[Arsip Lomba] Serunya Dunia Anak Usia Dini

(Januari 2016, grup facebook Preschool Online)PhotoGrid_1453605502742

Ini kedua putri kami, Fathia (4 tahun 4 bulan) dan Fahira (13 bulan). Keduanya punya karakter yang berbeda, hingga ada saja hal yang menjadi kejutan baru bagi saya dan suami. Adik lebih ekspresif sejak awal kelahirannya, tangisan dan celotehannya bahkan mengundang komentar tetangga, “Beda banget sama kakaknya, ya…”. Memang jika dibandingkan, kakak dulu jadi terlihat lebih kalem. Namun, di umurnya sekarang, tentu kakak sudah lebih ceriwis dan aktif, sehingga tak jarang ada benturan yang membuat salah satu dari mereka menangis (tapi ya lalu rukun lagi dalam waktu amat singkat).

Punya dua balita di rumah semakin membuat saya haus akan ilmu, khususnya terkait kesehatan dan pendidikan anak. Selain menyimak sharing di grup-grup dunia maya yang membantu memperluas cakrawala wawasan, membaca buku merupakan cara saya untuk memuaskan dahaga, yang tentunya kemudian menjadi referensi untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penyesuaian di sana-sini.

Pertanyaan di kepala saya terwakili oleh kalimat pada kata pengantar buku Serunya Dunia Anak Usia Dini (SDAUD): Apa istimewanya buku ini? Ya, buku-buku bertemakan parenting memang banyak tersedia, dengan gaya dan prinsip masing-masing. Buku SDAUD yang disusun oleh tim admin grup Preschool Online ini menurut saya menjadi semacam panduan dasar yang bersahabat dan cukup lengkap karena tidak secara langsung memperkenalkan gaya parenting tertentu, melainkan menyajikan dasar-dasar mengenai apa saja aspek yang perlu menjadi perhatian orangtua. Tak ketinggalan disertai pula dengan testimoni yang menunjukkan bagaimana kiat-kiat yang tertulis dalam buku tersebut diterapkan. Inilah yang saya maksud dengan ‘bersahabat’, karena pemaparan penjelasan ‘saja’ bagi sebagian orang bisa dianggap sebagai ‘teori’ (ah, jadi ingat pengin nulis seputar teori vs hasil riset vs pengalaman) yang kurang membumi. Penyampaiannya juga lumayan ringan, padat berisi sehingga tidak terlalu tebal, praktis dibawa-bawa. Hanya saja, kalau boleh memberi masukan, mungkin perlu sedikit perbaikan editing jika nanti (moga-moga) buku ini dicetak ulang.

Bagian favorit saya dalam buku SDAUD adalah bagaimana orangtua perlu mempersiapkan keterampilan hidup alias life skills anak. Di situ disebutkan beberapa kemampuan yang hendaknya dimiliki anak sesuai usia, yang sepertinya tidak langsung berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi akan bermanfaat sebagai landasan ketangguhan dan kelincahannya berperilaku serta menyelesaikan persoalan. Poin demi poinnya terkesan remeh, tetapi penting. Penguasaan akan keterampilan hidup ini juga akan mewarnai karakter anak, bahkan bisa berpengaruh ke kehidupannya sebagai orang dewasa kelak.

Oh ya, sampul buku SDAUD dengan warna ngejreng (saya ikut memilih cover versi yang ini saat dilakukan pemungutan suara) juga menjadi keunggulan tersendiri karena menarik perhatian. Pernah suatu pagi Fahira terbangun lebih dulu daripada saya, dan ketika membuka mata saya dapati ia sedang membolak-balik buku ini :).

Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab, PR bagi Orangtua

Sabtu lalu (2 April 2016) kami sekeluarga berkesempatan datang ke seminar yang diadakan oleh The Urban Mama di Kuningan City. Tema besarnya adalah “Raising Children Who Think for Themselves”. Alhamdulillah nambah wawasan lagi. Sebenarnya ini bukan pertama kali kami mengikuti acara di mana Bu Elly menjadi salah satu pembicara, tapi justru karena itu kami ingin menimba ilmu lebih banyak lagi. Ditambah lagi, saya juga belakangan ini sering mencermati tulisan kang Adhitya Mulya terkait parenting baik dalam blognya maupun ketika diangkat dalam bentuk buku (nonfiksi terbarunya berjudul Parent’s Stories).

Berikut resumenya ya…

Sesi pertama #TUMModernMama bersama Adhitya Mulya, tema “Helicopter Parenting.

IMG_20160402_085620

Helicopter parenting: orangtua hadir terlalu dominan dalam kehidupan anaknya, dan ini bisa berbahaya bagi perkembangan anak.

Bekali anak-anak dengan rules/peraturan sebelum ‘dilepas’ main di playground misalnya, daripada terus-menerus diawasi. Yang sering kita lakukan: anak menemukan masalah/konflik, orangtua menyelesaikan, masalah selesai.

Anak perlu dipersiapkan untuk punya life skills, bukan sekadar kita siapkan semua kebutuhannya. Investasilah untuk membantunya semakin terampil.
Anak juga perlu belajar menghadapi kekalahan dan kesedihan. Jangan sampai anak merasa dirinya selalu benar, hingga ‘menyalahkan dunia’ atas apa yang ia dapatkan. Bahkan sampai di dunia kerja ketika harus berhadapan dengan ketidaknyamanan terkait atasan atau kolega.

Ajari anak menyelesaikan masalah yang ia hadapi (tidak langsung turun tangan/helicopter parenting). Tapi jika sudah terkait kekerasan, kriminal, orangtua waras pastilah perlu turun tangan (bukan helicopter parenting lagi namanya, tapi waras parenting).

Anak butuh konsistensi dalam pengajaran, jadi jika menggunakan jasa ART kita juga perlu ‘invest‘ agar bisa seiring sejalan.

Parents know best? Do we? Really?
Pemahaman terkait values dan akhlak umumnya abadi, nilai-nilai tersebut akan terus terpakai dari dulu hingga sekarang. Untuk hal ini orangtua boleh dominan karena ada faktor pengalaman juga. Namun, ada pula yang kita mungkin tak dapat ikuti, misalnya future challenges terkait bidang pekerjaan. 40% (jenis) pekerjaan yang ada saat ini belum ada 30 tahun yang lalu. Di sinilah kita perlu mempersiapkan anak, bukan menjejalinya dengan doktrin harus kerja ini atau itu.

Terimalah bahwa anak kita tidak sempurna. Dan…kita sebagai orangtua juga tidak sempurna. Kalau ada ‘sesuatu’ yang terjadi, kita perlu evaluasi. Mungkin, memang gaya parenting kita yang kurang pas, ada keterampilan parenting yang harus kita perbaiki.

Sesi kedua #TUMModernMama dengan Bunda Elly Risman, “Kiat Membantu Anak Mandiri”.

Yang hilang yang paling esensial dalam pengasuhan sekarang adalah dialog, mendialogkan dengan anak. Karena kini kita serba tergesa-gesa bahkan menggesa-gesakan diri. Yang juga hilang adalah common sense.

Masalah kemandirian anak: meletakkan barang tidak pada tempatnya, pengaturan waktu antara main, belajar, ibadah, belum mengerjakan tugas rumah…. Ini ada di kuesioner yang dibagikan sebelum sesi kedua dimulai, judulnya masalah, tapi sebetulnya ini tantangan (see…secara common sense kita begitu terburu-buru, padahal usia anak pengisi kuesioner kebanyakan 1-3 tahun).

Mandiri: dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Dapat memecahkan masalah sendiri.

IMG_20160402_102512

Karakteristik seorang yang mandiri:
+ Sikap mental baik: mempunyai inisiatif, memiliki keberanian, percaya diri, memiliki rasa tanggung jawab.
+ Menikmati proses, ulet, berani bersaing, yakin bahwa dia mampu menemukan cara tertentu untuk mencapai tujuan, merasa puas atas upayanya.

Kemandirian: need of autonomy (ada kebutuhan dalam dirinya sendiri) dan harus sesuai dengan tugas perkembangan.

Anak harus belajar berlatih:
– Menolong diri sendiri
– Memilih kemungkinan/alternatif
– Membuat keputusan
– Bertindak sesuai kebutuhannya secara mandiri
– Bertanggung jawab terhadap tindakan tersebut.

Gaya pengasuhan: otoriter vs membolehkan vs otoritatif.
Gaya helikopter: terlalu melindungi, selalu turun tangan membantu, ortu tidak tegaan.
Gaya sersan pelatih: selalu mengatur, anak tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena semuanya sudah diputuskan oleh orangtua.

Orangtua harus punya writing skill yang baik. Lazy mind yang sudah terbentuk di masyarakat (jadi permisif, terlalu toleran, kontrol sosial tidak berjalan) juga perlu dibenahi. Salah satu dampak lazy mind ini: korupsi di berbagai bidang.

Mengapa anak kita perlu mandiri?
a. Perubahan sangat cepat yang terjadi di masyarakat karena teknologi (Hi-Tech mengharuskan anak mampu melakukan penyesuaian diri terus menerus. Tidak cukup hanya patuh. Anak perlu memiliki karakter utama untuk mengarahkannya pada perilaku mandiri dan bertanggung jawab).
b. Masyarakat lebih beragam (demokrasi dan reformasi masuk rumah, anak2 minta diberlakukan dengan respek, masyarakat semakin terbuka terhadap suku dan bangsa lain, mulai beragam dan berubah).
c. Nasional–>internasional lingkungan semakin berbahaya
d. Perubahan besar dalam keluarga.
Perubahan dalam sistem keluarga:
– Keluarga besar menjadi keluarga batih.
– Ayah mencari uang dan ibu menjaga anak –> berubah total
– Anak tinggal dengan nenek/pembantu/keluarga tiri/TPA.
– Perpisahan.

Keluarga, pernikahan butuh survive. Perjanjian agung/mitsaqan ghalidza yang harus kokoh. Urusan tempat tidur perlu diperhatikan untuk keharmonisan keluarga dan rumah tangga.

Masa ibu bekerja optimal jika: sebelum melahirkan s.d. bungsu 8th.
There’s no superwoman (Sally Conway). Ada pekerjaan, anak, suami, hobi/waktu untuk diri..bagaimana membagi waktunya? Selamatkah anak-anak kita, perkawinan kita?

Anak ditinggal: kelengketan/attachment berkurang (oxytocin/hormon kasih sayang vs. cortisol/hormon kecemasan), separation & stranger anxiety, kemandirian dan tanggung jawab, wellbeing.

Nenek tidak didesain untuk mengasuh cucu: usia/fisik, hormonal, emosi, ‘mau berbekal untuk pulang’. Minta tolong boleh, tapi bukan untuk sehari-hari/jangka panjang.

Ayah tidak boleh kehilangan qowwam-nya.

Hambatan kemandirian: MEMANJAKAN.
Bangunin, setirin, memberi uang tiap saat diminta, membiarkan anak bicara kurang hormat, kontrol penggunaan media lemah, PR-nya adalah urusan mama, makan depan TV, ortu/pembantu yang berbenah, tidak punya tanggung jawab, menyelamatkannya jika bermasalah dengan perilaku buruk.

Belajar beberes, masak itu memang gampang. Tapi kalau ditunda nanti-nanti pembelajarannya, bagaimana pelajaran tanggung jawabnya? Bagaimana perjalanan prosesnya (mis. salah-salah dulu dst.)?

Anak tidak mengembangkan kualitas dasar untuk zaman modern, ortu dan anak sama-sama frustrasi. Banyak yang harus diselesaikan. Bayangkan bencana yang akan dihadapi.

Berapa price tag anak saya? (Mario Teguh)
Punya barang yang sangaaat mahal, taruhnya pasti dalam rumah.

Yang harus kita lakukan: BERUBAH.

Sasaran Tembak:
– Karakter (beriman, berakhlak mulia, berani dan bersemangat, berpikir kritis, berharga, mandiri dan bertanggung jawab, respek).
– Keterampilan (beribadah yang baik, benar dan anger management, daya juang, memecahkan masalah dan mengambil keputusan, mempertahankan diri, tidak tergantung, bekerja sama/anggota tim).

Faktor penentu kemandirian: kuncinya adalah ortu dan guru.
1. Kesadaran: anak bukan milik kita
2. Merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan
3. Menentukan gaya pengasuhan
4. Dual parenting
5. Memahami prinsip-prinsip dan kiat membuat anak mandiri dan bertanggung jawab.
6. Pembiasaan
7. Evaluasi.

Tujuan pengasuhan:
1. Hamba Allah yang bertaqwa
2. Calon suami/istri yang baik
3. Calon ayah/ibu yang baik
4. Membantu mereka mempunyai ilmu dan keahlian dalam bidang tertentu sehingga bisa mencari nafkah
5. Pendidik istri dan anak
6. Penanggung jawab keluarga
7. Bermanfaat bagi orang lain atau Pendakwah.

Mandiri sebagai kebutuhan; faktor penggerak kemandirian:
-Dorongan membuat “sesuatu terjadi”
-Keinginan semua manusia untuk merasa MAMPU/cakap dan BISA
-Menunjukkan kemampuan Berpikir, Memilih, dan Mengambil Keputusan (BMM).

8 Langkah membantu anak mandiri:
1. Sadar apa akibatnya kalau anak tidak mandiri
2. Stop memanjakan – minta maaf – jelaskan.
3. Ortu menjadi supervisor kemandirian.
Supervisor Kemandirian:
– Anak butuh mengekspresikan diri.
– Gunakan kalimat bertanya
– Rangsang anak untuk mencoba dan ingin tahu.
– Sediakan kesempatan yang sesuai dengan usia
– Berikan dalam dosis yang besar: cinta yang tulus, dukungan dan dorongan untuk eksplorasi dan mengembangkan rasa ingin tahu itu.
– Biarkan anak yang berpikir, memilih, dan membuat keputusan -BMM
– Izinkan anak mencicipi kecewa
– Ortu siap dengan JPE (jaringan pengaman emosi)
– Ajarkan life skill 
– Kenali usaha dan keberhasilannya.
4. Batasan: kesehatan, keamanan, kesejahteraan diri/jiwa
5. Kenalkan konsekuensi alami dan logis.
Perkenalkan konsekuensi alami yang terjadi secara alami bila kita melakukan sesuatu, dan konsekuensi logis apabila kita tidak ikut campur.
6. Pembiasaan (otak anak memerlukan pengulangan-pengulangan)
7. TEGA (agar anak memiliki kesempatan belajar) — konsisten
8. Evaluasi

Anak bukan milik kita:
– Anak-anakmu bukan pilihanmu, mereka menjadi anak-anakmu bukan karena keinginan mereka, tetapi karena takdir Allah (QS 28:68, QS 42:49-50)
– Karena apa yang Allah takdirkan untukmu, maka itulah amanah yang harus ditunaikan (QS 8:27-28)

Catatan, khususnya untuk para ayah:
– Terima anak apa adanya
– Hargai apa yg mereka usahakan
– Seringlah memuji perbuatannya, bukan orangnya.

Mengasuh berdua (dual parenting)
Menjadi orangtua = partnership –> spirit bekerja sama. Ayah penanggung jawab utama.
Diperlukan: niat baik karena-Nya, kejujuran, keterbukaan, harapan yang tinggi akan hubungan yang menyenangkan dan bahagia.

Bersedia mengambil risiko, berani melewati batas
Anak-anak: ingin menemukan campuran indah penglihatan, bunyi, dan kegiatan. Contoh, ini sendok kalau dilempar gimana ya…satu sendok begini kalau dua sendok gimana ya…lama-lama dilemparin semua itu sendok garpu (dan ortunya ngomel deh :p).
Remaja: ingin menemukan campuran indah perasaan, kegiatan, dan risiko.

Pernikahan harus dipelihara. Jangan selalu menjadi ayah dan ibu, harus luangkan waktu untuk menjadi suami dan istri.

Tambahan pesan dari bu Elly: Kalian boleh saja tidak setuju, saya hanya menyampaikan, kalau tidak berkenan ya ibu mohon maaf.

Di akhir sesi, peserta boleh menitipkan pertanyaan lewat selembar kertas. Beberapa yang menarik adalah:
– si balita tidak mau minta maaf dan malah ngambek: dekati. Kita juga kalau marah masih suka diem-dieman, kan?
– penanya adalah ibu tiri, pola asuh anak saat bersama ibu kandungnya di akhir pekan serba-permisif, beda dengan yang diterapkan ayah dan ibu tirinya: minta suami bicara, kalau perlu ibu-ibu ngobrol berdua, jelaskan tujuannya untuk kebaikan.
– mengatur me time: baiknya ibu punya me time minimal sekali dalam sebulan, @2 jam. Titipkan anak pada orang yang bisa dipercaya. Di sini ada cerita menarik dari MC yang mengisahkan bahwa ia dan suami tidak pernah merasa ada yang salah sampai pada suatu hari anak-anak dipegang oleh tantenya saat jalan-jalan, dan mereka berdua jalannya masing-masing. Sampai ditegur oleh saudara, itu kenapa gak digandeng atau gimana gitu? Ternyata kesibukan (suami sedang mengambil S2 double degree yang dikerjakan sepulang kantor, ada asisten RT hanya untuk cuci gosok, istri agak kewalahan dengan dua anak yang selalu minta perhatian.) dan keterbiasaan membuat pasangan berjarak…perlu dibicarakan dan perlu diambil tindakan mis. kencan berdua.
– anak terlalu ‘dewasa’/empati/mandiri misalnya dalam mengasuh adik, ortu juga khawatir: arahkan dan kembangkan.
– jika bepergian dengan anak laki-laki dan ayah tidak ikut, ke toiletnya bagaimana? Mengingat ada kasus-kasus pencabulan di toilet: ajarkan anak berseru, kalau perlu kasih tanda misal lagi cuci tangan teriaklah lagi cuci tangan. Jangan solusinya dengan ke toilet wanita agar bisa ditemani ibunya.
(Nanti ditambah lagi ya kalau ingat..di bagian ini gak nyatat, lagi gendong Fahira yang tertidur soalnya :D).

IMG_20160402_121900 IMG_20160402_115707 IMG_20160402_115240

Oh iya, goodie bag-nya cakep-cakep nih… ada Ikea Frakta lho. Dan enaknya lagi, ada playground seru dari Bambino Piccolo yang bikin anak-anak bisa asyik main sambil ortunya menyimak :).

IMG_20160402_100730 IMG_20160402_161248 IMG_20160402_161049

http://theurbanmama.com/events/tummodernmama-raising-children-who-think-for-themselves.html

Pengajian Parenting dengan Ustadz Bendri Jaisyurrohman

Resume Kajian parenting Ustadz Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri) di kantor, 20 November 2015.

Ayah bunda harus berbagi untuk pengasuhan: ayah yang menetapkan dan menegakkan aturan, ibu yang menenteramkan. Jangan kebalik, ibu yang ngomel2 sampai stres sendiri, anak bingung ngadu sama siapa, ayah pulang eh malah permisif banget sama apa yang udah dilarang2 sama ibu seharian.

Introspeksi: seringkali kita bisa lebih sabar ramah toleran sama orang lain (rekan kerja, tetangga dst) tapi sama keluarga sendiri mis.adik, anak yang harusnya lebih berhak malah seringnya lebih cepat esmosi 😭😭.

Ada hak istri untuk didengar oleh suaminya, kalau nggak ada waktu atau merasa nggak jago menyampaikan, belajar nlis….

Di era cyber seperti ini ortu wajib trampil menjebol privacy anak.
Ibu perlu punya daya pikat agar anak merindukan saatnya pulang.
Itu dua skill yang perlu dimiliki ibu ya… yang ketiga adalaaah…skill masak
Kalau pijit bisa sekalian jadi sarana ngobrol dari hati ke hati.
Skill keempat…skill mendengar. Karena kalau ngomong perempuan udah gak perlu skill😂😂
Kalau perempuan udah ngomong pendek2 artinya ada yang salah, kalau puanjang lebar artinya lagi hepi😄😄
Anak lagi butuh didengerin jangan langsung dinasehatin. Pelajari teknik cicak, “Ooh gitu ya, Nak, ckckck…”
Penutup: usahakan ketika anak ditanya rumah di mana, anak bisa jawab rumahnya adalah di mana ibu berada.
Kalau lagi LDR-an hendaknya suami nanya dulu kabar istri baru kabar anak.
Ada yang nanya pembagian tugas suami istri, jawabnya tugas suami tentukan visi misi (Ibrahim as), evaluasi (Ya’qub as). Ayah yang akan mendampingi anak menghadapi tantangan dunia luar, memagari. Ibu yang membuat anak selalu pengin pulang, menenteramkan.

 

Versi teman (credit to Tri S)
Tarbiyatul Aulad fil Islam
QS. An-Nisa’: Ayat 9 – وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Saat ini banyak kita temui anak-anak yang usia psikologisnya adalah setengah dari usianya. Misal anak SMA yang usianya 16 psikologisnya masih seperti anak usia 8 tahun.
Zaid bin Tsabit ketika berusia 10 tahun membawa pedang ayahnya yg bahkan tingginya lebih dari tinggi badannya. Dia mendengar hadist Rasulullah bahwa amal yang afdhol adalah jihad fi sabilillah.
Aset yang kita punya seharusnya diinvestasikan ke investasi masa depan. Yakni memberikan pendidikan terbaik utk anak2, memilihkan guru terbaik untuk anak2.

Ibu yang hamil mempunyai 3 hak:
Makan enak
Minum enak
Bahagia
Sebagaimana dalam QS. Maryam: Ayat 26 – فَكُلِىْ وَاشْرَبِىْ وَقَرِّىْ عَيْنًا‌  ۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًا  ۙ فَقُوْلِىْۤ اِنِّىْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا  ‌ۚ
“maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”.”
Kehamilan yg tidak bahagia akan menyebabkan gangguan perkembangan otak pada anak.
Kata Rasulullah ketika ada sahabat yg memarahi istrinya ketika hamil maka dia mendzolimi 2 makhluk. Yakni ibu dan anak yang dikandungnya.

Peran ayah di rumah adalah membuat, menegakkan dan mencontohkan penegakan aturan. Sedangkan peran ibu adalah memberi rasa nyaman.

4 manajemen waktu seorang ibu:
1. Me time-di mana tidak ada diganggu siapa pun dan apa pun
2. Couple time-waktu berdua dengan pasangan
3. Friendly time
4. Social time
Skill agar emosinya positif: biasakan menulis.
Diary…agar bisa menularkan emosi. Ini utk mengantisipasi suami yg tidak peka.
Jebol privasi anak. Jangan sampai anak2 punya privasi dari kita.
Skill agar emosinya positif:
1. biasakan menulis.
2. Skill memasak (agar anak kangen dengan kita) 😁
3. Memijit 😘
Ketika memijit maka ibu menyentuh 3 area pribadi anak. Perut, punggung, telapak tangan. Dan area pribadi yg disentuh ibu akan membuat anak lancar bercerita.
4. Mendengar
Sabar menahan lisan ketika anak bercerita. Gunakan tehnik cicek…ketika anak bercerita ckckckc…ckckckc…..
Tugas ayah:
1. Menjadi suami yg hebat
2. Penetu visi keluarga
3. Melakukan evaluasi thd perkembangan keluarga
Krn nasab anak adalah pada bapaknya maka Allah akan dihisab mengenai anaknya.
4. Menegakkan aturan
Misal aturan tidk boleh liat tv habis maghrib ayah yg buat aturan dan menegakkan (fungsi kepala sekolah dan ibu sebagai madrosatul ula).

Pembagian tugas: ayah membimbing danenguatkan agar anak kuat mnghadapi dunia luar dan ibu yg membuat anak selalu rindu utk pulang.

Menyusui Bikin Rambut Rontok, Mitos atau Fakta?

Menemukan helaian rambut yang rontok di mana-mana pada masa menyusui adalah momok bagi sebagian ibu. Ada teman yang cerita bahwa ART-nya sampai sering berseru prihatin melihat rambut-rambut yang jadi berceceran di rumah.

“Aku menikmati banget waktu lagi hamil, deh, soalnya rambut jadi tebel, berkilau juga,” begitu cerita teman ini melanjutkan. Ya, kondisi rambut ketika sedang mengandung memang seringkali berbanding terbalik dengan ketika sudah berstatus busui. Biasanya sih kerontokan rambut yang lumayan parah ini terjadi pada tiga bulan pertama.

Dari hasil baca-baca, sebagian mengaitkan kerontokan rambut ini gara-gara ‘gizi ibu yang diambil untuk keperluan bayi melalui ASI’. Malah ada juga yang bilang ini karena bayi sedang suka mainan air liur atau memasukkan tangan ke mulut. Apa hubungannya? Entahlah, mitos itu tidak beredar di keluarga saya sehingga saya baru mengetahuinya melalui grup pendukung ASI yang saya ikuti. Jadinya saya tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut, sebetulnya apa sih, penyebabnya?

Dulu pernah ada tulisan mengenai rontoknya rambut busui yang di-post oleh mba Luluk Lely Soraya Ichwan, konselor laktasi dari Yayasan Orangtua Peduli di blognya, tapi karena Multiply menutup layanan dan belakangan menghapus semua postingan penggunanya dari dunia maya, tulisan mba Luluk ikut hilang. Saya sempat menyalinnya untuk keperluan grup ASI, tapi kali ini saya tuliskan ulang dari artikel asli yang menjadi sumber unggahan mbak Luluk, yaitu dari http://kellymom.com/bf/concerns/mother/hairloss/.

Sebetulnya rontoknya rambut ibu pascamelahirkan itu normal, kok. Banyak ibu yang mengalaminya. Rambut kita punya fase sendiri dalam pertumbuhannya. Ada fase bertumbuh yang disebut anagen dan ada fase istirahat yang dinamakan telogen. Di kulit kepala, fase anagen berlangsung selama lebih kurang 3 tahun, sedangkan telogen biasanya selama tiga bulan. Kisaran ini masih bisa bervariasi pada setiap orang. Pada fase telogen, rambut yang ‘beristirahat’ tetap bertahan pada folikelnya sampai terdorong oleh rambut baru yang sedang tumbuh.

Continue reading

Ulasan Kuliner

Grup Wa ibu pebe sedang bikin lomba review kuliner sesuai lokasi penugasan, sekalian ditulis di sini saja ya…

  1. Lempah Kuning

lempah

Waktu kami bertugas di Bangka dulu, tepatnya di kota Pangkalpinang, ada satu masakan yang jadi andalan untuk dicari saat saya sedang tak enak badan. Sebab, aroma dan rasanya yang lumayan tajam ampuh menggugah nafsu makan yang biasanya meredup kala sakit menyapa.  Rasa masam, pedas, manis segarnya kontan membangkitkan selera, bahkan ketika baru wanginya yang tercium.

Ini dia sayur lempah kuning. Secara sederhana bisa didefinisikan sebagai masakan ikan (bisa diganti dengan sumber protein hewani lainnya) berkuah yang dimasak dengan rempah-rempah. Ada sebuah warung makan yang menurut kami menyediakan lempah kuning terenak, dan alhamdulillah letaknya tidak terlalu jauh.

2. Kerak Telor

IMG_20151011_103238

Saya masih ingat beberapa tahun lalu saya dan keluarga besar berkunjung ke Pekan Raya Jakarta, dan di situlah saya berkenalan dengan makanan ini untuk pertama kalinya. Awalnya heran juga, ini makanan apa, sih? Semacam omelet ketan ditaburi bumbu rempah dan ebi halus?

Pada dasarnya saya ini penyuka makanan gurih, hal itulah yang mungkin membuat saya spontan ‘jatuh cinta’. Lebay mungkin. Tapi apa lagi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan kerelaan menyisihkan waktu dan tenaga mampir ke Atrium Senen setidaknya sepekan sekali semasa saya magang di Lapangan Banteng, hanya demi mengobati rasa rindu pada kerak telor?

Bahkan saat saya hamil di Pangkalpinang, girang hati ini begitu tahu sudah ada penjual kerak telor mangkal di Lapangan Merdeka. Ngidam saya dengan mudah terpenuhi. Kini saat bertugas kembali di Jakarta, tentu bukan hal sulit mencari penjaja kerak telor. Tapi demi membuatnya tetap spesial, saya tak hendak jor-joran memenuhi hasrat menyantapnya. Pameran-pameran yang diselenggarakan di Lapangan Banteng biasanya menjadi ajang temu kangen saya pada makanan satu ini, walaupun terkadang kecewa karena rasanya memang tidak standar. Tak ketinggalan putri sulung saya pun ikut minta dibelikan, lalu makan dengan lahap.

[Copas dari AIMI] Seputar Bingung Puting

Aimi edited a doc in the group: Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.
6 September 2014 at 18:11 · 
Masih banyak yang belum sepenuhnya paham tentang fenomena bingung puting. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menganggap bingung puting adalah mitos belaka, sehingga pelarangan dot dianggap berlebih-lebihan. Tapi sesungguhnya, bukan lagi mitos namanya jika sudah dibuktikan secara ilmiah hingga kemudian muncul saran pelarangannya. Berikut hal-hal yang sering ditanyakan atau dikatakan seputar fenomena bingung puting pada bayi yang menyusu pada ibunya.

Last but not least, KENALI FENOMENANYA, PAHAMI RISIKONYA, DAN SILAKAN BUAT KEPUTUSAN YANG TEPAT.

1. TANYA: Bingung puting artinya adalah bayi menolak payudara ibu atau tidak mau menyusu pada payudara ibu setelah mengenal dot atau empeng.
JAWAB: TIDAK HANYA ITU. Bingung puting bisa dilihat dari dua hal:
PERTAMA, bayi menolak menyusu. Kalau sudah begini, harga mati harus relaktasi agar si bayi mau menyusu kembali dan buang jauh-jauh dotnya. Sementara tingkat keberhasilan relaktasi itu beragam. Semakin tua usia bayi semakin sulit direlaktasi. Relaktasi juga butuh kegigihan ibu dan kerja sama seluruh keluarga. Kalau ibunya kerja, ada kalanya harus cuti biar bisa fokus relaktasi. Apakah ketika bayi menyusu kembali ke ibunya masalah selesai? Di banyak kasus, tidak.  Karena pola hisapan bayi sudah berubah dan butuh waktu lebih lama lagi untuk memulihkan isapan yang benar.
KEDUA, ini yang sering terjadi di masyarakat. Bayi tidak menolak payudara ibu, tapi bayi mengurangi reflek hisapan pada payudara ibu. Di sini kita perlu memahami cara kerja bayi menyusu pada payudara. Ini penting supaya kita bisa mendapat pemahaman utuh. Bingung puting adalah keadaan di mana bayi mengisap payudara ibu dengan cara mengisap pada dot. Sementara cara kerja meminum ASI dari botol dot dan payudara berbeda. Melalui botol dot bayi tidak harus suckling melainkan hanya sucking. Sedangkan pada payudara bayi harus menggunakan lidah dan seluruh otot pada mulutnya untuk merangsang keluarnya ASI. Bayi harus buka mulut lebar-lebar dan mengisap dengan kuat dengan irama yang konsisten. Sedangkan pada botol dan dot bayi hanya menyedot dan aliran ASIP sudah keluar dengan derasnya. EFEKNYA APA? Produksi ASI menurun bertahap karena pengosongan payudara tidak lagi optimal. Dan yang sering terlihat adalah menurunnya hasil perahan karena tanpa ibu sadari produksi ASI sebetulnya sudah menurun juga. Rata-rata, hasil perahan berkurang pada periode setelah 4 minggu penggunaan botol dot. Di sini ibu mulai panik. Sistem ASI kejar tayang pun mulai terjadi. Ini yang disebut bingung puting laten atau tersembunyi. Bayinya tetap mau menyusu pada ibunya, tapi ibunya nggak sadar bahwa produksi ASI-nya sudah mulai turun.
Continue reading

Media Penyajian ASIP

11800288_378688038995643_6148385884336034089_n[Mabes TATC – Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta]

2 Agustus 2015

Masih dalam rangkaian Pekan ASI Sedunia yang tahun ini mengambil tema ‘Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work‘, kali ini yuk kita kupas media penyajian Air Susu Ibu Perah (ASIP). ASI adalah hak anak, tetapi bagaimana ketika ibu dan bayi harus terpisah jarak atau ada kondisi lain yang membuat bayi tak bisa menyusu langsung? Pemberian ASIP menjadi jawabannya.

Nah, untuk menyajikan ASIP yang telah disiapkan agar bisa diminum oleh bayi tentunya perlu sarana atau media. Beberapa media yang bisa dipilih adalah:

1. Cangkir kecil atau sloki. Tidak harus yang bermerk/dikhususkan untuk itu sebenarnya (yang biasanya disebut cup feeder), tetapi bisa juga manfaatkan yang sudah ada. Seorang teman kuliah saya memilih gelas beling biasa, sedangkan salah satu admin di sini menggunakan tutup botol dot.

2. Sendok. Jika ada, pilih yang bahannya empuk untuk mengurangi kemungkinan menyakiti gusi atau rongga mulut bayi. Praktis dan biasanya di setiap rumah ada, sehingga cocok juga untuk yang pemberian ASIP-nya hanya temporer (tidak serutin yang bekerja di luar rumah atau kuliah) atau mendadak (misalnya ketika ada yang sakit).

3. Botol sendok, ada botol sendok yang sebetulnya ditujukan untuk penyajian MPASI dengan tekstur lebih kental ketimbang ASIP, sehingga beberapa sumber tidak menyarankan untuk ASIP yang akan mengalir lebih cepat dengan ukuran lubang sebesar itu.

4. Ada pula semacam botol sendok yang memang fungsinya untuk kasih ASIP, biasanya disebut dengan soft cup feeder. Ujungnya tidak terlalu mirip dengan sendok memang, tapi cara kerjanya lebih kurang sama dengan botol sendok yaitu bagian badan/botol penampung ASIP atau leher ‘sendok’-nya dipencet agar cairan dalam badan/botolnya keluar.

5. Pipet tetes, bisa pakai yang sering disertakan dalam kemasan obat untuk bayi, atau beli di apotek.

Continue reading

Ruh Bisa Melihat?

Kemarin saya membaca jurnal di blog mas Iwan Yuliyanto yang membahas ‘Arwah Gentayangan. Saya tertarik dengan salah satu kutipan di situ:

Apakah orang yang mati bisa melihat orang-orang yang ditinggalkannya?

Memang ada riwayat yang menyebutkan adanya ruh manusia yang melihat bagaimana orang-orang yang masih hidup memperlakukan jasadnya. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika jenazah telah siap, kemudian kaum lelaki memikulnya di atas pundak-pundak mereka, jika jenazah itu orang yang shalih ia berkata: ‘Segerakanlah aku!’, tetapi jika ia tidak shalih, ia berkata kepada keluarganya: ‘Celaka, akan kalian bawa kemana aku?’ Segala sesuatu akan mendengar suaranya selain manusia, dan andaikan manusia mendengarnya niscaya akan jatuh tersungkur.” [HR Bukhari].

Arwah tersebut HANYA melihat dan merasakan perlakuan orang-orang terhadap dirinya yang sudah mati. Selanjutnya arwah bisa melihat dan merasakan kondisi keluarga yang ditinggalkannya, apakah bahagia atau tidak. Jadi, tidak ada gunanya meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati. Sungguh itu perbuatan yang sia-sia, karena sejatinya arwah tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik memanjatkan do’a agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa arwah, dan berharap ditempatkan di tempat yang layak di akherat. Do’a anak shalih kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia insya Allah diterima.

Saya merasa nyeees membacanya. Papa kehilangan penglihatan karena glaukoma saat saya masih di SMP, dan saya masih selalu menyimpan harapan papa bisa melihat menantu dan para cucu beliau. Tahu video the blind man and his daughter (di mana sang ayah tak jadi dioperasi karena ternyata tetap tak bisa memulihkan penglihatannya)? Saya selalu menangis melihatnya –dan sebetulnya penasaran dengan endingnya karena sepertinya ada adegan yang menggantung, tapi pengunggahnya ke Youtube bilang memang cuma segitu filmnya.”I want you to see me growing up!” begitu ucap sang putri yang masih usia SD sambil berurai air mata.

Papa meninggal tahun lalu, dan karena ada hadits yang meyebut bahwa mayit yang dikuburkan bisa mendengar langkah-langkah orang yang meninggalkan lokasi, berarti ada kemungkinan indra yang sempat terhalang secara fisik duniawi bisa ‘aktif’ kembali, bukan? Wallahu a’lam sih ya. Saya pernah bertanya pada beberapa teman, dan kali ini saya pun bertanya pada mas Iwan. Jawaban beliau sebagai berikut:

Yang saya yakini, bisa kok, mbak Leila, selama kondisi ayahanda nya damai di alam barzakh. Semoga beliau senantiasa damai. Aamiin.

Begini …
Dalam buku “Ar-Ruh” karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, disampaikan banyak dalil bahwa orang yg telah meninggal dunia tahu jika di-ziarahi dan menjawab salam jika diberi salam. Kemudian, keadaan keluarganya yg masih hidup disiarkan secara live kpd kerabatnya yg telah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yg telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” [HR. Ahmad].

Hadits lainnya …

“Seluruh amal perbuatan dilaporkan kpd Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orangtua pada hari Jum’at. Mereka merasa gembira dgn perbuatan baik orang-orang yg masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang kalian yg telah meninggal dunia.” [HR. Tirmidzi].

Seperti yang saya sampaikan dalam jurnal di atas, bahwa seseorang setelah meninggal dunia, di alam barzakh HANYA akan disibukkan oleh salah satu dari dua perkara: nikmat kubur dan siksa kubur.
Bila ruh bergelimang nikmat kubur, maka ia bisa melihat & merasakan keluarga yg ditinggalkannya di dunia.
Sedangkan ruh yg mendapat siksa, akan terus disibukkan oleh siksaan shg tidak sempat lagi melihat siaran live tentang keluarga yang ditinggalkannya.
Oleh karena itu, jangan sampai melewatkan hari-hari kita yang masih hidup di dunia ini tanpa memanjatkan do’a ampunan dan kelapangan tempat tinggal orang tua kita di alam barzakh. Namun, jangan lupa satu syarat penting, yaitu senantiasa menjadi anak shalih. Sebab do’a anak shalih .. bisa menembus langit. Wallahu a’lam.

Aamiiin…

Allahummaghfirlahu waafihi wa’fuanhu.

Dan semoga Allah mudahkan saya untuk bisa memenuhi syarat sebagai anak shalih.

Mengapa Tidak Ada Iklan ASI?

[copas] Kok nggak ada iklan ASI?

Melly Chairul
Yesterday at 12:30 ·
Banyak yang bertanya,, kenapa sih iklan tentang ASI dan Menyusui jarang sekali tampil di TV? Ini penjelasannya Lianita Prawindarti MinLi dari AIMI..

Sudah pernah tahu berapa hitung-hitungan pembuatan iklan di media terutama media elektronik? kalau belum, saya berikan gambarannya.

Kalau boleh saya kasih gambaran, di Indonesia saja, perusahaan sufor adalah pengiklan tertinggi dalam kategori minuman. Tahun 2011 saja total budget iklan mereka di kuartal pertama (4 bulan pertama) di tahun 2011, mencapai lebih dari 497 miliar rupiah. Hehehe, coba kalau angka ratusan milyar itu dibuat pelatihan nakes dan subsidi ke RS dan klinik agar bisa lebih pro ASI, saya rasa akan lebih sasaran, ketimbang habis sekian ratus milyar untuk kita beriklan agar bisa mengimbangi iklan iklan sufor untuk durasi iklan yang hanya 1 menit saja, tapi kalau ada masalah menyusui masyarakat kita belum dapat dukungan nakes dan konselor menyusui yang mumpuni untuk membantu kita semua.

Untuk perbandingan, anggaran Kementerian Kesehatan untuk promosi kesehatan anak dan ibu dalam satu tahun hanya 2,9 miliar. Dan angka 2,9 miliar itu bukan hanya mencakup isu ASI ya. Secara matematika keuangan negara kita (plus donasi sana sini) ga mungkin bisa menyaingi biaya iklan perusahaan sufor. Tapi justru dengan keterbatasan ini yuk kita edukasi diri sendiri dan lingkungan. Yang namanya iklan produk sudah pasti ga akan menjelek-jelekkan produknya sendiri, jadi lebih baik mulai mengedukasi lingkungan terdekat untuk lebih menggunakan logika dalam mencermati iklan-iklan produk di media, apa pun itu iklannya.

Continue reading

Maternity Room di Kantorku

Awal Desember 2011 saya melangkahkan kaki dengan sedikit waswas ke gedung yang masih asing ini. Betapa tidak, inilah hari pertama saya resmi menyandang status sebagai ibu bekerja. Berhubung saya mendapatkan SK mutasi kemari saat masih cuti bersalin, salah satu hal yang menggelayuti benak saya adalah, “Nanti merah ASI-nya gimana?”. Maklum, saya sering membaca kisah pegawai wanita yang bahkan sampai harus memerah ASI di toilet kantor gara-gara tak ada tempat yang memadai untuk kegiatan yang idealnya perlu ruangan yang bersih dan nyaman itu.

Alhamdulillah, ternyata malah sudah ada beberapa ‘mamaperah’ lain di kantor baru saya itu, KPPN Jakarta I. Biasanya mereka memerah ASI di musholla khusus wanita, dan ada pula kulkas untuk menyimpan ASI perah walaupun masih bercampur dengan bahan makanan/minuman milik pegawai lainnya. Memasuki tahun 2012 saya dan beberapa teman kasak-kusuk setelah saya membaca komentar teman bahwa di KPPN Malang ada ruang khusus untuk memerah ASI. Salah satu teman sekantor sesama busui kemudian mengonfirmasi kabar tersebut kepada rekan lain, dan dijawab bahwa sebetulnya ada kok aturan tentang keberadaan ruang memerah ASI.

Usut punya usut ternyata instansi eselon I kami memang telah mengeluarkan panduan standar tata ruang/desain bangunan untuk kantor perwakilan dan kantor pelayanan, di dalamnya termasuk keberadaan Maternity Room. Alhamdulillah kantor saya yang memang sedang mengadakan renovasi langsung mengadaptasi panduan tersebut, jadi kami bisa memerah ASI secara lebih privat.

mr2mr5mr3mr4

(sumber: https://kppntanjungbalai.files.wordpress.com/2013/12/pedoman-layout-design-bangunan-kppn.pdf)

475632_3751040460781_207023486_o904760_10201238323226348_699611683_o

Setahun kemudian, kantor saya mengikuti semacam seleksi kantor pelayanan terbaik. Maternity room ikut kecipratan berkah dan dipercantik. Lantainya dilapisi karpet empuk dan yang paling menyenangkan adalah tersedia lemari es mungil yang sudah cukup memadai untuk kebutuhan kami.

Nah, tahun ini rencananya akan ada perubahan layout kantor lagi yang cukup signifikan. Maternity room kabarnya juga akan dipindah dan dilengkapi kulkas yang lebih besar. Penasaran dengan hasil akhirnya yang dengar-dengar akan siap digunakan bulan depan. Mungkin memang tak selengkap seperti yang disyaratkan dalam Permenkes Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu, tetapi semoga tetap menambah nyaman dan semangat saat harus memompa ASI ya :).