SMSBunda, Perantara Menuju Keselamatan Ibu dan Bayi

“Wah, boro-boro, deh…baca tulisan di dokumen grup aja suka pada males, kok!” demikian komentar dari seorang kawan sesama admin grup ketika kami membahas kemungkinan penerbitan buku yang dirancang komplet menjawab pertanyaan para ibu dan calon ibu khususnya terkait ASI, MPASI, dan kesehatan keluarga secara umum. Ingin rasanya saya membantah, berhubung saya suka sekali membaca. Namun, saya harus mengakui, sebagaimana yang pernah saya baca, rentang konsentrasi manusia masa kini menurut penelitian memang menurun. Daya tahan untuk membaca artikel panjang konon menipis. Banjir informasi instan di era teknologi informasi seperti sekarang, di mana untuk memperoleh jawaban dari suatu pertanyaan kadang cukup dengan sekali klik, acapkali justru membuat kewalahan. Seringkali sebuah informasi hanya dibaca sekilas kemudian perhatian teralih ke informasi lain yang ‘memanggil-manggil minta dibaca’.

Belum lagi jika bicara soal keterbatasan waktu. Se-multitasking-multitasking-nya seorang perempuan, seolah masih terlalu banyak hal yang ia harus kerjakan. Sebuah tips mengatakan bahwa multitasking dalam tindakan itu produktif dan menghemat waktu, sedangkan multitasking dalam pikiran itu bikin waktu terbuang percuma. Pada kenyataannya, yang namanya ibu pasti pernah mengalami yang seperti ini: menyusun menu untuk esok hari di kepala sambil mengingat-ingat jadwal imunisasi anak sembari memeriksa tas sekolah anak untuk besok seraya menyimak informasi mengenai banjir di televisi.

Di sisi lain, update ilmu baru sepertinya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Panduan MPASI terbaru, step by step IMD (Inisiasi Menyusu Dini), petunjuk perawatan tali pusat bayi baru lahir, jenis vaksin yang belum pernah ada sebelumnya, tata laksana ketuban pecah dini…semuanya perlu untuk dipelajari setidaknya sebagai bekal jika suatu saat mengalami baik diri sendiri maupun orang terdekat, tapi kapan waktunya? Padahal seorang ibu adalah manajer keluarga yang sekaligus menjadi pengambil keputusan-keputusan penting. Tentu, ayah pun seharusnya belajar bersama. Namun, sebagai pihak yang mengalami sendiri kehamilan, juga lazimnya lebih sering berinteraksi dengan bayi/anak, sudah sewajarnya ibu lebih tanggap dan aktif mencari informasi, yang nantinya bisa didiskusikan dengan suami. Kapan harus ke dokter? Bahan makanan mana yang aman dikonsumsi ibu hamil? Bagaimana jika menemui tantangan dalam menyusui? Bolehkah ibu menyusui memakai produk perawatan kulit? Kapan perlu khawatir ketika gigi anak tidak kunjung muncul?

Continue reading

Lebaran di Karanganyar, Setelah Satu Dasawarsa

Salah satu kenangan lebaran masa kecil yang paling berkesan bagi saya adalah tradisi pergi ke tempat mbah buyut dari pihak mama di Karanganyar, Semarang, tiap H+1. Dulu sih saya diberitahu bahwa kalau di desa, lebaran hari kedua memang lebih meriah. Di mata saya, karena semua berkumpul, memang jadinya terlihat ramai. Biasanya kami berangkat dengan menggunakan minimal dua mobil yang berkonvoi (pernah bahkan menyewa minibus dari Jakarta), karena kakak dan adik mama yang berdomisili di kota lain juga bergabung. Orangtua saya memang tinggal di rumah mbah atau orangtua mama, jadi ke situlah tujuan mudik saudara-saudara mama ketika Idul Fitri tiba.

Perjalanan ke Karanganyar biasanya memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Semasa kakak adik mbah (para pakdhe dan budhe dari mama) masih ada, kami biasanya juga menyempatkan sowan ke rumah beliau satu persatu dalam sehari itu. Kebanyakan memang tinggal di kota yang berdekatan seperti Salatiga dan Klaten. Kesempatan berkumpul setahun sekali ini menjadi ajang silaturahmi, semacam halal bihalal yang ditunggu-tunggu, karena jarang-jarang para anggota keluarga besar Hardjasoetaman bisa bertemu sekaligus dalam jumlah yang cukup banyak. Ada juga arisan keluarga yang rutin digelar per triwulan untuk yang tinggal di Jadebotabek memang, tapi tidak semua tinggal di daerah sana, kan.

Di antara acara yang biasanya wajib ada adalah adat sungkeman, sebagai wujud bakti dan hormat dari generasi yang lebih muda. Nyekar atau ziarah ke makam leluhur juga dilaksanakan secara berombongan, walaupun sepertinya karena jarak yang jauh akhirnya keluarga saya jarang bergabung (alias kadang kesiangan, hehehe). Di rumah mbah buyut, sebelum dan sesudah sungkeman, biasanya kami ngobrol santai ditemani hidangan yang tersaji. Sajian khas inilah yang juga ngangenin: ketupat opor, kue-kue basah seperti wajik, jadah, sengkulun, dan tape ketan.

Sejak saya menikah tahun 2006 saya tak pernah lagi bergabung dengan keluarga besar merayakan lebaran di Karanganyar. Kebetulan memang saya mendapat penempatan pekerjaan di pulau lain, yaitu Belitung kemudian Bangka, tepat setelah menikah. Biasanya saya dan suami tetap mudik, sih, selama empat tahun bertugas di luar Jawa itu. Tapi sempitnya waktu cuti yang harus pula dibagi ke dua keluarga (orangtua di Solo dan mertua di Pati) membuat kondisinya tidak memungkinkan bagi kami untuk ikut serta. Saat kami sudah pindah tugas ke Jakarta pun biasanya hari-H idul fitri kami rayakan di Pati karena sepeninggal ibu mertua, suami merasa perlu membantu usaha keluarga yang ramai menjelang lebaran. Tahun lalu kami nyaris bisa ikut karena sudah berangkat ke Solo dari Pati pada hari-H, tapi batal karena ketersediaan tempat di kendaraan yang mepet.

img-20160831-wa0031.jpgTahun ini, 2016 atau 1437 Hijriah, untuk pertama kalinya saya kembali ke rumah mbah buyut di Karanganyar pada lebaran kedua. Ini jadi pengalaman pertama untuk suami dan anak. Lalu lintas hari itu lumayan macet dan banyak jalan ditutup sehingga kedua mobil yang kami pakai kesulitan putar balik dan mencapai tempat tujuan lebih siang. Kesan saya begitu sampai, pangling, tentu. Rumah tersebut memang sudah direnovasi dengan dana patungan bersama, dan laporan perkembangan termasuk foto-foto juga sudah pernah dipresentasikan pada acara arisan keluarga yang saya ikuti. Tapi begitu melihat sendiri…sensasinya berbeda. Yang paling mencolok, lantai tanah berganti ubin keramik. Di sisi lain, kesan klasik dari arsitektur dan aksesoris termasuk perangkat gamelan masih dipertahankan.

Hal berikutnya yang berbeda adalah acara yang diorganisir dengan rapi. Memang sepeninggal para generasi kedua, tradisi sungkeman jarang dilaksanakan lagi. Mungkin agar suasana tambah meriah dan semua berbaur, beberapa saudara mama berinisiatif mengadakan aneka lomba. Bertindak selaku panitia pelaksana adalah generasi saya. Jadi hadirin dibagi menjadi beberapa kelompok (bercampur antara satu keluarga dengan keluarga lain, sebagai contoh saya saja beda kelompok dengan suami), kemudian setiap kelompok berpacu mendapatkan nilai total tertinggi dari beberapa lomba yang diikuti. Tahun lalu ada semacam ‘mencari jejak’, tapi tahun ini ditiadakan. Lomba tahun ini diadakan indoor, paling jauh di halaman saja, meliputi kontes yel-yel, tebak peribahasa lewat peragaan, lomba tali tersimpul, sampai voli air. Seru, memang!

Saya sendiri tidak bisa terlalu aktif berpartisipasi karena putri kecil saya yang baru berusia 19 bulan lebih tertarik menjelajah melihat hal-hal yang belum pernah ditemuinya. Tentu perlu pengawalan karena ‘medan’-nya bagi saya juga terbilang baru. Kakaknya, 4,5 tahun, cenderung lebih anteng dan menempel pada ayahnya, tapi lama-lama ingin ikut jalan-jalan juga.

img-20160831-wa0017.jpg

Jadilah saat lomba terakhir dimainkan kami hanya menonton sesekali, sisanya lebih banyak dihabiskan untuk mengejar Fahira yang mengejar ayam atau menyuapi Fathia. Lomba volinya sendiri sebetulnya asyik, jadi yang digunakan sebagai ‘bola’ adalah kantong plastik berisi air, dan untuk melemparnya para anggota tim harus bersama-sama menggunakan sarung yang dibentangkan. Banyak plastik yang pecah saat dilempar dan akhirnya menyemburkan air ke para peserta. Pada praktiknya banyak hal yang belum diantisipasi panitia seperti batasan bola ‘keluar’ dan kapan skor diperoleh, tapi justru hal inilah yang menambah keseruan. Nah, di akhir acara sambil membagikan hadiah dan cendera mata bagi yang sudah berpartisipasi, diumumkanlah nama-nama anggota panitia tahun berikutnya. Tongkat estafet jatuh ke adik saya, rupanya. PR nih buat bikin acara yang sama mengasyikkannya, kalau perlu lebih seru lagi sekaligus tetap bersahabat untuk semua usia :).

Video dokumentasi ini dikirim oleh mama di Solo yang memperolehnya dari grup keluarga besar, dan terus terang agak tersendat masuk ke ponsel saya. Gadget yang saya pegang memang baru bisa menggunakan jaringan 3G, padahal kalau pakai 4G bisa lebih cepat. Hari gini, harusnya #4GinAja kan ya?

https://m.youtube.com/watch?v=6Lxj5BP4_sk&feature=youtu.be

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Lebaran Seru

GA LEBARAN SERU

 

Aktivitas Menyusui Yang Membuka Cakrawala Baru

Saya kira saya sudah siap dan paham mengenai dunia ASI dan menyusui ketika saya melahirkan anak pertama. Saya sudah bergabung dengan milis ibu menyusui lima tahun sebelum hamil, beberapa teman kantor pun telah menjadi contoh langsung bagi saya tentang bagaimana mengelola ASI perah sebagai ibu bekerja. Buku-buku referensi yang membahas ASI juga telah saya koleksi.

Di usia enam tahun saya bahkan bisa memberi saran pada mama (waktu itu saya baru punya adik) soal mengatasi bayi ‘ngempeng’ tapi tidak aktif menyusu, berkat majalah langganan mama. Lagipula, menyusui adalah hal yang alamiah, bukan?

Ternyata urusan ASI dan menyusui tidaklah sesederhana itu. Bahwa bayi bisa bertahan dengan cadangan makannya dan kalaupun butuh ASI masih sangat sedikit di tiga hari pertama pascapersalinan, itu saya tahu. Pihak rumah sakit tempat saya melahirkan juga alhamdulillah cukup mendukung ASI, termasuk dengan memberikan kelas breast care yang di antaranya mencakup pula praktik posisi menyusui yang tepat.

Ketika putri mungil saya menangis terus di hari-hari pertamanya di rumah akibat tak bisa melekat dengan baik, saya masih bisa menenangkan diri bahwa ‘semua akan berlalu pada waktunya’, sehingga tak berlanjut ke kepanikan akan kecukupan (ketidakcukupan, lebih tepatnya) ASI. Sewaktu tetangga datang menjenguk dan bilang hati-hati kalau pipi bayi terciprat ASI bisa merah-merah karena ASI itu keras, saya menanggapi dengan senyuman karena pernah membaca bahwa itu hanyalah mitos.

Continue reading

Demi Oleh-oleh ASIP untuk Anak Tercinta

Tema besar World Breastfeeding Week alias Pekan ASI Dunia tahun lalu adalah “Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work!“. Kenapa sampai ditekankan soal ibu bekerja? Karena menyusui dengan status sebagai ibu bekerja, lebih khususnya bekerja di luar rumah, punya tantangan khasnya sendiri. Dari soal mengatur waktu memerah (harus rutin, kan, kalau tidak produksi ASI terancam dihambat karena payudara dibiarkan penuh terlalu lama),  mencari tempat memerah yang nyaman (tidak semua kantor menyediakan tempat khusus pumping, belum lagi kalau ada tugas lapangan), pandangan heran teman sekerja (ada teman di dunia maya yang katanya dijuluki tukang es karena bawaan cooler bag dkk-nya), bawaan sehari-hari yang nambah (minimal banget botol ASIP dan es pendingin, kalau memerah dengan tangan), melatih anak (sebetulnya lebih ke melatih pengasuhnya, biasanya :D) minum ASIP dengan media yang tepat, sampai ini nih…gimana kalau mendadak jadi harus meninggalkan bayi beberapa hari untuk urusan pekerjaan?

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas (kalau kerepotan mengatur jadwal pumping di ruangan yang disediakan kantor sih iya, hehehe…takut aja diprotes kok loketnya suka kosong, padahal sudah ada aturan pelindungnya ya). Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget. Walaupun sebetulnya kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan.

Continue reading

Ethica, Brand Fashion Muslim Pilihan Keluarga

Saya ‘mengaduk’ tumpukan baju di lemari. Aduh, benar dugaan saya. Baju suami yang satu itu tertinggal di rumah orangtua kami, entah yang di Solo atau di Pati. Saya lupa memperhitungkan kemungkinan ini ketika memesan gamis untuk kedua putri kami, yang warnanya disesuaikan dengan baju yang sudah saya dan suami miliki. Cita-cita bikin foto keluarga dengan busana senada terancam gagal.

Sejujurnya saya tidak terlalu mengikuti tren fashion muslim. Apalagi dulu. Sekarang sudah agak mending sih, walaupun tak sampai memaksakan ikut gaya yang ‘bukan saya banget’.

Kini saya lebih suka jilbab, pashmina, atau khimar yang longgar, menutup dada hingga bagian belakang. Bukaan depan baik berupa ritsleting/zipper atau kancing pada gamis, dress, blus, atau kaos agar nursing friendly karena status saya sebagai busui juga diutamakan. Alhamdulillah makin banyak penjual yang otomatis mencantumkan keterangan seperti ini di galeri produknya.

Bagi saya, tampil trendi ala hijabers tetap harus mempertimbangkan faktor kenyamanan dan kecocokan. Bahan, potongan, warna, semuanya menjadi penting. Plus harga, tentu saja, hehehe. Nah, untuk hal-hal seperti ini sebetulnya lebih pas kalau membeli langsung, ya, bisa melihat, menerawang, meraba… Hahaha, seperti memeriksa uang asli atau palsu saja, ya?

Namun, busana muslimah memang harus memenuhi beberapa syarat. Di antaranya tidak menerawang karena berisiko menampakkan aurat, dan bahannya harus yang nyaman agar pemakai betah mengenakannya untuk beraktivitas termasuk di luar ruangan. Ada pula kemungkinan perbedaan warna di layar akibat pencahayaan. Jadi, sebenarnya belanja ke toko atau pasar akan lebih memuaskan. Bahkan kalau memungkinkan, menjahitkan bahan akan lebih pas khususnya dari segi ukuran.

Sayangnya, seringkali waktu menjadi kendala. Saya sebagai ibu bekerja terus terang sekarang hampir selalu mengandalkan internet untuk berbelanja, termasuk belanja fashion muslim. Kalaupun tidak melalui online shop, ya ke teman atau tetangga yang karena sulitnya menyamakan jadwal juga tetap kirim-kirim katalognya lewat whatsapp misalnya, setelah deal baru deh ketemuan.

Nah, memilih baju dari katalog melalui browsing website maupun kiriman ini tetap saja agak lama, apalagi kalau yang dibeli lebih dari satu. Misalnya saat hendak membelikan baju untuk seluruh anggota keluarga. Adakalanya saya melihat baju anak yang ‘lucu’ buat kakak lalu terpikir bahwa kebetulan saya dan suami punya baju yang senada. Ujung-ujungnya beli yang dilihat lalu harus mencari lagi yang mirip untuk dedek. Lalu setelah tiga-tiganya ada, baru gedabrukan mencari baju suami yang perasaan ada tapi entah di mana.

HAFA-20-297x297 putihTampil dengan baju keluarga yang serasi memang kesannya enak dilihat. Jika diabadikan dalam bentuk foto pun tampak kompak, agar terpancar semangat happy family yang semoga terwujud dalam bentuk keluarga sakinah mawaddah warohmah yang sesungguhnya. Yang jadi pe-er–khususnya bagi ibu-ibu yang jadi penata gaya, pengelola jadwal kegiatan, sekaligus manajer keuangan keluarga– adalah mencari apa yang hendak dipakai.

Adanya kebetulan dan keberuntungan saat berburu secara dadakan bisa saja terjadi, tapi belanja terencana tentu lebih afdol. Apalagi kalau pilihan baju kompakannya sudah ‘tinggal tunjuk’ alias dipaket seperti yang disediakan oleh Ethica. Waktu yang diperlukan untuk memilah dan menentukan mana yang hendak dibeli jadi lebih hemat.

Merk ini awalnya saya kenal dari sebuah majalah wanita yang rutin diantar oleh loper koran ke meja kantor. Rupanya dulu nama yang HAFA-19 denimdipakai adalah Salsa, sebelum diubah menjadi Ethica. Tadinya sih saya amati produknya lebih banyak untuk anak dan remaja ya, tapi ternyata ada baju keluarganya juga, lho, dalam seri Hafa alias #HAppyFAmilyByEthica.

Koleksinya bisa diintip di website. Bahan yang dipakai seperti kaos pilihan dan katun mengakomodir kebutuhan akan material yang menyerap keringat dan luwes mengikuti gerakan, sesuai untuk iklim tropis.

Saya paling ‘jatuh cinta’ dengan model HAFA-20 yang terkesan bersih. Cocok untuk suasana bulan Syawal di mana seringkali ada kegiatan halal bihalal dengan dress code putih, atau event lain yang bernapas keagamaan atau semi-formal.

Sedangkan untuk kesempatan yang lebih santai saya rasa HAFA-19 bisa menjadi pilihan tepat. Model lain yaitu HAFA-23 dengan warna favorit saya, ungu, membuat saya sadar bahwa tampilan baju keluarga tak melulu harus dengan bahan yang persis, kombinasi bahan lain sesuai dengan karakter dan usia masing-masing juga bisa menyenangkan dipandang.

Contohnya, motif bunga nan ceria untuk ibu dan anak perempuan dan motif garis yang menghiasi baju koko atau kemeja untuk ayah dan anak laki-laki, keduanya dalam satu tone warna. Oh ya, sarimbit khusus untuk pasangan saja juga bisa, lho.

HAFA-23-REVISI-WARNA-KAGUMI-13Yang saya suka juga, web resmi Ethica mencantumkan dengan komplet size pack untuk tiap jenis produknya. Ini penting karena patokan ukuran bisa jadi berbeda, dan memakai pakaian dengan ukuran yang tidak pas bisa mengurangi kenyamanan. Harga produk pun tercantum dengan jelas, jadi hitung-hitungan dapat segera dilaksanakan dan keputusan membeli bisa lebih cepat diambil (emak-emak banget, ya, hehehe).

Sistem penjualan dengan agen menurut saya punya nilai plus memudahkan calon pembeli mencari yang terdekat untuk menghemat ongkos kirim, siapa tahu bisa sekalian silaturahim dan memilih langsung jika ada stok, sekaligus membantu menggerakkan perekonomian masyarakat. Testimoni di situsnya juga membuat pengunjung lebih yakin akan kualitas dan keandalan Ethica.

Variasi warna dan motif yang beragam bisa disesuaikan dengan kesukaan tiap anggota keluarga atau tema acara yang hendak dihadiri. Produsen sekelas Ethica tentunya juga akan melakukan pemotretan dengan baik sehingga ketika barang sampai tidak mengecewakan akibat beda warna dengan ekspektasi misalnya. Pas banget lah jika Ethica dijadikan merk baju pilihan keluarga.

Sunpride, Kawan Menjalani Ramadhan Sehat

“Pola makan untuk ibu menyusui yang hendak menjalankan ibadah puasa sebetulnya tidak terlalu spesial, hanya pengaturan waktunya yang berubah.”

Demikian pernyataan dari beberapa konselor laktasi yang pernah saya baca. Artinya, makan seperti biasa dengan penyesuaian jam makan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu yang berpuasa maupun bayi yang masih disusuinya. Tidak perlu sampai melipatgandakan porsi, dan kalau mau mengkonsumsi suplemen khusus pun harus sesuai dengan indikasi.

Namun, di sisi lain, bulan puasa juga sekaligus bisa menjadi momentum perbaikan kebiasaan makan. Umumnya di bulan puasa orang merasa perlu memperhatikan asupan gizi lebih dari biasanya. Meski tidak makan dan minum dari subuh hingga maghrib, aktivitas sehari-hari harus jalan terus. Upaya meningkatkan ketakwaan dengan menambah ibadah khusus harian juga tentunya membutuhkan sokongan stamina yang prima.
image

Beberapa tips yang saya baca untuk membantu tubuh tetap fit dengan perubahan jam makan (dan seringkali juga jam tidur) pada umumnya mengingatkan untuk menjaga kecukupan cairan. Jelas, ini penting karena dehidrasi bakal menjadi hal yang tidak menyenangkan di saat kita berpacu memperbanyak amalan baik di bulan penuh berkah. Tips lain yang biasa dibagikan adalah makan dengan gizi seimbang. Nah, apa sih makan gizi seimbang ini?

Continue reading

Kamera Ponsel, si Pencair Kebekuan

Asus Zenfone Laser giveaway

“Mau foto, nggak?”

Sejenak aku tercenung. Bimbang antara menerima tawarannya atau bersikukuh jual mahal. Ah, tapi dia memang tahu saja bagaimana meluluhkan hatiku.

***

Keterampilan fotografiku tergolong payah. Aku tak kunjung menguasai teknik menyajikan gambar dengan indah, bahkan memotret makanan agar ‘instagrammable‘ kekinian pun aku tidak sanggup. Beberapa kali ikut pelatihan jurnalistik yang memuat materi singkat jurnalisme foto hanya sedikit meningkatkan kemampuanku (dan bukan salah pengajarnya).

Dulu seorang teman pernah berkomentar di blog lamaku, bahwa foto-foto yang kupajang di salah satu postinganku, saat itu isinya tentang pasar malam, termasuk kategori foto liputan. Memang, aku suka merekam berbagai peristiwa lewat lensa kamera. Bagiku, foto bisa menjadi kenang-kenangan yang berharga, bukti bahwa aku pernah berada di suatu tempat, alat bantu memantau tumbuh kembang anak, sekaligus sebagai sarana berkabar pada sanak saudara dan kawan yang terpisah jarak.

Aku suka menulis dan mulai ngeblog sejak tahun 2006. Keberadaan foto bisa menjadi ilustrasi tulisan atau blogpost-ku agar lebih sedap dipandang dan lebih ‘valid’. Foto juga bisa membantu mengingat sebuah kejadian, contohnya lewat keterangan tanggal foto tersebut diambil. Bahkan hasil jepretan bermanfaat sebagai sumber informasi, jadi tidak perlu terburu-buru mencatat pemaparan di slide dengan konsentrasi terpecah atau keterangan pada display di museum.

Yah, intinya sih aku bisa dibilang ‘asal’ memotret. Tak peduli komposisi, fokus, pencahayaan, dan seterusnya. Lebih sering ‘hajar’ saja, pokoknya ada yang bisa difoto.

Tentu saja, yang jadi andalanku di banyak kesempatan adalah kamera ponsel. Bukan aku tak punya kamera digital, tapi rasanya kok kurang praktis. Ponsel lebih mudah kuraih sewaktu-waktu, apalagi saat ini ketika ke mana-mana seringkali aku menggendong anak. Kamera biasanya tersembunyi di sudut tas, akibat khawatir hilang.

Hasil foto kamera ponsel juga lebih mudah langsung diunggah ke blog atau media sosial, baik apa adanya maupun diedit (sederhana, sih) terlebih dahulu, tanpa perlu ribet mencari kabel data atau card reader. Hanya saja memang sejauh ini aku harus puas dengan kualitas kamera ponsel yang kurang prima dibandingkan dengan kamera digital. Padahal kamera digitalku juga kamera saku biasa, bukan DSLR.

Keinginanku tak muluk sih sebetulnya, toh kami jarang mencetak foto yang memerlukan resolusi bagus, tapi setidaknya hasil foto yang prima akan lebih ‘bercerita’… dan keunggulan alat mungkin akan membantu menutupi kekuranganku di bidang teknik pengambilan foto.

Berkaitan dengan keinginan menyimpan (dan berbagi :p) foto yang ‘bagusan’ ini, dua bulan terakhir ini aku jadi sering merepotkan suami. Ia baru saja membeli hp baru, yang kameranya menurutku jauh lebih baik ketimbang punyaku. Bagiku juga lebih gampang meminta tolong ia mengulurkan ponsel berkamera miliknya, daripada sibuk merogoh sakuku sendiri (yang seringnya tergencet gendongan anak) guna meraih ponsel.

Tapi kelak kalau sudah punya ponsel yang lebih baik seperti Zenfone 2 Laser ZE550KL yang spesifikasi mumpuninya sempat kubaca, aku akan rela repot sedikit demi hasil foto yang lebih bagus pula. Ponsel keluaran ASUS ini kamera depannya saja sudah 5MP (belakangan –kadang dengan bantuan tongsis– terasa penting karena susah berfoto komplet berempat, hahaha), kamera belakangnya yang 13MP jelas lebih dari cukup untuk keperluanku.

***

“Nih,” suamiku mengulurkan ponselnya.

Aku tak bisa menolak. Seperti kubilang tadi, sepuluh tahun pernikahan telah membuatnya hafal apa saja hal yang bisa melumerkan kekesalanku. Ceritanya, aku memang lagi ngambek pagi itu karena beberapa hal yang sepele sih sebetulnya. Kelelahan badan akibat perjalanan mudik di waktu puasa sambil membawa dua balita (plus sedang PMS) rupanya membuat mood-ku berantakan.

Maka suamiku berinisiatif membawa kami ke landmark kota kelahirannya yang beberapa hari sebelumnya sempat kami bicarakan, pagi-pagi sekali tanpa memberitahukan tujuan sesungguhnya saat berangkat. Kami memang belum pernah ke ‘Keran Raksasa Tergantung’ di gerbang masuk Kota Pati yang dijuluki Hogwarts van Java (aku baru tahu tentang sebutan itu saat googling informasi soal kran raksasa) ini.

Suamiku tahu, tempat unik adalah salah satu objek foto favoritku. Mengajakku ke lokasi yang ‘blogable‘ macam itu dapat menjadi pendongkrak semangatku. Well, si ponsel berkamera sukses bertindak sebagai juru damai. Aku tersenyum sambil meraih hp yang ia berikan. Klik!

image

Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

Mengoptimalkan Manfaat Teknologi, Si Pisau Bermata Dua

Memesan jasa kurir untuk mengambilkan buku yang saya beli, memilih aneka kue kering untuk dikirim ke mertua di kota lain, melakukan transfer untuk transaksi baju lebaran dan oleh-oleh, mengecek video acara workshop kepenulisan tempo hari, menjelajahi web Jakarta Smart City untuk mencari data guna keperluan pekerjaan, mencari tahu harga tiket kembali setelah mudik, booking kursi travel, tilawah dengan Qur’an digital, semua itu hanya sebagian dari agenda saya sepekan terakhir ini. Semuanya melibatkan perangkat teknologi.

Bisa dibilang saya bahkan sudah jarang membeli groceries di hipermarket offline. Apalagi untuk urusan fashion wanita yang teramat banyak ditawarkan di dunia maya.

Continue reading

Meningkatkan Kualitas Diri lewat Bacaan untuk #BahagiadiRumah

Ketika membaca tabloid NOVA beberapa minggu yang lalu, sebidang gambar dengan ilustrasi meriah warna-warni menarik perhatian saya. Wah, ternyata Tabloid NOVA berulang tahun yang ke-28! img_20160531_074532.jpgMasih tuaan saya dong, ya, hahaha. Tahun ini tabloid NOVA mengambil istilah NOVAVERSARY untuk ulang tahunnya.

Bertahan di dunia media cetak di tengah derasnya arus informasi digital masa kini, yang saya tahu sebagai awam, tidaklah mudah. Tabloid NOVA saya rasa merupakan salah satu contoh sukses, bukan hanya dalam menerbitkan edisi cetak, tetapi juga merangkul komunitas lewat acara-acara menarik yang digelar. Ada beragam komunitas dengan benang merah yang sama, yaitu menggerakkan perempuan untuk lebih bahagia lewat berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, berbagi/sosial, berwirausaha, menulis, dan sebagainya. screenshot_2016-05-31-07-56-27.pngBerbagai media sosial juga dioptimalkan manfaatnya untuk meningkatkan keterikatan pembaca maupun memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya. Tak hanya lewat website, tabloid NOVA juga hadir lewat edisi digital yang bisa diunduh agar lebih praktis dibaca di mana dan kapan saja.

Dulu zaman sekolah saya menganggap bahwa tabloid NOVA itu bacaan ibu-ibu, tidak terasa saya sekarang sudah menyandang status ibu-ibu muda juga. Sejak awal saya mengenal tabloid NOVA, tabloid ini saya nilai konsisten menyajikan konten informatif mulai dari masakan, mode, info dunia hiburan, kecantikan, peristiwa terkini yang dikupas tuntas, konsultasi psikologi, wawasan seputar dunia pendidikan, dan seterusnya. Bisa dibilang komplet untuk meng-update diri tiap perempuan. Peningkatan kualitas diri lewat bacaan ini tidak bisa dipandang remeh karena meski ‘hanya’ lewat teks, perempuan bisa melakukan sesuatu yang bermakna.

ss nova resepTidak percaya? Coba tengok resep-resep di dalamnya. Ada resep praktis yang mudah dipraktikkan untuk sehari-hari, ada pula resep yang menantang untuk dicoba di kesempatan istimewa. Mau mode pakaian terbaru berikut padu padan koleksi dasar, ada. Perlu tips berdandan agar tampil prima, tinggal buka juga. Butuh inspirasi penataan rumah terkini, artikel dengan foto yang jelas untuk ditiru pun tersedia. Berita terbaru untuk meningkatkan kewaspadaan, kepedulian, dan menyemangati diri juga sayang dilewatkan. Pembaca bisa bercermin dari rubrik-rubrik psikologi maupun pengembangan diri. screenshot_2016-05-31-07-54-51.pngCermat memantau kesehatan keluarga berawal dari rajin mempelajari artikel terkait dari sumber yang dapat diandalkan seperti tabloid NOVA (psst, dokumentasi yang jempolan di web tabloid NOVA membuat saya mudah menelusuri aneka bahasan kesehatan keluarga dengan rujukan yang tepercaya. Sering juga saya kirimkan link dari web tabloid NOVA ke rekan atau keluarga yang memerlukan.). Pengetahuan yang luas dapat menjadi bekal agar perempuan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mengingat perempuan punya pengaruh besar di keluarganya, kenyamanan yang dirasakan bisa berbuah kebahagiaan bagi seluruh penghuni rumah. Rumah menjadi tempat yang senantiasa dirindukan untuk pulang, bercengrama dalam kehangatannya selalu dinanti-nantikan.

Bicara tentang kebahagiaan, menurut saya #BahagiadiRumah itu sederhana sekaligus mewah, tergantung bagaimana memandangnya. Sederhana karena bisa dimulai dari hal-hal kecil, saat ini juga. Mewah karena momen-momennya…yah, priceless. Rasa syukur juga amat penting. Saya jadi teringat petuah salah satu mantan atasan di kantor, bahwa bahagia itu harus dimulai dari diri sendiri, tidak perlu menunggu orang lain yang membuat kita bahagia. Dari sudut pandang saya selaku perempuan bekerja, tentu adakalanya kegamangan datang menyapa. Tulisan yang menyatakan nilai plus bagi anak-anak jika ibunya bekerja adalah salah satu yang jadi penyemangat. Tak hanya cukup di-doping semangat, saya juga butuh tips dan panduan seperti dimuat dalam artikel Pesan untuk Ibu Bekerja ini. Tentunya kebahagiaan bukan monopoli ibu bekerja, ibu rumah tangga juga berhak berbahagia dan bisa mewujudkannya di tengah kesibukan yang seolah tak ada habisnya. Dan sekali lagi, kalau perempuan sudah bahagia, akan lebih mudah baginya untuk menyebarkan energi positif ke seisi rumah.

dsc_5981.jpg