Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 8

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 8, 25 Agustus 2017

Kemarin Fathia dijadwalkan imunisasi MR di sekolahnya. Imunisasi sebetulnya bukan sesuatu yang asing baginya, bahkan ketika menemani adiknya imunisasi Hepatitis A dosis kedua beberapa bulan yang lalu ia sempat menyebut bahwa tujuannya bercita-cita jadi dokter adalah biar bisa menyuntik anak-anak. Tapi ternyata ketika tiba saatnya ia yang disuntik, Fathia sempat ngambek. Perasaan sih sounding dari kami selaku orang tuanya sudah nggak kurang-kurang, ya. Tapi tetap saja pagi itu cukup lama jadinya saya membujuknya berangkat sekolah. Jika ditinjau dari segi salah satu aspek yang disebutkan dalam materi level 7 ini yaitu interpersonal, sepertinya memang masih moody ya.  Tapi mengingat alhamdulillah akhirnya ia mau juga berangkat, barangkali bisa dicatat juga sebagai sebuah kemajuan. 
Adapun Fahira hari itu menurut saya belajar bersimpati dan mengenali beragam emosi, dengan keadaan kakaknya yang sempat ngambek-akhirnya mau juga-ternyata disuntik nggak nangis – pulang dengan semangat.

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunsayIIP

#BintangKeluarga

Whatsapp Terasa Berat, Ini Solusinya

Aplikasi WhatsApp rasanya sudah menjadi salah satu aplikasi standar yang dipasang di ponsel kita. Aplikasi ini memudahkan kita berkirim pesan, termasuk juga gambar, video, dan dokumen. Bahkan kemudian tersedia juga fitur untuk menelepon, baik hanya suara (voice call) maupun beserta gambar bergerak hingga memungkinkan bercakap-cakap sambil bertatap muka (video call). Menghubungi keluarga yang tinggal berjauhan atau sedang bepergian, menerima instruksi pekerjaan, mengirimkan laporan, hingga berkoordinasi dengan rekan satu tim menjadi gampang.

Hanya saja, kalau tidak hati-hati, WhatsApp bisa memakan sangat banyak memori di ponsel. Kalau sudah begitu, jadi susah sendiri kan, mau tambah aplikasi lain memorinya sudah tidak cukup (apalagi kalau di pengaturan aplikasi di-install di memori ponsel, bukan memori eksternal), mau memotret pun tidak bisa karena tidak ada tempat lagi. Inilah yang dulu saya alami, bahkan sampai ada ponsel yang rusak dua kali dan pada kejadian yang kedua teman yang memperbaiki sudah angkat tangan.

Kenapa bisa sampai rusak ponselnya? Saya sih tidak begitu paham teknisnya, tapi intinya sih karena kepenuhan itu tadi sehingga tidak cukup memori untuk memulai operasi sistem ponsel. Kalau ‘cuma’ WhatsApp-nya saja yang tidak bisa jalan karena penuh (atau bahkan sampai restart sendiri atau harus di-install ulang) sih masih mending. Nah, kalau ponsel sampai tidak bisa masuk ke halaman utama, kan gawat, apalagi kalau data yang tersimpan belum sempat di-back up.

Bagaimana tips agar ‘hp gak penuh’? Yang saya sebutkan ini dari pengalaman saya nan gaptek aja sih, hanya sebagian yang saya cari dulu ‘landasan ilmiah’-nya, jadi sila koreksi yaa kalau salah.

Continue reading

Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 7

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 7, 24 Agustus 2017

Semalam karena saya pulang agak lebih awal jadinya lebih banyak waktu untuk bermain dengan anak-anak. Main apa? Macam-macam, sih. Fahira tertarik dengan wadah berputar tupperware yang disimpan di atas lemari, jadilah main masak-masakan dengan itu. Sebagai pelengkap, pura-puranya jadi bahan masakan, ditambahkanlah pompom. Ah, sepertinya proyek masak bareng beneran ini harus disegerakan ya, hehehe. Nyambung sama pengamatan kemarin. Kemudian Fathia nimbrung dan sempat rebutan pompom dengan adiknya. Di situ saya lalu mengajari mereka membagi pompom dengan adil, termasuk berdasarkan ukurannya juga. Tindakan simpel ini rasanya sudah pernah saya lakukan dulu tapi tidak sefokus sekarang, bahkan tidak terpikir untuk tantangan level sebelumnya yang jelas-jelas tentang matematika. Ketika saya ke dapur sebentar, saya lihat anak-anak mengulangi metode pembagian ini sambil tertawa-tawa.

Menjelang tidur, saya bacakan buku Nenek, Kakek dan Aku (Grandma, Grandpa and Me) karya mba Arleen A. Niatnya sih sekalian memancing anak-anak ‘membandingkan’ dengan kondisi mereka. Bukan membandingkan yang negatif, ya, tapi justru memperkenalkan keragaman kondisi kakek-nenek, juga kesamaan-kesamaan tertentu. Jadi saya sering berhenti membaca (dan sebetulnya juga banyak ‘membacakan’ pakai kata-kata sendiri sih, supaya lebih luwes saja) untuk bertanya, kalau eyang gimana, ya? Oh iya, ingat nggak waktu itu eyang…..kayak ini, ya? Semoga bisa mempererat hubungan intrapersonal mereka dengan para eyang.

 

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunsayIIP

#BintangKeluarga

Aksesoris Amber, Benarkah Bermanfaat?

Namanya ibu-ibu, kalau mantau instagram selain buat cuci mata (atau ikutan kuis, hehehe) juga sering lihat-lihat akun selebgram atau influencer yang punya status ibu-ibu juga. Masing-masing selebgram punya gaya dan keunikannya sendiri, dan keunikan inilah yang umumnya bikin mereka jadi punya banyak pengikut. Akan tetapi ada masanya banyak selebgram/influencer yang pada waktu bersamaan atau berdekatan tampil memegang/membawa suatu produk yang serupa.

Sekali lagi, berhubung statusnya ibu-ibu, biasanya yang mirip-mirip ini adalah produk untuk anak atau terkait peran sebagai ibu. Mulai dari suplemen kesehatan, peralatan ASI dan MPASI, gendongan, kereta dorong, peralatan pengamanan, sampai pernak-pernik lainnya.

Bisa jadi kesamaan atau kemiripan produk ini karena mereka semua sama-sama sosok yang update tentang tren terkini dan tidak ingin ketinggalan mencoba. Atau kemungkinan lain, memang ada endorse dari produsen atau importir dalam rangka pengenalan produk (biasanya produk baru). Promosi oleh selebgram acapkali dianggap lebih ‘nyata’ atau ‘dekat’ oleh yang melihat, berbeda dengan iklan yang sengaja dibuat untuk ditayangkan di media massa.

Continue reading

Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 6

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 6, 23 Agustus 2017

Fathia menagih ‘nonton masak-masakan di hp Bunda’, alias melihat-lihat akun instagram yang memuat aktivitas masak-memasak, sesuatu yang sempat menjadi kegemarannya dan sedang berusaha saya rem. Karena beberapa hari belakangan dia sudah ‘puasa’, saya izinkan dengan tetap saya yang memegang ponsel. Walaupun kalau dengan ayahnya mereka suka buka video unboxing mainan-mainan anak, tetapi ternyata kalau pakai ponsel saya bagi mereka identik dengan nonton masak-masakan. Binar di mata mereka ini seharusnya menjadi pemancing bagi saya unutk lebih menggiatkan aktivitas masak bersama, karena bisa jadi memang merupakan tanda kerinduan akan masakan bundanya yang jarang masak, hehehe. Masuk agenda proyek, nih, soalnya ingat juga kata Ustadz Harry Santosa, ada saatnya ibu harus benar-benar menjadi model idola bagi anak dalam hal pekerjaan seperti memasak dan menjahit di rumah, agar ada contoh untuk fitrah keibuannya (atau membiasakan membantu bagi anak lelaki).

Tapi selain masak-masakan yang hanya sebentar, perhatian kami sempat teralih pada video penyelamatan hewan-hewan. Dari situ kami belajar tentang di mana habitat hewan masing-masing dan pertolongan apa yang bisa diberikan, meski sebagian sepertinya hanya bisa dilakukan oleh yang sudah profesional atau ahli di bidangnya, ya.

 

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunsayIIP

#BintangKeluarga

Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 5

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 5, 22 Agustus 2017

Semalam saya baru pulang kator setelah maghrib, dan itu pun sudah ditunggu agenda berbagi dalam rangka ‘pertukaran pelajar’ yang kali ini ke grup kelas Bunda Sayang IIP Bandung (karena pada level 5 saya memperoleh badge outstanding). 


Jadilah setelah sesi main intens selepas mandi, sholat, dan makan, saya minta izin pada mereka untuk fokus pegang ponsel. Semula anak-anak asyik main berdua, tetapi kemudian mereka ternyata tertarik ‘mendandani’ saya dengan selendang dan tube cat air. Ala ala hijab tutorial dan make over gitu, deh. Ini sebetulnya hal seru yang bikin mereka berbinar-binar ceria sampai tertawa-tawa, ya.

Tapi saya memilih untuk fokus pada hal lain dulu, lanjutan dari apa yang saya rencanakan sebelumnya. Saat minta izin, saya sambil menyebutkan ke Fathia bahwa kalau suka/rajin menulis, bisa jadi nambah teman dari mana-mana, lho. Bisa juga bikin buku sendiri. Tulis saja dulu misalnya tadi pagi bangun, di sekolah ketemu siapa, sama dedek main apa…. Dan ia sesungguhnya menyambut dengan sangat antusias (“Trus nanti dijual, ya, Bunda?” :D). Tapi berhubung buku ‘jurnal’-nya (semacam buku agenda bersampul tebal yang sudah sempat digambari beberapa halaman dan menurut saya cocok untuk menulis/menggambar di mana saja karena bentuknya) belum ketemu, dan hari sudah beranjak makin malam sedangkan sesi berbagi pun sempat mundur, jadinya justru saya yang harus menahannya langsung praktik. Tapi lumayanlah, sudah ada kemajuan dibandingkan dengan kemarin, meskipun sepertinya masih berorientasi ke keinginan saya bukan keinginannya, hmm, memancing boleh, kan, ya? Tentu bukan langsung menulis panjang, tapi ketika saya singgung opsi bagaimana kalau digambar saja tadi seharian apa saja yang dilakukan, Fathia malah bilang lebih suka menulis.

 

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunsayIIP

#BintangKeluarga

Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 4

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 4, 21 Agustus 2017

Kali ini saya ingin menjelajahi area hubungan interpersonal anak. Sebetulnya ada beberapa hal terkait pertemanan anak yang ingin saya bahas, tetapi di hari kerja begini saat saya tidak bisa melihat langsung interaksi anak dengan teman-temannya, jadi kami ‘belok’ ke persona lain. Sosok yang justru penting sebenarnya, yaitu para eyang yang tinggal di Jawa Tengah. Ada bapak dari suami dan mama saya, yang setidaknya kami telepon seminggu sekali selain komunikasi sehari-hari dengan whatsapp.

Anak-anak seperti biasa paling antusias bercerita tentang pengalamannya atau setor hafalan surat/doa/lagu baru, dan para eyang juga senang mendengarkan celoteh mereka. Tapi sering saya dan suami memancing anak-anak untuk juga menanyakan kabar eyang-eyang mereka, agar tidak cuma berpusat ke diri sendiri. Sekadar tanya terkait kesehatan, tadi makan apa, cuaca di sana, dst., yang penting agar anak-anak juga belajar mendengarkan cerita. Sejauh ini sih, kalau soal berbinar-binar (sebagaimana disebutkan dalam materi Level 7), ya mereka masih lebih semangat ketika ditanya ketimbang bertanya. PR buat kami juga untuk menstimulasi agar kepedulian dan keingintahuan mereka juga terpupuk, asal jangan jatuh ke kepo, ya, hehehe. Mungkin ini proyek bagi saya dan suami yang melibatkan anak-anak, ya, bayangan saya sih bisa dimulai dengan menunjukkan foto-foto keluarga besar dan bercerita agar mereka ikut penasaran.

 

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunsayIIP

#BintangKeluarga

Belajar Jelly Art, Ternyata Menyenangkan Juga

Jelly art sempat menjadi tren beberapa waktu yang lalu. Setidaknya hal ini saya nilai dari banyaknya postingan di media sosial, baik yang jualan ataupun masih belajar. Buku tutorialnya pun tak sedikit terpajang di rak toko buku. Mama saya tak ketinggalan, bahkan sampai ikut kursus sehari di kota tetangga dengan biaya yang menurut saya lumayan mahal.

Saya? Berhubung waktu itu sedang dalam kondisi hamil besar kemudian melahirkan anak kedua, saya cukup jadi pengamat saja. Lagipula, saya merasa diri ini bukan orang yang nyeni. Jelly art sebetulnya mirip dengan melukis, kan. Khawatirnya malah berantakan, kan sayang (ya walaupun kalau gagal juga sebenarnya bisa dimakan sih).

Nah, beberapa waktu yang lalu ada pengumuman di grup wali murid kalau akan diadakan ‘demo dari nutrijell’. Jadilah saya mendaftar dan hadir dengan semangat pada pelaksanaan kegiatan tanggal 30 Juli 2017 walaupun badan rada meriang dan agenda hari itu cukup padat (setidaknya ada tiga acara lain). Setelah membayar biaya kegiatan sebesar lima puluh ribu, saya diminta memilih meja. Dan karena yang tersisa hanya paling depan dan paling belakang, saya pun memilih di depan saja, biar jelas. Di meja-meja dalam ruangan sudah disediakan alat-alat dan sebagian bahan mulai dari agar-agar tanpa warna/bening dalam kotak plastik, spuit suntik ukuran 10ml, sendok plastik kecil, garpu plastik kecil, dua gelas yang salah satunya berisi air, dan beberapa lembar tisu. Adapun bahan berupa agar-agar/jelly berwarna disiapkan di meja pengajar dalam panci kukusan dengan kompor menyala di bawahnya, untuk nantinya diambil ke depan oleh para peserta sesuai tahapan yang diajarkan.

Continue reading

Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 3

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 3, 20 Agustus 2017

Beraktivitas di luar ruang merupakan salah satu kegiatan favorit anak-anak. Hari Minggu itu kami main ke dua taman yaitu Taman Lapangan Banteng sekalian lihat-lihat (lagi) pameran flora dan fauna di pagi hari, kemudian ke Taman Suropati di sore hari. Lagi, saya bermaksud mendorong Fathia membuat jurnal harian, tapi hari itu mood-nya sedang kurang baik dan kami fokus ke membujuknya makan. Tapi kegiatan di taman cukup menceriakan dirinya, misalnya menonton grup musik berlatih di Taman Suropati, sesuatu yang baru ia lihat sekali pada kunjungan sebelumnya dan sempat panjang ia bahas berhari-hari kemudian. Fahira masih cenderung ikut saja apa yang kakaknya suka. Di Taman Suropati, ternyata sedang ada gelaran buku-buku dari Perpustakaan Jalanan Jakarta. Jadilah kami lesehan di situ, dan anak-anak bergantian minta dibacakan buku-buku yang disajikan. Saya mengamati bahwa mereka sudah bisa mencari kesenangan lain di taman tersebut ketika dua kesenangan tertentu tidak memungkinkan dijalani, yaitu bermain gelembung sabun (menurut kami agak sayang uangnya) dan memberi makan burung (dalam kondisi ramai, burung-burung merpati jarang mau turun dari rumah-rumahannya). Saya harap kegemaran terhadap buku ini bisa bertahan, dan sedang menimbang-nimbang untuk membuat proyek pembacaan cerita untuk teman-teman anak-anak (tetangga) yang suka main ke rumah. Fathia bisa membantu memilihkan cerita dan penjadwalannya pun siapa tahu bisa bikin rutinitas di rumah lebih teratur (setelah sempat agak berantakan usai pada sakit tempo hari).

 

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunsayIIP

#BintangKeluarga

Tantangan Level 7 (Semua Anak Adalah Bintang) Hari 2

Tantangan Level 7 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional — Semua Anak Adalah Bintang, Hari 2, 19 Agustus 2017

Fathia suka bermain jual-jualan, di mana pun dan kapan pun, bahkan pernah saat kami sedang jalan-jalan ke Monas dan mencapai puncaknya pun, sambil beristirahat sebentar ia sudah mau duduk pura-pura berjualan (yang saya tahan karena harus bergantian dengan pengantre lain). Malam Minggu ada pasar malam dadakan di dekat rumah, jadi saya terpikir proyek bercerita kembali dalam bentuk gambar karena Fathia juga suka menggambar, selain menulis sedikit-sedikit.

Di pasar malam, kami melihat-lihat berbagai dagangan dan juga panggung hiburan di kelurahan yang menampilkan lagu-lagu perjuangan/nasional. Sebetulnya saya berencana memancing Fathia membuat semacam jurnal berbentuk gambar atas pengalamannya malam itu. Siapa tahu jadi awal dari kebiasaannya membuat jurnal harian, sebagaimana saya juga suka menulis. Tapi ternyata Fathia kurang mood, maunya gambar seperti biasa saja. Susah, katanya. Salah juga saya sih ya, pendekatannya terlalu mendadak. Ya sudah, besok lanjut lagi, ya…. 

 

#Tantangan10Hari

#Level7

#KuliahBunsayIIP

#BintangKeluarga