Pekan ini rasanya ikan teri mewarnai hari-hari saya. Senin malam saya ngebut menyelesaikan sebuah tulisan untuk lomba cerita anak yang berakhir waktunya hari itu juga. Karena tema yang saya ambil adalah kuliner daerah, jadi saya menceritakan beberapa makanan khas yang saya ketahui. Salah satu makanan ini dikenal dengan taburan ikan terinya. Sambil mengetik, saya jadi terbayang gurihnya sajian tersebut yang berpadu dengan kriuk-kriuk teri goreng garing.

Ikan teri goreng dari Midori via Wikimedia Commons
Hari Selasanya saya membeli nasi goreng teri di kantin kantor untuk makan siang. Nasi goreng teri menjadi salah satu pilihan favorit saya dari kantin sejak dulu. Saya sempat kehilangan setelah kantin tutup selama tahun pertama pandemi dan penjualnya ternyata tidak ikut kembali saat kantin dibuka lagi. Namun, akhirnya tahun lalu ada penjual baru di kantin yang menyediakan menu ini lagi. Berbeda rasanya dengan yang sebelumnya, tapi saya juga menyukai nasi goreng teri versi yang ini.




Di grup ibu-ibu di whatsapp maupun di kantor (yang isinya padahal mayoritas lelaki), bahasan mengenai ‘mabuk gula’ ini mengemuka beberapa hari belakangan. Katanya, anak-anak memang jadi cenderung susah di-stop, cenderung lebih semangat lari-larian, lompat-lompat, hingga begadang kalau sudah banyak makan kue manis atau minum minuman manis. Bahkan tak hanya ‘di dunia nyata’, dalam trailer film Olaf’s Frozen Adventure yang sempat saya tonton tampak mata Olaf berputar begitu menggantikan wortel yang selama ini menjadi hidungnya dengan permen berbentuk tongkat (candy cane). “Sugar rush!” teriak si orang-orangan salju ‘hidup’ ini.

