ketemu dengan dokter kandungan di puskesmas, tapi saya belum sempat-sempat dan hanya diskusi dengan dokter keluarga kami, yang bilang gpp kok sebetulnya.

Continue reading

SMSBunda, Perantara Menuju Keselamatan Ibu dan Bayi

“Wah, boro-boro, deh…baca tulisan di dokumen grup aja suka pada males, kok!” demikian komentar dari seorang kawan sesama admin grup ketika kami membahas kemungkinan penerbitan buku yang dirancang komplet menjawab pertanyaan para ibu dan calon ibu khususnya terkait ASI, MPASI, dan kesehatan keluarga secara umum. Ingin rasanya saya membantah, berhubung saya suka sekali membaca. Namun, saya harus mengakui, sebagaimana yang pernah saya baca, rentang konsentrasi manusia masa kini menurut penelitian memang menurun. Daya tahan untuk membaca artikel panjang konon menipis. Banjir informasi instan di era teknologi informasi seperti sekarang, di mana untuk memperoleh jawaban dari suatu pertanyaan kadang cukup dengan sekali klik, acapkali justru membuat kewalahan. Seringkali sebuah informasi hanya dibaca sekilas kemudian perhatian teralih ke informasi lain yang ‘memanggil-manggil minta dibaca’.

Belum lagi jika bicara soal keterbatasan waktu. Se-multitasking-multitasking-nya seorang perempuan, seolah masih terlalu banyak hal yang ia harus kerjakan. Sebuah tips mengatakan bahwa multitasking dalam tindakan itu produktif dan menghemat waktu, sedangkan multitasking dalam pikiran itu bikin waktu terbuang percuma. Pada kenyataannya, yang namanya ibu pasti pernah mengalami yang seperti ini: menyusun menu untuk esok hari di kepala sambil mengingat-ingat jadwal imunisasi anak sembari memeriksa tas sekolah anak untuk besok seraya menyimak informasi mengenai banjir di televisi.

Di sisi lain, update ilmu baru sepertinya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Panduan MPASI terbaru, step by step IMD (Inisiasi Menyusu Dini), petunjuk perawatan tali pusat bayi baru lahir, jenis vaksin yang belum pernah ada sebelumnya, tata laksana ketuban pecah dini…semuanya perlu untuk dipelajari setidaknya sebagai bekal jika suatu saat mengalami baik diri sendiri maupun orang terdekat, tapi kapan waktunya? Padahal seorang ibu adalah manajer keluarga yang sekaligus menjadi pengambil keputusan-keputusan penting. Tentu, ayah pun seharusnya belajar bersama. Namun, sebagai pihak yang mengalami sendiri kehamilan, juga lazimnya lebih sering berinteraksi dengan bayi/anak, sudah sewajarnya ibu lebih tanggap dan aktif mencari informasi, yang nantinya bisa didiskusikan dengan suami. Kapan harus ke dokter? Bahan makanan mana yang aman dikonsumsi ibu hamil? Bagaimana jika menemui tantangan dalam menyusui? Bolehkah ibu menyusui memakai produk perawatan kulit? Kapan perlu khawatir ketika gigi anak tidak kunjung muncul?

Continue reading

Tentang Jentik Nyamuk, Denda, dan Fogging

Sebuah spanduk menarik perhatian saya saat sedang mampir jajan sepulang kantor.

img-20160813-wa0000.jpg

Wah. Saya baru tahu. Serem juga yak, sanksinya :D. Kalau ada jentik nyamuk ditemukan di rumah kita, kita bisa kena denda s.d. 50 juta!

Seperti biasa, saya tanya paman Google dan menemukan jawaban bahwa memang ada Perda Provinsi DKI Jakarta No. 6 Tahun 2007 tentang Pengendalian Penyakit DBD. Pada pasal 21, disebutkan bahwa:

Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan pada tempat tinggalnya ditemukan ada jentik nyamuk Aedes aegypti atau jentik nyamuk Aedes albopictus dikenakan sanksi sebagai berikut:
a. Teguran tertulis;
b. teguran tertulis diikuti pemberitahuan kepada Masyarakat melalui penempelan stiker di pintu rumah;
c. denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah) atau pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan.

Saya coba cari peraturan yang lebih baru tapi belum nemu, jadi masih pakai yang di atas ya berarti. Ada juga Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 21 tahun 2016 tanggal 17 Februari 2016 tentang Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang di antaranya mencantumkan juga aneka tanaman yang dapat menjadi alternatif pengusir nyamuk.

tanaman nyamuk 1tanaman nyamuk 2tanaman nyamuk 3tanaman nyamuk 4

Pemprov DKI memang tidak main-main soal upaya pencegahan demam dengue ini (soal beda demam dengue dan demam berdarah dengue bisa lihat postingan yang ini ya). Beberapa berita saya kutip dari http://jakarta.go.id sbb:

“Saat pemberantasan sarang nyamuk (PSN) saya akan datangi sekolah-sekolah. Kalau ketika PSN saya menemukan jentik nyamuk, dia sudah melanggar pakta integritas Perda Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Pengendalian Demam Berdarah Dengue,” ujar Edy Suherman, Camat Kebayoran Baru, Selasa (23/2).

Menurut Edy, jika ditemukan jentik, pertama akan ada surat teguran kepada pihak sekolah. Namun setelah diberikan waktu pembersihan masih ditemukan, sekolah tersebut akan ditempel stiker yang menginformasikan bahwa ada jentik nyamuk di lingkungannya.

“Saya akan pasang stiker di sekolah itu dan akan saya ekspos bahwa di sekolah tersebut terdapat jentik nyamuk. Buat sekolah-sekolah yang kita tidak temukan jentik nyamuk kita berikan stiker bebas jentik nyamuk,” tandasnya.

http://www.jakarta.go.id/v2/news/2016/02/ditemukan-jentik-nyamuk-sekolah-dapat-sanksi-sosial#.V6wxwxJ35dY

“Nyamuk DBD ini hanya menggigit pada jam 9 sampai jam 1 siang berarti bisa disimpulkan bahwa sasarannya adalah anak sekolah. Oleh karena itulah, kepala sekolah dan unsur lainnya harus giat mengecek jentik nyamuk di lingkungan sekolah,” jelas Ahok dihadapan ratusan peserta apel gerakan PSN yang terdiri dari siswa, guru, kepala sekolah, kader jumantik, anggota PPSU dan lain-lain.

http://utara.jakarta.go.id/srv4/detail/Gubernur-DKI-Jakarta-Monitoring-Gerakan-PSN

Wilayah yang masih kedapatan jentik nyamuk dan masyarakat yang terjangkit, perangkat pemerintahnya termasuk Camat, Lurah dan para Kepala Bagian terancam  kehilangan TKD (tunjangan kinerja daerah) selama satu bulan serta pemutasian Kepala Sekolah dan para guru di sekolah-sekolah yang kedapatan jentik. Sementara itu Walikota juga menyampaikan ancaman pencabutan satu bulan TKD kepada UKPD yang terlambat dalam memberikan gaji kepada para petugas PPSU.

http://selatan.jakarta.go.id/news/2016/02/tkd-hilang-sebulan-karena-jentik-nyamuk

Ngomong-ngomong pengendalian nyamuk, jadi ingat beberapa bulan yang lalu ketika fogging sedang gencar dilaksanakan. Efektifkah? Beberapa tulisan berikut mungkin bisa menjawab.

Agar terbebas dari penyakit demam berdarah dengue, sejumlah orang kerap melakukan fogging. Kegiatan ini pun dijadikan agenda rutin setiap bulan di lingkungan. Sayangnya, fogging tidaklah efektif.

Menurut ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor dr Saleha Sungkar, SpPar(K) fogging tidak bisa diandalkan untuk menghilangkan nyamuk aedes aegypti dan virus zika. Pasalnya, nyamuk tersebut memiliki pola hidup yang berbeda dari nyamuk lainnya.

“Aedes aegypti sangat suka bau manusia. Di mana yang ada bau paling keras? Ya di kamar tidur, di lemari, di pakaian yang menggantung. Ketika ada upaya fogging di jalanan atau di got nyamuk Aedes yang di kolong tempat tidur nggak mati. Oleh karena itu fogging sampai sekarang tidak pernah berhasil memberantas aedes aegypti,” papar Saleha saat panel diskusi Zika di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Rabu (17/2/2016).

Saleha menjelaskan, selama 25 tahun fogging dilakukan di negara ASEAN sebagai bentuk kontrol penyakit demam berdarah dengue. Namun, angka kejadian penyakit tersebut terus meningkat.

Fogging membuat rasa aman yang palsu, orang senang aja karena sudah disemprot nggak ada nyamuk padahal yang mati nyamuk Culex, nyamuk got, Aedes aegypti-nya masih ada,” kata dia.

Sementara, cara yang paling efektif untuk memberantas nyamuk adalah dengan cara rutin menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air atau mengubur kaleng bekas. “Kalau menutup nggak rapat dia bisa masuk malah jadi merasa terlindung. Kalau mengubur lahan di Jakarta udah sempit,” ujar dia.

(alv)

sumber: http://lifestyle.sindonews.com/read/1086119/155/fogging-tak-efektif-basmi-nyamuk-1455714832

Bila ada kasus seseorang kena Demam Berdarah Dengue di lingkungan, hal yang sering dituntut oleh masyarakat adalah untuk segera melakukan fogging. Alasannya mungkin karena lebih praktis daripada harus bersih-bersih rumah memberantas sarang nyamuk.

Padahal menurut ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor dr Saleha Sungkar, SpPar(K), fogging adalah cara yang tak efektif untuk memberantas nyamuk penyebar Demam Berdarah Dengue dan juga virus Zika: Aedes aegypti. Nyamuk A.aegypti adalah jenis nyamuk yang telah mengembangkan ‘rasa’ terhadap manusia dan pola hidupnya berbeda dari nyamuk lain.

Sebagai contoh bahkan ketika dibandingkan dengan nyamuk kerabatnya Aedes albopictus, A.aegypti lebih berhati-hati. A.aegypti akan memilih tempat yang kuat bau manusianya di dalam rumah sebagai tempat istirahat sementara A.albopictus istirahatnya di semak-semak.

“Aedes aegypti sangat suka bau manusia. Di mana yang ada bau paling keras? Ya di kamar tidur, di lemari, di pakaian yang menggantung. Ketika ada upaya fogging di jalanan atau di got nyamuk Aedes yang di kolong tempat tidur enggak mati. Oleh karena itu fogging sampai sekarang tidak pernah berhasil memberantas Aedes aegypti,” kata dr Saleha ditemui di FKUI, Salemba, Jakarta, Rabu (17/2/2016).

Baca juga: Saktinya Para Nyamuk, Puluhan Tahun Dibasmi Tapi Tidak Punah-punah

“Fogging sudah 25 tahun dilakukan sebagai kontrol Dengue di negara-negara ASEAN tapi angka kejadiannya tetap meningkat. Fogging membuat rasa aman yang palsu, orang senang aja karena sudah disemprot enggak ada nyamuk padahal yang mati nyamuk Culex, nyamuk got, Aedes aegypti-nya masih ada,” lanjutnya.

dr Saleha mengatakan saat ini cara yang paling efektif untuk memberantas nyamuk adalah dengan rutin menguras tempat penampungan air. Saran lain untuk menutup tempat penampungan air atau mengubur kaleng bekas misalnya bisa juga dilakukan namun harus benar.

“Kalau menutup enggak rapat dia bisa masuk malah jadi merasa terlindung. Kalau mengubur lahan di Jakarta udah sempit,” ucap dr Saleha.(fds/up)

sumber: http://health.detik.com/read/2016/02/17/132757/3144280/763/ini-alasan-mengapa-fogging-tak-pernah-berhasil-basmi-nyamuk

KOMPAS.com – Akibat wabah DBD, hampir seluruh wilayah di negara kita melakukan pengasapan atau fogging. Fogging berguna untuk memutus rantai pertama risiko penularan DBD dan penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk.

Kata kuncinya di sini adalah; memutus rantai pertama. Artinya, fogging hanya solusi sementara, bukan solusi jangka panjang untuk menghentikan wabah. Berikut ini alasan mengapa fogging tidak terlaksana dengan efektif dan tidak bisa dianggap sebagai solusi jangka panjang.
1. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa
Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, mengurangi populasinya dan ini hanya bersifat sementara. Larva nyamuk tidak terpengaruh oleh fogging dan hanya butuh beberapa hari bagi mereka untuk menetas menggantikan senior-seniornya yang mati terbunuh.

2. Fogging tidak membunuh larva nyamuk
Fogging bukan jawaban jika Anda ingin mengenyahkan larva nyamuk. Satu-satunya cara untuk membasmi larva itu adalah dengan tidak membiarkan ada air tergenang. Jika ada wadah berisi air yang tidak mungkin dikeringkan, menaburkan bubuk abate bisa membantu membunuh larva.

3. Anda tidak di rumah saat ada fogging
Nyamuk mencari makan bukan hanya di luar rumah, tapi juga di dalam rumah. Karena itu, sebaiknya fogging juga dilakukan di dalam rumah. Ini berarti, Anda harus berada di rumah untuk membukakan pintu bagi petugas fogging.

4. Anda tidak membiarkan petugas masuk rumah
Ada berbagai alasan mengapa orang tidak suka ada orang asing masuk ke dalam rumahnya. Salah satu alasannya adalah kekhawatiran terjadinya pencurian. Untuk mengantisipasi hal ini, sebaiknya petugas fogging didatangkan dari institusi kesehatan pemerintah, memakai seragam dan tanda pengenal. Atau, petugas fogging melakukan tugasnya dengan disertai pengurus warga setempat sebagai penanggungjawab pelaksanaan fogging.

Ada baiknya juga jika beberapa hari sebelum fogging, pemerintah atau pengurus warga membuat pengumuman. Pengumuman ini berguna supaya warga dapat mempersiapkan diri dan mengamankan barang-barang berharga ketika rumahnya dimasuki orang asing.

5. Anda takut fogging bisa membunuh Anda atau hewan piaraan Anda
Konsentrasi pestisida yang digunakan untuk fogging cukup kuat untuk membunuh nyamuk, tapi tidak akan kuat membunuh kelinci, kucing atau hewan peliharaan lainnya, termasuk tidak akan membunuh Anda. Senyawa kimia yang digunakan untuk fogging juga bersifat cepat terurai oleh udara bebas dan sinar matahari. Selain itu, dengan kadar yang tepat, bahan kimia yang digunakan tidak bersifat akumulasi dan tidak menyebabkan keracunan.

6. Perawatan mesin fogging menghabiskan banyak biaya
Ada beberapa wilayah yang memiliki mesin fogging dan melaksanakan program fogging secara mandiri. Anggapan bahwa perawatan mesin fogging adalah pemborosan, dapat membuat warga malas mendukung program fogging. Seperti mesin mobil, mesin fogging juga perlu dirawat dan dibersihkan agar berumur panjang. Mulut pipa mesin fogging harus rajin dibersihkan dari kotoran yang menempel. Kotoran yang menyumbat pipa tidak hanya membuat mesin cepat rusak, tapi juga menimbulkan asap tebal yang memicu batuk dan tidak efektif dalam membunuh nyamuk.

7. Kekurangan petugas, peralatan dan area yang perlu ditangani terlalu luas
Fogging bukan cuma kegiatan menyemburkan asap pestisida. Fogging memerlukan teknik yang benar supaya efektif membunuh sebanyak-banyaknya nyamuk. Selain dosis dan jenis bahan kimia harus tepat, petugas fogging juga harus menguasai teknik ayunan, kecepatan gerak, membaca arah angin dan lain sebagainya. Kurangnya keterampilan dan jumlah petugas, alat dan area yang terlalu luas, membuat program fogging menjadi tidak efektif.

Kesimpulan
Fogging jika dilakukan dengan benar, akan efektif untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di tahap awal. Tahap selanjutnya perlu melibatkan seluruh anggota masyarakat.

Tak perlu alat yang canggih, cukup jaga kebersihan rumah dan lingkungan, singkirkan sampah yang berpotensi menjadi tempat genangan air, gunakan losion antinyamuk, kuras dan tutup tempat penampungan air, pastikan saluran air berjalan lancar tidak tertutup oleh sampah. Lakukan ini setiap hari, bukan cuma saat ada wabah saja.

sumber: http://health.kompas.com/read/2016/02/23/091900623/7.Sebab.Fogging.Tidak.Efektif.Menghentikan.Wabah.DBD

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jambi menilai tindakan fogging atau pengasapan yang dilakukan untuk pemusnahan nyamuk yang menjadi sumber penyakit malaria dan dan demam berdarah di musim hujan saat ini sangatlah tidak efektif.

“Memang salah satu cara yang paling populer yang dilakukan adalah fogging atau pengasapan di kampung-kampung, dan sekolah-sekolah. Tapi cara ini sangat tidak efektif untuk memusnahkan atau menghilangkan tingkat risiko serangan nyamuk,” kata Sekretaris IDI Jambi, dr Emil di Jambi, Senin.

Hal tersebut disampaikannya saat melakukan penyuluhan pencegahan penyakit-penyakit menular ke sekolah-sekolah di kecamatan Jambi Timur belakangan ini.

Menurut dia, cara fogging atau pengasapan terhadap kampung-kampung, sekolah-sekolah dan pasar-pasar bila dilakukan dengan maksud membangun citra sehubungan dengan pencalonan dirinya sebagai kepala daerah menjelang musim Pilkada, justru bisa berdampak negatif.

“Pasalnya dari penelitian yang dilakukan Dinkes dan IDI dari tindakan fogging yang dilakukan hanya 40 persen nyamuk saja yang mati, sementara 40 persen lainnya hanya mengalami pelemahan sementara dan 20 persen lagi justru selamat dan dapat meneruskan hidup serta perkembangkan biaknya,” ujar Emil.

Dikatakannya, yang lebih mencemaskan adalah nyamuk-nyamuk yang selamat dari tindakan fogging tersebut itu adalah nyamuk-nyamuk dengan genetik yang kuat dan tahan, sehingga pada perkembangbiakan berikutnya nyamuk-nyamuk kuat ini akan menurunkan genetis nyamuk-nyamuk yang tahan terhadap fogging.

Sehingga akhirnya tindakan serupa di masa-masa berikutnya tidak akan berdampak meninggalkan efek atau dampak apa-apalagi pada keturunan mereka, karena yang tersisa adalah induk-induk terpilih.

“Selain itu, ketidakefektifan fogging juga dikarenakan tindakan ini hanya akan mengenai induk-induk atau nyamuk-nyamuk dewasa, sementara telur dan jentik-jentiknya yang tersimpan di genangan air justru akan selamat semuanya untuk selanjutnya dalam beberapa hari sudah tumbuh menjadi nyamuk dewasa pula,” ujarnya.

Dia mengingatkan, tindakan pemusnahan yang dilakukan sesungguhnya paling ideal adalah memusnahkan jentik-jentik dan sarang-sarang nyamuk berupa genangan air dengan cara 3M atau menebarkan bubuk abate ke dalam tempat penampungan air keluarga.

“Dari penelitian kami, cara penebaran bubuk pemusnah bibit nyamuk digenangan air ini terbukti sangat ampuh, 100 persen jentik dan telur nyamuk yang ada di wadah air tersebut didapati jadi mati semua. Perlu diketahui satu nyamuk betina bisa bertelur 2000 butir, dengan tindakan ini kesemua telur dan jentik nyamuk itu mati semua,” kata dia.

Lebih jauh, dr Emil mengkritik apa yang dilakukan para tokoh politik yang mencari atau membangun citra melalui tindakan-tindakan kesehatan massyarakat tersebut.

“Wajar fogging dipilih, karena sangat efektif untuk membangun pencitraan diri meski sangat tidak efektif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sesungguhnya. Pasalnya dengan fogging yang bisa menelan biaya belasan hingga puluhan juta sekali aksi itu, keberadaan sang tokoh jadi langsung diketahui masyarakat. Ini sungguh sangat tidak sehat,” tegasnya.

sumber: http://www.tribunnews.com/kesehatan/2012/12/12/fogging-tak-efektif-malah-justru-lahirkan-nyamuk-nyamuk-kebal

Demam Lebih dari 3 Hari, Wajibkah Cek Darah?

Beberapa waktu yang lalu, dr. Apin posting tentang tes lab yang seringkali dilakukan oleh para orangtua ketika buah hatinya sudah beberapa hari demam (nanti akan saya kutip di bawah). Yang saya baca sih, beberapa orangtua sudah tahu bahwa ada batasan tiga hari atau 72 jam untuk cek darah ketika ada yang demam, karena kalau sebelum itu maka penyakit seperti demam dengue (lazimnya disebut sebagai demam berdarah) belum terdeteksi keberadaannya. Karena belum terdeteksi, akhirnya malah bisa berujung hasil negatif palsu alias dianggap bukan padahal iya, baru terlihat setelah fase tertentu.

Saya pun pernah ke puskesmas dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan tanpa batuk pilek, oleh dokter di sana saya tetap tidak disarankan cek lab karena menurutnya tidak akan kelihatan juga di hari kedua. Tentu kalau ada tanda kegawatdaruratan seperti tanda awal dehidrasi, sesak napas, kehilangan kesadaran/tidak respon, harus dibawa ke IGD segera ya (dan bukan ke lab dulu). Tapi benarkah kalau sudah lebih dari 3 hari memang sudah harus cek lab?

Lebih lanjut, apakah cek lab itu melulu hanya cek darah? Bagaimana dengan tes pipis atau urin? Tes ini juga sudah sering disarankan di beberapa grup kesehatan anak, tetapi sepertinya tidak terlalu sering dijadikan prosedur. Setidaknya, jarang ada teman yang cerita anaknya demam lalu bilang diminta tes urin. Hampir selalu pada cerita tes darah. Tapi pernah seorang sahabat, setelah diskusi dengan teman-teman grup, menyampaikan pandangan ke dokter apakah mungkin perlu cek urin alih-alih tes darah yang awalnya diminta. Ketika itu anaknya demam beberapa hari tanpa batpil. Permintaan itu dikabulkan dan ternyata memang bayinya terkena infeksi saluran kemih (ISK).

Kalau pengalaman saya pribadi, karena dokter keluarga kami cukup mudah dihubungi untuk konsultasi dan saya sudah sering mengikuti sesi sharing beliau beserta kawan-kawannya (termasuk dr. Arifianto ‘Apin’, Sp.A.), juga alhamdulillah atas izin Allah tidak pernah sampai pada tahap gawat, saya belum pernah sampai cek lab untuk memastikan penyakit anak-anak. Kalaupun cek lab, biasanya malah (disarankan) bukan dalam keadaan demam, yaitu untuk screening zat besi. Tapi paham juga sih kalau orangtua pastinya ingin yang terbaik, makin cepat diketahui penyebab demamnya kan bisa makin cepat juga ditangani dengan tepat dan harapannya lekas sembuh, anak merasa nyaman kembali.

Di sisi lain, beberapa dokter yang aktif mengedukasi masyarakat juga mengingatkan, cek lab itu juga berisiko, baik risiko trauma pada anak, risiko tertular penyakit dari pasien lain di tempat periksa, risiko biaya (kalau menurut pengobatan rasional menurut WHO kan ada juga prinsip tepat biaya, artinya kalau tidak perlu kan sayang juga uangnya–meskipun orangtua pastinya nggak akan merasa sayang keluar uang untuk kesehatan keluarga), sampai risiko ‘mengobati hasil lab’ padahal seharusnya yang diobati adalah sesuai klinis pasiennya bukan hanya bagaimana agar angka di lembar hasil berubah.

Berikut tulisan dr. Apin selengkapnya:

Wednesday, December 09, 2015
Demam lebih dari 3 hari harus diperiksakan ke laboratorium?

Topik ini sepertinya sudah lebih dari sekali saya bahas, dalam thread yang berbeda. Tapi tak apalah, karena masih banyak yang bingung juga. Demam yang didefinisikan sebagai suhu tubuh lebih dari 38 derajat selsius, adalah salah satu penyebab tersering orangtua membawa anaknya ke dokter. Makanya dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebutkan istilah “fever phobia”.

Nah, lalu bagaimana dengan demam yang cenderung suhunya berkisar di atas 39 derajat selsius dan tidak disertai gejala penyerta lain? Tidak ada batuk, pilek, atau diare. Ya, kalau sejak awal demam disertai batuk dan pilek, kita sudah dapat memperkirakan penyakitnya adalah selesma (common cold) dan seharusnya tidak ada kekhawatiran lebih lanjut (ingat, selama tidak disertai tanda kegawatan ya!). Lalu bagaimana dengan demam yang tidak jelas diagnosisnya ini? Perlukah dibawa segera ke dokter? Kapan? Apakah patokannya “tepat 3 hari” alias 72 jam? Dan haruskah segera diperiksakan laboratorium?

Demam dengan suhu > 39 derajat selsius tanpa gejala penyerta yang jelas, berlangsung kurang dari 7 hari, dan terjadi pada anak berusia 3 – 36 bulan disebut juga dengan fever without source (FWS). Ada juga yang menyebutnya fever without focus atau fever with uncertain source. Umumnya bisa dibagi 2, yaitu anak tampak sakit (cenderung lemah/lesu sepanjang waktu) dan masih relatif aktif (ketika demam anak tampak lemas/rewel, tetapi ketika suhu turun anak kembali aktif bermain/beraktivitas).

Kondisi pertama tentunya mengharuskan segera ke dokter. Tidak perlu memikirkan dulu perlu/tidaknya pemeriksaan laboratorium, tetapi segera bawa ke dokter untuk memastikan kemungkinan diagnosisnya. Kondisi kedua membuat orangtua seharusnya lebih tenang dalam mengobservasi kondisi anaknya dalam 3 hari, atau bahkan lebih. Hal terpenting yang harus diperhatikan orangtua adalah: pastikan anak tidak dehidrasi atau kekurangan cairan. Ya, peningkatan suhu tubuh meningkatkan risiko penguapan dan terbuangnya cairan tubuh. Makanya semua anak yang demam harus banyak minum. Pastikan anak tidak dehidrasi.

Bukankah makin tinggi suhu meningkatkan risiko kejang demam? Sudah berkali-kali dibahas, jawabannya adalah: tidak. Dehidrasi justru lebih dikhawatirkan dibandingkan kejang pada anak yang demam.

Lalu makin tinggi suhu bukankah menggambarkan makin beratnya penyakit? Lagi-lagi ini sudah pernah dibahas: jawabannya adalah tidak. Bisa saja demamnya tidak terlalu tinggi tetapi anaknya sakit pneumonia atau meningitis yang mengancam jiwa. Sebaliknya, sangat mungkin demamnya tinggi, tapi sakitnya hanya selesma saja.

Apa yang dikhawatirkan dari kondisi pertama (anak yang cenderung lemah sepanjang hari)?

Bagaimanapun juga, penyebab tersering demam pada anak adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya. Tentunya antibiotik sama sekali tidak diperlukan pada infeksi virus.

Pada kondisi pertama, beberapa diagnosis penyakit yang paling dikhawatirkan adalah meningitis (radang selaput otak) dan pneumonia (radang akibat infeksi di jaringan paru). Makanya orangtua harus paham benar apa saja kondisi gawat darurat pada anak. Pada meningitis, terdapat tanda-tanda kekakuan tubuh (iritasi selaput otak), penurunan kesadaran, sampai kejang dan kematian. Sedangkan pada pneumonia, anak terlihat sesak napas, bisa dinilai dari gerakan dinding dada dan napas cuping hidungnya. Segera bawa anak ke dokter.

Kondisi kedua adalah keadaan yang paling sering terjadi, yaitu sakitnya sebenarnya “ringan saja” dan tidak potensial mengancam nyawa. Perlukah anak dibawa ke dokter pada FWS? Ya, untuk memastikan apakah diagnosisnya saat itu.
Kalaupun dokter belum bisa memastikan diagnosis pastinya, maka sebut saja FWS.

Apakah pemeriksaan laboratorium perlu dikerjakan pada FWS yang sudah lebih dari 3 hari? Sebenarnya dokte lah yang menentukan perlu tidaknya. Satu hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah: jangan melulu pemeriksaan darah yang harus dikerjakan.

Pemeriksaan air seni alias urinalisis adalah pemeriksaan wajib pada anak FWS. Mengapa? Banyak FWS yang ternyata diagnosisnya adalah infeksi saluran kemih alias ISK. Padahal gejalanya hanya demam saja, dan ditemukan banyak kuman (bakteri) di pemeriksaan urinalisis. Diagnosis ISK jelas adalah infeksi bakteri yang obatnya adalah antibiotik (diberikan setelah sampel untuk kultur urin diperiksa).

Di sini lagi-lagi saya tegaskan bahwa pemeriksaan urin sangatlah penting dan seharusnya rutin dikerjakan. Pemeriksaan ini sama sekali tidak menyakitkan. Bandingkan saja dengan anak yang ditusuk jarum untuk pemeriksaan laboratorium darah.

Apa saja kira-kira penyakit yang sering terjadi pada FWS?

Penyebabnya sangat bervariasi. Yang cukup serjng terjadk dalam pengalaman sehari-hari adalah:
– Common cold. Ya, batuk-pilek bisa saja demamnya setelah masuk hari keempat atau lebih baru muncul batuk-pilek. Ini adalah infeksi virus yang tidak perlu dikhawatirkan. Kecuali di luar dugaan mencetuskan serangan yang menyebabkan sesak napas.
– Roseola alias “tampak” (bukan campak lho yaa…). Ini pun jelas infeksi virus, tetapi anak yang orangtuanya tidak sabaran tidak jarang yang langsung berinisiatif memeriksakan laboratorium darahnya. Ruam-ruam di tubuh baru muncul setelah melewati hari ke-3, bahkan ke-5 demam. Anak tampak jauh lebih aktif sesuah ruam memenuhi seluruh tubuh.
– Demam Dengue atau DBD. Ini yang hampir selalu terlintas di benak orangtua untuk selanjutnya segera memeriksakan sendiri laboratorium darah anaknya. Pelajari ciri-ciri DD dan DBD.
– Infeksi saluran kemih. Ingat, gejala ISK pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Bisa saja anak demam tanpa gejala lain, ternyata sakitnya adalah ISK. Maka jangan lupa mintakan pemeriksaan urin rutin, bahkan kultur urin jika perlu, untuk pasien-pasien semacam ini.
Demam tifoid tidak dipikirkan dalam FWS, karena demamnya berlangsung selama minimal 7 hari.

Continue reading

[Kliping] Seputar Demam Dengue

Buat arsip, sebagian dari akun dr. Arifianto, SP.A.

(Baca juga: https://ceritaleila.wordpress.com/2016/08/11/demam-lebih-dari-3-hari-wajibkah-cek-darah/)

Arifianto Apin
12 October 2014 at 10:27 · Edited ·
Antara Demam Berdarah dan Tipes
Di RS, salah satu aktivitas saya adalah membimbing adik-adik mahasiswa FK YARSI yang menjalani tahap koasistennya (koas). Beberapa hari yang lalu, kami mendiskusikan demam berdarah Dengue (DBD) dan tipes alias demam tifoid dalam bentuk presentasi kasus.
Ada beberapa poin yang saya tekankan sebagai “take home message” dan ingin saya bagikan di sini.
Pertama, nilai trombosit turun tidak hanya terjadi pada DBD dan demam Dengue (DD) saja, tetapi dapat terjadi pada berbagai infeksi virus dan bakteri. Bahkan batuk-pilek alias selesma saja bisa turun trombositnya. Roseola pun cukup sering turun trombositnya. Perhatikan juga nilai hematokrit yang meningkat pada DBD. Jadi perhatikan keduanya.
Kedua, demam tifoid hanya dicurigai bila demamnya minimal 7 hari. Jangan curigai seorang anak mengalami tipes alias demam tifoid bila demamnya baru 3-5 hari.
Lalu, pemeriksaan Widal di Indonesia tidak dapat dijadikan patokan untuk menegakkan diagnosis tifoid, karena kalau saja orang-orang dewasa yang sehat tanpa gejala, ketika diperiksakan Widal-nya bisa jadi mayoritas akan positif. Widal mendeteksi adanya kekebalan tubuh (antibodi) yang dihasilkan ketika seseorang sudah pernah menelan kuman Salmonella penyebab tifoid, tetapi anak-anak yang Widal-nya positif belum tentu sakit.

===============================================================================

Arifianto Apin

2 March at 16:54 · Edited ·

Katanya Demam Berdarah Dengue alias DBD sedang mewabah ya? Bagaimana dengan “tipes” alias demam tifoid? Karena kabarnya ada beberapa yang dirawat akibat DBD dan demam tifoid bersamaan. Mungkinkah?

Ini pertanyaan favorit saya buat para Koas yang sedang menjalankan rotasi di bagian Anak. Apa pasalnya? Beberapa orang bercerita dirinya didiagnosis DBD dan tifoid bersamaan gara-gara: tes Widal!

Banyak orang familiar dengan pemeriksaan laboratorium satu ini. Katanya kalau Widal-nya positif, berarti sakitnya tipes. Ketahuilah bahwa diagnosis demam tifoid dipastikan dengan beberapa hal:

1. Gejala. Ya, namanya saja demam tifoid, jadi yang sedang sakit pasti bergejala demam. Nah, demamnya seperti apa? Ada yang bilang seperti “step ladder”, jadi makin lama hari sakitnya, maka ambang suhunya makin tinggi. Tapi ternyata tidak harus seperti ini. Yang menjadi kata kunci demam tifoid adalah: demamnya mininal 7 hari! Beda kan dengan DBD yang sudah bisa dicurigai sejak demam 2 hari bahkan.

2. Penyakit tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Kita sudah paham bahwa yang namanya infeksi bakteri butuh antibiotik (DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang tentunya tidak butuh antibiotik). Bakteri Salmonella ini masuk ke tubuh lewat makanan/minuman yang terkontaminasi Salmonella. Dan umumnya makanan pinggir jalan yang higienenya buruk yang berisiko menyebabkan tipes. Siapa yang biasa jajan makanan seperti ini? Anda dan saya tentunya. Hehe. Maksud saya, mungkinkah anak berumur 2 tahun atau lebih muda yang belum pernah jajan makanan seperti ini terkena demam tifoid? Inilah sebabnya tifoid umumnya menginfeksi anak besar usia SD ke atas. Evaluasi ulang bila seorang anak balita sampai didiagnosis tifoid.

3. Lalu bagaimana bisa memastikan diagnosis tifoid berdasarkan pemeriksaan darah? Dengan pemeriksaan Widal? Hmmm…

Jadi pemeriksaan laboratorium yang bertujuan menentukan kuman penyebab penyakit ada 2 cara: secara langsung menemukan kumannya dan yang secara tidak langsung.

Cara pertama adalah dengan pemeriksaan kultur (biakan) baik dari darah, air seni (urin), dan tinja (feses), maupun cairan tubuh lainnya. Jadi kuman dibiakkan dalam suatu media, dan ditunggu hingga beberapa hari untuk mendapatkan hasil apa sebenarnya bakteri penyebab penyakitnya. Inilah yang dilakukan pada kecurigaan demam tifoid, yaitu dengan pemeriksaan kultur darah/tinja/urin untuk mendapatkan si kuman Salmonella typhi. Sayangnya tidak semua RS punya fasilitas ini. Dan harganya juga tidak murah (tapi ditanggung BPJS Kesehatan lho…).

Cara kedua adalah dengan mendeteksi “jejak” keberadaan si kuman, yaitu dengan mengetahui adanya antibodi yang dihasilkan si antigen (kuman). Inilah Prinsip pemeriksaan seperti Widal, Tubex, TORCH, dan IgG-IgM Anti Dengue. Jadi ada risiko yang terdeteksi sebenarnya adalah “jejak” si kuman masa lampau, yang pernah masuk ke tubuh berbulan-bulan lalu. Bukan yang menyebabkan sakit saat ini.

Paham tidak sejauh ini? Mudah-mudahan tidak bingung.

Jadi bisa saja Widal-nya “positif”, tapi sebenarnya tidak sakit tipes! Karena Widal ini menandakan berbulan-bulan lalu ia pernah kemasukan kuman tifoid, dan saat itu ia tidak sampai sakit. Sedangkan saat ini sakitnya bukan tifoid dari gejala-gejala yang ada.

Pelajarannya adalah: selalu berhati-hati dalam menginterpretasi pemeriksaan laboratorium yang menilai keberadaan kuman secara tidak langsung, termasuk Tubex (IgM Anti Salmonella) yang katanya lebih sensitif dan spesifik dari Widal. Pemeriksaan semacam TORCH pun juga.

Saya kadang mengajak kawan-kawan berdialog seperti ini: “dari kita semua yang ada di sini dalam kondisi sehat wal afiat, bila “iseng-iseng” dicek Widal-nya, bisa saja mayoritas “positif”, padahal tidak satu pun yang demam tifoid.” Mengapa? Karena kita semua pernah makan jajanan pinggir jalan yang terkontaminasi Salmonella, tetapi alhamdulillah tidak sakit, karena adanya antibodi yang melawan kuman. Dan “jejak” inilah yang terbaca sebagai Widal positif.

Sebagai kesimpulan, lessons learned-nya adalah:

1. Kembalikan kepada diagnosis berdasarkan tanda dan gejala yang dialami. Kalau demamnya baru 3 atau 5 hari, ya kemungkinan kecil, bahkan jangan pikirkan dulu, demam tifoid. Berpikir demam tifoid ya kalau demamnya sudah lebih dari 7 hari. Bahkan kalau demam sudah 3 hari tapi jelas ada batuk pilek ya tidak usah juga berpikir DBD dan cek darah, karena diagnosisnya adalah selesma.

2. Setiap pemeriksaan laboratorium pastilah memiliki keterbatasan. Maka selalu kembalikan kepada diagnosis. Dokter tidak mengobati hasil laboratorium, tetapi dokter mengobati pasien.

Semoga bermanfaat

============================================================================

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal di daerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris. Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

–    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

–  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

–   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemis cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

–   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitif untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Selengkapnya di blog mba Auditya & dr. Ferry, SP.A

http://aufalactababy.com/2012/05/27/demam-berdarah-turun-trombositperdarahan/

===========================================================================

Sementara itu dokter spesialis anak RS Sardjito lainnya dr. Ida Safitri, Sp.A. menambahkan masih ada kesalahan persepsi di kalangan masyarakat bahkan tenaga medis yaitu penurunan jumlah trombosit merupakan penentu derajat keparahan DBD. Padahal yang menentukan derajat keparahan DBD adalah peningkatan kekentalan darah (hematokrit yang meningkat) maupun juga disertai penurunan trombosit.

“Hematokrit naik bisa sebabkan syok. Trombosit turun hanya di fase kritis dan akan normal di fase pemulihan. Sepanjang tak terjadi perdarahan berat tak perlu intervensi medis untuk menaikkan kadar trombosit,” kata Ida.

Sedangkan mengenai obat yang beredar di pasaran yang mengandung angkak, ekstrak jambu biji merah, sari kurma dll sampai saat ini ujar Ida belum ada penelitian atau bukti ilmiah tentang manfaat zat-zat tersebut dalam kaitannya untuk meningkatkan kadar trombosit.

http://m.okezone.com/read/2010/04/07/340/320286/trombosit-bukan-penentu-derajat-keparahan-dbd

=======================================================================

Perjalanan penyakit demam dengue umumnya hanya satu minggu. Setelah itu, pasien akan membaik, asalkan tidak disertai kebocoran pembuluh darah. Jika disertai perdarahan ini disebut DBD (demam berdarah dengue). Dari yang mengalami perdarahan ini, sekitar 30 persennya terkena syok dan 30 persen lagi bersisiko kematian.

Selama ini, anggota keluarga pasien akan merasa sangat khawatir jika kadar trombosit yang sakit dinyatakan turun. Sebetulnya bukan kadar trombosit yang menentukan keselamatan pasien, akan tetapi hematokritlah yang lebih penting diperhatikan.

“Trombosit turun sampai tinggal belasan ribu, kalau hematokrit masih bagus, ya tidak akan meninggal, karena berarti tingkat kebocoran pembuluh darah tidak tinggi,” jelas Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)., M.TropPaed., Ketua Divisi Penyakit Infeksi dan Pediatri Tropis, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

Kondisi demamnya juga harus diperhatikan. Penyakit DBD biasanya ditandai demam tinggi selama tiga hari. Namun, bukan hanya demam pada tiga hari pertama itu yang harus diwaspadai. “Masa kritisnya justru di hari keempat dan kelima. Jadi, jangan lengah, jangan merasa sudah aman jika demam terkesan menurun di hari keempat dan kelima,” saran dr. Hingki, sapaan akrabnya.

http://m.tribunnews.com/kesehatan/2013/06/18/bukan-kadar-trombosit-penentu-keselamatan-pasien-demam-berdarah

================================================================================

Banyak kabar yang beredar di masyarakat kalau terkena demam berdarah diberikan jus jambu atau angkak. Namun sebenarnya tidak ada obat untuk demam berdarah, tapi hanya andalkan banyak cairan.

“Demam berdarah tidak ada obatnya, tapi hanya bermain cairan,” ujar Dr. Rita Kusriastuti, MSc., Direktur Pengendalian Penyakit bersumber Binatang (P2B2) Ditjen P2PL Kemenkes RI dalam acara peringatan pelaksanaan ASEAN Dengue Day ke-2 di Amilun Convention Hall, Medan, Jumat (15/6/2012).

Dr. Rita menuturkan pertolongan pertama untuk demam berdarah adalah memberikan cairan, mau jus jambu, sari kurma atau angkak yang terpenting memberikan cairan ke dalam tubuh. Lalu pantau pada hari ketiga dan kelima yaitu saat masa kritis.

Hal ini karena pada orang demam berdarah terjadi kebocoran di pembuluh darah sehingga harus diberikan banyak minum untuk mengganti cairan agar trombosit tidak makin turun. Tapi pemberian cairan ini jangan dipaksa hanya sekuatnya saja.

“Pada hari kelima trombosit akan naik sendiri meski hanya minum air putih, karena tubuhnya sudah bisa memperbaiki diri sehingga kadar trombositnya naik. Tapi kalau virusnya ganas maka kebocoran bisa parah dan harus dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.

Dr Rita menjelaskan dalam menangani kasus demam berdarah hanya perlu bermain dengan cairan, saat terjadi kebocoran harus banyak minum, tapi saat kebocorannya sudah selesai maka dalam waktu 2×24 jam asupan cairan harus dikurangi.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk pertolongan pertama terhadap penderita demam berdarah yaitu:
1. Memberikan minum sebanyak mungkin.
2. Kompres agar panasnya turun.
3. Memberikan obat penurun panas.
4. Jika dalam waktu 3 hari demam tidak turun atau malah naik segera bawa ke rumah sakit atau puskesmas.
5. Jika tidak bisa minum atau muntah terus menerus, kondiai bertambah parah, kesadaran menurun atau hilang maka harus dirawat di rumah sakit.

http://m.detik.com/health/read/2012/06/15/143241/1942274/763/demam-berdarah-tidak-ada-obatnya-hanya-andalkan-cairan

=============================================================================

Meski sama-sama disebabkan oleh infeksi virus dengue, demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) adalah hal yang berbeda. Mengapa? Dan apa penyebab serta bagaimana penanganan serta perawatan orang sakit demam dengue dan demam berdarah dengue?

Dokter spesialis penyakit dalam FKUI/RSCM Leonard Nainggolan, dilansir Kompas, mengatakan meski demam dengue dan DBD sama-sama disebabkan oleh virus dengue, ada perbedaan dasar pada keduanya, yaitu kebocoran plasma. Pada demam dengue gejala hanya berupa demam dan syok namun tidak sampai disertai dengan kebocoran plasma.

Ia menjelaskan, kebocoran plasma merupakan melebarnya celah antar sel di pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya plasma darah keluar dari pembuluh darah. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah.

Meski plasma darah bisa keluar, lanjut dia, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar. Jika plasma darah saja yang keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya.

Dengan kata lain, DBD lebih berbahaya dan memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan dengan demam dengue. Ini karena jika terjadi kebocoran plasma, DBD bisa berisiko kematian. Ini berhubungan dengan pengentalan darah yang tidak normal di dalam tubuh yang berakibat kurangnya pasokan bagi organ-organ penting dalam tubuh.

Dalam kesempatan berbeda, Profesor Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, ada dua pendapat mengenai demam dengue dan DBD itu sendiri. Pendapat pertama, kedua penyakit itu berbeda, namun ada pula yang mengatakan, demam dengue bisa berkembang menjadi DBD jika dibiarkan.

“Namun yang jelas, orang perlu mewaspadai kebocoran pada plasma karena bisa menyebabkan kematian,” kata Sri.

Mengapa mematikan?

Dengan risiko kematian mencapai 0,9%, penyakit demam berdarah jelas bukanlah penyakit yang bisa diremehkan. Apalagi kasus penyakit ini mencapai 140.000 setiap tahunnya.

“Kalikan saja 0,9% dengan 140.000, sudah 1.400 dalam setahun. Sehingga dalam sebulan paling tidak rata-rata ada 100 kematian karena DBD di Indonesia,” kata dr. Leonard Nainggolan, Sp.PD.

Ia menjelaskan, DBD bisa menyebabkan kematian jika pasien tidak bisa melewati fase kritis dengan baik. Pada fase kritis, virus dengue penyebab DBD mulai beraksi merusak celah antarsel di pembuluh darah.

Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah. Meski plasma darah bisa keluar, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar.

“Jika plasma darah keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya,” tutur dia. Ia menganalogikan dengan cairan gula. Bila satu sendok gula biasa dilarutkan dalam satu gelas air, larutan gula akan lebih pekat bila gula hanya dilarutkan dalam setengah gelas air.

Nah, komplikasi pengentalan darah inilah yang berakibat fatal. Leonard menjelaskan, darah yang lebih kental akan lebih sulit dialirkan ke seluruh tubuh. Lama kelamaan organ-organ tubuh akan kekurangan pasokan oksigen dari darah.

Kurangnya oksigen pada organ akan menganggu fungsinya. Jika dibiarkan, pasien akan mengalami kegagalan multiorgan dan meninggal.

Perawatan Umum

Saat menderita demam berdarah, jus jambu menjadi minuman rutin dikonsumsi pasien. Mitos bahwa jus jambu cepat menurunkan trombosit memang telah mengakar kuat di masyarakat. Tetapi, seperti apakah faktanya? Leonard Nainggolan mengatakan hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat jus jambu untuk penyembuhan DBD. Namun, untuk meringankan fatalitas dari DBD, pasien perlu banyak minum.

“Namun cairan itu bisa didapat dari mana saja, tidak harus jus jambu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, prinsip cairan yang masuk ke dalam tubuh pasien DBD adalah yang mengandung isotonik dan glukosa. Itulah kenapa jus jambu yang umumnya merupakan minuman manis dan mengandung vitamin dan mineral dari buah masuk dalam kriteria minuman yang dibutuhkan oleh pasien DBD.

“Sebaiknya memang bukan air biasa, karena pasien membutuhkan pengganti isotonik dan glukosa yang banyak hilang saat sakit. Itu juga yang direkomendasikan WHO,” kata dia.

Menurut dia, selama pasien tidak mengalami keluhan setelah minum minuman, termasuk jus jambu, maka tidak ada masalah bila pasien meneruskannya. Ia menegaskan, supaya pasien selama sakit minum sebanyak yang ia mampu. Tujuannya untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran pembuluh darah.

Diketahui virus dengue penyebab DBD beraksi dengan merusak celah antarsel di pembuluh darah. Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini.

Perawatan di rumah sakit

Setiap kali terjadi wabah demam berdarah (DB), hampir setiap rumah sakit akan penuh oleh pasien DB yang dirawat inap. Bahkan, di beberapa rumah sakit pemerintah pasien sampai harus dirawat di aula atau selasar karena tidak kebagian tempat tidur.

Meski berisiko mematikan, DB sebenarnya merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa obat. Namun sebelum sembuh, orang yang menderitanya akan melewati masa kritis. Dan pada masa itulah pasien membutuhkan perawatan yang baik untuk menjaga kondisi tubuhnya hingga mampu melewati masa kritis. Perawatan yang baik seringkali diasosiasikan dengan rawat inap di rumah sakit. Namun sebenarnya tidak semua penyakit DB membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Gejala demam berdarah

Leonard Nainggolan mengatakan gejala demam berdarah biasanya mirip dengan gejala penyakit lain. Karena itu jika mengalami gejala demam tinggi secara mendadak selama hampir 7 hari, lesu, tidak ada gejala influenza, dan demam mendadak dibarengi rasa sakit kepala, nyeri pada tulang dan otot, serta nyeri di belakang mata, maka hal permata yang wajib dilakukan adalah membawa pasien ke dokter untuk memastikan diagnosis.

“Namun untuk menentukan selanjutnya apakah pasien harus dirawat inap atau rawat jalan, kuncinya yaitu ada tidaknya kedaruratan. Kedaruratan yang dimaksud adalah syok, kejang, kesadaran menurun, dan pendarahan,” papar dia.

Meski tidak terjadi kedaruratan, ada dua kemungkinan yaitu tetap harus dirawat inap atau rawat jalan. Untuk menentukannya dokter akan melakukan uji Torniquet yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya bintik-bintik merah pada kulit.

Bintik-bintik merah pada kulit merupakan tanda tubuh mengalami pendarahan akibat virus dengue. Jika sudah terjadi pendarahan, artinya sudah terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang menyebabkan pengentalan darah yang berakibatan fatal.

“Namun kalaupun hasilnya positif, perlu dilihat juga jumlah trombosit pada darah. Jika kurang dari 100.000/ul, maka perlu dirawat inap, namun jika lebih dari 100.000/ul bisa dilakukan rawat jalan,” kata Leonard.

Dengan catatan, lanjut dia, rawat jalan perlu disertai dengan kontrol setiap hari sampai demam reda. Dan selama dilakukan rawat jalan, pasien perlu diberikan cairan sebanyak-banyaknya, semampu yang pasien bisa minum.

Infeksi kedua lebih parah

Setiap mengalami penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh virus, tubuh secara alamiah akan membentuk antibodi untuk melawan virus tersebut. Antibodi tersebut kemudian akan terus berada di dalam tubuh sehingga ketika virus yang sama menyerang tubuh sudah memiliki kekebalan.

Kendati demikian, konsep tersebut sedikit berbeda untuk penyakit demam berdarah (DB). Sehingga meski tercipta antibodi, tubuh bukannya kebal melainkan merespon virus dengan berlebihan sehingga menimbulkan gejala yang lebih parah daripada yang sebelumnya.

Menurut Leonard Nainggolan, setelah sembuh dari DB seseorang mungkin terkena DB lagi. Alasannya, virus dengue penyebab DB terdiri dari beberapa tipe, yaitu tipe den-1, 2, 3, dan 4.

“Sehingga misalnya pertama DB seseorang terinfeksi virus tipe den-2, suatu saat mungkin ia terkena DB lagi dari virus tipe den-3,” tuturnya.

Ia menerangkan, saat terkena DB dengan virus dengue den-2, maka antibodi yang terbentuk adalah untuk virus tipe tersebut, bukan tipe lainnya. Maka paparan virus tipe lainnya tetap bisa menyebabkan seseorang itu terkena DB kembali. Sayangnya, gejala yang ditimbulkan dari infeksi yang kedua mungkin lebih berat dari yang pertama. Menurut Leonard, ini karena reaksi antibodi yang sudah diciptakan dari infeksi sebelumnya mengenali virus tipe berbeda, namun tidak bisa melawannya.

“Efek sampingnya tidak ringan karena antibodi merespon (virus tipe berbeda) dengan lebih aktif,” ujar dia.

Ia mengatakan, virus dengue terbanyak yang dijumpai di Indonesia adalah virus tipe den-2 dan 3. Meski gejala dari infeksi masing-masing tipe virus tidak ada perbedaan yang signifikan.

Kewaspadaan

Cuaca yang panas dan hujan datang bergantian dengan selang waktu yang cepat merupakan saat penyakit-penyakit biasanya lebih mudah berdatangan, tak terkecuali DB. Leonard Nainggolan menjelaskan, risiko DBD memang meningkat di musim pancaroba. Pasalnya, penyakit ini disebarkan oleh nyamuk yang berkembang biak di air bersih tergenang yang dibiarkan beberapa waktu.

“Kalau musim hujan, meski ada genangan juga namun relatif lebih mudah terganti dengan air hujan yang baru, air lebih mengalir. Berbeda dengan musim pancaroba, setelah hujan tercipta genangan, kemudian panas lagi. Di genangan itulah nyamuk bisa berkembang biak,” tutur dia.

Ia menegaskan setitik genangan air saja sudah bisa menjadi sarana berkembangbiaknya nyamuk. Sehingga untuk mencegah terjadinya kasus DBD, setiap orang perlu menyadari untuk mencegah terjadinya genangan. Cara yang selalu direkomendasikan untuk pencegahan DBD adalah 3M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur. Leonard menjelaskan, semua tempat yang bisa menampung air, khususnya air yang bening perlu ditutup dan dikuras secara rutin.

Bahkan tempat-tempat yang bukan dikhususkan untuk penampungan air namun bisa terdapat genangan, misalnya wadah pot bunga, dispenser, kaleng bekas, atau ban bekas pun perlu selalu dipantau. Khususnya untuk benda-benda tak terpakai yang berpotensi menyimpan genangan perlu dikubur.

DBD merupakan penyakit infeksi yang dimanifestasikan dengan demam dan pendarahan. DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk tipe tertentu. Leonard menjelaskan, nyamuk yang menjadi vektor virus dengue membutuhkan darah untuk mematangkan telur-telurnya. Itulah kenapa nyamuk yang menggigit adalah nyamuk betina.

Nyamuk juga memiliki sifat sulit kenyang, maka cenderung untuk menggigit beberapa orang sekaligus. Inilah kenapa seringkali kasus DBD yang dijumpai di suatu wilayah tidak hanya satu kasus, melainkan beberapa kasus dalam satu waktu.

Sumber: http://simomot.com/2014/06/17/beda-demam-dengue-dan-dbd-penyebab-penanganan-dan-perawatan/ (tapi mending jangan diklik kali ya, iklan beritanya banyak yang saru 😁, nyari sumber lain yg cukup lengkap menyeluruh tapi bahasanya gak teknis banget belum nemu lagi).

Sudut pandang lain dari pernyataan dr. Nainggolan pada acara yang sama:

Sejumlah orang percaya bahwa memberikan segelas jus jambu merah pada pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD) mampu menggantikan cairan yang keluar dari dalam tubuh selama sakit. Benarkah?

“Saya pribadi bukan antiherbal. Tapi memang, mengenai jus jambu merah ini belum ada penelitian pastinya,” Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI di Jakarta, Selasa (10/6/2014)

Menurut Leonard, dipilihnya jus jambu merah ini karena disinyalir memiliki zat yang mempermudah meningkatkan trombrosit. “Ini masih disinyalir, yah. Soal pastinya, belum,” kata dia menambahkan.

Jika memang dilakukan para peneliti melakukan penelitian terhadap jambu merah, kemungkinan zat untuk menyembuhkan itu benar ada. Bagaimana pun, tambah Leonard, dirinya percaya kalau pencipta alam semesta ini sudah memberikan penangkal untuk setiap penyakit yang diderita oleh tiap manusia.

“Cuma itu masih perlu eksplorasi. Mudah-mudahan nanti kita bisa menemukannya,” kata Leonard.

Sepanjang pasien mampu mengisi tubuhnya dengan banyak cairan, maka tidak ada salahnya untuk memberikan jus jambu merah. Dengan catatan, minuman yang dikonsumsi oleh pasien, tidak menimbulkan gangguan baru yang justru membuatnya semakin sakit.

“Mau minum jus jambu merah atau buah naga, silahkan. Sepanjang tidak menimbulkan keluhan pada pasien, ya,” kata dia menekankan.

https://www.liputan6.com/health/read/2061188/jus-jambu-merah-ampuh-bagi-penderita-dbd

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jus jambu disebut-sebut bisa menaikan jumlah trombosit dari penderita demam berdarah dengue (DBD). Namun hal itu belum pernah terbukti secara klinis.

“Sampai sekarang belum ada uji laboratorium yang membuktikan jus jambu bisa meningkatkan trombosit atau mengatasi DBD,” kata Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) Leonard Nainggolan dalam acara “SOHO #BetterU: Hari Demam Berdarah ASEAN” di Jakarta, Selasa (10/6).

Menurut dia, hal terpenting yang harus dilakukan oleh penderita DBD adalah menjaga asupan cairan tetap cukup. Dengan kata lain, untuk memberikan perawatan kepada penderita DBD tidak wajib dengan pemberian jus jambu.

“Sepanjang penderita minum yang banyak maka itu yang terbaik selama tidak memberi gangguan kesehatan yang lainnya. Jus jambu itu hanyalah salah satu dari sumber cairan bagi penderita DBD. Itu saja,” katanya.

Oleh karena itu, berbagai minuman seperti jus jambu, jus mangga, jus apel ataupun angkak adalah sumber cairan yang bisa dipilih oleh penderita DBD.

“Boleh mana saja cairannya selama tidak membahayakan penderita. Tapi kalau jus jambu dan kawan-kawannya itu dianggap sebagai zat yang bisa menambah trombosit darah ternyata belum pernah ada uji klinis,” katanya.

Ia menyatakan dirinya juga bukan termasuk pihak yang antiherbal. Apapun itu, penderita DBD sangat membutuhkan cairan yang banyak agar keadaannya membaik. “Dengan cairan yang banyak akan mencegah seorang penderita mengalami hematokrit (pengentalan darah). Pengentalan darah akan membahayakan penderita DBD,” katanya.

Menurut dia, jika darah terlalu kental atau tidak encer akan membuat pasokan nutrisi dan oksigen ke sejumlah jaringan tubuh tersendat atau bahkan terhenti. “Untuk itu, cairan sangat penting bagi penderita DBD. Jika terus berlanjut tekanan darah penderita bisa tidak stabil,” katanya. Leonard mengingatkan pentingnya asupan cairan terutama yang memiliki nilai tambah seperti elektrolit.

“Minum air putih atau minuman berelektrolit sangat disarankan bagi penderita DBD. Minumlah minimal sebanyak 2-2,5 liter cairan per harinya. Bila keadaan pasien memburuk sehingga tidak dapat minum, bahkan muntah-muntah, harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan dokter secepatnya,” katanya.

Walapun belum terasa haus, penderita DBD disarankan harus rajin minum, karena jika tidak akan terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan. “Biasanya, rasa haus timbul saat tubuh mengalami kekurangan cairan sebesar 2 persen dari berat badan. Cairan dapat menggantikan kekurangan cairan tubuh yang bocor akibat kerusakan dinding pembuluh darah,” katanya.

https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/14/06/10/n6y8nr-benarkah-jus-jambu-bisa-naikkan-trombosit

 

JUS Jambu dipercaya bisa mengembalikan level trombosit yang menurun akibat demam berdarah. Pasalnya, jus jambu disinyalir memiliki zat bisa meningkatkan kadar trombosit darah.

Hal inipun juga diungkapkan oleh Dr dr Leonard Nainggolan, Sp.PD-KPTI. Meski belum ada bukti penelitian secara nyata, dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu memercayai manfaat jus jambu untuk DBD.

“Diduga ada zat di dalam jus jambu yang dapat meningkatkan trombosit. Mungkin kalau diteliti dengan baik bisa-bisa ada,” katanya pada workshop Soho Global Health bertema “Waspadai Kebocoran Plasma saat DBD” di Artotel Hotel Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa 10 Juni 2014.

Lebih lanjut, Dr. Leonard juga mengatakan masih perlu eksplorasi lagi untuk menemukan penangkal penyakit DBD, termasuk pada jus jambu. Apalagi dia berkeyakinan jika semua penyakit tetap memiliki penangkalnya.

“Karena saya punya kepercayaan, kalau ada penyakit tertentu di suatu wilayah pencipta alam semesta ini sudah menyiapkan penangkalnya, hanya kita perlu mengeksplorasinya. Jadi mudah-mudahan nanti kita bisa menemukan,” ungkapnya.ungkapnya.

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk dan bersifat epidemik atau dapat ditularkan antar manusia.

https://lifestyle.okezone.com/read/2014/06/11/483/997026/jus-jambu-sembuhkan-dbd-perlu-penelitian-mendalam

 

Kliping Susah Makan

Kliping bahasan seputar problem makan anak (cenderung ke kesulitan makan ya) ini sedikit banyak terinspirasi postingan mba Luchantiq di https://keluargasehat.wordpress.com/category/problem-makan/. Semacam nambahin aja sih berhubung beliaunya belum sempat update blog lagi kayaknya.

================================================================

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I, diposting di Milis Sehat)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (<6 bulan) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Seperti kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

Continue reading

Sehat Itu Mudah dan Murah

Penting banget, nih.

 

purnamawati's avatarBe Smarter Be Healthier

Purnamawati Sujud Pujiarto

Edisi 645 | 28 Jul 2008 |

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga…

View original post 2,609 more words