Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga, maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sebagai berikut:
a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7).
Sepotong kalimat itu sontak menghadang langkah saya untuk mendapatkan beasiswa. Kedua anggota tim seleksi yang mewawancarai saya, salah satunya kini menjadi anggota kabinet pemerintahan, berpandangan penuh arti setelah mendengar jawaban saya terkait perbedaan bidang studi yang telah dan akan saya ambil.
“Kami mencari kandidat yang yakin,” kata salah satu dari mereka. Jawaban saya ternyata tidak cukup tegas untuk membuktikan kelayakan saya menerima bantuan pendidikan dari pemerintah negara tetangga tersebut. E-mail pengumuman yang menyusul kemudian secara khusus menyebutkan saran bahwa saya harus lebih percaya diri dalam bersikap.
Ya, saat itu saya lupa akan satu hal. Bahwa kepercayaan diri adalah modal utama untuk meraih kesuksesan. Percaya diri di sini tentu dalam kadar yang tepat, ya. Bukan overconfidence maupun sebaliknya, minder. Dalam bingkai Ilahiah, melalui hadits qudsi, Allah juga sudah berfirman bahwa Ia sesuai persangkaan hamba-Nya. Jika kita berdoa pun, salah satu syaratnya adalah yakin doa diterima. Konteksnya lebih ke yakin akan kuasa Allah subhanahu wata’ala, sebenarnya. Namun, di sisi lain, hal tersebut sekaligus memotivasi kita selaku hamba-Nya untuk membuktikan diri pantas menerima apa yang kita minta. Baik melalui usaha yang spesifik sehubungan dengan doa kita, maupun tingkah laku sehari-hari.
Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #2, sesi #8
Hari/tanggal: Selasa, 06 Desember 2016
Fasilitator: Yesi Dwi Fitria
Ketua kelas: Hastuti (Hascu)
Koordinator pekan ke-8: Pipit Jayanti
Matrikulasi Ibu Profesional batch #2 sesi #8
MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIVITAS
Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif.
Sebelumnya kita sudah memahami bahwa “Rezeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita di mata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.
Be Professional, Rezeki will Follow
Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.
“Rezeki will follow” bisa dimaknai bahwa rezeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.
Selain kelas online selama 9 sesi, Institut Ibu Profesional dalam program Matrikulasi Batch 2 juga menyelenggarakan kelas offline bagi para peserta. Kelas offline ini diadakan dua kali, dengan materi yang masih ada kaitannya dengan materi utama tetapi temanya sendiri ditentukan bersama-sama, pembicaranya pun atas usulan peserta. Karena minggu sebelumnya saya ada keperluan lain di sekolah Fathia, jadi saya hanya bisa menghadiri kelas offline grup Jakarta yang kedua yang diadakan di rumah salah satu anggota di Condet Balekambang, Jakarta Timur.
Yang memberikan materi dalam kuliah offline yang dikemas santai ini adalah ibu Ina Rizqie Amalia, M.M., PCC, Executive Coach, Founder and Director Loop Institute of Coaching Indonesia.
Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah
Orangtua bertindak sebagai coach, yang membawa keluarga termasuk anak untuk mencapai tujuannya.
Coaching is easy, the most important is how we Respect their choices, uniqueness, way of life, belief, values, and sharing. Hargai anak kita seperti kita menghargai orang lain. Terkadang tanpa sadar kita lebih sopan dan manis berbicara ke rekan kerja atau tetangga daripada ke anak sendiri. Orangtua perlu mengendalikan emosi dan bersabar menghadapi anak yang adakalanya tingkahnya tak terduga. Jangan segan minta maaf ke anak ya…. Secara berkala juga bisa minta feedback anak, sudah seberapa baik kita sebagai orangtua di matanya.
Poin kedua adalah Integrity: courage, authentic, accountability, care, awareness. Integritas merupakan kesatuan antara hati, pikiran, dan keberanian kita atas apa yang kita rasakan dengan tindakan kita, dalam situasi apa pun. Mungkin kita tahu sesuatu itu salah, ketika ada yang menyerobot antrean misalnya, tapi tidak semua berani menegur atau mengingatkan. Akuntabilitas artinya pegang komitmen dan tanggung jawab, termasuk ketika berjanji pada anak. Kesadaran juga harus selalu dijaga, karena kita sehari-hari bisa saja melakukan banyak hal khususnya yang sudah rutin secara robotik atau otomatis tanpa berpikir lagi, yang sebetulnya bisa mendatangkan bahaya.
Kemudian jangan lupakan Creative process and continuous learning: curiosity, creativity, learning, experience, resources. Seiring bertambahnya usia, kreativitas manusia makin berkurang. Anak-anak ada pada fase paling kreatif, tetapi seringnya dihambat oleh orangtuanya sendiri. Melindungi atau memproteksi anak boleh saja, tetapi jangan berlebihan. Hati-hati jika anak sudah tidak mau bertanya pada orangtuanya sendiri (akibat adanya hambatan tersebut) dan orangtua pun tidak penasaran terhadap anaknya. Jawaban yang terlalu singkat bahkan cenderung tidak peduli terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka dapat mematikan potensi anak. Malah kalau bisa, pancing mereka berpikir kreatif dengan bertanya. Sebagai manusia ternyata kebanyakan kita masih perlu latihan untuk mendengar dan bertanya dengan baik. Hindari jawaban sinis, atau pancingan pertanyaan kita yang terlalu panjang dan berjenjang. Orangtua juga bisa menggunakan powerful questions.
Berikutnya adalah merangkul Human potential: be resourceful, transformation, spiritual, meaning acceleration, ownership. Orangtua hendaknya bertindak selaku pengamat potensi anak untuk membantu mengarahkannya, termasuk misalnya untuk memilih gaya pembelajaran yang sesuai. Ke depannya akan ada berbagai tantangan hidup, jika anak sudah belajar sesuai potensinya maka in sya Allah akan lebih mudah dihadapi.
Bentuk lingkaran sebagaimana ditampilkan di atas bermakna bahwa keempat filosofi ini harus ada dan saling menjalin tanpa putus.
Bagaimana agar orangtua menjadi coach yang baik? Kuncinya adalah mendengar dan bertanya. Dari sini bisa digali kebutuhan maupun keinginan anak seperti apa.
Mendengar. Terdapat dua level yaitu internal listening (dalam otak kita terdapat judgement atau penilaian) dan tanpa judgement. Menjadi pendengar yang baik berarti kita harus fokus, mendengarkan dengan saksama, jaga kontak mata, abaikan hal lain dalam pikiran kita.
Bertanya. Gunakan pertanyaan terkait situasi saat ini (misalnya perasaan anak) dan ke depan (rencana tindakan anak).
Tips lain, jangan suruh anak berhenti maupun membujuk saat ia menangis. Tunggu saja, peluk.
Pameran produk ibu dan bayi pertama yang saya kunjungi adalah Indonesia Maternity, Baby & Kids Expo (IMBEX) tahun 2012. Yang paling saya ingat adalah adanya berbagai talk show bermanfaat, juga promo menarik dari para pengisi booth. Tahun ini saya ke sana lagi, tentunya dengan pasukan yang sudah bertambah jumlahnya (dan tetap saja tanpa suami yang sedang bertugas di kota lain, hehehe). Tempatnya masih sama yaitu di Jakarta Convention Center, tetapi area yang digunakan jauh lebih luas daripada yang saya kunjungi sebelumnya.
Tanggal 26 November 2016 atau pada hari kedua penyelenggaraan IMBEX 2016, saya pergi ke sana sendirian. Ceritanya mau semacam survei lapangan dulu sebelum mengajak anak-anak, sekaligus memenuhi undangan mba Wynanda, founder komunitas Indonesia Rare Disorders yang juga membuka stand di IMBEX untuk keperluan edukasi. Lalu lintas hari itu terhitung sangat padat karena di saat yang bersamaan ada acara wisuda sebuah universitas di JCC, jadi butuh waktu cukup lama bagi saya untuk mencapai lokasi dari Stasiun Sudirman.
Usai mengobrol dengan mba Wyn, saya berkeliling sebentar. Walaupun tak ada agenda membeli sesuatu yang khusus, saya tertarik juga melihat display yang begitu menggoda mata. Wah, ternyata bertambah lagi produsen baby carrier yang mengeluarkan model dengan hip seat. Oh, yang itu ya produk bak mandi yang sempat saya lihat di Instagram bisa sekaligus mengukur berat badan bayi. Ada pula produk madu gunung dari Malaysia yang cukup bikin saya takjub karena keunikannya, bentuknya padat karena memang sudah mengeras dan konon diambil dari sarang lebah di atas gunung yang telah lama ditinggalkan.
Bunda dan calon bunda yang masih semangat belajar sampai NHW #7. Selamat, Anda sudah melampaui tahap demi tahap belajar kita dengan sabar.
Setelah kita berusaha mengetahui diri kita lewat NHW -NHW sebelumnya, kali ini kita akan mengkonfirmasi apa yang sudah kita temukan selama ini dengan tools yang sudah dibuat oleh Abah Rama di Talents Mapping.
Segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah teman-teman tulis di NHW#1 – NHW #6
Semua ini ditujukan agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA.
Ketahuilah tipe kekuatan diri (strength typology) teman-teman, dengan cara sebagai berikut:
Mei lalu, saya dan beberapa orang pegawai lain se-Indonesia yang lolos seleksi pegawai bertalenta di bidang jurnalistik berkesempatan terlibat dalam proyek penulisan annual report organisasi kami. Untuk penyelesaian proyek tersebut, kami sempat dikumpulkan selama sepekan di kantor pusat. Ketika bertemu teman-teman lain untuk pertama kali, terus terang reaksi pertama saya adalah agak minder. Bagaimana tidak, saya paling senior (untuk menggantikan kata ‘tua’ :D) di antara mereka, dengan jarak usia cukup lumayan. Apalagi saat mereka mengeluarkan perangkat masing-masing. Waah, canggih-canggih, pikir saya.
Saya tatap netbook berwarna hitam yang juga sudah ikut duduk manis di depan saya, di meja perpustakaan kantor pusat. Perangkat ini sungguh penuh kenangan. Jadi ceritanya suami saya mendadak dapat SK mutasi ke Jakarta tahun 2011, saat saya sedang hamil anak pertama. Divisinya yang terhitung baru sehingga sarana komputer juga masih terbatas, serta pekerjaan yang menuntut mobilitas membuat suami merasa perlu membawa notebook sendiri, notebook yang jadi milik kami bersama. Sebetulnya saat itu saya juga sedang ada kerjaan menulis yang cukup lumayan dari segi asah pengalaman (karena dibimbing langsung oleh para editor penerbit kenamaan) maupun bayaran (honor terbesar yang pernah saya terima), tapi saya juga tak sampai hati bilang mau ‘menahan’ agar laptop tetap saya gunakan di Pangkalpinang. Kejutan, ternyata suami saya kemudian membelikan Acer Aspire One untuk saya yang dititipkannya lewat rekan lain. Dengan netbook inilah saya menuntaskan beberapa tulisan di kala itu, beberapa di antaranya berhasil diterbitkan dalam buku atau memenangkan lomba.
Kini, putri pertama kami sudah bukan balita lagi. Episode long distance marriage kami baru saja memasuki babak berikutnya setelah sempat lima tahun bekerja di kota yang sama. Kali ini saya di Jakarta dan suami di Jogja. Netbook itu masih setia menemani saya, termasuk menyimpan memori kegiatan keluarga kecil kami. Setelah putri kedua melewati usia setahun, saya mulai lebih aktif menulis lagi. Mencoba ikutan event ini-itu, lagi-lagi dengan bantuan netbook kesayangan. Kebetulan awal tahun ini saya juga dimutasikan ke kantor dengan job desc baru: membuat beberapa macam laporan dan analisis. Ditembah dengan tugas mengelola website kantor.
Jika sebelumnya saya menjadi pengguna sistem terotomatisasi, kali ini saya dihadapkan pada pekerjaan yang sebetulnya merupakan hobi saya yaitu menulis, tetapi dengan tantangan baru yaitu menganalisis secara ilmiah. Artinya, makin sering saya berhubungan dengan aktivitas ketik-mengetik, mengirimkan surel, browsing rilis laporan dari lembaga lain maupun berita ekonomi, dan sejenisnya. Tentunya sudah tersedia fasilitas di kantor, tetapi adakalanya saya perlu menulis atau menyampaikan sesuatu di perjalanan. Sebab pekerjaan ini juga menuntut kami bertemu untuk berkoordinasi dengan banyak pihak ataupun melaksanakan survei di lapangan agar laporan yang tersusun lebih akurat dan bermanfaat. Ponsel pintar cukup membantu di waktu-waktu tertentu, tapi sering saya berharap punya gawai yang lebih bisa diandalkan untuk mendukung beragam aktivitas saya. Netbook kesayangan cukup mungil untuk ditenteng ke sana kemari dan cukup memadai untuk beberapa keperluan, tapi saya mulai browsing juga mengenai laptop lain.
Display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440)
Baca di sana-sini, saya menemukan tulisan tentang Switch Alpha 12, Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas. Kenapa Acer? Jelas, karena ketangguhan perangkat sebelumnya yang saya miliki sudah menjadi bukti. Kata-kata “tanpa kipas” langsung menarik perhatian saya. Bisa, ya, tidak pakai kipas? Ternyata dengan teknologi LiquidLoop, suhu mesin netbook bisa tetap dingin tanpa kipas. Meminimalisir suara berisik juga, sekaligus mencegah debu masuk ke dalam badan netbook karena tanpa ventilasi, hingga netbook jadi lebih awet. Ukurannya sendiri tipis dengan bobot yang ringan, dengan display 12″ beresolusi tinggi QHD (2160 x 1440). Cocok nih dipakai untuk bekerja dengan spreadsheet atau mengutak-atik tampilan website maupun blog. Cocok juga untuk video call dengan suami atau eyang anak-anak yang nun jauh di sana (penting, lho!). Fitur Acer BlueLight Shield mampu melindungi mata pengguna, aset karunia Tuhan yang penting untuk tetap dijaga. Processor-nya sixth-generation Core i5 lho, dengan RAM 8GB, baca di review luar sih katanya bikin kerja sambil buka banyak tab terbuka sekaligus tetap lancar tanpa hang. Problem ngadat seperti itulah yang sering saya alami selama ini, mengingat saya merasa lebih mantap kalau membuka banyak referensi untuk cek dan ricek ketika menulis (biar hasil karya valid dan bisa dipertanggungjawabkan, kan).
Switchable, bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet
Hal lain yang bikin saya makin antusias adalah adanya kickstand yang bisa dimiringkan hingga 165 derajat supaya lebih nyaman digunakan. Keyboard docking Switch Alpha 12 terkoneksi melalui engsel magnetik, jadi bisa dikonversikan menjadi laptop maupun tablet, plus dilengkapi backlit untuk memudahkan pemakaian di tempat minim pencahayaan. Tahu aja nih, ibu-ibu kalau malam kadang masih perlu nulis sesuatu tapi kalau lampu dinyalakan semua si kecil ikut bangun, hehehe. Switchable banget, kan? As switchable as yang saya butuhkan, mengingat aneka keperluan saya yang kadang menuntut ‘gaya’ yang berbeda dalam mengoperasikan netbook.
USB 3.1 Type-C dengan port bolak-balik dan transfer data lebih cepat
Bekerja dengan gawai acapkali juga berarti munculnya keperluan untuk memindahkan data. Nah, Switch Alpha 12 sudah pakai USB 3.1 Type-C, nih, yang port-nya bolak-balik dan transfer data juga bisa lebih cepat yaitu mencapai 5 Gbps (10 kali lebih kencang dibandingkan dengan USB 2.0). Tersedia juga stylus pen (dijual terpisah) untuk membantu presentasi menjadi lebih praktis. Kemudahan-kemudahan itu bisa menghemat waktu juga, demi kelancaran pertukaran peran working mom yang juga butuh me time seperti saya.
Jelas kan, Acer Switch Alpha 12 ini pas banget untuk saya. Masuk wish list pokoknya, semoga segera ada rezeki untuk mendapatkannya. Kalau sudah dapat, netbook yang lama dikemanakan, dong? Bisa dipakai anak pertama, lah, biar nggak hanya terbiasa dengan layar sentuh :).
Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #2, sesi #7
REZEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI
Alhamdulillah setelah melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan” dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.
Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”.
Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati.
Para ibu di kelas Bunda Produktif memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.
Mungkin kita tidak tahu di mana rezeki kita, tapi rezeki akan tahu dimana kita berada.
Sang Maha Memberi Rezeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita.
Allah berjanji menjamin rezeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin-Nya adalah kekeliruan besar.
Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah:
Bunda yang akan berikhtiar menjemput rezeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.
Semua pengalaman para Ibu Profesional di Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah KEMULIAAN hidup.
Karena REZEKI itu PASTI, KEMULIAAN-lah yang harus DICARI.
Terus terang, citra vacuum cleaner di mata saya selama ini adalah ‘perkakas high end yang termasuk kebutuhan tersier’. Salah satu pemicunya ya karena harganya yang konon tergolong tinggi (padahal tidak serius mengamati, hehehe).
Saya sendiri sebetulnya agak sensitif soal debu. Bebersih rumah standar sih tidak jadi masalah. Namun, kalau sudah bongkar-bongkar tumpukan barang yang cukup lama tidak disentuh, yang biasanya jadi sarang debu, bersin-bersin dan gatal-gatal-lah saya. Sebetulnya sih, yang lebih tepat adalah reaksi terhadap tungau debu (household dust mites), ya, bukan terhadap debunya itu sendiri. Makhluk kerabat laba-laba ini habitatnya memang di debu rumah. Si tungau supermungil ini tidak menggigit, tetapi badan dan sekresinya bisa mengandung serpihan kulit mati atau hal lain yang memicu reaksi alergi.
Jika membaca forum-forum online ibu-ibu dengan topik kesehatan anak, masalah debu ini juga sering dikeluhkan menjadi pemicu alergi pada bayi dan anak. Kasihan kan, anak bersin-bersin dan hidungnya tersumbat, atau muncul ruam pada kulit halus si kecil. Bisa jadi ada agenda keluarga atau individu keluarga yang harus tertunda atau dibatalkan gara-gara salah satu anggotanya mengalami gejala alergi.
Beberapa dokter yang saya kenal pernah menjelaskan bahwa standar tata laksana untuk alergi itu sendiri yaitu hindari pemicunya. Obat bisa digunakan untuk menangani atau meredakan gejala yang sudah telanjur timbul, beberapa terapi disebut ampuh agar tubuh lebih kebal, tetapi pencegahan adalah kunci utama.
Sementara, beberapa pernak-pernik di rumah yang sering dianggap identik dengan dunia bayi dan anak seperti boneka, selimut, dan karpet atau permadani cenderung punya sifat memerangkap debu. Vacuum cleaner atau biasa diterjemahkan sebagai penghisap debu, sebagaimana namanya, merupakan salah satu perangkat yang bisa menjadi solusi.
Nah, saat browsing terkait perlengkapan rumah tangga, tawaran vacuum cleaner dari berbagai produsen ternyata cukup sering berseliweran di ad banner yang dipasang oleh toko-toko ataupun marketplace online. Wah, tidak terlalu mahal juga, pikir saya. Tapiii, ada tapinya, nih. Namanya barang elektronik, tentu maunya yang awet dan berkualitas, ya.
Sayang kan, kalau dipakai sebentar sudah rusak, atau kinerjanya ternyata tidak sesuai deskripsi. Lebih boros nanti jatuhnya. Bicara soal daya tahan, saya mau tidak mau teringat jingle iklan yang sering diputar di televisi dulu, “Kalau saja semua seawet Electrolux”.
Tahun 2016, vacuum cleaner Electrolux kembali meraih penghargaan Top Brand Awards, lho. Artinya brand ini banyak dikenal, dibeli, dan konsumennya pun loyal (top of mind, market, & commitment share). Baca-baca sejarahnya, memang Electrolux-lah yang menjadi pelopor di bidang vacuum cleaner.
Tahun 1912 Axe Wenner-Gren, pendiri Electrolux, melansir Lux 1, penghisap debu rumah tangga pertama. Artinya, pengalaman Electrolux sudah lebih dari 100 tahun #Over100YearsElectroluxVacuum. Tentu bentuknya belum seperti sekarang, ya. Beratnya saja masih 14kg!
Tipe-tipe Electrolux vacuum cleaner
Electrolux terus melakukan inovasi melalui penelitian hingga vacuum cleaner yang diproduksi semakin efisien dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Ya, ada berbagai tipe yang dikeluarkan oleh Electrolux. Awalnya saya tahu ada tipe-tipe ini dari artikel di web The Urban Mama, yang menyampaikan materi sharing dengan Electrolux Indonesia. Kemudian saya cari lebih detil di katalog resminya.
Tipe-tipe ini meliputi:
Wet & dry yang bisa digunakan untuk luar rumah dan mampu membersihkan cairan, serbuk kayu, debu, dan kerikil.
Stick yang cocok untuk rumah kecil, tersedia model cord maupun cordless.
Canister yang lebih tangguh, tersedia model bagged maupun bagless.
Ergorapido ZB3114AK
Pilih yang mana, ya? Yang masuk ke wishlist saya sih yang stick, mengingat ukuran rumah yang mungil. Ergorapido ZB3114AK misalnya, yang bagless, cordless, baterainya tahan lama dan isi ulangnya cepat, kepala hisapnya bisa bermanuver 180 derajat pula.
Dengan vacuum cleaner yang andal, mudah digunakan, dan bermutu tinggi, tujuan penggunaannya yaitu rumah yang bersih juga akan tercapai dengan maksimal. Bersih-bersih rumah jadi lebih menyenangkan dan tak memakan waktu lama. Rumah bersih artinya meminimalkan potensi pemicu alergi. Ketika alergen sudah dihalau, keluarga pun bisa hidup lebih sehat. Kesehatan optimal menjadi salah satu modal utama untuk beraktivitas sehari-hari dengan baik, kan?
Saya menduga, sekali dalam hidup Anda pasti pernah merasakan atau menghadapi seseorang yang bertingkah laku seolah tak memikirkan apa yang ia lakukan dan tidak peduli akan perasaan orang lain… Bener-bener cuek bebek..
Ambillah sebuah contoh yang sangat lazim: Anda sedang berkendara (motorkah atau mobil), melaju di jalur kiri atau tengah. Tiba-tiba sekali, ada kendaraan lain dengan kecepatan tinggi memotong dari arah paling kanan untuk belok ke kiri!
Anda sangat terkejut, untung masih bisa injak rem. Tapi apa yang Anda katakan pada pengendara yang memotong jalan itu? Astagfirullah! Konyol! Gak mikir! Sinting nih orang! Dan mungkin puluhan kata dan umpatan lainnya yang otomatis keluar.
Umumnya kata atau umpatan itu tidak terkendali karena kaget dan kesal luar biasa. Jadi tak sempat terpikirkan sebelum diucapkan. Dengan kata lain, kata-kata tersebut keluar sesuai perasaan kita saja. Kita sebutlah itu sebagai Aksi yang berdasarkan pada Perasaan atau Emosi.
Seharusnya sebagai orang dewasa, kita ber-Aksi berdasarkan Emosi atau Pikiran? Ya, benar, Pikiran! Jadi seharusnya rumusnya menjadi seperti ini, bukan? E – P – A. Emosi – Pikir dulu – baru ber-Aksi. Kenyataannya, sebagai orang dewasa kita sering menunjukan reaksi seperti di atas: E –A- P!
Siapa yang biasanya atau yang sepantasnya ber-Aksi berdasarkan pola EAP? Betul: anak-anak! Karena pusat-pusat di otak mereka belum sempurna terbentuk atau bersambungan.
Ternyata berapa sering kita sebagai orang dewasa bertindak atau bertingkah laku sehari-hari masih dengan pola EAP?