Easy Gembira, Nyuci Enteng Berbonus Me Time Berkualitas

Beberapa waktu yang lalu dokter keluarga kami yang aktif melakukan edukasi tentang diet dan olahraga yang baik dan benar sempat menjawab pertanyaan seseorang di media sosial terkait apakah aktivitas yang biasa dilakukan ibu-ibu bisa digolongkan sebagai olahraga. Misalnya mencuci, menyapu, dan mengepel. Jawaban beliau, kegiatan seperti itu termasuk aktivitas fisik, dan untuk tahu apakah bisa dihitung sebagai olahraga maka kita bisa cek apakah kita mudah lelah atau tidak, bagaimana lingkar pinggang, juga berapa kadar gula darah dan kolesterol kita. Jika badan terasa kurang fit apalagi nilai tes gula darah dan kolesterol di luar batas normal, bisa jadi aktivitas kita masih belum mencukupi untuk disebut sebagai olahraga.

Masalahnya, ibu-ibu pada umumnya mengeluhkan minimnya waktu yang tersedia. Yang di rumah sibuk dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, yang kerja kantoran mungkin berangkat gelap pulang juga sudah gelap plus waktunya sepertinya lebih asyik dihabiskan untuk quality time dengan keluarga. Jadi boro-boro me time deh, termasuk menyisihkan waktu khusus untuk olahraga.

Nah, bagaimana kalau ada yang bisa menolong memenuhi beragam kebutuhan para ibu ini? Easy, deterjen unggulan asal Jepang persembahan PT Kao Indonesia melalui produk-produknya hadir dengan solusi cerdas. Urusan cuci pakaian bisa lebih mudah dan mudah dan cepat terselesaikan, baik menggunakan tangan maupun mesin cuci. Dengan inovasi terbaru Easy yaitu satu kali kucek yang setara dengan sepuluh kali kucek deterjen lain dan satu kali bilas yang setara dengan tiga kali bilas deterjen lain, mencuci pakaian jadinya serasa dibantu oleh kekuatan 10 tangan. Efeknya, urusan mencuci bisa selesai dengan lebih mudah dan cepat. Kalau PR yang itu sudah selesai, artinya ada waktu luang yang lebih lapang yang bisa dimanfaatkan untuk me time, termasuk mengaktualisasikan diri dan menjaga kebugaran melalui olahraga. Bonusnya, tubuh lebih bugar dan semangat untuk beraktivitas sehari-hari juga lebih terpompa, kan? Bukan cuma untuk para ibu sih ya sebetulnya, hanya saja kampanye Easy yang dimulai pada bulan Maret 2017 ini memang fokus bertujuan agar kaum wanita dapat memanfaatkan waktu luangnya di tengah banyaknya tanggung-jawab rumah tangga yang dilakukan sehari-hari, sebagai kelanjutan dari kampanye tahun lalu yang berfokus pada pemberdayaan wanita.

Continue reading

Karena Tampil Memesona Itu Tak Semata Demi Orang Lain

“Istrinya udah cantik memesona gitu, kok tega ya suaminya minta pisah dengan alasan ada yang lebih menarik?”

“Ah, kalau yang itu sih memesona apanya, percuma juga cakep-cakep tapi suka godain laki orang!”

“Bagus sih dia bawain acaranya, tapi kurang apa ya, kurang memesona gitu deh. Kita maunya yang nonton bisa lebih tertarik lagi, kan?”

Dua kalimat paling atas sih kayaknya khas obrolan ibu-ibu banget ya. Secara tidak langsung, pembicaraan tersebut mengarah ke betapa relatifnya nilai sebuah pesona. Pesona sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan antara lain sebagai daya tarik, daya pikat, sesuatu yang memancing orang terpukau atau terkagum-kagum. Malah, bisa didefinisikan sebagai jampi-jampi atau guna-guna juga. Barangkali karena seseorang yang terpesona bisa seolah terhipnotis untuk melakukan hal-hal yang seperti di luar kendalinya ya, meskipun sama sekali tidak ada ilmu hitam yang terlibat. Kalau guna-guna atau jampi-jampi lazimnya punya target tertentu, demikian pula pesona bisa berbeda-beda efeknya terhadap setiap orang. Sedangkan nilai penampilan fisik saja bisa amat subjektif, apalagi takaran seberapa tergerak lawan bicara atau orang yang melihat, pasti lebih tidak mutlak lagi. Maka tak mengherankan kalau yang tampak memesona bagi sebagian orang justru membuat sekelompok orang lainnya tak habis pikir, apanya yang memesona?

Continue reading

Buku yang paling Ingin Kubaca Tahun Ini

Saya ini mengaku pecinta buku, tapi lihatlah, buku yang saya ulas di blog ini amatlah minim. Boro-boro mau bikin blog khusus ulasan buku yang sudah dibaca. Kalau mengingat masa-masa ngeblog di Multiply sekitar 8 tahun yang lalu ketika saya bisa membaca lebih dari satu buku dalam seminggu sekaligus menuliskan review saya lalu dibikin rekap perbulan, memang jauuuh. Realistis juga sih, waktu itu masih bekerja di kantor yang tidak sesibuk kantor di Jakarta dan belum punya anak pula. Maka jika sekarang bisa baca dua buku sebulan (selain bacain buku untuk anak-anak–yang semalam bisa tiga-empat buku meski tipis-tipis) aja rasanya itu udah prestasi banget. Selesai baca buku, maunya sih bikin catatan dan ulasan untuk mengikat apa yang sudah dibaca dan dokumentasi pribadi juga, tapi sementara pembelaan diri saya adalah “mending waktunya buat baca buku yang lain dulu aja deh — itu juga kalau sempat”. Bagaimana pun, harus ada skala prioritas, kan? *ngeles lagi.

Jadi ketika mba Ika di blognya melempar pertanyaan “Buku apa yang paling ingin dibaca tahun ini?”, sebetulnya sih yang pertama ingin dibaca adalah tumpukan buku di rumah, hehehe. Tapi supaya lebih spesifik, saya khususkan untuk buku-buku yang baru akan keluar tahun ini alias statusnya masih ‘coming soon‘, ya. Kenapa nggak cuma satu, ceritanya biar imbang antara fiksi sama nonfiksi.

Continue reading

Cepat dan Tepat Atasi Luka pada Anak

Masih dalam rangkaian Parenting Class Pertolongan Pertama pada Kedaruratan untuk Anak di Rumah yang diadakan di RSU Bunda Jakarta tanggal 19 Februari kemarin, setelah dr. Tiwi, sesi kedua diisi oleh dr. Priscilla Pramono, Sp.BP-RE, dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik. Materi yang dibawakan oleh dr. Priscil berkaitan dengan Cepat dan Tepat Atasi Luka pada Anak, sesuai dengan latar belakang beliau yang salah satunya bertugas di Wound Care Unit RSU Bunda.

Mengawali presentasinya, dr. Priscil menyampaikan pesan yang senada dengan dr. Tiwi sebelumnya, yaitu orangtua perlu terus belajar untuk anak, karena tidak semua keadaan perlu ditangani oleh dokter. Salah satunya adalah jika anak (atau anggota keluarga lain) mengalami luka.

Kalau dulu kita kenal kotak P3K atau Pertolongan Pertama pada Kecelakaan, nah untuk keperluan yang lebih spesifik yaitu luka, yang harus siap sedia di rumah antara lain:

Continue reading

Kosmetik Lokal, Seberapa Andal?

Seperti saya, mama juga bekerja kantoran sampai dua tahun yang lalu. Salah satu saran yang beliau sering ulangi kepada saya adalah, “Dandan dikit, gitu, lho.” Berhubung kantor mama memang menerapkan standar penampilan tertentu, jadi mama memang terbiasa berdandan sebelum bekerja. Karena kebiasaan itulah, beliau berharap saya setidaknya tak tampil polos-polos amat. Masukan mama memang belum sepenuhnya saya terapkan untuk sehari-hari, hingga hari ini saya hanya memulas muka untuk acara khusus. Oleh karenanya, ‘peralatan lenong’ saya pun tak banyak. Dan di antara yang sedikit itu, koleksi saya tetap didominasi produk lokal.

Masa kecil saya dipenuhi dengan kenangan melihat mama memakai kosmetik dan produk perawatan kulit dalam negeri. Hanya beberapa item yang impor. Beberapa merk belakangan saya ketahui termasuk produk klasik yang popularitasnya tak lekang ditelan waktu, bahkan tanpa promosi besar-besaran. Saya akui kesetiaan mama menggunakan produk kosmetik Indonesia merupakan salah satu penyebab saya pun mengambil pilihan yang sama. Lagipula, pembuat kosmetik dalam negeri saya asumsikan lebih tahu tipe-tipe kulit wanita Indonesia dan produk seperti apa yang sesuai, sehingga produknya lebih pas dipakai.

Kalau mau agak idealis, sih, bisa disebutkan bahwa membeli produk dalam negeri itu bisa membantu mengurangi jejak karbon sehingga lebih ramah lingkungan, juga menggerakkan perekonomian nasional tentunya. Pekerjaan saya setahun belakangan menuntut untuk mengamati tren pertumbuhan ekonomi, dan yang saya dapati adalah pertumbuhan yang baik di salah satu sektor bisa memberi efek baik ke hal lainnya, seperti memacu sektor transportasi maupun jasa dan membuka lapangan pekerjaan.

Continue reading

Redwin Sorbolene Moisturiser, Teman Asyik (Bukan Hanya) Saat Mudik

Kulit lembut adalah bagian penting dari penampilan seseorang. Keringnya lapisan pelindung luar tubuh kita akan membuat kita terlihat kusam dan kurang enak dipandang, kadang mengesankan keengganan si empunya merawat, juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan saat bersentuhan. Itu pemahaman saya dulu jika saya ditanya mengenai menjaga kelembapan kulit.

Sekarang? Status sebagai orangtua membuat saya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Kulit kering bukan cuma mengganggu penampilan, melainkan bisa sampai mengganggu kualitas hidup. Terdengar ekstrem, tapi begitulah adanya. Terlalu cepatnya cairan di permukaan kulit menguap bikin kulit mudah kehilangan kelembapannya. Akibatnya kulit bisa pecah-pecah dan rasa tidak nyaman yang diakibatkannya membuat sulit berkonsentrasi pada hal lain.

Putri pertama kami sempat menampakkan gejala kulit kering yang sensitif pada tahun pertamanya. Hanya di area tertentu dan tidak berkepanjangan, syukurnya. Tidak sampai membuat ia rewel karena gatal apalagi sulit tidur. Tapi apa yang ia alami menjadi pembuka wawasan baru saya, bawa pernyataan ‘selembut kulit bayi’ tidaklah selamanya tepat. Adakalanya makhluk mungil tersebut harus berada dalam kondisi tidak nyaman akibat tidak terhidrasinya kulit dengan baik.

Continue reading

Bobo Treasure Hunt, Seseruan Bareng Anak di Gramedia Matraman

Sebuah postingan di instagram Penerbit Kiddo menarik perhatian saya beberapa minggu yang lalu. Penerbit ini rupanya hendak menggelar lomba yang cukup unik dalam rangka peluncuran buku kumpulan cerpen dari majalah Bobo. Sebetulnya bentuk lombanya sendiri masih kurang jelas bagi saya ya, karena hanya disebutkan ‘berburu harta karun’ sebagaimana sudah tersirat dalam judul acara itu sendiri. Tapi karena sepertinya menarik, maka saya pun mencoba mendaftar. Apalagi lokasi acaranya cukup dekat dari rumah, yaitu Gramedia Matraman. Peserta lomba ini disyaratkan berpasangan antara ibu-anak, ayah-anak, atau bisa juga kakak beradik, dengan catatan usia anak 4-13 tahun. Untuk 30 pendaftar yang mengunggah (ke fb atau IG) foto kupon yang ada di majalah Bobo terbaru, dapat hadiah tambahan. Demi hadiah itu, saya pun beli Bobo lagi, majalah kesayangan saya di masa kecil itu :D.

Tibalah hari-H, 10 Desember 2016. Kami datang sedikit terlambat, dan beberapa peserta sudah terlihat sibuk di dekat pintu masuk lantai 1. Tapi ternyata masih diterima untuk ikutan, kok. Di tempat pendaftaran di ruang serbaguna di lantai 3, setelah membayar, peserta mendapatkan nomor urut, kartu penilaian, tas berisi kue-kue, pin, buku, dan spidol. Seperti yang dijanjikan, kami memperoleh bonus buku karena termasuk dalam 30 pendaftar pertama melalui media sosial.

serius menyusun puzzleSesuai petunjuk, kami langsung turun ke lantai 1. Tantangan pertama adalah menyusun puzzle dari gambar sampul buku-buku yang akan diluncurkan. Setelah puzzle tersusun rapi, peserta diberi kertas yang berisikan petunjuk untuk mencari bolpoin berlogo Gramedia. Di sinilah kami (dan beberapa peserta lain juga) agak kelamaan menghabiskan waktu, memutari area alat tulis sambil tanya-tanya. Para pramuniaga entah memang tidak tahu atau dilarang memberi petunjuk sehingga pencarian cukup rumit. Malah ada pramuniaga yang mengarahkan saya untuk bertanya ke customer service lantai berikutnya. Hampir kami mengikuti jejak pasangan lain yang kayaknya sudah memutuskan membeli bolpoin berlabel Gramedia yang dijual, ketika saya berpikir masak iya sih harus keluar uang (lagi, soalnya uang pendaftarannya juga sudah lumayan :D). Saya pun kembali untuk bertanya pada panitia, yang dijawab “Carinya di sini-sini aja, Bu.”, dan rupanya memang dekat dengan tempat tantangan puzzle tadilah saya melihat sekotak bolpoin yang ditempeli tanda “tidak dijual”. Lha…

Continue reading