Writober 7: Berbulan-bulan Belajar Mencintai Meski Terhalang Wedding Agreement

Masa awal pernikahan biasanya diistilahkan dengan bulan madu. Ada yang menyengaja pergi berdua saja ke tempat-tempat istimewa, ada pula yang meski tak mengkhususkan diri menyiapkan perjalanan khusus tetapi tetap memandang pekan-pekan pertama sebagai saat-saat terindah. Perubahan status setelah pernikahan disahkan menjadi babak baru dalam kehidupan, ketika segala kebaikan yang dilakukan berdua bisa berbuah pahala.

Continue reading →

Writober 6: Mempertanyakan Ekspresi Pretty Boys

Awalnya saya kira film Pretty Boys adalah film komedi semata. Ada pula anggota salah satu grup yang saya ikuti yang langsung mencela begitu masuk kiriman potongan video promosi film ini yang menampilkan Vincent dan Desta dalam dandanan amat feminin. Yah, memang, kalau dalam Islam ada larangan berpakaian atau bergaya menyerupai lawan jenis, ya. Namun, saya memutuskan untuk mencari tahu lebih dulu, film tentang apakah ini? Ekspresi duo kocak ini di poster menimbulkan tanda tanya soalnya. Kenapa muka Vincent seperti datar cenderung ke lelah begitu? Kenapa Desta melakukan gestur membuka mata? “Buka mata” sering digunakan sebagai kiasan untuk membuka juga pikiran, hati, atau wawasan, atau dengan kata lain menjadi peduli. Kepedulian terhadap hal apakah yang diangkat dalam film ini?

Continue reading →

Writober 5: Saat Manusia Menjadi Parasit

Takut. Itulah kesan pertama saya begitu melihat poster film Parasite ini. Kesannya suram, mungkin karena ada kaki dengan posisi yang cukup aneh di halaman berumput, yang bisa saja bagian tubuh dari seseorang yang sudah meninggal atau setidaknya kehilangan kesadaran. Mata para tokoh pun ditutup dengan ‘pita’ hitam bak sekawanan pelaku kriminal.

Continue reading →

Writober 4: Twivortiare dan Kesempatan Kedua

Apa jadinya ketika sepasang suami istri memutuskan untuk berpisah kemudian menikah lagi? Ika Natassa menceritakan jatuh bangun perasaan kedua insan ini lewat tiga novel: Divortiare, Twivortiare, dan Twivortiare 2. Namun, untuk versi layar lebar, kisah Beno dan Alex diringkas dalam satu film yang mengambil judul buku kedua. Entah kalau nantinya ada rencana pembuatan sekuel, ya.

Continue reading →

Harta dan Cara Menyikapinya

Bahwa keindahan dunia ini hanya sementara, rasanya sebagian besar dari kita sudah paham, ya. Namun, tetap saja (saya terutama) sering lupa, sih. Saking indahnya, bikin kita terlena. Rasanya ingin menambah bahkan mengoleksi benda-benda yang tampak indah di mata kita. Dipikir-pikir, waktu kita pun bisa habis dialokasikan untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan tadi.
Bagaimana Islam memandang keindahan tersebut? Pekan lalu saya mengikuti kajian dengan pemateri Ustadzah Fathiyah Khotib. Judul yang diangkat adalah bagaimana kita sebagai perempuan bisa mengatur keuangan rumah tangga agar hidup barokah. Pembahasan menjadi lebih luas karena di awal para peserta sudah diajak berkaca, mana yang menjadi sikap kita terhadap harta?

Continue reading →

Writober 2: Perjuangan Mengendalikan Diri untuk 6,9 Detik Yang Berharga

“Di sini makanku diatur, Bu. Bosan! Menunya itu lagi itu lagi. Berat badannya dipantau terus.”

Kira-kira demikianlah keluhan Aries Susanti Rahayu, tokoh utama dalam film 6,9 Detik, yang menggambarkan betapa beratnya pemusatan latihan bagi para atlet. Angka 6,9 detik yang dijadikan judul film adalah catatan waktu yang diraih oleh Aries dalam Asian Games 2019 untuk cabang olahraga panjat tebing. Aries yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi di bawah rata-rata berhasil mempersembahkan dua medali emas dalam ajang kompetisi olahraga se-Asia itu. Perjuangannya sejak kecil memang begitu menginspirasi, hingga Lola Amaria tertarik mengangkat cerita hidup perempuan asal Grobogan ini ke layar lebar.

Continue reading →

Writober 1: Gundala Sang Pembuka

Ketika mengetahui rencana pembuatan film Gundala yang diangkat dari komik legendaris Indonesia, saya sebagai pecinta film menyambut kabar itu dengan antusias. Saya memang tidak mengikuti komiknya, juga belum menonton versi filmnya yang terdahulu, tetapi diangkatnya tokoh superhero asli Indonesia seperti ini benar-benar bikin penasaran. Seperti apa, ya, kira-kira hasil adaptasinya dalam kemasan kekinian?

Continue reading →

Asah Bakat dan Salurkan Minat Lewat Erlangga Talent Week 2019

Cerita beberapa teman yang mengikuti rangkaian acara Erlangga Talent Week tahun 2018  di Kuningan City sukses membuat saya menyesal. Ada talk show dengan materi menarik, juga lomba-lomba yang seru untuk anak. Saat itu kondisi kami memang sedang tidak memungkinkan untuk bepergian, sehingga terpaksa melewatkan event tahunan tersebut (sudah diadakan sejak 2009) meski sudah memantau jadwal kegiatannya yang dipublikasikan sejak jauh-jauh hari. Maka, saya bertekad tahun ini harus datang ke sana.

Continue reading →

Bisakah Kegiatan Beberes Menjadi Menyenangkan?

Rumah atau hunian dalam bentuk apa pun itu adalah tempat ke mana kita pulang. Rumah atau bentuk tempat tinggal lainnya identik dengan tempat beristirahat, berkumpul, bercengkerama dengan anggota keluarga yang lain. Maka, kenyamanan biasanya menjadi hal utama yang dikejar ketika seseorang memilih tempat tinggal. Selain nyaman (dan aman) lingkungan sekitarnya, tentu juga nyaman ditempati sehari-hari.

Lalu, bagaimana jika tempat tinggal kita menjadi tak lagi nyaman ditempati gara-gara kondisinya yang berantakan? Kadang, untuk memulai beberes pun rasanya kita enggan, saking sudah begitu banyaknya barang di rumah yang diletakkan sembarangan. Bingung mau mulai dari mana. Atau mungkin ada juga yang berpikiran, untuk apa dirapikan, toh nanti juga bakal berantakan lagi.

Sabtu lalu, tanggal 28 September 2019, saya mengikuti seminar Tidying Up Must Be Fun yang diselenggarakan oleh MommyKids Friends di Dekoruma Experience Center, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bukan hanya seminar, pada sesi siang juga ada workshop di mana peserta bisa praktik langsung cara melipat pakaian yang efektif. Yang menjadi narasumber adalah mas Aang Hudaya, co-founder komunitas Gemar Rapi. Beberapa waktu yang lalu mas Aang mengisi pengajian di kantor saya dengan tema serupa, tetapi waktunya cukup singkat dan tidak ada sesi praktik.

Dulu saya sempat penasaran kenapa ada komunitas beberes yang namanya Gemar Rapi, dengan penggiat yang sepertinya dulu aktif di Konmari Indonesia, tetapi akhirnya terjawab dari penjelasan mas Aang di sini, bahwa Gemar Rapi memilih untuk merumuskan metode sendiri yang lebih sesuai dengan budaya Indonesia. Gemar Rapi juga bisa diartikan sebagai Gerakan Menata Diri dari Rumah dan Pribadi.

Continue reading →