Hadiah Spesial untuk Orang Yang Spesial

Buku Long Distance Love yang terbit tahun 2008

Status yang kami berdua sandang mulai pertengahan tahun lalu mengingatkan saya pada judul sebuah buku: Long Distance Love. Ya, kami tinggal terpisah untuk beberapa waktu ke depan karena suami sedang menjalani tugas belajar di provinsi lain. Menjalani hubungan jarak jauh dengan status sudah punya anak dua ternyata tak sama dengan episode beda kota sebelumnya. Sekitar 9 tahun yang lalu kami juga sempat mendapatkan penugasan di kantor pada pulau yang berbeda, dan pengalaman selama melewatinya menjadi inspirasi saya menyusun sebuah tulisan yang akhirnya dimuat dalam buku antologi Long Distance Love. Ada berbagai kisah kocak sampai mengharukan selama tujuh bulan kami berjauhan sejak usia pernikahan baru hitungan minggu.

Mungkin itu dia salah satu segi positif dari episode yang meskipun mungkin bukan hal aneh lagi apalagi di masa sekarang, tetapi tetaplah bukan kondisi ideal di mata kebanyakan orang, ketika tidak setiap hari bahkan tidak setiap minggu bisa bertemu muka: ada momen-momen unik yang bisa dijadikan tulisan. Bukan berarti semua hal diceritakan secara terbuka ya, tapi ada hal-hal yang bisa dijadikan inspirasi atau digali lebih jauh. Apalagi kota tempat tinggal kami waktu itu, Jakarta, Tanjungpandan (Belitung), dan Pangkalpinang (Bangka), punya kekhasan masing-masing termasuk banyaknya tempat wisata dan kekayaan kuliner. Saya memang suka menulis, dan suami saya tahu betul akan hal itu. Suami memahami ketika saya sedang asyik menulis, meskipun sering juga mengingatkan kalau saya sudah lupa waktu akibat terlalu serius di depan notebook. Dari aktivitas menulis saya selama di sana, beberapa tulisan telah terbit dalam buku-buku antologi.

Continue reading

ActivSilver Siap Lindungi ActivFamily

Warna keperakan diselingi merah merona menyambut kami, para blogger yang tergabung dalam komunitas The Urban Mama saat memasuki ruangan di lantai 3 Plataran Menteng. Di restoran dengan gaya arsitektur perpaduan kolonial dan budaya Indonesia yang belum lama dibuka ini, pada Kamis petang (30/03), digelar kegiatan #TUMBloggersMeetUp. Bukan ketemuan biasa, karena pada kesempatan tersebut kami diajak berkenalan dengan si silver. Nah, siapa si silver itu? Pertanyaan yang mirip terlontar dari Christian Sugiono melalui tayangan iklan di layar dalam ruangan, setelah Titi Kamal mengajak Juna, buah hati mereka, mandi pakai si silver.

Pak Evan Rickyanto, Senior Brand Manager Lifebuoy yang juga seorang suami dan ayah sepakat bahwa keluarga merupakan tempat yang tepat untuk mengawali kebiasaan baik. Para mama umumnya akan berusaha menjaga kesehatan keluarga. Berdasarkan survei Lifebuoy, 7 dari 10 ibu setuju bahwa kuman semakin beragam dan membuat banyak penyakit baru hingga anak lebih sering sakit. Ini terasa sih di saya dalam sebulan ini, ketika anggota keluarga di rumah maupun teman-teman seruangan di kantor gantian ‘tumbang’. Umumnya ‘cuma’ selesma sih, tapi tetap terasa mengganggu aktivitas.

Sedangkan survei berikutnya menunjukkan bahwa 92% mama sadar penyakit itu dapat dicegah sejak awal. Di antaranya adalah dengan hidup sehat, mandi, serta cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan teratur. Hal serupa sering saya lontarkan kalau ada yang bertanya, anak sakit ini diapakan sih baiknya, yang bisa dilakukan di rumah. Saya memang sempat aktif di beberapa grup ibu-ibu.

Perawatan tidak selalu harus berupa obat, kan? Apalagi untuk penyakit yang sifatnya self limiting disease. Bahkan kalaupun ada anggota keluarga yang terkena penyakit yang memang memerlukan obat, cuci tangan tetap membantu mencegah penularan khususnya ke orang-orang yang ada di sekeliling, selama sakitnya memungkinkan untuk cuci tangan tentunya.

Dr. Ariani dan pak Evan mengajak para mama aktif mencontohkan kebiasaan baik cuci tangan dengan sabun.

Continue reading

Art Therapy untuk Bantu Kelola Stres pada Anak, Seperti Apa Sih?

Sabtu (01/04) lalu saya mengikuti 1st Arisan Orami: Managing Your Kid’s Stress with Art Therapy bersama William S Budiman. Iya, Orami (dulu namanya Bilna) yang merupakan salah satu marketplace terbesar di Asia ini punya kegiatan rutin semacam seminar atau workshop untuk para pelanggannya, yang untuk tahun ini pertama kalinya digelar di awal April, bertempat di fx Sudirman.

Saat membuka acara, Mba Rani selaku MC sudah menyebutkan bahwa berdasarkan Studi Carnegie Mellon University, bayi/anak usia semuda 3 tahun bisa lho alami stres lho 😱😱. Kok bisa ya, dan jadi penasaran juga gimana cara mengatasinya. Tapi iya juga sih, kadang rasanya juga mentok menghadapi kakak (5 tahun) kalau sudah ngambek tidak jelas apa maunya. Apa ini sudah termasuk stres awal, ya?

Mba Jessica Farolan @eljez yang menjadi moderator memulai dengan mempresentasikan kegiatan @aethralearningcenter yang berkomitmen memberikan pengetahuan, inspirasi, pengalaman, dan masa depan yang lebih cerah. Misinya adalah agar peserta mengalami pembelajaran yang serius tapi sekaligus dengan cara yang menyenangkan. Pak @WilliamSBudiman yang menjadi pembicara hari itu adalah founder dari Aethra Learning Center yang berdiri tahun 2008.

Pak William S Budiman membuka sajian materinya dengan mengingatkan agar kita khususnya sebagai orangtua jangan menjadikan stres sebagai sesuatu yang menakutkan, jelek, atau bahaya. Jadikan stres justru sebagai jalan untuk menjadi manusia yang lebih berkembang, menjadi pribadi dengan kualitas yang lebih baik. Yang penting, stres dikelola dengan tepat.

Yang perlu dipahami juga, hindari membandingkan stres anak dengan orangtua, misalnya dengan meremehkan, “Ah, kamu belajar gitu aja masak stres sih.” Orangtua cenderung menganggap kecil, padahal anak kan kemampuan berpikir dan daya tahan/resiliensinya belum se-berkembang orang dewasa. Biasanya orangtua juga terlambat mengenali stres pada anak, sehingga penanganannya juga ikut terlambat. Bagaimana dong supaya stres anak bisa dideteksi lebih dini?

Pertama, kita harus memahami dulu, stres itu apa sih? Stres bisa didefinisikan sebagai reaksi hati/psikologis maupun fisik/fisiologis yang terjadi ketika seseorang mempersepsikan sesuatu hal atau kondisi yang dianggap menekan dirinya. Biasanya ini timbul kalau ada perubahan, bahkan meskipun belum tentu perubahan itu perubahan yang buruk. Contoh saja mulai masuk playgroup yang membuat anak harus bertemu orang-orang baru. Hal lain yang bisa memicu stres adalah adanya ancaman, untuk pekerjaan bisa berupa deadline, bagi anak bisa tampil dalam wujud teman yang suka mem-bully atau adanya adik baru. Kemudian hal yang tidak bisa dikontrol seperti kemacetan juga bisa menimbulkan stres.

Continue reading

Berbisnis dari Hobi, antara Idealisme dan Materialisme

Saya baru mulai aktif nge-blog lagi sekitar setahun ini. Sambil jalan, saya mengamati bahwa ada beberapa (banyak, malah) yang menjadikan blognya sebagai sarana mendulang keuntungan. Bisa lewat sponsored post, endorse, undangan mengikuti acara tertentu secara cuma-cuma (sedangkan peserta lain harus bayar atau harus punya kriteria tertentu seperti memang pegawai di situ), atau kesempatan lebih dulu menyaksikan sebuah film. Ada juga sih yang memanfaatkan iklan yang dipasang langsung di blog, adakalanya lewat trik search engine optimization (SEO) versi kurang sehat, termasuk sembarangan copy paste tulisan orang lain dan permainan kata, yang berpotensi bikin kesal saat kita sedang menggunakan mesin pencari di internet. Pernah nggak, lagi butuh betul informasi tertentu, eh digiringnya ke tulisan yang nggak jelas maksudnya apa karena kalimatnya muter-muter atau disuruh klik-klik bagian lain dulu, kzl kan.

Makin tingginya penggunaan media sosial juga digunakan untuk mendukung tujuan ini, karena produsen tahu benar bahwa media sosial turut membantu informasi mengenai produknya menjangkau lebih banyak orang. Penggunaan jasa blogger dianggap lebih mencerminkan kedekatan dengan pasar yang mereka sasar, walaupun selebriti yang sering wara-wiri di media massa (bahkan biar kata cuma di infotainment melulu munculnya) masih punya ceruknya tersendiri sebagai key opinion leader atau bahkan brand ambassador.

Continue reading

Easy Gembira, Nyuci Enteng Berbonus Me Time Berkualitas

Beberapa waktu yang lalu dokter keluarga kami yang aktif melakukan edukasi tentang diet dan olahraga yang baik dan benar sempat menjawab pertanyaan seseorang di media sosial terkait apakah aktivitas yang biasa dilakukan ibu-ibu bisa digolongkan sebagai olahraga. Misalnya mencuci, menyapu, dan mengepel. Jawaban beliau, kegiatan seperti itu termasuk aktivitas fisik, dan untuk tahu apakah bisa dihitung sebagai olahraga maka kita bisa cek apakah kita mudah lelah atau tidak, bagaimana lingkar pinggang, juga berapa kadar gula darah dan kolesterol kita. Jika badan terasa kurang fit apalagi nilai tes gula darah dan kolesterol di luar batas normal, bisa jadi aktivitas kita masih belum mencukupi untuk disebut sebagai olahraga.

Masalahnya, ibu-ibu pada umumnya mengeluhkan minimnya waktu yang tersedia. Yang di rumah sibuk dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, yang kerja kantoran mungkin berangkat gelap pulang juga sudah gelap plus waktunya sepertinya lebih asyik dihabiskan untuk quality time dengan keluarga. Jadi boro-boro me time deh, termasuk menyisihkan waktu khusus untuk olahraga.

Nah, bagaimana kalau ada yang bisa menolong memenuhi beragam kebutuhan para ibu ini? Easy, deterjen unggulan asal Jepang persembahan PT Kao Indonesia melalui produk-produknya hadir dengan solusi cerdas. Urusan cuci pakaian bisa lebih mudah dan mudah dan cepat terselesaikan, baik menggunakan tangan maupun mesin cuci. Dengan inovasi terbaru Easy yaitu satu kali kucek yang setara dengan sepuluh kali kucek deterjen lain dan satu kali bilas yang setara dengan tiga kali bilas deterjen lain, mencuci pakaian jadinya serasa dibantu oleh kekuatan 10 tangan. Efeknya, urusan mencuci bisa selesai dengan lebih mudah dan cepat. Kalau PR yang itu sudah selesai, artinya ada waktu luang yang lebih lapang yang bisa dimanfaatkan untuk me time, termasuk mengaktualisasikan diri dan menjaga kebugaran melalui olahraga. Bonusnya, tubuh lebih bugar dan semangat untuk beraktivitas sehari-hari juga lebih terpompa, kan? Bukan cuma untuk para ibu sih ya sebetulnya, hanya saja kampanye Easy yang dimulai pada bulan Maret 2017 ini memang fokus bertujuan agar kaum wanita dapat memanfaatkan waktu luangnya di tengah banyaknya tanggung-jawab rumah tangga yang dilakukan sehari-hari, sebagai kelanjutan dari kampanye tahun lalu yang berfokus pada pemberdayaan wanita.

Continue reading

Jadwal Imunisasi IDAI Terbaru

Di triwulan I tahun 2017, Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI telah menerbitkan jadwal rekomendasi pemberian imunisasi yang terbaru, yang dimuat di http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017. Rekomendasi terakhir sebelumnya keluar tahun 2014, setidaknya yang dimuat di website resmi mereka, walaupun ada juga yang mengedarkan tabel rekomendasi vaksinasi dari IDAI tahun 2016 (selengkapnya bisa dibaca di postingan saya yang ini: Siap-siap Imunisasi 2 Tahun).

Berikut ini jadwal terbaru imunisasi IDAI, yang memang sedikit berbeda dengan versi Kementerian Kesehatan (yang disubsidi atau gratis).

Versi pdf bisa diunduh di sini.

Secara resmi, vaksin baru yaitu dengue dan Japanese encephalitis (khusus daerah endemis) sudah dimasukkan ke dalam jadwal tersebut. Kemudian ada juga penjelasan alternatif penyesuaian jadwal pemberian apabila vaksin Hepatitis B diberikan bersamaan dengan pilihan vaksin DPT yang ada, apakah vaksin DTPw (yang vaksin pertusisnya whole cell/utuh dan sering disebut sebagai ‘yang panas’ padahal tidak selalu) atau vaksin DTPa (vaksin pertusisnya aseluler, sering dibilang ‘nggak bikin demam’, padahal kemungkinannya tetap ada sih).

Juga dipaparkan saran terkait pemakaian vaksin polio tetes (oral/OPV) atau suntik (inactivated/IPV). Paling sedikit, anak harus mendapat satu dosis IPV bersamaan dengan pemberian OPV-3.

Kalau mau lihat versi Kemenkes, bisa unduh Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 (6 Februari 2017, diundangkan 11 April) di sini.

Continue reading

Karena Tampil Memesona Itu Tak Semata Demi Orang Lain

“Istrinya udah cantik memesona gitu, kok tega ya suaminya minta pisah dengan alasan ada yang lebih menarik?”

“Ah, kalau yang itu sih memesona apanya, percuma juga cakep-cakep tapi suka godain laki orang!”

“Bagus sih dia bawain acaranya, tapi kurang apa ya, kurang memesona gitu deh. Kita maunya yang nonton bisa lebih tertarik lagi, kan?”

Dua kalimat paling atas sih kayaknya khas obrolan ibu-ibu banget ya. Secara tidak langsung, pembicaraan tersebut mengarah ke betapa relatifnya nilai sebuah pesona. Pesona sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan antara lain sebagai daya tarik, daya pikat, sesuatu yang memancing orang terpukau atau terkagum-kagum. Malah, bisa didefinisikan sebagai jampi-jampi atau guna-guna juga. Barangkali karena seseorang yang terpesona bisa seolah terhipnotis untuk melakukan hal-hal yang seperti di luar kendalinya ya, meskipun sama sekali tidak ada ilmu hitam yang terlibat. Kalau guna-guna atau jampi-jampi lazimnya punya target tertentu, demikian pula pesona bisa berbeda-beda efeknya terhadap setiap orang. Sedangkan nilai penampilan fisik saja bisa amat subjektif, apalagi takaran seberapa tergerak lawan bicara atau orang yang melihat, pasti lebih tidak mutlak lagi. Maka tak mengherankan kalau yang tampak memesona bagi sebagian orang justru membuat sekelompok orang lainnya tak habis pikir, apanya yang memesona?

Continue reading

Anak Benjol dan Memar, Harus Diapakan?

Lagi scroll timeline IG, tampak oleh saya seorang mama selebriti berpose di akun instagram-nya, melakukan endorse terhadap suatu produk yang diklaim bisa mengatasi memar dan benjol. Belum pernah dengar merk yang itu sih, seringnya dengar merk yang satu lagi, yang kadang dieja sebagai trombopob biar gampang. Apa yang saya ingat begitu melihat ‘iklan’ sang mama? Tentu Fahira, yang pada suatu masa di tahun kemarin itu perasaan seriing bener jatuh, dan yang kena benturan biasanya kalau nggak bibir ya dahi. Kayaknya baru sembuh (kempes benjolnya) seminggu, besoknya ‘kejlungup’ atau kejedot lagi, dst.

Lihat memarnya aja biasanya sudah cukup bikin hati kita iba, penginnya warna kebiruan itu segera pergi, tahu juga nggak nyamannya kayak apa. Jadi, biar cepat sembuh, dikasih apa dong?

Zaman dulu sih mama selalu sedia semacam salep yang setelah saya cek kandungannya sama dengan gel yang dipromosikan oleh mama artis tersebut, untuk kalau saya atau adik benjol (sama juga zat aktifnya dengan gel yang populer disarankan para ibu di mana pun dari grup facebook, whatsapp, sampai tatap muka untuk diberikan pada anak yang habis terbentur). Biasanya yang kasih saran pakai embel-embel “Biar nggak jadi memar, atau supaya memarnya cepat sembuh/benjolnya lekas kempes”.

Sejauh ini, khususnya untuk anak, saya lebih memilih kembali ke tata laksana dasar yaitu kasih kompres dingin saja. Sesuai prinsip RICE: Rest, Iced, Compression, Elevation, dengan ice gel atau es batu yang dibungkus handuk bersih. Untuk diri sendiri (ya, saya secanggung itu sampai acapkali terbentur sesuatu) malah lebih sering nggak diapa-apain, hehehe. Terkesan ngirit atau mungkin cuek ya, tapi saya punya landasan kok *membela diri.

Trus tadi ngintip facebook, ternyata belum lama ini juga ada tulisan dari seorang dokter yang viral terkait pemakaian obat oles (gel) antimemar ini:

Continue reading

Edukasi Anak lewat Montessori di Rumah, Nggak Perlu Mahal Lho

Sore ini saya mengikuti talk show @indonesiamontessori yang menghadirkan penulis buku Montessori di Rumah (dari penerbit Esensi), mba Elvina Lim Kusumo, di Gramedia Matraman. Berhubung sudah punya bukunya duluan, jadi saya tidak berhak ikut undian doorprize paket buku yang diperuntukkan bagi pembeli buku tersebut yang membeli di lokasi (dapat bonus scarf pula lho) tapi gpp lah, yang penting bisa ikut menyimak aja deh.

Mba Vina bercerita bahwa awalnya ketika tinggal di AS, barang-barang kebanyakan masih ada di kontainer, kalau dipikir sepertinya nggak akan bisa mengajak C (putranya) main apa-apa. Tapi kemudian disadari bahwa bermain bisa dengan apa saja yang tersedia di sekeliling, tidak perlu pakai mainan khusus yang mahal. Jadi dalam kondisi yang ‘tidak ideal’ pun bisa kok menstimulasi anak dengan permainan.

“Saya nggak pernah ngajarin C nulis, tapi lewat permainan yang memperkuat otot tangan, sehingga ketika tiba waktunya menulis sudah terlatih menulis dengan baik,” begitu jelas mba Vina.

Kenapa memilih metode Montessori? Karena dengan rentang perhatian anak yang pendek, kalau dipaksa belajar duduk diam dalam waktu lama kasihan. Metode Montessori juga memberikan beberapa pelajaran keterampilan yang sifatnya jangka panjang, bukan hanya yang terlihat di permukaan.

Continue reading

Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak demi Kebahagiaan Hidup

Materi Bunda Sayang Institut Ibu Profesional sesi #3
PENTINGNYA MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DEMI KEBAHAGIAAN HIDUP

Dalam kehidupan ini ada dua kata yang selalu diinginkan manusia dalam hidup yaitu SUKSES dan BAHAGIA.
☘ Makna SUKSES
D. Paul Reilly dalam bukunya Success is Simple mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga.
Sedangkan Lila Swell dalam bukunya Success mengemukakan pendapatnya bahwa sukses adalah peristiwa atau pengalaman yang kita akan mengingatnya sebagai pemuasan diri.

☘ Makna BAHAGIA

Prof. Martin Seligman dalam bukunya Authentic Happiness mendefinisikan kebahagiaan hidup dalam tiga kategori:

A. Hidup yang penuh kesenangan (Pleasant Life)

Hidup yang penuh kesenangan ialah kondisi kehidupan di mana pencarian kesenangan hidup, kepuasan nafsu, keinginan, dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi tujuan hidup manusia.
Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat material.

B. Hidup nyaman (Good Life)

Hidup yang nyaman ialah kehidupan di mana segala keperluan kehidupan manusia secara jasmani, rohani, dan sosial telah terpenuhi. Hidup yang aman, tenteram, damai. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat mental.

C. Hidup Bermakna (Meaningful Life)
Hidup yang bermakna lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman. Selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarganya, ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yang timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usaha kita, pleasure in giving, kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual.

Untuk mencapai kategori hidup SUKSES dan BAHAGIA, kita perlu memiliki berbagai macam kecerdasan hidup.

Continue reading