Oleh-oleh Khas Daerah dari Para Artis, Tren Baru?

Ikut grup whatsapp dengan anggota para ibu dari berbagai daerah di Indonesia, pastinya pernah ngobrolin soal makanan khas. Baik kuliner khas daerah asal yang sedang tidak bisa sering-sering dicicipi karena mengikuti penugasan suami maupun sajian asli daerah yang sekarang ditempati. Salah satu topik perbincangan kami beberapa waktu yang lalu adalah makanan daerah yang membawa-bawa nama artis. Bukan hanya dibawa namanya sih sebenarnya, tapi para artis tersebut sekaligus menjadi pendiri atau pemilik, kendati mungkin persentase keterlibatannya berbeda-beda, ya.

Konon antrean untuk membelinya lumayan panjang, yang menandakan banyaknya peminat. Karena nama artisnyakah? Bisa jadi, sih. Setidaknya nama para artis tersebut, yang semuanya (dalam ruang lingkup bahasan kami) berstatus suami dengan citra baik-baik dan jarang kena gosip negatif, menjadi salah satu daya tarik. Minimal, orang jadi penasaran, “Wah, artis berbisnis nih… Pasti setidaknya rasanya lumayan, sebab kalau tidak, nama baik mereka yang dipertaruhkan, kan?” Mayoritas mereka dikenal pula cukup menunjukkan identitas keislaman, jadi dinilai pasti peduli dengan faktor halal tidaknya bahan yang dipakai. Ditambah dengan hasrat untuk ikut tren kekinian memajang hasil foto makanan yang telah dibeli di media sosial, syukur-syukur di-repost oleh akun resminya, makin tertariklah orang.

Nah, makanan, tepatnya sejenis kue, yang dipromosikan sebagai oleh-oleh khas ini justru bukan makanan asli daerah tersebut, lebih tepat dibilang perpaduan dengan gaya kuliner luar malah. Ini tentu mengundang pro kontra juga, misalnya mengapa para artis tersebut tidak mengangkat makanan tradisonal yang betul-betul sejak dulu menjadi ciri khas daerah yang bersangkutan.

Sisi positifnya sih, karena oleh-oleh khas tersebut biasanya hanya tersedia di kota yang bersangkutan sehingga diharapkan bisa menggerakkan perekonomian setempat. Tapi cek sana sini ada juga kok yang menyediakan jasa titip beli, termasuk di dunia maya. Tentu dengan penambahan biaya jasa, ya.

Continue reading

Mencicipi Martabak HAR di Jakarta, Rasanya Tak Jauh Beda

Bulan Juni tahun 2008 untuk pertama kalinya saya mencicipi yang namanya martabak HAR. Ada tugas kantor ke sana, dan di sela-sela waktu saya sempat jalan-jalan sebentar. Awalnya Fathin, teman ngeblog di multiply dulu yang mengenalkan. Dia mengantar saya ke Rumah makan martabak HAR di depan Masjid Agung Palembang. Nama HAR merupakan singkatan dari nama Haji Abdul Rozak yang menjadi perintis martabak jenis ini. Tempat yang kami kunjungi waktu itu, kata Fathin, bukan yang rasa martabaknya paling enak. Tapi bagi saya sudah top banget, deh. Mengingat saya suka makanan gurih yang berbumbu tetapi tidak terlalu menyengat, martabak HAR ini memanjakan lidah.

Kuah kari kentangnya sedikit mengingatkan saya pada kuah kari ala India, tapi bumbunya tidak setajam itu. Konon sih karena Haji Abdul Razak yang wafat pada tahun 2001 ini aslinya memang keturunan India. Tapi isian martabaknya sendiri beda dengan martabak India, martabak Mesir, atau martabak gurih lain yang banyak dijual. Isinya ‘hanya’ telur (telur ayam atau bebek) yang dipecahkan ke dalam lipatan kulit. Jadi tanpa dikocok terlebih dahulu, hingga tekstur isinya mirip telur rebus. Begitu lezatnya sampai-sampai saya menyempatkan ke rumah makan itu lagi sendirian ketika kembali mendapatkan perintah tugas ke sana tahun 2010. Belakangan, di Pangkalpinang, tempat domisili saya saat itu, ada watung yang menyediakan menu ini. Tentu saya tak menyia-nyiakan kesempatan, ada masa di mana seminggu sekali pasti saya mengajak suami ke sana (walaupun cuma saya yang makan, hehehe…untungnya tersedia juga menu lain untuknya).

Begitu pindah ke Jakarta saya hampir lupa akan martabak yang satu ini. Pernah googling sekilas, tapi seingat saya, saya tidak berhasil menemukan lokasi penjual martabak HAR di ibukota. Baru awal tahun 2016, tepat ketika saya habis dapat SK mutasi ke kantor lain di bagian lain Jakarta, saya mendapatkan info bahwa ada rumah makan martabak HAR di Jakarta Pusat. Terhitung dekat sekali malah, kalau dari kantor lama :D. Tapi karena berbagai kesibukan baik saya maupun suami, saya baru kesampaian menuju tempat yang disebutkan itu menjelang Idul Adha tahun ini.

img_20160910_110704.jpgMencari tempatnya susah-susah gampang karena awalnya kami tidak punya bayangan. Di Kompasiana ada yang menyebutkan letaknya dekat halte Transjakarta Harmoni, tepatnya di Jl. Hayam Wuruk No. 19. Coba menelusuri tepian jalan kayaknya nggak ada, coba masuk-masuk gang malah tambah nggak ketemu. Ternyata memang benar lokasinya di tepi jalan raya (namanya saja pakai nama jalan utama, kan), hanya saja kami terlalu cepat putar balik dari arah Carrefour Duta Merlin, minimal putar baliknya seharusnya tepat sebelum hotel Grand Mercure, ya. Daann begitu sampai, ada stiker “bisa dipesan lewat Go-Jek” dong. Hihihi, jadi sebetulnya praktis saja ya kalau mau melepas rindu dengan martabak ini. Per porsinya dijual dengan harga Rp30.000,00 (kalau pakai telur bebek) atau Rp20.000,00 (telur ayam). Rasanya? Tetap enaakk, sedikit lebih terasa rempah-rempah di kuahnya sih menurut saya. Warna kuah karinya juga tidak kehijauan seperti yang saya cicipi di Palembang, tapi sama-sama lezat, kok.

 

 

 

img_20160910_101834.jpg img_20160910_101844.jpgimg_20160910_102004.jpg

Tergerak Berburu Salak

dscn1532Beberapa bulan yang lalu, kantor suami kedatangan tamu delegasi dari Kamboja. Beres urusan pekerjaan, ternyata anggota delegasi masih punya keinginan tambahan: berburu beberapa barang khas Indonesia untuk dibawa pulang. Salah satunya yang lumayan bikin takjub adalah balsem dengan merek tertentu yang di sana konon laris manis bahkan sampai ada KW-nya. Padahal harga di sana jelas lebih mahal.

Selain itu, buah salak pun menjadi incaran mereka. Salak Indonesia, tepatnya salak pondoh, amat digemari. Katanya sih, di sana salak yang banyak dijual (dari negara lain) ukurannya kecil-kecil dan tidak manis. Tak tanggung-tanggung, begitu dapat toko yang menyediakan dalam jumlah banyak, mereka memborong hingga puluhan kilo. Barangkali untuk oleh-oleh keluarga dan teman di sana, ya.

img-20160825-wa0041.jpgPenasaran, saya pun mencoba googling soal kesukaan masyarakat Kamboja terhadap salak. Ternyata benar, menurut berita di situs Kementerian Luar Negeri (yang sayangnya saat ini tautan beritanya tidak bisa diakses sehingga saya hapus) bahkan salak pondoh menjadi primadona saat KBRI sana mengikuti ASEAN Cuisine Festival di Phnom Penh. Balai Karantina Pertanian Kelas II Yogyakarta juga jelas menyebutkan bahwa Kamboja merupakan salah satu negara tujuan ekspor (di samping Tiongkok dan Australia) salak pondoh asli Sleman dan salak nglumut asal Magelang.

Pencarian berlanjut, saya menemukan beberapa blog orang luar Asia yang sempat berada di Kamboja atau Indonesia dan mencicipi salak. Menarik membaca reaksi mereka terhadap buah yang juga disebut dengan snake fruit, punya nama latin Salacca zalacca, dan dalam bahasa Khmer disebut lakam/la kham ini. Ada yang menyebutnya sebagai ‘Indonesia’s frightening fruit‘, ada pula yang bilang ‘delicious taste, terrifying nightmare‘.  Bentuk luarnya memang rada serem, sih, ya, hahaha, nampak macam ular mungkin sesuai dengan nama yang disematkan.

Ada juga yang bilang kapok mencoba sebab rasanya aneh dan tidak enak di perut, tetapi jika menilik dari foto yang dipajang ya pantas saja, yang ia makan itu salak yang sudah mendekati busuk. Menanggapi yang ini, beberapa komentator khususnya dari Indonesia dengan semangat mengajak sang penulis menikmati salak dalam kondisi terbaiknya, bukan yang sudah terlalu matang seperti itu.

 

SMSBunda, Perantara Menuju Keselamatan Ibu dan Bayi

“Wah, boro-boro, deh…baca tulisan di dokumen grup aja suka pada males, kok!” demikian komentar dari seorang kawan sesama admin grup ketika kami membahas kemungkinan penerbitan buku yang dirancang komplet menjawab pertanyaan para ibu dan calon ibu khususnya terkait ASI, MPASI, dan kesehatan keluarga secara umum. Ingin rasanya saya membantah, berhubung saya suka sekali membaca. Namun, saya harus mengakui, sebagaimana yang pernah saya baca, rentang konsentrasi manusia masa kini menurut penelitian memang menurun. Daya tahan untuk membaca artikel panjang konon menipis. Banjir informasi instan di era teknologi informasi seperti sekarang, di mana untuk memperoleh jawaban dari suatu pertanyaan kadang cukup dengan sekali klik, acapkali justru membuat kewalahan. Seringkali sebuah informasi hanya dibaca sekilas kemudian perhatian teralih ke informasi lain yang ‘memanggil-manggil minta dibaca’.

Belum lagi jika bicara soal keterbatasan waktu. Se-multitasking-multitasking-nya seorang perempuan, seolah masih terlalu banyak hal yang ia harus kerjakan. Sebuah tips mengatakan bahwa multitasking dalam tindakan itu produktif dan menghemat waktu, sedangkan multitasking dalam pikiran itu bikin waktu terbuang percuma. Pada kenyataannya, yang namanya ibu pasti pernah mengalami yang seperti ini: menyusun menu untuk esok hari di kepala sambil mengingat-ingat jadwal imunisasi anak sembari memeriksa tas sekolah anak untuk besok seraya menyimak informasi mengenai banjir di televisi.

Di sisi lain, update ilmu baru sepertinya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Panduan MPASI terbaru, step by step IMD (Inisiasi Menyusu Dini), petunjuk perawatan tali pusat bayi baru lahir, jenis vaksin yang belum pernah ada sebelumnya, tata laksana ketuban pecah dini…semuanya perlu untuk dipelajari setidaknya sebagai bekal jika suatu saat mengalami baik diri sendiri maupun orang terdekat, tapi kapan waktunya? Padahal seorang ibu adalah manajer keluarga yang sekaligus menjadi pengambil keputusan-keputusan penting. Tentu, ayah pun seharusnya belajar bersama. Namun, sebagai pihak yang mengalami sendiri kehamilan, juga lazimnya lebih sering berinteraksi dengan bayi/anak, sudah sewajarnya ibu lebih tanggap dan aktif mencari informasi, yang nantinya bisa didiskusikan dengan suami. Kapan harus ke dokter? Bahan makanan mana yang aman dikonsumsi ibu hamil? Bagaimana jika menemui tantangan dalam menyusui? Bolehkah ibu menyusui memakai produk perawatan kulit? Kapan perlu khawatir ketika gigi anak tidak kunjung muncul?

Continue reading

Kliping Susah Makan

Kliping bahasan seputar problem makan anak (cenderung ke kesulitan makan ya) ini sedikit banyak terinspirasi postingan mba Luchantiq di https://keluargasehat.wordpress.com/category/problem-makan/. Semacam nambahin aja sih berhubung beliaunya belum sempat update blog lagi kayaknya.

================================================================

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I, diposting di Milis Sehat)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (<6 bulan) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Seperti kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

Continue reading

Sunpride, Kawan Menjalani Ramadhan Sehat

“Pola makan untuk ibu menyusui yang hendak menjalankan ibadah puasa sebetulnya tidak terlalu spesial, hanya pengaturan waktunya yang berubah.”

Demikian pernyataan dari beberapa konselor laktasi yang pernah saya baca. Artinya, makan seperti biasa dengan penyesuaian jam makan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu yang berpuasa maupun bayi yang masih disusuinya. Tidak perlu sampai melipatgandakan porsi, dan kalau mau mengkonsumsi suplemen khusus pun harus sesuai dengan indikasi.

Namun, di sisi lain, bulan puasa juga sekaligus bisa menjadi momentum perbaikan kebiasaan makan. Umumnya di bulan puasa orang merasa perlu memperhatikan asupan gizi lebih dari biasanya. Meski tidak makan dan minum dari subuh hingga maghrib, aktivitas sehari-hari harus jalan terus. Upaya meningkatkan ketakwaan dengan menambah ibadah khusus harian juga tentunya membutuhkan sokongan stamina yang prima.
image

Beberapa tips yang saya baca untuk membantu tubuh tetap fit dengan perubahan jam makan (dan seringkali juga jam tidur) pada umumnya mengingatkan untuk menjaga kecukupan cairan. Jelas, ini penting karena dehidrasi bakal menjadi hal yang tidak menyenangkan di saat kita berpacu memperbanyak amalan baik di bulan penuh berkah. Tips lain yang biasa dibagikan adalah makan dengan gizi seimbang. Nah, apa sih makan gizi seimbang ini?

Continue reading

New Es Krim Tentrem, Nikmat Disantap dan Cantik Dipandang

Beberapa hari setelah idul fitri, sepupu yang sedang mudik (seperti juga saya) menyatakan keinginannya untuk mencicipi es krim Tentrem. Wah, saya jadi ikut kepengin. Yang saya dan mama tahu, es krim ini adanya di Plaza Singosaren lantai dasar, jadi meluncurlah kami ke sana. Dulu, kalau sedang ke Singosaren (yang terkenal karena ada Matahari-nya saat belum banyak department store di Solo), membeli es krim ini jadi semacam agenda khusus yang istimewa. Nggak sering sih memang, karena saya dan adik tidak dibiasakan jajan, bahkan di tempat yang punya nama macam itu.

Sampai ke Singosaren, ternyata gerai Tentrem di sana sudah digantikan oleh penjual ponsel (kalau tidak salah). Di Solo Grand Mall seingat saya ada kafenya, tapi membayangkan parkirnya jadi agak malas, waktu juga beranjak kian malam. Maka saya bertanya ke mbak-mbak yang ada di situ dan dijawab bahwa sudah pindah ke Ngarsopuran. Meluncurlan mobil yang dikemudikan adik saya ke sana, tepatnya Jl Brigjen Slamet Riyadi No. 132, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Langit mendung dan restoran New Es Krim Tentrem ini sebetulnya beberapa puluh menit lagi tutup (tertulis buka 09.00-21.00), tapi sudah kepalang tanggung.
image

Sekilas pandang saja, saya sudah kagum dengan interiornya yang natural-cantik. Ada hiasan tanaman buatan, sangkar-sangkar burung kosong, bingkai-bingkai antik, pernak-pernik dengan warna permen…. Konon restoran ini menyajikan 21 macam menu es krim, tapi keterbatasan waktu, kami hanya bisa memilih es krim contong (cone) dengan pilihan yang tersisa. Tak apalah, sekalian nostalgia. Saya memilih blueberry, suami saya pilihkan yang mocca, Fathia saya pesankan Oreo, sama dengan sepupu.
image

Wah, rasanya enaaakk… Secara tidak langsung saya membandingkan dengan es krim Ragusa dan Baltic Ice Cream di Jakarta yang perah saya makan, yah tekstur lembut dan rasa buahnya yang ‘dapet banget’ mirip-mirip lah, berhubung sama-sama homemade. Restoran atau cafe Tentrem yang ini baru dibuka pada 25 Juni 2016, pantas saja waktu terakhir kami jalan-jalan ke Ngarsapura Night Market (2014 saat hamil Fahira) rasanya kok belum ada. Rupanya ada juga restonya di Urip Sumoharjo, dekat Orion yang berarti dekat kantor mama juga (artinya harusnya cukup sering lewat kalau kebetulan ikut antar/jemput mama), tapi waktu itu tidak memperhatikan dan belum ada minat khusus coba-coba begini, hahaha. Es krim Tentrem sendiri sudah ada sejak tahun 1952, lho.
image

Es krim di bangunan berlantai dua ini sebagian besar (atau semua?) homemade alias buatan sendiri, bukan es krim pabrikan. Hasil browsing sih katanya ada nasi liwet dan gudeg Solo juga, tapi lagi-lagi karena waktunya mepet saya bahkan tidak sempat mengamati daftar menu. Sebetulnya kami masih tinggal agak lama sih sambil menghabiskan es krim masing-masing, tapi karena kami berdua harus bergantian menjaga Fahira yang penasaran dengan benda-benda baru di sekitarnya jadi ya begitulah, hehehe. Boro-boro mau foto-foto :D, padahal tata ruangnya instagrammable bangettt…
image

Beberapa sumber:
http://solo.tribunnews.com/2016/04/07/inilah-21-menu-es-krim-di-kafe-new-es-krim-tentrem-solo
https://m.solopos.com/kuliner-legendaris-es-krim-rasa-klasik-nuansa-kekinian-624156

Menikmati Kembali Gurihnya Siput Gonggong

“Dulu waktu saya kuliah di Jawa, mamak saya suka kirim siput gonggong. Pikir saya makanan apa sih ini, seringnya malah saya kasih-kasih ke teman-teman. Setelah balik ke Bangka saya baru tahu, rupanya itu makanan mahal,” demikian tutur tetangga kami di Pangkalpinang dulu.

image

Siput gonggong atau dog conch atau nama latinnya Strombus canarium (canis=anjing, sedangkan gonggong jelas merupakan tiruan bunyi anjing) menjadi salah satu makanan khas di Bangka Belitung dan di Kepulauan Riau (beberapa website menyebutkan bahwa hewan ini khas masing-masing daerah). Siput ini bisa pula ditemukan di berbagai negara (selengkapnya di https://en.m.wikipedia.org/wiki/Laevistrombus_canarium). Di pulau Bangka, cangkang siput gonggong dijadikan ikon misalnya dalam bentuk patung yang menjadi landmark. Siput gonggong bisa dibumbui kemudian dimasak bersama dengan cangkangnya dan disantap layaknya keluarga gastropod bercangkang, bisa juga digoreng kering menjadi keripik atau dihaluskan lalu digoreng sebagai kerupuk. Satu-satunya bentuk olahan yang pernah saya cicipi, juga yang dimaksud oleh tetangga kami di atas, adalah siput gonggong yang sudah jadi keripik. Mengingat rasanya yang gurih dan renyah sungguh bikin kangen karena sejak pindah dari Pangkalpinang lima tahun yang lalu saya belum pernah memakannya lagi. Harganya memang tergolong mahal, bulan lalu suami saya membelikan saat bertugas ke Pangkalpinang dengan harga Rp40.000,00 untuk kemasan 100 gram, kemudian saya lihat di salah satu lapak online ada yang menjual seharga Rp440.000,00/kg. Saya memang secara khusus minta dibelikan oleh-oleh siput gonggong, selain tentunya keritcu. Harga yang menggiurkan barangkali menjadi penarik minat penduduk berburu siput gonggong, yang lantas berdampak ke terancamnya eksistensi spesies ini seperti dipaparkan di Trubus
http://www.trubus-online.co.id/siput-gonggong-saatnya-budidaya/.

image

Hewan siput sendiri bagi kaum muslim seringkali masih membuat ragu terkait status kehalalannya. Biasanya orang awam akan mengaitkan dengan wujudnya sebagai hewan melata dan bisa hidup di dua alam. Bahasan lengkap mengenai halal atau haramnya siput/bekicot/keong dan sejenisnya bisa dibaca di https://rumaysho.com/2130-halalkah-bekicot-keong.html dan https://konsultasisyariah.com/17052-hukum-makan-bekicot.html. Siput gonggong adalah hewan laut, merujuk ke kedua tulisan tersebut hukumnya adalah halal.

Oh ya, nilai gizi siput gonggong goreng ini seperti dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Bangka Barat adalah sebagai berikut:
Sampel Siput Gonggong Goreng yang telah disampaikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat kepada Balai Riset dan Standarisasi Mutu Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Palembang untuk diuji nilai gizi makronya telah keluar hasilnya.

Berdasarkan hasil uji laboratorium dapat diketahui nilai gizi makro per 100 gram Siput Gonggong Goreng antara lain karbohidrat 4,1% dengan nilai gizi 16,4 kalori, Protein 31,19 dengan nilai gizi 124,8 kalori dan lemak 24,9% dengan nilai gizi 224,1 kalori.

Sampel adalah Siput Gonggong Goreng yang merupakan olahan dari Siput Gonggong yang didapatkan dari Desa Bakit, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat. Semoga Siput Gonggong dapat menjadi komoditi di Kabupaten Bangka Barat dengan nilai gizi dan nilai jual yang tinggi.

Bakpia Kencana yang Lezat Tak Terkira

Agak hiperbolis ya judulnya, hahaha… Tapi bener, deh, enak banget sih rasa bakpia ini.

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman di grup whatsapp ‘dharma wanita’ ngomongin kota Yogyakarta. Awalnya ada teman di Klaten yang hendak belanja untuk persiapan bikin kue lebaran ke toko bahan kue di Jogja, lalu ada yang menimpali dengan rencana liburan ke provinsi yang resminya bernama DIY tersebut, kemudian ada lagi yang bercerita bahwa dia jadi teringat masa-masa mendampingi suami tugas belajar di sana.  Saya? Saya bilang saya baper sama kota itu habis nonton AADC 2. Jogja sepertinya manis, diam-diam menghanyutkan gitu, ya (dan prospek tinggal di sana dalam waktu dekat agak memicu beberapa perasaan yang sulit dijelaskan, hahaha). Kenangan lampau saya pribadi terhadap Jogja sebetulnya lebih banyak didominasi silaturahim ke anggota keluarga besar (tempat asal saya tidak terlalu jauh dari Jogja), study tour masa sekolah, dan tentunya lagu KLA Project band favorit saya.

Dari bahasan soal Jogja, obrolan di layar gadget berlanjut ke oleh-oleh khas sana. Bakpia tentu menjadi topik utama, khususnya bakpia pathuk yang melegenda. Lalu seseorang melontarkan pendapat bahwa ada bakpia baru yang enak, lebih enak dari Kurnia Sari yang terkenal itu. Saya sendiri baru kenal bakpia Kurnia Sari begitu bertugas ke Jogja Agustus tahun lalu dan diajak rekan sejawat ke toko oleh-oleh yang menjualnya. Melihat stoknya yang tak bertahan lama di toko, saya langsung membatin kayaknya enak banget nih ya sampai laris manis begitu. Beberapa kios di Stasiun Tugu pun sampai merasa perlu memasang tulisan ‘bakpia kurnia sari bisa dibeli di sini’ (belakangan ketika saya googling, beberapa online shop juga menyediakan jasa titip beli bakpia merk ini). Dan memang setelah dicicipi, rasa gurih bakpia Kurnia Sari ini pas buat saya. Tapi memang ini soal selera ya, teman kantor ada yang berkomentar bahwa rasanya ‘terlalu nyusu’ buat dia, menutupi rasa asli bakpia yang identik dengan kacang hijau atau kumbu. Benar juga sih, walaupun banyak sekali variasi rasa bakpia zaman sekarang (coklat, teh hijau, ubi, kacang hitam, keju dst), khasnya tetap isi kacang hijau. Kalau ditilik dari namanya sih sebetulnya bakpia itu artinya pia (kue) isi bak (daging, dan yang paling umum dipakai di daerah asalnya di Tiongkok sana adalah daging babi).

Saya ikut penasaran apa merk bakpia yang katanya enak itu, terlebih setelah ada yang mengiyakan tentang ‘bakpia baru enak’ itu, sayangnya kompak juga sama-sama lupa merk tepatnya :D. Selang beberapa waktu, saya baru teringat sesuatu. Saya ubek-ubek galeri di hp, dan saya share ke grup sebuah foto bakpia berikut kotaknya, oleh-oleh suami dari tugas dinas ke Yogya beberapa bulan yang lalu. Bakpia Kencana, itulah nama yang tertulis di bagian luar kotak. Bakpianya dibungkus dengan plastik vacuum, memberikan kesan higienis dan bisa tahan lebih lama. Sudah ada sertifikat halalnya juga, lho. Terus terang ketika memakannya pertama kali, yang ada dalam pikiran saya adalah…ke mana aja saya ya sampai baru sekarang mencoba bakpia seenak ini. Lebih-lebih yang keju, varian favorit saya. Ngeju banget bukan hanya di isinya tapi juga ada lapisan tipis keju di bagian luar. Makanya sampai saya ambil fotonya, buat referensi kalau kapan-kapan memungkinkan untuk beli lagi.
image

Melihat foto yang saya kirimkan, beberapa teman membenarkan walaupun ada juga yang tidak yakin. Teman yang berdomisili di Klaten menceritakan bahwa sebetulnya bakpia Kencana ini sudah lama ada, hanya saja baru booming belakangan. Salah satu penyebabnya mungkin konsep open kitchen yang menarik minat orang berkunjung lantas menuliskan pengalamannya, yang menambah popularitas di samping rasanya sendiri yang memang enak. Seperti halnya bakpia Kurnia Sari, bakpia Kencana ini juga tersedia di beberapa online marketplace, jadi tidak harus jauh-jauh ke Jogja kalau hendak membeli.
image

Pempek Khas Pati

20130808_212659Empek-empek, atau pempek. Makanan ini identik dengan daerah Sumatra bagian selatan. Umumnya terbuat dari ikan dengan berbagai variasi perpaduan bahan dan kuah. Di Bangka misalnya, biasanya pempek disajikan dengan semacam saus kacang. Belakangan saya juga baru tahu ada yang namanya pempek dos, dengan bahan utama nasi. Nah, di Pati, Jawa Tengah, tempat asal suami, saat ditawari empek-empek tentu ekspektasi saya adalah pempek Palembang yang paling populer dan cenderung mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Tapii ternyata yang kemudian dibawa pulang oleh saudara suami jauh berbeda. ‘isi’ empek empek khas Pati terdiri dari potongan aneka gorengan risol isi bihun, tahu, bakwan, semacam gorengan tepung, kadang ada tempenya. Kuahnya tidak sepekat cuko pempek, cenderung agak asam segar apalagi kalau ditambah sambal, tapi lain sensasinya dengan kuah pempek Palembang dan sekitarnya. Beberapa kali beli langsung tetapi saya belum jadi juga menanyakan asal-usul makanan ini, googling pun tidak banyak informasi yang bisa didapatkan. Di Pati kota, yang paling terkenal sih konon empek empek Guwangsan.

Tambahan: ini nih isi pempek Pati yang belum disiram kuah.
image