Belajar Bijak Memuji Buah Hati dari Adhitya Mulya

Bulan ini, mumpung ada waktu, saya kembali mengikuti kegiatan #TUMNgopiCantik. Masih mengambil tempat di fx Sudirman, pada tanggal 4 Maret ini yang diundang adalah kang Adhitya Mulya, penulis yang juga suami dari founder The Urban Mama teh Ninit Yunita. Sebelumnya saya juga sudah pernah mengikuti acara The Urban Mama di mana kang Adhit didaulat mengisi, tapi kali itu yang disajikan lebih spesifik ke helicopter parenting.

Continue reading

Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak

🍯🧀Cemilan Rabu #1🧀🍯
Materi 2: Melatih Kemandirian Anak
Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak
Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian. “Yes, I can!” Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.
Orangtua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orangtua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.
Namun realita yang ada, orangtua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak. Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, oran tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.
Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orangtua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.
Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.
Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:
1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.
Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun ia akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.
Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Continue reading

Cinta Sebening Embun, Pengingat untuk Berbakti pada Orangtua

Mengisi waktu minggu pagi, kami sekeluarga mengikuti kajian @pejuangsubuhid yang kali ini mengambil tema Cinta Sebening Embun. Dalam publikasinya, kajian yang diselenggarakan di aula kantor pusat Rabbani Jl. Pemuda Rawamangun ini disebutkan akan menekankan bahasan cinta kepada orangtua. Pembicara pertama adalah Hudzaifah Muhibullah, putra ustadz Taufik Ridho (Allahu yarham) yang menjadi salah satu contoh birrul walidain atau bakti kepada orangtua terkini. Mungkin sudah pada baca ya, cerita beliau yang hendak mendonorkan hati ke ayahanda tercinta, sepotong kisahnya sempat viral dan kisah lengkapnya antara lain bisa dibaca di sini http://www.portal-islam.id/2017/02/penuturan-seorang-bibi-12-jam-bersama.html?m=1.

Menurut Hudzaifah, kalau ditanya kenapa bisa begitu tegar dan kuat sewaktu mantap mengambil keputusan mendonorkan sebagian hati, kemudian juga ketika menerima kabar bahwa ternyata ayahnya berpulang terlebih dahulu sebelum hati sempat berpindah, ia juga tidak bisa berbagi tipsnya. Ujian tiap orang, katanya, berbeda. Doa dan perbuatan baik yang pernah dilakukan oleh seseorang sebelumnya bisa menjadi penguat diri dalam menghadapi ujian yang datang.

Continue reading

Kontroversi Buku Aku Berani Tidur Sendiri

Pekan lalu beberapa grup whatsapp yang saya ikuti, khususnya yang beranggotakan para ibu, diramaikan dengan kabar adanya buku anak yang kontennya tidak pantas karena justru seperti mengajarkan anak untuk bermain-main dengan kelaminnya, atau masturbasi. Sekilas lihat, sampul buku tersebut familiar bagi saya, dan memang ternyata dari penerbit dan penulis yang tidak asing: Tiga Ananda (imprint penerbit Tiga Serangkai, Solo, yang dulunya kebih saya kenal sebagai penerbit buku pelajaran, apalagi saya memang lahir dan besar di kota dekat Solo sehingga banyak memakai buku terbitannya) dan mba Fita Chakra (nama aslinya adalah mba Fitria Chakrawati, tulisan saya dan mba Fita pernah dimuat dalam satu buku yang sama yaitu Long Distance Love).

Penerbit sebesar Tiga Ananda, penulis sekaliber mba Fita, mestinya sudah mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan sebuah buku layak terbit. Memangnya sseperti apa sih, isinya? Jujur, saya juga punya buku Aku Berani Tidur Sendiri di rumah, tapi masih terbungkus rapi dan tersimpan di tumpukan buku yang harus saya saring dulu sebelum diberikan ke anak-anak. Dan karena keterbatasan waktu, saya belum sempat membukanya. Begitu membaca tulisan dalam foto yang viral beredar, saya mengerutkan dahi. Memang cenderung vulgar, ya. Tapi kalau sampai menduga-duga motif negatif mba Fita menulis ini, saya tak berani. Sedih saya membaca hujatan orang-orang di media sosial yang menghujat penerbit dan penulis yang dianggap sengaja agar anak meniru jalan cerita dalam buku, bahkan lebih jauh lagi punya misi menghancurkan generasi muda. Beberapa di antaranya dirangkum dalam berita BBC ini http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39038005. Ada teman-teman penulis yang juga membuat postingan tanggapan dengan sudut pandang masing-masing.

Continue reading

[Kliping] Seputar Radang Tenggorokan dari dr. Apin

Mumpung ada waktu, bikin kliping deh dari status-status dr. Arifianto, Sp.A., alias dr. Apin seputar radang tenggorokan. Radang tenggorokan ini bisa dibilang diagnosis yang cukup umum diberikan, termasuk ketika sedang batuk pilek dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Dulu, saya juga termasuk yang menerima saran “kalau tenggorokan sudah mulai gak enak, itu tandanya sudah saatnya minum antibiotik, sebelum menjadi-jadi”. Termasuk isap-isap FG Troches, tablet pink berlubang di tengah yang ternyata mengandung antibiotik juga.

Setelah kenal Milis Sehat sekitar 9 tahun yang lalu, pelan-pelan saya mulai paham. Meskipun, kadang kalau lagi berasa ‘menderita banget’ seperti ketika sakit tenggorokan di masa awal-awal pindah ke Jakarta dan menelan air putih pun sampai berjengit kemudian dokter keluarga kami tetap tidak memberikan resep antibiotik, kadang rasanya pengin nangis menahan nyeri, hehehe. Tapi, ya itu kan memang prosedurnya ya. Kalau tidak terbukti radang tenggorokan karena bakteri, buat apa dikasih antibiotik? Nanti malah membasmi bakteri baik di dalam tubuh kita.

Untuk membedakan radang tenggorokan karena bakteri atau virus, bisa gunakan Centor score yang juga dijelaskan dr. Apin di bawah, atau lebih lengkapnya ada di web Sehat dengan alamat http://milissehatyop.org/strep-throat-infeksi-tenggorokan-oleh-streptococcus-group-a/. Idealnya sih pakai uji usap tenggorok, tapi saya coba tanya lewat e-mail ke Prodia dulu, ternyata biaya tesnya amat mahal. Kultur swab tenggorokan harus bayar Rp477.500, itu tahun 2013 ya.

Siapa yang anaknya pernah didiagnosis dokter kena radang tenggorokan? Hayo angkat tangan! Ya, ya, saya seolah bisa melihat Anda mengangkat tangan.

Lalu…siapa yang anaknya dikasih antibiotik karena radang tenggoroknya? Ah, saya sepertinya melihat sebagian yang mengangkat tangannya tadi kembali mengacungkan telunjuknya.

Jadi…radang tenggorok perlu diobati dengan antibiotik? Kalau tidak diobati dengan antibiotik bagaimana? Katanya nanti bisa kena komplikasi ke jantung, radang ginjal, dan sebagainya.

Nah, ini dia tulisan yang ditunggu-tunggu selama ini: http://milissehat.web.id/?p=2636 yang menjelaskan perbedaan antara radang tenggorok alias sore throat dengan strep throat.

Ya, di artikel yg ditulis oleh seorang ahli infeksi tropis anak alumni Michigan University dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP ini, kita akan tahu fakta bahwa:
– radang tenggorok tidak semuanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A (strep throat). Padahal antibiotik hanya diberikan pada sore throat yang disebabkan oleh strep throat.
– strep throat adalah penyebab 20-35% sore throat pada anak (tidak sampai 50% kan?). Ini pun pada yang usianya 5-15 tahun. Anak di bawah 3 tahun jarang sekali mengalami strep throat
– bila ada gejala pilek, maka kemungkinannya lebih mengarah pada infeksi virus yang tidak butuh antibiotik

Lalu apa gejala strep throat yang membutuhkan antibiotik? Baca dulu ya artikelnya…


Arifianto Apin

Continue reading

Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak di Lingkungan Rumah?

Salah satu kekhawatiran sebagai orangtua yang saya tangkap dari diri sendiri maupun kawan-kawan adalah jika anak mendapatkan pengaruh dari sekeliling. Tentu yang dimaksud adalah pengaruh buruk, ya. Lebih spesifik, dari orang lain yang bertemu sehari-hari dengan anak, dan lebih khusus lagi dari teman sebaya baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Sebab, anak-anak cenderung mudah meniru perilaku yang seumuran karena kemiripan kondisinya, bukan? Istilahnya, kita bisa jaga anak, apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, sudah kita batasi tontonan dan bacaannya sesuai dengan visi misi keluarga, tapi kita kan tidak selalu bisa kontrol apa yang diperoleh anak di luar sana.

Kalau tetangga banyak yang sepaham soal parenting atau setidaknya kondusif lah untuk hidup berdampingan dengan baik, alhamdulillah. Kalau tidak? Ada kan yang cerita misalnya sehari-hari kita dengar tetangga memarahi anaknya dengan suara keras, atau nongkrong tak jelas sambil merokok di sekitar rumah, atau anak-anak yang bercanda sambil melontarkan kata-kata kotor. Eh, tapi ini bukan bermaksud negative thinking lho ya, toh tetangga bisa diibaratkan keluarga dekat yang sunnahnya dimuliakan, trus kalau berprasangka jelek jangan-jangan bener kejadian, hanya saja pada kenyataannya keadaan tak selalu seideal harapan kita.

Bagaimana solusinya? Yang paling utama tentu membekali anak agar lebih kuat menghadapi pengaruh lain. Tujuannya agar baik di dalam maupun di luar jangkauan radar kita ia tetap bisa menjaga diri. Beberapa aspek mengenai bekal ini sempat disinggung juga di catatan saya sebelumnya, misalnya terkait internet dan pendidikan seks. Tentunya dengan diiringi doa juga ya agar kita sekeluarga selamat dunia akhirat. Pendekatan agama bisa dipakai, dan untuk ini pastinya orangtua harus belajar cara penyampaiannya dengan tepat sesuai cita-cita keluarga.

Langkah berikutnya yang acapkali bikin bimbang adalah soal pertemanan anak. Haruskah anak ‘dikekep’ di rumah? Nanti jadi anak kuper dong, tidak luwes bergaul, dan kita sebagai orangtua dicap lebay pula. Terus terang, pendekatan ini (tanpa kekerasan dan paksaan lho ya) dipakai pula oleh orangtua saya. Mungkin juga penyebabnya bukan kekhawatiran beliau akan pengaruh buruk, melainkan semata karena jarak rumah yang agak jauh dengan teman sebaya. Orangtua tetap memfasilitasi rumah dengan bacaan maupun mainan. Meski kedua orangtua bekerja, saya tak kekurangan teman main di rumah walaupun dalam wujud orang dewasa seperti mbah kakung, mbah putri, saudara orangtua, dan pengasuh/ART, plus para sepupu yang kadang berkunjung.

Kebijakan macam ini bagi sebagian orang memang mungkin tampak berlebihan, bahkan saya pernah menjadi peserta pelatihan di mana trainer-nya mengolok-olok karakter anak yang dibesarkan dengan cara demikian. Yang dicemaskan lazimnya adalah kalau anak tidak dibiasakan bergaul lepas, dia akan gagap ketika waktunya berinteraksi dengan masyarakat. Cakrawala pengetahuannya, toleransinya terhadap keberagaman, dan kepekaan sosialnya ditakutkan tidak terasah. Kecemasan yang sama saya amati diungkapkan juga oleh beberapa peminat homeschooling.

Namun, melihat kenyataan masa kini, sebetulnya tidak bisa dibilang melebih-lebihkan kalau orangtua mengambil sikap protektif. Salah satu orangtua yang cukup aktif menyuarakan hal ini adalah bu Sarra Risman (atau nama aslinya Yuhyina Maisura), putri bu Elly Risman yang juga aktif berbagi di grup Parenting with Elly Risman and Family di facebook, selain menjadi admin grup messenger Yayasan Kita dan Buah Hati. Sebelumnya saya pernah membaca tanggapan Busar–sapaannya–di grup yang sama ketika ada anggota yang menanyakan apakah opsi ‘menahan anak di rumah saja’ memang perlu diambil demi membentengi anak dari dampak negatif bermain dengan anak lain yang belum tentu orangtuanya satu pandangan dengan kita tentang pengasuhan. Jawaban busar, ia lebih memilih begitu. Ternyata kemudian oleh busar dibahas tersendiri di thread ini https://www.facebook.com/groups/1657787804476058/permalink/1770526713202166/, sebagaimana saya kutip di bawah.

Sarra Risman

5 October 2016

Continue reading

Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #2: Melatih Kemandirian Anak

Institut Ibu Profesional
Materi Bunda Sayang Sesi #2
MELATIH KEMANDIRIAN ANAK
Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?
Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.
Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para entrepreneur, sehingga untuk melatih entrepreneurship sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.
Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.
Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?
Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.
Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita masih selalu menolong anak-anak di usia 1 tahun ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.
Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?
☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh:
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu.

Continue reading

Cepat dan Tepat Atasi Luka pada Anak

Masih dalam rangkaian Parenting Class Pertolongan Pertama pada Kedaruratan untuk Anak di Rumah yang diadakan di RSU Bunda Jakarta tanggal 19 Februari kemarin, setelah dr. Tiwi, sesi kedua diisi oleh dr. Priscilla Pramono, Sp.BP-RE, dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik. Materi yang dibawakan oleh dr. Priscil berkaitan dengan Cepat dan Tepat Atasi Luka pada Anak, sesuai dengan latar belakang beliau yang salah satunya bertugas di Wound Care Unit RSU Bunda.

Mengawali presentasinya, dr. Priscil menyampaikan pesan yang senada dengan dr. Tiwi sebelumnya, yaitu orangtua perlu terus belajar untuk anak, karena tidak semua keadaan perlu ditangani oleh dokter. Salah satunya adalah jika anak (atau anggota keluarga lain) mengalami luka.

Kalau dulu kita kenal kotak P3K atau Pertolongan Pertama pada Kecelakaan, nah untuk keperluan yang lebih spesifik yaitu luka, yang harus siap sedia di rumah antara lain:

Continue reading

Emergensi pada Anak di Sekitar Rumah

Setelah beberapa kali kehabisan tiket, akhirnya kesampaian juga saya mengikuti Parenting Class bersama dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., MARS. atau lebih akrab disapa dengan dr. Tiwi. Beliau termasuk salah satu dokter anak yang aktif berbagi ilmu untuk edukasi, khususnya mengenai kesehatan anak dan MPASI dengan sasaran keluarga muda. Kali ini dr. Tiwi tidak membahas MPASI, melainkan Emergensi pada Anak di Sekitar Rumah. Sesi dr. Tiwi ini merupakan sesi pertama dalam acara Parenting Class: Pertolongan Pertama pada Kedaruratan untuk Anak di Rumah pada tanggal 19 Februari 2017 di RSU Bunda Menteng Jakarta.

Aktivitas edukasi yang dijalani oleh dr. Tiwi menurut beliau bertujuan menyampaikan hal-hal yang seharusnya diketahui oleh orangtua. Orangtua khususnya ibu adalah dokter yang utama untuk anak. Tidak semua kondisi kesehatan anak mengharuskan kunjungan segera ke dokter atau rumah sakit, apalagi rumah sakit justru merupakan tempat yang ‘menyeramkan’ karena banyak kuman ganas di sana. Juga tidak semua sakit yang dialami anak membutuhkan obat, karena obat hanya diberikan pada saat benar-benar diperlukan.

Slide awal yang ditampilkan oleh dr, Tiwi menjelaskan bahwa tubuh sudah punya pertahanan kekebalan tubuh terhadap serangan mikroorganisme yaitu berupa sistem pernapasan (selaput mukosa, sel ephitalia), pencernaan (selaput mukosa, asam dan basa, flora bakteri), dan kulit/mukosa (barrier fisik, kimiawi, maupun flora bakteri). Bekerjanya dengan cara menahan, mengidentifikasi, dan menghancurkan musuhnya.

Continue reading

Ulasan Komunikasi Produktif

Review Tantangan 10 Hari Materi Bunda Sayang #1 Institut Ibu Profesional

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Pertama, kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif. Dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan, dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa di antara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini. Tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham di mana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Dari Tantangan 10 Hari sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita:
a. Tahap Anomi: Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satu pun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.
b. Tahap Heteronomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.
c. Tahap Sosionomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.
d. Tahap Autonomi: Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak hanya berhenti pada tantangan 10 hari, terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan kita.

Continue reading