Totoro dan Serunya Kisah Fantasi Masa Kecil

Beberapa waktu yang lalu saya membaca bahwa ada yang hendak menghadirkan film-film Studio Ghibli di bioskop-bioskop dalam negeri. Berita tersebut sempat terlupakan sampai akhirnya sebuah postingan teman di instagram mengingatkan saya. Penasaran, saya pun mencari tahu jadwal festival film-film animasi tersebut. Ternyata, sebagaimana disebutkan di http://worldofghibli.id/#screening, bulan ini adalah giliran My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro) diputar. Film-film lainnya secara bergantian ditayangkan setiap pekan pertama di Studio XXI maupun CGV tertentu di beberapa kota sejak April hingga September tahun ini (kecuali Juni, dan kabarnya akan dilanjutkan hingga Maret 2018).

Saya bukan fans berat Studio Ghibli maupun Hayao Miyazaki (co-founder Ghibli yang juga bertindak antara lain selaku sutradara, produser, animator, dan penulis naskah), tetapi saya sempat menikmati film-filmnya di masa kuliah. Gara-garanya, para sepupu saya yang tinggal serumah waktu itu (lebih tepatnya saya yang ikut tinggal di rumah orangtua mereka, pakdhe dan budhe saya) suka film-film Ghibli. Saya tak sempat nonton semuanya sih, yang paling saya ingat saya saksikan sampai selesai adalah Ponyo on The Cliff by The Sea. Penasaran juga jadinya mau nonton My Neighbor Totoro. Jadi, ya, #NontonGhibli-lah saya dengan memesan tiket terlebih dahulu melalui situsnya. Sayangnya begitu sampai di lokasi kemudian, saya sudah tak kebagian kipas lucu Totoro yang sudah habis duluan.

Kakak beradik dalam My Neighbor Totoro kontan mengingatkan saya pada anak-anak, yang kebetulan juga sama-sama perempuan dan jarak usianya mirip. Cara mereka berinteraksi sungguh menggemaskan, bagaimana mereka saling mendukung, bagaimana Mei si adik kadang iseng dan mudah ngambek tapi juga terlihat menjadikan kakaknya sebagai panutan sedangkan Satsuki si kakak begitu mengayomi. Ceritanya sendiri sepintas sederhana, dimulai dari pindahnya ayah Satsuki dan Mei ke sebuah rumah tua agar lebih dekat dengan tempat ibu Satsuki dan Mei sedang dirawat karena sakit. Di sana, Satsuki dan Mei berkenalan dengan makhluk-makhluk unik yang tinggal di sekitar mereka, selain juga berinteraksi dengan tetangga baru (manusia betulan-kenapa juga harus disebutkan begini ya, hehehe) yang amat baik. Mengenai sakit ini tidak disebut jelas sakit apa, tapi situs ini http://www.nausicaa.net/miyazaki/totoro/faq.html menyimpulkan bahwa bisa jadi sang ibu terkena TB. Di situs tersebut juga diterangkan mengenai hal-hal yang mungkin menjadi pertanyaan, misalnya tahun latar belakang kejadian. Dijelaskan pula kenapa ada poster yang beredar dengan ilustrasi seorang anak perempuan berdiri di samping Totoro, rupanya ini konsep awal sebelum diputuskan karakter anak dipecah menjadi dua orang. Karakter fantasi Totoro dan teman-temannya menjadi daya tarik tersendiri dengan keunikan penampilan dan kemampuan ajaib mereka. Seru!

Oh ya, ini lagu favorit saya dari film tersebutThe Huge Tree in the Tsukamori Forest (Tsukamori no Taiju).

 

 

I Ketut Widiadnyana dan Upaya Pelestarian Songket Jembrana Demi Generasi Mendatang

Kecintaan I Ketut Widiadnyana (42) terhadap songket Jembrana berawal dari kepeduliannya terhadap warisan budaya tradisional tersebut.

“Saya masih bisa melihat tenun songket Jembrana sekarang, tetapi bagaimana dengan generasi mendatang? Ada yang memperkirakan bahwa sekitar 20 tahun ke depan songket akan punah, dan memang sudah ada songket daerah lain yang punah, tetapi saya yakin songket Jembrana tidak akan punah dan saya akan terus semangat untuk mengembangkannya,” kata suami dari dr. Luh Wayan Sriadi ini.

Sektor pariwisata daerah Jembrana di mata Ketut kurang hidup dibandingkan dengan daerah lain di Bali, jadi pengembangan songket diproyeksikan dapat ikut menggerakkan perekonomian rakyat di sana. Tenaga kerja pun banyak tersedia, walaupun diakui oleh Ketut sulit mencari generasi muda yang mau menenun. Salah satu alasannya, menenun itu rumit dan perlu kekuatan tangan.

“Jadi saya rancang alat untuk membuat songket tanpa sambungan. Biasanya kan songket tradisional 50 meter disambung dengan 50 meter. Dengan menggunakan alat ini kain songket bisa dibuat lebih lebar tanpa sambungan, tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya. Pekerjaan pun menjadi lebih ringan sampai anak kelas 3 SD juga bisa belajar menenun dengan alat tersebut. Alat tenun seperti ini adalah yang pertama untuk di Bali, kalau di Palembang sudah ada beberapa,” ungkap Ketut.

Dengan alat baru yang memudahkan dan potensi pemasukan yang lumayan, Ketut berharap agar makin banyak yang tertarik menjadi penenun.


“Impian saya, orang mau bekerja sebagai penenun. Ini kan warisan budaya kita. Kalau hanya berorientasi bisnis, beli saja alat tenun jacquard, selesai. Tapi saya ingin memberdayakan warga juga.

“Di Jembrana ada 10 kelompok, kelompok saya yaitu Kelompok Tenun Putri Mas terdiri atas sekitar 60 orang yang masing-masing bertugas pada 6 unit yaitu pengembangan motif, penenun, pencelupan alam, pemasaran, perancangan busana, dan simpan pinjam. Penenun banyak yang ibu rumah tangga, ada misi pemberdayaan perempuan di sini,” tutur Ketut.

Pekerjaan beratnya, Ketut menggarisbawahi, adalah menanamkan konsep bahwa menenun adalah pekerjaan yang mulia karena membantu melestarikan budaya, juga sekaligus mengasyikkan.

Disebutkan oleh Ketut, songket Jembrana mempunyai tiga segmen pasar. Yang pertama adalah kolektor tenun yang sudah tidak mempermasalahkan soal harga. Kedua ialah para pemakai tenun, mengingat di Bali masih memegang adat istiadat termasuk banyak upacara adat yang tentunya memunculkan kebutuhan akan tenun. Ketiga, pasar fashion.

Sejauh ini produk fashion Kelompok Putri Mas masih dalam bentuk standar seperti blazer, semi jas, alas kaki wedges, dompet, clutch bag, dan tas. Ke depannya, lelaki kelahiran 4 Agustus ini ingin bekerja sama dengan desainer yang lebih profesional, agar penggunaan songket Jembrana juga makin luas.

Songket Jembrana masih mempertahankan motif yang sama sejak zaman kerajaan dulu, yaitu banyak menampilkan unsur alam seperti bunga dan hewan dengan dasar folklore. Ini berbeda dengan songket lain misalnya yang berasal dari Karangasem atau Klungkung. Motif songket Jembrana cenderung statis sehingga memudahkan untuk dimanfaatkan dari segi fashion, tidak seperti motif rumit yang acapkali menyulitkan saat pemotongan kain untuk pola.

Ketut sadar bahwa untuk bisa ‘dilihat’ harus selalu ada terobosan baru. “Saya punya inovasi yang sudah didaftarkan HAKI-nya yaitu songket dipadukan dengan batik tulis kemudian dicelup malam. Selanjutnya kami juga akan lebih banyak memakai pewarna alami, contohnya dari bahan kunyit, akar mengkudu, daun mangga dan tanaman-tanaman lain yang masih banyak ditemukan di daerah Jembrana. Pewarnaan alami ini juga sekaligus memicu kreativitas, bahan apa yang ada itulah yang dikreasikan untuk desain. Harga jualnya pun lebih tinggi,” terangnya.

Bisnis songket yang ditekuni oleh Ketut bukanlah bisnis warisan orangtua, sehingga tantangan yang dihadapi menurutnya juga lebih banyak.

“Saya kontraktor, istri saya dokter, kalau mau mengejar uang daripada susah-susah lebih baik fokus ke profesi masing-masing,” tegas Ketut. Lokasi tempat tinggal yang juga menjadi tempat produksi songket Ketut berada 120 km dari Denpasar, cukup jauh dari pusat kota.

“Oleh karenanya kami memanfaatkan teknologi seperti online shop. Workshop juga sedang disiapkan sehingga orang yang datang berbelanja langsung bisa sekaligus melihat prosesnya,” urainya.

Permasalahan berikutnya yang diceritakan oleh Ketut, kalau batik punya kategori batik print, batik cap, batik celup, batik tulis, songket pun sebetulnya ada jenis songket handmade, songket print, dan songket sablon.

“Sebetulnya bukan bermaksud menutup rezeki orang lain. Malah menjadi tantangan tersendiri untuk berinovasi, apalagi orang Indonesia fashionable, hp belum rusak sudah beli lagi sehingga perputaran barang juga cepat. Hanya saja, songket yang asal katanya adalah nyungkit (mengait-red) itu kan kekayaan tradisional, jangan disamakan dengan tenun mesin yang pemberdayaan masyarakatnya kurang. Tradisional melawan mesin, jelas tidak bisa disamakan. Tenun tradisional dengan pembuatan manual lebih memakan waktu dan memiliki variasi kesulitan dengan ritme pengerjaan yang berbeda-beda, tergantung orangnya. Maksimal per hari hanya 3-7 cm songket manual yang dihasilkan, sedangkan dengan mesin bisa bermeter-meter,” Ketut menjelaskan perbandingannya.

Kategorisasi produk di online marketplace juga menurutnya perlu dibenahi karena tidak edukatif untuk masyarakat, cenderung menyamaratakan songket tradisional dengan songket buatan mesin. Tantangan lainnya yang sudah mulai teratasi adalah material benang yang masih harus diimpor, misalnya dari India dan Cina.

Ketut punya impian agar songket menjadi Warisan Dunia sebagaimana batik. “Saya ingin melestarikan warisan budaya tradisional dan bukan hanya berhenti di slogan. Terkait cita-cita agar songket menjadi Warisan Dunia yang diakui PBB, seharusnya memang menjadi pekerjaan bersama, tidak bisa sendiri-sendiri. Sebagai orang daerah, yang bisa saya lakukan adalah mengumpulkan data, menemui pejabat terkait untuk meminta dukungan, maupun terus mengedukasi masyarakat mengenai keberadaan dan jenis-jenis songket. Apakah nanti upaya saya disetujui atau tidak, hasilnya nanti seperti apa, yang penting saya sudah berbuat sesuatu. Semoga selain bisa melestarikan warisan budaya, songket juga bisa menggerakkan perekonomian rakyat,” pungkas Ketut.

 

(aslinya ditulis untuk media kantor tetapi yang dimuat adalah versi pendek untuk efektivitas halaman)

Anak Batuk Pilek, Imunisasi Jalan Terus

“Anak saya batuk pilek nih Bun, jadwal imunisasi besok, boleh lanjut atau tunda aja dulu, ya?”

Pertanyaan di atas cukup sering terlontar di grup atau forum ibu-ibu. Cukup bisa dimengerti bahwa ada kekhawatiran mengimunisasi anak saat kondisinya sedang tidak fit. Biasanya sih ortu takut sesudah disuntik vaksin anak atau bayinya jadi demam (sebagai efek atau lebih tepatnya kejadian ikutan pascaimunisasi/KIPI) yang bikin tambah rewel. Atau ada juga yang mendapatkan informasi bahwa vaksinasi saat anak kurang sehat akan berpengaruh pada respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan, semacam jadi tidak optimal bekerjanya. Yang lain menyebutkan bahwa adanya demam sesudah imunisasi bisa membuat rancu apakah demamnya demam KIPI atau karena batuk pilek yang sedang dialami, ini sehubungan dengan tindakan selanjutnya yang perlu diambil.

Oh ya, ada juga yang mengistilahkan batuk pilek yang sebetulnya lebih tepat dibilang selesma ini dengan flu atau influenza. Sebetulnya sih beda, ya. Perbedaan selengkapnya bisa dibaca di sini: Batuk Pilek dan Influenza (Flu), Serupa tapi Tak Sama.

Setelah baca sana-sini, diawali dari bacaan di Milis Sehat, saya termasuk yang sering menjawab pertanyaan tadi (kalau ada yang nanya, karena saya aktif di beberapa grup) dengan “batuk pilek bukan penghalang imunisasi”. Fathia dulu mendapatkan suntikan MMR (yang di antaranya mengandung vaksin campak, yang salah satu KIPI yang umum terjadi adalah demam sekitar 8-12 hari pasca-imunisasi) saat sedang batuk pilek, dan alhamdulillah batuk pileknya tidak bertambah parah setelahnya. Dokter keluarga kami malah yang menyarankan waktu itu. Ya, kata kuncinya memang konsultasikan dengan dokter, dengan kita juga berbekal informasi valid dulu tentunya. Beberapa lembaga maupun organisasi resmi sudah mengeluarkan pernyataan seputar bolehnya imunisasi ketika batuk pilek, yaitu:

Continue reading →

Glaukoma, Si Pencuri Penglihatan Yang Bisa Berakibat Fatal

Papa (alm) kehilangan penglihatan beliau di usia produktif karena glaukoma. Mengingat glaukoma bisa dikaitkan dengan faktor keturunan, saya pun banyak membaca informasi mengenai ‘si pencuri penglihatan’ ini. Termasuk melakukan pemeriksaan tekanan bola mata, walaupun belum rutin (biasanya saya lakukan sekalian mengurus penggantian kacamata). Penginnya sih bikin tulisan juga seputar glaukoma ini bertepatan dengan peringatan World Glaucoma Week yang tahun ini jatuh pada tanggal 12-18 Maret 2017. Tapi baru sempat merapikan draft catatannya sekarang, tak apa lah ya daripada tidak sama sekali.

Memanfaatkan momen World Glaucoma Week ini, Yayasan Glaukoma Indonesia menyelenggarakan Seminar Glaukoma di Klinik Mata Kirana RSCM.  Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan masyarakat akan penyakit yang acapkali baru disadari ketika sudah terlambat ini. DR. dr. Widya Artini, Sp.M (K) mengisi sesi pertama seminar yang diadakan tanggal 16 Maret 2017 ini dengan mengangkat topik Glaukoma di Indonesia. Dijelaskan oleh dr. Widya, glaukoma umumnya disertai dengan tekanan bola mata tinggi, walaupun ada juga pasien yang tekanan bola matanya normal. Tekanan bola mata diperlukan untuk menjaga bentuk tetap bulat. Aliran air masuk untuk bola mata harus seimbang dengan aliran keluar. Jika aliran ke dalam lebih dari aliran keluar, maka tekanan bola mata bisa naik, misalnya ketika ada sumbatan. Tekanan bola mata (intraokular) normal adalah sebesar 10 s.d.21 mmHg (rata-rata 14 mmHg).

Continue reading →

Memahami Gaya Belajar Anak

Materi #4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional
MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR

Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami kita lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, ketika banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.

Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar. Sehingga  anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan kadang mendapat label “bodoh”.

Zaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/pendidik:
Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar.

Dari sisi anak/siswa:
Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA.

Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak (Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik (Teaching Styles) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak (Working Styles).
Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20, yang didefinisikan Alvin Toffler sbb: Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar* (catatan Leila: kalimat aslinya adalah “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn“, menurut saya terjemahan di materi ini agak tidak pas, sudah ditanyakan ke fasilitator dan katanya akan dibicarakan di tim tetapi belum ada lanjutan lagi).

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.

Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu:
a. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak (Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya (Creative Imagination)
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu (Art of Discovery and Invention)
d. Meningkatkan akhlak mulia anak-anak (Noble Attitude).

Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha! Moment (teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?

Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.

Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.
Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak  melalui indra yang kita miliki.
Tiga macam modalitas belajar anak:
☘Auditori: modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Visual: modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
☘ Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktivitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.

Continue reading →

Party of Five, Kepingan Kisah Masa Kuliah

Tulisan ini saya buat beberapa tahun yang lalu, kalau melihat tanggal di draft-nya sih tahun 2009 ketika saya masih ngeblog di Multiply. Belum kunjung dipublikasikan karena mempertimbangkan banyak hal. Namun, kabar mengejutkan beberapa hari yang lalu membuat saya ingin memuat tulisan ini di blog yang sekarang. Sebagai pengingat bahwa kami pernah tergabung dalam sebuah ‘geng’ yang kompak pada masanya, meskipun belakangan prioritas masing-masing mengalahkan kebutuhan untuk tetap saling kontak. Selamat jalan, A, doa kami untukmu.

Continue reading →

Relasi Ibu dan Anak Perempuan, Indah tapi Rumit

Saya adalah anak perempuan yang memiliki dua orang anak perempuan. Konon, perempuan lebih sering mengedepankan perasaan dan emosi daripada logika. Alhasil, hubungan antara seorang ibu dengan anak perempuannya selain indah dan penuh kelembutan juga bisa berpotensi jadi agak rumit jika ternyata salah satu atau bahkan keduanya kesulitan mengelola emosi dengan baik. Meskipun alhamdulillah hubungan saya dengan mama dan anak-anak sejauh ini bisa dibilang baik, tetapi cerita beberapa teman membuat saya sadar bahwa sebagian anak perempuan memang menghadapi tantangan atau ujian berupa relasi yang tidak harmonis dengan seseorang yang telah melahirkannya. Penyebabnya beragam, tapi seringkali memang ada kaitannya dengan manajemen diri.

Ada masalah, pastinya ada jalan keluar dong ya. Maka ketika mengetahui bahwa Wacoal Indonesia mengadakan talk show bertema Beautiful Relationship Between Mom & Daughter, saya pun tertarik ikut menyimak. Belajar agar hubungan indah ibu dan anak tak berujung runyam tak ada salahnya, bukan? Acara yang diselenggarakan tanggal 22 April di Mal Ciputra Cibubur ini sejalan dengan kampanye Wacoal yang bertajuk Everlasting Support from Generation to Generation. Adanya gap antargenerasi semestinya tidak menjadi penghalang untuk saling memberi dukungan, bukan?

Continue reading →

Rekomendasi Menyiasati Lima Fase Pernikahan dari Ustadz Cahyadi Takariawan

Siang ini saya mengikuti Kajian Wonderful Family, atau bisa juga disebut sebagai bedah bukunya, oleh sang penulis yaitu Ustadz Cahyadi Takariawan di Masjid Al Amanah. Selama ini saya hanya menjadi penikmat buku yang beliau tulis, salah satu buku Pak Cah, begitu beliau biasa disapa, menjadi buku pertama yang saya dan suami tamatkan bersama saat menapaki awal rumah tangga. Juga belakangan status dan tulisan beliau di media sosial maupun blog, yang memang banyak berfokus pada kehidupan rumah tangga khususnya relasi suami istri. Baru kali ini saya bisa menyimak uraian dari beliau secara langsung.


Menurut Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan marriage and relationship educator & coach sebagaimana dikutip oleh Pak Cah, pada umumnya pasangan suami istri akan menapaki lima tahap dalam berumah tangga. Yang membedakan adalah berapa lama masing-masing menjalaninya. Tahap-tahap tersebut adalah:

1. Fase romantic love, bulan madu dengan suasana serbaindah dan menyenangkan. Kekurangan pasangan mudah sekali dimaklumi dan diterima, seolah tidak ada cacat. Suasana sedemikian happy sehingga di fase ini dunia seolah milik berdua, ke mana-mana maunya berdua. Lebih banyak diekspresikan secara fisik. Sisi negatifnya, fase yang ini ada titik akhirnya. Tidak ada keluarga yang bisa menjalani fase romantic love ini selama-lamanya. Umumnya fase romantic love hanya berlangsung selama 3-5 tahun. Adanya potensi akhir fase ini seringkali tidak disadari oleh pengantin baru, sehingga tidak siap dalam menghadapi benturan di tahap selanjutnya. Situasi romantic love ini juga termasuk keromantisan sebelum menikah, jadi ketika pacarannya lama maka lazimnya fase romantic love setelah pernikahan akan semakin singkat. Bila bisa dioptimalkan, sebetulnya masa romantic love bisa dijadikan landasan agar lebih siap menyongsong fase berikutnya.

Continue reading →

Rasa Nyaman dan Manajemen Jempolan, Langkah Awal untuk Jadi Apa Pun Yang Dimau

Pekan lalu saya mengikuti kegiatan blogger gathering yang diselenggarakan oleh Lactacyd bekerja sama dengan Female Daily Network di Tanamera Coffee, Kebayoran Baru. Mba Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., atau yang lebih akrab dipanggil Mba Nina, psikolog anak dan keluarga, juga Donita, celebrity mom brand ambassador Lactacyd ikut hadir. Kegiatan ini dilaksanakan bukan hanya untuk memperkenalkan varian terbaru Lactacyd yaitu Lactacyd Herbal dengan ekstrak alami susu, daun sirih, dan mawar. Tetapi juga untuk berbagi ilmu dan pengalaman agar wanita dapat tampil penuh percaya diri dan menjadi apa pun yang ia mau. Because women are special, be everything that you want.

Mba Affi Assegaf (Editorial Director FDN), pak Benyamin Wuisan (Category Head Consumer Healthcare PT Sanofi Indonesia -produsen Lactacyd), dan mba Debi Widiani (Brand Manager Consumer Health Care PT Sanofi Indonesia) menyambut para blogger di awal acara. Di antara topik yang disampaikan mba Affi, pak Benyamin, dan mba Debi dalam pembukaan adalah bahwa sebagai wanita pastinya ingin tampil percaya diri dan siap untuk bertemu dengan siapa saja. Salah satu hal yang menunjang percaya diri adalah kebersihan, termasuk kebersihan area V. Jadi memang perlu perhatian khusus, bukan hanya wajah dan kulit (yang umumnya tampak dari luar) yang butuh dirawat. Dan bukan hanya yang sudah menikah ya yang perlu merawat area V, karena setiap wanita berhak mendapatkan kenyamanan yang merupakan buah dari perawatan yang dilakukan. Lactacyd memahami kebutuhan akan hal tersebut dan menyediakan produk yang sudah teruji keamanan serta khasiatnya.

Continue reading →

Aplikasi PRIMA untuk Generasi Prima

Masih dari Seminar Sehari All About Vaccination, di antara presentasi soal vaksinasi ada sesi khusus pengenalan aplikasi digital PRIMA untuk pantau tumbuh kembang anak oleh dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A.(K), MPH. Dokter Bernie ini adalah salah satu dokter dari IDAI yang mencetuskan ide lahirnya aplikasi tersebut. Saya sudah pernah membaca-baca mengenai aplikasi tersebut di blog beberapa teman pasca-peluncurannya pada hari anak nasional 23 Juli tahun lalu, tapi belum sempat memasangnya di hp.

Dokter Bernie mengingatkan bahwa ada yang disebut dengan 1000 hari pertama kehidupan yaitu 270 hari masa gestasi (kandungan) ditambah dengan 730 hari pascaanak dilahirkan, di mana terjadi perkembangan fisik dan otak yang sangat pesat. Hal-hal seperti malnutrisi, cedera, prematuritas, infeksi, gangguan hormonal, kelainan kongenital, dan faktor lingkungan bisa mengganggu optimalisasi 1000 hari pertama kehidupan.

Continue reading →