Relasi Ibu dan Anak Perempuan, Indah tapi Rumit

Saya adalah anak perempuan yang memiliki dua orang anak perempuan. Konon, perempuan lebih sering mengedepankan perasaan dan emosi daripada logika. Alhasil, hubungan antara seorang ibu dengan anak perempuannya selain indah dan penuh kelembutan juga bisa berpotensi jadi agak rumit jika ternyata salah satu atau bahkan keduanya kesulitan mengelola emosi dengan baik. Meskipun alhamdulillah hubungan saya dengan mama dan anak-anak sejauh ini bisa dibilang baik, tetapi cerita beberapa teman membuat saya sadar bahwa sebagian anak perempuan memang menghadapi tantangan atau ujian berupa relasi yang tidak harmonis dengan seseorang yang telah melahirkannya. Penyebabnya beragam, tapi seringkali memang ada kaitannya dengan manajemen diri.

Ada masalah, pastinya ada jalan keluar dong ya. Maka ketika mengetahui bahwa Wacoal Indonesia mengadakan talk show bertema Beautiful Relationship Between Mom & Daughter, saya pun tertarik ikut menyimak. Belajar agar hubungan indah ibu dan anak tak berujung runyam tak ada salahnya, bukan? Acara yang diselenggarakan tanggal 22 April di Mal Ciputra Cibubur ini sejalan dengan kampanye Wacoal yang bertajuk Everlasting Support from Generation to Generation. Adanya gap antargenerasi semestinya tidak menjadi penghalang untuk saling memberi dukungan, bukan?

Continue reading

Rekomendasi Menyiasati Lima Fase Pernikahan dari Ustadz Cahyadi Takariawan

Siang ini saya mengikuti Kajian Wonderful Family, atau bisa juga disebut sebagai bedah bukunya, oleh sang penulis yaitu Ustadz Cahyadi Takariawan di Masjid Al Amanah. Selama ini saya hanya menjadi penikmat buku yang beliau tulis, salah satu buku Pak Cah, begitu beliau biasa disapa, menjadi buku pertama yang saya dan suami tamatkan bersama saat menapaki awal rumah tangga. Juga belakangan status dan tulisan beliau di media sosial maupun blog, yang memang banyak berfokus pada kehidupan rumah tangga khususnya relasi suami istri. Baru kali ini saya bisa menyimak uraian dari beliau secara langsung.


Menurut Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan marriage and relationship educator & coach sebagaimana dikutip oleh Pak Cah, pada umumnya pasangan suami istri akan menapaki lima tahap dalam berumah tangga. Yang membedakan adalah berapa lama masing-masing menjalaninya. Tahap-tahap tersebut adalah:

1. Fase romantic love, bulan madu dengan suasana serbaindah dan menyenangkan. Kekurangan pasangan mudah sekali dimaklumi dan diterima, seolah tidak ada cacat. Suasana sedemikian happy sehingga di fase ini dunia seolah milik berdua, ke mana-mana maunya berdua. Lebih banyak diekspresikan secara fisik. Sisi negatifnya, fase yang ini ada titik akhirnya. Tidak ada keluarga yang bisa menjalani fase romantic love ini selama-lamanya. Umumnya fase romantic love hanya berlangsung selama 3-5 tahun. Adanya potensi akhir fase ini seringkali tidak disadari oleh pengantin baru, sehingga tidak siap dalam menghadapi benturan di tahap selanjutnya. Situasi romantic love ini juga termasuk keromantisan sebelum menikah, jadi ketika pacarannya lama maka lazimnya fase romantic love setelah pernikahan akan semakin singkat. Bila bisa dioptimalkan, sebetulnya masa romantic love bisa dijadikan landasan agar lebih siap menyongsong fase berikutnya.

Continue reading

Rasa Nyaman dan Manajemen Jempolan, Langkah Awal untuk Jadi Apa Pun Yang Dimau

Pekan lalu saya mengikuti kegiatan blogger gathering yang diselenggarakan oleh Lactacyd bekerja sama dengan Female Daily Network di Tanamera Coffee, Kebayoran Baru. Mba Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., atau yang lebih akrab dipanggil Mba Nina, psikolog anak dan keluarga, juga Donita, celebrity mom brand ambassador Lactacyd ikut hadir. Kegiatan ini dilaksanakan bukan hanya untuk memperkenalkan varian terbaru Lactacyd yaitu Lactacyd Herbal dengan ekstrak alami susu, daun sirih, dan mawar. Tetapi juga untuk berbagi ilmu dan pengalaman agar wanita dapat tampil penuh percaya diri dan menjadi apa pun yang ia mau. Because women are special, be everything that you want.

Mba Affi Assegaf (Editorial Director FDN), pak Benyamin Wuisan (Category Head Consumer Healthcare PT Sanofi Indonesia -produsen Lactacyd), dan mba Debi Widiani (Brand Manager Consumer Health Care PT Sanofi Indonesia) menyambut para blogger di awal acara. Di antara topik yang disampaikan mba Affi, pak Benyamin, dan mba Debi dalam pembukaan adalah bahwa sebagai wanita pastinya ingin tampil percaya diri dan siap untuk bertemu dengan siapa saja. Salah satu hal yang menunjang percaya diri adalah kebersihan, termasuk kebersihan area V. Jadi memang perlu perhatian khusus, bukan hanya wajah dan kulit (yang umumnya tampak dari luar) yang butuh dirawat. Dan bukan hanya yang sudah menikah ya yang perlu merawat area V, karena setiap wanita berhak mendapatkan kenyamanan yang merupakan buah dari perawatan yang dilakukan. Lactacyd memahami kebutuhan akan hal tersebut dan menyediakan produk yang sudah teruji keamanan serta khasiatnya.

Continue reading

Aplikasi PRIMA untuk Generasi Prima

Masih dari Seminar Sehari All About Vaccination, di antara presentasi soal vaksinasi ada sesi khusus pengenalan aplikasi digital PRIMA untuk pantau tumbuh kembang anak oleh dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A.(K), MPH. Dokter Bernie ini adalah salah satu dokter dari IDAI yang mencetuskan ide lahirnya aplikasi tersebut. Saya sudah pernah membaca-baca mengenai aplikasi tersebut di blog beberapa teman pasca-peluncurannya pada hari anak nasional 23 Juli tahun lalu, tapi belum sempat memasangnya di hp.

Dokter Bernie mengingatkan bahwa ada yang disebut dengan 1000 hari pertama kehidupan yaitu 270 hari masa gestasi (kandungan) ditambah dengan 730 hari pascaanak dilahirkan, di mana terjadi perkembangan fisik dan otak yang sangat pesat. Hal-hal seperti malnutrisi, cedera, prematuritas, infeksi, gangguan hormonal, kelainan kongenital, dan faktor lingkungan bisa mengganggu optimalisasi 1000 hari pertama kehidupan.

Continue reading

Imunisasi Lewat Vaksinasi, Investasi untuk Penerus Masa Depan

Nama Rumah Vaksinasi yang didirikan oleh dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A. (K) sudah sering saya dengar. Beberapa teman keluarga kami juga mengimunisasikan anaknya di sana. Namun, kami sendiri belum pernah secara langsung ke Rumah Vaksinasi cabang mana pun karena beberapa alasan. Tahun ini Rumah Vaksinasi sudah berusia lima tahun dan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memperingatinya adalah dengan menyelenggarakan seminar sehari “All About Vaccination” pada tanggal 2 April 2017. Melihat nama-nama pembicara, materi yang menarik, dekat pula lokasinya, yaitu di Hotel Balairung Matraman, saya pun segera mendaftar setelah mendapat informasi acara tersebut dari teman.

Karena anak-anak masih seru main pasir di RPTRA pagi-pagi (kegiatan yang mereka tunggu setiap kali ayahnya pulang), jadinya kami kesiangan berangkat dan saya melewatkan sesi awal dari Prof. DR. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI, FINASIM, FACP. tentang peran vaksinasi, padahal saya sebetulnya paling ingin mendengarkan langsung penjelasan dari Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia yang beberapa bukunya saya miliki ini. Sesi berikutnya ketika dr. Piprim menceritakan sejarah dibangunnya Rumah Vaksinasi juga saya cuma dapat sepotong karena mengantar anak-anak dulu ke kids corner yang disediakan panitia di lantai lain. Tapi alhamdulillah sesi-sesi lainnya bisa saya ikuti, kecuali lagi-lagi sesi dr. Piprim tentang kehalalan vaksin yang disampaikan ketika kami pulang sebentar mengantar anak-anak yang sudah ngantuk. Nggak apa-apa deh, toh saya sudah pernah dapat presentasi dr. Piprim soal halal-haram vaksin ini di Jakarta Islamic Medical Updates (JIMU) di UI tahun lalu.

Baca juga: Jadwal imunisasi anak rekomendasi dari IDAI 2017.

Para dokter yang setelahnya bergantian menyajikan materi vaksinasi pada seminar tersebut adalah dokter-dokter dari berbagai cabang Rumah Vaksinasi. Mengawali rangkaian materi tentang vaksin untuk berbagai rentang usia, dr. Ferina Rachmi memaparkan penjelasan tentang Vaksinasi pada Bayi dan Balita. Disebutkan olehnya, kadang definisi imunisasi dan vaksinasi jadi rancu. Imunisasi merupakan upaya untuk menimbulkan kekebalan secara aktif terhadap penyakit tertentu, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit, atau hanya mengalami sakit ringan. Sedangkan vaksinasi menggunakan bahan antigenik untuk merangsang terbentuknya kekebalan aktif. Atau dengan kata lain vaksinasi adalah memasukkan komponen kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh dalam jumlah tertentu, yang cukup untuk merangsang terbentuknya antibodi tanpa membuat individu menjadi sakit.
Continue reading

Idamkan Suami Beri Perhatian, Jangan Hanya Berpangku Tangan

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca rubrik konsultasi psikologi di majalah femina. Menurut saya, tanggapan yang disampaikan oleh para pengasuh rubrik atas salah satu pertanyaan yang dimuat pada edisi tersebut cukup menarik. Curhatan serupa yang ditanyakan oleh sang pembaca, sependek pengetahuan saya jika dilontarkan ke tempat lain bisa jadi akan direspon dengan “Iya nih, dasar lelaki!”, atau justru memancing ‘kompor’ untuk berpikir yang tidak-tidak, misalnya keberadaan perempuan lain sebagai latar belakang berubahnya sikap suami. Waktu itu sempat ingin menuliskan soal ini di blog tapi telanjur lupa, baru ingat lagi ketika sedang browsing di website femina dan ada tanya jawab yang menurut saya kasusnya serupa tapi tak sama. Lagi-lagi, jawaban Kak Irma dan Bung Monty, demikian mereka disapa di rubrik tersebut, tetap cenderung ‘ngademin’, tidak mengajak berprasangka lebih jauh, melainkan memotivasi agar istri merasa lebih berdaya dan tidak melulu tergantung pada perhatian suami.

Berikut tanya-jawab yang pertama menarik perhatian saya:

Sebelum menikah, suami selalu memanjakan saya dengan sikapnya yang manis, memberikan hadiah kejutan, dan mengajak saya bertualang ke tempat-tempat menyenangkan. Namun, setelah menikah sikapnya berubah. Ia tetap pria yang baik, tapi jarang bersikap romantis seperti saat pacaran karena sibuk bekerja.

Jess – Tegal

Saran Irma Makarim
Sudahkah Anda membicarakan perubahan sikap tersebut kepada suami Anda? Jika belum, coba ungkapkan harapan Anda secara jujur dan tidak menuntut. Mungkin saja, suami Anda tidak menyadari perubahan sikapnya karena harus bekerja lebih keras atas dasar tanggung jawab pada Anda.
Selalu ada alasan di balik  tiap perubahan sikap. Saat pacaran, sepertinya suami Anda merasa perlu memanjakan Anda untuk mendapatkan cinta Anda. Sikap itu tidak salah, tapi juga tidak dapat dibenarkan sepenuhnya.
Sambil menunggu penjelasan dari suami, lakukan hal-hal yang membuat diri Anda berkembang secara positif. Gali minat dan bakat yang terpendam. Jangan sampai hal tersebut membuat Anda terpuruk. Tunjukkan juga pada suami bahwa Anda tidak bergantung pada perubahan sikapnya.

Saran Monty Satiadarma
Perubahan sikap suami tentu menimbulkan pertanyaan. Akan tetapi, Anda juga jangan membiarkan diri  terlalu mudah dimanjakan dengan sikap manis dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Sebaiknya Anda cari tahu kondisi suami yang sebenarnya. Coba cari waktu yang nyaman untuk berbincang dan tanyakan kondisi suami, tanpa terkesan menuntut.
Rasa gundah Anda bisa saja muncul karena belum memiliki kegiatan yang memberi makna bagi diri Anda sendiri ketika suami sibuk bekerja. Jika saat ini Anda belum bekerja di bawah institusi tertentu, cobalah untuk bergabung dengan komunitas atau kursus yang sesuai dengan minat Anda. Dengan begitu, Anda dapat memperoleh keterampilan baru dan juga lingkungan pergaulan baru.
Keterampilan dan lingkungan pergaulan baru juga bisa Anda gunakan untuk memberi dampak positif bagi orang di sekitar Anda. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan wawasan baru tersebut untuk menyegarkan bahan pembicaraan Anda dengan suami.

http://www.femina.co.id/sex-relationship/suami-tak-seperti-dulu-lagi

Continue reading

Suntikan Semangat dari Aroma Secangkir Kopi

Atasan dan teman-teman di tempat kerja yang sekarang adalah para penikmat kopi. Kopi yang digiling sendiri secara manual, tepatnya, jadi sudah bukan level kopi instan lagi. Kopi itulah yang mereka nikmati bersama di kantor atau ketika sedang kumpul-kumpul bareng termasuk saat ada penugasan lapangan (kalau di rumah, saya kurang tahu, deh). Biji kopi asal Aceh, Bandung, sampai Papua lumayan lengkap tersedia di meja. Kalau sudah ada yang sedang menyeduh kopi, wah, aromanya menyebar ke seisi ruangan.
Saya sendiri karena satu dan lain hal tidak lagi bisa leluasa minum kopi, meskipun semasa kuliah cukup akrab dengan kopi susu instan dalam sachet dengan aneka variasinya. Apalagi kopi hitam yang ‘keras’, kalau ini dari awal memang tidak tertarik, paling mencicipi seteguk saja kalau sudah tidak ada pilihan lain dan telanjur disajikan di depan saya sewaktu rapat. Kalau menghirup aromanya saja sih saya tak keberatan (jadi ingat beberapa kantor yang di lift-nya dipasang pengharum wangi kopi, ada sensasi nyaman memang ketika masuk ke situ). Nah, mengingat kopi punya efek stimulan dari kandungan kafeinnya yang sudah diakui secara ilmiah, saya jadi bertanya-tanya, apakah khasiat itu juga bisa ‘sampai’ hanya lewat indera penciuman? Jika banyak orang mengaku lebih antusias beraktivitas setelah menjalani ritual ngopi pagi, atau kantuk jadi hilang sesudah menyesap segelas kopi pahit, apakah saya juga bisa mendapatkan ‘manfaat’ itu berkat rajinnya rekan-rekan seruangan bikin kopi? Lebih jauh lagi, akankah saya ikutan ketagihan seperti konon banyak dialami para penyuka kopi?

Continue reading

Sabar, Sejauh Mana Batasnya?

Forum Kajian Muslimah Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan #FKMEdisiApril kali ini (07/04) mengangkat tema Menjadi Pribadi Sabar bersama Ustadzah Tri Handayani, S.Pd.I., M.A.

Ustadzah atau yang akrab dipanggil sebagai ummi Tri Handayani ini dahulu adalah atlet berbagai cabang olahraga yang berprestasi. Kemudian Allah memberi ujian berupa kanker, bukan hanya satu jenis tetapi beberapa. Sekarang beliau aktif sebagai penceramah maupun motivator yang banyak menyampaikan kisah beliau sebagai survivor kanker, selain menjadi dosen di dua perguruan tinggi.

Ummi Tri menegaskan bahwa sabar itu baru bisa dibilang berkualitas ketika dihadapkan pada tantangan, dan levelnya tergantung kadar keimanan seseorang. Orang yang terkena macet di dalam mobil mewah yang nyaman, tingkat sabarnya tidaklah sama dengan yang berdiri di angkutan umum berdesakan saat deadline pekerjaan mengintai.

Benarkah sabar ada batasnya? Dalam QS Ali Imran ayat 200 disebutkan kata sabar lebih dari satu kali: bersabarlah kamu (orang-orang yang beriman) dan kuatkanlah kesabaranmu.

Di masa muda, Ummi Tri adalah pemegang sabuk hitam karate, atlet provinsi Jawa Barat, pernah meraih medali emas dan ikut kejuaraan aikido di Jepang. Anggota paskibra juga, pecinta alam yang sudah naik 9 gunung, juara olimpiade daerah berenang, suka diving. Terbayang kan betapa bugar dan aktifnya, karena pasti memerlukan kekuatan fisik yang prima. Ternyata Allah menguji beliau dari segi jasmani juga. Dengan penyakit yang disandang, Ummi Tri sudah menjalani 7 kali operasi mulai dari nasofaring, trakea, otak stadium 4, ovarium kiri, usus buntu, dinding abdomen kanan yang berhubungan dengan rahim, sampai usus. Pernah juga 16 kali kemoterapi, 38 kali radioterapi, 170 kali fisioterapi. Ada dokter yang pernah memperkirakan bahwa umur Ummi Tri tak lama lagi, tetapi ternyata dokter tersebut malah berpulang lebih dahulu.

Sabar menurut terminologi bahasa adalah menahan dan mencegah diri. Sedangkan sabar menurut terminologi syariat adalah menahan diri untuk tetap mengerjakan sesuatu yang disukai oleh Allah atau menghindarkan diri dari sesuatu yang dibenci oleh-Nya. Sehingga pegawai misalnya tidak tergoda untuk korupsi, orang yang cantik tidak tergiur menjual pesona ragawinya secara tidak terpuji. Termasuk yang tidak disukai oleh Allah adalah perilaku mengeluh dan memaki, menyalahkan Allah atas kondisi yang dihadapinya.

Continue reading

Bolu dan Cake, Apa Bedanya, Ya?

Satu lagi toko oleh-oleh artis akan segera dibuka dalam waktu dekat. Kali ini si pemilik adalah Shireen Sungkar. Berbeda dengan yang dijual oleh suami, kakak, dan kakak iparnya (bisa dibaca di postingan ini: Toko Oleh-oleh Artis), Bogor Raincake ala Shireen tidak menggunakan puff pastry. Foto awal yang diposting di instagram Bogor Raincake sudah cukup menunjukkan hal itu walaupun masih dua hari lagi launching resminya.

Admin IG-nya pun menegaskan kalau Bogor Raincake tidak pakai pastry, menanggapi komentar salah seorang pengunjung yang berpendapat “Ah sama aja ini dengan yang lain, beda cara naruh pastry-nya aja”. Komentator lain bilang kalau Bogor Raincake itu ‘pakai bolu’, lalu admin kembali meluruskan bahwa kue yang mereka produksi tergolong sponge cheesecake, bukan bolu. Bahkan sampai dibuat postingan tersendiri.

Di sinilah saya yang awam ini jadi bingung. Ketahuan ya, jarang baking hehehe. Pengetahuan saya tentang kue-kue begini lebih banyak didapat dari membaca dan jarang praktik, makanya lebih cepat lupa walaupun mungkin saya sebetulnya pernah baca penjelasan perbedaan itu sebelumnya (terutama di majalah wanita langganan mama dulu). Atau mungkin lebih tepatnya, yang penting menurut saya rasanya kan sama-sama enak, buat apa dipertanyakan itu namanya bolu atau cake :D.

Eh, tapi memang sih ada kue-kue yang terasa beda (meskipun sama-sama enaknya), ada yang lebih padat, ada yang cenderung berpori dan ringan, ada yang mudah jadi remah-remah. Nah, jadi, apa bedanya nih bolu sama cake?

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Potensi Kecerdasan Anak untuk Meraih Kesuksesan Hidup

Cemilan Rabu 29 Maret 2017
🏵POTENSI KECERDASAN ANAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP (Bagian 1)🏵
Sebelum ditemukannya ragam kecerdasan (IQ, EI, SI, dan AI), seorang anak dikatakan cerdas jika memiliki IQ yang tinggi. Sebaliknya anak dikatakan bodoh jika ber-IQ rendah.
Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia untuk bisa melakukan beberapa kemampuan seperti kemampuan menalar; merencanakan masalah; berpikir; memahami gagasan; dan belajar.
Menurut Conny Setiawan dalam buku “Perspektif Pendidikan Anak Berbakat” ada tiga komponen penting yang dianggap esensi intelegensi, yakni penilaian, pengertian, dan penalaran.
Berkat kecerdasan intelektualnya, manusia telah mampu menjelajah ke bulan dan luar angkasa; menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang sangat membantu dan lain sebagainya. Namun, ketika IQ saja yang menjadi dasar seseorang bergerak, maka di samping ada kemajuan pesat buah dari kecerdasannya itu, terdapat pula banyak kerusakan muncul akibat dari ulah manusia.
Charles Spearmen, Thurstone, dan Gardner mengembangkan teori multiple intelligence (MI) yang mengukur kecerdasan tidak hanya dari satu aspek kemampuan. Teori MI ini lebih manusiawi karena intelegensi manusia diukur dari tujuh dimensi yang semi-otonom. Masing-masing adalah: 1) Linguistik, 2) Musik, 3) Matematik Logis, 4) Visual-Spasial, 5) Kinestetik-Fisik, 6) Sosial Interpersonal, dan 7) Intra-Personal.
Seperti diungkapkan Suharsono dalam buku “Mencerdaskan Anak”, ketujuh macam kecerdasan ini merupakan fungsi dari dua belahan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki kemampuan dan potensi memecahkan problem matematik, logis dan fenomenal. Otak kanan memiliki kemampuan merespon hal-hal yang sifatnya kualitatif, artistik, dan abstrak.
❓Apakah dengan mengoptimalkan ketujuh kecerdasan ini akan menjadikan anak-anak sukses mengarungi hidup? Jawabannya BELUM TENTU.
🖌Model kecerdasan intelektual benar-benar akan bergfungsi hanya dalam tahapan ketika anak harus menyelesaikan permasalahan. Bahkan sejauh yang dapat diamati, model kecerdasan ini belum mendorong anak menjadi kreatif bahkan inovatif. Diperlukan upaya pendekatan yang berbeda agar anak menjadi lebih tertantang ide kreatif dan inovatifnya.

Continue reading