Cemilan Rabu Kelas Bunda Sayang IIP: Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak

🍯🧀Cemilan Rabu #1🧀🍯
Materi 2: Melatih Kemandirian Anak
Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak
Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian. “Yes, I can!” Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.
Orangtua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orangtua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.
Namun realita yang ada, orangtua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak. Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, oran tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.
Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orangtua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.
Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.
Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:
1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.
Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun ia akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.
Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Continue reading

Inspirasi Mengelola Keuangan: Habiskan Saja?

Pagi ini saya mengikuti bedah buku Ladies, Belanjakan Saja Semua Uangmu bersama penulisnya, Ai Nur Bayinah, S.E.I.,M.M.,CPMM. (perencana keuangan, dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, Direktur Eksekutif SEBI Islamic Business & Economics Research Center), yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Kementerian Keuangan. Judul bukunya provokatif ya, hehehe. Menarik memang, jadi penasaran seperti apa sih yang dimaksud dengan menghabiskan uang itu. Kalau disimak sih sepanjang bedah buku tidak ada penjelasan secara eksplisit mengenai hal itu kecuali petunjuk tentang bagaimana mengalokasikan pendapatan bulanan. Selengkapnya mungkin bisa dibaca di buku LBSSU, yang tadi dibagikan ke semua peserta yang sudah mendaftar melalui e-mail. Ulasan buku menyusul ya, belum sempat baca nih.

Berikut catatan saya dari acara tersebut:

Uang itu seperti air. Makin lama disimpan, hasrat kita untuk menghabiskan juga seringkali makin besar.

Banyak yang bertanya, kapan saat yang tepat bagi kita untuk merencanakan keuangan? Apakah menunggu gaji sekian digit terlebih dahulu? Yang benar adalah mulai saat kita punya penghasilan. Penghasilan tidak selalu sama dengan pekerjaan ya, penghasilan bisa dari gaji, honor, transferan dari orangtua, warisan dst.

Kebanyakan sense untuk mengelola baru muncul saat menikah karena baru muncul hambatan-hambatannya. Sebelum menikah kadang masih bisa minta tambahan ke orangtua.

Continue reading

Cinta Sebening Embun, Pengingat untuk Berbakti pada Orangtua

Mengisi waktu minggu pagi, kami sekeluarga mengikuti kajian @pejuangsubuhid yang kali ini mengambil tema Cinta Sebening Embun. Dalam publikasinya, kajian yang diselenggarakan di aula kantor pusat Rabbani Jl. Pemuda Rawamangun ini disebutkan akan menekankan bahasan cinta kepada orangtua. Pembicara pertama adalah Hudzaifah Muhibullah, putra ustadz Taufik Ridho (Allahu yarham) yang menjadi salah satu contoh birrul walidain atau bakti kepada orangtua terkini. Mungkin sudah pada baca ya, cerita beliau yang hendak mendonorkan hati ke ayahanda tercinta, sepotong kisahnya sempat viral dan kisah lengkapnya antara lain bisa dibaca di sini http://www.portal-islam.id/2017/02/penuturan-seorang-bibi-12-jam-bersama.html?m=1.

Menurut Hudzaifah, kalau ditanya kenapa bisa begitu tegar dan kuat sewaktu mantap mengambil keputusan mendonorkan sebagian hati, kemudian juga ketika menerima kabar bahwa ternyata ayahnya berpulang terlebih dahulu sebelum hati sempat berpindah, ia juga tidak bisa berbagi tipsnya. Ujian tiap orang, katanya, berbeda. Doa dan perbuatan baik yang pernah dilakukan oleh seseorang sebelumnya bisa menjadi penguat diri dalam menghadapi ujian yang datang.

Continue reading

Bumil Jangan Garuk Perut, Hati-hati Stretch Mark!

Familiar dengan anjuran (lebih tepatnya larangan, sih) di atas? Cukup sering kalimat tersebut dilontarkan, biasanya jika ada bumil yang mengeluh gatal-gatal di kulit perut, baik meminta masukan maupun tidak. Umumnya, bumil diminta menahan diri supaya tidak menggaruk kulit perut yang terasa gatal itu, atau kalaupun mau garuk dibilang pakai pembatas seperti baju atau gunakan alat bantu seperti sisir. Tujuannya, agar bekas garukan tidak menjelma menjadi guratan lembah cekung panjang berwarna putih di kulit atau yang biasa disebut dengan istilah stretch mark.

Stretch mark ini sebenarnya bukan hanya rawan dialami oleh ibu hamil. Pada dasarnya orang yang berat badannya berubah secara drastis bisa mendapati keadaan tersebut di kulitnya. Lokasinya pun tidak melulu di perut, bisa saja pada kulit pinggul, paha, payudara, atau betis. Perubahan berat badan tersebut menyebabkan kulit meregang secara drastis dan meninggalkan bekas serupa garis yang tidak melulu berwarna putih. Ada stretchmark alba yang berwarna putih dan stretchmark rubra yang berwarna merah muda. Berikut saya kutip dari Kompas:

Continue reading

Kontroversi Buku Aku Berani Tidur Sendiri

Pekan lalu beberapa grup whatsapp yang saya ikuti, khususnya yang beranggotakan para ibu, diramaikan dengan kabar adanya buku anak yang kontennya tidak pantas karena justru seperti mengajarkan anak untuk bermain-main dengan kelaminnya, atau masturbasi. Sekilas lihat, sampul buku tersebut familiar bagi saya, dan memang ternyata dari penerbit dan penulis yang tidak asing: Tiga Ananda (imprint penerbit Tiga Serangkai, Solo, yang dulunya kebih saya kenal sebagai penerbit buku pelajaran, apalagi saya memang lahir dan besar di kota dekat Solo sehingga banyak memakai buku terbitannya) dan mba Fita Chakra (nama aslinya adalah mba Fitria Chakrawati, tulisan saya dan mba Fita pernah dimuat dalam satu buku yang sama yaitu Long Distance Love).

Penerbit sebesar Tiga Ananda, penulis sekaliber mba Fita, mestinya sudah mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan sebuah buku layak terbit. Memangnya sseperti apa sih, isinya? Jujur, saya juga punya buku Aku Berani Tidur Sendiri di rumah, tapi masih terbungkus rapi dan tersimpan di tumpukan buku yang harus saya saring dulu sebelum diberikan ke anak-anak. Dan karena keterbatasan waktu, saya belum sempat membukanya. Begitu membaca tulisan dalam foto yang viral beredar, saya mengerutkan dahi. Memang cenderung vulgar, ya. Tapi kalau sampai menduga-duga motif negatif mba Fita menulis ini, saya tak berani. Sedih saya membaca hujatan orang-orang di media sosial yang menghujat penerbit dan penulis yang dianggap sengaja agar anak meniru jalan cerita dalam buku, bahkan lebih jauh lagi punya misi menghancurkan generasi muda. Beberapa di antaranya dirangkum dalam berita BBC ini http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39038005. Ada teman-teman penulis yang juga membuat postingan tanggapan dengan sudut pandang masing-masing.

Continue reading

[Kliping] Seputar Radang Tenggorokan dari dr. Apin

Mumpung ada waktu, bikin kliping deh dari status-status dr. Arifianto, Sp.A., alias dr. Apin seputar radang tenggorokan. Radang tenggorokan ini bisa dibilang diagnosis yang cukup umum diberikan, termasuk ketika sedang batuk pilek dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Dulu, saya juga termasuk yang menerima saran “kalau tenggorokan sudah mulai gak enak, itu tandanya sudah saatnya minum antibiotik, sebelum menjadi-jadi”. Termasuk isap-isap FG Troches, tablet pink berlubang di tengah yang ternyata mengandung antibiotik juga.

Setelah kenal Milis Sehat sekitar 9 tahun yang lalu, pelan-pelan saya mulai paham. Meskipun, kadang kalau lagi berasa ‘menderita banget’ seperti ketika sakit tenggorokan di masa awal-awal pindah ke Jakarta dan menelan air putih pun sampai berjengit kemudian dokter keluarga kami tetap tidak memberikan resep antibiotik, kadang rasanya pengin nangis menahan nyeri, hehehe. Tapi, ya itu kan memang prosedurnya ya. Kalau tidak terbukti radang tenggorokan karena bakteri, buat apa dikasih antibiotik? Nanti malah membasmi bakteri baik di dalam tubuh kita.

Untuk membedakan radang tenggorokan karena bakteri atau virus, bisa gunakan Centor score yang juga dijelaskan dr. Apin di bawah, atau lebih lengkapnya ada di web Sehat dengan alamat http://milissehatyop.org/strep-throat-infeksi-tenggorokan-oleh-streptococcus-group-a/. Idealnya sih pakai uji usap tenggorok, tapi saya coba tanya lewat e-mail ke Prodia dulu, ternyata biaya tesnya amat mahal. Kultur swab tenggorokan harus bayar Rp477.500, itu tahun 2013 ya.

Siapa yang anaknya pernah didiagnosis dokter kena radang tenggorokan? Hayo angkat tangan! Ya, ya, saya seolah bisa melihat Anda mengangkat tangan.

Lalu…siapa yang anaknya dikasih antibiotik karena radang tenggoroknya? Ah, saya sepertinya melihat sebagian yang mengangkat tangannya tadi kembali mengacungkan telunjuknya.

Jadi…radang tenggorok perlu diobati dengan antibiotik? Kalau tidak diobati dengan antibiotik bagaimana? Katanya nanti bisa kena komplikasi ke jantung, radang ginjal, dan sebagainya.

Nah, ini dia tulisan yang ditunggu-tunggu selama ini: http://milissehat.web.id/?p=2636 yang menjelaskan perbedaan antara radang tenggorok alias sore throat dengan strep throat.

Ya, di artikel yg ditulis oleh seorang ahli infeksi tropis anak alumni Michigan University dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP ini, kita akan tahu fakta bahwa:
– radang tenggorok tidak semuanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A (strep throat). Padahal antibiotik hanya diberikan pada sore throat yang disebabkan oleh strep throat.
– strep throat adalah penyebab 20-35% sore throat pada anak (tidak sampai 50% kan?). Ini pun pada yang usianya 5-15 tahun. Anak di bawah 3 tahun jarang sekali mengalami strep throat
– bila ada gejala pilek, maka kemungkinannya lebih mengarah pada infeksi virus yang tidak butuh antibiotik

Lalu apa gejala strep throat yang membutuhkan antibiotik? Baca dulu ya artikelnya…


Arifianto Apin

Continue reading

Kenali Diri dan Kelemahannya, Wujud Introspeksi Kita

Masjid kantor tempat saya bekerja sering mengadakan kajian, baik yang rutin sehabis sholat wajib maupun pengajian insidentil yang biasanya membahas tema tertentu. Siang itu (22/03), yang mengisi adalah Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., dan materinya menurut saya sangat mengena, sehingga saya posting di sini.

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ

Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (Hasan secara sanad) — ini saya salin dari Rumaysho.com (https://rumaysho.com/3006-seorang-muslim-cermin-bagi-saudaranya.html).

Dalam hadits dikatakan, muslim cermin bagi muslim yang lain, ini artinya adalah anjuran untuk becermin, mengenali diri dan kelemahan.
Kondisi yang paling menyedihkan adalah ketika seseorang sudah tidak mampu lagi mengenali kekurangannya.
Bagaimana caranya mengenali diri sendiri? Hal-hal yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

Continue reading

Menyimak Indonesian Economic Outlook 2017 dari Pak Chatib Basri

Sudah lama saya mendengar tentang Mezzanine Club yang awalnya didirikan oleh dua pegawai muda Kementerian Keuangan kemudian menjadi acara berkala yang membahas isu-isu terkini atau ilmu bermanfaat dengan penyajian yang mudah diterima (utamanya untuk kalangan muda) tetapi sekaligus berbobot. Namun, karena faktor kesibukan kerja dan kemudian jarak, saya belum sempat mengikuti satu pun pertemuan Mezzanine Club. Di awal tahun ini, tak lama setelah saya dipindahkan ke kantor baru yang tidak terlalu jauh dari tempat kegiatan Mezzanine Club biasa digelar (tidak selalu di satu tempat, sih), ada pengumuman bahwa akan diselenggarakan Mezzanine Club 17. Pembicara untuk acara kali ini yang sekaligus untuk merayakan ulangtahun Mezzanine Club ke-2 pun tidak tanggung-tanggung, Dr. Muhammad Chatib Basri, S.E., M.Ec., mantan Menteri Keuangan RI periode 2013-2014.


Continue reading

Makan Jangan Bersuara…. 

Obrolan di grup whatsapp IIP beberapa hari yang lalu sempat membahas tentang trik membuat makan jadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak, terkait dengan materi utama mengenai menumbuhkan kemandirian anak. Ada salah satu anggota yang memberi saran makan sambil mengajak anak mengobrol. Ini mirip dengan saran dokter keluarga kami dalam kultwitnya, yaitu dengan menyelipkan cerita mengenai serba-serbi sayuran atau bahan makanan lain yang ada di hadapannya, mengapa perlu makan itu, dst. Kemudian ada anggota lain yang menanggapi, kan makan jangan bersuara, hehehe… kan ada lagunya juga tuh ya, yang dulu sempat populer lagi karena digunakan sebagai pengiring iklan sebuah merk susu kalau tidak salah.

Kalau secara table manner atau etiket makan, sebetulnya tidak terlarang juga bicara sambil makan, maksudnya ketika tidak ada makanan dalam mulut ya. Misalnya saya kutip dari sini https://agyeeta.wordpress.com/2009/06/21/table-manner/:

CARA BERBICARA
 Hindari berbicara saat makanan masih di dalam mulut
 Hindari bicara sambil menunjuk ke arah seseorang atau gerakan tangan yang berlebihan
 Hindari memotong, menguasai pembicaraan
 Sesuai intonasi berbicara, jangan terlalu keras atau lemah

Malah ada juga yang menuliskan bahwa secara etika, ketika semua yang sedang makan bersama diam saja kan malah suasana jadi kurang enak, bahkan tidak sopan kalau kita diam saja. Saya kutip dari http://fitritataboga.blogspot.co.id/2011/04/etiket-makan-part2.html:

Continue reading