NHW6 Kelas Matrikulasi IIP Batch 2

NICE HOMEWORK #6

BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal”.

Mengapa? Karena hal ini akan mempermudah Bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah Bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu:

RUTINITAS

Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita “merasa sibuk” sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sebagai berikut:

1⃣ Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting

2⃣Waktu Anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

3⃣Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.

4⃣Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time (misal Anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

5⃣Jangan izinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian Anda.

6⃣Setelah tahap di atas selesai Anda tentukan, buatlah jadwal harian yang paling mudah Anda kerjakan. (Contoh, kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7).

Continue reading

Mojok di Kids Corner Double Tree by Hilton

img_20161119_085304_hdr

Berfoto di depan dekorasi kolam

Beberapa waktu yang lalu saya dan ‘pasukan’ (maksudnya anak-anak dan pengasuh) pergi ke Double Tree by Hilton Hotel Jakarta untuk mengikuti sebuah acara. Ternyata saya salah membaca waktu acara dimulai, walhasil kami jadi harus menunggu selama satu jam lebih. Masih mending daripada terlambat, sih, tapi…anak-anak gimana, ya? Bosan nggak, tuh? Mengingat kegiatan dilaksanakan di restoran di lantai atas hotel yang terletak sangat dekat dengan Stasiun Cikini ini, ruang gerak mereka agak terbatas. Ada teras terbuka di mana anak-anak kayaknya sih bakal cukup senang lari-larian sih, tapi malah di situ mataharinya cukup menyengat, ada yang merokok pula.

Panitia kemudian menyarankan kami untuk ke Kids Corner. Nah, sesaat sebelum berangkat saya sebetulnya sudah browsing sekilas untuk mencari tahu apakah di hotel tersebut tersedia arena bermain anak. Soalnya pernah kami sekeluarga datang ke seminar di sebuah apartemen dan ternyata di sana ada tempat bermain untuk anak yang baru kami ketahui setelah acara selesai. Kan lumayan, ya, daripada anak-anak tidak leluasa main di lokasi acara (tentang mengajak vs menitipkan anak saat ortu belajar bisa dibaca di postingan yang ini: Masih tentang Adab Menuntut Ilmu).

Continue reading

Materi Kelas Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi VI: Ibu Manajer Keluarga Handal

IBU MANAJER KELUARGA HANDAL

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib profesional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apa pun ranah bekerja yang Ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu

kita harus “SELESAI” dengan manajemen rumah tangga kita.

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas di mana pun. Sehingga Anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja?

Continue reading

Karena Saya Ingin Berada di #UsiaCantik Seperti Mama

“La, kuwi mamahmu tenan (itu beneran mama kamu)?”

Pertanyaan ini sudah sampai bosan saya dengar ketika waktunya pengambilan rapor di SD dulu. Mama memang seringnya datang ke sekolah dalam keadaan berpakaian rapi karena setelahnya langsung berangkat lagi ke kantor. Eh, sebetulnya tak hanya ke kantor saya sih mama berdandan rapi, tapi intinya adalah teman-teman sekolah saya sering mengomentari bahwa mama saya terlihat cantik (beda dengan anaknya yang sering berjemur panas matahari, hahaha).

Jarak usia mama dan saya 26 tahun. Kini saya sudah menyandang status sebagai wali murid, sejak putri saya masuk TK beberapa bulan yang lalu. Sama-sama berpakaian rapi-ngantor-style di beberapa kesempatan mengunjungi  sekolah anak, tapi saya seringkali tetap merasa tidak percaya diri. Rasanya, saya harus belajar banyak dari mama, deh.

Apa yang membuat saya tidak percaya diri? Pertama, wajah saya tidak mulus-mulus amat. Dibandingkan dengan foto-foto mama saat seumuran yang ada di album foto di rumah, kayaknya jauh lah. Jerawat dan kawan-kawannya di sisi lain juga sering dikaitkan dengan keengganan mengurus diri, baik melalui asupan yang masuk maupun perawatan luar. Mama memang sebetulnya sudah sering menegur saya untuk lebih telaten, minimal dalam hal membersihkan muka dan mengoleskan tabir surya sebelum beraktivitas. Saya ingat sekali bahwa saya menikmati melihat ‘ritual’ mama setiap malam menjelang tidur, dengan dua langkah pembersihan (zaman sekarang sudah disarankan tiga langkah, ya), kemudian ditutup dengan krim malam.

Kata mama, perawatan itu penting, karena efeknya, bila melakukan maupun tidak, bisa jangka panjang. Malas pakai tabir surya sekarang, siap-siap saja wajah dihinggapi spot gelap. Hasilnya memang terlihat, sih. Di usia sekarang, mama masih tampil prima. Ledekan teman-teman pun berganti, seringnya kami dibilang kakak-beradik, tapi saya kakaknya, hahaha. Petugas di salon langganan saya di Pangkalpinang dulu juga sempat mengekspresikan keterkejutannya secara terang-terangan begitu pertama melihat mama yang menurutnya ‘modis’. Penampilan memang bukan segalanya, tapi upaya menjaga apa yang sudah dianugerahkan Tuhan ke kita merupakan salah satu wujud syukur, kan? Agar seseorang bisa tampil optimal di #UsiaCantik-nya, tentu harus ada langkah yang diambil. Bisa berupa makan dengan gizi seimbang, rajin menjaga kebersihan, juga melakukan perawatan dengan bahan alami ramuan sendiri maupun produk dari brand tepercaya. Makin bertambah usia, harus makin bijak juga kan ya, termasuk memilih skincare yang aman dan teruji. Kalau bisa sih yang tidak terlalu sulit juga untuk dicari, ya. Sebut saja untuk mengatasi kulit kendur dan kerutan halus yang mulai muncul, kita bisa mengandalkan lini Revitalift dari L’Oreal Paris.

saya-mamaHal kedua yang membuat saya kadang gentar adalah cara membawakan diri. Ya, bukan hanya penampilan luar yang penting, tapi juga tingkah laku kita. Be yourself agar tak kehilangan jati diri adalah satu hal, menghargai orang lain adalah hal lain yang juga tak kalah penting. Mama begitu luwes berbaur dan mengobrol dengan orang baru sekalipun (tanpa meninggalkan kewaspadaan tentunya), sedangkan saya yang cenderung introvert kerap kali berpikir bahwa usaha untuk bergaul secara langsung itu pada awalnya cenderung menyiksa. Well, kita kan makhluk sosial, ya. Kalau kita terlihat judes, yang rugi kita sendiri, kan? Seulas senyum ramah sudah mampu menambah nilai kecantikan kita, kok. Bukan bermaksud berpura-pura juga lho, ya. Yang saya rasakan dengan berlatih selama beberapa waktu belakangan ini, beramah-tamah itu asyik juga, kok. Mengobrol dengan sesama ibu-ibu yang menunggu anaknya selesai berkegiatan di sekolah ketika saya sedang tidak ngantor misalnya, bisa menambah wawasan dan networking.

telah-sampai-pada-tahap-kesadaran-akan-kebutuhan-untuk-memberi-dan-mendapatkan-apa-yang-terbaik-bagi-diriPada dasarnya seseorang akan menyenangkan untuk dilihat jika sudah nyaman dengan dirinya sendiri. Bukan sekadar menerima diri apa adanya, melainkan juga telah sampai pada tahap kesadaran akan kebutuhan untuk memberi dan mendapatkan apa yang terbaik bagi diri. Kenyamanan inilah yang bagi beberapa orang butuh proses untuk mencapainya. Ada yang di usia belia sudah tampil dengan percaya diri, ada pula yang baru berani berjalan dengan kepala tegak di umur yang lebih matang, katakanlah mulai 35 tahun. Sebagian orang bilang, pesona kecantikan fisik bisa pudar seiring berjalannya waktu, yang bertahan adalah kecantikan hati. Hal ini ada benarnya, yaitu bahwa karakter positif sebaiknya memang kian terasah ketika angka usia bertambah. Namun, menjaga penampilan fisik agar tetap enak dilihat pun tak salah, selama caranya tepat.

Mama sudah menjadi teladan yang nyata bagi saya, bahwa berada di #UsiaCantik berarti semakin mantap melangkah dengan pilihan yang sudah diambil, termasuk bertanggung jawab terhadap konsekuensinya. Harus dong ya, pengalaman hidup kan juga sudah lebih kaya, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun apa yang didengar, dibaca, atau disaksikan. Bukan berarti melupakan bagaimana caranya bersenang-senang, tetapi sudah memperhitungkan risk vs benefit serta konsekuensi segala tindakan yang dilakukan. Dari konsekuensi yang kecil saja deh, pakai rangkaian perawatan kulit agar tampil cantik artinya harus meluangkan waktu saat kantuk mungkin sudah menyerang, kan? Atau mempertimbangkan secara lebih berhati-hati tawaran promosi ke jenjang karir yang lebih tinggi lagi ketika dampaknya berpotensi mengurangi waktu bersama keluarga (mengingat setiap orang punya prioritas yang berbeda).

Jadi, seberapa siap saya menyambut #UsiaCantik, mengingat jika diberi kesempatan, beberapa bulan lagi umur saya sudah genap 32 tahun? Saya akan lakukan sebaik yang saya bisa :). Sebab, saya ingin berada di #UsiaCantik sebagaimana mama saya melewatinya. Mungkin dengan pengalaman hidup yang berbeda, tetapi apa yang sudah mama lalui tetap berharga untuk saya jadikan sebagai bekal.

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

NHW5 Kelas Matrikulasi IIP Batch 2

NICE HOMEWORK #5
MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH #2

learning-how-to-learn-logo-with-text

Sumber gambar: Coursera.org

📝 BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝 (Learning  How to Learn)

Setelah malam ini kita mempelajari  tentang “Learning How to Learn”  maka kali ini kita akan praktik membuat Desain Pembelajaran ala kita.

Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan “learning how to learn” dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.

Bukan hasil sempurna yang kami harapkan, melainkan “proses” Anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yang perlu Anda share-kan ke teman-teman yang lain.

Selamat berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar Anda di NHW #5 ini.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Jawaban:

Jika merujuk ke tipe-tipe pembelajar, saya tergolong pembelajar visual. Saya kutip dari https://sandurezu.wordpress.com/2013/02/05/mengenal-tipe-belajarmu-visual-auditori-atau-kinestetik/

Tipe Visual

Orang visual akan lebih memahami melalui apa yang mereka lihat. Warna, hubungan ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Adapun beberapa ciri orang dengan tipe belajar visual, yaitu:

  • Rapi, teratur, memperhatikan segala sesuatu dan menjaga penampilan

  • Berbicara dengan cepat

  • Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik

  • Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka

  • Lebih mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar

  • Mengingat dengan asosiasi visual

  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya.

  • Lebih suka membaca daripada dibacakan dan pembaca yang cepat

  • Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon atau dalam rapat

  • Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato

  • Lebih menyukai seni gambar daripada musik

  • Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat ya atau tidak

  • Mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata yang tepat

  • Biasanya tidak terganggu dengan keributan

Continue reading

Mencicipi Martabak HAR di Jakarta, Rasanya Tak Jauh Beda

Bulan Juni tahun 2008 untuk pertama kalinya saya mencicipi yang namanya martabak HAR. Ada tugas kantor ke sana, dan di sela-sela waktu saya sempat jalan-jalan sebentar. Awalnya Fathin, teman ngeblog di multiply dulu yang mengenalkan. Dia mengantar saya ke Rumah makan martabak HAR di depan Masjid Agung Palembang. Nama HAR merupakan singkatan dari nama Haji Abdul Rozak yang menjadi perintis martabak jenis ini. Tempat yang kami kunjungi waktu itu, kata Fathin, bukan yang rasa martabaknya paling enak. Tapi bagi saya sudah top banget, deh. Mengingat saya suka makanan gurih yang berbumbu tetapi tidak terlalu menyengat, martabak HAR ini memanjakan lidah.

Kuah kari kentangnya sedikit mengingatkan saya pada kuah kari ala India, tapi bumbunya tidak setajam itu. Konon sih karena Haji Abdul Razak yang wafat pada tahun 2001 ini aslinya memang keturunan India. Tapi isian martabaknya sendiri beda dengan martabak India, martabak Mesir, atau martabak gurih lain yang banyak dijual. Isinya ‘hanya’ telur (telur ayam atau bebek) yang dipecahkan ke dalam lipatan kulit. Jadi tanpa dikocok terlebih dahulu, hingga tekstur isinya mirip telur rebus. Begitu lezatnya sampai-sampai saya menyempatkan ke rumah makan itu lagi sendirian ketika kembali mendapatkan perintah tugas ke sana tahun 2010. Belakangan, di Pangkalpinang, tempat domisili saya saat itu, ada watung yang menyediakan menu ini. Tentu saya tak menyia-nyiakan kesempatan, ada masa di mana seminggu sekali pasti saya mengajak suami ke sana (walaupun cuma saya yang makan, hehehe…untungnya tersedia juga menu lain untuknya).

Begitu pindah ke Jakarta saya hampir lupa akan martabak yang satu ini. Pernah googling sekilas, tapi seingat saya, saya tidak berhasil menemukan lokasi penjual martabak HAR di ibukota. Baru awal tahun 2016, tepat ketika saya habis dapat SK mutasi ke kantor lain di bagian lain Jakarta, saya mendapatkan info bahwa ada rumah makan martabak HAR di Jakarta Pusat. Terhitung dekat sekali malah, kalau dari kantor lama :D. Tapi karena berbagai kesibukan baik saya maupun suami, saya baru kesampaian menuju tempat yang disebutkan itu menjelang Idul Adha tahun ini.

img_20160910_110704.jpgMencari tempatnya susah-susah gampang karena awalnya kami tidak punya bayangan. Di Kompasiana ada yang menyebutkan letaknya dekat halte Transjakarta Harmoni, tepatnya di Jl. Hayam Wuruk No. 19. Coba menelusuri tepian jalan kayaknya nggak ada, coba masuk-masuk gang malah tambah nggak ketemu. Ternyata memang benar lokasinya di tepi jalan raya (namanya saja pakai nama jalan utama, kan), hanya saja kami terlalu cepat putar balik dari arah Carrefour Duta Merlin, minimal putar baliknya seharusnya tepat sebelum hotel Grand Mercure, ya. Daann begitu sampai, ada stiker “bisa dipesan lewat Go-Jek” dong. Hihihi, jadi sebetulnya praktis saja ya kalau mau melepas rindu dengan martabak ini. Per porsinya dijual dengan harga Rp30.000,00 (kalau pakai telur bebek) atau Rp20.000,00 (telur ayam). Rasanya? Tetap enaakk, sedikit lebih terasa rempah-rempah di kuahnya sih menurut saya. Warna kuah karinya juga tidak kehijauan seperti yang saya cicipi di Palembang, tapi sama-sama lezat, kok.

 

 

 

img_20160910_101834.jpg img_20160910_101844.jpgimg_20160910_102004.jpg

Samsung Galaxy J, Bikin Blogging Jadi Lebih Menyenangkan

Pada dasarnya saya suka menulis dan mewartakan. Saya sepertinya punya semacam naluri suka berbagi informasi. Bukan dalam rangka pamer, ya. Dan tentu pilih-pilih kontennya dulu (plus cek dan ricek), apalagi kalau bentuknya forward dari pihak lain. ‘Hobi’ yang ini mendapat penyaluran ketika saya mengenal weblog atau lebih sering disebut dengan blog. Biarpun tidak kesampaian jadi wartawan betulan, saya berharap apa yang saya tulis bisa memberi manfaat. Yaaah, siapa tahu saja ada yang ternyata memerlukan referensi sebelum membeli sebuah buku, memutuskan metode pengasuhan yang tepat untuk anak, menentukan destinasi liburan, memilih media penyajian ASI perah untuk bayi, melewati daerah tertentu, atau butuh cara menghentikan aplikasi yang menyebalkan di gadget. Saat ini bahkan blogging bisa jadi kegemaran yang membuahkan imbalan materi.

istiqlal

Fathia di Istiqlal, foto diambil dengan Samsung Galaxy Chat

Sejak dulu saya lebih sering nge-blog di ponsel. Belum sampai tingkatan ponsel pintar tentunya, tapi lumayanlah sudah bisa posting dengan mudah, tidak harus menyalakan komputer/notebook dulu. Apalagi seringkali saya memanfaatkan foto-foto jepretan sendiri untuk ilustrasi blog. Tentu lebih mudah mengunggahnya langsung dari ponsel ketimbang harus mencari kabel data atau menyalakan bluetooth dulu. Dengan ponsel, blogging bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Makanya saya senang sekali ketika layanan blogging yang saya gunakan waktu itu mengeluarkan tampilan versi mobile, juga memberi fasilitas cepat posting melalui e-mail. Kalau dibandingkan dengan zaman sekarang sih mungkin masih belum praktis-praktis amat, tetapi untuk masa itu sudah sangat membantu.

 

 

Kini eranya smartphone, kegiatan blogging juga terfasilitasi menjadi lebih mudah. Beberapa fitur yang saya anggap harus ada dalam ponsel untuk bisa disebut mempermudah blogging di antaranya adalah:

      1. Layar yang lebih lega untuk kenyamanan membaca dan mengetik. Namun, tetap harus enak digenggam, tidak licin maupun terlalu berat ditenteng.
      2. Penerangan tambahan (flash light) untuk memotret, karena saya dan keluarga sering mengunjungi berbagai museum yang pencahayaannya minim, atau kadang-kadang datang ke event malam hari.
      3. Resolusi foto dan video yang prima hingga hasilnya cantik dipajang sebagai pendamping tulisan maupun muatan utama, misalnya dijadikan vlog. Klien atau penyelenggara kegiatan senang kan pastinya kalau foto atau tayangan yang kita posting mengundang ketertarikan pembaca. Untuk disimpan sendiri pun, maunya suatu peristiwa diabadikan semaksimal mungkin agar kian manis dikenang.
      4. Ketahanan baterai yang mumpuni supaya nggak keburu mati ketika harus meliput kegiatan yang berdurasi cukup lama atau kita sedang dalam perjalanan mudik misalnya (banyak lho hal baru yang bisa jadi sumber ide tulisan ketika sedang pulang kampung).
      5. RAM dan prosesor yang handal agar aktivitas pengguna tak dikit-dikit ngadat. Tentu harus disertai juga dengan manajemen ponsel yang bagus, ya, oleh pengguna sendiri.
      6. Memori lega supaya segala arsip dan aplikasi pendukung blogging (termasuk media sosial dan messenger) tersimpan dengan rapi.
      7. Kemampuan menangkap koneksi yang menyokong kecepatan pencarian informasi tambahan agar tulisan makin ‘kaya’ (juga mendukung postingan menang lomba live tweet, nih).
id-feature-galaxy-j5-2016-j510fn-59516890

Baterai tahan lama mendukung aktivitas sebagai blogger

Hasil baca sana-sini, semua kriteria itu ada di Samsung Galaxy J5 dan J7, lho. FYI, brand Samsung ini yang paling saya percaya untuk urusan ponsel. Dari zaman belum berkamera (lebih tepatnya saya nggak enak minta dibelikan yang berkamera), sampai berkamera (dibeli pakai rapelan gaji pertama), dan smartphone android saya, ya dari Samsung ini. Apalagi sekarang ada program Galaxy Gift Indonesia, ya, jadi pengguna bisa memperoleh berbagai pilihan hadiah menarik yang berbeda setiap harinya.

Samsung Galaxy J5 punya CPU Quad-Core dengan kecepatan 1.2GHz, jadi kalau ada adu cepat dan adu banyak postingan berbasis microblogging bakal nggak ada cerita lag kelamaan yang bikin kita tertinggal mencuitkan apa kata narasumber atau kehilangan objek foto menarik. Ada Signal Max yang menolong agar sinyal panggilan telepon bisa ditangkap maksimal. Baterainya berkapasitas 3100 mAh, jadi kita tidak dibikin ribet dengan kabel powerbank ketika kegiatan belum lama dimulai. Bisa lebih irit juga lho, dengan dukungan Ultra Data Saving yang mampu menghemat kuota data hingga 50% (berdasarkan tes lab Opera, untuk aplikasi-aplikasi tertentu). Pernah sulit membaca layar ponsel di tempat terang, misalnya saat kegiatan outdoor di mana matahari bersinar terik? Super Amoled Display Samsung Galaxy J5 membuat layar ponsel tetap jelas terlihat.

Perbendingan ukuran Samsung J5 dan Samsung J7

Perbendingan ukuran Samsung J5 dan Samsung J7

Kamera utama Samsung Galaxy J5 ini 13MP sedangkan kamera depannya 5MP, daaaann bukan hanya kamera belakang yang disertai dengan flash, ada front flash-nya juga! Flash di bagian depan ini perlu, soalnya wefie dengan pengisi acara atau tokoh yang ditemui hasilnya kan kurang oke kalau pencahayaan kebetulan sedang minim (not to mention kalau sewaktu-waktu ada kesempatan candle light dinner sama suami, ya :D). Dukungan 4G-nya juga memungkinkan untuk live report talk show, mengunggah jepretan narsis-narsis ria (meskipun blogger kelihatannya bekerja di balik layar tapi adakalanya pengin tampil, dong), maupun mengirimkan e-mail ke klien atau penyelenggara kontes dengan cepat.

id-feature-galaxy-j7-j700-sm-j700fzkdxid-55233472

Browsing website lebih cepat, bermain game,dan melihat video HD dengan mudah tanpa lagging dengan prosesor andal Galaxy J

Sedangkan Samsung Galaxy J7 menawarkan kecepatan yang lebih wow, dengan Octa-Core 1,5GHz. Sebagai produk seri J, tipe ini pun dipersenjatai dengan quick launch. Cukup tekan tombol home dua kali untuk bisa mengakses kamera dengan cepat. Momen penting seringnya tidak datang dua kali, kan? Sayang sekali kan kalau ekspresi lucu penampil di pentas hiburan, detik-detik terakhir menuju kemenangan lomba lari anak, atau penyerahan hadiah terlambat kita tangkap. Ukuran Samsung Galaxy J7 yaitu 5.5″ sedikit lebih besar dibandingkan dengan Galaxy J5 yang 5.2″. Tampilan layar yang dimiliki leluasa disimak tanpa meninggalkan aspek kenyamanan untuk digenggam. Spesifikasi lainnya mirip dengan Samsung Galaxy J5, misalnya memori internal yang sama-sama 16GB (expandable up to 128GB), RAM juga 2GB. Hanya saja baterai Samsung Galaxy J7 3300 mAH, bisa lebih lama bertahan tanpa perlu sedikit-sedikit diisi ulang.

id-feature-galaxy-j5-2016-j510fn-59516883

Kamera beresolusi tinggi yang mudah dioperasikan, fitur wajib untuk mendukung tampilan blog atau postingan di media sosial

Mengingat status saya sebagai ibu dua anak (yang satu baru saja menanggalkan titel balita), efisiensi waktu is a must. Blogging bagi saya termasuk salah satu me time yang menyenangkan (dan terkadang menghasilkan :)). Dengan adanya ponsel seperti Samsung Galaxy J5 dan J7, saya bisa menghemat banyak waktu hingga kepuasan menulis dapat, kebersamaan dengan anak pun dapat. Blogging semakin mudah dan fun. Tentunya ponsel ini juga bisa menjadi andalan saya ketika mendokumentasikan langkah demi langkah tumbuh kembang anak-anak, sekaligus menjembatani komunikasi dengan suami (ya, saya sedang LDR-an) dan orangtua yang tinggal berlainan kota.

 

Foto-foto ponsel dari web resmi Samsung Indonesia, foto Fathia di Istiqlal saya ambil menggunakan Samsung Galaxy Chat yang masih awet dipakai.

[Kliping] Seputar Puyer

Dari kliping yang saya posting sebagai materi Mabes TATC beberapa tahun yang lalu

[MABES TATC, Mari Belajar Sama-sama, Tambah ASI Tambah Cinta]
Pagi Bunda (dan Ayah juga), kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai puyer. Mengapa di TATC seringkali ada yang menyarankan lebih baik jangan pakai puyer? Penjelasannya bisa Bunda/Ayah temukan di sini :).
Menyikapi Obat Puyer
Definisi penggunaan obat yang rasional (Rational Use of Medicine / RUM) oleh WHO secara jelas mensyaratkan 5 poin yang harus dipenuhi dalam peresepan/penggunaan obat, yaitu:

1. Tepat pasien

2. Tepat indikasi

3. Tepat obat

4. Tepat cara pemberian obat, frekuensi, dan lama pemberian obat

5. Tepat biaya.

Sedangkan penggunaan obat yang tidak rasional (Irrational Use of Drug/IRUD) ditandai dengan ciri-ciri:

1. Tidak ada atau kecil kemungkinan untuk memberikan manfaat.

2. Kemungkinan efek samping lebih besar dari manfaat.

3. Biaya terapi tidak seimbang dengan manfaat yang diperoleh.

WHO mencatat Polifarmasi adalah salah satu bentuk penggunaan obat tidak rasional/IRUD yang paling sering terjadi. Polifarmasi adalah penggunaan obat lebih dari 3 jenis obat untuk satu pasien.
Puyer Pintu Gerbang Polifarmasi
Puyer adalah bentuk polifarmasi yang paling sering terjadi dalam peresepan obat-obat untuk pasien anak karena obat puyer biasanya mengandung 2 – 5 jenis obat. Obat puyer banyak diresepkan untuk terapi penyakit-penyakit yang umum diderita bayi dan anak seperti batuk pilek dan diare.
Beberapa alasan dokter menuliskan resep puyer:

1. Tidak ada produk obat jadi di pasaran yang komposisi obatnya seperti yang diinginkan. Ujung-ujungnya adalah praktek polifarmasi.

2. Menyesuaikan dosis dengan berat badan anak.

3. Terbatasnya produk tetes dan sirup yang diproduksi oleh pabrik obat.

4. Biaya terapi lebih murah.
Yang perlu dicermati dalam peresepan puyer adalah, apakah pasien bayi dan anak memang sungguh-sungguh memerlukan kombinasi obat yang dipuyerkan, yaitu  hingga 3 – 5 jenis obat, bahkan tak jarang hingga 7 obat? Tidak jarang dokter justru mencampur obat yang hanya diperlukan untuk mengurangi gejala (simpomatik) dengan obat yang menjadi penyebab penyakit (kausal). Padahal ada perbedaan signifikan dalam lama pemberian obat simptomatik dan obat kausal. Obat yang dipakai untuk meredakan gejala cukup diminum hingga gejala berkurang. Sedangkan obat untuk penyebab penyakit misalnya antibiotik harus diminum dalam jangka waktu tertentu (misalnya 3 – 5 hari atau hingga obat habis).
Misalnya untuk kasus batuk pilek pada anak, dokter mencampur dalam satu puyer, obat penyebab penyakit seperti antibiotik dengan beberapa obat pereda gejala seperti:

1. Parasetamol: antipiretik/untuk menurunkan demam

2. Pseudoefedrin: dekongestan/pelega hidung tersumbat

3. Gliseril guaiakolat (GG): ekspektoran, memudahkan pengeluaran dahak

4. Chlorpheniramine (CTM) : antialergi

5. Kortikosteroid: untuk mengurangi peradangan

6. Luminal: obat penenang.

Jika seluruh obat untuk atasi gejala tersebut dicampur dengan obat antibiotik, maka aturan pakai dan lama pemakaian obat akan mengikuti aturan pakai antibiotik, yaitu digunakan selama 3 – 5 hari. Padahal, belum tentu gejala batuk pilek yang dialami si bayi berlangsung hingga 3 – 5 hari. Apakah bayi akan terus menerus mengalami demam selama 3-5 hari sehingga harus terus meminum parasetamol? Belum tentu! Bagaimana jika demam hanya berlangsung di hari pertama sakit, tapi parasetamol masih terus diminum selama 5 hari ke depan karena kadung dicampur dengan antibiotik? Tentu saja bayi dan anak yang paling dirugikan karena harus meminum obat-obat yang tidak perlu. Memperberat kerja hati dan ginjal, meningkatkan insiden efek samping obat dan tentu saja pemborosan biaya terapi. Inilah yang akhirnya menyebabkan penggunaan puyer menjadi tidak rasional. Selain itu perlu juga dipertanyakan efektivitas penggunaan 3 – 5 jenis obat simptomatik. Apakah memang perlu seluruh gejala yang dirasakan anak diatasi dengan obat?
Cermati Kualitas Puyer

Dari segi kualitas, obat puyer juga punya banyak kelemahan di mana kualitas dan keamanannya tidak terjamin. Meskipun ada kaidah-kaidah yang harus ditaati dan dilakukan apotek dalam menyiapkan obat puyer, tetapi tetap saja tidak menjamin sepenuhnya kualitas dan keamanan obat puyer. Berbeda dengan obat buatan pabrik, produsen obat diwajibkan oleh pemerintah memenuhi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada setiap produk obat yang dijual. CPOB dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga proses quality control. Kondisi ruangan pun sangat terkontrol, baik kelembabannya, jumlah partikel, kebersihan, dll. CPOB menjamin obat layak dikonsumsi dari segi kualitas dan keamanannya.
Kekurangan obat puyer dari segi kualitas obat meliputi:

1.Rusaknya obat akibat proses penggerusan. Seringkali pemilihan obat yang akan dicampur dalam puyer tidak memperhatikan aspek sifat fisika kimia obat. Misalnya, meracik obat yang disalut, obat lepas lambat, obat yang tidak stabil atau obat yang sifatnya higroskopis (menyerap air). Padahal proses penyalutan obat dan teknologi lepas lambat, punya tujuan tertentu, misalnya obat disalut karena tidak stabil dalam udara, obat mengiritasi saluran cerna, dan lain sebagainya. Jika obat-obat yang disalut kemudian diracik, itu sama artinya dengan merusak kualitas obat itu sendiri. Padahal harga obat yang dibayar pasien sudah termasuk harga teknologi penyalutan obat. Tapi kualitas obat yang diterima pasien, tidak sesuai dengan harga yang dibayar.

2. Dapat terjadi interaksi akibat pencampuran obat secara fisik. Pencampuran obat secara fisik dalam mortar dapat menimbulkan interaksi kimia fisika dari masing-masing bahan obat, yang kemungkinan besar tidak disadari oleh dokter yang meresepkan maupun Apoteker dan Asisten Apoteker yang menyiapkan puyer karena minimnya pengetahuan mengenai bahan baku obat (yang memang bukan kompetensi mereka, melainkan kompetensi apoteker yang bekerja di pabrik obat).

3. Kontaminasi oleh obat lain. Mortar terbuat dari bahan yang memiliki pori, sehingga besar kemungkinan banyak bahan obat yang terjebak dalam pori-pori mortar. Meskipun mortar sering dicuci, tidak menjamin bahan obat lain yang terjebak dalam pori-pori mortar tidak ikut tercampur dengan obat puyer yang sedang disiapkan. Apalagi jika apotek hanya menggunakan satu – dua mortar untuk segala macam obat yang dibuat puyer dan tidak menyiapkan mortar khusus untuk obat-obat yang seharusnya tidak boleh dicampur pembuatannya dengan obat lain, seperti obat-obat antibiotik betalaktam dan produk hormon. Di pabrik, hal ini tidak akan terjadi karena CPOB mensyaratkan kedua obat tersebut dibuat di fasilitas produksi yang terpisah dengan fasilitas produksi obat golongan lain.

4. Tidak Homogen. Kemungkinan obat yang dicampur tidak homogen dapat saja terjadi terutama jika obat yang digerus seluruhnya berwarna putih. Obat yang tidak homogen sangat berpengaruh pada ketepatan dosis dan efek terapi yang diharapkan.

5. Stabilitas obat tidak dapat dijamin. Selain obat sudah rusak duluan akibat penggerusan, penyimpanan obat dalam kertas pembungkus juga tidak dapat menjamin sepenuhnya obat akan stabil selama penyimpanan. Karenanya, sebaiknya obat puyer tidak disimpan untuk dipakai lagi kemudian hari. Berbeda sekali dengan obat buatan pabrik. Di pabrik obat, obat jadi wajib memenuhi uji stabilitas selama 3 – 6 bulan sebelum obat dipasarkan. Uji stabilitas ini yang menjadi dasar penetapan umur obat (shelf life).

Dosis Puyer Lebih Tepat, Benarkah?

Meskipun dengan puyer, dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan anak, tapi ketepatan pemberian dosis melalui puyer sebenarnya juga patut dipertanyakan. Kok bisa? Yup, karena pada saat puyer hasil racikan akan dibagikan di kertas pembungkus, kenyataannya serbuk tidak ditimbang terlebih dahulu. Ketepatan pembagian obat puyer hanya berdasarkan evaluasi visual asisten apoteker. Belum lagi jika pencampuran obat tidak homogen yang membuat jumlah obat dan dosis dalam tiap bungkus puyer tidak sama.
Sumber: http://sobatobat.blogspot.com. Lebih lengkap bisa disimak di http://puyer.wordpress.com.
Tambahan catatan dari dokter anak saya:

****bila diresepkan puyer:****

1. tanyakan diagnosis pasti dan penyebab, bila infeksi virus tidak perlu diberi obat kecuali penurun panas jika perlu.

2. bila ternyata butuh obat misalkan antibiotik untuk infeksi bakteri dan butuh pula penurun panas, mintalah resep obat terpisah bukan dalam bentuk puyer. Bila terpaksa harus dalam sediaan puyer, mintalah puyer terpisah untuk setiap satu jenis obat.

3. selalu tanyakan obat yang diberikan, termasuk kandungan obat, nama generik, efek samping/reaksi obat, cara penggunaan dan penyimpanan.

4. jangan lupa untuk minta dibuatkan copy resep.

 

 

=================

Tentu ada yang kontra, ya. Alasan kepraktisan sering dikemukakan. Salah satunya datang dari seorang akwan yang anaknya berkebutuhan khusus, bentuk puyer menurutnya lebih mudah untuk diberikan ke anak apalagi kalau obatnya ada banyak jenis. Nah, biar ‘berimbang’ (walaupun saya lebih cenderung ke tulisan di atas untuk kehati-hatian yang beralasan), berikut tanggapan dari dokter lain saat pro kontra puyer mengemuka di tahun 2009 (karena dibuatkan laporan khususnya oleh RCTI waktu itu): http://news.okezone.com/read/2009/02/13/1/192600/perdebatan-soal-puyer-tidak-pada-substansinya. Salah satu yang disiratkan di situ adalah, kalau memang segitu berbahaya, ke mana WHO sebagai badan kesehatan dunia?

Ternyata pada tahun 2011 WHO mengeluarkan publikasi Indonesia Pharmaceuticals in Health Care Delivery – Mission Report 10 – 23 July 2011 yang dilaporkan oleh Kathleen A Holloway, Regional Advisor in Essential Drugs and Other Medicines, World Health Organization, Regional Office for South East Asia, New Delhi, dan puyer disebut-sebut di situ. Lengkapnya di sini http://www.searo.who.int/entity/medicines/indonesia_situational_analysis.pdf., sebagian saya kutip sebagai berikut:

Prescribing data from MOH in 2010 showed serious polypharmacy and high use of antibiotics. The consultant undertook a rapid prescription survey and also found polypharmacy and high use of antibiotics, vitamins and steroids. At the primary care level most drugs were prescribed by generic name and belonged to the EML, but in hospitals and the private sector few drugs belonged to the EML and most were prescribed by brand name. Puyer is a common unsafe practice observed in all facilities, where different drugs are mixed together, pulverized and then the powder divided into separate doses by eye. There are national standard treatment guidelines for puskesmas (PHCs) but they are not used much by doctors. All hospitals are mandated to have a Drug & Therapeutics Committee, but most of them function poorly and are only involved in development and printing of the hospital formulary.
Continuing medical education (CME) is adhoc mainly consisting of lectures arranged by the local medical association and sponsored by the pharmaceutical industry. The medical council has introduced a CME credit system in which 250 points are needed every 5 years for relicensing but points can be gained without learning anything about prescribing. The Directorate of Pharmaceutical Services undertakes prescription monitoring in the puskesmas, training of pharmacists in good pharmaceutical care and a community empowerment program. However, there appears to be no active program to promote rational use of medicines targeted at doctors, who are the main
perpetrators of irrational prescriptions.

……

The practice of puyer is where 2 or more (often 5-10) different prescribed drugs (the number of tablets varying according to the number of drugs and the amount of each drug prescribed), are pulverized together into a powder and then allocated into a number of doses, packaged separately, by eye. This practice was observed in all facilities. Sometimes a pestle and mortar was used and sometimes a food mixer. The food mixer was wiped with a dry cloth between making different puyers in one puskesmas. Irrational fixed-dose combination products were also frequently used.
Box 1 shows examples of puyers and irrational fixed-dose combination products that were observed to be used.
None of the prescribing doctors met in the puskesmas or district hospitals felt that puyer was unsafe or ineffective. None seemed to know of the effort made by manufacturing companies to ensure bioavailability of fixed-dose combination products or that puyer ignores good manufacturing practices. In addition, many irrational fixed-dose combination products on the market were highly popular. All the prescribing observed was done by doctors. However, it was mentioned by the MOH that in remote parts of Indonesia, prescribing is done by paramedical staff and nurses.

 

Itu data tahun 2011 ya, sementara belum nemu yang lebih baru. Tapi yang jelas, praktik puyer ini masih jalan hingga saat ini di kota besar, baru saja saya baca seorang teman yang tinggal di Jakarta bilang bahwa dokter anak-anaknya selalu meresepkan puyer untuk penyakit common problems. Saya pun bukan tak pernah dikasih puyer untuk anak, hanya saja sebetulnya di resep tidak ada instruksi untuk menghaluskan (karena dokter yang meresepkan jelas-jelas aktif berkampanye tolak puyer pada masanya), apoteker di apoteknya saja yang berinisiatif membuatnya jadi puyer (+gula tentunya) karena tahu ini untuk anak-anak.

Materi Kelas Matrikulasi IIP Batch 2 Sesi V: Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Materi Matrikulasi IIP Batch #2 Sesi #5 (15 November 2016)

📝BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,

Bagaimana, sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? Kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang yang senang belajar dan ada yang tidak suka belajar?

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.

Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan.

Continue reading

Belajar Merawat Pernikahan dari Ummu Balqis

dscn1674Siang tadi saya mengikuti talkshow bertajuk Rawatlah Pernikahanmu yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Muslimah Setjen Kemenkeu. Pembicaranya adalah Ummu Balqis, pemilik akun instagram @ummubalqis.blog dan @babyhijaber, pendiri sekaligus creative director brand @byummubalqis, juga inisiator Jabodetabek Muslimahpreneur dan founder Dunia Dongeng Anak. Saya tak mengikuti dari awal, sih, hanya kebagian sesi tanya-jawab saja dengan perempuan lulusan FMIPA ITB dan LaSalle Fashion College ini. Namun, dari kesempatan yang terbatas itu saya tetap bisa belajar dan mengambil hikmah melalui pertanyaan-pertanyaan peserta (yang terasa dekat sekali dengan kehidupan saya sendiri sehari-hari) dan jawaban dari pemilik nama asli Ernie Susilowati yang juga mommy dua anak ini.

  1. Perempuan baiknya di rumah, terasa bahwa memang harusnya akan lebih maksimal merawat pernikahan termasuk anak-anak kalau tidak bekerja di sektor publik, tetapi bagaimana dengan keluarga (orangtua) yang sepertinya tidak akan setuju jika keluar dari pekerjaan?

Jawaban: Yang penting suami men-support, termasuk mendukung jika istri memang mau resign. Sementara itu, tunjukkan bakti (misalnya dengan waktu yang lebih fleksibel bisa lebih banyak membantu orangtua) dan buktikan ketika kita tidak memiliki peran ekonomi tetapi bisa tetap berkarya, walaupun tidak melulu berupa menghasilkan uang.
Curhatlah ke ortu kita, anak zaman sekarang dengan kemajuan gadget harus lebih diupayakan kontrol dari ortunya, jadi dengan di rumah bisa lebih memantau. Contoh yang sudah dijalankan oleh Ummu Balqis sendiri yaitu dengan kalimat seperti ini: “Ma, aku kan pendidik, kerja dari jam 10 sampai jam 8 ngajarin orang-orang, anak malah jarang ketemu. Takutnya, ngajarin anak orang sampai hebat tapi anak aku sendiri nggak hebat gimana?”.

Sounding dulu sejak 6 bulan sebelumnya, jangan tiba-tiba. Dari cerita bertahap ini akhirnya akan menyebut solusinya, “Kayaknya resign aja, ya, Ma…”. Jadi jangan mendadak, awali dengan curhat. Bukan berarti nyuruh resign ya, karena kemampuan orang beda-beda. Kalau bisa berperan maksimal dengan status ibu bekerja, bagus juga.

Continue reading