Dukung Literasi Digital dan Bijak Manfaatkan AI bersama XLSMART

Pesatnya perkembangan teknologi digital mendorong derasnya arus informasi menyerbu keseharian kita. Cukup dengan ponsel di tangan, dalam hitungan detik kita bisa mengetahui jadwal kerja bakti RT pekan depan, rencana penayangan film terbaru, berita perolehan medali di SEA Games, hingga informasi perkembangan penanganan bencana alam di Sumatra.

Namun, selain membuka pintu kemudahan untuk mengakses hal-hal positif, dunia digital juga punya potensi negatif. Teman-teman mungkin pernah mendengar bahwa ada yang terkuras saldo tabungannya lewat pancingan (phishing) pesan di aplikasi percakapan, atau tertipu oknum penjual daring yang nakal. Belum lagi dengan adanya Artificial Intelligence atau AI yang mampu menirukan cara berpikir manusia dalam beberapa aspek, bahkan menghasilkan gambar atau video rekaan yang amat mirip dengan aslinya.

Oleh karenanya, literasi digital menjadi begitu penting. Literasi di sini bukan sekadar bermakna kemampuan membaca secara harfiah, melainkan juga pemahaman yang diperlukan untuk memilah informasi. Pemanfaatan AI juga perlu dilakukan secara bijak agar tidak merugikan orang lain ataupun diri kita sendiri. Akan lebih baik lagi jika keterampilan digital seperti ini sudah dipelajari sejak dini untuk mencegah terjadinya hal-hal negatif. Bukan berarti dengan mengenalkan gawai sejak bayi, melainkan lewat pendekatan yang disesuaikan dengan usia anak. Edukasi di sekolah, misalnya.

Edukasi Literasi Digital dan AI XLSMART di Pesantren

Santri Berdaya dengan AI bersama XLSMART

Continue reading

Libur Akhir Tahun di Depan Mata, ASUS Zenfone 9 Siap Rekam Momen Manisnya

Pagi tadi saya dan suami mengambil rapor anak-anak di sekolah. Pembagian rapor ini menandai berakhirnya semester ganjil tahun 2022. Alhamdulillah, nilai-nilai mereka termasuk bagus. Dari obrolan dengan para guru, masih terdapat beberapa aspek dalam diri anak-anak yang perlu ditingkatkan, salah satunya kepercayaan diri. Hasil diskusi ini lalu menjadi masukan juga bagi kami untuk lebih memotivasi anak-anak agar makin berani dalam mengungkapkan pendapat dan tampil di depan apabila memang diperlukan.

Rapor sudah diambil, artinya siap-siap liburan, nih. Penghujung semester ini bertepatan dengan pergantian tahun, yang bagi beberapa keluarga memang menjadi momen untuk berlibur bersama. Kami sendiri jarang secara khusus merencanakan liburan akhir tahun. Penyebabnya, justru pada bulan Desember inilah pekerjaan saya dan suami sedang padat-padatnya. Boro-boro mau cuti, bisa pulang tidak terlalu malam saja sudah sangat bersyukur.

Board game JUARA

Salah satu board game favorit anak-anak saat ini

Namun, tentu sayang juga kalau hari libur anak-anak tidak diisi dengan kegiatan yang seru. Apalagi setelah berkutat dengan Penilaian Akhir Semester di sekolah yang cukup menguras energi. Sejumlah kegiatan sudah saya siapkan untuk bisa dilakukan oleh anak-anak di rumah, dengan bantuan paket-paket kreativitas yang saya pesan. Ada kit melukis dengan kanvas sederhana, rangkaian percobaan sains yang dikaitkan dengan permainan anak-anak, seperangkat DIY membuat kertas daur ulang, board game, puzzle, juga pastinya banyak buku bacaan.

Continue reading

Menanti ASUS Zenfone 9, si Compact yang Kaya Fitur

Mengirim bahkan mengedit dokumen untuk pekerjaan kantor. Meneruskan informasi tugas PJJ anak-anak dan menyetorkan kembali jawabannya, sering pula harus merekam video sesuai dengan instruksi guru di sekolah. Memantau berita baik untuk keperluan pekerjaan maupun pribadi.

Mendokumentasikan kegiatan anak-anak. Mengolah foto dan video menjadi konten yang meski belum secanggih teman-teman lain, tetapi justru dalam masa masih belajar inilah rasanya butuh waktu dan usaha yang lebih. Mengelola media sosial dan blog pribadi. Menonton web series dan film lewat platform OTT. Video call dengan orang tua yang tinggal di kota lain. Berdiskusi dengan orang tua murid lain di grup sekolah, dengan sesama anggota komunitas di grup percakapan. Menelepon petugas antar jemput sekolah. Mengecek CCTV rumah.

Mengecek kebenaran suatu informasi. Mencari tahu tempat rekreasi keluarga yang akan dikunjungi. Menyewa jasa taksi secara daring. Berbelanja di toko favorit. Membaca buku kesukaan. Mengatur keuangan lewat mobile banking. Sebanyak itulah aktivitas yang sering saya jalani sehari-harinya dengan bantuan ponsel, bahkan mungkin masih ada yang belum saya sebutkan.

Continue reading

Sambut HUT Jakarta ke-495, Air Mancur Menari Lapangan Banteng Kembali Dibuka

Plus Jakarta, Kota Kolaborasi. Kata-kata tersebut menyambut para pengunjung Taman Lapangan Banteng yang memasuki area tersebut dari Pintu Barat, termasuk kami semalam. Slogan ini mengandung pesan bahwa pembangunan Jakarta memerlukan keterlibatan warganya dari semua lapisan. Dikutip dari website resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kota ini diharapkan menerapkan konsep City 4.0

Jakarta Kota Kolaborasi

Jika dalam tataran City 1.0 pemerintah menjadi administrator sedangkan warga sekadar sebagai penduduk, lalu pada City 2.0 pemerintah sebagai pelayan sementara warga merupakan customer, kemudian dalam City 3.0 pemerintah adalah fasilitator bagi warga yang mengambil peran partisipan, maka City 4.0 dirancang lebih dari itu. Dalam City 4.0, berbagi gagasan adalah suatu kultur, hingga terbentuk ekosistem yang saling mendukung antara pemerintah dengan warga kota yang bergerak bersama. 

Warga kota yang dimaksud di sini bisa berasal dari berbagai kalangan, mulai dari peserta didik atau mahasiswa, ibu-ibu, aneka komunitas, seniman, UMKM, hingga startup. Kolaborasi dapat dilakukan antara lain dalam enam kategori, yaitu Environmental Resilience, Future of Work, Urban Regeneration, Innovation and Technology, Equality and Empowerment, serta Art and Culture.

Jakarta sebagai ibukota negara adalah kota pusat pemerintahan sekaligus pusat perekonomian, sehingga insan dari berbagai budaya dan latar belakang berkumpul di sini. Beragamnya karakter warga ini merupakan potensi yang jika dikembangkan dengan baik maka akan saling melengkapi dan makin mendukung makin majunya Kota Jakarta yang usianya sudah mendekati lima abad.

Continue reading

Beli Pulsa di Mana Saja dan Kapan Saja Lewat Cermati

Pulsa hp saat ini bisa digolongkan ke dalam salah satu kebutuhan pokok. Survei Sosial Ekonomi Nasional atau Susenas yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 bahkan menunjukkan bahwa jumlah rata-rata pengeluaran pulsa secara nasional sampai mengalahkan jumlah pengeluaran pembelian buah dan daging. Belum sampai menyamai pengeluaran untuk membeli beras sebagai makanan pokok memang, tapi sudah cukup besar.

Aktivitas sehari-hari kita memang banyak didukung oleh ponsel yang dalam pengoperasiannya memerlukan pulsa maupun paket data. Bagaimana kalau pulsa kita habis? Agak repot juga, apalagi kalau mobilitas kita tinggi. Baru-baru ini, lewat seorang teman, saya memperoleh informasi bahwa di Cermati.com tersedia pula layanan pembelian pulsa. Bukan cuma pulsa, sih, sebenarnya, tapi kita juga bisa membeli paket data, membayar tagihan listrik, membayar tagihan PDAM, membayar tagihan telepon seluler pascabayar, membayar tagihan telepon rumah Telkom, membeli voucher game online, hingga membayar paket roaming luar negeri. Selama ini saya mengira Cermati.com berfokus pada layanan pengajuan kartu kredit, asuransi (termasuk BPJS Ketenagakerjaan), maupun pinjaman seperti KTA, KPR, dan kredit mobil. Yang sudah berizin resmi dari Bank Indonesia dan OJK tentunya.

Nah, untuk membeli pulsa melalui Cermati, kita bisa langsung menuju website https://www.cermati.com/pulsa. Atau jika dibuka dari halaman depan, pilih menu Top-up & Tagihan.

Continue reading

Whatsapp Terasa Berat, Ini Solusinya

Aplikasi WhatsApp rasanya sudah menjadi salah satu aplikasi standar yang dipasang di ponsel kita. Aplikasi ini memudahkan kita berkirim pesan, termasuk juga gambar, video, dan dokumen. Bahkan kemudian tersedia juga fitur untuk menelepon, baik hanya suara (voice call) maupun beserta gambar bergerak hingga memungkinkan bercakap-cakap sambil bertatap muka (video call). Menghubungi keluarga yang tinggal berjauhan atau sedang bepergian, menerima instruksi pekerjaan, mengirimkan laporan, hingga berkoordinasi dengan rekan satu tim menjadi gampang.

Hanya saja, kalau tidak hati-hati, WhatsApp bisa memakan sangat banyak memori di ponsel. Kalau sudah begitu, jadi susah sendiri kan, mau tambah aplikasi lain memorinya sudah tidak cukup (apalagi kalau di pengaturan aplikasi di-install di memori ponsel, bukan memori eksternal), mau memotret pun tidak bisa karena tidak ada tempat lagi. Inilah yang dulu saya alami, bahkan sampai ada ponsel yang rusak dua kali dan pada kejadian yang kedua teman yang memperbaiki sudah angkat tangan.

Kenapa bisa sampai rusak ponselnya? Saya sih tidak begitu paham teknisnya, tapi intinya sih karena kepenuhan itu tadi sehingga tidak cukup memori untuk memulai operasi sistem ponsel. Kalau ‘cuma’ WhatsApp-nya saja yang tidak bisa jalan karena penuh (atau bahkan sampai restart sendiri atau harus di-install ulang) sih masih mending. Nah, kalau ponsel sampai tidak bisa masuk ke halaman utama, kan gawat, apalagi kalau data yang tersimpan belum sempat di-back up.

Bagaimana tips agar ‘hp gak penuh’? Yang saya sebutkan ini dari pengalaman saya nan gaptek aja sih, hanya sebagian yang saya cari dulu ‘landasan ilmiah’-nya, jadi sila koreksi yaa kalau salah.

Continue reading

Screen Time, Sentilan Telak untuk Orangtua

Minggu lalu saya menyimak acara bincang-bincang parenting yang disiarkan live di instagram. Salah satu pembicaranya adalah mama Tascha Liudmila yang selama ini dikenal sebagai pembaca berita di televisi. Tema besar acara pada hari itu adalah perlunya pembatasan penggunaan gadget untuk anak-anak, terutama dari segi waktu. Selain sharing tentang pengalamannya, mama Tascha juga beberapa kali menyebutkan buku Screen Time yang ia tulis sendiri. Penasaran, saya pun memesan buku terbitan tahun 2015 ini.

Pada pemirsa acara tersebut, mama Tascha sudah menyampaikan peringatan: jangan bacakan buku Screen Time ini ke anak jika belum siap dengan konsekuensinya, yaitu diprotes oleh anak-anak ketika kita sibuk sendiri dengan gadget. Ya, buku Screen Time ini adalah buku cerita anak-anak yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik karya Inez Tiara. Melalui buku ini, mama Tascha ingin mengajak sesama orangtua untuk memahami risiko pemakaian gadget yang berlebihan, dan bertindak untuk mengurangi dampaknya.

Continue reading

Narasi Tunggal dan Adu Cepat Penyampaian Informasi

Tuntutan pekerjaan baru mengharuskan saya beradaptasi dengan penggunaan istilah-istilah yang juga baru bagi saya. Bukan istilah yang baru-baru amat sih, karena sebetulnya sudah lama dipakai. Saya aja yang ketinggalan berita.

Salah satu istilah yang saya maksud adalah narasi tunggal. Ketika saya mencari tahu lebih jauh tentang istilah ini, yang ternyata merupakan produk pemerintah, saya menemukan penjelasan yang mengena, yaitu:

Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas, Kementerian Kominfo Ismail Cawidu yang disampaikan dalam Pertemuan Tematik Bakohumas di Function Room Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (18/9) penyampaian informasi harus dilakukan dengan cepat dan akurat meskipun tidak lengkap. “Karena kita berpacu dengan waktu. Siapa yang pertama mengisi ruang ruang publik dengan baik maka dialah yang memenangkan persoalan. Tapi siapa yang terlambat itu akan tergilas dengan informasi meskipun dia benar, jadi faktor kecepatan menjadi sangat penting,” tegasnya.

Dalam sambutan mewakili Ketua Badan Koordinasi Humas (Bakohumas), Ismail mengingatkan kembali tentang pelaksanaan Government Public Relations (GPR) di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Menurutnya,  Kementerian Kominfo sudah menyebarluaskan konten kebijakan pemerintah untuk pelaksanaan GPR  ke seluruh jaringan humas di daerah sejak 27 Juli 2015. “Melalui pertemuan hari ini kita berharap semakin luas penyebarannya. Bagaimana kita menyampaikan sebuah kebijakan yang diambil pemerintah melalui humas pemerintah dan pranata humas,”.

Sejalan dengan Inpres Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik, Ismail Cawidu meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga agar mengirimkan berbagai macam data kebijakan. Data itu kemudian diolah Kemkominfo menjadi narasi tunggal. Narasi tunggal itu dipublikasikan melalui kementerian dan lembaga. “Jadi narasi tunggal dibuat berdasarkan data yang kami terima dan analisis. Sehingga setiap informasi kebijakan yang keluar adalah sifatnya resmi official dari Pemerintah,” tambahnya.

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/5975/Humas+Harus+Bertindak+Cepat+dan+Akurat/0/berita_satker

Continue reading

Internet Aman untuk Anak Kita, Apa Mungkin? 

Tajuk #TUMNgopiCantik kali ini adalah Better and Safer Internet at Home. Sejak awal acara dimulai di Eat & Eat fx Sudirman, mas Ilya Alexander S selaku pembicara yang diundang oleh The Urban Mama sudah menyampaikan sesuatu yang menohok: internet bukan diciptakan untuk anak-anak. Tidak ada yang aman, kalau mau aman ya jangan kasih internet. Nah, saya mengikuti acara yang diadakan tanggal 11 Februari ini juga sebenarnya mau tahu sih, seperti apa sudut pandang bapak-bapak praktisi. Selama ini yang saya ikuti kan lebih banyak tulisan dan seminar bu Elly Risman yang berbicara selaku pakar parenting, psikolog, eyang, dan pemilik yayasan yang menyuplai data riset dari berbagai daerah. Mas Ilya memang menyampaikan juga kalau tidak akan bahas dari segi parenting karena bukan ahlinya.

Persiapan tentang berinternet perlu karena yang terjadi kalau tidak hati-hati adalah antara stupid parents atau anak durhaka. Yang ditugaskan jadi orangtua itu kita, jadi tanggung jawab ada di kita. Coba bayangkan kita suka melarang anak main gunting, pisau, diumpetin, gak boleh ke dapur, tapi sama internet kita lepas begitu saja. Anak mau belajar menggunting kertas dibimbing, tapi medsosan dibiarin, atau papa mamanya lempar-lemparan tanggung jawab ngajarin. Aneh, kan? Sementara anak-anak kita digital native, dari lahir sudah dihadapkan dengan kecanggihan teknologi.

Continue reading

Being Switchable with Acer: Me, My Job, and My Hobby

menyusun-annual-report

Sebagian tim redaksi Annual Report

Mei lalu, saya dan beberapa orang pegawai lain se-Indonesia yang lolos seleksi pegawai bertalenta di bidang jurnalistik berkesempatan terlibat dalam proyek penulisan annual report organisasi kami. Untuk penyelesaian proyek tersebut, kami sempat dikumpulkan selama sepekan di kantor pusat. Ketika bertemu teman-teman lain untuk pertama kali, terus terang reaksi pertama saya adalah agak minder. Bagaimana tidak, saya paling senior (untuk menggantikan kata ‘tua’ :D) di antara mereka, dengan jarak usia cukup lumayan. Apalagi saat mereka mengeluarkan perangkat masing-masing. Waah, canggih-canggih, pikir saya.

Saya tatap netbook berwarna hitam yang juga sudah ikut duduk manis di depan saya, di meja perpustakaan kantor pusat. Perangkat ini sungguh penuh kenangan. Jadi ceritanya suami saya mendadak dapat SK mutasi ke Jakarta tahun 2011, saat saya sedang hamil anak pertama. Divisinya yang terhitung baru sehingga sarana komputer juga masih terbatas, serta pekerjaan yang menuntut mobilitas membuat suami merasa perlu membawa notebook sendiri, notebook yang jadi milik kami bersama. Sebetulnya saat itu saya juga sedang ada kerjaan menulis yang cukup lumayan dari segi asah pengalaman (karena dibimbing langsung oleh para editor penerbit kenamaan) maupun bayaran (honor terbesar yang pernah saya terima), tapi saya juga tak sampai hati bilang mau ‘menahan’ agar laptop tetap saya gunakan di Pangkalpinang. Kejutan, ternyata suami saya kemudian membelikan Acer Aspire One untuk saya yang dititipkannya lewat rekan lain. Dengan netbook inilah saya menuntaskan beberapa tulisan di kala itu, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan dalam buku atau memenangkan lomba.

Kini, putri pertama kami sudah bukan balita lagi. Episode long distance marriage kami baru saja memasuki babak berikutnya setelah sempat lima tahun bekerja di kota yang sama. Kali ini saya di Jakarta dan suami di Jogja. Netbook itu masih setia menemani saya, termasuk menyimpan memori kegiatan keluarga kecil kami. Setelah putri kedua melewati usia setahun, saya mulai lebih aktif menulis lagi. Mencoba ikutan event ini-itu, lagi-lagi dengan bantuan netbook kesayangan. Kebetulan awal tahun ini saya juga dimutasikan ke kantor dengan job desc baru: membuat beberapa macam laporan dan analisis. Ditembah dengan tugas mengelola website kantor.

Jika sebelumnya saya menjadi pengguna sistem terotomatisasi, kali ini saya dihadapkan pada pekerjaan yang sebetulnya merupakan hobi saya yaitu menulis, tetapi dengan tantangan baru yaitu menganalisis secara ilmiah. Artinya, makin sering saya berhubungan dengan aktivitas ketik-mengetik, mengirimkan surel, browsing rilis laporan dari lembaga lain maupun berita ekonomi, dan sejenisnya. Tentunya sudah tersedia fasilitas di kantor, tetapi adakalanya saya perlu menulis atau menyampaikan sesuatu di perjalanan. Sebab pekerjaan ini juga menuntut kami bertemu untuk berkoordinasi dengan banyak pihak ataupun melaksanakan survei di lapangan agar laporan yang tersusun lebih akurat dan bermanfaat. Ponsel pintar cukup membantu di waktu-waktu tertentu, tapi sering saya berharap punya gawai yang lebih bisa diandalkan untuk mendukung beragam aktivitas saya. Netbook kesayangan cukup mungil untuk ditenteng ke sana kemari dan cukup memadai untuk beberapa keperluan, tapi saya mulai browsing juga mengenai laptop lain.

acer-display

Display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440)

Baca di sana-sini, saya menemukan tulisan tentang Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas. Kenapa Acer? Jelas, karena ketangguhan perangkat sebelumnya yang saya miliki sudah menjadi bukti. Kata-kata “tanpa kipas” langsung menarik perhatian saya. Bisa, ya, tidak pakai kipas? Ternyata dengan teknologi LiquidLoop, suhu mesin netbook bisa tetap dingin tanpa kipas. Meminimalisir suara berisik juga, sekaligus mencegah debu masuk ke dalam badan netbook karena tanpa ventilasi, hingga netbook jadi lebih awet. Ukurannya sendiri tipis dengan bobot yang ringan, dengan display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440). Cocok nih dipakai untuk bekerja dengan spreadsheet atau mengutak-atik tampilan website maupun blog. Cocok juga untuk video call dengan suami atau eyang anak-anak yang nun jauh di sana (penting, lho!). Fitur Acer BlueLight Shield mampu melindungi mata pengguna, aset karunia Tuhan yang penting untuk tetap dijaga. Processor-nya sixth-generation Core i5 lho, dengan RAM 8GB, baca di review luar sih katanya bikin kerja sambil buka banyak tab terbuka sekaligus tetap lancar tanpa hang. Problem ngadat seperti itulah yang sering saya alami selama ini, mengingat saya merasa lebih mantap kalau membuka banyak referensi untuk cek dan ricek ketika menulis (biar hasil karya valid dan bisa dipertanggungjawabkan, kan).

acer-switchable

Switchable, bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet

Hal lain yang bikin saya makin antusias adalah adanya kickstand yang bisa dimiringkan hingga 165 derajat supaya lebih nyaman digunakan. Keyboard docking Switch Alpha 12 terkoneksi melalui engsel magnetik, jadi bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet, plus dilengkapi backlit untuk memudahkan pemakaian di tempat minim pencahayaan. Tahu aja nih, ibu-ibu kalau malam kadang masih perlu nulis sesuatu tapi kalau lampu dinyalakan semua si kecil ikut bangun, hehehe. Switchable banget, kan? As switchable as yang saya butuhkan, mengingat aneka keperluan saya yang kadang menuntut ‘gaya’ yang berbeda dalam mengoperasikan netbook.

acer-transfer-data

USB 3.1 Type-C dengan port bolak-balik dan transfer data lebih cepat

Bekerja dengan gawai acapkali juga berarti munculnya keperluan untuk memindahkan data. Nah, Switch Alpha 12 sudah pakai USB 3.1 Type-C, nih, yang port-nya bolak-balik dan transfer data juga bisa lebih cepat yaitu mencapai 5 Gbps (10 kali lebih kencang dibandingkan dengan USB 2.0). Tersedia juga stylus pen (dijual terpisah) untuk membantu presentasi menjadi lebih praktis. Kemudahan-kemudahan itu bisa menghemat waktu juga, demi kelancaran pertukaran peran working mom yang juga butuh me time seperti saya.

acer-1Jelas kan, Acer Switch Alpha 12 ini pas banget untuk saya. Masuk wish list pokoknya, semoga segera ada rezeki untuk mendapatkannya. Kalau sudah dapat, netbook yang lama dikemanakan, dong? Bisa dipakai anak pertama, lah, biar nggak hanya terbiasa dengan layar sentuh :).

acer