Mainan Anak dari Bahan Makanan

Selama ini sering saya baca baik di majalah, laman web, hingga akun pribadi ada yang berbagi tips membuat play dough sendiri, adonan mainan homemade, dan sejenisnya. Tentu saja sebagai ibu yang suka mentok soal permainan edukatif anak saya ikut mengumpulkan resep-resepnya, tapi belum sampai betul-betul bikin. Entahlah, rasanya kok sayang saja, gitu. Termasuk penggunaan kentang atau bawang untuk membuat semacam stempel. Itu bahan makanan kan, ya? Bisa buat memenuhi hak tubuh, dan di tempat lain bisa jadi ada yang lebih membutuhkan kan, ya?

Memang, permainan bukannya tidak bermanfaat, ada stimulasi sensori motorik di situ. Tapi pilihan lain kan ada, beli jadi misalnya. Mau pakai alasan ‘yang homemade lebih aman’ pun, produsen play dough terkemuka biasanya jelas mencantumkan cara pakai dan komposisi di kemasan kok, meliputi pewarna apa yang dipakai dan peringatan akan adanya kandungan tertentu yang berpotensi memicu reaksi alergi, termasuk terigu (nah, ini gimana ya, termasuk menyia-nyiakan bahan makanan juga nggak, ya?). Jadi bisa dipilih sesuai dengan kondisi. Kalau dibilang ‘proses bikinnya itu yang seru dan mendidik’, ya masih bisa juga anak diajak bikin adonan buat roti beneran. Misalkan kepepetnya anak ada alergi sehingga yang aman dimainkan hanya yang bikinan sendiri, yang ini mungkin bisa mendapat pengecualian (jika memang darurat ada kemampuan tertentu yang harus distimulasi dengan cara itu barangkali ya).

Belakangan seorang teman di grup whatsapp memposting kutipan artikel di bawah ini yang menjawab kegundahan saya. Yah, walaupun awalnya saya tidak kepikiran soal biji-bijian untuk kolase atau dironce misalnya. Mungkin karena dalam pikiran saya untuk biji-bijian yang terpakai tidak terlalu banyak sebagaimana yang terjadi untuk adonan ya. Omong-omong soal jumlah, mungkin kalau sedikit atau bisa dipakai kembali (biji-bijian, makaroni habis dironce yang bisa dibersihkan) tidak apa-apa? Harus ditanyakan lagi nih ke yang kompeten menjawab, nanti saya update postingan kalau sudah ada jawaban.

Lebay? Mungkin ada yang beranggapan begitu ketika membaca tulisan tersebut. Yah, namanya hati-hati dengan dalil yang jelas (bukan sekadar waspada karena testimoni atau kekhawatiran yang tidak beralasan) kan boleh, ya? 🙂 Yang jelas, saya saat ini mantap untuk tidak bikin sendiri play dough dan sejenisnya (bukan karena malas bikin ya, hehehe).

=============================================================================

Membuat Kolase dari Beras, Kacang dll

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini muncul permainan untuk anak-anak dengan bahan baku kacang, beras dan adas (sejenis rempah-rempah) dan bahan makanan lain dari nikmat-nikmat Allah. Bahan-bahan ini juga digunakan dalam pembuatan media pembelajaran. Seperti untuk membuat peta dan yang lainnya, kemudian dicat dengan warna tertentu. Apakah perbuatan ini diperbolehkan? Bagaimana jika digunakan untuk pembuatan ilustrasi? Kami mengharapkan penjelasan.

Jawaban:
Yang nampak bagiku tentang masalah ini bahwa perbuatan ini tidak boleh dilakukan. Karena di dalamnya terdapat unsur menghinakan nikmat-nikmat Allah. Juga terdapat unsur buang-buang harta tanpa ada keperluan. Perbuatan semacam ini mengumpulkan dua unsur tadi, buang-buang harta dan menghinakan nikmat, yang seharusnya nikmat tersebut dimanfaatkan dengan cara yang lain. (Pendapat) inilah yang menurutku paling kuat dan paling dekat dengan kebenaran. Wallahua’lam.
(Sumber: www.alifta.net)

Membuat Playdough dari Tepung, Minyak Goreng dan Garam

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta

Pertanyaan:
Kami adalah ibu guru yang mengajar di sebuah Taman Kanak-kanak. Kami memiliki  sebuah materi pelajaran yang disebut dengan pelajaran ketrampilan seni. Anak-anak diberikan adonan yang terbuat dari campuran tepung putih, garam,  minyak, pewarna makanan. Bahan-bahan ini diuleni ibu guru hingga menjadi adonan kalis berwarna yang lebih lembut daripada tanah liat. Adonan ini diberikan kepada anak-anak untuk bermain. Perlu diketahui, sebagian adonan ini berjatuhan di lantai, terinjak kaki dan ketika kering adonan ini dibuang ke tempat sampah. Apa hukum bermain adonan dengan model permainan seperti di atas, sementara pelajaran ini menjadi kurikulum yang ditetapkan kementerian pendidikan dan pengajaran. Berilah kami pencerahan tentang masalah ini dengan penuh ucapan terima kasih. Jazakumullahu khairan.

Jawaban:
Menyuguhkan adonan seperti yang disebutkan dalam soal diatas untuk diberikan kepada anak-anak agar mereka bermain dengan adonan tersebut, termasuk menghinakan dan menyia-nyiakan nikmat. Sementara banyak orang sangat membutuhkannya. Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan untuk menjaga nikmat dan memuliakannya. Beliau juga memberi arahan kepada orang yang membawa makanan lalu sepotong makanan terjatuh, agar orang tersebut membersihkan bagian yang kotor lalu memakannya dan tidak menyisakannya untuk setan. Dan masih memungkinkan memberikan mainan alternatif lain bagi anak seperti tanah liat dan bahan lainnya yang memiliki tujuan yang sama, yang dapat melatih anak-anak.

Wabillahit taufiq. Washallallahu’ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala aalihi washahbihi wa sallam

Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah Wal Ifta

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah Alu Asy Syaikh
Anggota
Abdullah bin Ghudayyan
Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Ahmad bin Ali Al Mubaraki
Abdullah bin Muhammad Al Muthalliq
Abdullah bin Muhammad bin Khunain
Sa’d bin Nashir Asy Syitri
(Sumber: www.alifta.net)

Boleh Bermain dengan Kulit dan Ampas Makanan

Oleh Syaikh Khalid bin Suud al Bulihid

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Saya tinggal di Swiss. Di sini, anak-anak TK biasa bermain adonan yang terbuat dari tepung,  garam sehingga tidak meracuni anak (jika tertelan). Apakah hal ini diperbolehkan meskipun terbuat dari bahan makanan? Apakah diperbolehkan jual beli mainan seperti ini?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,

Alhamdulillah,
Yang nampak bahwa tidak diperbolehkan bermain dengan adonan makanan secara mutlak. Karena termasuk membuang-buang dan menghinakan sesuatu yang seharusnya dimuliakan. Juga karena perbuatan semacam ini meniadakan syukur yang wajib. Sementara Allah Ta’ala sungguh memerintahkan kita untuk mensyukuri nikmat. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sangat memuliakan makanan walaupun hanya sedikit. Sampai-sampai beliau shallallahu’alaihi wasallam bermaksud memakan satu kurma yang beliau temui di jalan akan tetapi beliau khawatir kurma tersebut adalah kurma sedekah. Beliau shallallahu’alaihi wasallam juga memerintahkan  untuk mengambil sepotongan makanan yang terjatuh di tanah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam,

إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ ) ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ قَالَ : ( فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمْ الْبَرَكَةُ ) .

Jika sepotong makanan salah seorang di antara kalian terjatuh hendaknya ia membuang kotoran darinya kemudian memakannya. Dan janganlah membiarkannya untuk setan.” Beliau memerintahkan kami agar membersihkan makan yang tertinggal di piring (dengan tangan). Kemudian bersabda, “Sesungguhnya kalian tidaklah tahu, makanan mana yang mengandung berkah.” (HR. Muslim)

Bermain adonan makanan termasuk merugikan dan menyia-nyiakan harta dalam perkara yang tidak benar. Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang kita dari hal-hal yang demikian sebagaimana terdapat dalam sunnah.

Bermain adonan makanan termasuk sikap boros dalam harta. Sungguh Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makan, minumlah dan jangan berlebihan.” (QS. Al A’raf: 31)

Adapun bermain kulit makanan atau sampah makanan yang umumnya tidak dapat diambil manfaatnya atau tidak jelas kegunaannya maka tidak mengapa. Karena itu bukan termasuk makanan yang dimuliakan. Dahulu,  para sahabat ridhwanullahi’alaihim saling melempari dengan kulit semangka,  sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Dengan demikian, tidak seharusnya menjadikan apapun jenis makanan selama makanan tersebut dimuliakan lalu digunakan sebagai bahan mainan anak-anak. Akan tetapi yang wajib dilakukan adalan memuliakan makanan, memperhatikan dan merawatnya karena rasa syukur kepada Dzat yang Maha Melindungi yang telah memberikan nikmat yang berharga.
Sudah selayaknya mencari alternatif material lain yang tidak dimuliakan namun cocok dibuat mainan dan senang-senang.

Demikian juga perlu diwaspadai untuk tidak menggunakan bahan makanan seperti telur, kelapa, tepung dalam perlombaan dan perayaan seperti kebiasaan sebagian orang bermain-main dengan bahan tersebut.

Tidak pantas bagi seorang muslim ikut-ikutan menjualbelikan, menyewakan makanan yang dipersiapkan sebagai bahan untuk acara permainan dan hiburan, karena hal ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Para ulama telah menegaskan haram hukumnya menjual makanan kepada orang yang akan menggunakannya untuk berjudi.

Diperbolehkan bagi seseorang menggunakan makanan untuk memperbaiki tubuhnya atau untuk pengobatan. Seperti menggunakan buah-buahan, madu untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan bintik-bintik dan tujuan baik yang lain. Karena ini termasuk menggunakan makanan untuk tujuan yang jelas kemanfataannya. Karena termasuk dalam pengobatan yang mubah serta bukan termasuk menerjang kemuliaan makanan dan bukan untuk main-main. Maka tidak mengapa memanfaatkan makanan untuk pengobatan atau kosmetik agar penampilan makin cantik (untuk berhias didepan suami-pen). Wallahua’lam.washallallahu’ala Muhammad wa aalihi washahbihi wasallam. (Sumber: https://saaid.net/Doat/binbulihed/f/365.htm)

Di antara alternatif mainan anak-anak dari sisa makanan yang tidak bermanfaat lagi misalnya menggunakan ampas kelapa, kulit semangka, kulit jeruk atau tepung yang sudah bau apek, berjamur, berkutu, banyak larva sehingga sangat tidak layak dikonsumsi bisa dimanfaatkan untuk bahan playdough daripada dibuang. Allahu Ta’ala A’lam.

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله واصحابه

***
Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti
Artikel wanitasalihah.com

Sumber:http://wanitasalihah.com/mainan-anak-anak-yang-terbuat-dari-bahan-makanan-apa-kata-ulama/

Penerapan Cashless pada Pemprov DKI Jakarta

Daripada blognya kosong…sekali-sekali posting yang agak serius 😀 (walaupun sebagian besar cuma kompilasi terkait pekerjaan dan ada tambahan beberapa kalimat dari atasan — ini sekalian buat nyimpan link sumbernya).

Pembatasan transaksi tunai, di mana transaksi dengan nilai di atas batas yang ditentukan harus dilakukan melalui sistem perbankan, merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah korupsi maupun pencucian uang. Ide pembatasan transaksi tunai ini di-launch pada saat pendaftaran Calon Pengganti Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 14 Juni 2010. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 37-39/PUU-VIII/2010 halaman 38 menyebutkan bahwa program prioritas pihak terkait untuk pemberantasan korupsi di Indonesia di antaranya adalah melalui pembatasan transaksi tunai. Transaksi keuangan di perbankan akan mudah dideteksi oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), sehingga apabila didapatkan informasi transaksi keuangan yang mencurigakan dapat disampaikan kepada lembaga yang berwenang. Negara lain seperti Perancis, Italia, Rusia, Belgia, Meksiko, Armenia, Ukraina, dan Argentina telah menerapkan pembatasan transaksi tunai (www.ori.or.id).

Pemerintah Pusat telah menyiapkan RUU tentang Pembatasan Transaksi Penggunaan Uang Kartal yang dalam konsideransnya menyebutkan “Penggunaan transaksi keuangan non-tunai melalui lembaga keuangan bermanfaat untuk membatasi penggunaan transaksi keuangan tunai untuk tujuan tindak pidana atau menjadikannya sebagai sarana pencucian uang”. Dalam RUU tersebut, yang diwajibkan menggunakan pembayaran non-tunai adalah transaksi dalam jumlah 100 juta rupiah atau lebih.

Bank Indonesia pun mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Selain efek transparansi dan akuntabilitas, transaksi non-tunai diharapkan juga berdampak pada meningkatnya kecepatan peredaran uang. Lancarnya sistem pembayaran, selain akan memberikan kepastian masyarakat dalam bertransaksi, juga akan mempercepat peredaran uang (velocity of money) dan mengurangi floating dana dalam setelmen. Perputaran uang yang semakin cepat dalam masyarakat akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi sebagai dampak dari money multiplier yang diciptakannya (www.bi.go.id).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut ambil bagian dalam gerakan menuju pembatasan transaksi tunai. Dalam acara penandatanganan kesepakatan bersama dengan PPATK pada bulan Januari 2015 untuk Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Gubernur DKI Jakarta menyampaikan bahwa transaksi tunai membuka peluang terjadinya kecurangan. Sebagai langkah nyata, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkecil besaran Uang Persediaan cash yang dipegang oleh Bendahara Pengeluaran, dimulai dari pengurangan uang pada bendahara semula Rp25.000.000 menjadi Rp2.500.000 pada tahun 2015, dan pada tahun 2016 sudah menjalankan prinsip cashless. Bendahara Pengeluaran sama sekali tidak diperkenankan menyimpan uang tunai di brankas. Dana UP/TUP yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran seluruhnya berada di rekening bank. Hal ini diatur dalam Instruksi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Transaksi Non Tunai (Transaksi Non-Cash).

Seluruh pembayaran transaksi belanja daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus dilakukan secara elektronik via perbankan melalui transfer dan/atau pemindahbukuan tanpa ada batasan nominal rupiah tertentu. Oleh karena itu, seluruh Kepala SKPD/UKPD melakukan pembayaran kepada pihak ketiga, penerima hibah, dan bantuan sosial yang dananya bersumber dari Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) melalui mekanisme non tunai. Untuk itu pihak ketiga dihimbau untuk membuka rekening pada Bank DKI selaku bank yang memegang rekening Kas Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta. Implementasi cashless ini juga dapat meminimalisir kesalahan penghitungan dan kesalahan pencatatan transaksi oleh bendahara pengeluaran.

Beberapa tantangan dalam penerapan pembatasan transaksi tunai adalah perlunya waktu untuk beradaptasi, ketersediaan infrastruktur keuangan yang memadai belum merata, serta bahaya cyber crime. Sosialisasi kepada masyarakat, pembangunan infrastruktur transaksi keuangan yang baik, serta pembangunan sistem pengaturan dan pengawasan yang baik untuk menjaga keamanan dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan tersebut (Buletin Hukum Kebanksentralan, volume 12, nomor 1/2015).

Lagu-lagu LDR

Ini daftar lagu-lagu mengenai Long Distance Relationship (LDR) yang pernah saya sebut dalam buku Long Distance Love (Lingkar Pena Publishing House, 2009). Tentunya dalam tujuh tahun ini banyak lagu baru dengan tema serupa ya, hubungan jarak jauh dan lagu-lagu tentang kangen. Sekilas kayaknya saya pernah tahu lagu Aura Kasih, Raisa, dan Ran tentang jauh-jauhan ini. Tapi belakangan sudah jarang mengikuti perkembangan lagu-lagu terbaru :D, jadi kapan-kapan sajalah update daftarnya.

Belum semua saya pernah dengar sebetulnya sih, sebagian cuma hasil googling karena banyak ternyata yang posting di forum dalam maupun luar dalam rangka cari atau kasih referensi lagu-lagu seputar rasa rindu. Rindu di sini lebih spesifik lagi rindu pada pasangan yang sedang berada di tempat lain, bukan rindu memiliki seseorang yang belum teraih atau rindu pada mantan, hehehe.

1. I Miss U (Incubus)
2. Leaving on a Jetplane (Chantal Kreviazuk)
3. Lagu Rindu (Kerispatih)
4. Rindu Ini (Warna)
5. Kangen (Dewa 19/Chrisye & Sophia Latjuba)
6. Kangen (Maliq & d’Essentials)
7. Merindukanmu (Minoru)

Continue reading

DhawaFest 2016

Seperti tahun lalu, tahun 2016 Kementerian Keuangan menyelenggarakan DhawaFest untuk menyambut bulan puasa. Sebagaimana namanya, kegiatan ini adalah festival yang diorganisir oleh poster dhawafest 1Dharma Wanita Persatuan Kemenkeu. Jika tahun 2015 acara ini diadakan pada tanggal 1-3 Juli atau dalam bulan Ramadhan, tahun ini Dhawa Fest digelar sebelum mulai puasa 1437H, tanggal 1-3 Juni. Lokasinya masih sama, yaitu di Gedung Dhanapala, Kompleks Kementerian Keuangan dekat Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Keseluruhan stand berjumlah 210, banyak juga, ya. Mayoritas merupakan UMKM binaan beberapa BUMN, tapi banyak juga nama ternama seperti Dian Pelangi dan SilkyGirl. Festival yang juga didukung oleh elevenia selaku platform e-commerce mitra UKM dan femina sebagai media partner ini memang antara lain bertujuan mempromosikan potensi unggulan nusantara dan mendukung kesuksesan UMKM.

Dalam sambutannya, pak menteri menekankan perlunya UMKM memperbaiki kualitas agar daya saingnya makin baik, dan pada gilirannya mampu menggerakkan perekonomian sekaligus membuka lapangan kerja.

Berhubung saya ke sana dalam rangka mau bertemu teman-teman sekaligus memberi dukungan ke salah satu anggota grup wa yang mewakili DW ikut lomba antarinstansi (tapi telat 😀 harus nunggu jam istirahat kan soalnya), jadi terus terang saya tak banyak melihat-lihat. Padahal pernak-pernik yang ditawarkan sungguh cantik-cantik dengan harga yang menarik. Akhirnya saya pulang membawa tentengan juga sih, hasil muterin lingkar luar secara kilat, tapi semuanya berupa makanan, hehehe.

img_20160603_125213.jpg img_20160603_125205.jpg img_20160603_125522.jpg img_20160603_125518.jpg img_20160603_121850.jpg img_20160603_125145.jpg

Beberapa liputan:

http://economy.okezone.com/read/2016/06/01/320/1403146/menkeu-wisata-belanja-dapat-atasi-pengangguran-di-indonesia

https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/dukung-kemajuan-umkm-kemenkeu-gelar-dhawafest-2016/

Corner Day Expo Transformasi Kelembagaan Ditjen Perbendaharaan 2016

Sebagai sarana penyampaian informasi dan progress transformasi kelembagaan (TK) tahun 2016 yang telah dicapai oleh Ditjen Perbendaharaan, Project Management Office Ditjen Perbendaharaan menyelenggarakan Corner Day Expo 2016 di Gedung Jusuf Anwar (ex MA), Kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta pada tanggal 23 s.d. 27 Mei 2016. Kegiatan ini dikemas dalam konsep tour ke negara-negara di dunia untuk mencoba menggambarkan visi Ditjen Perbendaharaan “to be a world-class state treasury manager”. Gambaran komprehensif bisa didapatkan oleh para pengunjung melalui display, simulasi interaktif dan penjelasan host di tiap booth yang dikelola oleh masing-masing unit. Tiap booth menyajikan sejumlah inisiatif dan adopsi best practices internasional dalam pengelolaan keuangan negara yang diterapkan oleh Ditjen Perbendaharaan guna memberikan layanan terbaik dan mendorong kinerja Kementerian Keuangan dalam menjalankan fungsinya secara keseluruhan.

Saya kebagian jadwal berkunjung pada hari pertama, sebagai salah satu Duta Transformasi Kelembagaan unit. Kami masuk dalam regu yang sama dengan para kepala KPPN di wilayah Jakarta. Dan ternyata bareng juga dengan Duta TK kantor pusat, alias ketemu dengan rombongan suami di sana. Sebelum memasuki ruangan dalam, pengunjung diminta untuk check-in terlebih dahulu dan mendapatkan tas kecil berisi ‘paspor’ dan alat tulis yang nantinya akan diberi stempel di tiap booth. Setiap rombongan diarahkan oleh tour guide yang nanti sekaligus mengingatkan batas waktu, sebab memang alokasi waktu kunjungan dibatasi untuk efektivitas penyelenggaraan kegiatan. Hari-hari berikutnya, expo akan dihadiri oleh lebih banyak orang (sebagian besar terdiri dari pegawai se-Jakarta yang sudah diatur jadwalnya) sehingga lalu lintas pengunjung harus benar-benar diperhatikan.

Berikut booth yang kami kunjungi di sana:

13233163_10210046477224693_6163234068574800514_n

Prancis: Direktorat Sistem Informasi dan Teknologi Perbendaharaan.
Quickwins: Implementasi SAKTI secara penuh di seluruh satker lingkup DJPBN, pengembangan portal K/L yang terkoneksi dengan SPAN, peluncuran HAI (Help, Answer, Improve) DJPBN sebagai Helpdesk Terpadu, peluncuran Online Monitoring SPAN G2.

13226899_10210046482024813_1047108813469715463_n

Amerika Serikat: Direktorat Pelaksanaan Anggaran.
Quickwins: Peluncuran Ikhtisar Pelaksanaan Anggaran K/L, peluncuran aplikasi terpadu satuan kerja dan K/L (e-sintesa).

13227103_10210046503985362_2883538371567884424_n

Inggris: Direktorat Sistem Perbendaharaan
Quickwins: Pembayaran gaji langsung ke rekening pegawai Kemenhan/TNI tahap I dan sertifikasi bendahara pada satker pengelola APBN. Di sini ada pegawai yang berperan sebagai tentara kerajaan Inggris dan laris dimintai foto bersama :D.

13241373_10210046513465599_8397768132806956158_n

Korea: Direktorat Sistem Manajemen Investasi.
Quickwin: Implementasi Sistem Informasi Kredit Program Tahap I untuk fasilitas subsidi bunga KUR.
Quickwin yang ini paling berkaitan dengan pekerjaan saya saat ini, dan memang banyak yang belum terinformasikan mengenai aplikasi yang bisa dibilang baru dirilis ini, berikut mekanismenya dan apa peran Ditjen Perbendaharaan di situ. Penyajian dari Dit. SMI cukup memberi pencerahan terkait apa itu SIKP dan apa tujuannya, termasuk bikin penasaran mencari tahu lebih lanjut. Masuk ke booth ini kami disambut dengan seruan lantang annyonghaseyoo…. Walaupun temanya Korea, tapi ada pak tani yang membawa-bawa hasil bumi, juga tawaran minum jamu. Mereka mencerminkan para pelaku UMKM yang menjadi sasaran bantuan Kredit Usaha Rakyat.

13226816_10210046529586002_6167125473215185270_n

Kanada: Direktorat PPK Badan Layanan Umum
Quickwin: Implementasi BLU Electronic Services (BLUES). Diharapkan pengajuan persetujuan untuk menjadi BLU bisa lebih praktis dan singkat dengan aplikasi ini.

13265849_10210046535346146_404380072242252595_n

Swiss: Direktorat Pengelolaan Kas Negara.
Quickwins: Penempatan Uang Negara di Bank Umum, piloting penggunaan cash management system/internet banking pada rekening bendahara pengeluaran, dan peluncuran aplikasi informasi setoran ke rek-KUN. Oleh-oleh dari booth ini cukup bisa ditebak: coklaaatt…

13226638_10210046536266169_5576885076403962353_n

Australia: Direktorat Akuntansi dan Pelaoran Keuangan.
Quickwin: Peluncuran program telaah laporan keuangan K/L berbasis akrual. Di sini ada kuis akuntansi yang hadiahnya menggiurkan, boneka koala, asli dari Australia.

13233059_10210046718110715_7995852432160480764_n

Jepang: Bagian SDM Setditjen
Quickwin: Pengembangan SDM melalui mekanisme pemilihan pegawai berprestasi. Booth-nya cantikk dengan pernik oriental, kalau mau foto dengan pinjam yukata dan katana boleh, lho (lagi-lagi, saya sungkan :D).

13220893_10210046718310720_3625410160288860103_n

Turki: Bagian Umum Setditjen
Quickwins: Kartu Identitas Multifungsi, Batik transformasi kelembagaan, aplikasi Sistem Pengelolaan Kinerja Keuangan. Menarik nih yang terakhir ini karena pegawai jadi bisa memantau gaji langsung di aplikasi yang terintegrasi dengan data kepegawaian yang selama ini sudah digunakan.

13254563_10210051030898532_2805915995017426579_n

Jerman: Bagian Organisasi dan Tata Laksana Setditjen.

Quickwin: Co-location dengan DJKN.

13255934_10210046719070739_7228090081970510265_n13245325_10210046718510725_8334159831031688006_n

Ruangan PBB: CTO Setjen dan PMO DJPB
Di ruangan ini, tuan rumah memberikan penjelasan terkait perkembangan transformasi kelembagaan sekaligus mengajak pengunjung untuk diskusi interaktif. Pengunjung juga diingatkan untuk mengisi lembar evaluasi kegiatan dan memilih booth dengan pemberian informasi terbaik maupun terfavorit. Kertas pilihan booth ini nantinya akan dilepas dari buku paspor dan dimasukkan dalam kotak dekat pintu keluar.

13254331_10210046475624653_2182298207965336506_n

Booth photowall 3D. Sayang, tulisannya nggak kefoto :D. Dan baju pengantin betawi-nya baru siap ketika kami sudah hendak pulang, padahal teman-teman di hari berikutnya ada lho yang berpose dengan baju itu di booth ini.
Di antara produk quickwin yang dipamerkan di #CornerDayExpo2016 ini, yang paling familiar penggunaannya bagi kami berdua tentulah OM SPAN. Cek status invoice, mantau realisasi, sampai sekarang bikin laporan pun salah satu yang dituju http://spanint.kemenkeu.go.id/. Semoga versi G2-nya makin mempermudah pekerjaan sekaligus kian meningkat kecepatan dan keamanannya.

Contoh bagian dalam paspor yang sudah distempel di tiap booth:
13267951_10210051032858581_9083810053541501767_n13256141_10210051035058636_7718180019728130756_n13254227_10210051036098662_351185856727284460_n13254093_10210051033618600_7073066813131238078_n

Sebagian publikasi yang bisa dibawa pulang dari tiap booth #CornerDayExpo2016

13263942_10210051032098562_2331924439259739077_n
Tas, paspor, gantungan kunci oleh-oleh dari acara juga. Payung yang kami dapatkan di booth PBB (untuk semua pengunjung) sama-sama ditinggal di kantor, yang ada di foto ini payung hadiah kuis yang diperoleh suami di salah satu booth. Beberapa booth memang mengadakan kuis, games, atau sejenisnya yang berhadiah. Pengin boneka koala atau kanguru atau tumbler bolehlah sebetulnya, tapi malu jawab :D. Oh iya, dapat snack dan minuman juga, gak ikut difoto karena udah abis hehehe.

13230147_10210051036938683_5206041742593483494_n

 

Meningkatkan Kualitas Diri lewat Bacaan untuk #BahagiadiRumah

Ketika membaca tabloid NOVA beberapa minggu yang lalu, sebidang gambar dengan ilustrasi meriah warna-warni menarik perhatian saya. Wah, ternyata Tabloid NOVA berulang tahun yang ke-28! img_20160531_074532.jpgMasih tuaan saya dong, ya, hahaha. Tahun ini tabloid NOVA mengambil istilah NOVAVERSARY untuk ulang tahunnya.

Bertahan di dunia media cetak di tengah derasnya arus informasi digital masa kini, yang saya tahu sebagai awam, tidaklah mudah. Tabloid NOVA saya rasa merupakan salah satu contoh sukses, bukan hanya dalam menerbitkan edisi cetak, tetapi juga merangkul komunitas lewat acara-acara menarik yang digelar. Ada beragam komunitas dengan benang merah yang sama, yaitu menggerakkan perempuan untuk lebih bahagia lewat berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, berbagi/sosial, berwirausaha, menulis, dan sebagainya. screenshot_2016-05-31-07-56-27.pngBerbagai media sosial juga dioptimalkan manfaatnya untuk meningkatkan keterikatan pembaca maupun memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya. Tak hanya lewat website, tabloid NOVA juga hadir lewat edisi digital yang bisa diunduh agar lebih praktis dibaca di mana dan kapan saja.

Dulu zaman sekolah saya menganggap bahwa tabloid NOVA itu bacaan ibu-ibu, tidak terasa saya sekarang sudah menyandang status ibu-ibu muda juga. Sejak awal saya mengenal tabloid NOVA, tabloid ini saya nilai konsisten menyajikan konten informatif mulai dari masakan, mode, info dunia hiburan, kecantikan, peristiwa terkini yang dikupas tuntas, konsultasi psikologi, wawasan seputar dunia pendidikan, dan seterusnya. Bisa dibilang komplet untuk meng-update diri tiap perempuan. Peningkatan kualitas diri lewat bacaan ini tidak bisa dipandang remeh karena meski ‘hanya’ lewat teks, perempuan bisa melakukan sesuatu yang bermakna.

ss nova resepTidak percaya? Coba tengok resep-resep di dalamnya. Ada resep praktis yang mudah dipraktikkan untuk sehari-hari, ada pula resep yang menantang untuk dicoba di kesempatan istimewa. Mau mode pakaian terbaru berikut padu padan koleksi dasar, ada. Perlu tips berdandan agar tampil prima, tinggal buka juga. Butuh inspirasi penataan rumah terkini, artikel dengan foto yang jelas untuk ditiru pun tersedia. Berita terbaru untuk meningkatkan kewaspadaan, kepedulian, dan menyemangati diri juga sayang dilewatkan. Pembaca bisa bercermin dari rubrik-rubrik psikologi maupun pengembangan diri. screenshot_2016-05-31-07-54-51.pngCermat memantau kesehatan keluarga berawal dari rajin mempelajari artikel terkait dari sumber yang dapat diandalkan seperti tabloid NOVA (psst, dokumentasi yang jempolan di web tabloid NOVA membuat saya mudah menelusuri aneka bahasan kesehatan keluarga dengan rujukan yang tepercaya. Sering juga saya kirimkan link dari web tabloid NOVA ke rekan atau keluarga yang memerlukan.). Pengetahuan yang luas dapat menjadi bekal agar perempuan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mengingat perempuan punya pengaruh besar di keluarganya, kenyamanan yang dirasakan bisa berbuah kebahagiaan bagi seluruh penghuni rumah. Rumah menjadi tempat yang senantiasa dirindukan untuk pulang, bercengrama dalam kehangatannya selalu dinanti-nantikan.

Bicara tentang kebahagiaan, menurut saya #BahagiadiRumah itu sederhana sekaligus mewah, tergantung bagaimana memandangnya. Sederhana karena bisa dimulai dari hal-hal kecil, saat ini juga. Mewah karena momen-momennya…yah, priceless. Rasa syukur juga amat penting. Saya jadi teringat petuah salah satu mantan atasan di kantor, bahwa bahagia itu harus dimulai dari diri sendiri, tidak perlu menunggu orang lain yang membuat kita bahagia. Dari sudut pandang saya selaku perempuan bekerja, tentu adakalanya kegamangan datang menyapa. Tulisan yang menyatakan nilai plus bagi anak-anak jika ibunya bekerja adalah salah satu yang jadi penyemangat. Tak hanya cukup di-doping semangat, saya juga butuh tips dan panduan seperti dimuat dalam artikel Pesan untuk Ibu Bekerja ini. Tentunya kebahagiaan bukan monopoli ibu bekerja, ibu rumah tangga juga berhak berbahagia dan bisa mewujudkannya di tengah kesibukan yang seolah tak ada habisnya. Dan sekali lagi, kalau perempuan sudah bahagia, akan lebih mudah baginya untuk menyebarkan energi positif ke seisi rumah.

dsc_5981.jpg

Grab Your Good Food (plus Your Crayon)…and Get a Good Mood!

good food good moodSejak tahun lalu cukup ramai dijual buku-buku mewarnai untuk dewasa. Iya, di sampulnya jelas tertera adult colouring book. Jadi mewarnai bukan hanya aktivitas yang identik dengan kanak-kanak atau hanya ditekuni oleh orang dewasa dengan profesi tertentu. Kalau tidak salah, demam mewarnai ini mulainya dari tanah Korea, dan buku-bukunya pun banyak diimpor dari sana. Saya awalnya tahu dari newsletter beberapa platform toko online yang dikirimkan ke e-mail (lagi jarang ke toko buku offline), kok banyak buku mewarnai untuk dewasa yang ditawarkan. Katanya sih, aktivitas mewarnai ini bisa sekaligus jadi terapi penenang pikiran dan penghilang stres.

Betul juga sih, mewarnai yang melibatkan koordinasi tangan dan mata ini mengasyikkan. Pilah-pilih warna, memperkirakan komposisi yang sesuai, proses mencoretkan pensil/krayon atau menyapukan kuas bisa jadi pengalih perhatian dari pikiran yang ruwet. Barangkali pilihan warna yang dipakai juga bisa menjadi cerminan akan suasana hati pelakunya, ya. Buku yang dijual pun saya amati makin beragam temanya, misalnya motif yang identik dengan etnis atau agama tertentu, alam sekitar, wajah dst.

Saya sendiri terus terang tidak begitu tertarik membeli secara khusus buku mewarnai untuk dewasa ini. Biarlah anak-anak saja yang asyik corat-coret, hahaha. Tapiii…begitu membaca bahwa ada buku mewarnai yang konsepnya lain, saya langsung ingin punya. Good Food Good Mood, judulnya. Bukan karena pembuatnya teman lama ya, hehehe, tapi karena memang unik, sih. Jadi bukan cuma buku mewarnai, melainkan juga ada resep-resepnya. Resep masakan sederhana yang mudah diterapkan ibu-ibu muda nan rempong, mungkin sekalian juga bisa ajak si kecil menyiapkan. Tiap resep di buku terbitan Kawan Pustaka ini diberi ilustrasi bahan mentah maupun hasil jadinya yang bisa diwarnai sesuka hati.

Berhubung saya memesan melalui PO ke penulisnya, Evelline Andrya, saya kebagian gift cantik berupa centong kayu. Malam setelah bukunya tiba, saya dan anak-anak langsung mewarnai salah satu halaman dari buku tersebut. Seru ya, ternyata. Jadilah Mason Jar Oatmeal a la kami. Saya yang tengah, Fathia jar satunya, dan urek-urekan di bagian resep dipersembahkan oleh Fahira :D. Buku ini juga sudah tersedia di Gramedia, seperti terlihat di foto bawah, kami lagi di Gramedia Matraman waktu itu.

[Kliping] MPASI Instan vs Homemade, Catatan Mba Monik

Sumber: Notes mba Fatimah Berliana Monika Purba, konselor laktasi dari La Leche League https://id-id.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/mpasi-instan-vs-mpasi-homemade-1-5-awal-mulaanemia-defisiensi-besifood-is-more-t/10203526686033649/ (bisa lihat di sini selengkapnya plus foto/grafik terkait). Panjaaang memang, tapi sangat berharga dibaca :).

MPASI Instan vs MPASI Homemade 1-5 (Awal Mula, Anemia Defisiensi Besi, Food is MORE THAN Just Nutrition, MPASI)

Weekend selain saatnya santai, beristirahat, berkumpul dengan anggota keluarga juga saatnya baca-baca, belajar segala hal termasuk asupan terbaik untuk anak sejak dilahirkan. Baru sempat memasukkan 5 tulisan saya ke dalam Notes. Untuk melihat comments2 yang masuk, di akhir Note saya berikan link2 tiap bagiannya. Tulisan panjang ini dibaca pelan2 ya, jangan ambil kesimpulan terburu2 hanya dari 1 bagian saja. So.. happy reading :).
MPASI INSTAN vs MPASI HOMEMADE

Beberapa kali saya dimintai pendapat mengenai pemberian MPASI Instan pada bayi. Sama seperti ketika saya ditanya mengenai Susu Formula (SuFor) vs ASI, tidak pernah saya menjawab atau melarang pemberian MPASI instan atau sufor secara langsung. Saya minta yang bertanya membaca dulu, mendiskusikan, sehingga ketika mengambil keputusan sudah ada dasarnya.

Kenapa akhir-akhir ini ramai kembali mengenai MPASI Instant vs homemade? Karena belum lama ini para dokter dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) memberikan rekomendasi pemberian MPASI Instan Fortifikasi (kutipannya ada di dalam tulisan ini). Mengenai Rekomendasi IDAI mengenai pemberian MPASI Instan, sebelum saya buru-buru mengeluarkan statement pribadi yang menyatakan tidak setuju (siapalah saya…) dan berpikiran buruk bahwa adanya konflik kepentingan yang mendasari rekomendasi tersebut (walaupun misalnya nanti hasil penelitian khusus di Indonesia dikeluarkan dan mendukung rekomendasi pemberian MPASI Instan), mari simak banyak hal yang akan saya tulis (bakal panjang pastinya) di bawah ini.

Adalah hak anak sejak dilahirkan untuk mendapatkan perawatan dan perlindungan kesehatan yang terbaik. Konvensi hak anak dunia article 24 menyatakan bahwa anak berhak untuk mendapatkan makanan bergizi yang mencukupi serta air bersih. Pada akhirnya, pesan yang selalu saya ulang-ulang, yuk jadi Smart parents, yuk belajar belajar belajar supaya bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.
Bagian 1. Rekomendasi IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi

Di bawah ini adalah 2 sumber yang saya punya mengenai rekomendasi IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi. Saya sudah coba cari apakah ada artikel terkai di web site resmi IDAI (idai.or.id) tidak ada/belum ketemu (boleh saling share siapa tau ada yang punya linknya).

    1. MPASI Difortifikasi Bisa Cegah Bayi Kurang Zat Besi?

““Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Damayanti Rusli Syarif, Sp.A(K): Sebagian orangtua memilih makanan dari bahan alami, yang diyakini lebih aman, namun sebenarnya kebutuhan zat besi tidak terpenuhi.

“Saat bayi mulai MPASI, orangtua banyak memberikan pisang, zat besinya hanya 0,31 mg, atau tepung beras dengan zat besi 0,1 mg. Sedangkan MPASI yang difortifikasi zat besinya 2,26 . Makanan bayi pabrikan dianggap sama dengan makanan pabrikan dengan orang dewasa. Padahal MPASI fortifikasi diproduksi sesuai aturan WHO dan diawasi oleh WHO dalam pembuatannya. Kalaupun ada zat aditif, seperti garam dan gula, ada aturannya, tidak boleh berlebihan. Pastikan saja makanan fortifikasi seperti bubur dan biskuit tersebut punya izin BPOM, baca labelnya dengan baik,” terangnya.” . Saya hanya kutip bagian-bagian pentingnya, selengkapnya bisa baca:

http://health.kompas.com/read/2013/11/21/2031266/MPASI.Difortifikasi.Bisa.Cegah.Bayi.Kurang.Zat.Besi

 

2. Simposium & Workshop UKK Nutrisi & Metabolik IDAI tentang Infant Feeding Practice

Makanan pendamping instant (commercial)

Dahulu, WHO dan UNICEF lebih menekankan pemberian MPASI yang dibuat sendiri di rumah daripada makanan instan yang diproduksi massal. Namun setelah dilakukan banyak penelitian klinis, ternyata banyak bayi  tidak memperoleh zat nutrien yang adekuat sesuai dengan yang seharusnya didapatkan bayi.

Untuk itu WHO/UNICEF mengeluarkan Global Strategy for Infant and Young Child Feeding dan mengumumkan bahwa makanan tambahan yang diproses oleh industri makanan dapat digunakan sebagai pilihan para ibu dalam memberikan makanan tambahan yang mudah disiapkan, mencukupi kebutuhan nutrisi dan aman. Makanan tersebut sudah diperkaya dengan tambahan suplemen yang menjamin kecukupan mikronutrien bayi. 

Pembuatan makanan diatur oleh  The Codex Alimentarius Commission, yaitu lembaga yang dibuat oleh FAO dan WHO (1963) yang mengatur standar pembuatan makanan dan menjamin keamanan termasuk cara membuat, promosi dan transportasi dan dilindungi oleh pemerintah internasional. The Codex Alimentarius mengatur bahwa makanan bayi yang diproduksi massal tidak boleh menggunakan pengawet dan zat aditif yang berbahaya. Yang perlu diperhatikan saat membeli adalah tanggal kadaluarsa yang masih jauh, kemasan masih tersegel, warna dan bentuk makanan tidak berubah atau menggumpal.  Di pasaran beredar Nestle Cerelac, Milna, Promina, dll yang sudah difortifikasi vitamin mineral sesuai standar Codex Alimentarius Internasional, tidak memakai pengawet dan zat aditif berbahaya. Jadi simpulannya aman. MPASI yang tidak difortifikasi seperti GERBER, tepung Gasol (hanya berupa tepung-tepungan biasa  dari sumber pisang, ketela, dll) yang tidak difortifikasi, tidak dianjurkan. (Simposium & Workshop UKK Nutrisi & Metabolik IDAI tentang Infant Feeding Practice – Dr. dr. Damayanti Roesli Sjarif, Sp.A.(K), dr. Sri Nasar, Sp.A.(K), dr. Gusti Lanang, Sp.A.).

Catatan: Sejak 2011-sekarang, UKK (Unit Kerja Koordinasi) Nutrisi dan Metabolik IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengadakan roadshow ke seluruh Indonesia, mengadakan simposium dan workshop pada seluruh SpA (dokter spesialis anak) dan dokter umum tentang Nutrisi & Kesulitan makan pada anak, policy lama yang berpihak pada MPASI home-made kini mulai beralih ke MP ASI instan pabrik agar masa depan anak Indonesia cerdas, tidak kekurangan nutrisi mikro yang sulit dipenuhi dengan MP ASI home-made.
Bagian 2 : Anemia Defisiensi Besi (ADB)

Perhatian pada masalah malnutrisi mikronutrien meningkat dengan pesat di tahun-tahun terakhir ini. Salah satu alasan utamanya karena hal ini telah menjadi masalah global. Diperkirakan sebanyak 2 miliar manusia di dunia mengalami kekurangan mikronutrien yang sebab utamanya konsumsi makanan yang kurang vitamin & mineral. Kemiskinan, kurangnya akses untuk mendapat berbagai makanan bervariasi, kurangnya pengetahuan mengenai gizi/nutrisi yang baik serta tingginya penyakit infeksi merupakan faktor kunci.

Tahun 2000, WHO menyatakan bahwa kekurangan mikronutrien seperti zat besi, vitamin A dan yodium telah menjadi faktor pemicu masalah kesehatan yang sangat serius di dunia, misalnya berkurangnya kemampuan tubuh untuk melawan penyakit, kelainan metabolis, dan terlambat/terhambatnya perkembangan fisik dan psikomotor.

Menurut IDAI, angka kejadian penderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%. Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi (angka keterjadian) ADB pada bayi 0-6 bulan adalah 61,3%, bayi 6-12 bulan 64,8%, dan anak balita sebesar 48,1%. Besar sekali tentunya. Nah bagaimana data terakhir? Saya ambil dari laporan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kemenkes tahun 2007 yang sayangnya tidak ada data detil seperti SKRT. Menurut Riskesdas 2007, penderita ADB kelompok usia 1-4 tahun sebesar 27,7%, sementara menurut data Riskesdas terbaru (2013), penderita ADB kelompok usia 12-59 bulan/1-5 tahun sebesar 28,1% .

Bisa dilihat dalam gambar grafik batang di bawah ini kebutuhan zat besi bayi 0 – 23 bulan.

Bayi baru lahir membutuhkan asupan zat besi 0,27 mg/hari. Setelah umur 6 bulan kebutuhan asupan zat besi bayi meningkat pesat menjadi 11 mg/hari. Dan usia 1-3 tahun sebesar 7 mg/hari. Maka saat inilah (usia 6 bulan) waktu yang penting bagi bayi untuk mendapatkan makanan lain selain dari ASI. Hal ini sudah saya tulis di tulisan saya berjudul Bahaya Pemberian MPASI Dini & Menundanya:
http://theurbanmama.com/articles/bahaya-pemberian-mpasi-dini-menundanya.html

Untuk yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai ADB silahkan baca di  http://milissehat.web.id/?p=1923

Mengenai rekomendasi pemberian suplementasi besi pada bayi lahir cukup bulan tidak BBLR (Berat Badan Lahir Rendah <2,5kg), baik IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) maupun AAP (American Academy of Pediatrics) sepakat agar dimulai saat bayi lahir cukup bulan berusia 4 bulan. Perbedaannya, IDAI menganjurkan bahwa suplementasi terus dilanjutkan sampai usia 2 tahun, sementara AAP menganjurkan usia 4-6 bulan saja dan dilanjutkan pemberian MPASI kaya zat besi (akan saya bahas berikutnya). Juga perbedaan dosis. IDAI menyarankan dosis 2mg/kg BB/hari sementara AAP 1mg/kg BB/hari. Tambahannya IDAI menurunkan dosis menjadi 1mg/kgBB/hari pada usia 2-5tahun.
Perbedaan kedua adalah mengenai anjuran pemeriksaan status Hb anak. AAP dan CDC di Amerika Serikat menganjurkan pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) setidaknya satu kali pada usia 9-12 bulan dan diulang 6 bulan kemudian pada usia 15-18 bulan atau pemeriksaan tambahan setiap 1 tahun sekali pada usia 2-5 tahun. Sementara Rekomendasi IDAI adalah pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dilakukan mulai usia 2 tahun dan selanjutnya setiap tahun sampai usia remaja.

Bagi saya pribadi deteksi dini tentu jauh lebih baik, jadi saya mengikuti rekomendasi AAP untuk pemeriksaan yang pertama kali  maksimal saat bayi berusia 1 tahun, kemudian bila ada dana berlebih melakukan pemeriksaan ADB lengkap, tidak hanya Hb dan Ht tapi juga status besi dalam tubuh dan hal-hal lainnya (Serum Ion, Ferritin, dll) sesuai kutipan dari AAP berikut “the deficiency won’t always be detected with a simple hemoglobin test.” Tentu saja orang tua tidak perlu menunda bila pada bayi atau anak terdapat tanda-tanda menderita ADB seperti pucat, lesu, nafsu makan menurun, dan berat badan tidak/sulit bertambah (penting ya untuk selalu plot ke GC/Growth Chart setiap kunjungan pemeriksaan kesehatan bayi, yang belum paham mengenai pentinganya paham GC bisa pelajari tulisan saya: http://theurbanmama.com/articles/growth-chart.html).

Ada hal-hal lain yang mempengaruhi berapa banyak zat besi yang dibawa bayi saat lahir:

1. Apakah Ibu saat hamil menderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) atau tidak.

Ibu hamil yang menderita ADB berisiko melahirkan bayi prematur, bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), dan masalah kesehatan bayi di kemudian hari. Selain itu, bayi yang lahir dari Ibu penderita ADB memiliki cadangan besi yang lebih sedikit, maka bayi tersebut berisiko menderita ADB juga.

2. Penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir (Delayed Umbilical Cord Clamping).

Penelitian-penelitian terbaru memberikan evidence/bukti bahwa pelaksanaan penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir meningkatkan cadangan besi pada badan bayi. Berdasarkan penelitian RCT yang di-publish BMJ Nov 2011, bayi-bayi yang ditunda pemotongan tali pusatnya >=3 menit dibandingkan dengan bayi-bayi yang dipotong tali pusatnya <10 detik, pada usia 4 bulan status besinya (Ferritin) lebih tinggi dan risiko menderita ADB berkurang.

Sampai saat ini riset-riset masih terus dikembangkan untuk mendapatkan waktu optimal pemotongan tali pusat ini (penelitian lain menyatakan =>1 menit penundaan pun sudah bermanfaat), dan perhatikan faktor-faktor risiko lain terutama kondisi ibu & bayi setelah kelahiran.

Keypoint Bagian 2:

1. +- 2 miliar manusia di dunia mengalami kekurangan mikronutrien yang sebab utamanya konsumsi makanan yang kurang vitamin & mineral. Faktor kunci: Kemiskinan, kurangnya akses untuk mendapat berbagai makanan bervariasi, kurangnya pengetahuan mengenai gizi/nutrisi yang baik serta tingginya penyakit infeksi.

2. Anjuran pemberian suplementasi besi IDAI (4 bulan – 2 tahun) vs AAP (4-6 bulan lanjut MPASI kaya zat besi).

3. Anjuranscreening atau pemeriksaan ADB (Anemia Defisiensi Besi). IDAI: 2 tahun. AAP: 9-12 bulan. Saya: deteksi dini LEBIH baik, paket lengkap Screening ADB bila ada dana lebih. Jangan tunda bila pada bayi/anak jelas tampak gejala-gejala ADB.

4. 2 hal lain yang mempengaruhi status besi/cadangan besi dalam tubuh bayi: Kondisi ibu saat hamil (menderita ADB/tidak) dan penundaan pemotongan tali pusat bayi baru lahir (Delayed Umbilical Cord Clamping).
Bagian 3. Food is MORE THAN Just Nutrition = Makanan Tidak Hanya Sekadar Untuk memenuhi kebutuhan Nutrisi atau Gizi

Sebelum saya masuk membahas mengenai MPASI, saya akan membahas sedikit mengenai hal umum mengenai nutrisi (mohon dikoreksi kalau ada kesalahan pemahaman berhubung saya bukan ahli gizi).

Para nutritionist, dietitian & dokter di sini (Amerika Serikat) sedang mengkampanyekan agar para Ibu -khususnya- KEMBALI ke dapur, MEMASAK whole foods untuk anggota keluarganya, terutama bayinya, meninggalkan junk foods atau makanan instan lainnya. Begitu pula di UK, Pemerintah UK menyatakan: Usahakanlah memberikan makanan yang dimasak di rumah (home cooking) dibandingkan memberikan makanan bayi kemasan.

Bahkan Michelle Obama membuat kampanye-kampanye menarik kembali pada memilih makanan sehat dan makan bersama di keluarga, selain kampanye minum air putih (dibanding minum susu berlebihan, soda, jus kemasan, sirup) serta kampanye berolahraga.

Video kampanyenya bisa dilihat di Kampanye Let’s Move ini :

http://www.youtube.com/watch?v=2oBeuSCfGeg

Saya mengambil online course mengenai Nutrisi dari Stanford University, di mana banyak hal dibahas secara menarik. Salah satunya adalah topik mengenai Food is MORE THAN Just Nutrition.

Sepertinya gambar 4 sudah cukup jelas ya,  pada bagian kiri merupakan:

Pengelompokan Zat Gizi atau Nutrients.

Menurut kebutuhan manusia, terbagi dalam dua golongan besar yaitu makronutrien dan mikronutrien.

    1. Makronutrien adalah zat gizi yang diperlukan dalam jumlah besar dalam tubuh yang menghasilkan energi. Merupakan komponen terbesar dari susunan diet, berfungsi untuk mensupplai energi dan zat-zat esensial (pertumbuhan sel/ jaringan), pemeliharaan aktivitas tubuh.

Yang termasuk zat makronutrien adalah karbohidrat/hidrat arang, lemak, dan protein. Pasti semua sudah tahu jenis-jenis bahan makanan apa saja yang kaya kandungan karbohidrat, lemak, dan protein ya, jadi tidak saya sebutkan lagi, karena fokus saya adalah membahas salah satu mikronutrien yaitu iron/zat besi.

2. Mikronutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit tapi penting.

Golongan mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral. Vitamin juga terbagi 2 jenis yaitu larut dalam lemak dan dalam air. Vitamin yang termasuk dalam kelompok larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E, dan K. Normalnya, tubuh dapat menyimpan vitamin jenis ini (terdapat batasan untuk vitamin E dan K). Oleh sebab itu, asupan vitamin larut lemak setiap hari bukan keharusan. Sementara Vitamin yang larut dalam  air adalah vitamin C dan kelompok vitamin B. Karena larut dalam air, vitamin ini tidak tersimpan dalam tubuh. Kelebihannya akan dikeluarkan melalui urine.

Golongan mikronutrien yang kedua adalah mineral seperti kalsium, zat besi, yodium, fosfor, magnesium, zinc.

Kemudian selain makronutrien & mikronutrien, penting juga memperhatikan:

3. Fiber/serat. Dari semua asupan makanan kita, penting untuk menjaga kuantitas fiber/serat. Serat sangat penting untuk pengeluaran buang air besar (mencegah sembelit, wasir), mengurangi risiko penyakit jantung koroner, menjaga kadar gula darah tetap normal, dll.

Untuk anak 1-3 tahun kebutuhan seratnya 19 gr/hari. Bahkan dalam panduan gizi terbaru – My Food Plate Amerika serikat yang juga gencar dikampanyekan Michelle Obama, dalam satu piring, separuhnya adalah sayur dan buah. Dasar pertimbangannya karena tingginya penderita obesitas/kegemukan yang sudah terjadi sejak anak-anak.

4. Air bersih. Tersedianya air bersih merupakan salah satu komponen penting dalam menyediakan MPASI yang baik. Hal ini karena air adalah hal penting dalam persiapan makanan yang higienis, pencucian tangan dll sangat penting dalam mencegah penularan infeksi.

Bagian kiri sudah selesai saya bahas, nah yang sekarang sedang dikampanyekan adalah bagian yang kanan, yaitu Fungsi Sosial dari makanan. Ada 4 aspek yaitu: Komunikasi, hubungan sosial, kesehatan emosi, dan sejarah atau tradisi.

Jadi selain kampanye kembali memasak, juga kampanye agar para keluarga menghidupkan kembali kebiasaan Family Time is (salah satunya) Meal Time. Sejak bayi mulai diberikan MPASI, orang tua menekankan pentingnya nikmat & nyaman saat makan, tentu saja bukan hanya karena rasa makanan yang enak dan keahlian memasak orang tua (yang utama ibu), tapi juga perhatian, kedekatan dan kasih sayang di dalamnya yang sudah dicurahkan sejak ibu memasak.

Ketika manusia makan bersama, hormon oksitosinnya meningkat, proses pencernaan dan metabolisme makanan juga menjadi lebih efektif. Kebahagiaan dan kegembiraan anggota keluarga yang dimulai saat menyiapkan makanan adalah sangat penting. Menyusui adalah hal menyenangkan bagi bayi, jadi begitu pula dengan makan. Jadi jangan dibuat: Meal Time is Battle Time.

Harap diingat, ketika sedang makan bersama, fokuskan perhatian pada seluruh anggota keluarga, bukan sibuk masing-masing. Oleh karena itu, salah satu kebiasaan yang saya bangun sejak dini di keluarga saya adalah ketika makan tidak ada TV, komputer, Ipad, smartphone yang nyala di area makan. Jangan seperti contoh gambar 5 ya, ini mah sama aja bukan makan bersama yang saya sebutkan di atas :).

Keypoint Bagian 3:

1.      Negara-negara maju seperti US & UK gencar mengkampanyekan agar para Ibu -khususnya- KEMBALI ke dapur, MEMASAK whole foods untuk anggota keluarganya, terutama bayinya, meninggalkan junk foods atau makanan instan lainnya.

2. Food sebagai Nutrisi. Terbagi atas: Makronutrien: karbohidrat, protein, lemak. Mikronutrien: vitamin & mineral (zat besi termasuk dalam golongan mineral), fiber/serat, air bersih.

3.      Food is MORE than Nutrition – only : Komunikasi, hubungan sosial, kesehatan emosi dan sejarah/tradisi. Family time salah satunya meal time.

4.      Ketika manusia makan bersama, hormon oksitosinnya meningkat , proses pencernaan dan metabolisme makanan juga menjadi lebih efektif.
Bagian 4: Serba-Serbi MPASI, dengan fokus pada kandungan zat besi MPASI

Ilmu mengenai MPASI sangat penting untuk dikuasai para ibu jauh-jauh hari SEBELUM MPASI dimulai. Supaya ibu paham serba-serbi MPASI yang dimulai sejak dari penyiapan hingga pemberiannya pada bayi. Harap diingat MPASI adalah Makanan Pendamping ASI atau complementary food, jadi ibu perlu paham seberapa banyak pemberian porsi MPASI sesuai usia bayi.

ASI adalah asupan utama bayi HINGGA bayi berusia 1 tahun.  Karena, sering terjadi porsi MPASI melebihi kapasitas yang seharusnya diterima bayi, sehingga MPASI bukannya menjadi makanan pendamping ASI tapi menjadi Pengganti ASI/Breastmilk Substitutes. Salah pemberian menu MPASI yang miskin gizi juga dapat membuat bayi kenyang lebih lama dan malas menyusu, contohnya Ibu terlalu banyak memberikan jus buah, kuah sup, dll. Selain itu, “ajaran” turun-temurun dan mitos-mitos yang salah mengenai MPASI, misalnya pemberian protein hewani paling cepat di usia 8-9 bulan, padahal pemberian MPASI kaya zat besi dimulai sesegera mungkin saat MPASI dimulai.

Mengutip dari AAP :

One recommendation may change the order in which solid foods are introduced. Traditionally, iron-rich meat is the last food introduced to infants, preceded by cereal, fruits and vegetables. This sequence, however, has not been scientifically tested. Dr. Baker said that food order should be reversed. Red meat and vegetables with higher iron content should be introduced into the baby’s diet early on, perhaps at 6 months of age.”
Prinsip Dasar MPASI menurut IYCF WHO & UNICEF

Prinsip dasar utama MPASI adalah: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Agar gampang diingat kita singkat jadi AFATVAH.

    1. Age / Usia

Pemberian MPASI dimulai saat usia 6 bulan, alasannya sudah saya berikan link tulisan saya sebelumnya (Bahaya Pemberian MPASI Dini dan Menundanya http://theurbanmama.com/articles/bahaya-pemberian-mpasi-dini-menundanya.html).

2. Frekuensi

Mengenai Frekuensi, ada perbedaan mengenai Frekuensi berdasarkan sumber dari Guiding Principle of Complementary Feeding WHO vs UNICEF. Berdasarkan Guiding Principle of Complementary Feeding WHO, Frekuensi Pemberian MPASI sbb:

Usia 6-8 bulan: 2-3 kali per hari

Usia 9-11 bulan: 3-4 kali per hari

Usia 1 tahun – 2 tahun: 3-4 kali per hari dengan tambahan snack 1-2 kali per hari sesuai keinginan bayi (snack yang dianjurkan bisa potongan buah, roti, dll).

Sementara panduan UNICEF & IYCF sbb:

Usia 6 bulan (saat mulai MPASI): 2-3 x

Usia 6-9 bulan: 2-3 x , dapat ditawarkan snack 1-2 x

>9 bulan: 3-4 x , dengan snack 1-2 x

Jadi perbedaannya pada pemberian snack, di anjuran Guiding Principle of Complementary Feeding WHO tidak ada penawaran snack sebelum usia 1 tahun, mengacu pada penjelasan sebelumnya bahwa ASI adalah yang utama hingga bayi usia setahun, maka penawaran snack maka akan mengurangi frekuensi menyusu bayi.

Ada yang bertanya pada saya apakah pemberian jus buah baik untuk MPASI? Kembali ke prinsip bahwa hingga usia 1 tahun ASI yang utama, pemberian banyak cairan lain selain ASI dan apalagi diberikan saat seharusnya memberikan MPASI padat gizi berisiko untuk bayi. Bayi akan malas menyusu serta tidak didapatkan nutrisi yang mencukupi dari MPASI.
3. Amount/banyaknya makanan per penyajian.

Prinsipnya bertingkat, panduannya:

Usia 6 bulan saat baru mulai MPASI: 2-3 sendok makan (sdm)

Usia 6-9 bulan: tingkatkan bertahap hingga mencapai setengah mangkuk kapasitas 250ml

Usia 9-12 bulan: setengah mangkuk kapasitas 250ml

Usia 1tahun – 2 tahun: ¾ hingga 1 mangkuk kapasitas 250 ml

4. Texture/tekstur MPASI.

Prinsipnya sama dengan Amount, yaitu berikan bertahap, hati2 jangan terlalu cepat/memaksa dan juga jangan terlambat naik tekstur.

Usia 6 bulan saat baru mulai MPASI : bubur kental

Usia 6-9 bulan: bubur kental/puree, bertahap naik ke tim saring, dan pengenalan finger food di usia 8-9 bulan

Usia 9-12 bulan: Makanan cincang halus, nasi tim tanpa disaring, finger food

Usia > 1 tahun: Table food/makanan keluarga, jangan lupa bahan makanan tertentu tetap dipotong kecil-kecil/dicincang seperti daging.

5. Variety/Keragaman jenis makanan
Nah, poin ini sangat penting apalagi sehubungan dengan fokus pembahasan tulisan ini mengenai kekurangan micronutrient seperti zat besi.

Kenapa harus beragam? Karena setiap bahan makanan tidak akan memberikan kandungan gizi sempurna yang dibutuhkan tubuh, jadi dalam setiap porsi makanan berikan makanan yang bervariasi ( khusus pada kandungan zat besi akan dibahas terpisah mengenai jenis makanan heme dan non heme, enhancer/yang membantu penyerapan dan inhibitor/yang menghambat penyerapannya) .

Mengenai 4 days rule, saya pribadi merasa tidak perlu saklek ya. Yang utama perhatikan riwayat alergi makanan di keluarga terutama Ayah Ibu. Kemudian kenalkan bahan makanan tunggal di awal, bila sehari 2 hari tidak ada masalah ya segera kenalkan bahan makanan lainnya. Sangat baik Ibu memiliki Food Diary dan ditaruh di kulkas/yang terjangkau sehingga bila bukan Ibu yang menyiapkan, panduannya do’s and don’ts nya ada. Penekanan mengenai bahan makanan kaya zat besi juga perlu diperhatikan ya, salah satu efeknya bayi bisa sembelit bila bayi mendapatkan zat besi terlalu banyak (apalagi bila bayi pun masih menerima suplementasi zat besi).
6. ACTIVE/RESPONSIVE.

Pembentukan pola makan yang baik dimulai sedini mungkin, sebagian sudah saya tulis di bagian 3: Food is more than nutrition.  Ketika bayi GTM, cari penyebabnya dan atasi seperti mencoba menu lain, perhatikan apakah bayi merasa dipaksa makan, suasana makan tidak nyaman atau malah bayi terbiasa digendong jalan-jalan di keramaian yang membuat bayi terganggu (tidak jarang anak disuapi sambil lari-lari dan bermain dan merasa tidak sedang makan).

Mengenai pros dan cons metoda BLW (Baby Led Weaning) sudah pernah saya tulis :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202846830877695&set=pb.1409280466.-2207520000.1393112844.&type=3&theater

Quote:

Terdapat kekhawatiran bahwa Metoda BLW dapat menyebabkan bayi:

    1. Tidak mendapatkan cukup zat besi
    1. Beresiko lebih besar untuk tersedak (choked, bukan hanya gag ya, ada penelitiannya di comments di link di atas)
    1. Tidak mendapat cukup makanan untuk tumbuh dengan baik

7. Hygiene

Mengenai higinitas sudah saya singgung sedikit di atas, termasuk tersedianya akses akan air bersih untuk cuci tangan, persiapan, pemasakan, dan penyajian MPASI.

Jangan lupa pilih bahan makanan yang segar, tidak mengandung bahan toksik & berbahaya, perhatikan juga penyimpanan makanan dan bahan makanan, serta proses memasak yang benar sesuai jenis bahan makanannya. Misal sayur tidak dimasak terlalu lama, daging dipastikan masak dengan suhu yang tepat hingga matang, dll.

Mungkin tertarik baca soal Toksoplasma (ada sedikit pembahasan mengenai memasak daging di tulisan saya ini :

http://pranikah.org/pranikah/kenal-lebih-dekat-dengan-toksoplasma/)
Seputar kandungan zat besi dalam makanan

Zat besi adalah salah satu mineral yang fungsinya sangat vital bagi tubuh mansia.  Zat besi berperan dalam proses pembentukan hemoglobin (hemoglobin adalah protein di sel darah merah yang membawa oksigen). Hampir 2/3 zat besi dalam tubuh terdapat di dalam hemoglobin. Zat besi dalam jumlah kecil terdapat di myoglobin (myoglobin adalah protein yang mensupplai oksigen ke otot).

Ada 2 jenis zat besi dalam makanan, yaitu heme iron dan non heme iron.

Heme iron dapat ditemukan dalam daging yang secara asalnya mengandung hemoglobin seperti daging merah, ikan, dan unggas. Sementara non heme iron banyak ditemukan pada tanaman (buah dan sayur).

Bisakah hanya mengejar kebutuhan zat besi dari non heme iron saja? Tidak, karena zat besi dalam non-heme iron hanya sedikit diserap tubuh (1-15%) dibandingkan dengan heme iron yang dapat mencapai penyerapan sebesar 15-40%. Jangan lupa banyak faktor yang mempengaruhi penyerapan seperti status kadar besi dalam tubuh seseorang, juga makanan yang berfungsi sebagai enhancer (membantu penyerapan) atau inhibitor (menghambat penyerapan) yang akan saya jelaskan sedikit setelah daftar bahan makanan heme dan non heme iron ini.

Daftar bahan makanan heme iron (saya pilih beberapa saja, tabel lengkap bisa buka link di daftar sumber) :

Berhubung saya tidak tampilkan dalam bentuk tabel, urutannya: nama makanan, miligram zat besi per penyajian, % DV/Daily Value. DV untuk zat besi 18 miligram (untuk bayi 6-12 bulan sudah disebutkan sebelumnya yaitu 11 miligram per hari). Bila DV kurang dari 5% artinya kandungan zat besinya rendah, DV 10-19% kandungannya baik dan DV >20% artinya kaya zat besi. 1 ounces = 1 oz = 28,35 gr.

  1. Hati ayam 3 oz – 11 mg – 61%
    1. Tiram 3 oz – 5,7 mg – 32%
  1. Hati sapi 3 oz – 52 mg – 29%
  1. Daging sapi tanpa lemak 3 oz – 3,1 mg – 17%
  1. Daging sapi giling sedikit lemak 3 oz – 2 mg – 11%
  1. Ikan tuna 3 oz – 1,3 mg – 9%
  1. Daging ayam 3 oz – 1,1 mg – 6%
  1. Udang 4 buah besar – 0,3 mg – 2%

Daftar bahan makanan non-heme iron

  1. Kacang kedelai 1 cup – 8,8 mg – 48%
  1. Lentil 1 cup – 6,6 mg – 37%
  1. Beans-golonga kacang2an 1 cup – 5,2 gr – 29%
  1. Tahu ½ cup – 3,4 mg – 19%
  1. Sayur bayam ½ cup – 3,2 mg – 18%
  1. Kismis tanpa biji ½ cup – 1,6 mg – 9%
  1. Roti putih 1 potong – 0,9 mg -5%
  1. Roti gandum 1 potong – 0,7 mg – 4% 

 Iron enhancers / Bahan makanan&hal2 yang membantu penyerapan zat besi

 a)      Vitamin C adalah enhancer yang paling baik (dan mudah didapat juga).

Kombinasikan pemberian makanan heme, non heme, dan Vitamin C. Misalnya daging sapi, sayur bayam dengan potongan tomat, jambu, kiwi, dll yang kaya vitamin C. Atau peras lemon/jeruk di atas potongan daging sapi/ayam/seafoodnya. Silahkan explore ya… Menu orang bule sejak turun-temurun banyak menggunakan perasan lemon di atas lauk pauknya yang ternyata kebiasaan yang tepat dan baik sekali.

b)   Proses fermentasi. Contohnya tempe.

c)   Memasak dalam panci/pan berbahan besi
 

Iron inhibitors / Penghambat penyerapan zat besi
 1. Senyawa phenolic/polifenol yang mengikat zat besi jadi mengurangi penyerapan zat besi dalam tubuh. Beberapa di antaranya adalah teh, kopi, cocoa, jadi sangat tidak disarankan bayi dan anak-anak minum 3 hal ini apalagi dalam jumlah berlebihan. Teh dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 60% sementara kopi mengurangi penyerapan zat besi hingga 40% selain itu membuat bayi berkurang frekuensi menyusunya. Beberapa rempah juga merupakan senyawa phenolic seperti oregano (bumbu pizza, pasta, dll). Juga segolongan sayuran seperti kacang panjang.

2. Kalsium. Segelas susu yang diminum saat makan dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 50%. Susu segar tidak boleh diberikan pada anak <1 tahun karena dapat menyebabkan masalah pada pencernaan (intestine bleeding). Selain itu terlalu banyak minum susu juga mengurangi nafsu makan, selain menyebabkan anak menderita ADB.

3. Pytates yang biasanya terdapat di cereal dan oat.
Key Point Bagian 4 :

  1. Porsi MPASI tidak boleh melebihi kapasitas yang seharusnya diterima bayi, sehingga MPASI bukannya menjadi Makanan pendamping ASI tapi menjadi Pengganti ASI/Breastmilk Substitutes. ASI yang UTAMA hingga bayi usia 1 tahun.
  1. Pemberian MPASI kaya zat besi dimulai sesegera mungkin saat MPASI dimulai.
  1. Prinsip dasar utama MPASI adalah: Age, Frequency, Amount, Texture, Variety, Active/Responsive dan Hygiene. Agar gampang diingat kita singkat jadi AFATVAH.
  1. Ada 2 jenis zat besi dalam makanan, yaitu heme iron dan non heme iron.

Heme iron dapat ditemukan dalam daging yang secara asalnya mengandung hemoglobin seperti daging merah, ikan, dan unggas. Sementara non heme iron banyak ditemukan pada tanaman (buah dan sayur).

  1. Zat besi dalam non-heme iron hanya sedikit diserap tubuh dibandingkan dengan heme iron yang dapat mencapai penyerapan sebesar 3x lipat lebih banyak dari non heme iron.

2. Padukan dengan Iron enhancers / Bahan makanan&hal2 yang membantu penyerapan zat besi

3. Hindari Iron inhibitors / Penghambat penyerapan zat besi

 

Bagian 5 : Seputar MPASI Instan

Ada yang pernah membandingkan rasa MPASI Instan dengan bahan2 aslinya? Contoh rasa pisang saja yang gampang.

Kebetulan saya pernah makan keduanya, bagi saya pribadi rasa alami tidak akan tergantikan dengan buatan. Manisnya berbeda, kalau mata saya tertutup dan pisang asli dibuat lumat vs makanan instan (bubur) rasa pisang, saya bisa tebak yang mana yang instan yang mana yang asli.
Begitu pula dalam hal rasa masakan. Saya tidak pernah memasak pakai MSG dan bumbu2 yang tajam, nah ketika saya pulang sebentar ke Indonesia, makan di restoran, saya rasa semua rasa makanannya “tajam”, banyak MSG nya, alhasil saya langsung pusing (saya sensitif sama MSG) dan ujung-ujungnya diare.

Menurut Gabrielle Palmer (nutritionist, breastfeeding counselor, former UK IBFAN), kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.

Sepertinya sangat umum di sosial media Ibu2 yang mengeluh bayi/anaknya tidak mau lagi makan makanan homemade setelah sebelumnya terbiasa makan makanan instan.  Masih menurut Gabrielle, terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpose/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami, di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dan jangan lupa, bayi-anak adalah imitator/peniru, they see, they learn, they copy. Jadi konsep memberi makanan sehat adalah untuk seluruh keluarga, bukan hanya untuk bayi-anak2 saja. Bisa intip tulisan saya: 10 Tips Orang Tua Jadi Contoh Pola Makan Yang Baik & Sehat untuk anak2

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202928886289029&set=pb.1409280466.-2207520000.1393179840.&type=3&theater.

Pernah dengar RUTF? RUTF adalah Ready To Use Therapeutic Food. RUTF ditemukan akhir tahun 1990. Produk makanan instan yang bisa masuk kategori RUTF adalah makanan yang padat vitamin dan mineral setara dengan F100 (Formula 100). F100 adalah produk susu therapeutic yang didesain khusus untuk mengobati malnutrisi berat. RUTF sangat berguna untuk mengobati kasus malnutrisi berat yang penderitanya memiliki akses terbatas ke sumber2 bahan makanan local untuk rehabilitasi nutrisinya. Yang jadi masalah, ketika RUTF diberikan pada bayi-anak yang tidak mengalami malnutrisi berat dan diberikan setiap hari (daily diet).

Berikut kutipan dari buku Palmer: “The Use of ready made food designed for the clinical rehabilitation of severe malnutrition SHOULD NOT become the daily diet just because political leaders neglect their basic duty to provide water, to support locally sustainable food system & communicate practical nutrition information.”

Nah tepat sekali kutipan di atas dengan suara hati saya. Kembali pada poin: Rekomendasi pemberian MPASI Instan difortifikasi. Apakah pemerintah Indonesia sudah melaksanakan kewajibannya:

    1. Menyediakan air bersih
  1. Mendukung sistem dan memberi kemudahan akses (termasuk harga terjangkau) mendapatkan bahan makanan lokal kaya nutrisi.
  1. Mengedukasi masyarakat mengenai nutrisi A to Z (sehingga masyarakat paham mengenai Nutrisi dari sejak pemilihan bahan, paham apa kandungannya, cara penyiapan hingga penyajian dan untuk MPASI mengikuti panduan AFATVAH yang sudah saya jelaskan sebelumnya)? Silakan menilai sendiri.

Saya ada menyinggung kampanye Michelle Obama mengenai kembali pada memasak – makanan rumahan, salah satu janji pemerintah US adalah:

Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak-anak yang lahir besar di keluarga yang  mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan kemampuan ekonomi yang lebih baik bagi orang Eropa dan Amerika Selatan menghasilkan keluarga yang menerima asupan bervariasi dan memiliki kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan yang tingkat pendidikannya lebih rendah dan kemampuan ekonominya lebih lemah.

Pemberian RUTF/ready-to-use therapeutic foods yang digunakan saat kasus gawat darurat (malnutrisi berat) dapat memberikan konsekuensi negative di kondisi normal. Salah satu potensi bahayanya misalnya, bahan makanan lokal yang murah dapat terabaikan karena strategi pemasaran & iklan – promosi RUTF yang persuasif meyakinkan anggota keluarga bahwa makanan instan (misal puree pisang dalam botol) secara kandungan nutrisi jauh lebih superior dibanding dari pisang di pasar. Problem berikutnya, nilai-nilai dasar keluarga di mana keluarga mampu menyediakan makanan sehat bergizi juga akan terkikis. Dikhawatirkan, manusia meyakini bahwa manusia tidak dapat menyiapkan makanan yang layak untuk anak-anaknya, supaya layak/bergizi baik makanan tersebut harus dibuat di pabrik. Hal lain, hilangnya kebiasaan food sharing di antara anggota keluarga (ya iyalah siapa juga orang dewasa yang mau makan MPASI instan seperti bayi/anaknya, pasti lebih memilih makan pisang asli –misalnya).

Sejak beberapa dekade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Mengutip tulisan saya mengenai The Truth About Baby Food Jar:
“Berapakah besarnya pasar makanan bayi secara global? Diperkirakan besarnya lebih dari £6 billion. Coba kita konversikan ke rupiah. 1 GBP (British Poundsterling) = Rp 19.500. Jadi 6 billion GBP = 6.000.000. 000 x 19.500 = Rp 117.148.200.000.000 = 117 Triliun Rupiah!

Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instan tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, iklan, serta biaya-biaya pemasaran lainnya. Apa konsekuensinya? Commercial baby food ini harganya sangat mahal, jauh lebih mahal dari bahan aslinya.  https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202625119735055&set=pb.1409280466.-2207520000.1393202286.&type=3&theater

Ini fakta di sini (US): Perusahaan2 yang memproduksi MPASI instan berlomba-lomba mendapatkan konsumen. Banyak sekali caranya, mulai dari pembagian brosur, mengirim direct mail, iklan TV dll untuk meyakinkan bahwa produknya yang terbaik. Gerber baru saja meluncurkan $30 million atau sekitar Rp 300 miliar lebih untuk iklan TV, media cetak dan direct mail mengusung slogan: “For Learning to eat smart, right from the start”.

Iklan tersebut berusaha meyakinkan orang tua bahwa produk Gerber: “specially formulated to help your baby develop a variety of tastes for healthier foods”. “The longer you can keep your baby on these smart [Gerber] foods now, the better her chances are for eating healthy–and being healthy–for a long time to come.” Juga iklan di bawah ber tagline Baby Food So Easy (mudah dalam pemberiannya, ga perlu repot menyiapkannya) dan penekanan kata Natural.

Bisa liat beberapa iklan videonya di:
http://www.youtube.com/watch?v=Ng7k7vhHo58

http://www.youtube.com/watch?v=1kqHJAY8afM
Sementara pesaingnya, Heinz, mengklaim “Everything you could want in a baby food!” and provide “Only the best ingredients for the best nutrition.”

Bisa dilihat Iklan Heinz , tagline: A better way to feed you baby (Cara yang lebih baik dalam memberi makan bayi Ibu)
http://www.youtube.com/watch?v=nzoRpN0NDHQ

Bagaimana iklan2 MPASI Instan di Indonesia?

    1. Promina mengusung tagline: satu-satunya bubur tim saji praktis dengan nutrisi & tekstur yang tepat.

http://www.youtube.com/watch?v=iGwKPdwKyvw
Perhatikan penekanan kata praktis, untuk saya yang mengambil program master bidang  Marketing Management dan pernah bekerja sebagai Brand manager sebuah brand fast moving consumer goods, campaign tersebut juga akan “leading” pada persepsi menyiapkan MPASI homemade itu ribet/repot.
2. Cerelac mengusung tagline: Gizinya pasti, harga pas. Pilihan cerdas esok cemerlang.
http://www.youtube.com/watch?v=ZoCSIDv13k8
3. Milna mengusung tagline Ahlinya makanan bayi, dengan bla bla bla agar bayi Anda tumbuh optimal.
http://www.youtube.com/watch?v=igS7VMdAj5c

Di bagian akhir tulisan ini yang semoga bagi yang sudah membaca lengkap mendapat gambaran utuhnya, pertanyaan yang sering diajukan itu kan: What Parents Should Do?
1. Berikan bayi-anak kita nutrisi yang paling baik serta ekonomis.

Ingat bagian 3: Food is more than nutrition? Kampanye kembali memasak? Dilanjutkan Bagian 4 : Serba serbi MPASI & zat besi? Cara memilih bahan, mengolah, menyajikan, dan menyimpan, semua itu perlu ILMU. Dan tidak bisa para ibu hanya menyalahkan tim kesehatan yang tidak pernah mengedukasi atau mendapat informasi yang kurang tepat, kurangnya kampanye pemerintah mengenai hal ini, lebih baik para ibu proaktif. Sudah banyak kelas-kelas Persiapan MPASI, bergabung dengan grup-grup kesehatan yang reliable. Kunjungi website-website kredibel (saya pernah kasih tips ya cara mencari sumber dari website credible).

2. Paham kapan saat yang tepat memberikan MPASI instan.
Kembali pada penjelasan Palmer mengenai penggunaan RUTFs (Ready to Use Theurapeutic Foods), maka MPASI Instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah ibu tinggal. (key point: RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).

Ada kondisi-kondisi di mana ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti ibu sakit, dalam perjalanan dan kondisi-kondisi emergency lainnya. Maka pemberian MPASI Instan adalah salah satu solusi. Jangan sampai bayi tidak mendapatkan MPASI yang mencukupi karena ibu ngotot ingin selalu memberi MPASI homemade. Sama seperti adanya kasus ibu yang ngotot memberi ASIx padahal bayinya sudah terindikasi kurang asupan.
Ketika Ibu membeli MPASI Instan, berikut ini What To Do Listnya:

  1. Pastikan kemasan tertutup rapat & dalam kondisi baik.
  1. BACA LABEL Kemasan:

–          Pilih yang tanggal kadaluwarsanya masih cukup lama.
–          Baca kandungannya, bandingkan nilai kalori & lainnya dengan merek lainnya, jangan hanya terpengaruh iklan & promosi.

3. Ketika dibuka/sebelum penyajian pertama, pastikan baik bau, tekstur dan rasa tidak ada yang aneh.
4. Ikuti saran penyajian di kemasan. Sama seperti penyajian susu formula, tidak boleh air dikurangi atau ditambah yang akan mengurangi kandungan zat gizinya.

Alinea penutup, ada 2 kutipan menarik  untuk pemerintah dan pihak-pihak yang berkaitan: “Strategies for the control of micronutrient malnutrition
Policy and programme responses include food-based strategies such as dietary diversification and food fortification, as well as nutrition education, public health and food safety measures, and finally supplementation. These approaches should be regarded as complementary, with their relative importance depending on local conditions and the specific mix of local needs.

Of the three options that are aimed at increasing the intake of micronutrients, programmes that deliver micronutrient supplements often provide the fastest improvement in the micronutrient status of individuals or targeted population.

Food fortification tends to have a less immediate but nevertheless a much wider and more sustained impact. Although increasing dietary diversity is generally regarded as the most desirable and sustainable option, it takes the longest to implement.” 

“Gabrielle Palmer: In common with many others, my vision is of a world where there is egalitarian food security for all; where the majority of humans get their nutrients from their food (and sunshine); where unbiased public education ensures that families have the knowledge and skills to feed their children without the need for different or specially made foods and where government policies protect public health rather than private profit. “ -dalemm pesannya…

Keypoint Bagian 5:

    1. Kecenderungan menyukai suatu rasa dibentuk sejak awal kehidupan dan cara pemberian makan awal bayi (MPASI) dapat membentuk bayi/anak menginginkan rasa yang terlalu manis, asin, makanan-minuman rendah nutrisi untuk jangka panjang.
    1. Terdapat bukti/evidence bahwa anak2 yang tereskpos/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya.
    1. Kemiskinan adalah faktor kunci terjadinya kasus malnutrisi, tapi jangan salah, anak-anak yang lahir besar di keluarga yang mampu bahkan kaya juga dapat menerima nutrisi yang tidak tepat/tidak optimal.
    1. Sejak beberapa dekade terakhir, industri makanan meningkat secara pesat. Harap diingat bahwa ketika para orang tua membeli makanan instant tersebut mereka tidak hanya membayar untuk kandungannya tapi juga untuk pemrosesannya, pengemasannya, penyimpanan, pendistribusian, dan iklan serta biaya-biaya pemasaran lainnya.
    1. MPASI instan difortifikasi dapat diberikan saat anak menderita kasus malnutrisi atau sudah mendekati tahap malnutrisi DAN akses mendapatkan bahan makanan kaya gizi dan spesifik untuk malnutrisinya itu sulit. Sulit di di sini bisa 2, bisa sulit karena tidak mampu (kondisi kemiskinan) dan atau sulit mendapatkannya di daerah Ibu tinggal. (key point: RUTFs is NOT for daily diet for healthy baby & easy access to get nutritious food).
    1. Ada kondisi-kondisi di mana ibu tidak dapat menyiapkan MPASI homemade seperti ibu sakit, dalam perjalanan dan kondisi-kondisi emergency lainnya.
    1. Ketika Ibu membeli MPASI Instan, perhatikan What To Do Listnya.

 

Sumber :

1. A discussion paper developed for the International Baby Food Action Network (IBFAN)by Gabrielle Palmer

2. http://www.cdc.gov/nutrition/everyone/basics/vitamins/iron.html

3. Laporan Riskesdas 2013 Kemenkes RI

4. Laporan Riskesdas 2007 Kemenkes RI

5. Complementary Feeding : Nutrition, Culture & Politics book by Gabrielle Palmer

6. Key message booklet UNICEF 2012

7. Guiding Principle of Complementary Feeding WHO 2010

8. Infant and young child feeding (IYCF) Model Chapter for textbooks for medical students and allied health professionals-WHO

9. Guidelines on food fortification with micronutrients
10.  The Truth About Baby Food jar : http://www.thealphaparent.com/2013/02/the-truth-about-baby-food-jars.html?m=1

11.  Cheating Babies: Nutritional Quality and Cost of Commercial Baby Food – Daryth D. Stallone, Ph.D., M.P.H. Michael F. Jacobson, Ph.D.

12.  http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak.html

13.  http://idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Rekomendasi-IDAI_Suplemen-Zat-Besi.pdf

14.  http://aapnews.aappublications.org/content/early/2010/10/05/aapnews.20101005-1.full?rss=1

15.  http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

16. http://www.iom.edu/Global/News%20Announcements/~/media/48FAAA2FD9E74D95BBDA2236E7387B49.ashx

17.  http://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/

18.  http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002461.htm

19.  http://ajcn.nutrition.org/content/71/5/1280s.full

20.  http://pediatrics.aappublications.org/content/117/4/e779.abstract

21.  http://www.bmj.com/content/343/bmj.d7157

22. https://www.acog.org/Resources_And_Publications/Committee_Opinions/Committee_on_Obstetric_Practice/Timing_of_Umbilical_Cord_Clamping_After_Birth
Bagian 1 : Rekomendasi dokter2 IDAI pemberian MPASI Instan Difortifikasi :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203216244032793&id=1409280466

Bagian 2 : Anemia Defisiensi Besi (ADB) :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203216730884964&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&theater

Bagian 3 : Food is MORE THAN Just Nutrition = Makanan Tidak Hanya Sekedar Untuk memenuhi kebutuhan Nutrisi / Gizi :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203217513784536&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&relevant_count=1

Bagian 4 : Serba-Serbi MPASI , dengan fokus pada kandungan zat besi MPASI:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203221299919187&id=1409280466

Bagian 5 : Seputar MPASI Instan

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203221983616279&set=pb.1409280466.-2207520000.1397218728.&type=3&theater

Continue reading

Bermain Kubus untuk Perkembangan Anak

Beberapa waktu yang lalu saat kami mengikuti acara seminar awam tentang prematuritas di RS Evasari, dokter yang menjadi pembicara menyampaikan tentang balok-balok yang dapat digunakan sebagai alat pemantau perkembangan anak. Menurut beliau, pengecekan perkembangan anak di luar negeri sudah melibatkan penggunaan balok ini. Saya jadi ingat KPSP atau kuesioner praskrining perkembangan anak yang biasa digunakan untuk mengukur apakah perkembangan anak sudah sesuai dengan usianya atau belum. Balok ini disebutkan di beberapa bagian sbb:

Muncul di pertanyaan untuk usia 12 & 15 bulan: Tanpa bantuan, apakah anak dapat mempertemukan dua kubus kecil yang ia pegang? Kerincingan bertangkai dan tutup panel tidak ikut dinilai.

Muncul di pertanyaan untuk usia 21 & 24 bulan: Apakah anak dapat meletakkan satu kubus di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5-5.0 cm

Muncul di pertanyaan untuk usia 30 & 36 bulan: Dapatkah anak meletakkan 4 buah kubus satu persatu di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.

Muncul di pertanyaan untuk usia 42, 48, dan 54 bulan: Dapatkah anak meletakkan 8 buah kubus satu persatu di atas yang lain tanpa menjatuhkan kubus tersebut? Kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm.

Selengkapnya bisa dilihat antara lain di

https://tumbuhkembang.info/alat/kuesioner-pra-skrining-perkembangan-kpsp/

PhotoGrid_1461513455766

Fathia dulu belum punya balok khusus untuk bermain di tahun pertamanya. Iseng, saya menggunakan toples mungil wadah bumbu untuk ‘tes’ ini, hehehe. Sekitar usia dua tahun ia bisa menumpuk 4 wadah bumbu. Sekarang, kami pakai balok yang dibeli dari Toko Mama Sekar (mba Evi Rismawati). Aslinya ini puzzle 6 in 1 sih, alias bisa disusun menjadi 6 gambar berbeda. Kebetulan ukurannya pas dengan yang disyaratkan dalam KPSP.

NYUSUN BUMBU

Manfaat balok-balok permainan ini sendiri bisa disebutkan sebagai berikut:

Orangtua dan guru perlu merancang lingkungan yang mendorong dan meningkatkan kemampuan anak dalam memecahkan masalah sejak usia dini (Rachel Keen, psikolog perkembangan, 2011).

Meski tak se-wah mainan robot yang bisa bergerak atau video game, balok-balok mainan cocok untuk mendukung tujuan di atas, termasuk membantu anak mengembangkan keterampilan motorik serta koordinasi tangan dan mata, skill spasial, kemampuan berpikir yang kreatif dan bervariasi, keterampilan sosial, serta keterampilan berbahasa. Anak juga bisa bermain peran atau ‘sandiwara’ dengan balok tersebut. Bahkan balok-balok ini sekaligus berpotensi melatih kemampuan matematika.  Bahasan selengkapnya di http://www.parentingscience.com/toy-blocks.html.

(Kalau yang ini Fathia berkreasi dengan Math Block)

IMG_20151122_155514

Angkut-angkut ASI Perah

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas. Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget (walaupun kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan).

Saya pun melihat sendiri betapa teman yang bertugas di Bangka (dulu kami sekantor) ketika harus mengikuti diklat ke Bogor dan Jakarta sampai repot-repot mencari tahu apakah mungkin ada anggota grup dukungan menyusui yang kami ikuti yang bisa dititipi ASI perah, jaga-jaga kalau di tempatnya diklat tidak tersedia freezer — salah satunya diakhiri dengan ia menempuh perjalanan bolak-balik hotel-rumah saya untuk menitipkan ASIP karena kesulitan menitip di freezer hotel. Menjelang dan setelah Fathia lulus ASI 2 tahun, barulah saya diperintahkan ikut bimtek, workshop, course dan sejenisnya yang semuanya tetap berlokasi di Jakarta.

Continue reading