Relasi Ibu dan Anak Perempuan, Indah tapi Rumit

Saya adalah anak perempuan yang memiliki dua orang anak perempuan. Konon, perempuan lebih sering mengedepankan perasaan dan emosi daripada logika. Alhasil, hubungan antara seorang ibu dengan anak perempuannya selain indah dan penuh kelembutan juga bisa berpotensi jadi agak rumit jika ternyata salah satu atau bahkan keduanya kesulitan mengelola emosi dengan baik. Meskipun alhamdulillah hubungan saya dengan mama dan anak-anak sejauh ini bisa dibilang baik, tetapi cerita beberapa teman membuat saya sadar bahwa sebagian anak perempuan memang menghadapi tantangan atau ujian berupa relasi yang tidak harmonis dengan seseorang yang telah melahirkannya. Penyebabnya beragam, tapi seringkali memang ada kaitannya dengan manajemen diri.

Ada masalah, pastinya ada jalan keluar dong ya. Maka ketika mengetahui bahwa Wacoal Indonesia mengadakan talk show bertema Beautiful Relationship Between Mom & Daughter, saya pun tertarik ikut menyimak. Belajar agar hubungan indah ibu dan anak tak berujung runyam tak ada salahnya, bukan? Acara yang diselenggarakan tanggal 22 April di Mal Ciputra Cibubur ini sejalan dengan kampanye Wacoal yang bertajuk Everlasting Support from Generation to Generation. Adanya gap antargenerasi semestinya tidak menjadi penghalang untuk saling memberi dukungan, bukan?

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Potensi Kecerdasan Anak untuk Meraih Kesuksesan Hidup

Cemilan Rabu 29 Maret 2017
🏵POTENSI KECERDASAN ANAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP (Bagian 1)🏵
Sebelum ditemukannya ragam kecerdasan (IQ, EI, SI, dan AI), seorang anak dikatakan cerdas jika memiliki IQ yang tinggi. Sebaliknya anak dikatakan bodoh jika ber-IQ rendah.
Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia untuk bisa melakukan beberapa kemampuan seperti kemampuan menalar; merencanakan masalah; berpikir; memahami gagasan; dan belajar.
Menurut Conny Setiawan dalam buku “Perspektif Pendidikan Anak Berbakat” ada tiga komponen penting yang dianggap esensi intelegensi, yakni penilaian, pengertian, dan penalaran.
Berkat kecerdasan intelektualnya, manusia telah mampu menjelajah ke bulan dan luar angkasa; menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang sangat membantu dan lain sebagainya. Namun, ketika IQ saja yang menjadi dasar seseorang bergerak, maka di samping ada kemajuan pesat buah dari kecerdasannya itu, terdapat pula banyak kerusakan muncul akibat dari ulah manusia.
Charles Spearmen, Thurstone, dan Gardner mengembangkan teori multiple intelligence (MI) yang mengukur kecerdasan tidak hanya dari satu aspek kemampuan. Teori MI ini lebih manusiawi karena intelegensi manusia diukur dari tujuh dimensi yang semi-otonom. Masing-masing adalah: 1) Linguistik, 2) Musik, 3) Matematik Logis, 4) Visual-Spasial, 5) Kinestetik-Fisik, 6) Sosial Interpersonal, dan 7) Intra-Personal.
Seperti diungkapkan Suharsono dalam buku “Mencerdaskan Anak”, ketujuh macam kecerdasan ini merupakan fungsi dari dua belahan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki kemampuan dan potensi memecahkan problem matematik, logis dan fenomenal. Otak kanan memiliki kemampuan merespon hal-hal yang sifatnya kualitatif, artistik, dan abstrak.
❓Apakah dengan mengoptimalkan ketujuh kecerdasan ini akan menjadikan anak-anak sukses mengarungi hidup? Jawabannya BELUM TENTU.
🖌Model kecerdasan intelektual benar-benar akan bergfungsi hanya dalam tahapan ketika anak harus menyelesaikan permasalahan. Bahkan sejauh yang dapat diamati, model kecerdasan ini belum mendorong anak menjadi kreatif bahkan inovatif. Diperlukan upaya pendekatan yang berbeda agar anak menjadi lebih tertantang ide kreatif dan inovatifnya.

Continue reading

Art Therapy untuk Bantu Kelola Stres pada Anak, Seperti Apa Sih?

Sabtu (01/04) lalu saya mengikuti 1st Arisan Orami: Managing Your Kid’s Stress with Art Therapy bersama William S Budiman. Iya, Orami (dulu namanya Bilna) yang merupakan salah satu marketplace terbesar di Asia ini punya kegiatan rutin semacam seminar atau workshop untuk para pelanggannya, yang untuk tahun ini pertama kalinya digelar di awal April, bertempat di fx Sudirman.

Saat membuka acara, Mba Rani selaku MC sudah menyebutkan bahwa berdasarkan Studi Carnegie Mellon University, bayi/anak usia semuda 3 tahun bisa lho alami stres lho 😱😱. Kok bisa ya, dan jadi penasaran juga gimana cara mengatasinya. Tapi iya juga sih, kadang rasanya juga mentok menghadapi kakak (5 tahun) kalau sudah ngambek tidak jelas apa maunya. Apa ini sudah termasuk stres awal, ya?

Mba Jessica Farolan @eljez yang menjadi moderator memulai dengan mempresentasikan kegiatan @aethralearningcenter yang berkomitmen memberikan pengetahuan, inspirasi, pengalaman, dan masa depan yang lebih cerah. Misinya adalah agar peserta mengalami pembelajaran yang serius tapi sekaligus dengan cara yang menyenangkan. Pak @WilliamSBudiman yang menjadi pembicara hari itu adalah founder dari Aethra Learning Center yang berdiri tahun 2008.

Pak William S Budiman membuka sajian materinya dengan mengingatkan agar kita khususnya sebagai orangtua jangan menjadikan stres sebagai sesuatu yang menakutkan, jelek, atau bahaya. Jadikan stres justru sebagai jalan untuk menjadi manusia yang lebih berkembang, menjadi pribadi dengan kualitas yang lebih baik. Yang penting, stres dikelola dengan tepat.

Yang perlu dipahami juga, hindari membandingkan stres anak dengan orangtua, misalnya dengan meremehkan, “Ah, kamu belajar gitu aja masak stres sih.” Orangtua cenderung menganggap kecil, padahal anak kan kemampuan berpikir dan daya tahan/resiliensinya belum se-berkembang orang dewasa. Biasanya orangtua juga terlambat mengenali stres pada anak, sehingga penanganannya juga ikut terlambat. Bagaimana dong supaya stres anak bisa dideteksi lebih dini?

Pertama, kita harus memahami dulu, stres itu apa sih? Stres bisa didefinisikan sebagai reaksi hati/psikologis maupun fisik/fisiologis yang terjadi ketika seseorang mempersepsikan sesuatu hal atau kondisi yang dianggap menekan dirinya. Biasanya ini timbul kalau ada perubahan, bahkan meskipun belum tentu perubahan itu perubahan yang buruk. Contoh saja mulai masuk playgroup yang membuat anak harus bertemu orang-orang baru. Hal lain yang bisa memicu stres adalah adanya ancaman, untuk pekerjaan bisa berupa deadline, bagi anak bisa tampil dalam wujud teman yang suka mem-bully atau adanya adik baru. Kemudian hal yang tidak bisa dikontrol seperti kemacetan juga bisa menimbulkan stres.

Continue reading

Edukasi Anak lewat Montessori di Rumah, Nggak Perlu Mahal Lho

Sore ini saya mengikuti talk show @indonesiamontessori yang menghadirkan penulis buku Montessori di Rumah (dari penerbit Esensi), mba Elvina Lim Kusumo, di Gramedia Matraman. Berhubung sudah punya bukunya duluan, jadi saya tidak berhak ikut undian doorprize paket buku yang diperuntukkan bagi pembeli buku tersebut yang membeli di lokasi (dapat bonus scarf pula lho) tapi gpp lah, yang penting bisa ikut menyimak aja deh.

Mba Vina bercerita bahwa awalnya ketika tinggal di AS, barang-barang kebanyakan masih ada di kontainer, kalau dipikir sepertinya nggak akan bisa mengajak C (putranya) main apa-apa. Tapi kemudian disadari bahwa bermain bisa dengan apa saja yang tersedia di sekeliling, tidak perlu pakai mainan khusus yang mahal. Jadi dalam kondisi yang ‘tidak ideal’ pun bisa kok menstimulasi anak dengan permainan.

“Saya nggak pernah ngajarin C nulis, tapi lewat permainan yang memperkuat otot tangan, sehingga ketika tiba waktunya menulis sudah terlatih menulis dengan baik,” begitu jelas mba Vina.

Kenapa memilih metode Montessori? Karena dengan rentang perhatian anak yang pendek, kalau dipaksa belajar duduk diam dalam waktu lama kasihan. Metode Montessori juga memberikan beberapa pelajaran keterampilan yang sifatnya jangka panjang, bukan hanya yang terlihat di permukaan.

Continue reading

Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak demi Kebahagiaan Hidup

Materi Bunda Sayang Institut Ibu Profesional sesi #3
PENTINGNYA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DEMI KEBAHAGIAAN HIDUP

Dalam kehidupan ini ada dua kata yang selalu diinginkan manusia dalam hidup yaitu SUKSES dan BAHAGIA.
☘ Makna SUKSES
D. Paul Reilly dalam bukunya Success is Simple mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga.
Sedangkan Lila Swell dalam bukunya Success mengemukakan pendapatnya bahwa sukses adalah peristiwa atau pengalaman yang kita akan mengingatnya sebagai pemuasan diri.

☘ Makna BAHAGIA

Prof. Martin Seligman dalam bukunya Authentic Happiness mendefinisikan kebahagiaan hidup dalam tiga kategori:

A. Hidup yang penuh kesenangan (Pleasant Life)

Hidup yang penuh kesenangan ialah kondisi kehidupan di mana pencarian kesenangan hidup, kepuasan nafsu, keinginan, dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi tujuan hidup manusia.
Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat material.

B. Hidup nyaman (Good Life)

Hidup yang nyaman ialah kehidupan di mana segala keperluan kehidupan manusia secara jasmani, rohani, dan sosial telah terpenuhi. Hidup yang aman, tenteram, damai. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat mental.

C. Hidup Bermakna (Meaningful Life)
Hidup yang bermakna lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman. Selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarganya, ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yang timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usaha kita, pleasure in giving, kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual.

Untuk mencapai kategori hidup SUKSES dan BAHAGIA, kita perlu memiliki berbagai macam kecerdasan hidup.

Continue reading

Belajar Bijak Memuji Buah Hati dari Adhitya Mulya

Bulan ini, mumpung ada waktu, saya kembali mengikuti kegiatan #TUMNgopiCantik. Masih mengambil tempat di fx Sudirman, pada tanggal 4 Maret ini yang diundang adalah kang Adhitya Mulya, penulis yang juga suami dari founder The Urban Mama teh Ninit Yunita. Sebelumnya saya juga sudah pernah mengikuti acara The Urban Mama di mana kang Adhit didaulat mengisi, tapi kali itu yang disajikan lebih spesifik ke helicopter parenting.

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak

🍯🧀Cemilan Rabu #1🧀🍯
Materi 2: Melatih Kemandirian Anak
Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak
Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian. “Yes, I can!” Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.
Orangtua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orangtua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.
Namun realita yang ada, orangtua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak. Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, oran tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.
Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orangtua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.
Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.
Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:
1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.
Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun ia akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.
Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Continue reading

Cinta Sebening Embun, Pengingat untuk Berbakti pada Orangtua

Mengisi waktu minggu pagi, kami sekeluarga mengikuti kajian @pejuangsubuhid yang kali ini mengambil tema Cinta Sebening Embun. Dalam publikasinya, kajian yang diselenggarakan di aula kantor pusat Rabbani Jl. Pemuda Rawamangun ini disebutkan akan menekankan bahasan cinta kepada orangtua. Pembicara pertama adalah Hudzaifah Muhibullah, putra ustadz Taufik Ridho (Allahu yarham) yang menjadi salah satu contoh birrul walidain atau bakti kepada orangtua terkini. Mungkin sudah pada baca ya, cerita beliau yang hendak mendonorkan hati ke ayahanda tercinta, sepotong kisahnya sempat viral dan kisah lengkapnya antara lain bisa dibaca di sini http://www.portal-islam.id/2017/02/penuturan-seorang-bibi-12-jam-bersama.html?m=1.

Menurut Hudzaifah, kalau ditanya kenapa bisa begitu tegar dan kuat sewaktu mantap mengambil keputusan mendonorkan sebagian hati, kemudian juga ketika menerima kabar bahwa ternyata ayahnya berpulang terlebih dahulu sebelum hati sempat berpindah, ia juga tidak bisa berbagi tipsnya. Ujian tiap orang, katanya, berbeda. Doa dan perbuatan baik yang pernah dilakukan oleh seseorang sebelumnya bisa menjadi penguat diri dalam menghadapi ujian yang datang.

Continue reading

Kontroversi Buku Aku Berani Tidur Sendiri

Pekan lalu beberapa grup whatsapp yang saya ikuti, khususnya yang beranggotakan para ibu, diramaikan dengan kabar adanya buku anak yang kontennya tidak pantas karena justru seperti mengajarkan anak untuk bermain-main dengan kelaminnya, atau masturbasi. Sekilas lihat, sampul buku tersebut familiar bagi saya, dan memang ternyata dari penerbit dan penulis yang tidak asing: Tiga Ananda (imprint penerbit Tiga Serangkai, Solo, yang dulunya kebih saya kenal sebagai penerbit buku pelajaran, apalagi saya memang lahir dan besar di kota dekat Solo sehingga banyak memakai buku terbitannya) dan mba Fita Chakra (nama aslinya adalah mba Fitria Chakrawati, tulisan saya dan mba Fita pernah dimuat dalam satu buku yang sama yaitu Long Distance Love).

Penerbit sebesar Tiga Ananda, penulis sekaliber mba Fita, mestinya sudah mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan sebuah buku layak terbit. Memangnya sseperti apa sih, isinya? Jujur, saya juga punya buku Aku Berani Tidur Sendiri di rumah, tapi masih terbungkus rapi dan tersimpan di tumpukan buku yang harus saya saring dulu sebelum diberikan ke anak-anak. Dan karena keterbatasan waktu, saya belum sempat membukanya. Begitu membaca tulisan dalam foto yang viral beredar, saya mengerutkan dahi. Memang cenderung vulgar, ya. Tapi kalau sampai menduga-duga motif negatif mba Fita menulis ini, saya tak berani. Sedih saya membaca hujatan orang-orang di media sosial yang menghujat penerbit dan penulis yang dianggap sengaja agar anak meniru jalan cerita dalam buku, bahkan lebih jauh lagi punya misi menghancurkan generasi muda. Beberapa di antaranya dirangkum dalam berita BBC ini http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39038005. Ada teman-teman penulis yang juga membuat postingan tanggapan dengan sudut pandang masing-masing.

Continue reading

Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak di Lingkungan Rumah?

Salah satu kekhawatiran sebagai orangtua yang saya tangkap dari diri sendiri maupun kawan-kawan adalah jika anak mendapatkan pengaruh dari sekeliling. Tentu yang dimaksud adalah pengaruh buruk, ya. Lebih spesifik, dari orang lain yang bertemu sehari-hari dengan anak, dan lebih khusus lagi dari teman sebaya baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Sebab, anak-anak cenderung mudah meniru perilaku yang seumuran karena kemiripan kondisinya, bukan? Istilahnya, kita bisa jaga anak, apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, sudah kita batasi tontonan dan bacaannya sesuai dengan visi misi keluarga, tapi kita kan tidak selalu bisa kontrol apa yang diperoleh anak di luar sana.

Kalau tetangga banyak yang sepaham soal parenting atau setidaknya kondusif lah untuk hidup berdampingan dengan baik, alhamdulillah. Kalau tidak? Ada kan yang cerita misalnya sehari-hari kita dengar tetangga memarahi anaknya dengan suara keras, atau nongkrong tak jelas sambil merokok di sekitar rumah, atau anak-anak yang bercanda sambil melontarkan kata-kata kotor. Eh, tapi ini bukan bermaksud negative thinking lho ya, toh tetangga bisa diibaratkan keluarga dekat yang sunnahnya dimuliakan, trus kalau berprasangka jelek jangan-jangan bener kejadian, hanya saja pada kenyataannya keadaan tak selalu seideal harapan kita.

Bagaimana solusinya? Yang paling utama tentu membekali anak agar lebih kuat menghadapi pengaruh lain. Tujuannya agar baik di dalam maupun di luar jangkauan radar kita ia tetap bisa menjaga diri. Beberapa aspek mengenai bekal ini sempat disinggung juga di catatan saya sebelumnya, misalnya terkait internet dan pendidikan seks. Tentunya dengan diiringi doa juga ya agar kita sekeluarga selamat dunia akhirat. Pendekatan agama bisa dipakai, dan untuk ini pastinya orangtua harus belajar cara penyampaiannya dengan tepat sesuai cita-cita keluarga.

Langkah berikutnya yang acapkali bikin bimbang adalah soal pertemanan anak. Haruskah anak ‘dikekep’ di rumah? Nanti jadi anak kuper dong, tidak luwes bergaul, dan kita sebagai orangtua dicap lebay pula. Terus terang, pendekatan ini (tanpa kekerasan dan paksaan lho ya) dipakai pula oleh orangtua saya. Mungkin juga penyebabnya bukan kekhawatiran beliau akan pengaruh buruk, melainkan semata karena jarak rumah yang agak jauh dengan teman sebaya. Orangtua tetap memfasilitasi rumah dengan bacaan maupun mainan. Meski kedua orangtua bekerja, saya tak kekurangan teman main di rumah walaupun dalam wujud orang dewasa seperti mbah kakung, mbah putri, saudara orangtua, dan pengasuh/ART, plus para sepupu yang kadang berkunjung.

Kebijakan macam ini bagi sebagian orang memang mungkin tampak berlebihan, bahkan saya pernah menjadi peserta pelatihan di mana trainer-nya mengolok-olok karakter anak yang dibesarkan dengan cara demikian. Yang dicemaskan lazimnya adalah kalau anak tidak dibiasakan bergaul lepas, dia akan gagap ketika waktunya berinteraksi dengan masyarakat. Cakrawala pengetahuannya, toleransinya terhadap keberagaman, dan kepekaan sosialnya ditakutkan tidak terasah. Kecemasan yang sama saya amati diungkapkan juga oleh beberapa peminat homeschooling.

Namun, melihat kenyataan masa kini, sebetulnya tidak bisa dibilang melebih-lebihkan kalau orangtua mengambil sikap protektif. Salah satu orangtua yang cukup aktif menyuarakan hal ini adalah bu Sarra Risman (atau nama aslinya Yuhyina Maisura), putri bu Elly Risman yang juga aktif berbagi di grup Parenting with Elly Risman and Family di facebook, selain menjadi admin grup messenger Yayasan Kita dan Buah Hati. Sebelumnya saya pernah membaca tanggapan Busar–sapaannya–di grup yang sama ketika ada anggota yang menanyakan apakah opsi ‘menahan anak di rumah saja’ memang perlu diambil demi membentengi anak dari dampak negatif bermain dengan anak lain yang belum tentu orangtuanya satu pandangan dengan kita tentang pengasuhan. Jawaban busar, ia lebih memilih begitu. Ternyata kemudian oleh busar dibahas tersendiri di thread ini https://www.facebook.com/groups/1657787804476058/permalink/1770526713202166/, sebagaimana saya kutip di bawah.

Sarra Risman

5 October 2016

Continue reading