Berkunjung ke Bantar Gebang

Nama Bantar Gebang sudah saya kenal sebagai daerah di mana terdapat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, khususnya sampah dari Jakarta. Namun, baru tanggal 13 Januari lalu saya menginjakkan kaki langsung di sana, dalam rangka acara kantor. Tepatnya ke Sekolah Alam Tunas Mulia, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Kabupaten Bekasi. Saat ini wilayah itu disebut sebagai Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).

Menurut informasi teman sih, luas keseluruhannya sekitar 300 hektar (walaupun ketika saya cek ada media yang menyebut sekitar 120 hektar), dan sekitar 6000 warga tinggal di situ.

dscn1947 dscn1949 dscn1952 dscn1953 dscn1954 dscn1955

dscn1986

Dari hasil pencarian informasi yang saya lakukan, sekolah tersebut didirikan pada tahun 2006 dan dibina oleh Nadam Dwi Subekti, alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Karena kami ke sana pada hari Jumat siang, maka kegiatan belajar mengajar juga sedang tidak ada. Kegiatan belajarnya pun memang tidak dilaksanakan setiap hari karena gedungnya harus dipakai bergantian untuk level PAUD hingga SMP.

Gedung sekolah di Bantar Gebang ini sendiri tampak masih baru, dan rupanya memang baru diresmikan pada awal tahun 2016. Masih harus bergantian dipakainya, tetapi setidaknya sudah cukup layak dari segi ketahanan bangunan. Para siswa kebanyakan merupakan anak-anak pemulung setempat, yang mungkin sehari-hari juga membantu mengais sampah.

Continue reading

Redwin Sorbolene Moisturiser, Teman Asyik (Bukan Hanya) Saat Mudik

Kulit lembut adalah bagian penting dari penampilan seseorang. Keringnya lapisan pelindung luar tubuh kita akan membuat kita terlihat kusam dan kurang enak dipandang, kadang mengesankan keengganan si empunya merawat, juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan saat bersentuhan. Itu pemahaman saya dulu jika saya ditanya mengenai menjaga kelembapan kulit.

Sekarang? Status sebagai orangtua membuat saya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Kulit kering bukan cuma mengganggu penampilan, melainkan bisa sampai mengganggu kualitas hidup. Terdengar ekstrem, tapi begitulah adanya. Terlalu cepatnya cairan di permukaan kulit menguap bikin kulit mudah kehilangan kelembapannya. Akibatnya kulit bisa pecah-pecah dan rasa tidak nyaman yang diakibatkannya membuat sulit berkonsentrasi pada hal lain.

Putri pertama kami sempat menampakkan gejala kulit kering yang sensitif pada tahun pertamanya. Hanya di area tertentu dan tidak berkepanjangan, syukurnya. Tidak sampai membuat ia rewel karena gatal apalagi sulit tidur. Tapi apa yang ia alami menjadi pembuka wawasan baru saya, bawa pernyataan ‘selembut kulit bayi’ tidaklah selamanya tepat. Adakalanya makhluk mungil tersebut harus berada dalam kondisi tidak nyaman akibat tidak terhidrasinya kulit dengan baik.

Continue reading

Review Global Matrikulasi IIP Batch #2

Inilah materi ‘bonus’ di penghujung ‘perkuliahan’ kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 2.

Review Global Matrikulasi IIP batch #2

MEMBANGUN KOMUNITAS, MEMBANGUN PERADABAN

It takes a village to raise a CHILD.

Perlu orang sekampung untuk membesarkan anak, demikian pepatah dari bangsa Afrika.

Dulu, pendidikan dimaknai, dipahami, dan dijalankan oleh para keluarga dan komunitas secara berjamaah. Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk komunitas yang lebih baik, demikian juga sebaliknya, komunitas memerlukan pendidikan untuk mengangkat derajat posisi peran personal dan komunal yang lebih baik di muka bumi ini serta memuliakan kearifan dan akhlak yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.

Pendidikan bukan lahir karena adanya komunitas atau masyarakat, justru pendidikanlah yang melahirkan komunitas dan peradaban.

Pendidikan adalah tanggung jawab keluarga dan komunitas, karena keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling bermanfaat untuk dirinya, yang paling tahu sisi kekuatan dan kelemahan dirinya.

Maka sudah saatnya kita mengembalikan keluarga dan komunitas yang kita bangun sebagai sentra pendidikan peradaban. Karena sesungguhnya peradaban adalah milik keluarga dan komunitas, karena di dalamnya akan muncul karya peradaban dan generasi peradaban yaitu anak-anak kita.

Continue reading

Review NHW 9 Program Matrikulasi IIP Batch #2 Sesi #9

Jika biasanya review nice homework dari fasilitator grup saya gabungkan jadi satu dengan materi utama masing-masing sesi, kali ini saya post tersendiri.

Review NHW #9
Program Matrikulasi IIP Batch #2 Sesi #9

BERUBAH ATAU KALAH

Barang siapa hari ini LEBIH BAIK dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang BERUNTUNG.

Barang siapa yang hari ini SAMA DENGAN hari kemarin dialah termasuk orang yang MERUGI.

dan barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK dari hari kemarin dialah tergolong orang yang CELAKA.
– HR Hakim.

Berubah adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, karena kalau Anda tidak pernah berubah, maka sejatinya kita sudah mati. Maka dengan membaca Nice Homework #9 ini, kami bangga dengan banyaknya ide-ide perubahan yang sudah teman-teman tuangkan dalam tulisan. Kebayang tidak, andaikata dari seluruh peserta matrikulasi Ibu Profesional ini menjalankan langkah pertama perubahan yang sudah dituangkan dalam ide-ide di NHW #9, akan muncul berbagai perubahan kecil dari setiap lini kehidupan.

Andaikata hanya 10% saja yang berhasil menjadikan ide perubahan ini menjadi sebuah gerakan nyata, maka sudah ada sekitar 100 lebih perubahan kecil menjadi gerakan-gerakan positif baru yang memicu munculnya perubahan besar.

Untuk itu kita perlu mencari yang namanya tipping point agar perubahan-perubahan yang kita lakukan bisa memberikan impact perubahan yang besar.

Continue reading

Kampanye BrightFuture, Kepedulian untuk Investasi Masa Depan Kita

Jika melihat kondisi saat ini, pernah tidak terbersit di pikiran bahwa masalah di dunia sudah semakin kompleks? Baik di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, maupun di bidang-bidang lainnya. Masalah yang sudah ada di masa sekarang, jika tidak segera ditangani dengan tepat, berpotensi akan terakumulasi ke depannya. Siapa yang nantinya akan menghadapi? Anak-anak kita tentunya, baik anak kandung maupun secara umum generasi berikutnya. Naluri kita sebagai mama pastilah ingin anak-anak menikmati kehidupan yang lebih baik daripada apa yang kita dapatkan saat ini. Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Hari Sabtu tanggal 17 Desember 2016 saya mengikuti TUMBloggers Meet Up yang diadakan di D.LAB by SMDV, Jl. Riau, Menteng. Event ini diselenggarakan oleh The Urban Mama bekerja sama dengan Unilever Indonesia dan Blibli.com. Dalam sambutannya di pembukaan acara, teh Ninit Yunita selaku founder The Urban Mama menyampaikan bahwa anak adalah investasi masa depan, sebagai mama pastinya kita ingin anak-anak punya masa depan lebih cerah, dan itu bisa dimulai dari rumah. Jadi, The Urban Mama mendukung kampanye Unilever BrightFuture untuk menciptakan dunia yang lebih sehat dan gembira bagi anak. Nah, apa sih sebetulnya yang dikampanyekan Unilever ini? Mba Fika Rosemary sang penyiar cantik selaku pembawa acara mengajak peserta menyimak penjelasan dari para narasumber yang sudah hadir.

Sambutan dari Teh Ninit, founder TUM

Sambutan dari Teh Ninit, founder TUM

Kampanye BrightFuture merupakan salah satu pengejawantahan Unilever Sustainable Living Plan yang merupakan strategi dalam menumbuhkan bisnis sembari mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari bisnis tersebut serta meningkatkan manfaat sosial positif bagi masyarakat. Masalah gizi buruk, sanitasi, gangguan kesehatan gigi dan mulut, juga terbatasnya sarana untuk bermain anak di luar merupakan sebagian dari problem era ini. Tidak bisa kita menganggap bahwa hal-hal tersebut tidak ada pengaruhnya kepada kita atau keluarga kita. Mba Adisty Nilasari, Media Relations Manager PT Unilever Indonesia, Tbk. menceritakan bahwa kampanye Bright Future sebetulnya sudah dimulai sejak tahun 2013 dengan tema yang berbeda setiap tahunnya, misalnya program sebelumnya berkaitan dengan sanitasi (cuci tangan pakai sabun) dan penanaman pohon (mengatasi deforestasi). Tahun ini, tema yang diusung adalah “Selamat Tinggal Dunia Lama”.

Continue reading

NHW9 Kelas Matrikulasi IIP Batch 2

Nice Homework #9

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar Anda, belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai:

PASSION + EMPATHY = SOCIAL VENTURE.

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social entrepreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social entrepreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan entrepreneur.

Sehingga Bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empathy, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan entrepreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yang kita hadapi selama ini Apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yang memiliki permasalahan yang sama dengan kita.

Continue reading

Dari #IRF2016 (1) Belajar Mengalihbahasakan Idiom dengan Rasa

long-distanceSudah lama saya penasaran akan kegiatan Festival Pembaca Indonesia, ‘hajatan’  komunitas pengguna Goodreads yang ada di Indonesia. Sayangnya saya sendiri memang tidak aktif di Goodreads, sih. Akun GR saya sudah debuan, hihihi, saking lama nggak ditengok.

Festival yang disebut juga dengan Indonesian Readers Festival (IRF) ini rutin diadakan setiap tahun sejak 2010. Di tahun pertama diselenggarakannya tersebut, buku Long Distance Love (Lingkar Pena Publishing House, 2009) yang memuat tulisan saya meraih Anugerah Pembaca Indonesia untuk kategori Sampul Buku Non-Fiksi Terfavorit atas nama SindikArt dan mendapat tempat kedua untuk kategori Buku & Penulis Non-Fiksi Terfavorit atas nama mba Imazahra yang bertindak selaku inisiator dan koordinator (sumber: Okezone).

Tahun ini kebetulan lokasi yang dipilih untuk IRF relatif lebih dekat dengan tempat tinggal, sekaligus lebih akrab dengan keluarga kami, yaitu Museum Nasional. Begitu melihat publikasinya di facebook saya langsung mencari tahu ada kegiatan apa saja, dan menemukan dua workshop yang menarik perhatian yaitu Menerjemahkan Idiom: Alih Bahasa dengan Rasa; dan Mengeluarkan Kekuatan Narasi: Baca dan Bacakan bersama Ayo Dongeng Indonesia. Keduanya dilaksanakan berturut-turut pada hari Minggu, 11 Desember 2016.

Kalau tengok di postingan instagram @bacaituseru, ada juga kegiatan untuk anak-anak seperti workshop menulis dan workshop origami, tapi melihat kisaran usia yang menjadi sasaran sepertinya Fathia juga belum bisa ikutan. Tapi Fathia dan Fahira mungkin masih bisa ikut kegiatan lain seperti Bioskop Baca (yang memutar film-film adaptasi buku) jika kebetulan filmnya cocok (saya lihat hari Minggu ada The Little Prince), menyimak dongeng, atau sekadar main atau mewarnai di Pojok Anak Museum Nasional seperti biasa.

Sebetulnya masih ada workshop lain seperti Menghadirkan Puisi di Hati Kita yang narasumbernya adalah kolega satu instansi saya, mas Pringadi. Sayangnya waktunya bentrok dengan workshop dongeng, dan dengan berbagai pertimbangan saya memilih workshop dongeng. Kegiatan hari Sabtu juga tak kalah menggiurkan, ada talkshow dengan Seno Gumira Ajidarma, diskusi dan peluncuran buku terbaru Adhitya Mulya, mini workshop Creative Writing 101 bersama Windy Ariestanty dan Hanny Kusumawati dari Writingtable, Pemanfaatan Big Book dalam Pengembangan Literasi oleh Aksa Berama Pustaka, Make Your Own Book with What You Have and What You Can Do bersama Lala Bohang, plus klinik kiat menembus dapur fiksi bersama editor fiksi majalah femina, tapi kami sudah ada agenda lain pada tanggal 10 itu. Setelah menentukan pilihan, saya bergegas mendaftarkan diri ke e-mail yang tertera dan alhamdulillah masih kebagian tempat.

img_20161211_095425.jpgDalam pos ini saya ceritakan dulu workshop pertama yang saya ikuti hari itu. Hal yang membuat saya begitu bersemangat mengikuti workshop penerjemahan adalah kesukaan saya pada membaca dan bahasa. Saya sampai sudah melihat-lihat berapa sih biaya kursus penerjemahan di LBI FIB UI. Tambahan lagi, pemateri yang tercantum pada posternya adalah penulis/penerjemah yang selama ini saya kenal (walaupun hanya melalui karya atau interaksi di dunia maya, dan yang jelas tidak semuanya kenal saya, hehehe) dengan keandalannya seperti mba Barokah ‘Uci’ Ruziati (sudah baca A Game of Thrones bahasa Indonesia? Mba Uci ini lho, yang dipercaya menerjemahkan), mba Dina Begum, mba Lulu Fitri Rahman, dan mba Poppy D. Chusfani.

Maka saya pun tiba di auditorium Museum Nasional pada Minggu pagi dengan antusias… dan mengkeret begitu tahu banyak di antara hadirin yang profesinya adalah penerjemah profesional. Yah, meski acaranya sebetulnya diperuntukkan bagi pemula, mungkin acara ini juga sekaligus sebagai ajang temu kangen dan memperluas jejaring, ya. Saya amati banyak yang tukar kartu nama…saya mah boro-boro :D.

Continue reading

Materi Kelas Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi IX: Bunda Sebagai Agen Perubahan

🎇Resume Materi & Tanya Jawab🎇

*Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch#2 sesi#9*
Hari/tanggal : Selasa, 13 Desember 2016
Fasilitator      : Diyah Amalia
Ketua kelas   : Hastuti (Hascu)
Koordinator pekan ke 9 : Ida Sani

Matrikulasi IIP batch #2 sesi #9

BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu, untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri, dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, di mana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”.

Continue reading

Bobo Treasure Hunt, Seseruan Bareng Anak di Gramedia Matraman

Sebuah postingan di instagram Penerbit Kiddo menarik perhatian saya beberapa minggu yang lalu. Penerbit ini rupanya hendak menggelar lomba yang cukup unik dalam rangka peluncuran buku kumpulan cerpen dari majalah Bobo. Sebetulnya bentuk lombanya sendiri masih kurang jelas bagi saya ya, karena hanya disebutkan ‘berburu harta karun’ sebagaimana sudah tersirat dalam judul acara itu sendiri. Tapi karena sepertinya menarik, maka saya pun mencoba mendaftar. Apalagi lokasi acaranya cukup dekat dari rumah, yaitu Gramedia Matraman. Peserta lomba ini disyaratkan berpasangan antara ibu-anak, ayah-anak, atau bisa juga kakak beradik, dengan catatan usia anak 4-13 tahun. Untuk 30 pendaftar yang mengunggah (ke fb atau IG) foto kupon yang ada di majalah Bobo terbaru, dapat hadiah tambahan. Demi hadiah itu, saya pun beli Bobo lagi, majalah kesayangan saya di masa kecil itu :D.

Tibalah hari-H, 10 Desember 2016. Kami datang sedikit terlambat, dan beberapa peserta sudah terlihat sibuk di dekat pintu masuk lantai 1. Tapi ternyata masih diterima untuk ikutan, kok. Di tempat pendaftaran di ruang serbaguna di lantai 3, setelah membayar, peserta mendapatkan nomor urut, kartu penilaian, tas berisi kue-kue, pin, buku, dan spidol. Seperti yang dijanjikan, kami memperoleh bonus buku karena termasuk dalam 30 pendaftar pertama melalui media sosial.

serius menyusun puzzleSesuai petunjuk, kami langsung turun ke lantai 1. Tantangan pertama adalah menyusun puzzle dari gambar sampul buku-buku yang akan diluncurkan. Setelah puzzle tersusun rapi, peserta diberi kertas yang berisikan petunjuk untuk mencari bolpoin berlogo Gramedia. Di sinilah kami (dan beberapa peserta lain juga) agak kelamaan menghabiskan waktu, memutari area alat tulis sambil tanya-tanya. Para pramuniaga entah memang tidak tahu atau dilarang memberi petunjuk sehingga pencarian cukup rumit. Malah ada pramuniaga yang mengarahkan saya untuk bertanya ke customer service lantai berikutnya. Hampir kami mengikuti jejak pasangan lain yang kayaknya sudah memutuskan membeli bolpoin berlabel Gramedia yang dijual, ketika saya berpikir masak iya sih harus keluar uang (lagi, soalnya uang pendaftarannya juga sudah lumayan :D). Saya pun kembali untuk bertanya pada panitia, yang dijawab “Carinya di sini-sini aja, Bu.”, dan rupanya memang dekat dengan tempat tantangan puzzle tadilah saya melihat sekotak bolpoin yang ditempeli tanda “tidak dijual”. Lha…

Continue reading

Siap-siap Imunisasi Usia 2 Tahun

Hari ini usia Fahira alhamdulillah genap dua tahun. Salah satu yang mengucapkan selamat ulang tahun pertama kali di luar orang rumah adalah klinik tempat anak-anak divaksin, In Harmony Clinic. Klinik yang berada di daerah Percetakan Negara, dekat rutan Salemba ini menjadi salah satu pilihan kami untuk imunisasi non-subsidi. Untuk imunisasi bersubsidi atau sering disebut imunisasi dasar/wajib, kami lebih sering memanfaatkan fasilitas pemerintah alias ke Puskesmas.

Stok vaksin di klinik milik dr. Kristoforus Hendra Djaya, Sp.PD. ini cukup lengkap, dulu kami pernah memperoleh vaksin varicella di sana saat di tempat lain sudah langka (walaupun terakhir kami akan booster tifoid untuk Fathia ternyata kosong, dapatnya di Simple Vaccination). Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari rumah, bisa sekali naik angkot, walaupun biasanya kami ke sana naik motor.

Pilihan lain ada juga sebetulnya, yaitu memanfaatkan kunjungan imunisasi ke rumah/lokasi lain sesuai perjanjian dari Simple Vaccination di mana biaya jasa kunjungan bisa dibagi kalau ada barengannya (misalnya tetangga), selengkapnya saya ceritakan di postingan ini: Imunisasi Mudah dan Murah di Simple Vaccination.

Meski tidak secara eksplisit disampaikan, tetapi ucapan yang dikirim melalui e-mail tersebut juga sekaligus menjadi pengingat bahwa di usianya sekarang sudah saatnya Fahira mendapatkan imunisasi kembali. Saya sudah menelepon klinik tersebut beberapa hari yang lalu untuk mengecek ketersediaan vaksin (dan harganya) sekaligus membuat janji. Sesuai dengan jadwal rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2014, 24 bulan adalah waktunya anak mendapatkan vaksinasi tifoid dan hepatitis A dosis pertama (dosis kedua untuk Hepatitis A akan diberikan 6 bulan berikutnya). Oya, sebetulnya ada update yang konon untuk tahun 2016, dengan pergeseran jadwal imunisasi HiB dan tambahan vaksin japanese encephalitis untuk daerah endemis seperti Bali serta vaksin dengue, tetapi informasi di Gesamun menyatakan jadwal yang juga sudah diunggah ke instagram info_pediatri itu belum resmi karena memang di website IDAI sendiri belum ada.

Continue reading