Bobo Treasure Hunt, Seseruan Bareng Anak di Gramedia Matraman

Sebuah postingan di instagram Penerbit Kiddo menarik perhatian saya beberapa minggu yang lalu. Penerbit ini rupanya hendak menggelar lomba yang cukup unik dalam rangka peluncuran buku kumpulan cerpen dari majalah Bobo. Sebetulnya bentuk lombanya sendiri masih kurang jelas bagi saya ya, karena hanya disebutkan ‘berburu harta karun’ sebagaimana sudah tersirat dalam judul acara itu sendiri. Tapi karena sepertinya menarik, maka saya pun mencoba mendaftar. Apalagi lokasi acaranya cukup dekat dari rumah, yaitu Gramedia Matraman. Peserta lomba ini disyaratkan berpasangan antara ibu-anak, ayah-anak, atau bisa juga kakak beradik, dengan catatan usia anak 4-13 tahun. Untuk 30 pendaftar yang mengunggah (ke fb atau IG) foto kupon yang ada di majalah Bobo terbaru, dapat hadiah tambahan. Demi hadiah itu, saya pun beli Bobo lagi, majalah kesayangan saya di masa kecil itu :D.

Tibalah hari-H, 10 Desember 2016. Kami datang sedikit terlambat, dan beberapa peserta sudah terlihat sibuk di dekat pintu masuk lantai 1. Tapi ternyata masih diterima untuk ikutan, kok. Di tempat pendaftaran di ruang serbaguna di lantai 3, setelah membayar, peserta mendapatkan nomor urut, kartu penilaian, tas berisi kue-kue, pin, buku, dan spidol. Seperti yang dijanjikan, kami memperoleh bonus buku karena termasuk dalam 30 pendaftar pertama melalui media sosial.

serius menyusun puzzleSesuai petunjuk, kami langsung turun ke lantai 1. Tantangan pertama adalah menyusun puzzle dari gambar sampul buku-buku yang akan diluncurkan. Setelah puzzle tersusun rapi, peserta diberi kertas yang berisikan petunjuk untuk mencari bolpoin berlogo Gramedia. Di sinilah kami (dan beberapa peserta lain juga) agak kelamaan menghabiskan waktu, memutari area alat tulis sambil tanya-tanya. Para pramuniaga entah memang tidak tahu atau dilarang memberi petunjuk sehingga pencarian cukup rumit. Malah ada pramuniaga yang mengarahkan saya untuk bertanya ke customer service lantai berikutnya. Hampir kami mengikuti jejak pasangan lain yang kayaknya sudah memutuskan membeli bolpoin berlabel Gramedia yang dijual, ketika saya berpikir masak iya sih harus keluar uang (lagi, soalnya uang pendaftarannya juga sudah lumayan :D). Saya pun kembali untuk bertanya pada panitia, yang dijawab “Carinya di sini-sini aja, Bu.”, dan rupanya memang dekat dengan tempat tantangan puzzle tadilah saya melihat sekotak bolpoin yang ditempeli tanda “tidak dijual”. Lha…

Continue reading

Kepercayaan Diri, Awal Langkah Menuju Sukses

I will try…”

Sepotong kalimat itu sontak menghadang langkah saya untuk mendapatkan beasiswa. Kedua anggota tim seleksi yang mewawancarai saya, salah satunya kini menjadi anggota kabinet pemerintahan, berpandangan penuh arti setelah mendengar jawaban saya terkait perbedaan bidang studi yang telah dan akan saya ambil.

“Kami mencari kandidat yang yakin,” kata salah satu dari mereka. Jawaban saya ternyata tidak cukup tegas untuk membuktikan kelayakan saya menerima bantuan pendidikan dari pemerintah negara tetangga tersebut. E-mail pengumuman yang menyusul kemudian secara khusus menyebutkan saran bahwa saya harus lebih percaya diri dalam bersikap.

Ya, saat itu saya lupa akan satu hal. Bahwa kepercayaan diri adalah modal utama untuk meraih kesuksesan. Percaya diri di sini tentu dalam kadar yang tepat, ya. Bukan overconfidence maupun sebaliknya, minder. Dalam bingkai Ilahiah, melalui hadits qudsi, Allah juga sudah berfirman bahwa Ia sesuai persangkaan hamba-Nya. Jika kita berdoa pun, salah satu syaratnya adalah yakin doa diterima. Konteksnya lebih ke yakin akan kuasa Allah subhanahu wata’ala, sebenarnya. Namun, di sisi lain, hal tersebut sekaligus memotivasi kita selaku hamba-Nya untuk membuktikan diri pantas menerima apa yang kita minta. Baik melalui usaha yang spesifik sehubungan dengan doa kita, maupun tingkah laku sehari-hari.

Continue reading

Being Switchable with Acer: Me, My Job, and My Hobby

menyusun-annual-report

Sebagian tim redaksi Annual Report

Mei lalu, saya dan beberapa orang pegawai lain se-Indonesia yang lolos seleksi pegawai bertalenta di bidang jurnalistik berkesempatan terlibat dalam proyek penulisan annual report organisasi kami. Untuk penyelesaian proyek tersebut, kami sempat dikumpulkan selama sepekan di kantor pusat. Ketika bertemu teman-teman lain untuk pertama kali, terus terang reaksi pertama saya adalah agak minder. Bagaimana tidak, saya paling senior (untuk menggantikan kata ‘tua’ :D) di antara mereka, dengan jarak usia cukup lumayan. Apalagi saat mereka mengeluarkan perangkat masing-masing. Waah, canggih-canggih, pikir saya.

Saya tatap netbook berwarna hitam yang juga sudah ikut duduk manis di depan saya, di meja perpustakaan kantor pusat. Perangkat ini sungguh penuh kenangan. Jadi ceritanya suami saya mendadak dapat SK mutasi ke Jakarta tahun 2011, saat saya sedang hamil anak pertama. Divisinya yang terhitung baru sehingga sarana komputer juga masih terbatas, serta pekerjaan yang menuntut mobilitas membuat suami merasa perlu membawa notebook sendiri, notebook yang jadi milik kami bersama. Sebetulnya saat itu saya juga sedang ada kerjaan menulis yang cukup lumayan dari segi asah pengalaman (karena dibimbing langsung oleh para editor penerbit kenamaan) maupun bayaran (honor terbesar yang pernah saya terima), tapi saya juga tak sampai hati bilang mau ‘menahan’ agar laptop tetap saya gunakan di Pangkalpinang. Kejutan, ternyata suami saya kemudian membelikan Acer Aspire One untuk saya yang dititipkannya lewat rekan lain. Dengan netbook inilah saya menuntaskan beberapa tulisan di kala itu, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan dalam buku atau memenangkan lomba.

Kini, putri pertama kami sudah bukan balita lagi. Episode long distance marriage kami baru saja memasuki babak berikutnya setelah sempat lima tahun bekerja di kota yang sama. Kali ini saya di Jakarta dan suami di Jogja. Netbook itu masih setia menemani saya, termasuk menyimpan memori kegiatan keluarga kecil kami. Setelah putri kedua melewati usia setahun, saya mulai lebih aktif menulis lagi. Mencoba ikutan event ini-itu, lagi-lagi dengan bantuan netbook kesayangan. Kebetulan awal tahun ini saya juga dimutasikan ke kantor dengan job desc baru: membuat beberapa macam laporan dan analisis. Ditembah dengan tugas mengelola website kantor.

Jika sebelumnya saya menjadi pengguna sistem terotomatisasi, kali ini saya dihadapkan pada pekerjaan yang sebetulnya merupakan hobi saya yaitu menulis, tetapi dengan tantangan baru yaitu menganalisis secara ilmiah. Artinya, makin sering saya berhubungan dengan aktivitas ketik-mengetik, mengirimkan surel, browsing rilis laporan dari lembaga lain maupun berita ekonomi, dan sejenisnya. Tentunya sudah tersedia fasilitas di kantor, tetapi adakalanya saya perlu menulis atau menyampaikan sesuatu di perjalanan. Sebab pekerjaan ini juga menuntut kami bertemu untuk berkoordinasi dengan banyak pihak ataupun melaksanakan survei di lapangan agar laporan yang tersusun lebih akurat dan bermanfaat. Ponsel pintar cukup membantu di waktu-waktu tertentu, tapi sering saya berharap punya gawai yang lebih bisa diandalkan untuk mendukung beragam aktivitas saya. Netbook kesayangan cukup mungil untuk ditenteng ke sana kemari dan cukup memadai untuk beberapa keperluan, tapi saya mulai browsing juga mengenai laptop lain.

acer-display

Display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440)

Baca di sana-sini, saya menemukan tulisan tentang Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas. Kenapa Acer? Jelas, karena ketangguhan perangkat sebelumnya yang saya miliki sudah menjadi bukti. Kata-kata “tanpa kipas” langsung menarik perhatian saya. Bisa, ya, tidak pakai kipas? Ternyata dengan teknologi LiquidLoop, suhu mesin netbook bisa tetap dingin tanpa kipas. Meminimalisir suara berisik juga, sekaligus mencegah debu masuk ke dalam badan netbook karena tanpa ventilasi, hingga netbook jadi lebih awet. Ukurannya sendiri tipis dengan bobot yang ringan, dengan display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440). Cocok nih dipakai untuk bekerja dengan spreadsheet atau mengutak-atik tampilan website maupun blog. Cocok juga untuk video call dengan suami atau eyang anak-anak yang nun jauh di sana (penting, lho!). Fitur Acer BlueLight Shield mampu melindungi mata pengguna, aset karunia Tuhan yang penting untuk tetap dijaga. Processor-nya sixth-generation Core i5 lho, dengan RAM 8GB, baca di review luar sih katanya bikin kerja sambil buka banyak tab terbuka sekaligus tetap lancar tanpa hang. Problem ngadat seperti itulah yang sering saya alami selama ini, mengingat saya merasa lebih mantap kalau membuka banyak referensi untuk cek dan ricek ketika menulis (biar hasil karya valid dan bisa dipertanggungjawabkan, kan).

acer-switchable

Switchable, bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet

Hal lain yang bikin saya makin antusias adalah adanya kickstand yang bisa dimiringkan hingga 165 derajat supaya lebih nyaman digunakan. Keyboard docking Switch Alpha 12 terkoneksi melalui engsel magnetik, jadi bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet, plus dilengkapi backlit untuk memudahkan pemakaian di tempat minim pencahayaan. Tahu aja nih, ibu-ibu kalau malam kadang masih perlu nulis sesuatu tapi kalau lampu dinyalakan semua si kecil ikut bangun, hehehe. Switchable banget, kan? As switchable as yang saya butuhkan, mengingat aneka keperluan saya yang kadang menuntut ‘gaya’ yang berbeda dalam mengoperasikan netbook.

acer-transfer-data

USB 3.1 Type-C dengan port bolak-balik dan transfer data lebih cepat

Bekerja dengan gawai acapkali juga berarti munculnya keperluan untuk memindahkan data. Nah, Switch Alpha 12 sudah pakai USB 3.1 Type-C, nih, yang port-nya bolak-balik dan transfer data juga bisa lebih cepat yaitu mencapai 5 Gbps (10 kali lebih kencang dibandingkan dengan USB 2.0). Tersedia juga stylus pen (dijual terpisah) untuk membantu presentasi menjadi lebih praktis. Kemudahan-kemudahan itu bisa menghemat waktu juga, demi kelancaran pertukaran peran working mom yang juga butuh me time seperti saya.

acer-1Jelas kan, Acer Switch Alpha 12 ini pas banget untuk saya. Masuk wish list pokoknya, semoga segera ada rezeki untuk mendapatkannya. Kalau sudah dapat, netbook yang lama dikemanakan, dong? Bisa dipakai anak pertama, lah, biar nggak hanya terbiasa dengan layar sentuh :).

acer

Aktivitas Keluarga Optimal dengan Rumah Bersih Maksimal

Terus terang, citra vacuum cleaner di mata saya selama ini adalah ‘perkakas high end yang termasuk kebutuhan tersier’. Salah satu pemicunya ya karena harganya yang konon tergolong tinggi (padahal tidak serius mengamati, hehehe).

Saya sendiri sebetulnya agak sensitif soal debu. Bebersih rumah standar sih tidak jadi masalah. Namun, kalau sudah bongkar-bongkar tumpukan barang yang cukup lama tidak disentuh, yang biasanya jadi sarang debu, bersin-bersin dan gatal-gatal-lah saya. Sebetulnya sih, yang lebih tepat adalah reaksi terhadap tungau debu (household dust mites), ya, bukan terhadap debunya itu sendiri. Makhluk kerabat laba-laba ini habitatnya memang di debu rumah. Si tungau supermungil ini tidak menggigit, tetapi badan dan sekresinya bisa mengandung serpihan kulit mati atau hal lain yang memicu reaksi alergi.

Jika membaca forum-forum online ibu-ibu dengan topik kesehatan anak, masalah debu ini juga sering dikeluhkan menjadi pemicu alergi pada bayi dan anak. Kasihan kan, anak bersin-bersin dan hidungnya tersumbat, atau muncul ruam pada kulit halus si kecil. Bisa jadi ada agenda keluarga atau individu keluarga yang harus tertunda atau dibatalkan gara-gara salah satu anggotanya mengalami gejala alergi.

Beberapa dokter yang saya kenal pernah menjelaskan bahwa standar tata laksana untuk alergi itu sendiri yaitu hindari pemicunya. Obat bisa digunakan untuk menangani atau meredakan gejala yang sudah telanjur timbul, beberapa terapi disebut ampuh agar tubuh lebih kebal, tetapi pencegahan adalah kunci utama.

Sementara, beberapa pernak-pernik di rumah yang sering dianggap identik dengan dunia bayi dan anak seperti boneka, selimut, dan karpet atau permadani cenderung punya sifat memerangkap debu. Vacuum cleaner atau biasa diterjemahkan sebagai penghisap debu, sebagaimana namanya, merupakan salah satu perangkat yang bisa menjadi solusi.

Nah, saat browsing terkait perlengkapan rumah tangga, tawaran vacuum cleaner dari berbagai produsen ternyata cukup sering berseliweran di ad banner yang dipasang oleh toko-toko ataupun marketplace online.  Wah, tidak terlalu mahal juga, pikir saya. Tapiii, ada tapinya, nih. Namanya barang elektronik, tentu maunya yang awet dan berkualitas, ya.

Sayang kan, kalau dipakai sebentar sudah rusak, atau kinerjanya ternyata tidak sesuai deskripsi. Lebih boros nanti jatuhnya. Bicara soal daya tahan, saya mau tidak mau teringat jingle iklan yang sering diputar di televisi dulu, “Kalau saja semua seawet Electrolux”.

Tahun 2016, vacuum cleaner Electrolux kembali meraih penghargaan Top Brand Awards, lho. Artinya brand ini banyak dikenal, dibeli, dan konsumennya pun loyal (top of mind, market, & commitment share). Baca-baca sejarahnya, memang Electrolux-lah yang menjadi pelopor di bidang vacuum cleaner.

Tahun 1912 Axe Wenner-Gren, pendiri Electrolux, melansir Lux 1, penghisap debu rumah tangga pertama. Artinya, pengalaman Electrolux sudah lebih dari 100 tahun #Over100YearsElectroluxVacuum. Tentu bentuknya belum seperti sekarang, ya. Beratnya saja masih 14kg!

vacuum1

vacuum-2

Tipe-tipe Electrolux vacuum cleaner

Electrolux terus melakukan inovasi melalui penelitian hingga vacuum cleaner yang diproduksi semakin efisien dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Ya, ada berbagai tipe yang dikeluarkan oleh Electrolux. Awalnya saya tahu ada tipe-tipe ini dari artikel di web The Urban Mama, yang menyampaikan materi sharing dengan Electrolux Indonesia. Kemudian saya cari lebih detil di katalog resminya.

 

Tipe-tipe ini meliputi:

  1. Wet & dry yang bisa digunakan untuk luar rumah dan mampu membersihkan cairan, serbuk kayu, debu, dan kerikil.
  2. Stick yang cocok untuk rumah kecil, tersedia model cord maupun cordless.
  3. Canister yang lebih tangguh, tersedia model bagged maupun bagless.
ergorapido-1

Ergorapido ZB3114AK

Pilih yang mana, ya? Yang masuk ke wishlist saya sih yang stick, mengingat ukuran rumah yang mungil. Ergorapido ZB3114AK misalnya, yang bagless, cordless, baterainya tahan lama dan isi ulangnya cepat, kepala hisapnya bisa bermanuver 180 derajat pula.

Dengan vacuum cleaner yang andal, mudah digunakan, dan bermutu tinggi, tujuan penggunaannya yaitu rumah yang bersih juga akan tercapai dengan maksimal. Bersih-bersih rumah jadi lebih menyenangkan dan tak memakan waktu lama. Rumah bersih artinya meminimalkan potensi pemicu alergi. Ketika alergen sudah dihalau, keluarga pun bisa hidup lebih sehat. Kesehatan optimal menjadi salah satu modal utama untuk beraktivitas sehari-hari dengan baik, kan?

 

#TUMElectroluxBlogCompetition

Referensi:

http://www.electrolux.co.id/Products_new/Cleaning/

https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/house-dust-mite

http://www.webmd.com/allergies/guide/dust-allergies

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dust-mites/basics/definition/con-20028330

http://theurbanmama.com/articles/tumluncheon-clean-house-happy-family-m58460.html

http://www.topbrand-award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2016_fase_1

Click to access Master_Catalog_Vacuum.pdf

 

Karena Saya Ingin Berada di #UsiaCantik Seperti Mama

“La, kuwi mamahmu tenan (itu beneran mama kamu)?”

Pertanyaan ini sudah sampai bosan saya dengar ketika waktunya pengambilan rapor di SD dulu. Mama memang seringnya datang ke sekolah dalam keadaan berpakaian rapi karena setelahnya langsung berangkat lagi ke kantor. Eh, sebetulnya tak hanya ke kantor saya sih mama berdandan rapi, tapi intinya adalah teman-teman sekolah saya sering mengomentari bahwa mama saya terlihat cantik (beda dengan anaknya yang sering berjemur panas matahari, hahaha).

Jarak usia mama dan saya 26 tahun. Kini saya sudah menyandang status sebagai wali murid, sejak putri saya masuk TK beberapa bulan yang lalu. Sama-sama berpakaian rapi-ngantor-style di beberapa kesempatan mengunjungi  sekolah anak, tapi saya seringkali tetap merasa tidak percaya diri. Rasanya, saya harus belajar banyak dari mama, deh.

Apa yang membuat saya tidak percaya diri? Pertama, wajah saya tidak mulus-mulus amat. Dibandingkan dengan foto-foto mama saat seumuran yang ada di album foto di rumah, kayaknya jauh lah. Jerawat dan kawan-kawannya di sisi lain juga sering dikaitkan dengan keengganan mengurus diri, baik melalui asupan yang masuk maupun perawatan luar. Mama memang sebetulnya sudah sering menegur saya untuk lebih telaten, minimal dalam hal membersihkan muka dan mengoleskan tabir surya sebelum beraktivitas. Saya ingat sekali bahwa saya menikmati melihat ‘ritual’ mama setiap malam menjelang tidur, dengan dua langkah pembersihan (zaman sekarang sudah disarankan tiga langkah, ya), kemudian ditutup dengan krim malam.

Kata mama, perawatan itu penting, karena efeknya, bila melakukan maupun tidak, bisa jangka panjang. Malas pakai tabir surya sekarang, siap-siap saja wajah dihinggapi spot gelap. Hasilnya memang terlihat, sih. Di usia sekarang, mama masih tampil prima. Ledekan teman-teman pun berganti, seringnya kami dibilang kakak-beradik, tapi saya kakaknya, hahaha. Petugas di salon langganan saya di Pangkalpinang dulu juga sempat mengekspresikan keterkejutannya secara terang-terangan begitu pertama melihat mama yang menurutnya ‘modis’. Penampilan memang bukan segalanya, tapi upaya menjaga apa yang sudah dianugerahkan Tuhan ke kita merupakan salah satu wujud syukur, kan? Agar seseorang bisa tampil optimal di #UsiaCantik-nya, tentu harus ada langkah yang diambil. Bisa berupa makan dengan gizi seimbang, rajin menjaga kebersihan, juga melakukan perawatan dengan bahan alami ramuan sendiri maupun produk dari brand tepercaya. Makin bertambah usia, harus makin bijak juga kan ya, termasuk memilih skincare yang aman dan teruji. Kalau bisa sih yang tidak terlalu sulit juga untuk dicari, ya. Sebut saja untuk mengatasi kulit kendur dan kerutan halus yang mulai muncul, kita bisa mengandalkan lini Revitalift dari L’Oreal Paris.

saya-mamaHal kedua yang membuat saya kadang gentar adalah cara membawakan diri. Ya, bukan hanya penampilan luar yang penting, tapi juga tingkah laku kita. Be yourself agar tak kehilangan jati diri adalah satu hal, menghargai orang lain adalah hal lain yang juga tak kalah penting. Mama begitu luwes berbaur dan mengobrol dengan orang baru sekalipun (tanpa meninggalkan kewaspadaan tentunya), sedangkan saya yang cenderung introvert kerap kali berpikir bahwa usaha untuk bergaul secara langsung itu pada awalnya cenderung menyiksa. Well, kita kan makhluk sosial, ya. Kalau kita terlihat judes, yang rugi kita sendiri, kan? Seulas senyum ramah sudah mampu menambah nilai kecantikan kita, kok. Bukan bermaksud berpura-pura juga lho, ya. Yang saya rasakan dengan berlatih selama beberapa waktu belakangan ini, beramah-tamah itu asyik juga, kok. Mengobrol dengan sesama ibu-ibu yang menunggu anaknya selesai berkegiatan di sekolah ketika saya sedang tidak ngantor misalnya, bisa menambah wawasan dan networking.

telah-sampai-pada-tahap-kesadaran-akan-kebutuhan-untuk-memberi-dan-mendapatkan-apa-yang-terbaik-bagi-diriPada dasarnya seseorang akan menyenangkan untuk dilihat jika sudah nyaman dengan dirinya sendiri. Bukan sekadar menerima diri apa adanya, melainkan juga telah sampai pada tahap kesadaran akan kebutuhan untuk memberi dan mendapatkan apa yang terbaik bagi diri. Kenyamanan inilah yang bagi beberapa orang butuh proses untuk mencapainya. Ada yang di usia belia sudah tampil dengan percaya diri, ada pula yang baru berani berjalan dengan kepala tegak di umur yang lebih matang, katakanlah mulai 35 tahun. Sebagian orang bilang, pesona kecantikan fisik bisa pudar seiring berjalannya waktu, yang bertahan adalah kecantikan hati. Hal ini ada benarnya, yaitu bahwa karakter positif sebaiknya memang kian terasah ketika angka usia bertambah. Namun, menjaga penampilan fisik agar tetap enak dilihat pun tak salah, selama caranya tepat.

Mama sudah menjadi teladan yang nyata bagi saya, bahwa berada di #UsiaCantik berarti semakin mantap melangkah dengan pilihan yang sudah diambil, termasuk bertanggung jawab terhadap konsekuensinya. Harus dong ya, pengalaman hidup kan juga sudah lebih kaya, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun apa yang didengar, dibaca, atau disaksikan. Bukan berarti melupakan bagaimana caranya bersenang-senang, tetapi sudah memperhitungkan risk vs benefit serta konsekuensi segala tindakan yang dilakukan. Dari konsekuensi yang kecil saja deh, pakai rangkaian perawatan kulit agar tampil cantik artinya harus meluangkan waktu saat kantuk mungkin sudah menyerang, kan? Atau mempertimbangkan secara lebih berhati-hati tawaran promosi ke jenjang karir yang lebih tinggi lagi ketika dampaknya berpotensi mengurangi waktu bersama keluarga (mengingat setiap orang punya prioritas yang berbeda).

Jadi, seberapa siap saya menyambut #UsiaCantik, mengingat jika diberi kesempatan, beberapa bulan lagi umur saya sudah genap 32 tahun? Saya akan lakukan sebaik yang saya bisa :). Sebab, saya ingin berada di #UsiaCantik sebagaimana mama saya melewatinya. Mungkin dengan pengalaman hidup yang berbeda, tetapi apa yang sudah mama lalui tetap berharga untuk saya jadikan sebagai bekal.

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

Samsung Galaxy J, Bikin Blogging Jadi Lebih Menyenangkan

Pada dasarnya saya suka menulis dan mewartakan. Saya sepertinya punya semacam naluri suka berbagi informasi. Bukan dalam rangka pamer, ya. Dan tentu pilih-pilih kontennya dulu (plus cek dan ricek), apalagi kalau bentuknya forward dari pihak lain. ‘Hobi’ yang ini mendapat penyaluran ketika saya mengenal weblog atau lebih sering disebut dengan blog. Biarpun tidak kesampaian jadi wartawan betulan, saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat. Yaaah, siapa tahu saja ada yang ternyata memerlukan referensi sebelum membeli sebuah buku, memutuskan metode pengasuhan yang tepat untuk anak, menentukan destinasi liburan, memilih media penyajian ASI perah untuk bayi, melewati daerah tertentu, atau butuh cara menghentikan aplikasi yang menyebalkan di gadget. Saat ini bahkan blogging bisa jadi kegemaran yang membuahkan imbalan materi.

istiqlal

Fathia di Istiqlal, foto diambil dengan Samsung Galaxy Chat

Sejak dulu saya lebih sering nge-blog di ponsel. Belum sampai tingkatan ponsel pintar tentunya, tapi lumayanlah sudah bisa posting dengan mudah, tidak harus menyalakan komputer/notebook dulu. Apalagi seringkali saya memanfaatkan foto-foto jepretan sendiri untuk ilustrasi blog. Tentu lebih mudah mengunggahnya langsung dari ponsel ketimbang harus mencari kabel data atau menyalakan bluetooth dulu. Dengan ponsel, blogging bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Makanya saya senang sekali ketika layanan blogging yang saya gunakan waktu itu mengeluarkan tampilan versi mobile, juga memberi fasilitas cepat posting melalui e-mail. Kalau dibandingkan dengan zaman sekarang sih mungkin masih belum praktis-praktis amat, tetapi untuk masa itu sudah sangat membantu.

 

 

Kini eranya smartphone, kegiatan blogging juga terfasilitasi menjadi lebih mudah. Beberapa fitur yang saya anggap harus ada dalam ponsel untuk bisa disebut mempermudah blogging di antaranya adalah:

      1. Layar yang lebih lega untuk kenyamanan membaca dan mengetik. Namun, tetap harus enak digenggam, tidak licin maupun terlalu berat ditenteng.
      2. Penerangan tambahan (flash light) untuk memotret, karena saya dan keluarga sering mengunjungi berbagai museum yang pencahayaannya minim, atau kadang-kadang datang ke event malam hari.
      3. Resolusi foto dan video yang prima hingga hasilnya cantik dipajang sebagai pendamping tulisan maupun muatan utama, misalnya dijadikan vlog. Klien atau penyelenggara kegiatan senang kan pastinya kalau foto atau tayangan yang kita posting mengundang ketertarikan pembaca. Untuk disimpan sendiri pun, maunya suatu peristiwa diabadikan semaksimal mungkin agar kian manis dikenang.
      4. Ketahanan baterai yang mumpuni supaya nggak keburu mati ketika harus meliput kegiatan yang berdurasi cukup lama atau kita sedang dalam perjalanan mudik misalnya (banyak lho hal baru yang bisa jadi sumber ide tulisan ketika sedang pulang kampung).
      5. RAM dan prosesor yang handal agar aktivitas pengguna tak dikit-dikit ngadat. Tentu harus disertai juga dengan manajemen ponsel yang bagus, ya, oleh pengguna sendiri.
      6. Memori lega supaya segala arsip dan aplikasi pendukung blogging (termasuk media sosial dan messenger) tersimpan dengan rapi.
      7. Kemampuan menangkap koneksi yang menyokong kecepatan pencarian informasi tambahan agar tulisan makin ‘kaya’ (juga mendukung postingan menang lomba live tweet, nih).
id-feature-galaxy-j5-2016-j510fn-59516890

Baterai tahan lama mendukung aktivitas sebagai blogger

Hasil baca sana-sini, semua kriteria itu ada di Samsung Galaxy J5 dan J7, lho. FYI, brand Samsung ini yang paling saya percaya untuk urusan ponsel. Dari zaman belum berkamera (lebih tepatnya saya nggak enak minta dibelikan yang berkamera), sampai berkamera (dibeli pakai rapelan gaji pertama), dan smartphone android saya, ya dari Samsung ini. Apalagi sekarang ada program Galaxy Gift Indonesia, ya, jadi pengguna bisa memperoleh berbagai pilihan hadiah menarik yang berbeda setiap harinya.

Samsung Galaxy J5 punya CPU Quad-Core dengan kecepatan 1.2GHz, jadi kalau ada adu cepat dan adu banyak postingan berbasis microblogging bakal nggak ada cerita lag kelamaan yang bikin kita tertinggal mencuitkan apa kata narasumber atau kehilangan objek foto menarik. Ada Signal Max yang menolong agar sinyal panggilan telepon bisa ditangkap maksimal. Baterainya berkapasitas 3100 mAh, jadi kita tidak dibikin ribet dengan kabel powerbank ketika kegiatan belum lama dimulai. Bisa lebih irit juga lho, dengan dukungan Ultra Data Saving yang mampu menghemat kuota data hingga 50% (berdasarkan tes lab Opera, untuk aplikasi-aplikasi tertentu). Pernah sulit membaca layar ponsel di tempat terang, misalnya saat kegiatan outdoor di mana matahari bersinar terik? Super Amoled Display Samsung Galaxy J5 membuat layar ponsel tetap jelas terlihat.

Perbendingan ukuran Samsung J5 dan Samsung J7

Perbendingan ukuran Samsung J5 dan Samsung J7

Kamera utama Samsung Galaxy J5 ini 13MP sedangkan kamera depannya 5MP, daaaann bukan hanya kamera belakang yang disertai dengan flash, ada front flash-nya juga! Flash di bagian depan ini perlu, soalnya wefie dengan pengisi acara atau tokoh yang ditemui hasilnya kan kurang oke kalau pencahayaan kebetulan sedang minim (not to mention kalau sewaktu-waktu ada kesempatan candle light dinner sama suami, ya :D). Dukungan 4G-nya juga memungkinkan untuk live report talk show, mengunggah jepretan narsis-narsis ria (meskipun blogger kelihatannya bekerja di balik layar tapi adakalanya pengin tampil, dong), maupun mengirimkan e-mail ke klien atau penyelenggara kontes dengan cepat.

id-feature-galaxy-j7-j700-sm-j700fzkdxid-55233472

Browsing website lebih cepat, bermain game,dan melihat video HD dengan mudah tanpa lagging dengan prosesor andal Galaxy J

Sedangkan Samsung Galaxy J7 menawarkan kecepatan yang lebih wow, dengan Octa-Core 1,5GHz. Sebagai produk seri J, tipe ini pun dipersenjatai dengan quick launch. Cukup tekan tombol home dua kali untuk bisa mengakses kamera dengan cepat. Momen penting seringnya tidak datang dua kali, kan? Sayang sekali kan kalau ekspresi lucu penampil di pentas hiburan, detik-detik terakhir menuju kemenangan lomba lari anak, atau penyerahan hadiah terlambat kita tangkap. Ukuran Samsung Galaxy J7 yaitu 5.5″ sedikit lebih besar dibandingkan dengan Galaxy J5 yang 5.2″. Tampilan layar yang dimiliki leluasa disimak tanpa meninggalkan aspek kenyamanan untuk digenggam. Spesifikasi lainnya mirip dengan Samsung Galaxy J5, misalnya memori internal yang sama-sama 16GB (expandable up to 128GB), RAM juga 2GB. Hanya saja baterai Samsung Galaxy J7 3300 mAH, bisa lebih lama bertahan tanpa perlu sedikit-sedikit diisi ulang.

id-feature-galaxy-j5-2016-j510fn-59516883

Kamera beresolusi tinggi yang mudah dioperasikan, fitur wajib untuk mendukung tampilan blog atau postingan di media sosial

Mengingat status saya sebagai ibu dua anak (yang satu baru saja menanggalkan titel balita), efisiensi waktu is a must. Blogging bagi saya termasuk salah satu me time yang menyenangkan (dan terkadang menghasilkan :)). Dengan adanya ponsel seperti Samsung Galaxy J5 dan J7, saya bisa menghemat banyak waktu hingga kepuasan menulis dapat, kebersamaan dengan anak pun dapat. Blogging semakin mudah dan fun. Tentunya ponsel ini juga bisa menjadi andalan saya ketika mendokumentasikan langkah demi langkah tumbuh kembang anak-anak, sekaligus menjembatani komunikasi dengan suami (ya, saya sedang LDR-an) dan orangtua yang tinggal berlainan kota.

 

Foto-foto ponsel dari web resmi Samsung Indonesia, foto Fathia di Istiqlal saya ambil menggunakan Samsung Galaxy Chat yang masih awet dipakai.

Mengenalkan Anak pada Penyandang Kelainan Langka

Bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan berbagai keunikan masing-masing, itu cukup saya pahami. Bagaimana memberikan pengertian ke anak terkait hal tersebut adalah suatu PR lain yang belum usai. Anak-anak cepat atau lambat akan menyaksikan dan bersentuhan dengan keberagaman di masyarakat. Kendati fitrah anak-anak adalah penuh kasih sayang, tetapi sudahkah mereka dibekali dengan benar bagaimana cara bergaul dan memperlakukan orang lain yang mungkin berbeda secara fisik? Terus terang, kalimat yang paling mudah dilontarkan adalah, “Kasihan ya… makanya kamu harus bersyukur.” Namun, apakah sesederhana itu? Benarkah penyandang kelainan langka atau rare disorders, juga keluarganya, adalah insan yang patut menerima pandangan iba?

Saya sendiri pada awalnya mengenal kelainan langka sebagai ‘sekadar’ salah satu kondisi kesehatan yang berbeda dari biasa. Belakangan saya baru tahu, sebagaimana namanya, kondisi yang satu ini ditandai dengan angka keterjadiannya yang kecil. Yang belum teridentifikasi pun ada. Saya kutip dari web resmi Indonesia Rare Disorders,

Suatu kelainan atau penyakit dikategorikan langka jika angka kejadiannya adalah 1 : 2.000 atau lebih. Saat ini ada sekitar 6.000 – 8.000 jenis kelainan langka yang telah teridentifikasi, dan jumlah ini terus bertambah setiap minggunya.

Sekarang mari kita berhitung. Jika populasi Indonesia diperkirakan sebanyak 250.000.000 orang, maka ada sekitar 125.000 orang yang menyandang rare disorder, ini jika angka kejadiannya adalah 1 : 2.000. Ini baru perhitungan jumlah maksimal dari 1 jenis kelainan/penyakit, sementara yang sudah teridentifikasi saja ada sekitar 6.000 – 8.000 jenis, maka jumlahnya sekitar 75.000.000 – 100.000.000 orang atau sekitar 30 – 40% dari total jumlah penduduk. Angka ini bisa lebih kecil karena yang digunakan adalah prevalensi terendah yaitu 1 : 2.000, semakin langka maka tentu saja jumlah penyandangnya akan semakin sedikit, namun bagaimanapun, ini bukanlah jumlah sedikit, bukan hal sepele yang bisa begitu saja diabaikan, apalagi rare disorders ikut menyumbang sekitar 35% angka kematian anak usia di bawah 1 tahun.

Karena langkanya itulah, banyak saya rasa yang belum mengetahui adanya sindrom seperti Cornelia de Lange, Treacher Collins, Pierre Robin Sequence, dan seterusnya. Media massa ada sih yang memberitakan atau mengangkat cerita penyandang kelainan langka, tapi jujur saja, seringkali nama kondisi tersebut singgah sejenak saja di ingatan, apalagi kebanyakan istilah yang digukanan berbahasa asing. Namun, dari yang sedikit itu pun saya rasa cukup turut andil menggugah perhatian pembaca. Siapa tahu ada kenalan pembaca yang punya ciri-ciri atau gejala serupa, lantas pembaca tersebut jadi bisa menyarankan kenalannya untuk mencari tahu lebih jauh dengan lebih terarah atau menganjurkan ke tenaga kesehatan yang tepat. Sebab sebagaimana yang saya ketahui belakangan, terkadang tenaga medis pun tidak mengetahui kondisi rare disorders tertentu kecuali aktif mencari tahu atau bertanya ke sejawat yang lebih berpengalaman, saking langkanya. Belum lagi, kadang kondisi fisik yang berbeda kadang dianggap ‘aib’ yang mesti ditutupi, rawan dihinggapi mitos tak logis, sampai-sampai bisa jadi akibat begitu malu atau tertekannya (bahkan mungkin ada penyangkalan) hingga tidak ada bayangan untuk mencari bantuan (support group, terapi, bahkan mendapatkan diagnosis) yang pas.

Maka kehadiran komunitas Indonesia Rare Disorder saya rasa sangat baik untuk meingkatkan kepedulian masyarakat, juga memberdayakan penyandang dan keluarganya. Awalnya saya kenal dengan mba Wynanda B.S. Wibowo melalui grup pendukung ASI, Tambah ASI Tambah Cinta (TATC). Tahun 2014 mba Wyn melahirkan anak kedua, Kirana, yang mendapatkan diagnosis Pierre Robin Sequence. Dasarnya saya suka kepo, saya pun kadang menyempatkan searching soal sindrom/sequence tersebut, meski pengetahuan saya tentunya tetap jauh tertinggal dari mba Wyn yang saya kenal begitu gigih. Rangkaian konsultasi, pemeriksaan, dan tindakan yang harus dihadapi Kirana cukup banyak dan itu pun masih menyisakan banyak pertanyaan hingga kini. Dari pengalamannya itulah mba Wyn lalu bergerak bersama beberapa orang teman, mendirikan komunitas IRD. Dengan motto “Langka, Nyata, Berdaya” yang juga tampil disimbolkan lewat penyu nan lucu, para orangtua dan penyandang IRD saling mendukung dan mengadakan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan sesama orangtua maupun masyarakat pada umumnya. Di antara informasi yang saya peroleh dari mengikuti (kendati tidak intens sekali) aktivitas komunitas tersebut adalah fakta bahwa kelainan genetika tidak selalu diturunkan dari generasi sebelumnya dan tidak selalu menurun ke generasi berikutnya.

img-20160808-wa0005.jpg

Salah satu kegiatan komunitas IRD yang saya hadiri adalah acara talk show di Casa Grande Residence, Jakarta, pada tanggal 7 Agustus lalu. Materinya mencakup tentang Optimalisasi Kualitas Hidup Bayi Prematur oleh dr. Agung Zentyo Wibowo, B.Med.Sc. yang juga founder Komunitas Prematur Indonesia, Pentingnya Menjaga Kesehatan Mulut dan Gigi Sejak Dini oleh drg. Lila Susanti, Sp. KGA (dokter gigi spesialis anak), dan Memahami Gangguan Makan dan Gangguan Pertumbuhan pada Anak oleh dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A., IBCLC. Penampilan Alafta Hirzi “Zizi” Sodiq, penyandang tunanetra akibat ROP (retinopathy of prematurity) berusia 8 tahun yang piawai memainkan piano (belajarnya otodidak, lho) sambil bernyanyi dengan suara merdu mau tak mau membuat saya berkaca-kaca… bukan apa-apa, saya jadi ingat papa yang selama beberapa tahun terakhir hidup beliau juga kehilangan penglihatan walau karena sebab yang berbeda dengan Zizi.

Apa yang disajikan oleh para pembicara dalam talk show tersebut amat menambah wawasan (kalau mau baca juga presentasinya, bisa ke web IRD). Saat menghadiri acara tersebut saya mengajak serta seluruh anggota keluarga: suami dan anak-anak (Fathia 4,5 tahun dan Fahira 1,5 tahun). Alasan saya membawa anak-anak, pertama karena tak ingin kehilangan momen kebersamaan di akhir pekan sembari tetap ikhtiar memperluas wawasan. Juga agar mereka berinteraksi langsung dengan teman-teman penyandang IRD. Kenyataannya sih 2F malu-malu bergabung dengan anak-anak lain, lebih sering main berdua atau bergelayutan pada kami. Tapi setidaknya mereka bisa melihat teman-teman istimewa yang dengan seru main bersama. Sebelumnya Fathia memang pernah saya ajak juga ke acara talk show grup TATC di mana ia untuk pertama kalinya bertemu dengan mba Wyn dan mba Yola Tsagia (founder IRD juga) dengan putrinya Odil. Fathia juga pernah saya ajak menonton acara televisi yang menampilkan keluarga mba Wyn dan mba Yola dengan tema Mari Mengenal Rare Disorders, serta ikut menyimak artikel majalah yang memuat mereka yang sengaja saya beli.

14124926_1768967536706212_7541180624862574379_o.jpg

Muncul pertanyaan dari putri kecil saya, pastinya. Kenapa wajahnya begitu, kenapa harus pakai alat itu, kenapa jalannya gitu? Hasil silent reader saya di grup membantu saya memilih kata yang tepat untuk disampaikan kepadanya. Penyandang IRD dan keluarganya bukan mengiba belas kasihan, mereka justru mencontohkan sesuatu. Tuhan tentu memberikan kondisi spesial pada ciptaan-Nya yang istimewa dan dikelilingi orang-orang istimewa pula. Bahkan dengan mengesampingkan kondisi psikis yang mungkin terpantik akibat pandangan miring pun, masih tetap banyak tenaga, waktu, bahkan biaya yang perlu dikeluarkan untuk sesi pemeriksaan jasmani, tes lab, terapi khusus, diet tidak biasa, obat, dan alat bantu. Pendeknya, perlu semangat juang yang kuat. Semangat itulah yang patut diteladani. Kalaupun memang penyandang IRD perlu perlakuan atau fasilitas khusus, itu tak lepas dari hak tiap manusia mendapatkan kenyamanan mendasar yang toh tidak sampai mengganggu hak orang lain dan naluri serta kewajiban manusia juga untuk saling menolong. Selain itu, yang saya tanamkan juga adalah kebutuhan, bukan hanya keharusan, untuk mensyukuri segala kondisi.

Selamat ulang tahun IRD, semoga makin berkah dan menyebar manfaat :).

 

(Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “IRD Awareness Writing Contest: Mari Mengenal Rare Disorders”)

#IRDAwarenessMonth #MariMengenalRareDisorders #IndonesiaRareDisorders

 

Perdana Menang Live Tweet

Live tweet alias posting sesuatu di Twitter langsung di tempat event berlangsung bisa menjadi salah satu sarana agar sebuah acara kian luas terpublikasikan keberadaannya. Kalau bisa sih rangkaian tweet tersebut jadi trending topic dan menarik perhatian lebih banyak orang untuk membaca, syukur-syukur tertarik mencari tahu lebih banyak atau bahkan membeli produk yang ditawarkan/diluncurkan dalam acara tersebut.

Maka penyelenggara tak hanya melakukan ikhtiar melalui posting (sendiri) di akun resminya (+akun para sponsor jika ada), melainkan juga menggelar lomba live tweet. Postingan live via Instagram atau Facebook kadang juga dilombakan, tapi mungkin karena lebih terukur jadi live tweet sependek pengetahuan saya lebih sering menjadi primadona.

Lomba live tweet pertama yang saya ‘saksikan’ sendiri adalah di sebuah acara pelatihan untuk ibu hamil. Waktu itu sih kriteria pemenangnya kalau tidak salah lebih ke kalimat inspiratif, ya, bukan jumlah cuitan.

Kemudian di suatu kegiatan launching buku anak saya tertarik memperhatikan antusiasme sekelompok hadirin (karena duduknya memang menggerombol) yang kemudian bersorak gembira ketika pemenang live tweet (yang lombanya sendiri sudah diberitahukan jauh-jauh hari bersamaan dengan informasi kegiatan utama) diumumkan.

Continue reading

Pangkalpinang, Kota Kenangan yang Penuh Harapan Menyongsong Masa Depan

Kite ke aik panas, maen ke Pantai Matras
Kite ke Pangkal Pinang Pasir Padi

Potongan lirik lagu dari band Klaki itu mengalun lagi sore ini, membawa kenangan akan sebuah kota di mana saya dan suami pernah bertugas. Ya, kota Pangkalpinang menjadi lokasi ‘bulan madu’ kami selama lebih kurang empat tahun lamanya. Kalau dibahas, #pesonapangkalpinang seolah tak ada habisnya.

Kota Pangkalpinang merupakan ibukota dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbentuk pada tahun 2001 dengan Kota Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi. Provinsi ini terdiri dari 1 kota dan 6 kabupaten, yaitu Kabupaten Bangka (sering disebut juga sebagai Bangka Induk, dengan ibu kota Sungailiat), Kabupaten Bangka Barat (dengan ibu kota Muntok), Kabupaten Bangka Tengah (dengan ibu kota Koba), Kabupaten Bangka Selatan (dengan ibu kota Toboali), Kabupaten Belitung (dengan ibu kota Tanjung Pandan), Kabupaten Belitung Timur (dengan ibu kota Manggar), dan Kota Pangkalpinang (dengan ibu kota Pangkalpinang).

 Akses Mencapai Pangkalpinang

Untuk mencapai kota Pangkalpinang dari Jakarta, perjalanan udara memakan waktu sekitar satu jam. Bandara tujuannya adalah Bandara Depati Amir. Kini semakin banyak maskapai penerbangan yang melayani jalur ini dengan jadwal yang bervariasi. Harga tiket biasanya akan naik drastis pada hari-hari raya keagamaan nasional, liburan sekolah, dan sekitar hari pelaksanaan Ceng Beng atau sembahyang kubur bagi masyarakat Tionghoa yang menjadi kesempatan pulang menziarahi makam leluhur sekalipun sudah merantau jauh. Rute udara lain menuju Bangka-Belitung adalah melalui Palembang atau Batam, tetapi pesawat tidak tersedia setiap hari. Dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung atau sebaliknya, selain menggunakan pesawat (tidak setiap hari ada) tersedia juga penyeberangan dengan kapal jetfoil.

Alternatif lain menuju Provinsi Bangka Belitung adalah menggunakan kendaraan pribadi atau bus. Waktu tempuh dari Palembang menuju Bangka membutuhkan waktu hampir satu hari. Untuk menyeberang dengan kapal feri dari Pelabuhan Boom Baru di Palembang ke Pelabuhan Tanjung Kalian Muntok, Bangka Barat membutuhkan waktu 3 jam. Jika menggunakan kendaraan pribadi akan lebih mudah mencapai lokasi-lokasi wisata di provinsi ini, karena jarang tersedia angkutan umum. Bagi yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, pilihannya adalah menyewa kendaraan atau mengikuti paket tur yang disediakan agen perjalanan.

Indahnya Kota Pangkalpinang

Panorama alam menjadi salah satu sumber utama wisata di Pangkalpinang. Layaknya suatu daerah, Kota Pangkalpinang juga memiliki beberapa landmark atau hal yang menjadi penanda sekaligus ciri khas bagi suatu daerah. Beberapa landmark dan objek wisata yang sering kami kunjungi di kota Pangkalpinang dulu adalah:

Taman Merdeka

Taman Merdeka Pangkalpinang merupakan sebuah area terbuka seluas lebih kurang 60 x 90 meter yang diapit oleh Jalan Sudirman, Jalan Merdeka, Jalan Rustam Effendie, dan Jalan Diponegoro. Tidak jauh dari taman tersebut terdapat titik nol Pulau Bangka, tepatnya pada pertigaan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Taman Merdeka ini sebelumnya adalah sebuah lapangan berumput dengan nama Lapangan Merdeka. Lapangan Merdeka awalnya merupakan perwujudan salah satu unsur tata kota berprinsip macapat (empat penjuru mata angin), yakni alun-alun yang terletak di sebelah selatan Rumah Residen yang menjadi pusat kekuasaan Belanda di Bangka pada masa lalu. Lapangan ini belakangan digunakan sebagai tempat bermain bola (terutama sebelum adanya Stadion Depati Amir) maupun upacara-upacara resmi seperti peringatan hari kemerdekaan RI dan acara perayaan seperti malam pergantian tahun dengan atraksi kembang api dan pelaksanaan salat Id. Sesuai dengan Perda Nomor 2 Tahun 1989, kawasan sekitar Rumah Residen (kini menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang) dikembangkan menjadi Kawasan Wisata Taman Merdeka. Pada tahun 2009 bentuk lapangan diubah menjadi semacam taman kota dengan ciri khasnya berupa air mancur berbentuk tudung saji.

Pada pagi maupun sore hari, banyak warga yang memanfaatkan Taman Merdeka sebagai tempat olahraga, seperti jogging, bersepeda, dan bermain skateboard. Ada juga yang sekadar bersantai bersama keluarga. Puncak keramaian biasanya terjadi pada malam hari. Mulai 2010, setiap hari Minggu dan hari-hari tertentu kawasan Taman Merdeka ditetapkan menjadi area car free day. Dengan demikian masyarakat diharapkan dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari keberadaan Taman Merdeka, misalnya dengan mengoptimalkan kawasan tersebut sebagai tempat berekreasi dan berolahraga.

Agar kebersihan dan kerapian Taman Merdeka tetap terjaga, pemerintah daerah melarang penjual makanan menjajakan dagangannya di taman tersebut. Akhirnya para pedagang beralih ke Jalan Rustam Effendie, yang kini menjelma menjadi pusat jajanan kuliner di malam hari dan seolah melengkapi keberadaan Taman Merdeka sebagai sarana wisata pusat kota.

Tugu Pergerakan Kemerdekaan

SAMSUNG DIGIMAX A403

Tugu Pergerakan Kemerdekaan berlokasi di dalam Taman Sari (dahulu bernama Wilhelmina Park), sebelah barat Rumah Residen/Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang. Tugu ini dibuat untuk mengenang perjuangan rakyat Bangka melawan penjajahan Belanda dan diresmikan oleh Moh. Hatta pada bulan Agustus 1949. Prasasti pada tugu tersebut bertuliskan “Surat kuasa kembalinya Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta, diserahterimakan oleh Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Medio Juni 1949”.

SAMSUNG DIGIMAX A403Bentuk tugu terdiri atas lingga di atas punden berundak-undak sebanyak 17 undakan (mencerminkan tanggal 17) bersegi delapan (menggambarkan bulan Agustus) dengan yoni berada di atas lingga dengan bentuk yang simetris dengan simbol mencerminkan perjuangan meraih kemerdekaan yang dilakukan oleh berbagai suku dan lapisan masyarakat Indonesia. Tinggi keseluruhan mulai dari undak terbawah sampai puncak lingga setinggi 7,65 m, terdiri dari tinggi undak dan yoni 1,65 m, tinggi lingga 1,65 m dan tinggi yoni 4,35 m, dengan luas areal tugu 168 m2.

Pantai Pasir Padi

Konon namanya berasal dari butiran pasir pantai ini yang menyerupai bulir padi berwarna kekuning-kuningan. Ya, pasir di sini memang tidak seputih pasir pantai-pantai lain di Babel, penampakan batu granit raksasanya pun amatlah minim. Namun, letaknya yang hanya 7 kilometer dari pusat kota membuat pantai ini menjadi pilihan utama bagi warga kota Pangkalpinang untuk sejenak melepaskan lelah dan bersantai bersama keluarga.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Ombak yang tenang dan air laut yang tidak dalam membuat kegiatan berenang dan bermain air nyaman dilakukan. Tersedia fasilitas untuk cuci-bilas dan beberapa persewaan alat berenang di sini. Dibangun pula sarana outbound dan arena permainan anak untuk melengkapi fasilitasnya. Beberapa bagian pantai ini yang terancam abrasi dilindungi dengan talud yang justru memberikan warna lain bagi pengunjung yang lebih suka duduk-duduk mengamati air laut dari kejauhan.

Jika air sedang surut, kita bisa berjalan-jalan ke Pulau Punan, pulau mungil yang biasanya terendam air laut, atau bermain bola di atas pasir putih. Bahkan kendaraan roda dua maupun empat pun bisa menjelajah hingga cukup jauh dari jalan aspal karena pasirnya padat dan keras. Pada waktu-waktu tertentu, salah satu sudut pantai ini menjadi lokasi perlombaan motorcross.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Di pantai ini terdapat banyak pilihan tempat makan, mulai dari restoran yang menawarkan pengalaman makan di atas kapal hingga kios-kios bakso, jagung bakar, dan kelapa muda yang tersebar di sepanjang pantai. Ada juga hotel bergaya resort yang cocok sebagai tempat pertemuan. Untuk memasuki kawasan Pantai Pasir Padi dikenakan retribusi yang masih berkisar pada angka ribuan rupiah.

Museum Timah

Museum Timah Indonesia yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani No. 179 ini semula merupakan rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW). Di tempat ini pernah diadakan beberapa kali perundingan kecil menjelang Perjanjian Roem-Royen antara pemimpin RI yang diasingkan ke Pulau Bangka dengan pemerintah Belanda dan UNCI (United Nations Commission for Indonesia).

SAMSUNG DIGIMAX A403

Museum ini merupakan museum teknologi pertimahan satu-satunya di Asia. Didirikan pada tahun 1958, semula bertujuan untuk mencatat sejarah pertimahan di Kepulauan Bangka Belitung kemudian dikembangkan sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat. Museum Timah memamerkan sejarah kegiatan penambangan di kepulauan Bangka Belitung, alat-alat penambangan tradisional/kuno atau yang memiliki nilai sejarah tinggi, yang dapat memperluas wawasan pengunjung museum. Museum Timah resmi dibuka pada tanggal 2 Agustus 1997 oleh Erry Riyana Hardjapamekas, Dirut PT Timah saat itu.

Benda-benda yang dipamerkan meliputi batuan timah dan mineral ikutan lainnya, alat tambang tradisional, mesin hitung dan telepon antik, bekas mangkuk keruk, perabotan rumah tangga kuno yang ikut ditemukan dalam penggalian timah, serta contoh produk jadi yang mengandung timah. Tidak ketinggalan aneka foto, gambar, diorama dan maket penambangan timah baik tradisional maupun modern, baik di darat maupun di laut dengan bermacam metodenya. Di halaman, berdiri kukuh lokomotif tua buatan Inggris tahun 1908 yang dahulu berfungsi untuk menarik kereta pengangkut pekerja dan hasil tambang timah.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Museum ini sangat informatif dalam menampilkan sejarah panjang penambangan timah di Bangka Belitung yang telah dimulai sejak tahun 1709. Tampak jelas bagaimana perkembangan teknologi penambangan dari masa ke masa, juga pengaruh bangsa-bangsa yang tertarik mengeruk keuntungan dari kekayaan alam ini.

Di luar sejarah pertimahan, dalam museum ini dipajang pula replika prasasti Kota Kapur, prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka tahun 1892. Prasasti bertuliskan aksara Pallawa ini merupakan prasasti pertama Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan.

Masjid Raya Tua Tunu

SAMSUNG DIGIMAX A403

Masjid Raya Tuatunu yang terletak di Desa Tuatunu, Kecamatan Gerunggang memiliki luas lantai dasar utama 784m2, lantai dua 490m2, teras luar 520m2, sedangkan luas tanahnya 9.920m2.

SAMSUNG DIGIMAX A403

Masjid ini juga memiliki menara setinggi 47,5m. Masjid yang diresmikan pada 20 Maret 2008 ini pernah dikunjungi oleh Presiden SBY pada peringatan Isra Mi’raj April 2008, kami pun ikut ke sana menyambut kedatangan bapak presiden.

 

 

 

Jajanan Istimewa

Bukan cuma asyik buat jalan-jalan, Pangkalpinang juga punya kekayaan kuliner yang kaya. Karena Babel secara keseluruhan berupa kepulauan jadi kebanyakan sih berupa hasil laut dan olahannya ya, sebagian yang lain dipengaruhi oleh makanan asal Tiongkok.

Martabak Bangka

800px-martabakmanis
Martabak manis atau hoklopan kondang dijajakan di berbagai daerah di negeri ini dengan nama martabak bangka. Betul, awalnya memang kue ‘bersarang’ ini berasal dari Bangka. Baik dengan topping standar maupun modifikasi, sama-sama lezat untuk cemilan yang cukup mengenyangkan.

Otak-otak Bangka

Penganan otak-otak yang terbuat dari ikan (biasanya ikan tengiri) ini memang bukan hanya ada di Bangka, tetapi otak-otak Bangka punya kekhasan pada saus sambalnya yang menggunakan tauco dan cenderung encer (lebih mirip kuah).

Keritcu

SAMSUNG DIGIMAX A403
Keripik telur cumi alias keritcu ini sesuai namanya dibuat dari telur cumi. Kadang saking kangennya saya titip pada teman yang bertugas di sana untuk mengirimkannya ke sini. Semasa di sana, saya pernah mengunjungi salah satu sentra pembuatannya sebagai bagian dari rangkaian KKN untuk mencapai gelar S1.

Siput Gung Gung

img_20160626_140749.jpg
Katanya sih dimakan dalam bentuk tumisan/masakan yang disajikan dalam bentuk cenderung masih basah bisa, tapi selama di sana saya tahunya siput gung gung/gonggong ini dalam bentuk keripik. Renyah dan bumbunya pas deh, cocok dijadikan cemilan.

Kembang Tahu

Ini makanan yang kalau di daerah asal saya di Jateng sana diistilahkan dengan ‘tahuk’. Di Pangkalpinang akhirnya saya mencicipi lembutnya ‘puding tahu’ dengan kuah manis pedas jahe yang dijajakan bapak-bapak keliling dengan label ‘thew fu fa’, beberapa pekan sebelum kami pindah ke Jakarta.

Pantiaw kuah ikan

SAMSUNG DIGIMAX A403
Pantiauw ini makanan yang mirip kwetiaw kalau kata kawan saya dari Belitung, tapi saya pernah melihat penjualnya memotong-motong dari bentuk seperti dadar, bukan dari alat semacam ‘pasta maker’ atau ditarik macam mie tradisional. Yang istimewa adalah kuahnya yang berisi daging ikan yang sudah dihaluskan, gurihnya itu lho… Ada juga pantiaw goreng, tapi saya lebih suka yang kuah.

Wastra Khas

SAMSUNG DIGIMAX A403

Kalau Sumatra Selatan sebagai provinsi yang dulu menaungi Bangka Belitung sebelum menjadi provinsi tersendiri punya songket, Bangka juga punya tekstil khas berupa kain cual. Kain ini aslinya juga berupa hasil tenunan dengan alat tenun bukan mesin, perpaduan antara tenun sungkit (songket) dan tenun ikat, tapi belakangan semakin populer dipasarkan dan digunakan dalam bentuk batik (khususnya batik cap). Corak batik yang sering dipakai adalah adaptasi dari kain limar muntok. Cual sendiri bermakna celupan awal pada benang yang akan ditenun.

SAMSUNG DIGIMAX A403

photo-0007

 

Sensor Mandiri, Benteng Keluarga Masa Kini

“Anakku tahu jingle iklan susu itu. lho, padahal di rumah kita nggak pernah nyalain tv. Liat di Youtube, kali, ya?” begitu cerita seorang teman di kantor seminggu yang lalu.

“Ada-ada aja pemerintah sekarang, masak sekarang baju artis di TV pun di-blur. Konyol! Kalau yang nonton nggak suka, tinggal matikan aja, kan?” demikian pendapat lain yang sempat saya baca di dunia maya.

Apa, sih, sebetulnya pengertian dari sensor itu? Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sensor artinya sebagai berikut: sensor1/sen·sor/ /sénsor/ n 1 pengawasan dan pemeriksaan surat-surat atau sesuatu yang akan disiarkan atau diterima (berita, majalah, buku, dan sebagainya); 2 yang menyensor. Sedangkan definisi censor, kata dalam bahasa Inggris yang merupakan asal kata sensor, dalam kamus Merriam-Webster adalah “a person who examines books, movies, letters, etc., and removes things that are considered to be offensive, immoral, harmful to society, etc.” Jadi sensor memang dari sananya terkait dengan persoalan moral dan seberapa besar bahayanya terhadap masyarakat.

Jika ditilik lebih lanjut, wajar bila pemerintah berkepentingan terhadap isi siaran atau media pada umumnya, sebab bisa membawa pengaruh kepada kehodupan masyarakat luas. Pornografi, kekerasan, hal-hal yang sifatnya menghasut, dapat secara langsung maupun tidak langsung merusak pemikiran pemirsa, pendengar, atau pembaca. Untuk tujuan mencegah dampak negatif itulah Lembaga Sensor Film (LSF) didirikan. Kiprahnya memang secara khusus lebih mengarah ke perfilman, yaitu film dan reklame film.

Logo_LSF

Lantas, dengan adanya LSF, apakah masyarakat bisa sepenuhnya bernapas lega? Tentu tidak. Pasti ada saja yang merasa tidak puas. Sebagian tak suka karena sensor seolah menghalangi kebebasan penyiaran atau terlalu ikut campur mengatur kesenangan pribadi, yang lain justru merasa gunting LSF masih tumpul. Lembaga yang dinaungi keberadaannya oleh Undang-undang Nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman ini sejatinya memang tidak maksimal perannya tanpa peran serta aktif masyarakat.

Bayangkan, LSF sudah memberikan batasan usia untuk bisa menjadi penonton sebuah film yang disesuaikan dengan muatan film tersrbut. Namun, pada praktiknya seringkali terjadi di gedung bioskop penonton di bawah umur lolos melihat film untuk usia di atasnya. Sebagian malah diajak oleh orangtuanya, mungkin karena tidak ada yang menjaga di rumah atau tidak sadar bahwa konten filmnya tidak cocok untuk anak-anak (biasanya untuk tema seperti komedi atau film bertokoh superhero yang telanjur identik dengan ‘main-main’ khas anak-anak, padahal terselip adegan syur atau sadis di dalamnya).

Maka, sensor mandiri sudah seharusnya menjadi budaya. Orangtua misalnya, harus aktif mencari tahu rating (dalam hal pengkategorian umur) film yang hendak dinikmatinya bersama anak di sinepleks. Tak terbatas pada sinema layar lebar sebetulnya, media lain pun patut mendapat perhatian. Bajakan film-film box office terbaru baik Indonesia maupun luar negeri banyak beredar dalam bentuk keping DVD/VCD dan dijual di lapak-lapak offline tanpa pengawasan, belum termasuk hasil download alias unduhan yang mudah ditemukan linknya di dunia maya, for free and uncensored. Mau yang gambarnya sudah cling hasil membajak dari edisi blu-ray, extended version, rekaman dari yang nonton langsung, pakai subtitle Indonesia maupun tidak, tinggal pilih. Video di situs penyedia rekaman audio visual gratis pun menjadi contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat masa kini karena bisa diakses lewat gadget di genggaman tangan, di mana pun berada. Bisa jadi film yang diputar oleh anak (balita zaman sekarang canggih-canggih, lho) ‘aman’, channel yang dipilih sudah khusus video edukasi anak, tetapi bagaimana dengan iklan yang lewat? Bagaimana dengan rekomendasi video lain yang acapkali ikut muncul? Ada kemungkinan fitur filter tidak selalu berhasil menghalangi seluruh kata kunci yang berkaitan, salah-salah malah klip xxx yang muncul.

Nah, apa saja sebetulnya yang perlu dicermati dalam menerapkan budaya sensor mandiri ini, khususnya bagi orangtua?

  1. Miliki prinsip dan pegang dengan teguh. Nilai-nilai di tiap keluarga bisa jadi berbeda satu sama lain, ada yang memilih pijakan agama, ada yang berpatokan pada budaya timur. Tentukan pondasi terlebih dahulu agar ada pegangan dalam menentukan langkah ke depannya. Misalnya, adegan ciuman dianggap biasa sebagai bagian dari keragaman pilihan berekspresi yang ada di masyarakat, atau sepenuhnya tabu? Apa tindak lanjutnya jika menemui hal seperti itu, tutup mata anak, alihkan ke kegiatan lain, langsung ceramahi anak, atau biarkan saja anak berpikir sendiri nanti kalau ‘umurnya udah nyampe‘?
  2. Ajak seisi rumah berkolaborasi. Utamanya pasangan (suami/istri) agar kompak satu suara dalam menerapkan aturan. Jika ada nenek/kakek/pengasuh/penghuni rumah lainnya, sampaikan juga apa yang dirasa perlu untuk mencegah anak mengkonsumsi sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
  3. Bicarakan dengan anak sesuai usianya. Anak yang lebih besar sudah bisa diberi penjelasan beserta referensi atau ‘dalil’-nya, juga diberi contoh sebab akibat agar memacunya ikut berperan (bukan hanya didikte), sedangkan anak yang lebih muda mungkin lebih baik diberi benteng secara langsung seperti penjadwalan nonton dan pendampingan.
  4. Usahakan melakukan ‘sensor’ dalam arti yang sesungguhnya, contohnya membaca komik, majalah, tabloid, atau novel yang dibeli anak (termasuk bentuk digitalnya berupa e-book atau versi pdf buku best seller yang sering beredar atau dengan mudah didapatkan di internet) sebelum ia mulai menekuninya, atau menonton duluan DVD yang mau disetelnya maupun game yang hendak dimainkannya (minimal cari review-nya yang umumnya cukup mudah ditemukan di forum-forum atau blog). Keterbatasan waktu mungkin menjadi kendala mengingat sibuknya pekerjaan ayah dan ibu sehari-hari baik di kantor/tempat kerja maupun di rumah, maka kembali lagi ke prioritas keluarga masing-masing: layakkah efek yang mungkin ditimbulkannya kelak jika lolos dari pantauan kita? Pembatasan menyeluruh bisa menjadi solusi kalau belum percaya dengan kemampuan anak menyaring sendiri, dengan konsekuensi orangtua dianggap otoriter.
  5. Bisa juga anak menonton video di luar pengawasan kita, misalnya dari gawai teman, di warnet, saat main ke rumah saudara, dan seterusnya. Kembali lagi ke poin pertama, usahakan anak sudah mengerti akan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga beserta konsekuensinya. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak sedari dini juga bisa membantu agar anak tidak segan/takut menanyakan atau mengobrolkan hal-hal dengan topik sensitif. Jadilah sahabat terbaik bagi anak.

Beberapa tips di atas semoga bisa menjadi awal dari pembudayaan sensor mandiri di masyarakat. Jika bukan kita yang mulai, siapa lagi? Sebab, pembangunan manusia di negeri ini dimulai dari satuan terkecil masyarakatnya yaitu keluarga yang saling mendukung dalam kebaikan, bukan?