Buku yang paling Ingin Kubaca Tahun Ini

Saya ini mengaku pecinta buku, tapi lihatlah, buku yang saya ulas di blog ini amatlah minim. Boro-boro mau bikin blog khusus ulasan buku yang sudah dibaca. Kalau mengingat masa-masa ngeblog di Multiply sekitar 8 tahun yang lalu ketika saya bisa membaca lebih dari satu buku dalam seminggu sekaligus menuliskan review saya lalu dibikin rekap perbulan, memang jauuuh. Realistis juga sih, waktu itu masih bekerja di kantor yang tidak sesibuk kantor di Jakarta dan belum punya anak pula. Maka jika sekarang bisa baca dua buku sebulan (selain bacain buku untuk anak-anak–yang semalam bisa tiga-empat buku meski tipis-tipis) aja rasanya itu udah prestasi banget. Selesai baca buku, maunya sih bikin catatan dan ulasan untuk mengikat apa yang sudah dibaca dan dokumentasi pribadi juga, tapi sementara pembelaan diri saya adalah “mending waktunya buat baca buku yang lain dulu aja deh — itu juga kalau sempat”. Bagaimana pun, harus ada skala prioritas, kan? *ngeles lagi.

Jadi ketika mba Ika di blognya melempar pertanyaan “Buku apa yang paling ingin dibaca tahun ini?”, sebetulnya sih yang pertama ingin dibaca adalah tumpukan buku di rumah, hehehe. Tapi supaya lebih spesifik, saya khususkan untuk buku-buku yang baru akan keluar tahun ini alias statusnya masih ‘coming soon‘, ya. Kenapa nggak cuma satu, ceritanya biar imbang antara fiksi sama nonfiksi.

Continue reading

Cepat dan Tepat Atasi Luka pada Anak

Masih dalam rangkaian Parenting Class Pertolongan Pertama pada Kedaruratan untuk Anak di Rumah yang diadakan di RSU Bunda Jakarta tanggal 19 Februari kemarin, setelah dr. Tiwi, sesi kedua diisi oleh dr. Priscilla Pramono, Sp.BP-RE, dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik. Materi yang dibawakan oleh dr. Priscil berkaitan dengan Cepat dan Tepat Atasi Luka pada Anak, sesuai dengan latar belakang beliau yang salah satunya bertugas di Wound Care Unit RSU Bunda.

Mengawali presentasinya, dr. Priscil menyampaikan pesan yang senada dengan dr. Tiwi sebelumnya, yaitu orangtua perlu terus belajar untuk anak, karena tidak semua keadaan perlu ditangani oleh dokter. Salah satunya adalah jika anak (atau anggota keluarga lain) mengalami luka.

Kalau dulu kita kenal kotak P3K atau Pertolongan Pertama pada Kecelakaan, nah untuk keperluan yang lebih spesifik yaitu luka, yang harus siap sedia di rumah antara lain:

Continue reading

Kosmetik Lokal, Seberapa Andal?

Seperti saya, mama juga bekerja kantoran sampai dua tahun yang lalu. Salah satu saran yang beliau sering ulangi kepada saya adalah, “Dandan dikit, gitu, lho.” Berhubung kantor mama memang menerapkan standar penampilan tertentu, jadi mama memang terbiasa berdandan sebelum bekerja. Karena kebiasaan itulah, beliau berharap saya setidaknya tak tampil polos-polos amat. Masukan mama memang belum sepenuhnya saya terapkan untuk sehari-hari, hingga hari ini saya hanya memulas muka untuk acara khusus. Oleh karenanya, ‘peralatan lenong’ saya pun tak banyak. Dan di antara yang sedikit itu, koleksi saya tetap didominasi produk lokal.

Masa kecil saya dipenuhi dengan kenangan melihat mama memakai kosmetik dan produk perawatan kulit dalam negeri. Hanya beberapa item yang impor. Beberapa merk belakangan saya ketahui termasuk produk klasik yang popularitasnya tak lekang ditelan waktu, bahkan tanpa promosi besar-besaran. Saya akui kesetiaan mama menggunakan produk kosmetik Indonesia merupakan salah satu penyebab saya pun mengambil pilihan yang sama. Lagipula, pembuat kosmetik dalam negeri saya asumsikan lebih tahu tipe-tipe kulit wanita Indonesia dan produk seperti apa yang sesuai, sehingga produknya lebih pas dipakai.

Kalau mau agak idealis, sih, bisa disebutkan bahwa membeli produk dalam negeri itu bisa membantu mengurangi jejak karbon sehingga lebih ramah lingkungan, juga menggerakkan perekonomian nasional tentunya. Pekerjaan saya setahun belakangan menuntut untuk mengamati tren pertumbuhan ekonomi, dan yang saya dapati adalah pertumbuhan yang baik di salah satu sektor bisa memberi efek baik ke hal lainnya, seperti memacu sektor transportasi maupun jasa dan membuka lapangan pekerjaan.

Continue reading

Redwin Sorbolene Moisturiser, Teman Asyik (Bukan Hanya) Saat Mudik

Kulit lembut adalah bagian penting dari penampilan seseorang. Keringnya lapisan pelindung luar tubuh kita akan membuat kita terlihat kusam dan kurang enak dipandang, kadang mengesankan keengganan si empunya merawat, juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan saat bersentuhan. Itu pemahaman saya dulu jika saya ditanya mengenai menjaga kelembapan kulit.

Sekarang? Status sebagai orangtua membuat saya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Kulit kering bukan cuma mengganggu penampilan, melainkan bisa sampai mengganggu kualitas hidup. Terdengar ekstrem, tapi begitulah adanya. Terlalu cepatnya cairan di permukaan kulit menguap bikin kulit mudah kehilangan kelembapannya. Akibatnya kulit bisa pecah-pecah dan rasa tidak nyaman yang diakibatkannya membuat sulit berkonsentrasi pada hal lain.

Putri pertama kami sempat menampakkan gejala kulit kering yang sensitif pada tahun pertamanya. Hanya di area tertentu dan tidak berkepanjangan, syukurnya. Tidak sampai membuat ia rewel karena gatal apalagi sulit tidur. Tapi apa yang ia alami menjadi pembuka wawasan baru saya, bawa pernyataan ‘selembut kulit bayi’ tidaklah selamanya tepat. Adakalanya makhluk mungil tersebut harus berada dalam kondisi tidak nyaman akibat tidak terhidrasinya kulit dengan baik.

Continue reading

Bobo Treasure Hunt, Seseruan Bareng Anak di Gramedia Matraman

Sebuah postingan di instagram Penerbit Kiddo menarik perhatian saya beberapa minggu yang lalu. Penerbit ini rupanya hendak menggelar lomba yang cukup unik dalam rangka peluncuran buku kumpulan cerpen dari majalah Bobo. Sebetulnya bentuk lombanya sendiri masih kurang jelas bagi saya ya, karena hanya disebutkan ‘berburu harta karun’ sebagaimana sudah tersirat dalam judul acara itu sendiri. Tapi karena sepertinya menarik, maka saya pun mencoba mendaftar. Apalagi lokasi acaranya cukup dekat dari rumah, yaitu Gramedia Matraman. Peserta lomba ini disyaratkan berpasangan antara ibu-anak, ayah-anak, atau bisa juga kakak beradik, dengan catatan usia anak 4-13 tahun. Untuk 30 pendaftar yang mengunggah (ke fb atau IG) foto kupon yang ada di majalah Bobo terbaru, dapat hadiah tambahan. Demi hadiah itu, saya pun beli Bobo lagi, majalah kesayangan saya di masa kecil itu :D.

Tibalah hari-H, 10 Desember 2016. Kami datang sedikit terlambat, dan beberapa peserta sudah terlihat sibuk di dekat pintu masuk lantai 1. Tapi ternyata masih diterima untuk ikutan, kok. Di tempat pendaftaran di ruang serbaguna di lantai 3, setelah membayar, peserta mendapatkan nomor urut, kartu penilaian, tas berisi kue-kue, pin, buku, dan spidol. Seperti yang dijanjikan, kami memperoleh bonus buku karena termasuk dalam 30 pendaftar pertama melalui media sosial.

serius menyusun puzzleSesuai petunjuk, kami langsung turun ke lantai 1. Tantangan pertama adalah menyusun puzzle dari gambar sampul buku-buku yang akan diluncurkan. Setelah puzzle tersusun rapi, peserta diberi kertas yang berisikan petunjuk untuk mencari bolpoin berlogo Gramedia. Di sinilah kami (dan beberapa peserta lain juga) agak kelamaan menghabiskan waktu, memutari area alat tulis sambil tanya-tanya. Para pramuniaga entah memang tidak tahu atau dilarang memberi petunjuk sehingga pencarian cukup rumit. Malah ada pramuniaga yang mengarahkan saya untuk bertanya ke customer service lantai berikutnya. Hampir kami mengikuti jejak pasangan lain yang kayaknya sudah memutuskan membeli bolpoin berlabel Gramedia yang dijual, ketika saya berpikir masak iya sih harus keluar uang (lagi, soalnya uang pendaftarannya juga sudah lumayan :D). Saya pun kembali untuk bertanya pada panitia, yang dijawab “Carinya di sini-sini aja, Bu.”, dan rupanya memang dekat dengan tempat tantangan puzzle tadilah saya melihat sekotak bolpoin yang ditempeli tanda “tidak dijual”. Lha…

Continue reading

Kepercayaan Diri, Awal Langkah Menuju Sukses

I will try…”

Sepotong kalimat itu sontak menghadang langkah saya untuk mendapatkan beasiswa. Kedua anggota tim seleksi yang mewawancarai saya, salah satunya kini menjadi anggota kabinet pemerintahan, berpandangan penuh arti setelah mendengar jawaban saya terkait perbedaan bidang studi yang telah dan akan saya ambil.

“Kami mencari kandidat yang yakin,” kata salah satu dari mereka. Jawaban saya ternyata tidak cukup tegas untuk membuktikan kelayakan saya menerima bantuan pendidikan dari pemerintah negara tetangga tersebut. E-mail pengumuman yang menyusul kemudian secara khusus menyebutkan saran bahwa saya harus lebih percaya diri dalam bersikap.

Ya, saat itu saya lupa akan satu hal. Bahwa kepercayaan diri adalah modal utama untuk meraih kesuksesan. Percaya diri di sini tentu dalam kadar yang tepat, ya. Bukan overconfidence maupun sebaliknya, minder. Dalam bingkai Ilahiah, melalui hadits qudsi, Allah juga sudah berfirman bahwa Ia sesuai persangkaan hamba-Nya. Jika kita berdoa pun, salah satu syaratnya adalah yakin doa diterima. Konteksnya lebih ke yakin akan kuasa Allah subhanahu wata’ala, sebenarnya. Namun, di sisi lain, hal tersebut sekaligus memotivasi kita selaku hamba-Nya untuk membuktikan diri pantas menerima apa yang kita minta. Baik melalui usaha yang spesifik sehubungan dengan doa kita, maupun tingkah laku sehari-hari.

Continue reading

Being Switchable with Acer: Me, My Job, and My Hobby

menyusun-annual-report

Sebagian tim redaksi Annual Report

Mei lalu, saya dan beberapa orang pegawai lain se-Indonesia yang lolos seleksi pegawai bertalenta di bidang jurnalistik berkesempatan terlibat dalam proyek penulisan annual report organisasi kami. Untuk penyelesaian proyek tersebut, kami sempat dikumpulkan selama sepekan di kantor pusat. Ketika bertemu teman-teman lain untuk pertama kali, terus terang reaksi pertama saya adalah agak minder. Bagaimana tidak, saya paling senior (untuk menggantikan kata ‘tua’ :D) di antara mereka, dengan jarak usia cukup lumayan. Apalagi saat mereka mengeluarkan perangkat masing-masing. Waah, canggih-canggih, pikir saya.

Saya tatap netbook berwarna hitam yang juga sudah ikut duduk manis di depan saya, di meja perpustakaan kantor pusat. Perangkat ini sungguh penuh kenangan. Jadi ceritanya suami saya mendadak dapat SK mutasi ke Jakarta tahun 2011, saat saya sedang hamil anak pertama. Divisinya yang terhitung baru sehingga sarana komputer juga masih terbatas, serta pekerjaan yang menuntut mobilitas membuat suami merasa perlu membawa notebook sendiri, notebook yang jadi milik kami bersama. Sebetulnya saat itu saya juga sedang ada kerjaan menulis yang cukup lumayan dari segi asah pengalaman (karena dibimbing langsung oleh para editor penerbit kenamaan) maupun bayaran (honor terbesar yang pernah saya terima), tapi saya juga tak sampai hati bilang mau ‘menahan’ agar laptop tetap saya gunakan di Pangkalpinang. Kejutan, ternyata suami saya kemudian membelikan Acer Aspire One untuk saya yang dititipkannya lewat rekan lain. Dengan netbook inilah saya menuntaskan beberapa tulisan di kala itu, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan dalam buku atau memenangkan lomba.

Kini, putri pertama kami sudah bukan balita lagi. Episode long distance marriage kami baru saja memasuki babak berikutnya setelah sempat lima tahun bekerja di kota yang sama. Kali ini saya di Jakarta dan suami di Jogja. Netbook itu masih setia menemani saya, termasuk menyimpan memori kegiatan keluarga kecil kami. Setelah putri kedua melewati usia setahun, saya mulai lebih aktif menulis lagi. Mencoba ikutan event ini-itu, lagi-lagi dengan bantuan netbook kesayangan. Kebetulan awal tahun ini saya juga dimutasikan ke kantor dengan job desc baru: membuat beberapa macam laporan dan analisis. Ditembah dengan tugas mengelola website kantor.

Jika sebelumnya saya menjadi pengguna sistem terotomatisasi, kali ini saya dihadapkan pada pekerjaan yang sebetulnya merupakan hobi saya yaitu menulis, tetapi dengan tantangan baru yaitu menganalisis secara ilmiah. Artinya, makin sering saya berhubungan dengan aktivitas ketik-mengetik, mengirimkan surel, browsing rilis laporan dari lembaga lain maupun berita ekonomi, dan sejenisnya. Tentunya sudah tersedia fasilitas di kantor, tetapi adakalanya saya perlu menulis atau menyampaikan sesuatu di perjalanan. Sebab pekerjaan ini juga menuntut kami bertemu untuk berkoordinasi dengan banyak pihak ataupun melaksanakan survei di lapangan agar laporan yang tersusun lebih akurat dan bermanfaat. Ponsel pintar cukup membantu di waktu-waktu tertentu, tapi sering saya berharap punya gawai yang lebih bisa diandalkan untuk mendukung beragam aktivitas saya. Netbook kesayangan cukup mungil untuk ditenteng ke sana kemari dan cukup memadai untuk beberapa keperluan, tapi saya mulai browsing juga mengenai laptop lain.

acer-display

Display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440)

Baca di sana-sini, saya menemukan tulisan tentang Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas. Kenapa Acer? Jelas, karena ketangguhan perangkat sebelumnya yang saya miliki sudah menjadi bukti. Kata-kata “tanpa kipas” langsung menarik perhatian saya. Bisa, ya, tidak pakai kipas? Ternyata dengan teknologi LiquidLoop, suhu mesin netbook bisa tetap dingin tanpa kipas. Meminimalisir suara berisik juga, sekaligus mencegah debu masuk ke dalam badan netbook karena tanpa ventilasi, hingga netbook jadi lebih awet. Ukurannya sendiri tipis dengan bobot yang ringan, dengan display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440). Cocok nih dipakai untuk bekerja dengan spreadsheet atau mengutak-atik tampilan website maupun blog. Cocok juga untuk video call dengan suami atau eyang anak-anak yang nun jauh di sana (penting, lho!). Fitur Acer BlueLight Shield mampu melindungi mata pengguna, aset karunia Tuhan yang penting untuk tetap dijaga. Processor-nya sixth-generation Core i5 lho, dengan RAM 8GB, baca di review luar sih katanya bikin kerja sambil buka banyak tab terbuka sekaligus tetap lancar tanpa hang. Problem ngadat seperti itulah yang sering saya alami selama ini, mengingat saya merasa lebih mantap kalau membuka banyak referensi untuk cek dan ricek ketika menulis (biar hasil karya valid dan bisa dipertanggungjawabkan, kan).

acer-switchable

Switchable, bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet

Hal lain yang bikin saya makin antusias adalah adanya kickstand yang bisa dimiringkan hingga 165 derajat supaya lebih nyaman digunakan. Keyboard docking Switch Alpha 12 terkoneksi melalui engsel magnetik, jadi bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet, plus dilengkapi backlit untuk memudahkan pemakaian di tempat minim pencahayaan. Tahu aja nih, ibu-ibu kalau malam kadang masih perlu nulis sesuatu tapi kalau lampu dinyalakan semua si kecil ikut bangun, hehehe. Switchable banget, kan? As switchable as yang saya butuhkan, mengingat aneka keperluan saya yang kadang menuntut ‘gaya’ yang berbeda dalam mengoperasikan netbook.

acer-transfer-data

USB 3.1 Type-C dengan port bolak-balik dan transfer data lebih cepat

Bekerja dengan gawai acapkali juga berarti munculnya keperluan untuk memindahkan data. Nah, Switch Alpha 12 sudah pakai USB 3.1 Type-C, nih, yang port-nya bolak-balik dan transfer data juga bisa lebih cepat yaitu mencapai 5 Gbps (10 kali lebih kencang dibandingkan dengan USB 2.0). Tersedia juga stylus pen (dijual terpisah) untuk membantu presentasi menjadi lebih praktis. Kemudahan-kemudahan itu bisa menghemat waktu juga, demi kelancaran pertukaran peran working mom yang juga butuh me time seperti saya.

acer-1Jelas kan, Acer Switch Alpha 12 ini pas banget untuk saya. Masuk wish list pokoknya, semoga segera ada rezeki untuk mendapatkannya. Kalau sudah dapat, netbook yang lama dikemanakan, dong? Bisa dipakai anak pertama, lah, biar nggak hanya terbiasa dengan layar sentuh :).

acer

Aktivitas Keluarga Optimal dengan Rumah Bersih Maksimal

Terus terang, citra vacuum cleaner di mata saya selama ini adalah ‘perkakas high end yang termasuk kebutuhan tersier’. Salah satu pemicunya ya karena harganya yang konon tergolong tinggi (padahal tidak serius mengamati, hehehe).

Saya sendiri sebetulnya agak sensitif soal debu. Bebersih rumah standar sih tidak jadi masalah. Namun, kalau sudah bongkar-bongkar tumpukan barang yang cukup lama tidak disentuh, yang biasanya jadi sarang debu, bersin-bersin dan gatal-gatal-lah saya. Sebetulnya sih, yang lebih tepat adalah reaksi terhadap tungau debu (household dust mites), ya, bukan terhadap debunya itu sendiri. Makhluk kerabat laba-laba ini habitatnya memang di debu rumah. Si tungau supermungil ini tidak menggigit, tetapi badan dan sekresinya bisa mengandung serpihan kulit mati atau hal lain yang memicu reaksi alergi.

Jika membaca forum-forum online ibu-ibu dengan topik kesehatan anak, masalah debu ini juga sering dikeluhkan menjadi pemicu alergi pada bayi dan anak. Kasihan kan, anak bersin-bersin dan hidungnya tersumbat, atau muncul ruam pada kulit halus si kecil. Bisa jadi ada agenda keluarga atau individu keluarga yang harus tertunda atau dibatalkan gara-gara salah satu anggotanya mengalami gejala alergi. Beberapa dokter yang saya kenal pernah menjelaskan bahwa standar tata laksana untuk alergi itu sendiri yaitu hindari pemicunya. Obat bisa digunakan untuk menangani atau meredakan gejala yang sudah telanjur timbul, beberapa terapi disebut ampuh agar tubuh lebih kebal, tetapi pencegahan adalah kunci utama. Sementara, beberapa pernak-pernik di rumah yang sering dianggap identik dengan dunia bayi dan anak seperti boneka, selimut, dan karpet atau permadani cenderung punya sifat memerangkap debu. Vacuum cleaner atau biasa diterjemahkan sebagai penghisap debu, sebagaimana namanya, merupakan salah satu perangkat yang bisa menjadi solusi.

Nah, saat browsing terkait perlengkapan rumah tangga, tawaran vacuum cleaner dari berbagai produsen ternyata cukup sering berseliweran di ad banner yang dipasang oleh toko-toko ataupun marketplace online.  Wah, tidak terlalu mahal juga, pikir saya. Tapiii, ada tapinya, nih. Namanya barang elektronik, tentu maunya yang awet dan berkualitas, ya. Sayang kan, kalau dipakai sebentar sudah rusak, atau kinerjanya ternyata tidak sesuai deskripsi. Lebih boros nanti jatuhnya. Bicara soal daya tahan, saya mau tidak mau teringat jingle iklan yang sering diputar di televisi dulu, “Kalau saja semua seawet Electrolux”.

Tahun 2016, vacuum cleaner Electrolux kembali meraih penghargaan Top Brand Awards, lho. Artinya brand ini banyak dikenal, dibeli, dan konsumennya pun loyal (top of mind, market, & commitment share). Baca-baca sejarahnya, memang Electrolux-lah yang menjadi pelopor di bidang vacuum cleaner. Tahun 1912 Axe Wenner-Gren, pendiri Electrolux, melansir Lux 1, penghisap debu rumah tangga pertama. Artinya, pengalaman Electrolux sudah lebih dari 100 tahun #Over100YearsElectroluxVacuum. Tentu bentuknya belum seperti sekarang, ya. Beratnya saja masih 14kg!

vacuum1

vacuum-2

Tipe-tipe Electrolux vacuum cleaner

Electrolux terus melakukan inovasi melalui penelitian hingga vacuum cleaner yang diproduksi semakin efisien dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Ya, ada berbagai tipe yang dikeluarkan oleh Electrolux. Awalnya saya tahu ada tipe-tipe ini dari artikel di web The Urban Mama, yang menyampaikan materi sharing dengan Electrolux Indonesia. Kemudian saya cari lebih detil di katalog resminya.

 

Tipe-tipe ini meliputi:

  1. Wet & dry yang bisa digunakan untuk luar rumah dan mampu membersihkan cairan, serbuk kayu, debu, dan kerikil.
  2. Stick yang cocok untuk rumah kecil, tersedia model cord maupun cordless.
  3. Canister yang lebih tangguh, tersedia model bagged maupun bagless.
ergorapido-1

Ergorapido ZB3114AK

Pilih yang mana, ya? Yang masuk ke wishlist saya sih yang stick, mengingat ukuran rumah yang mungil. Ergorapido ZB3114AK misalnya, yang bagless, cordless, baterainya tahan lama dan isi ulangnya cepat, kepala hisapnya bisa bermanuver 180 derajat pula.

Dengan vacuum cleaner yang andal, mudah digunakan, dan bermutu tinggi, tujuan penggunaannya yaitu rumah yang bersih juga akan tercapai dengan maksimal. Bersih-bersih rumah jadi lebih menyenangkan dan tak memakan waktu lama. Rumah bersih artinya meminimalkan potensi pemicu alergi. Ketika alergen sudah dihalau, keluarga pun bisa hidup lebih sehat. Kesehatan optimal menjadi salah satu modal utama untuk beraktivitas sehari-hari dengan baik, kan?

 

#TUMElectroluxBlogCompetition

Referensi:

http://www.electrolux.co.id/Products_new/Cleaning/

https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/house-dust-mite

http://www.webmd.com/allergies/guide/dust-allergies

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dust-mites/basics/definition/con-20028330

http://theurbanmama.com/articles/tumluncheon-clean-house-happy-family-m58460.html

http://www.electrolux.co.id/Products_new/Module-Container/Cleaning-Modules/Category-page/Promotion-Small-Modules/100-Years-of-Vacuum-Revolution/100-Years-of-Vacuum-Cleaner-Heritage1/

http://www.topbrand-award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2016_fase_1

Click to access Master_Catalog_Vacuum.pdf

 

Karena Saya Ingin Berada di #UsiaCantik Seperti Mama

“La, kuwi mamahmu tenan (itu beneran mama kamu)?”

Pertanyaan ini sudah sampai bosan saya dengar ketika waktunya pengambilan rapor di SD dulu. Mama memang seringnya datang ke sekolah dalam keadaan berpakaian rapi karena setelahnya langsung berangkat lagi ke kantor. Eh, sebetulnya tak hanya ke kantor saya sih mama berdandan rapi, tapi intinya adalah teman-teman sekolah saya sering mengomentari bahwa mama saya terlihat cantik (beda dengan anaknya yang sering berjemur panas matahari, hahaha).

Jarak usia mama dan saya 26 tahun. Kini saya sudah menyandang status sebagai wali murid, sejak putri saya masuk TK beberapa bulan yang lalu. Sama-sama berpakaian rapi-ngantor-style di beberapa kesempatan mengunjungi  sekolah anak, tapi saya seringkali tetap merasa tidak percaya diri. Rasanya, saya harus belajar banyak dari mama, deh.

Apa yang membuat saya tidak percaya diri? Pertama, wajah saya tidak mulus-mulus amat. Dibandingkan dengan foto-foto mama saat seumuran yang ada di album foto di rumah, kayaknya jauh lah. Jerawat dan kawan-kawannya di sisi lain juga sering dikaitkan dengan keengganan mengurus diri, baik melalui asupan yang masuk maupun perawatan luar. Mama memang sebetulnya sudah sering menegur saya untuk lebih telaten, minimal dalam hal membersihkan muka dan mengoleskan tabir surya sebelum beraktivitas. Saya ingat sekali bahwa saya menikmati melihat ‘ritual’ mama setiap malam menjelang tidur, dengan dua langkah pembersihan (zaman sekarang sudah disarankan tiga langkah, ya), kemudian ditutup dengan krim malam.

Kata mama, perawatan itu penting, karena efeknya, bila melakukan maupun tidak, bisa jangka panjang. Malas pakai tabir surya sekarang, siap-siap saja wajah dihinggapi spot gelap. Hasilnya memang terlihat, sih. Di usia sekarang, mama masih tampil prima. Ledekan teman-teman pun berganti, seringnya kami dibilang kakak-beradik, tapi saya kakaknya, hahaha. Petugas di salon langganan saya di Pangkalpinang dulu juga sempat mengekspresikan keterkejutannya secara terang-terangan begitu pertama melihat mama yang menurutnya ‘modis’. Penampilan memang bukan segalanya, tapi upaya menjaga apa yang sudah dianugerahkan Tuhan ke kita merupakan salah satu wujud syukur, kan? Agar seseorang bisa tampil optimal di #UsiaCantik-nya, tentu harus ada langkah yang diambil. Bisa berupa makan dengan gizi seimbang, rajin menjaga kebersihan, juga melakukan perawatan dengan bahan alami ramuan sendiri maupun produk dari brand tepercaya. Makin bertambah usia, harus makin bijak juga kan ya, termasuk memilih skincare yang aman dan teruji. Kalau bisa sih yang tidak terlalu sulit juga untuk dicari, ya. Sebut saja untuk mengatasi kulit kendur dan kerutan halus yang mulai muncul, kita bisa mengandalkan lini Revitalift dari L’Oreal Paris.

saya-mamaHal kedua yang membuat saya kadang gentar adalah cara membawakan diri. Ya, bukan hanya penampilan luar yang penting, tapi juga tingkah laku kita. Be yourself agar tak kehilangan jati diri adalah satu hal, menghargai orang lain adalah hal lain yang juga tak kalah penting. Mama begitu luwes berbaur dan mengobrol dengan orang baru sekalipun (tanpa meninggalkan kewaspadaan tentunya), sedangkan saya yang cenderung introvert kerap kali berpikir bahwa usaha untuk bergaul secara langsung itu pada awalnya cenderung menyiksa. Well, kita kan makhluk sosial, ya. Kalau kita terlihat judes, yang rugi kita sendiri, kan? Seulas senyum ramah sudah mampu menambah nilai kecantikan kita, kok. Bukan bermaksud berpura-pura juga lho, ya. Yang saya rasakan dengan berlatih selama beberapa waktu belakangan ini, beramah-tamah itu asyik juga, kok. Mengobrol dengan sesama ibu-ibu yang menunggu anaknya selesai berkegiatan di sekolah ketika saya sedang tidak ngantor misalnya, bisa menambah wawasan dan networking.

telah-sampai-pada-tahap-kesadaran-akan-kebutuhan-untuk-memberi-dan-mendapatkan-apa-yang-terbaik-bagi-diriPada dasarnya seseorang akan menyenangkan untuk dilihat jika sudah nyaman dengan dirinya sendiri. Bukan sekadar menerima diri apa adanya, melainkan juga telah sampai pada tahap kesadaran akan kebutuhan untuk memberi dan mendapatkan apa yang terbaik bagi diri. Kenyamanan inilah yang bagi beberapa orang butuh proses untuk mencapainya. Ada yang di usia belia sudah tampil dengan percaya diri, ada pula yang baru berani berjalan dengan kepala tegak di umur yang lebih matang, katakanlah mulai 35 tahun. Sebagian orang bilang, pesona kecantikan fisik bisa pudar seiring berjalannya waktu, yang bertahan adalah kecantikan hati. Hal ini ada benarnya, yaitu bahwa karakter positif sebaiknya memang kian terasah ketika angka usia bertambah. Namun, menjaga penampilan fisik agar tetap enak dilihat pun tak salah, selama caranya tepat.

Mama sudah menjadi teladan yang nyata bagi saya, bahwa berada di #UsiaCantik berarti semakin mantap melangkah dengan pilihan yang sudah diambil, termasuk bertanggung jawab terhadap konsekuensinya. Harus dong ya, pengalaman hidup kan juga sudah lebih kaya, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun apa yang didengar, dibaca, atau disaksikan. Bukan berarti melupakan bagaimana caranya bersenang-senang, tetapi sudah memperhitungkan risk vs benefit serta konsekuensi segala tindakan yang dilakukan. Dari konsekuensi yang kecil saja deh, pakai rangkaian perawatan kulit agar tampil cantik artinya harus meluangkan waktu saat kantuk mungkin sudah menyerang, kan? Atau mempertimbangkan secara lebih berhati-hati tawaran promosi ke jenjang karir yang lebih tinggi lagi ketika dampaknya berpotensi mengurangi waktu bersama keluarga (mengingat setiap orang punya prioritas yang berbeda).

Jadi, seberapa siap saya menyambut #UsiaCantik, mengingat jika diberi kesempatan, beberapa bulan lagi umur saya sudah genap 32 tahun? Saya akan lakukan sebaik yang saya bisa :). Sebab, saya ingin berada di #UsiaCantik sebagaimana mama saya melewatinya. Mungkin dengan pengalaman hidup yang berbeda, tetapi apa yang sudah mama lalui tetap berharga untuk saya jadikan sebagai bekal.

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

Samsung Galaxy J, Bikin Blogging Jadi Lebih Menyenangkan

Pada dasarnya saya suka menulis dan mewartakan. Saya sepertinya punya semacam naluri suka berbagi informasi. Bukan dalam rangka pamer, ya. Dan tentu pilih-pilih kontennya dulu (plus cek dan ricek), apalagi kalau bentuknya forward dari pihak lain. ‘Hobi’ yang ini mendapat penyaluran ketika saya mengenal weblog atau lebih sering disebut dengan blog. Biarpun tidak kesampaian jadi wartawan betulan, saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat. Yaaah, siapa tahu saja ada yang ternyata memerlukan referensi sebelum membeli sebuah buku, memutuskan metode pengasuhan yang tepat untuk anak, menentukan destinasi liburan, memilih media penyajian ASI perah untuk bayi, melewati daerah tertentu, atau butuh cara menghentikan aplikasi yang menyebalkan di gadget. Saat ini bahkan blogging bisa jadi kegemaran yang membuahkan imbalan materi.

istiqlal

Fathia di Istiqlal, foto diambil dengan Samsung Galaxy Chat

Sejak dulu saya lebih sering nge-blog di ponsel. Belum sampai tingkatan ponsel pintar tentunya, tapi lumayanlah sudah bisa posting dengan mudah, tidak harus menyalakan komputer/notebook dulu. Apalagi seringkali saya memanfaatkan foto-foto jepretan sendiri untuk ilustrasi blog. Tentu lebih mudah mengunggahnya langsung dari ponsel ketimbang harus mencari kabel data atau menyalakan bluetooth dulu. Dengan ponsel, blogging bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Makanya saya senang sekali ketika layanan blogging yang saya gunakan waktu itu mengeluarkan tampilan versi mobile, juga memberi fasilitas cepat posting melalui e-mail. Kalau dibandingkan dengan zaman sekarang sih mungkin masih belum praktis-praktis amat, tetapi untuk masa itu sudah sangat membantu.

 

 

Kini eranya smartphone, kegiatan blogging juga terfasilitasi menjadi lebih mudah. Beberapa fitur yang saya anggap harus ada dalam ponsel untuk bisa disebut mempermudah blogging di antaranya adalah:

      1. Layar yang lebih lega untuk kenyamanan membaca dan mengetik. Namun, tetap harus enak digenggam, tidak licin maupun terlalu berat ditenteng.
      2. Penerangan tambahan (flash light) untuk memotret, karena saya dan keluarga sering mengunjungi berbagai museum yang pencahayaannya minim, atau kadang-kadang datang ke event malam hari.
      3. Resolusi foto dan video yang prima hingga hasilnya cantik dipajang sebagai pendamping tulisan maupun muatan utama, misalnya dijadikan vlog. Klien atau penyelenggara kegiatan senang kan pastinya kalau foto atau tayangan yang kita posting mengundang ketertarikan pembaca. Untuk disimpan sendiri pun, maunya suatu peristiwa diabadikan semaksimal mungkin agar kian manis dikenang.
      4. Ketahanan baterai yang mumpuni supaya nggak keburu mati ketika harus meliput kegiatan yang berdurasi cukup lama atau kita sedang dalam perjalanan mudik misalnya (banyak lho hal baru yang bisa jadi sumber ide tulisan ketika sedang pulang kampung).
      5. RAM dan prosesor yang handal agar aktivitas pengguna tak dikit-dikit ngadat. Tentu harus disertai juga dengan manajemen ponsel yang bagus, ya, oleh pengguna sendiri.
      6. Memori lega supaya segala arsip dan aplikasi pendukung blogging (termasuk media sosial dan messenger) tersimpan dengan rapi.
      7. Kemampuan menangkap koneksi yang menyokong kecepatan pencarian informasi tambahan agar tulisan makin ‘kaya’ (juga mendukung postingan menang lomba live tweet, nih).
id-feature-galaxy-j5-2016-j510fn-59516890

Baterai tahan lama mendukung aktivitas sebagai blogger

Hasil baca sana-sini, semua kriteria itu ada di Samsung Galaxy J5 dan J7, lho. FYI, brand Samsung ini yang paling saya percaya untuk urusan ponsel. Dari zaman belum berkamera (lebih tepatnya saya nggak enak minta dibelikan yang berkamera), sampai berkamera (dibeli pakai rapelan gaji pertama), dan smartphone android saya, ya dari Samsung ini. Apalagi sekarang ada program Galaxy Gift Indonesia, ya, jadi pengguna bisa memperoleh berbagai pilihan hadiah menarik yang berbeda setiap harinya.

Samsung Galaxy J5 punya CPU Quad-Core dengan kecepatan 1.2GHz, jadi kalau ada adu cepat dan adu banyak postingan berbasis microblogging bakal nggak ada cerita lag kelamaan yang bikin kita tertinggal mencuitkan apa kata narasumber atau kehilangan objek foto menarik. Ada Signal Max yang menolong agar sinyal panggilan telepon bisa ditangkap maksimal. Baterainya berkapasitas 3100 mAh, jadi kita tidak dibikin ribet dengan kabel powerbank ketika kegiatan belum lama dimulai. Bisa lebih irit juga lho, dengan dukungan Ultra Data Saving yang mampu menghemat kuota data hingga 50% (berdasarkan tes lab Opera, untuk aplikasi-aplikasi tertentu). Pernah sulit membaca layar ponsel di tempat terang, misalnya saat kegiatan outdoor di mana matahari bersinar terik? Super Amoled Display Samsung Galaxy J5 membuat layar ponsel tetap jelas terlihat.

Perbendingan ukuran Samsung J5 dan Samsung J7

Perbendingan ukuran Samsung J5 dan Samsung J7

Kamera utama Samsung Galaxy J5 ini 13MP sedangkan kamera depannya 5MP, daaaann bukan hanya kamera belakang yang disertai dengan flash, ada front flash-nya juga! Flash di bagian depan ini perlu, soalnya wefie dengan pengisi acara atau tokoh yang ditemui hasilnya kan kurang oke kalau pencahayaan kebetulan sedang minim (not to mention kalau sewaktu-waktu ada kesempatan candle light dinner sama suami, ya :D). Dukungan 4G-nya juga memungkinkan untuk live report talk show, mengunggah jepretan narsis-narsis ria (meskipun blogger kelihatannya bekerja di balik layar tapi adakalanya pengin tampil, dong), maupun mengirimkan e-mail ke klien atau penyelenggara kontes dengan cepat.

id-feature-galaxy-j7-j700-sm-j700fzkdxid-55233472

Browsing website lebih cepat, bermain game,dan melihat video HD dengan mudah tanpa lagging dengan prosesor andal Galaxy J

Sedangkan Samsung Galaxy J7 menawarkan kecepatan yang lebih wow, dengan Octa-Core 1,5GHz. Sebagai produk seri J, tipe ini pun dipersenjatai dengan quick launch. Cukup tekan tombol home dua kali untuk bisa mengakses kamera dengan cepat. Momen penting seringnya tidak datang dua kali, kan? Sayang sekali kan kalau ekspresi lucu penampil di pentas hiburan, detik-detik terakhir menuju kemenangan lomba lari anak, atau penyerahan hadiah terlambat kita tangkap. Ukuran Samsung Galaxy J7 yaitu 5.5″ sedikit lebih besar dibandingkan dengan Galaxy J5 yang 5.2″. Tampilan layar yang dimiliki leluasa disimak tanpa meninggalkan aspek kenyamanan untuk digenggam. Spesifikasi lainnya mirip dengan Samsung Galaxy J5, misalnya memori internal yang sama-sama 16GB (expandable up to 128GB), RAM juga 2GB. Hanya saja baterai Samsung Galaxy J7 3300 mAH, bisa lebih lama bertahan tanpa perlu sedikit-sedikit diisi ulang.

id-feature-galaxy-j5-2016-j510fn-59516883

Kamera beresolusi tinggi yang mudah dioperasikan, fitur wajib untuk mendukung tampilan blog atau postingan di media sosial

Mengingat status saya sebagai ibu dua anak (yang satu baru saja menanggalkan titel balita), efisiensi waktu is a must. Blogging bagi saya termasuk salah satu me time yang menyenangkan (dan terkadang menghasilkan :)). Dengan adanya ponsel seperti Samsung Galaxy J5 dan J7, saya bisa menghemat banyak waktu hingga kepuasan menulis dapat, kebersamaan dengan anak pun dapat. Blogging semakin mudah dan fun. Tentunya ponsel ini juga bisa menjadi andalan saya ketika mendokumentasikan langkah demi langkah tumbuh kembang anak-anak, sekaligus menjembatani komunikasi dengan suami (ya, saya sedang LDR-an) dan orangtua yang tinggal berlainan kota.

 

Foto-foto ponsel dari web resmi Samsung Indonesia, foto Fathia di Istiqlal saya ambil menggunakan Samsung Galaxy Chat yang masih awet dipakai.