Alif dan Raisa

Beberapa waktu yang lalu ketika akan membeli map di Gramedia Pasar Baru mata saya tertumbuk pada setumpuk buku di meja pajang Buku Baru. Judul-judulnya familiar, tetapi penampilannya sama sekali berbeda. Wah, ternyata tetralogi fashion Syahmedi Dean dikemas ulang dengan sampul baru!

Judulnya yang semula panjang-panjang (walaupun tertulis juga singkatannya) juga mendapatkan subjudul baru, atau justru judul lama itu yang dijadikan subjudul ya? Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion (L.S.D.L.F.) menjadi Ednastoria, Jakarta Paris via French Kiss (J.P.V.F.K) jadi J’Adore, Pengantin Gypsy dan Penipu Cinta (P.G.D.P.C.) dilabeli Bohemia, dan Apa Maksud Setuang Air Teh (A.M.S.A.T.) punya judul lain Monsoon. Ada pula paketan box set-nya, yang terkesan lebih lux untuk dikoleksi.

Saya pertama kali berkenalan dengan seri novel ini ketika sedang bertugas di Tanjung Pandan, Pulau Belitung, tahun 2007. Saat itu saya menjadi pelanggan tetap persewaan buku di samping kantor. Setidaknya sepekan dua kali saya mampir untuk mengembalikan dan meminjam buku. Kalau tidak salah ingat sih, saya bacanya tidak berurutan dari buku pertama.

Gaya penulisan novel-novel ini yang dinamis (deskriptif, tapi tidak membosankan), juga penggambaran glamornya dunia fashion (tanpa terlihat maksa maupun sok) tetapi dengan tokoh utama yang tetap memegang nilai-nilai agama (setidaknya berusaha, dan tidak memandang sebelah mata aturan agama yang mengikat) adalah nilai plus buku ini yang memikat hati saya.

Maka tak puas hanya menyewa, ketika salah satu toko buku online langganan saya menawarkan ketiga bukunya (waktu itu seri keempat belum keluar) dengan harga miring, saya pun segera memesan. Saya pun tak sabar menunggu terbitnya A.M.S.A.T. yang baru terbit beberapa tahun setelah saya pindah dari Tanjung Pandan.

boxset Syahmedi Dean100_3732

Mengingat tetralogi ini artinya juga mengingat pemikiran yang sempat terlintas di benak saya pada suatu waktu. Dua di antara tokoh sentral dalam tetralogi fashion bernama Alif dan Raisa. Sama, ya, dengan trilogi Man Jadda Wajada karya Ahmad Fuadi? Kebetulan saya juga baru menuntaskan Rantau 1 Muara bulan Syawal kemarin, ngebut baca dalam semalam demi bisa ditinggal di kampung halaman karena Mama saya belum membacanya.

—-spoiler alert—

Dalam kedua seri buku ini, tokoh Alif dan Raisa sama-sama diceritakan (sempat) dekat. Di tetralogi Syahmedi Dean, Raisa dikisahkan memendam sayang ke Alif, rekan kerjanya di majalah yang kemudian menjadi teman se-geng. Sementara hati Alif sudah dipenuhi oleh Saidah. Alif menerima perhatian dari Raisa, tapi menganggapnya tak lebih dari sahabat atau lebih tepatnya adik yang harus dijaga.

Sedangkan di trilogi Ahmad Fuadi, Alif-lah yang sempat punya asa bersanding dengan Raisa, si gadis cerdas dan dinamis yang dikenalnya di kampus. Sayangnya Raisa ternyata lebih memilih sahabat lama Alif, Randai. Jadilah kedua Alif-Raisa ini sama-sama tak berjodoh di akhir cerita, tapi hubungan baik antara mereka dikisahkan tetap terjaga.

Sepertinya sih hanya kebetulan, ya. Namun, menarik juga.

[Ulasan Buku] Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

I'm (Not) Perfect

I’m (Not) Perfect

Judul buku ini langsung menarik perhatian saya. I’m (Not) Perfect: Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia. Mengingat gaya tulisan Cici Dian Kristiani di Buying Office Girl, kemungkinan buku ini juga ditulis dengan lincah dan kocak, seperti dituliskan di sampul depannya, 1001 curhat seru nan kocak tentang mengapa perempuan harus lebih mencintai diri sendiri dan menghargai orang lain. Kenapa saya bilang menarik? Karena belakangan saya memang sedang memikirkan banyaknya tuntutan bagi perempuan, khususnya yang sudah menjadi ibu, untuk (terlihat) sempurna. Peer pressure-nya menurut saya lebih tinggi karena tolok ukur ‘kesuksesan’ bertambah banyak, dari kurus gemuknya anak sampai SPP sekolah anak.

Membaca lembar demi lembar buku setebal 153+xi halaman ini rasanya sungguh gado-gado. Ada kalanya saya manggut-manggut, tetapi ada pula bagian yang membuat saya mengerutkan kening. Dalam buku yang terdiri atas 28 tulisan pendek ini, Cici Dian berbagi mengenai hal-hal yang memicu munculnya bisik-bisik sinis atau pandangan sebelah mata. Ada yang merupakan pengalaman pribadinya, ada juga yang bersumber dari curhatan teman. Sebut saja melahirkan dengan operasi sectio caesarean, penggunaan susu formula, pemberian jajanan ‘sembarangan’ untuk anak, status sebagai single parent, pengenaan hukuman fisik pada anak, ketergantungan terhadap pengasuh anak, konsumsi rokok, status keperawanan (lebih tepatnya ketidakperawanan), pilihan untuk bekerja di luar rumah, ukuran tubuh, belum hadirnya buah hati, keterampilan memasak, hingga obsesi terkait kecerdasan anak.

Nah, begitu banyaknya segi kehidupan seorang manusia, lebih khususnya lagi seorang perempuan, sungguh mustahil bisa sempurna di semua bidang, kan? Dan ketika kita punya sisi-sisi kurang baik, apa yang harus kita lakukan?

“Berterus terang sajalah. Tak usah pedulikan apa kata orang tentang diri kita. Meladeni tanggapan orang lain tak akan ada habisnya,” demikian kata cici Dian di pengantar buku. Di sisi lain, meskipun konteksnya sedikit berbeda, “Memiliki hidup lebih baik itu mutlak, berusaha itu  penting.” (halaman 3). Kesimpulan saya, sih, kita tidak perlu memasukkan semua omongan orang ke dalam hati apalagi menjadikannya sebagai beban, kendati yang namanya introspeksi untuk perbaikan diri itu juga perlu.

Be yourself... Itu bukan berarti aku tak mau mengubah sikapku menjadi lebih baik,” tegas cici Dian di halaman 103. Nah, terus terang di bagian ini saya agak bingung. Sebatas apakah kita harus menutupi kekurangan atau malah membuka terang-terangan (kadang dengan rasa bangga karena telah berani ‘beda’)?

Continue reading

Tontonan di Bulan Desember

Dulu ketika kami masih bertugas di Pangkalpinang, kami jelas tidak bisa nonton film di bioskop karena bioskopnya memang tidak ada. Paling-paling kami nonton kalau kebetulan sedang mudik ke Solo dan ada film menarik. Pada dasarnya kami memang tidak terlalu ‘gila’ film, ada yang bagus dan sempat ya ditonton, kalau nggak ya nggak ngoyo juga (beda, ya, sama zaman masih gadis dulu :D) . Malah karena selera yang agak berbeda, kadang-kadang saya ‘menyeret’ adik untuk menemani nonton di kampung halaman.

Setelah pindah ke Jakarta, di mana bioskop bertebaran, ternyata kami tetap saja sulit meluangkan waktu ke bioskop. Pekerjaan dan terutama berharganya waktu bersama putri kami (karena kami pindah hampir bersamaan dengan perubahan status menjadi orangtua) menjadi alasan. Boro-boro nonton, mengikuti perkembangan film terbaru seperti dulu saja rasanya saya sudah tidak sanggup. Tercatat baru dua kali kami nonton berdua sejak punya anak. Film yang kami tonton adalah Hafalan Sholat Delisa (2011) dan Habibie & Ainun (2012).

Uniknya, justru di bulan Desember di mana pekerjaan kantor lagi sibuk-sibuknya (terutama kantor saya, yang di hari libur pun jadi sering masuk) itulah kami bisa nonton. Entah karena perasaan kepengin jeda sejenak dari rutinitas, atau kebetulan saja ada film yang bikin penasaran. Hal lain yang baru saya sadari belakangan, kedua film tersebut sama-sama dibintangi oleh Reza Rahadian. Bukan, saya bukan fans Reza walau kagum juga akan aktingnya. Murni film atau cerita di balik filmnyalah yang bikin saya mengajak suami nonton. Begitu saya ‘ngeh’ akan persamaan ini, saya langsung mencari tahu Reza Rahadian main film apa akhir tahun 2013. Nah, mungkinkah kami akan nonton Tenggelamnya Kapal van der Wijck Desember nanti? Sepertinya saya harus buru-buru menuntaskan baca bukunya dulu. Payah, ya, saya mengaku pecinta buku tapi belum pernah baca karya Buya HAMKA yang satu ini.

Tenggelamnya3

Kurva Pertumbuhan

Waduh, anak saya kok kurus banget, ya?

Bb bayi saya nambahnya cuma dikit, nih :-(.

Dibandingkan sama sepupunya yang seusia, kok anak saya kayaknya kurang tinggi, ya?

Pertanayaan-pertanyaan di atas seringkali menghantui orangtua, khususnya para ibu. Sebagai orang yang sehari-hari mengasuh dan merawat bayi/anak, ibu biasanya jadi merasa khawatir, adakah sesuatu yang salah? Apakah makanan yang diberikan kurang memenuhi kebutuhannya?

Jangan-jangan perlu suplemen tambahan? Apakah mungkin ada penyakit atau gangguan kesehatan yang menghambat pertumbuhan anak? Ada yang panik, tetapi ada juga yang ‘menyangkal’, percaya bahwa yang penting anaknya (terlihat) sehat dan aktif.

Sebelum loncat ke pencarian penyebab, apalagi langsung cari solusi, ada baiknya cek dulu. Benarkah ukuran tubuh anak memang sudah berada dalam tahap perlu perhatian? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini tentu diperlukan suatu standar. Bayi tetangga, keponakan, anak pak RW walau usianya sama tetapi belum cukup memadai untuk dijadikan pembanding.

Diperlukan sampel yang jauh lebih banyak untuk menghasilkan standar yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Salah satu standar yang dipakai secara luas adalah kurva pertumbuhan alias growth chart.

Ada lebih dari satu versi growth chart, dan versi yang lebih disarankan untuk dipakai adalah versi WHO (terakhir versi 2006). Mengapa? Karena versi lain seperti keluaran Centers for Disease Control and Prevention (CDC, bagian dari Kementerian Kesehatan Amerika Serikat) yang dibuat tahun 2000 misalnya, didasarkan pada bayi ras kaukasian dan banyak di antaranya memakai susu formula.

Continue reading

Let-Down Reflex

Kali ini saya ingin bercerita sedikit mengenai LDR. Bukan long distance relationship lho ya, melainkan let-down reflex atau istilah lainnya milk ejection reflex (MER).

Pernah nggak Bunda-bunda ketika sedang menyusui atau memompa/memerah ASI, sedang merasa bahagia, sedang teringat akan si buah hati yang lagi jauh, atau kadang-kadang tanpa penyebab yang jelas, kemudian kedua payudara terasa mengencang diikuti dengan merembesnya ASI keluar, bahkan kadang sampai mancur-mancur? Nah, inilah yang dinamakan dengan let-down reflex.

Yang berperan dalam terjadinya LDR ini adalah hormon oksitosin. Biasanya, LDR mulai dialami pada hari pertama hingga kelima setelah kelahiran bayi. Isapan bayi adalah salah satu hal paling ampuh untuk mendatangkan LDR. Perhatikan nggak kalau di awal biasanya bayi mengisap dengan ritme cepat-pendek, lalu setelah LDR berubah menjadi lebih lambat dan panjang?

Continue reading

Permenkes tentang Fasilitas Menyusui/Memerah ASI

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 15 TAHUN 2013

TENTANG

TATA CARA PENYEDIAAN FASILITAS KHUSUS MENYUSUI DAN/ATAU MEMERAH AIR SUSU IBU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 30 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu;

Mengingat :

1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);

2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5291);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI KESEHATANTENTANG TATA CARA PENYEDIAAN FASILITAS KHUSUS MENYUSUI DAN/ATAU MEMERAH AIR SUSU IBU.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Air Susu Ibu yang selanjutnya disingkat ASI adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu.

2. Air Susu Ibu Eksklusif yang selanjutnya disebut ASI Eksklusif adalah  ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.

3. Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah ASI yang selanjutnya disebut dengan Ruang ASI adalah ruangan yang dilengkapi dengan prasarana menyusui dan memerah ASI yang digunakan untuk menyusui bayi, memerah ASI, menyimpan ASI perah, dan/atau konseling menyusui/ASI.

Continue reading

Belanja Praktis di Bulan Ramadhan

Ramadhan, seperti kita ketahui bersama, adalah bulan yang dilimpahi berkah. Mengingat pahala amalan di bulan ini akan dilipatgandakan, rasanya tiap detik ingin kita isi dengan berbuat kebaikan. Memperbanyak shalat sunnah, mengintensifkan mengaji atau tilawah, menambah sedekah, adalah beberapa hal yang bisa kita kalukan untuk mengisi bulan penuh rahmat.

Di sisi lain, Ramadhan juga biasanya identik dengan peningkatan kebutuhan. Ada yang membeli perangkat shalat baru guna meningkatkan kenyamanan beribadah, gadget baru dengan tujuan mempermudah mengaji di mana saja, peralatan masak baru untuk mendukung masak praktis di kala sahur atau buka, aneka makanan yang lebih variatif ketimbang biasanya demi menyemangati anak-anak ikut berpuasa, baju baru untuk lebaran kelak dan seterusnya.

Sebetulnya jika diingat kembali, salah satu esensi puasa adalah menahan nafsu. Jadi, ada baiknya keinginan untuk berbelanja tetap diimbangi dengan pertimbangan kemampuan dan kebutuhan.

Asyiknya berbelanja juga terkadang menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang di bulan Ramadhan. Tentu tak salah jika tujuannya untuk membeli barang yang memang diperlukan, seperti keperluan mudik, penunjang ibadah, kebutuhan keluarga, atau berburu isi paket untuk program santunan Ramadhan. Menyisir satu demi satu jajaran etalase toko atau deretan kios di pasar menjadi kesenangan sekaligus juga tantangan. Kenapa tantangan? Karena berjalan cukup jauh di bulan Ramadhan berpotensi memancing datangnya rasa lapar dan haus.

Belum lagi jika terpaksa bersitegang dengan penjual atau pembeli lain demi mendapatkan harga murah. Sedangkan waktu yang dihabiskan (kadang-kadang seharian penuh) sebetulnya bisa lebih bermanfaat untuk melantunkan ayat-ayat suci, tenaga yang dikeluarkan barangkali bisa dialokasikan ke memasak variasi menu berbuka yang lebih menarik untuk anak-anak.

Salah satu alternatif menarik yang bisa dilirik sebagai solusi belanja cepat, mudah, dan hemat adalah belanja melalui internet. Tak perlu berpanas-panas ria, melangkahkan kaki berkeliling, dan memilah-milah barang secara manual. Bisnis online di Indonesia semakin berkembang dengan banyak pilihan, tapi masih banyak pula yang ragu akan keamanan dan kualitas barangnya. Menjawab tantangan itu, mulai tahun lalu, Lazada (http://www.lazada.co.id/) hadir di Indonesia sebagai situs belanja tepercaya yang menjanjikan kemudahan bagi penggunanya.

lazada

Lazada menawarkan banyak kategori barang mulai dari ponsel, komputer, kamera, peralatan elektronik, perlengkapan rumah tangga, pernak-pernik bayi, alat musik, olahraga, dan otomotif, produk kecantikan, sampai fashion. Semua produk yang dijual digolongkan dengan rapi sehingga mempermudah pencarian (termasuk adanya berbagai filter untuk mempersempit pencarian), juga dilengkapi dengan deskripsi produk dan foto yang bisa di-zoom dari berbagai sisi untuk bahan pertimbangan calon pembeli.

Untuk membayar, tersedia berbagai pilihan mulai dari transfer bank, kartu kredit, hingga bayar di tempat. Bagi pengguna Android, Lazada menyediakan juga aplikasi yang enteng dibuka dan mudah digunakan untuk berbelanja atau sekadar melihat-lihat sebelum memutuskan.

Ramadhan ini, saya sudah mencoba layanan belanja Lazada. Saya ingin membeli kamera baru untuk menggantikan kamera terdahulu yang sudah saya pakai selama tujuh tahun. Momen lebaran dan perkembangan putri kecil saya rasanya cukup jadi alasan bagi saya untuk memesan kamera poket yang spesifikasinya lebih baik.

Walau tak kebagian promo bonus-bonus menarik di Lazada yang stoknya sudah keburu habis, tapi saya masih bisa menikmati potongan harga yang lumayan melalui voucher hasil kerja sama Lazada dengan provider kartu ponsel saya. Biaya pengirimannya pun gratis. Ya, Lazada memang sering melakukan promo-promo menarik berupa potongan harga atau bonus yang sayang jika dilewatkan.

Hal lain yang membuat saya takjub adalah kecepatan pengiriman. Walau dikatakan akan dikirim dalam 3-4 hari, tapi nyatanya kamera pesanan saya sudah saya terima sehari setelah transfer! Sepanjang pengalaman saya berbelanja di toko online besar, baru kali ini pesanan saya terima secepat itu.

Pusingnya Mengelola Grup di Media Sosial

Ini salah satu tugas yang diberikan pada Workshop Jurnalistik yang saya ikuti pada tanggal 24 s.d. 28 Juni 2013 lalu. Peserta diminta membuat tulisan feature berdasarkan wawancara dengan teman yang duduk di sebelahnya. Jadilah saya wawancara Mbak Syari, kebetulan waktu itu kami lagi sama-sama geregetan mikirin salah satu grup kesayangan kami di facebook :).

tatc2

Pusingnya Mengelola Grup di Media Sosial

Rambut boleh sama hitam, isi kepala siapa yang tahu. Peribahasa ini tampaknya cocok untuk menggambarkan perbedaan pendapat antarmanusia. Di era kebebasan seperti sekarang, orang semakin leluasa mengungkapkan isi kepalanya, banyak yang tak takut lagi dianggap aneh atau dimusuhi. Media internet turut memberi ruang bagi kebebasan berpendapat ini. Namun, seberapa jauh para penggunanya benar-benar bisa bertoleransi terhadap pendapat orang lain yang bertolak belakang?

Continue reading

Menjadi Ibu Bisa Meningkatkan Nilai TOEFL-mu

Mei lalu, saya berkesempatan mengikuti Test of English as a Foreign Language (TOEFL) Preparation Course yang diadakan oleh Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (LBI FIB UI). Waktu dapat informasi bahwa saya termasuk peserta yang dipanggil untuk kursus dan nantinya bisa mengikuti tes dengan biaya dari instansi, rasanya senang sekali.

Saya sebetulnya memang senang belajar bahasa, walaupun semangat itu masih sering dikalahkan oleh kemalasan dengan dalih minim sarana. Beberapa tahun yang lalu sempat ada tawaran diklat serupa, tapi kami yang saat itu masih bertugas di Pangkalpinang tidak mendaftar karena sedang ujian di kampus. Jadi begitu baca surat panggilan kursus ini, seperti mimpi jadi nyata.

Belajar sesuatu yang disukai, gratis (dapat uang saku malah), tak mengambil waktu bersama keluarga (karena kursus dilaksanakan di jam kerja), tidak perlu berjauhan dengan Fathia (mikir-mikir juga seandainya kantor saya di kota lain dan harus meninggalkan Fathia 2 minggu), juga bisa ambil jeda sebentar dari kesibukan kantor (memang saya ini bukan pegawai teladan :p).

Continue reading

Hari Tanpa Ponsel

Pagi tadi saya mendapati telepon seluler yang biasa saya pakai mati total. Padahal malam sebelumnya ponsel keluaran Korea ini masih bisa saya gunakan dengan baik. Terus terang, reaksi pertama saya adalah panik. Bagaimana tidak, ponsel rasanya sudah menjadi kebutuhan hidup. Komunikasi dengan suami, orangtua, pengasuh anak, rekan-rekan kantor, teman-teman lama, tetangga dijalin lewat situ. Ada ide tulisan, coret-coretnya di notes atau aplikasi Writer. Catat daftar belanjaan juga di notes ponsel. Butuh informasi mengenai sesuatu, tanya sama mbah google pakai ponsel. Mau mengabadikan momen-momen istimewa, lebih sering pakai ponsel yang gampang diambil. Baca ayat suci di perjalanan, biarpun kecil-kecil hurufnya tapi ponsel tampak lebih praktis dibawa ke mana-mana. Saya juga sudah lama tidak memakai jam tangan dan mengandalkan ponsel ketika perlu penunjuk waktu.

Di sisi lain harus diakui juga ponsel punya dampak negatif dalam kehidupan sosial saya. Saya memang jadi ‘gaul’ di dunia maya, ikut grup ini-itu, tak ketinggalan berita terbaru. Tapi saya juga jadi abai dengan sekitar. Karena terbiasa terpaku mengamati layar segiempat mungil itu, saya sering luput memerhatikan apa yang terjadi di sekitar saya. Melewatkan rincian obrolan teman-teman, tak menyimak sepenuhnya ocehan putri saya, tidak melihat peristiwa-peristiwa unik yang bisa jadi bahan tulisan. Bahkan ponsel dengan sukses membuat saya mengacuhkan buku-buku yang sebelumnya setia menemani di waktu-waktu luang. Memang sih, sama-sama baca. Namun, tetap saja beda ya antara baca novel tebal atau buku pengasuhan anak dengan baca berita singkat atau jurnal online (kayak yang sering baca jurnal aja :D).

Yah, ini sepertinya teguran juga buat saya. Tapi saya tetap berharap ponsel yang saya beli Januari lalu (baru setengah tahun, kan… sementara ponsel-ponsel saya sebelumnya baru bermasalah setelah hitungan tahun, dan beli baru karena biaya perbaikannya tidak sebanding) ini dapat segera dipakai lagi. Soalnya ada beberapa transaksi jual-beli yang masih menggantung. Terlalu lama tidak menjawab bisa bikin calon pembeli potensial kabur. Sebaliknya, konon katanya beberapa penjual di internet zaman sekarang galak-galak: telat respon bisa dianggap hit and run. Mending kalau cuma diomeli dalam hati, dikeluhkan di status, atau bahkan dicoret dari daftar pelanggan. Kalau dimasukkan ke daftar hitam di grup-grup penjual online itu gimana, huhuhu…. Semoga nanti sempat untuk meminjam ponsel suami atau buka netbook guna menindaklanjuti pesanan-pesanan tersebut. Tadi kami sudah ke pusat layanan di Roxy dan ponsel saya ternyata harus ditinggal di sana. Karena ternyata ada suku cadang terkait IC power yang perlu diganti, sementara suku cadang dimaksud saat ini sedang tidak tersedia.