JS Khairen: Minat Baca Masyarakat Itu Besar, Hanya Aksesnya Kurang

Jombang Santani Khairen atau lebih dikenal dengan nama JS Khairen merupakan salah satu penulis muda yang karyanya paling ditunggu beberapa tahun terakhir. Tak hanya laris manis hingga dicetak ulang 16 kali pada tahun pertama terbit, novel Kado Terbaik yang ditulisnya juga mendapatkan penghargaan Buku Islam Terbaik kategori Novel Remaja dalam Islamic Book Fair Award tahun ini. Terbaru, JS Khairen memperoleh Penghargaan Writer of The Year dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Award 2024.

Namun, kesuksesan tidak diraihnya dalam sekejap mata. Buku-buku yang ia tulis pun awalnya belum terjual sebanyak sekarang.

“Dengan buku saya tidak laris ini, saya jadi belajar ke mana-mana. Saya datangi penulis-penulis senior, belajar dari kelas-kelas mereka. Dan karya saya penjualannya baru meledak di buku ke-7, Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Namun, sebetulnya ini adalah cerita yang mainstream ketika seorang penulis buku pertama, kedua, ketiganya tidak laris. Mungkin pernah dengar, Bang Raditya Dika dulu awalnya yang borong bukunya adalah ibunya sendiri, Bang Darwis Tere Liye juga baru terkenal di bukunya yang kelima,” jelasnya.

Mengingat sebagian karyanya sarat akan kritik sosial, Bang JS pun terbuka untuk kritik dari pihak lainnya.

“Kritik itu biasa saja, karena pembaca kan sudah membeli dan membayar. Suka-suka mau dihina juga. Saya selalu mengizinkan siapa pun pembaca untuk invite collab ke Instagram saya, termasuk review kritik. Justru saya ingin mencari itu. Karya yang terbaik itu adalah karya yang selanjutnya alias yang belum ditulis. Jadi supaya karya yang selanjutnya ini lebih baik ya kita harus mendengar. Bahkan pembaca setia saya, misalnya dia sudah baca 10 karya saya, saya selalu mengundang untuk mengirimkan email karya yang belum terbit untuk dikritisi oleh mereka habis-habisan. Terserah untuk dihina atau dimaki. Karena mereka adalah pembaca setia. Yang sudah baca 10 novel artinya nasabah prioritas. Artinya mereka sudah mengikuti kita lebih dari lima sampai tujuh tahun. Masukan dari mereka ini jauh lebih tajam dari komentar-komentar Instagram. Kalau tidak begitu karya-karya berikutnya tidak bertambah bagus.”

Tahun ini muncul kabar jika buku dari serial Kami (Bukan) akan dilayarlebarkan oleh Visinema. Bang JS mengaku tidak secara aktif mengupayakan alih wahana karyanya menjadi film.

“Saya tidak mengejar. Cuma, kalau ada produser yang datang, saya terbuka. Saya sudah punya dua novel yang tanda tangan kontrak, yaitu Kami (Bukan) Sarjana Kertas dan Kami (Bukan) Jongos Berdasi. Soal kapan, soal aktor, saya memilih untuk membiarkan menjadi karya si filmmaker itu. Terbaru, Dompet Ayah Sepatu Ibu juga ada beberapa produser yang mendekati. Cuma menurut saya karena novel ini masih baru banget, nanti dulu deh. Menurut saya masih terlalu cepat. Karenas kadang kita juga kesal ya ketika film dari buku tidak sesuai. Biarkan dia hidup dulu di hati pembaca. Kalau buru-buru nanti kurang seru.”

Adapun untuk novel berikutnya, ia sedang mempersiapkan sekuel dari Melangkah yaitu Berlari.

“Saya suka banget ke Indonesia Timur. Kalau Sumba punya savana dengan legenda kudanya, nah di Sulawesi ada Luwuk Banggai dengan Kraken. Mitosnya, itu gurita raksasa. Jadi kalau di Melangkah aksinya pakai kuda perang yang dibikin canggih, kalau di Berlari mau bikin Kraken yang canggih. Masalahnya, karena risetnya harus ke Indonesia Timur jadi sekuelnya belum terbit-terbit juga. Padahal sudah empat tahun dan ditunggu-tunggu oleh pembaca. Bukan apa-apa, biaya risetnya juga mahal. Ke Indonesia Timur itu lebih mahal daripada ke Eropa. Kalau riset kan harus sebulan, tiga minggu, jadi mahalnya itu bukan hanya dua kali lipat, tapi lebih mahal lagi. Apalagi rencananya sekaligus untuk menyusun sekuelnya lagi yaitu Terbang, supaya pembaca tidak harus menunggu sampai empat tahun lagi. Jadi paling lama setahun setelah Berlari terbit, Terbang bisa terbit.”

Sebanyak 16 judul buku yang telah ia tulis menjadi bukti produktivitasnya. Lelaki kelahiran Januari 1991 ini berbagi tips saat mengisi acara bedah buku di Intress Library Festival, kantor pusat DJPb, bulan Agustus 2024.

“Untuk menyeimbangkan aktivitas menulis dengan yang lainnya, kita harus disiplin. Pagi pukul 04.00 saya sudah menulis. Saya bisa menulis di kereta, di stasiun, di pesawat, di mana saja. Jadi ya disiplin. Memang disiplin itu saya bangun. Saya datang ke orang-orang hebat, belajar langsung dari mereka, bekerja dengan mereka, datang ke acara mereka. Jadi tidak ada mood itu, sudah saya usir. Saya tidak percaya lagi menulis itu harus menunggu mood. Menulis itu sudah seperti bernapas,” tegasnya.

“Saya mengetik satu novel itu rata-rata 2 sampai 4 minggu saja. Tapi itu mengetiknya saja. Yang lama sebetulnya adalah risetnya. Kalau kerangkanya sudah jadi, konfliknya sudah jadi, mengetiknya bisa cepat. Digabung dengan risetnya bisa adi enam bulan, bisa setahun. Bahkan ada tulisan yang sejak novel pertama saya terbit sampai hari ini sudah 12 tahun risetnya dan masih berjalan, novelnya belum jadi,” katanya.

“Kita harus menghadirkan tokoh-tokoh itu di kepala kita. Di kehidupannya, dia itu seperti apa. Kita “ajak ngobrol”. Kita harus membayangkan tokoh A ketika bertemu dengan orang lain itu seperti apa cara bicaranya, seperti apa pilihan kata-katanya ketemu tokoh B atau tokoh C. Bahkan hal-hal yang sepertinya remeh, misalnya si A ini di tempat ramai atau saat sendirian gerak-geriknya seperti apa, karena pasti akan berbeda dan ini akan memengaruhi bagaimana ceritanya berjalan, termasuk memengaruhi bagaimana ketika dia bertemu dengan tokoh antagonis.”

“Novel saya yang berjudul Dompet Ayah dan Sepatu Ibu berisi cerita tentang seorang perempuan bernama Zenna dan seorang laki-laki bernama Asrul. Sebenarnya ini kisah ayah dan ibu saya. Tahun ini Ibu pensiun, sementara saya sudah menulis 17 novel dan belum satu pun yang saya tulis untuk orang tua saya. Suatu waktu saya nonton stand up comedy Praz Teguh, dia bilang materinya saat itu baru dibuat setelah orang tua meninggal. Jangan sampai yang lain menyesal juga, katanya. Akhirnya saya menulis Dompet Ayah Sepatu Ibu.”

“Itu risetnya sangat rumit. Saya harus mencari orang-orang yang hidup di kampung Ibu saya. Ceritanya kan Zenna sudah dijanjikan dibelikan sepatu. Hal termewah yang dia dijanjikan seumur hidup adalah sepatu itu, tapi malah ayahnya meninggal. Untuk risetnya saya harus mencari teman-teman Ibu saya. Ada yang sudah meninggal, ada yang ternyata sudah di mana. Begitulah, unik-unik. Setiap novel itu punya riset masing-masing. Bungkam Suara itu risetnya tidak di lapangan, tapi saya melihat orang-orang yang julid di medsos, karena ceritanya tentang di suatu negara tidak boleh ada kritikan tetapi pada suatu hari mereka rayakan festival bebas bicara.”

Seperti ia sebutkan sebelumnya, lelaki berdarah Minang (Jombang dalam bahasa Minang yang sudah masuk pula di KBBI berarti tampan atau rupawan, jadi bukan dari nama kota di Jawa Timur) ini banyak belajar dari penulis lain untuk terus mengasah keterampilannya.

“Kalau kata Bu Dee Lestari, ide itu punya alam yang berbeda. Ide bisa datang ke siapa saja. Pernah tidak kalian nonton film lalu terpikir, sepertinya kita juga pernah punya ide yang sama? Ide ini ternyata sudah pernah datang ke kita dengan caranya yang ajaib, tetapi kita tidak mempertanggungjawabkannya. Entah kita memang malas, atau kita tidak punya kapasitas di sana, atau kita memang bukan berkecimpung di dunia sana. Pernah lihat nggak postingan Dian Sastro yang di toiletnya ada kertas sama pulpen untuk mencatat ide? Beda sama kita ya, di toilet malah scroll hp. Jadi ketika ada ide, sebetulnya langsung tangkap saja dulu,” sarannya.

“Nah, bagaimana kalau ide itu ternyata tidak berguna? Ya kita lepaskan saja, ikhlaskan saja, karena ternyata kita tidak berhasil mempertanggungjawabkannya. Misalnya, akhirnya ada cerita yang saya lepas ke adik-adik penulis baru. Idenya sudah bertahun-tahun bersemayam, sepertinya akan lebih cocok dengan penulis yang baru dengan branding dia. Ternyata karya itu memang menjadi jauh lebih bagus di tangan dia. Kemarin idenya cuma numpang nginep di kepala saya.”

Dengan prinsip seperti itu, tak heran tema novel yang ditulisnya juga amat beragam. Ada tema keluarga seperti dalam Kado Terakhir dan Dompet Ayah Sepatu Ibu, ada seri Kami (Bukan) yang bergenre komedi persahabatan anak muda walau isu yang diangkat serius, ada buku Bungkam Suara yang berisi kritik sosial. Terdapat pula genre aksi fantasi di buku Melangkah yang tetap ia padukan dengan pandangan terhadap kondisi masyarakat.

“Di kelas dulu (saat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) Pak Faisal Basri menanyakan apakah di kelas ini ada yang bisa menulis fiksi. Kalau ada, beliau bilang cobalah menulis tentang krisis ekonomi dalam kisah fiksi. Tapi setelah itu kami lanjut kuliah dan lupa begitu saja. Lalu saya teringat lagi perkataan Pak Faisal Basri itu ketika satu Jawa mati lampu tahun 2019. Saya terpikir, ternyata menjatuhkan suatu negara itu tidak perlu penyakit atau bom, tetapi cukup dengan dimatikan listriknya seminggu. Kemudian saya datang ke teman-teman yang menjadi dosen, seperti apa analisisnya kalau terjadi mati listrik seminggu, apakah mungkin terjadi krisis?”

“Jadi walaupun novel saya fiksi, tetapi pendekatannya sedekat mungkin dengan di kampus. Dari perhitungan teman-teman, dibuat regresi, dihasilkan analisis bahwa mungkin hari pertama orang panik, marah-marah. Hari kedua ATM sudah tidak bisa berfungsi. Hari ketiga distribusi makanan berhenti. Hari keempat krisisnya sudah merambat ke desa-desa, jadi chaos, dan kota-kota besar bisa menjadi lumpuh. Terbayang kalau dalam kondisi ini ada orang yang punya niat jahat atau kecewa karena pernah dikhianati. Tapi saat itu masih ada satu kepingan yang belum ketemu, karena menurut saya supaya seru lokasi ceritanya jangan di Jakarta.”

“Soal latar ini jadinya menyambung ke film Humba Dreams (2019). Tiba-tiba saya dipanggil oleh Mas Riri Riza. Saya kira mau diajak menulis skrip, tetapi katanya ternyata mau di-cast. Saya kira casting untuk tokoh sampingan karena aktor utamanya pasti sudah pilihan. Lihat film-film Miles Films sebelumnya tidak main-main kan, ada Nicholas Saputra dan sebagainya. Besok-besoknya tes screen lagi dan lama-lama skripnya kok makin tebal. Ternyata saya di-cast jadi tokoh utama. Novel Melangkah adalah kombinasi itu semua: lolos casting, syuting ke Sumba, mati lampu, krisis ekonomi, dan satu lagi, action atau berantemnya harus ada. Kebetulan dulu saat SMA dan kuliah saya menekuni pencak silat sampai kejurnas sehingga paham bagaimana adegan itu terbentuk dan bagaimana perkelahian terjadi. Saya buat berbeda pencak silatnya di novel dengan beberapa kombinasi. Untuk riset Melangkah saya tinggal di Sumba sekitar 4 bulan. Di sana ada banyak savana luas, kuda ada di mana-mana, dan ada kerajaan-kerajaan kecil. Saya belajar seperti apa tokoh-tokohnya, karakter dan tingkah lakunya ketika kecil.”

“Novel Melangkah ini judulnya demikian karena penulisnya juga melangkah dari genre yang selama ini nyaman ke tidak nyaman. Tokoh utamanya juga mahasiswa yang baru lulus dan memang melangkah keluar dari rumah. Selama ini mereka di rumah saja, tidak diizinkan ngapa-ngapain oleh orang tuanya. Pesannya adalah, padahal anak muda itu diharapkan oleh orang tuanya untuk menjadi manajer di kantor, tetapi di rumah mau melakukan sesuatu saja dimarahi terus, bernegosiasi di rumah saja tidak bisa,” kata JS Khairen menyentil pola pengasuhan sebagian orang tua.

Bicara soal orang tua, JS Khairen percaya bahwa tingkat literasi negeri ini bisa didukung oleh aktivitas membaca di tingkat keluarga.

“Saya sendiri bukan kutu buku. Saya setiap hari main sepeda, main ke sungai, main layang-layang. Cuma, karena ayah saya wartawan, jadi saya banyak membaca koran dan buku. Dari kecil saya sudah baca Sejarah Tuhan dan buku tentang Soekarno. Sekali sebulan Ayah mengajak kami ke Gramedia. Kami mendapatkan jatah buku. Kalau sedang ada dananya, boleh dua buku. Kalau sedang tidak ada uang, kami cuma menumpang baca. Lama-lama bukunya banyak dan kami membuat perpustakaan kecil di desa.” Ayahnya adalah Khairul Jasmi, jurnalis senior yang kini menjabat sebagai pimred harian Singgalang, juga penulis beberapa buku (salah satu ulasannya saya tuliskan di sini: resensi buku Perempuan yang Mendahului Zaman).

Bagi Bang JS, sebetulnya minat baca masyarakat itu cukup besar. Hanya saja, yang kurang adalah akses dan pilihannya. Maka kemunculan komunitas membaca buku seperti Jakarta Book Party dan kegiatan serupa di kota lain yang banyak diikuti oleh generasi Z patut diapresiasi.

“Kalau anak sekarang sudah telanjur tidak suka membaca, ajak ke toko buku supaya memilih sendiri sesuka dia. Jadi orang tua berperan untuk minat baca anak. Untuk memancing bebaskan anak memilih bacaan yang seperti apa, bisa novel, lucu-lucuan, cerita komik yang seru, mulai dari sana. Atau kalau masih lumayan kecil anaknya, orang tua yang bacakan, cari yang seru dan coba didramatisir sendiri di rumah. Atau bisa dengan bermain peran seperti main bajak laut mencari harta karun. Ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengajak anak mengenal literasi. Di masa depan semuanya sudah serbalengkap, AI makin canggih, maka yang dicari adalah leadership manusia yang punya skill yang sophisticated. Termasuk skill membaca, mendengarkan, dan storytelling. Kalau anak sukanya main game, ajak cerita saja. Misalnya di game itu ada hero, bagaimana kalau tokoh ini diubah menjadi karakter manusia modern,” pesan bapak dua anak ini.

“Oh ya, dan satu lagi. Jika teman-teman belum menikah, carilah pasangan yang suka baca buku. Jadi nanti di rumah punya perpustakaan pribadi. Saya melihat generasi milenial yang baru punya anak datang ke acara bedah buku saya di Gramedia, di mana-mana. Padahal biasanya yang datang usia-usia pelajar dan mahasiswa. Sekarang sudah ada yang datang dengan membawa anak. Usianya 20-an akhir, 30-an awal, memang ini usia-usia “balas dendam”. Waktu kecil tidak punya uang, sekarang begitu punya uang maka mereka borong buku.”

Secara umum, ia juga menyarankan untuk membaca minimal dua buku per bulan.

“Satu fiksi, satu nonfiksi. Nonfiksi untuk kepala, fiksi untuk hati. Kita lihat perbedaan isi kepala teman-teman dalam 3-4-5 bulan ke depan,” tegasnya. Bahkan di tengah pesathya perkembangan teknologi yang menbawarkan unggahan berdurasi pendek, Bang JS yakin budaya membaca akan tetap lestari.

“Aktivitas membaca itu akan selalu ada. Katakanlah suatu saat buku itu punah, budaya bercerita masih akan ada. Dari zaman manusia hidup di gua, kita sudah terbiasa menyampaikan cerita dan berita lewat tuturan. Misalkan suatu saat nanti kita sudah menjelajah sampai Planet Mars, mungkin hidup kita sudah bukan berbentuk fisik lagi, tetapi sudah menjadi algoritma kuantum, kita akan terus bercerita. Mungkin buku secara fisik bisa punah tapi buku dalam bentuk lain tidak akan.” pungkasnya.

Awas Terjebak Unrealistic Optimism, Apa Itu?

“Ah, yang penting kita positive thinking aja. Kalau kita ketakutan terus, penyakit malah jadi gampang dekat-dekat.”

Perkataan seperti di atas mungkin sering kita dengar, apalagi akhir-akhir ini. Stres atau kepikiran dalam skala berat disebut-sebut bisa menurunkan imunitas dan meningkatkan kemungkinan tubuh kita diserang penyakit.

Saya kutip dari Kompas tahun 2012, stres membuat sistem tubuh berkurang kemampuannya untuk meredam peradangan. Belum lagi, orang yang sedang mengalami stres kadang juga kemudian terjebak pada perilaku yang tidak sehat seperti merokok, minum minuman keras, tidak mau makan, dan tidur tidak teratur.

Maka ketika pandemi Covid-19 ini makin meluas, sering beredar anjuran untuk membatasi paparan terhadap berita negatif agar kita tidak tertekan. Salah satu grup WhatsApp ibu-ibu yang saya ikuti sampai membuat batasan jam untuk bahasan Covid-19 agar tidak setiap saat ada cerita tentang penyakit tersebut. Bahkan sempat saya baca ada yang menawarkan semacam terapi berpikir positif untuk mencegah dan menangani Covid-19. Nah, seberapa ampuh sebenarnya pembatasan paparan ini terhadap kadar stres kita?

Continue reading

Pentingnya Kelola Stres Saat Pandemi

Kondisi pandemi Covid-19 bukan hanya berefek pada kesehatan fisik, melainkan juga mental. Siapa saja bisa terkena stres akibat pandemi, baik karena memang menderita masalah kesehatan fisik juga, merawat anggota keluarga atau orang terdekat yang sakit, memiliki kecemasan akan wabah penyakit yang terjadi, menghadapi ancaman finansial karena perekonomian yang melambat, merasa tertekan karena harus bertemu dengan orang rumah selama 24 jam setiap hari, hingga merasa “sesak” karena adanya keterbatasan aktivitas sehari-hari. Stres ini bisa berjung pada masalah kesehatan mental.

Kemarin pagi, tanggal 27 Juni, saya menyimak salah satu sesi di WeTheHealth yang membahas Kesehatan Mental: Pentingnya Mengelola Stres Saat Pandemi bersama Mas Ade Binarko, founder Sehatmental.id. WeTheHealth adalah konferensi kesehatan digital pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Jovee dan Lifepack Indonesia. Banyak sesi menarik yang digelar dari pagi hingga sore hari.

Mas Ade merupakan penyintas atau survivor masalah kesehatan mental. Mas Ade pernah menghadapi masalah yang sampai membuatnya terkena panic attack hingga harus mendapatkan bantuan medis. Kemudian, Mas Ade mendirikan Sehatmental.id pada tahun 2015 karena merasakan belum menemukan kelompok dukungan untuk mereka yang menderita masalah mental terkait anxiety. Di Sehatmental, Mas Ade bekerja sama dengan Dr. Vivid Argarini yang merupakan seorang akademisi dan praktisi komunikasi dan dr. Rama Giovani, Sp.KJ, psikiater.

Mas Ade mengungkapkan, masa sekarang memang membawa banyak perubahan yang drastis. Aktivitas yang semula cukup bebas sekarang jadi terbatas. Semua orang dianjurkan untuk di rumah saja. Khususnya bagi orang yang berkepribadian ekstrovert, pasti terasa tidak nyaman. Ini saatnya kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memikirkan orang lain, karena meski merasa sehat kita bisa saja termasuk dalam golongan orang tanpa gejala (OTG) yang tetap berpotensi menularkan.

Continue reading

Kafe Sastra, Tempat Nongkrong Bernuansa Pujangga

Sekitar dua tahun yang lalu, setiap pulang kerja, saya selalu melewati Jalan Bunga yang terletak di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Hanya lewat-lewat saja dan seringnya ketika matahari sudah mulai tenggelam, jadi saya tidak terlalu memperhatikan bangunan di sekitar. Setelah tidak lagi melalui rute tersebut, saya justru baru tahu, ada kafe nan cantik di jalur menuju Stasiun Commuter Line Pondok Jati tersebut. Kegiatan Milad Forum Lingkar Pena (FLP) tahun 2019 yang bertempat di aula PT Balai Pustaka (Persero) membawa saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kafe Sastra ini.

Kafe Sastra Balai Pustaka

Continue reading

Wawasan Makin Lengkap dengan Kulwap

Whatsapp menjadi salah satu aplikasi yang bisa dibilang paling sering kita gunakan saat ini. Praktis memang, kita bisa saling berkirim pesan baik berupa tulisan, gambar, suara, hingga video. Karena kemudahan yang ditawarkan itulah, whatsapp juga bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Muncul kuliah whatsapp yang biasa disingkat dengan kulwap, atau ada juga yang menamakan dengan kulsap, semol (seminar online, meskipun yang ini tidak terkhusus pada platform whatsapp), waminar (whatsapp seminar), dan banyak lagi istilah yang dibuat untuk menamai aktivitas belajar bersama ini.

Pekan lalu tabloid NOVA mengangkat serba-serbi kulwap, dan saya dihubungi untuk wawancara singkat. Tidak singkat-singkat amat, sih, sebenarnya. Cukup panjang malah, walaupun yang dimuat akhirnya hanya sebagian. Sekalian saja saya simpan jawaban selengkapnya yang sudah saya konsep di sini, karena sebetulnya saya juga sedang ingin menulis seputar fenomena menambang kontak dari whatsapp (yang akan saya bahas dalam tulisan terpisah).

Bahasan Kulwap di Tabloid NOVA

Kalau ditanya kapan pertama kali ikut kulwap, saya tidak ingat persis. Mungkin sekitar tahun 2014, hanya itu yang bisa saya temukan jejaknya dari back-up di e-mail. Saya mengetahui adanya kulwap yang akan diselenggarakan biasanya dari grup whatsapp lain atau kalau ada pengumumannya di media sosial. 

Continue reading

Ingin Yang Terbaik, Sudahkah Kita Dukung Anak Asah Potensinya?

Ketika membaca bahwa Teman Main akan menyelenggarakan Family Gathering tanggal 28 September untuk memperingati ulang tahunnya yang ketiga, saya segera mendaftarkan diri. Sebelumnya, kami sudah pernah ikut tiga field trip yang diselenggarakan @temanmainid. Lengkapnya #temanmain20 di Sudin Pemadam Kebakaran Jaktim, #temanmain21 di Taman Lebah Madu Cibubur, dan #temanmain24 di Museum Maritim. Anak-anak seseruan sambil tambah pengetahuan, orang tuanya pun ikutan (ya, banyak lho yang baru kami ketahui). Nah, saya baru tahu kalau ternyata Teman Main sudah 3 tahun usianya. Semoga makin banyak variasi kegiatannya di akhir pekan yaaa 😁 (curahan hati mamak pekerja).⁣⁣

Asah Bakat dan Salurkan Minat Lewat Erlangga Talent Week 2019

Cerita beberapa teman yang mengikuti rangkaian acara Erlangga Talent Week tahun 2018  di Kuningan City sukses membuat saya menyesal. Ada talk show dengan materi menarik, juga lomba-lomba yang seru untuk anak. Saat itu kondisi kami memang sedang tidak memungkinkan untuk bepergian, sehingga terpaksa melewatkan event tahunan tersebut (sudah diadakan sejak 2009) meski sudah memantau jadwal kegiatannya yang dipublikasikan sejak jauh-jauh hari. Maka, saya bertekad tahun ini harus datang ke sana.

Continue reading

Bisakah Kegiatan Beberes Menjadi Menyenangkan?

Rumah atau hunian dalam bentuk apa pun itu adalah tempat ke mana kita pulang. Rumah atau bentuk tempat tinggal lainnya identik dengan tempat beristirahat, berkumpul, bercengkerama dengan anggota keluarga yang lain. Maka, kenyamanan biasanya menjadi hal utama yang dikejar ketika seseorang memilih tempat tinggal. Selain nyaman (dan aman) lingkungan sekitarnya, tentu juga nyaman ditempati sehari-hari.

Lalu, bagaimana jika tempat tinggal kita menjadi tak lagi nyaman ditempati gara-gara kondisinya yang berantakan? Kadang, untuk memulai beberes pun rasanya kita enggan, saking sudah begitu banyaknya barang di rumah yang diletakkan sembarangan. Bingung mau mulai dari mana. Atau mungkin ada juga yang berpikiran, untuk apa dirapikan, toh nanti juga bakal berantakan lagi.

Sabtu lalu, tanggal 28 September 2019, saya mengikuti seminar Tidying Up Must Be Fun yang diselenggarakan oleh MommyKids Friends di Dekoruma Experience Center, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bukan hanya seminar, pada sesi siang juga ada workshop di mana peserta bisa praktik langsung cara melipat pakaian yang efektif. Yang menjadi narasumber adalah mas Aang Hudaya, co-founder komunitas Gemar Rapi. Beberapa waktu yang lalu mas Aang mengisi pengajian di kantor saya dengan tema serupa, tetapi waktunya cukup singkat dan tidak ada sesi praktik.

Dulu saya sempat penasaran kenapa ada komunitas beberes yang namanya Gemar Rapi, dengan penggiat yang sepertinya dulu aktif di Konmari Indonesia, tetapi akhirnya terjawab dari penjelasan mas Aang di sini, bahwa Gemar Rapi memilih untuk merumuskan metode sendiri yang lebih sesuai dengan budaya Indonesia. Gemar Rapi juga bisa diartikan sebagai Gerakan Menata Diri dari Rumah dan Pribadi.

Continue reading

Menengok 22 Tahun Perjalanan FLP, Penuh Haru dan Ikut Bangga

Saya mengenal Forum Lingkar Pena atau FLP pertama kalinya di bangku SMA. Saat itu, majalah Annida menjadi bacaan wajib saya. FLP di mata saya adalah organisasi yang memayungi para penulis, utamanya yang beragama Islam, agar bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling menyemangati serta membantu dalam berkarya. Di kampus dulu sempat ada organisasi rintisan sebagai bagian dari FLP, tetapi saya tidak bergabung dan tidak mendengar lagi juga kelanjutannya. Sewaktu bertugas di Pangkalpinang, saya diajak oleh beberapa teman untuk membangkitkan lagi FLP Bangka Belitung, tetapi cita-cita itu juga belum terlaksana. Baru sebatas obrolan dengan anggota FLP yang dulu pernah membentuk FLP Bangka Belitung dan juga dengan salah satu pengurus FLP pusat. Begitu saya pindah ke Jakarta, obrolan itu jadi menguap.

Meski tidak menjadi anggota, tetapi saya tetap tertarik dengan berita-berita terkait FLP. Ketika membaca pengumuman di grup Blogger Muslimah bahwa dalam pada tanggal 24 Februari akan diselenggarakan acara untuk memperingati Milad ke-22 Forum Lingkar Pena, saya pun mendaftarkan diri. Kegiatannya sendiri mengambil tema Berbakti, Berkarya, Berarti dan diselenggarakan di kantor Balai Pustaka, Jakarta Timur.

Baru dari acara inilah saya mencermati betul sejarah FLP lewat video yang disajikan. Jadi, FLP didirikan di UI pada tanggal 22 Februari 2007 oleh tiga aktivis literasi yaitu mbak Helvy Tiana Rosa, mbak Asma Nadia (Asmarani Rosalba), dan mbak Maimon Herawati. Yang pernah menjadi Ketua Umum FLP adalah mbak Helvy Tiana Rosa (1997-2005), mas M. Irfan Hidayatullah (2005-2009), mbak Izzatul Jannah atau Setiawati Intan Savitri (2009-2013), dan mbak Sinta Yudisia Wisudanti (2013-2017). Kini anggota FLP yang sudah terverifikasi mencapai 2800 orang, dan masih ratusan yang belum terekonsiliasi registrasinya. FLP memiliki penjenjangan anggota (Muda, Madya, Andal) dengan assessment terstandar. Dalam kegiatan ini juga sekaligus diadakan peluncuran buku “Berbakti, Berkarya, Berarti: Jejak Forum Lingkar Pena dalam Gerakan Literasi Indonesia”.

Mba Yeni Mulati atau lebih dikenal dengan nama penanya Afifah Afra selaku Ketua Umum FLP Pusat periode 2017-2021 bercerita tentang visi dan misi FLP yang langsung to the point: literasi merupakan satu tujuan penting. “Kita ingin literasi menjadi suatu hal yang universal, masuk ke gang-gang sempit, kedai kopi, pos ronda, tempat berkumpulnya ibu rumah tangga. Mengembalikan periode yang hilang, yang tercungkil dari periode peradaban Indonesia,” sebut mba Afifah Afra.

Continue reading

Tere Liye: Penulis Itu Harus Keras Kepala!

Melihat pengumuman bahwa Tere Liye akan mengisi Bincang Buku di Gramedia Matraman tanggal 23 Desember, tentu saya senang sekali. Sebelumnya saya memang sudah pernah bertemu dengan Bang Darwis, begitulah nama asli Tere Liye, di Islamic Book Fair entah tahun berapa (sebelum Fahira lahir sepertinya). Malahan waktu itu sesi book signing bukunya yang dilakukan di stand Republika tergolong agak sepi, sehingga para penggemarnya, termasuk saya, bisa sambil mengobrol santai sejenak saat buku ditandatangani.

Namun saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengarkan kembali cerita Bang Tere secara langsung. Sekian tahun berlalu, pastilah banyak perkembangan yang terjadi. Misalnya, kenapa lantas menulis untuk segmen remaja? Mengapa seri Anak-anak Mamak dikemas ulang dengan judul baru? Bagaimana proses menulis dengan co-author yang diterapkannya untuk beberapa buku? Apa kabar protesnya terhadap pajak penulis tempo hari?

Sebagian pertanyaan di atas terjawab dalam sesi bincang-bincang hangat sore itu. Tanpa pengantar moderator ataupun MC, Bang Tere langsung menguraikan banyak hal. Di sebelahnya, salah satu co-author-nya, yaitu abangnya yang bernama Sarippudin mendampingi walaupun tidak terlalu banyak menimpali.

Kenapa seorang Tere Liye menulis? Ia sebenarnya adalah lulusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bahkan pernah berpartisipasi dalam penyusunan sejumlah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). “Boleh jadi menulis adalah salah satu jalan hidup saya untuk berkontribusi bagi orang lain,” akunya.

Continue reading