Lip Tie yang Mengintai

Sekitar lima tahun yang lalu ketika saya menyusui Fathia, tongue tie dan lip tie ini sepertinya belum terlalu popoler dibicarakan di forum-forum ibu menyusui di sini. Belakangan muncul ‘kehebohan’ setelah beberapa bunda posting di media sosial terkait diagnosis tongue tie anaknya disertai foto, lalu banyak di-share, dan ramailah ibu-ibu yang lain ikut mengunggah foto anaknya, menanyakan apakah anaknya ada masalah serupa.

Beberapa orang kemudian mengistilahkannya sebagai semacam ‘epidemi’ baru, karena konon kian banyak tenaga kesehatan yang memberikan diagnosis ini (berikut rekomendasi tindakan bedah untuk mengatasinya).

Muncullah pro dan kontra. Ada yang menganggap kok kondisi ini seperti menjadi kambing hitam dan mudah sekali dilakukan tindakan invasif seperti bedah (walaupun minor), padahal seharusnya bisa diupayakan langkah-langkah lain terlebih dahulu. Sudah bedah pun, belum tentu lancar dan bisa saja nyambung lagi. Yang lain berpendapat tongue tie maupun lip tie tidak boleh diremehkan, tidak ada salahnya waspada dan tindakan jangan sampai ditunda karena efeknya bisa ke pertumbuhan bayi yang terhmbat (karena bayi kesulitan melekat dengan baik jadi ASI yang terambil tidak maksimal dan ibu pun kesakitan).

Ketika seorang dokter anak memposting hal ini pun tanggapan netizen beragam, ada yang memberi testimoni anaknya bisa’ lulus’ tanpa bedah, cukup dengan pemosisian yang pas dan ketelatenan, ada juga yang bilang bersyukur karena anaknya segera mendapatkan tindakan bedah dan selanjutnya memang terasa bedanya, lebih nyaman buat bunda maupun bayinya.

Saya copas dari Detikhealth:

Jakarta, Selain tongue tie, bayi baru lahir juga berisiko mengalami lip tie. Kondisi ini kadang-kadang juga memerlukan tindakan serupa tongue tie seperti frenotomi.

Menurut dr Meta Hanindita, SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, lip tie memiliki empat kelas. Kelas satu, frenulum bibir atas melekat di bagian atas gusi. Kelas dua, frenulum melekat di sebagian besar gusi. Kelas tiga, frenulum melekat di bagian depan papila (jaringan lunak di tepi gusi). Kelas empat, frenulum menempel ke papila memanjang sampai ke bagian dalam gusi.

“Penyebab munculnya lip tie belum bisa dipastikan tapi diperkirakan ada faktor genetik. Lip tie bisa jadi berpengaruh pada proses menyusui, bergantung kelasnya,” ujar dr Meta kepada detikHealth dan ditulis pada Selasa (9/2/2016).

dr Meta menambahkan, lip tie pada kelas berat biasanya harus dilakukan tindakan frenotomi, terutama jika ditemukan ada masalah menyusui setelah dilakukan evaluasi. “Kalau lip tie tidak dilakukan frenotomi, kalau tumbuh gigi bisa jadi ada yang tumbuh renggang. Atau sering juga terjadi kerusakan gigi seri atas karena sisa makanan menumpuk di kantong antara lingual frenulum dan bibir,” imbuhnya.

Baca juga: Infografis: 4 Tipe Tongue Tie pada Bayi

Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengobati lip tie menurut dr Priscilla, SpBP-RE atau dr Priscil dari RS Bunda Jakarta yaitu frenulotomy atau frenotomy atau frenectomy. “Kalau di lidah, untuk tongue tie namanya lingual frenectomy, di bibir jadi labial frenectomy,” tutur dr Priscil.

Berbeda pendapat dengan dr Meta, dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA atau dr Tiwi, dari RS Bunda Jakarta justru menyebutkan bahwa lip tie tidak berpengaruh pada proses menyusui dan biasanya tidak memerlukan tindakan apapun.

Dari pengalamannya menjadi Satgas PP ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Tiwi mengatakan dirinya hampir tak menemukan bayi dengan lip tie yang memiliki masalah dalam menyusui atau memerlukan tindakan khusus.

“Saya pribadi tidak pernah melihat bahwa lip tie punya peran dalam proses menyusui. Pada derajat yang berat mungkin pertumbuhan gigi atas akan lebih rengggang tapi saya rasa itu bukanlah sesuatu yang harus diintervensi segera pada saat bayi. Saya melayani hampir puluhan bayi setiap hari untuk menyusui. Pada tahun 2015 hanya menemukan satu kasus yang benar-benar perlu tindakan,” terang dr Tiwi.

Nah, untuk lebih memastikan apakah anak dengan lip tie membutuhkan tindakan medis atau tidak, sebaiknya orang tua segera memeriksakan anak ke dokter. Nanti akan diperiksa apakah kondisi tersebut mengganggu proses menyusui dan tumbuh kembangnya, atau tidak. Dengan begitu, tindakan medis pun bisa diberikan lebih tepat dan sesuai dengan kondisi anak.

Baca juga: Sulit Menyusu, Bobot Bayi dengan Tongue Tie Derajat Berat Bisa Menurun

http://health.detik.com/read/2016/02/09/201119/3138024/775/bayi-juga-berisiko-mengalami-lip-tie-lho-apa-itu

Continue reading

Aktivitas Menyusui Yang Membuka Cakrawala Baru

Saya kira saya sudah siap dan paham mengenai dunia ASI dan menyusui ketika saya melahirkan anak pertama. Saya sudah bergabung dengan milis ibu menyusui lima tahun sebelum hamil, beberapa teman kantor pun telah menjadi contoh langsung bagi saya tentang bagaimana mengelola ASI perah sebagai ibu bekerja. Buku-buku referensi yang membahas ASI juga telah saya koleksi.

Di usia enam tahun saya bahkan bisa memberi saran pada mama (waktu itu saya baru punya adik) soal mengatasi bayi ‘ngempeng’ tapi tidak aktif menyusu, berkat majalah langganan mama. Lagipula, menyusui adalah hal yang alamiah, bukan?

Ternyata urusan ASI dan menyusui tidaklah sesederhana itu. Bahwa bayi bisa bertahan dengan cadangan makannya dan kalaupun butuh ASI masih sangat sedikit di tiga hari pertama pascapersalinan, itu saya tahu. Pihak rumah sakit tempat saya melahirkan juga alhamdulillah cukup mendukung ASI, termasuk dengan memberikan kelas breast care yang di antaranya mencakup pula praktik posisi menyusui yang tepat.

Ketika putri mungil saya menangis terus di hari-hari pertamanya di rumah akibat tak bisa melekat dengan baik, saya masih bisa menenangkan diri bahwa ‘semua akan berlalu pada waktunya’, sehingga tak berlanjut ke kepanikan akan kecukupan (ketidakcukupan, lebih tepatnya) ASI. Sewaktu tetangga datang menjenguk dan bilang hati-hati kalau pipi bayi terciprat ASI bisa merah-merah karena ASI itu keras, saya menanggapi dengan senyuman karena pernah membaca bahwa itu hanyalah mitos.

Continue reading

Kapan Sebaiknya Mulai Stok ASI?

Kapan sih waktu yang tepat untuk mulai memerah atau memberdayakan pompa ASI setelah melahirkan? Dulu, kalau ada yang nanya di grup ASI yang saya ikuti (dan di grup-grup lain juga) kapan sebaiknya mulai stok ASIP, banyak yang jawab: sesegera mungkin.

Kenapa memangnya the sooner the better? Alasannya banyak, di antaranya:

  • Agar makin banyak stok ASI Perah (ASIP) di kulkas atau freezer yang siap untuk digunakan, supaya enggak deg-degan di awal nanti mulai bekerja lagi. Ibu jadi lebih tenang memasuki dunia kerja kembali
  • Menyediakan ASIP sebagai sarana latihan memberikan ke bayi dengan media pilihan, agar nantinya penyajian ketika ditinggal kerja betulan sudah lancar
  • Membiasakan pakai pompa ASI atau memperlancar teknik perah tangan. Karena memerah ASI itu merupakan keterampilan yang perlu dilatih, kan? Makin sering berlatih biasanya makin luwes dan paham triknya
  • Karena bayi memang memiliki kondisi khusus, ada yang harus terpisah dengan ibu karena perawatan intensif, kelainan anatomi bawaan yang menyulitkan penyusuan langsung, atau kenaikan berat badan bayi kurang sehingga dianggap perlu intervensi berupa suplementasi atau top up dari ASI perah ibu sendiri yang diberikan dengan media lain di sela-sela waktu menyusu
  • Penasaran dan akhirnya ingin mengecek, sebetulnya betul nggak sih ASI-nya sedikit? Kok bayi nangis melulu, dan orang-orang mulai berkomentar, “Gara-gara ASI-nya kurang, tuh…”
  • Berjaga-jaga siapa tahu ibu ada perlu mendadak keluar, misalnya mengurus urusan administrasi yang tidak memungkinkan untuk bawa bayi dan tidak bisa diwakilkan
  • Karena ibu merasa payudara bengkak di sela-sela jam menyusui, dan bayi belum kelihatan lapar lagi atau sulit dibangunkan, sayang kalau dibiarkan saja sampai sakit dan rembes.

Nah, ternyata jawaban ‘lebih awal lebih baik’ untuk menimbun ASIP ini tidak pas.

Membaca postingan di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang nanti saya kutip di bagian bawah tulisan bikin saya senyum-senyum sendiri (senyum kesentil maksudnya) mengingat saya pun sudah mulai memerah ASI sejak hari-hari awal pasca-melahirkan. Padahal tidak ada indikasi yang bikin saya harus memompa.

Setelah melahirkan Fathia, saya memerah ASI karena Fathia kesulitan melekat dengan baik. Jadi ASIP saya perah untuk kemudian disuapkan dengan sendok. Pendekatan yang salah tentunya, karena seharusnya saya lebih fokus pada upaya mencari posisi yang pas dan kontak kulit sebanyak mungkin agar proses menyusui secara langsung lebih lancar.

Continue reading

Demi Oleh-oleh ASIP untuk Anak Tercinta

Tema besar World Breastfeeding Week alias Pekan ASI Dunia tahun lalu adalah “Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work!“. Kenapa sampai ditekankan soal ibu bekerja? Karena menyusui dengan status sebagai ibu bekerja, lebih khususnya bekerja di luar rumah, punya tantangan khasnya sendiri. Dari soal mengatur waktu memerah (harus rutin, kan, kalau tidak produksi ASI terancam dihambat karena payudara dibiarkan penuh terlalu lama),  mencari tempat memerah yang nyaman (tidak semua kantor menyediakan tempat khusus pumping, belum lagi kalau ada tugas lapangan), pandangan heran teman sekerja (ada teman di dunia maya yang katanya dijuluki tukang es karena bawaan cooler bag dkk-nya), bawaan sehari-hari yang nambah (minimal banget botol ASIP dan es pendingin, kalau memerah dengan tangan), melatih anak (sebetulnya lebih ke melatih pengasuhnya, biasanya :D) minum ASIP dengan media yang tepat, sampai ini nih…gimana kalau mendadak jadi harus meninggalkan bayi beberapa hari untuk urusan pekerjaan?

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas (kalau kerepotan mengatur jadwal pumping di ruangan yang disediakan kantor sih iya, hehehe…takut aja diprotes kok loketnya suka kosong, padahal sudah ada aturan pelindungnya ya). Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget. Walaupun sebetulnya kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan.

Continue reading

Ketika Harus Berpisah dengan Calon Buah Hati

Status seorang teman membuat saya tersentak beberapa pekan yang lalu. Beliau mengalami keguguran di kehamilannya yang keempat.

Dulu, ketika tinggal di satu kota, kami sedang dalam kondisi sama-sama hamil setelah sebelumnya keguguran. Alhamdulillah kehamilan kami waktu itu berjalan lancar hingga saya melahirkan anak pertama dan beliau melahirkan anak kedua. Kebetulan keguguran yang saya alami juga terjadi di bulan Agustus, tepatnya awal Agustus 2010, di usia kandungan 9 minggu. Itu kehamilan saya yang pertama setelah empat tahun menikah.

Dari dulu sampai sekarang, tiap mendengar kabar keguguran pastilah jadi banyak dugaan penyebab yang dilontarkan orang-orang di sekitar. Dalam kasus teman di atas, beberapa kawan kami menerka bahwa kesibukan beliaulah yang memberi pengaruh, atau dengan kata lain kecapekan karena aktivitas.

Saya sendiri sempat mengira kehamilan saya tidak berlanjut karena kelelahan, mengingat sebelum sadar kalau hamil saya memang menjalani tugas dinas ke luar pulau, sempat jalan kaki keliling lumayan jauh pula. Tapi, dokter kandungan saya menyatakan bukan itu penyebabnya, melainkan diduga merupakan semacam mekanisme alami karena hasil pembuahan yang memang kurang baik sejak awal. Lupa sih waktu itu tergolong kematian mudigah (death conceptus/kematian embrio, ketika sudah pernah terdeteksi detak jantung janin, umumnya mulai usia kandungan 7 minggu) atau bukan, dokternya tidak menyebutkan diagnosis tersebut.

miscarriage

(gambar dari 123rf)

Jadi, secara ilmiah, apa sih yang sebetulnya menyebabkan terjadinya keguguran? Berikut saya terjemahkan dari March of Dimes, salah satu situs mengenai kehamilan dan kandungan tepercaya:

Keguguran adalah suatu kondisi di mana bayi meninggal di dalam rahim sebelum usia kandungan 20 pekan.

Penyebab keguguran belum semuanya diketahui. Beberapa kemungkinan meliputi:

  1. Masalah kromosom, yang menjadi penyebab lebih dari setengah keguguran pada trimester pertama. Masalah kromosom ini terjadi jika sel telur atau sperma memiliki terlalu banyak kromosom sehingga ketika dipasangkan jumlahnya ‘salah’ dan inilah yang dapat memicu keguguran.
  2. Kehamilan kosong/blighted ovum, jadi telur yang telah dibuahi melekat di rahim tetapi tidak berkembang menjadi embrio. Penyebabnya bisa karena masalah kromosom juga. Umumnya akan ada gejala pendarahan dengan warna coklat tua.
  3. Merokok, mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan.
  4. Kondisi kesehatan ibu. Terdapat beberapa masalah kesehatan yang meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, misalnya masalah hormon, infeksi, diabetes, penyakit tiroid, lupus dan penyakit autoimun lainnya. Terkadang penanganan yang baik sejak sebelum hamil dapat membantu menolong agar kehamilan bisa berjalan dengan sehat dan lancar.
  5. Ada beberapa studi yang menyatakan bahwa terlalu banyak kafein (biasa terdapat dalam kopi, teh, coklat, minuman bersoda, obat-obatan tertentu) dapat mengakibatkan keguguran, tapi penelitian-penelitian yang lain tidak sependapat. Amannya, batasi konsumsi kafein maksimal 200mg/hari saat sedang hamil.
Untuk kasus keguguran berulang, beberapa penyebab yang sudah diketahui adalah:
  1. Masalah pada rahim maupun leher rahim (serviks), misalnya bentuk rahim yang abnormal (sebagian bisa diatasi melalui operasi), fibroid maupun luka operasi pada rahim, inkompetensi leher rahim (mulut rahim lemah dan terbuka terlalu awal, biasanya pada trimester kedua dan dapat dicegah dengan semacam jahitan keliling/cerclage).
  2. Masalah kromosom, sama dengan di atas, tetapi kalau sampai berulang maka baiknya ayah maupun ibu menjalani tes karyotype.
  3. Sindrom antifosfolipid, suatu kondisi sistem kekebalan tubuh yang meningkatkan risiko penggumpalan darah di plasenta. Treatmnet-nya biasanya dengan aspirin dosis rendah dan obat-obatan pengencer darah.
  4. Masalah hormon, misalnya hormon progesteron yang rendah atau bisa juga PCOS (polycystic ovary syndrome) yaitu kista (kantong berisi udara, cairan, atau benda lain yang semi-padat) pada indung telur/ovarium.
  5. Thrombophilias, suatu kondisi penggumpalan darah yang sifatnya menurun.
  6. Infeksi khususnya yang menyerang organ reproduksi seperti ovarium, rahim, maupun leher rahim.
  7. Bahan kimia berbahaya, misalnya jika salah satu dari orangtua sehari-hari karena pekerjaan bersinggungan dengan zat kimia, termasuk pengencer cat.

Sedangkan situs Medscape menyebutkan etiologi keguguran di antaranya sebagai berikut:

  1. Abnormalitas genetik dalam embrio (misalnya terkait kromosom)
  2. Usia ibu maupun ayah yang lanjut.
  3. Abnormalitas struktural pada saluran reproduksi termasuk kelainan bawaan pada rahim, fibroid, inkompetensi serviks.
  4. Defisiensi korpus luteum (massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya–wiki).
  5. Infeksi aktif misalnya virus rubella, cytomegalovirus, listeria, toksoplasma, malaria, brucellosis (infeksi yang disebabkan bakteri yang berasal dari hewan –biasanya hewan ternak– ke manusia), HIV, demam dengue, influenza, dan infeksi bakteri pada vagina.
  6. PCOS.
  7. Diabetes mellitus yang tidak dikendalikan dengan baik.
  8. Penyakit ginjal.
  9. Systemic lupus erythematosus (SLE)
  10. Penyakit tiroid yang tidak ditangani.
  11. Hipertensi/tekanan darah tinggi yang parah
  12. Sindrom antifosfolipid.
  13. Konsumsi tembakau, alkohol, kafein dosis tinggi.
  14. Stres.
  15. Obat-obatan tertentu.
  16. Obesitas/kegemukan (indeks massa tubuh/BMI di atas 30).

Berapa lama harus menunggu sebelum boleh usaha lagi untuk kehamilan berikutnya pasca keguguran? Dokter kandungan saya dulu menyarankan tunggu 3 kali siklus menstruasi normal, jadi selama masa itu diusahakan tidak ada pertemuan sel telur dengan sperma (menggunakan alat kontrasepsi). Kompilasi beberapa penelitian yang dikutip oleh WebMD malah mengindikasikan bahwa kehamilan dalam 6 bulan pertama setelah keguguran cenderung lebih baik kondisinya (risiko komplikasi lebih kecil, tentunya ini kondisi pada umumnya ya), meskipun WHO dalam guideline-nya mencantumkan 6 bulan merupakan jarak minimal.

March of Dimes menyatakan sekali siklus normal biasanya sudah menandakan tubuh siap untuk hamil lagi sedangkan bagian lain dari WebMD menyebutkan 1-3 siklus haid, tetapi kedua situs tersebut juga mengingatkan bahwa keguguran juga punya efek emosional yang biasanya perlu waktu untuk pemulihan sehingga sisi psikologis ini juga harus dipertimbangkan. Termasuk menggarisbawahi agar ibu tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas kejadian tersebut.

Ya, keguguran memang bukan cuma perkara tubuh yang mengalami perubahan dan butuh penanganan, melainkan juga bisa jadi topik sensitif. Suami istri baiknya saling mendukung (bisa juga mencari pertolongan dari supporting group atau ahlinya), termasuk dalam menyaring informasi dan masukan dari pihak luar yang bermaksud baik tetapi terkadang penyampaiannya kurang pas.

Oh ya, sekalian, saya sertakan tulisan mengenai hukum darah yang keluar pada saat/setelah keguguran. Apakah dihukumi darah nifas atau darah penyakit? Sholatnya bagaimana?

Saya sendiri dulu mengalami pendarahan sehari sebelum hingga sehari setelah kuret (bahasa sononya D & C atau dilation and curettage) dilaksanakan, kemudian sempat berdarah lagi ketika kembali bekerja lima hari kemudian. Saya kutip kesimpulan dari situs dr. Raehanul Bahraen, lebih afdol sih baca sendiri lengkapnya di sana ya supaya paham keseluruhan dalilnya.

-yang menjadi patokan adalah sudah terbentuk rupa janin atau tidak (misalnya yang keguguran keluar ada bentuk tangan dan kaki, jika sudah terbentuk maka dianggap nifas, jika tidak maka dianggap darah biasa, wanita tersebut suci (tetap shalat, puasa dan hala bagi suaminya berhubungan dengannya).

-jika terjadi keguguran masih di bawah 80 hari, maka bukan darah nifas, wanita tersebut masih suci.

-jika telah di atas 80 hari perlu dipastikan apakah sudah terbentuk rupa fisik manusia tidak, misalnya bertanya kepada dokter terpercaya.

-jika di atas 90 hari (3 bulan) maka dihukumi dengan darah nifas.

Demam Lebih dari 3 Hari, Wajibkah Cek Darah?

Beberapa waktu yang lalu, dr. Apin posting tentang tes lab yang seringkali dilakukan oleh para orangtua ketika buah hatinya sudah beberapa hari demam (nanti akan saya kutip di bawah). Yang saya baca sih, beberapa orangtua sudah tahu bahwa ada batasan tiga hari atau 72 jam untuk cek darah ketika ada yang demam, karena kalau sebelum itu maka penyakit seperti demam dengue (lazimnya disebut sebagai demam berdarah) belum terdeteksi keberadaannya. Karena belum terdeteksi, akhirnya malah bisa berujung hasil negatif palsu alias dianggap bukan padahal iya, baru terlihat setelah fase tertentu.

Saya pun pernah ke puskesmas dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan tanpa batuk pilek, oleh dokter di sana saya tetap tidak disarankan cek lab karena menurutnya tidak akan kelihatan juga di hari kedua. Tentu kalau ada tanda kegawatdaruratan seperti tanda awal dehidrasi, sesak napas, kehilangan kesadaran/tidak respon, harus dibawa ke IGD segera ya (dan bukan ke lab dulu). Tapi benarkah kalau sudah lebih dari 3 hari memang sudah harus cek lab?

Lebih lanjut, apakah cek lab itu melulu hanya cek darah? Bagaimana dengan tes pipis atau urin? Tes ini juga sudah sering disarankan di beberapa grup kesehatan anak, tetapi sepertinya tidak terlalu sering dijadikan prosedur. Setidaknya, jarang ada teman yang cerita anaknya demam lalu bilang diminta tes urin. Hampir selalu pada cerita tes darah. Tapi pernah seorang sahabat, setelah diskusi dengan teman-teman grup, menyampaikan pandangan ke dokter apakah mungkin perlu cek urin alih-alih tes darah yang awalnya diminta. Ketika itu anaknya demam beberapa hari tanpa batpil. Permintaan itu dikabulkan dan ternyata memang bayinya terkena infeksi saluran kemih (ISK).

Kalau pengalaman saya pribadi, karena dokter keluarga kami cukup mudah dihubungi untuk konsultasi dan saya sudah sering mengikuti sesi sharing beliau beserta kawan-kawannya (termasuk dr. Arifianto ‘Apin’, Sp.A.), juga alhamdulillah atas izin Allah tidak pernah sampai pada tahap gawat, saya belum pernah sampai cek lab untuk memastikan penyakit anak-anak. Kalaupun cek lab, biasanya malah (disarankan) bukan dalam keadaan demam, yaitu untuk screening zat besi. Tapi paham juga sih kalau orangtua pastinya ingin yang terbaik, makin cepat diketahui penyebab demamnya kan bisa makin cepat juga ditangani dengan tepat dan harapannya lekas sembuh, anak merasa nyaman kembali.

Di sisi lain, beberapa dokter yang aktif mengedukasi masyarakat juga mengingatkan, cek lab itu juga berisiko, baik risiko trauma pada anak, risiko tertular penyakit dari pasien lain di tempat periksa, risiko biaya (kalau menurut pengobatan rasional menurut WHO kan ada juga prinsip tepat biaya, artinya kalau tidak perlu kan sayang juga uangnya–meskipun orangtua pastinya nggak akan merasa sayang keluar uang untuk kesehatan keluarga), sampai risiko ‘mengobati hasil lab’ padahal seharusnya yang diobati adalah sesuai klinis pasiennya bukan hanya bagaimana agar angka di lembar hasil berubah.

Berikut tulisan dr. Apin selengkapnya:

Wednesday, December 09, 2015
Demam lebih dari 3 hari harus diperiksakan ke laboratorium?

Topik ini sepertinya sudah lebih dari sekali saya bahas, dalam thread yang berbeda. Tapi tak apalah, karena masih banyak yang bingung juga. Demam yang didefinisikan sebagai suhu tubuh lebih dari 38 derajat selsius, adalah salah satu penyebab tersering orangtua membawa anaknya ke dokter. Makanya dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebutkan istilah “fever phobia”.

Nah, lalu bagaimana dengan demam yang cenderung suhunya berkisar di atas 39 derajat selsius dan tidak disertai gejala penyerta lain? Tidak ada batuk, pilek, atau diare. Ya, kalau sejak awal demam disertai batuk dan pilek, kita sudah dapat memperkirakan penyakitnya adalah selesma (common cold) dan seharusnya tidak ada kekhawatiran lebih lanjut (ingat, selama tidak disertai tanda kegawatan ya!). Lalu bagaimana dengan demam yang tidak jelas diagnosisnya ini? Perlukah dibawa segera ke dokter? Kapan? Apakah patokannya “tepat 3 hari” alias 72 jam? Dan haruskah segera diperiksakan laboratorium?

Demam dengan suhu > 39 derajat selsius tanpa gejala penyerta yang jelas, berlangsung kurang dari 7 hari, dan terjadi pada anak berusia 3 – 36 bulan disebut juga dengan fever without source (FWS). Ada juga yang menyebutnya fever without focus atau fever with uncertain source. Umumnya bisa dibagi 2, yaitu anak tampak sakit (cenderung lemah/lesu sepanjang waktu) dan masih relatif aktif (ketika demam anak tampak lemas/rewel, tetapi ketika suhu turun anak kembali aktif bermain/beraktivitas).

Kondisi pertama tentunya mengharuskan segera ke dokter. Tidak perlu memikirkan dulu perlu/tidaknya pemeriksaan laboratorium, tetapi segera bawa ke dokter untuk memastikan kemungkinan diagnosisnya. Kondisi kedua membuat orangtua seharusnya lebih tenang dalam mengobservasi kondisi anaknya dalam 3 hari, atau bahkan lebih. Hal terpenting yang harus diperhatikan orangtua adalah: pastikan anak tidak dehidrasi atau kekurangan cairan. Ya, peningkatan suhu tubuh meningkatkan risiko penguapan dan terbuangnya cairan tubuh. Makanya semua anak yang demam harus banyak minum. Pastikan anak tidak dehidrasi.

Bukankah makin tinggi suhu meningkatkan risiko kejang demam? Sudah berkali-kali dibahas, jawabannya adalah: tidak. Dehidrasi justru lebih dikhawatirkan dibandingkan kejang pada anak yang demam.

Lalu makin tinggi suhu bukankah menggambarkan makin beratnya penyakit? Lagi-lagi ini sudah pernah dibahas: jawabannya adalah tidak. Bisa saja demamnya tidak terlalu tinggi tetapi anaknya sakit pneumonia atau meningitis yang mengancam jiwa. Sebaliknya, sangat mungkin demamnya tinggi, tapi sakitnya hanya selesma saja.

Apa yang dikhawatirkan dari kondisi pertama (anak yang cenderung lemah sepanjang hari)?

Bagaimanapun juga, penyebab tersering demam pada anak adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya. Tentunya antibiotik sama sekali tidak diperlukan pada infeksi virus.

Pada kondisi pertama, beberapa diagnosis penyakit yang paling dikhawatirkan adalah meningitis (radang selaput otak) dan pneumonia (radang akibat infeksi di jaringan paru). Makanya orangtua harus paham benar apa saja kondisi gawat darurat pada anak. Pada meningitis, terdapat tanda-tanda kekakuan tubuh (iritasi selaput otak), penurunan kesadaran, sampai kejang dan kematian. Sedangkan pada pneumonia, anak terlihat sesak napas, bisa dinilai dari gerakan dinding dada dan napas cuping hidungnya. Segera bawa anak ke dokter.

Kondisi kedua adalah keadaan yang paling sering terjadi, yaitu sakitnya sebenarnya “ringan saja” dan tidak potensial mengancam nyawa. Perlukah anak dibawa ke dokter pada FWS? Ya, untuk memastikan apakah diagnosisnya saat itu.
Kalaupun dokter belum bisa memastikan diagnosis pastinya, maka sebut saja FWS.

Apakah pemeriksaan laboratorium perlu dikerjakan pada FWS yang sudah lebih dari 3 hari? Sebenarnya dokte lah yang menentukan perlu tidaknya. Satu hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah: jangan melulu pemeriksaan darah yang harus dikerjakan.

Pemeriksaan air seni alias urinalisis adalah pemeriksaan wajib pada anak FWS. Mengapa? Banyak FWS yang ternyata diagnosisnya adalah infeksi saluran kemih alias ISK. Padahal gejalanya hanya demam saja, dan ditemukan banyak kuman (bakteri) di pemeriksaan urinalisis. Diagnosis ISK jelas adalah infeksi bakteri yang obatnya adalah antibiotik (diberikan setelah sampel untuk kultur urin diperiksa).

Di sini lagi-lagi saya tegaskan bahwa pemeriksaan urin sangatlah penting dan seharusnya rutin dikerjakan. Pemeriksaan ini sama sekali tidak menyakitkan. Bandingkan saja dengan anak yang ditusuk jarum untuk pemeriksaan laboratorium darah.

Apa saja kira-kira penyakit yang sering terjadi pada FWS?

Penyebabnya sangat bervariasi. Yang cukup serjng terjadk dalam pengalaman sehari-hari adalah:
– Common cold. Ya, batuk-pilek bisa saja demamnya setelah masuk hari keempat atau lebih baru muncul batuk-pilek. Ini adalah infeksi virus yang tidak perlu dikhawatirkan. Kecuali di luar dugaan mencetuskan serangan yang menyebabkan sesak napas.
– Roseola alias “tampak” (bukan campak lho yaa…). Ini pun jelas infeksi virus, tetapi anak yang orangtuanya tidak sabaran tidak jarang yang langsung berinisiatif memeriksakan laboratorium darahnya. Ruam-ruam di tubuh baru muncul setelah melewati hari ke-3, bahkan ke-5 demam. Anak tampak jauh lebih aktif sesuah ruam memenuhi seluruh tubuh.
– Demam Dengue atau DBD. Ini yang hampir selalu terlintas di benak orangtua untuk selanjutnya segera memeriksakan sendiri laboratorium darah anaknya. Pelajari ciri-ciri DD dan DBD.
– Infeksi saluran kemih. Ingat, gejala ISK pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Bisa saja anak demam tanpa gejala lain, ternyata sakitnya adalah ISK. Maka jangan lupa mintakan pemeriksaan urin rutin, bahkan kultur urin jika perlu, untuk pasien-pasien semacam ini.
Demam tifoid tidak dipikirkan dalam FWS, karena demamnya berlangsung selama minimal 7 hari.

Continue reading

Kliping Susah Makan

Kliping bahasan seputar problem makan anak (cenderung ke kesulitan makan ya) ini sedikit banyak terinspirasi postingan mba Luchantiq di https://keluargasehat.wordpress.com/category/problem-makan/. Semacam nambahin aja sih berhubung beliaunya belum sempat update blog lagi kayaknya.

================================================================

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I, diposting di Milis Sehat)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (<6 bulan) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Seperti kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

Continue reading

Serba-serbi “ASI Sedikit”

Sebagai salah satu emak rempong yang sok bantu-bantu di grup TATC, terus terang kadang kewalahan juga dengan postingan yang masuk. Banyak pertanyaan serupa yang berulang, yang jujur awalnya bikin gemes tapi lama-lama saya sadar juga bahwa mengikuti perkembangan ilmu di berbagai bidang sekaligus sebagai seorang ibu itu memang tidak terlalu mudah. Jadi ya tetap diusahakan jawab dengan baik.

Masalahnya, saya mengakses facebook hampir selalu melalui hape. Lumayan keriting juga jempol ngetik ulang begitu rupa, hehehe… Kalau soal repot ngetik ini masih mending sih, toh biarpun pakai sepuluh jari sama aja makan waktunya. Nah soal keterbatasan waktu ini juga yang jadi kendala. Postingan pertanyaan yang masuk kan banyak dan semuanya pasti menunggu jawaban. Jadi, agar menghemat waktu dan tenaga (tugas harian saya bukan hanya cek grup, kan), akhirnya saya meniru trik beberapa admin grup lain: bikin template jawaban di note ponsel. Cukup membantu alhamdulillah, apalagi saya sering menyertakan link sumber informasi. Buka ulang linknya biar bisa dikopi bahkan walaupun sudah dibookmark di hp lumayan makan waktu.

Maksud saya membiasakan nambahin tautan ini sih biar semua sama-sama belajar, supaya nggak sepenuhnya ‘kasih ikan’ melainkan juga kasih ‘kail’. Yang baca semoga jadi tertarik mempelajari lebih lanjut (mengenai topik berkenaan bahkan mungkin jadi klik-klik bahasan lain yang juga bermanfaat) dan yang dipelajari juga lebih ‘sahih’, bukan sekadar testimoni atau pemahaman yang didapatkan adalah “kata grup TATC begini nih…”. Saya pun ikutan belajar kalau ada yang mengoreksi atau menambahkan. Lagian saya kan memang belum ‘sah’ jadi konselor laktasi resmi (kapan ya bisa ikutan PKM, ambil cutinya itu yang rada sayang huhuhu…). Memang jadinya menjawab kopas-kopas begitu kayak agak kurang personal ya, tapi sementara ini cara tersebut menolong saya. Di dokumen grup juga bukannya tak ada sih materi FAQ alias pertanyaan yang sering masuk, tapi lagi-lagi alasan waktu agaknya bikin dokumen semacam itu kurang dilirik.

Menjawab pertanyaan seputar ASI yang dirasa sedikit, seret, atau tidak cukup:

Agar ASI bisa memenuhi kebutuhan bayi (tidak harus ‘banyak’ lho, tapi karena menurut cerita menyusuinya sempat tidak intensif maka memang perlu ditingkatkan) kuncinya satu: susui terus.
Paling efektif ASI dikeluarkan dengan isapan mulut bayi, tapi saat ini perlu juga meningkatkan produksi karena kadang bayi menolak karena alirannya sudah lebih lambat daripada dot yang biasa dipakai.

Continue reading

Sejarah Gelar S1 S2 S3 ASI

Istilah S1, S2, dan S3 ASI umumnya tidak asing di kalangan ibu menyusui. Titel ini diberikan untuk pencapaian menyusu eksklusif selama 6 bulan pertama (S1), ASI diteruskan hingga usia bayi setahun (S2), dan lanjut tetap mendapatkan ASI sampai umur anak 2 tahun (S3). Ada yang menambahkan sih, kalau sudah berhasil weaned alias disapih (sudah melalui masa WWL-weaning with love/disapih dengan cinta) setelah usia 2 tahun artinya berhak dapat gelar Profesor ASI.
Beredar juga template semacam sertifikat yang bisa diedit sendiri dengan penambahan nama dan foto anak sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Ada versi AIMI, ada juga versi komunitas lain seperti Tambah ASI Tambah Cinta atau TATC yang saya ikut aktif sebagai adminnya. Belakangan ada pula yang membuatkan sertifikat untuk ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang sudah mendukung kesuksesan pencapaian dalam pemberian ASI, agar semua yang berpartisipasi turut punya cendera mata.
Suatu hari ada member yang bertanya di grup TATC mengenai ‘gelar kesarjanaan’ ini. Saya jadi terpikir untuk mencari tahu lebih jauh, bukan sekadar menjawab menerangkan arti dari masing-masing gelar. Karena setahu saya yang pertama mempopulerkan adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), jadi saya coba menelusuri mailing list atau milis asiforbaby di yahoogroups yang menjadi cikal bakal terbentuknya AIMI. Ternyata memang ada penjelasan dari wakil ketua sekaligus salah satu pendiri AIMI mengenai gelar tersebut.

Continue reading

Sehat Itu Mudah dan Murah

Penting banget, nih.

 

purnamawati's avatarBe Smarter Be Healthier

Purnamawati Sujud Pujiarto

Edisi 645 | 28 Jul 2008 |

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga…

View original post 2,609 more words