Hati-hati Mengisi Kuis di Facebook!

Siapa yang paling sering mengintip profil facebook Anda? Apa arti nama kita? Bagaimana karakter kita kalau dilihat dari wajah? Siapa sahabat terbaikmu kalau dilihat dari postingan facebook? Princess Disney mana yang paling mirip sama kamu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas memang biasanya mengundang rasa penasaran. Umumnya sih ada kontak facebok yang duluan memposting hasil yang ia peroleh, lalu kita tertarik ikut mencari tahu. Cukup dengan beberapa kali klik (atau tap), jawabannya sudah bisa diketahui. Nah, di antara sekian klik/tap tersebut, umumnya akan ada permintaan izin dari aplikasi ‘kuis’ untuk mengakses informasi tertentu di profil kita. Kalau kita menolak/klik tidak setuju, maka permintaan kita tidak bisa diproses lebih lanjut. Pertanyaannya sekarang, sebandingkah ‘kunci’ akses yang kita berikan dengan kepuasan mendapatkan ‘ramalan’ akan sifat atau teman kita?

Sebuah artikel di BBC (http://www.bbc.com/news/technology-34922029) mengingatkan akan perlunya berhati-hati. Walaupun pada artikel yang membuat tulisan di BBC tersebut dibuat (https://www.comparitech.com/blog/vpn-privacy/that-most-used-words-facebook-quiz-is-a-privacy-nightmare/) sudah disertakan tanggapan dari salah satu perusahaan yang membuat kuis yang dimaksud, bahwa data yang diambil tidak akan disimpan maupun digunakan untuk keperluan lain tanpa izin, tapi pesan-pesan di situ layak diresapi. Saya kutip di sini:

“Perilaku orang-orang terhadap privasi itu tidak tetap. Rumah kita pasangi tirai, tapi memakai fb dan google biasanya tanpa mengubah pengaturan privasi,” kata Dr Stuart Armstrong, peneliti dari Oxford University.

Yah, kalau dipikir-pikir kita mau install aplikasi android pun hampir selalu dimintai persetujuan akses terhadap buku telepon, galeri dsb-nya, ya. Dan karena memang kita sekarang susah jauh dari aplikasi tertentu yang sudah bagaikan bagian hidup sehari-hari, plus kalau dilogika pastinya aplikasi tersebut memang butuh akses untuk bisa menyimpan nomor telepon, mengunggah foto dll, akhirnya kita terima-terima aja.

Oh ya, sebelum lanjut lagi, ‘kuis’ yang dimaksud di sini maksudnya ya seperti disebutkan di awal tulisan. Kalau di majalah dulu biasanya diawali dengan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dihitung skornya dari jawaban, lalu bisa dilihat hasilnya berdasarkan skor tersebut. Bukan kuis berhadiah/kontes/giveaway, walaupun pernah juga saya menemukan ada kuis berhadiah yang mengharuskan peserta ‘memasang’ apps tertentu dalam fb, dengan persetujuan akses profil pula. Kuis berhadiah begini, apalagi jika penyelenggaranya bonafid, lazimnya rajin mencantumkan syarat dan ketentuan di awal (untuk mengurangi risiko efek hukum di kemudian hari), dan yang perlu digarisbawahi, dalam bahasa setempat, jadi lebih mudah dipahami pembacanya.

Trus, memangnya data kita bisa diapain, sih? Kok kayaknya parno banget, gitu. Well, kalau kata comparitech sih, “Companies who you have never met can now access your entire Facebook profile–friends, photos, statuses and all–and use them in ways you never directly agreed to. ”

Worth it nggak, tuh?

(astaga, kenapa saya jadi pakai bahasa campur-campur sih ya di sini ;D).

Serba-serbi “ASI Sedikit”

Sebagai salah satu emak rempong yang sok bantu-bantu di grup TATC, terus terang kadang kewalahan juga dengan postingan yang masuk. Banyak pertanyaan serupa yang berulang, yang jujur awalnya bikin gemes tapi lama-lama saya sadar juga bahwa mengikuti perkembangan ilmu di berbagai bidang sekaligus sebagai seorang ibu itu memang tidak terlalu mudah. Jadi ya tetap diusahakan jawab dengan baik.

Masalahnya, saya mengakses facebook hampir selalu melalui hape. Lumayan keriting juga jempol ngetik ulang begitu rupa, hehehe… Kalau soal repot ngetik ini masih mending sih, toh biarpun pakai sepuluh jari sama aja makan waktunya. Nah soal keterbatasan waktu ini juga yang jadi kendala. Postingan pertanyaan yang masuk kan banyak dan semuanya pasti menunggu jawaban. Jadi, agar menghemat waktu dan tenaga (tugas harian saya bukan hanya cek grup, kan), akhirnya saya meniru trik beberapa admin grup lain: bikin template jawaban di note ponsel. Cukup membantu alhamdulillah, apalagi saya sering menyertakan link sumber informasi. Buka ulang linknya biar bisa dikopi bahkan walaupun sudah dibookmark di hp lumayan makan waktu.

Maksud saya membiasakan nambahin tautan ini sih biar semua sama-sama belajar, supaya nggak sepenuhnya ‘kasih ikan’ melainkan juga kasih ‘kail’. Yang baca semoga jadi tertarik mempelajari lebih lanjut (mengenai topik berkenaan bahkan mungkin jadi klik-klik bahasan lain yang juga bermanfaat) dan yang dipelajari juga lebih ‘sahih’, bukan sekadar testimoni atau pemahaman yang didapatkan adalah “kata grup TATC begini nih…”. Saya pun ikutan belajar kalau ada yang mengoreksi atau menambahkan. Lagian saya kan memang belum ‘sah’ jadi konselor laktasi resmi (kapan ya bisa ikutan PKM, ambil cutinya itu yang rada sayang huhuhu…). Memang jadinya menjawab kopas-kopas begitu kayak agak kurang personal ya, tapi sementara ini cara tersebut menolong saya. Di dokumen grup juga bukannya tak ada sih materi FAQ alias pertanyaan yang sering masuk, tapi lagi-lagi alasan waktu agaknya bikin dokumen semacam itu kurang dilirik.

Menjawab pertanyaan seputar ASI yang dirasa sedikit, seret, atau tidak cukup:

Agar ASI bisa memenuhi kebutuhan bayi (tidak harus ‘banyak’ lho, tapi karena menurut cerita menyusuinya sempat tidak intensif maka memang perlu ditingkatkan) kuncinya satu: susui terus.
Paling efektif ASI dikeluarkan dengan isapan mulut bayi, tapi saat ini perlu juga meningkatkan produksi karena kadang bayi menolak karena alirannya sudah lebih lambat daripada dot yang biasa dipakai.

Continue reading

Sejarah Gelar S1 S2 S3 ASI

Istilah S1, S2, dan S3 ASI umumnya tidak asing di kalangan ibu menyusui. Titel ini diberikan untuk pencapaian menyusu eksklusif selama 6 bulan pertama (S1), ASI diteruskan hingga usia bayi setahun (S2), dan lanjut tetap mendapatkan ASI sampai umur anak 2 tahun (S3). Ada yang menambahkan sih, kalau sudah berhasil weaned alias disapih (sudah melalui masa WWL-weaning with love/disapih dengan cinta) setelah usia 2 tahun artinya berhak dapat gelar Profesor ASI.
Beredar juga template semacam sertifikat yang bisa diedit sendiri dengan penambahan nama dan foto anak sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Ada versi AIMI, ada juga versi komunitas lain seperti Tambah ASI Tambah Cinta atau TATC yang saya ikut aktif sebagai adminnya. Belakangan ada pula yang membuatkan sertifikat untuk ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang sudah mendukung kesuksesan pencapaian dalam pemberian ASI, agar semua yang berpartisipasi turut punya cendera mata.
Suatu hari ada member yang bertanya di grup TATC mengenai ‘gelar kesarjanaan’ ini. Saya jadi terpikir untuk mencari tahu lebih jauh, bukan sekadar menjawab menerangkan arti dari masing-masing gelar. Karena setahu saya yang pertama mempopulerkan adalah Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), jadi saya coba menelusuri mailing list atau milis asiforbaby di yahoogroups yang menjadi cikal bakal terbentuknya AIMI. Ternyata memang ada penjelasan dari wakil ketua sekaligus salah satu pendiri AIMI mengenai gelar tersebut.

Continue reading

Sehat Itu Mudah dan Murah

Penting banget, nih.

 

purnamawati's avatarBe Smarter Be Healthier

Purnamawati Sujud Pujiarto

Edisi 645 | 28 Jul 2008 |

Tamu kita Dr. Purnamawati Sujud Pujiarto akan menyampaikan pesan tentang bijak dalam penggunaan obat dan berkunjung ke dokter. Dia aktif mengkampanyekan bahwa sehat itu mudah dan murah melalui situs dan mailing list.

Menurut Purnamawati, kesehatan itu mudah dan murah, hanya kita saja membuatnya misterius. Jadi kelihatannya susah, complicated, rahasia, hanya dokter yang tahu. Dalam hal ini masyarakat hanya perlu cukup aktif mencari panduan untuk menjaga kesehatan dan menghadapi gangguan kesehatan. Panduan tersebut cukup banyak terdapat di situs-situs kesehatan termasuk di mailing list dan situs kesehatan yang dikelolanya.

Purnamawati mengatakan pasien juga harus berdaya karena yang memiliki tubuh adalah mereka sendiri. Jadi, saat ada gangguan kesehatan maka nomor satu yang harus dilakukan adalah bertanya kembali, sudah perlu atau belum ke dokter. Kedua, harus jelas tujuan ke dokter seperti, apakah mau tanya diagnosis? Ketiga, kalau dikasih obat jangan senang dan bangga…

View original post 2,609 more words

[Kliping] Batuk, Pneumonia dan Sesak Napas pada Anak

Awal masuk TK, Fathia malah batuk. Lumayan juga, dari yang tadinya sudah mendingan waktu mudik sepertinya ketularan lagi begitu kamu kembali. Karena sampai demam beberapa kali, jadinya Fathia harus nggak masuk sekolah selama tiga hari dalam dua minggu pertamanya bersekolah.
image

image

Dalam masa itu terus terang saya deg-degan ketika memantau hitung napasnya (selain juga asupan cairan). Soalnya sesak nafas merupakan salah satu tanda kegawatdaruratan, kan? Khawatir kalau ternyata pneumonia. Berikut dari Ayahbunda:

Sesak napas karena pneumonia beda dengan asma. Pada pneumonia, kesulitan napas terjadi pada saat anak menarik napas. Sedangkan pada asma, kesulitannya saat mengeluarkan napas, bahkan terkadang bunyi ngik-ngik atau mengi.
Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)
Usia anak    Napas Normal         Napas Cepat
0–2 bulan    30–50 per menit    > 60 per menit
2-12 bulan   25-40 per menit     > 50 per menit
1-5 tahun    20-30 per menit     > 40 per menit

Saya tetap kontak-kontakan sama dokternya, tentu. Dan buka-buka juga arsip milis sehat. Sekalian dikopi kemari biar gampang. Alhamdulillah sih, sudah berlalu. Tinggal PR balikin bb-nya yang sempat menyusut, huhuhu.

Dari arsip milis sehat bulan September 2013:

  • Dear Mba,

    Coba diperhatikan apakah napas cepat saja (yang umum terjadi kalau sedang demam) atau sesak napas? Coba pelajari ini:

    Definisi sesak napas:

    – tarikan otot-otot perut (sampe kalau napas tuh perutnya keliatan kembang kempis gitu)
    – tarikan otot-otot dada (sama juga kalau napas dadanya keliatan kembang kempis…bahasanya saya sampe keliatan “nekuk” ke dalam, mudah-mudahan bisa dibayangkan)
    – tarikan otot-otot leher
    – cuping hidung kembang-kempis

    Semakin ke atas semakin “parah” sesak napas ya (maksudnya kalau sudah sampe cuping hidungnya yang kembang kempis berarti sesak nafasnya bisa dikategorikan “parah”).

    Video Breathing Problems & Respiratory Distress
    Breathing difficulties:
    1. http://www.youtube.com/watch?v=GUkh1EGXvaE
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi terdengar jelas.

    2. http://www.youtube.com/watch?v=ZpGK8auKh0U&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak terdengar di videonya)

    3. http://www.youtube.com/watch?v=U-RfbrnMJZE&feature=related
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; kemungkinan ada mengi (nggak kedengeran di video-nya)

    Respiratory distress (derajatnya sudah lebih berat daripada breathing difficulties dalam ketiga video di atas):
    4. http://www.youtube.com/watch?v=pF_1wu4Q7wk
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas; mengi
    masih terdengar (ada juga suara lendir di tenggorokan).

    5. http://www.youtube.com/watch?v=sJLHiTaXrtc
    Retraksi dada; lekuk leher tertarik ke dalam kala menarik nafas;
    kemungkinan mengi sudah tidak ada (pada sesak napas berat atau repiratory
    distress, mengi malah sudah tidak ada lagi –lihat pocket guide GINA https://ginasthma.org/pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/).

    Anak sendiri apa lemas, tidak mau beraktivitas, makan minum sam sek? Berapa kali pipis dalam sehari?

    Bila Mba yakin sesak napas juga anak tidak mau makan minum dan menunjukkan tanda dehidrasi ya segera ke dokter.

    Mengenai pemberian paracetamol, pertimbangkan risk vs benefit Mba. Bisa dicoba dulu metoda membuat nyaman yang lain yang trik-triknya sudah buanyak banget di-share.

    HTH

    Your BFF-Breastfeeding Friend, F.B.Monika, @f_monika_b

    La Leche League (LLL) Leader of Roc, South NY,US

  • purnamawati.spak@…
    Sun, 05:44 PM
    Sesak (dyspnea) atau napas cepat (tachypnea)?
    Saat demam, napas pasti cepat.
    Kalau sesak, kan bukan sekedar frekuensi.
    Kedua, saat menghitung frekuensi napas, apakah anak sdg tidur? Ukur frek napas harus saat anak tidur.
    Apakah mungkin lebih dari sekedar common cold?
    Waktu ke IGD, diagnosisnya apa? Kok dinebul NaCl?
    Bukan pneumonia dong ya
    Bukan juga bronkiolitis

    Coba assessment nya diperbaiki

    Wati

    -patient’s safety first-

Yang ini email dr. Anto, Sp.A. Juli 2016

Pneumonia adalah diagnosis klinis, terdapat sesak napas yang ditandai dengan upaya peningkatan volume paru, gejala berupa retraksi atau cekungan dan peningkatan frekuensi napas.
Derajat pneumonia bisa ringan, sedang atau berat. Pada pneumonia terdapat peningkatan upaya pemenuhan kebutuhan oksigen dengan parameter obyektif saturasi oksigen. Bila kadar saturasi oksigen <92% maka perlu terapi oksigen atau bila saturasi >92% tetapi terdapat peningkatan upaya napas (frekuensi meningkat dan dada cekung) maka juga diperlukan oksigen.

Bagaimana penyebabnya?
Pneumonia bisa disebabkan virus atau bakteri bahkan jamur. Yang paling sering tentu virus atau bakteri. Bila gejal awal terdapat common cold maka mengarahkan kepada virus. Namun perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan, kenapa? karena tingkat kesakitan dan kematian pneumonia tinggi apalagi pada kelompok risiko tinggi (neonatus, bayi, gizi buruk, asma kronik, pemakaian steroid lama, penyakit jantung bawaan, gangguan sistem imunitas atau lansia)

Dari laboratorium dinilai adalah leukosit: secara umum 3-36 bulan, bila leukosit >15.000 maka mengarahkan kepada infeksi bakteri. Dilihat hitung jenis leukosit, bila peningkatan pada batang atau segmen maka mengarah kepada bakteri, sementara bila limfosit yang meningkat maka mengarah kepada virus.

Sementara pemeriksaan rontgen thoraks akan membantu: bila infiltrat (gambaran putih tampak pada satu lobus (bagian) paru maka mengarahkan kepada bakteri.

CRP merupakan protein reaktif akut yang meningkat pada proses peradangan, Peradangan dapat disebabkan oleh bakteri atau virus atau luka jaringan, jadi CRP membantu diagnosis, bukan standar emas. Standar emas adalah bilasan bronkus, tetapi ini tidak dilakukan rutin karena tingkat kesulitan dan manfaat dan risikonya.

Bila terdapat keraguan antara virus dan bakteri?
Bila terdapat fasilitas lengkap dan dapat diperiksa lengkap, secara umum bila didahului infeksi virus, tidak terdapat peningkatan leukosit, atau peningkatan pada limfosit saja, gambaran rontgen mendukung virus maka dapat diterapi sebagai pneumonia karena virus dengan pemantauan, dalam 48 jam bagaimana respons klinis, bila perburukan maka dilakukan evaluasi ulang.

Bila terdapat peningkatan leukosit, segmen atau batang, rontgen thoraks sesuai dengan bakteri maka diterapi antibiotik, dan pemantauan sama 48-72 jam harus memberikan respons perbaikan, bila tidak membaik maka perlu evaluasi ulang.

Kortikosteroid setahu saya tidak termasuk dalam tata laksana pneumonia (bisa cek di pneumonia guideline British Thoracic Society, atau IDSA)
semoga bisa membantu dan lekas sembuh.

salam,
-anto- (dr. Yulianto milis sehat)

Ada juga infografisnya lhoo…sila mampir ke blog Icha ini.

 

Catatan tambahan terkait salah satu obat batuk yang biasa digunakan (ambroxol): http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2016/04/SURAT-KE-IDI-DAN-DDL-B-POM.pdf

Cerita Nama Fathia dalam Buku

Mbak Dewi Rieka atau biasa dipanggil mbak Dedew adalah penulis produktif sekaligus blogger yang saya kenal sejak kami sama-sama menjadi anggota milis pembaca majalah Cita Cinta, sekitar sepuluh tahun yang lalu.  Lantas kami pun cukup aktif ngeblog di Multiply. Kini Mbak Dedew makin moncer saja karier menulisnya (tahu seri Anak Kos Dodol yang salah satunya sudah difilmkan, kan?), saya mah masih begini-begini saja, hehehe. Pada suatu hari (ah, saya mencoba menghindari kata ini tapi kok ya susah) mbak Dedew menghubungi saya menanyakan kisah penamaan putri pertama saya dan suami. Berceritalah saya, yang sedang hamil Fahira, melalui pesan singkat.

Continue reading

Ethica, Brand Fashion Muslim Pilihan Keluarga

Saya ‘mengaduk’ tumpukan baju di lemari. Aduh, benar dugaan saya. Baju suami yang satu itu tertinggal di rumah orangtua kami, entah yang di Solo atau di Pati. Saya lupa memperhitungkan kemungkinan ini ketika memesan gamis untuk kedua putri kami, yang warnanya disesuaikan dengan baju yang sudah saya dan suami miliki. Cita-cita bikin foto keluarga dengan busana senada terancam gagal.

Sejujurnya saya tidak terlalu mengikuti tren fashion muslim. Apalagi dulu. Sekarang sudah agak mending sih, walaupun tak sampai memaksakan ikut gaya yang ‘bukan saya banget’.

Kini saya lebih suka jilbab, pashmina, atau khimar yang longgar, menutup dada hingga bagian belakang. Bukaan depan baik berupa ritsleting/zipper atau kancing pada gamis, dress, blus, atau kaos agar nursing friendly karena status saya sebagai busui juga diutamakan. Alhamdulillah makin banyak penjual yang otomatis mencantumkan keterangan seperti ini di galeri produknya.

Bagi saya, tampil trendi ala hijabers tetap harus mempertimbangkan faktor kenyamanan dan kecocokan. Bahan, potongan, warna, semuanya menjadi penting. Plus harga, tentu saja, hehehe. Nah, untuk hal-hal seperti ini sebetulnya lebih pas kalau membeli langsung, ya, bisa melihat, menerawang, meraba… Hahaha, seperti memeriksa uang asli atau palsu saja, ya?

Namun, busana muslimah memang harus memenuhi beberapa syarat. Di antaranya tidak menerawang karena berisiko menampakkan aurat, dan bahannya harus yang nyaman agar pemakai betah mengenakannya untuk beraktivitas termasuk di luar ruangan. Ada pula kemungkinan perbedaan warna di layar akibat pencahayaan. Jadi, sebenarnya belanja ke toko atau pasar akan lebih memuaskan. Bahkan kalau memungkinkan, menjahitkan bahan akan lebih pas khususnya dari segi ukuran.

Sayangnya, seringkali waktu menjadi kendala. Saya sebagai ibu bekerja terus terang sekarang hampir selalu mengandalkan internet untuk berbelanja, termasuk belanja fashion muslim. Kalaupun tidak melalui online shop, ya ke teman atau tetangga yang karena sulitnya menyamakan jadwal juga tetap kirim-kirim katalognya lewat whatsapp misalnya, setelah deal baru deh ketemuan.

Nah, memilih baju dari katalog melalui browsing website maupun kiriman ini tetap saja agak lama, apalagi kalau yang dibeli lebih dari satu. Misalnya saat hendak membelikan baju untuk seluruh anggota keluarga. Adakalanya saya melihat baju anak yang ‘lucu’ buat kakak lalu terpikir bahwa kebetulan saya dan suami punya baju yang senada. Ujung-ujungnya beli yang dilihat lalu harus mencari lagi yang mirip untuk dedek. Lalu setelah tiga-tiganya ada, baru gedabrukan mencari baju suami yang perasaan ada tapi entah di mana.

HAFA-20-297x297 putihTampil dengan baju keluarga yang serasi memang kesannya enak dilihat. Jika diabadikan dalam bentuk foto pun tampak kompak, agar terpancar semangat happy family yang semoga terwujud dalam bentuk keluarga sakinah mawaddah warohmah yang sesungguhnya. Yang jadi pe-er–khususnya bagi ibu-ibu yang jadi penata gaya, pengelola jadwal kegiatan, sekaligus manajer keuangan keluarga– adalah mencari apa yang hendak dipakai.

Adanya kebetulan dan keberuntungan saat berburu secara dadakan bisa saja terjadi, tapi belanja terencana tentu lebih afdol. Apalagi kalau pilihan baju kompakannya sudah ‘tinggal tunjuk’ alias dipaket seperti yang disediakan oleh Ethica. Waktu yang diperlukan untuk memilah dan menentukan mana yang hendak dibeli jadi lebih hemat.

Merk ini awalnya saya kenal dari sebuah majalah wanita yang rutin diantar oleh loper koran ke meja kantor. Rupanya dulu nama yang HAFA-19 denimdipakai adalah Salsa, sebelum diubah menjadi Ethica. Tadinya sih saya amati produknya lebih banyak untuk anak dan remaja ya, tapi ternyata ada baju keluarganya juga, lho, dalam seri Hafa alias #HAppyFAmilyByEthica.

Koleksinya bisa diintip di website. Bahan yang dipakai seperti kaos pilihan dan katun mengakomodir kebutuhan akan material yang menyerap keringat dan luwes mengikuti gerakan, sesuai untuk iklim tropis.

Saya paling ‘jatuh cinta’ dengan model HAFA-20 yang terkesan bersih. Cocok untuk suasana bulan Syawal di mana seringkali ada kegiatan halal bihalal dengan dress code putih, atau event lain yang bernapas keagamaan atau semi-formal.

Sedangkan untuk kesempatan yang lebih santai saya rasa HAFA-19 bisa menjadi pilihan tepat. Model lain yaitu HAFA-23 dengan warna favorit saya, ungu, membuat saya sadar bahwa tampilan baju keluarga tak melulu harus dengan bahan yang persis, kombinasi bahan lain sesuai dengan karakter dan usia masing-masing juga bisa menyenangkan dipandang.

Contohnya, motif bunga nan ceria untuk ibu dan anak perempuan dan motif garis yang menghiasi baju koko atau kemeja untuk ayah dan anak laki-laki, keduanya dalam satu tone warna. Oh ya, sarimbit khusus untuk pasangan saja juga bisa, lho.

HAFA-23-REVISI-WARNA-KAGUMI-13Yang saya suka juga, web resmi Ethica mencantumkan dengan komplet size pack untuk tiap jenis produknya. Ini penting karena patokan ukuran bisa jadi berbeda, dan memakai pakaian dengan ukuran yang tidak pas bisa mengurangi kenyamanan. Harga produk pun tercantum dengan jelas, jadi hitung-hitungan dapat segera dilaksanakan dan keputusan membeli bisa lebih cepat diambil (emak-emak banget, ya, hehehe).

Sistem penjualan dengan agen menurut saya punya nilai plus memudahkan calon pembeli mencari yang terdekat untuk menghemat ongkos kirim, siapa tahu bisa sekalian silaturahim dan memilih langsung jika ada stok, sekaligus membantu menggerakkan perekonomian masyarakat. Testimoni di situsnya juga membuat pengunjung lebih yakin akan kualitas dan keandalan Ethica.

Variasi warna dan motif yang beragam bisa disesuaikan dengan kesukaan tiap anggota keluarga atau tema acara yang hendak dihadiri. Produsen sekelas Ethica tentunya juga akan melakukan pemotretan dengan baik sehingga ketika barang sampai tidak mengecewakan akibat beda warna dengan ekspektasi misalnya. Pas banget lah jika Ethica dijadikan merk baju pilihan keluarga.

Mengkaji Bacaan Anak Bilingual

Tulisan Teh Ary Nilandari atau di grup forum penulis bacaan anak sering dipanggil Bunda Peri ini menjawab kegelisahan saya. Sebelum punya anak, saya sudah membeli beberapa buku anak bilingual tapi terus terang tidak terlalu peduli soal alih bahasanya, karena biasanya saya lebih mengincar isinya yang menarik atau informatif,  ilustrasinya yang keren, atau karena memang suka dengan karya-karya penulisnya (ngeblog di Multiply dulu membuat saya ‘kenal’ banyak penulis bacaan anak). Belakangan setelah punya anak dan saya sendiri lebih banyak terpapar materi yang asli berbahasa Inggris, begitu baca beberapa buku anak bilingual saya jadi mengerutkan kening. Ada saja terjemahan yang kurang pas, entah terlalu baku, tidak taat tata bahasa, atau malah salah sekalian. Ini umumnya terjadi pada buku karya penulis dalam negeri yang memang dikhususkan terbit dalam bentuk dwibahasa, bukan buku terjemahan. Bahasa Inggris yang saya kuasai juga pas-pasan, sih. Tapi seperti yang sering saya sampaikan pada teman-teman yang bertanya kenapa skor TOEFL saya bisa segitu, sering muncul perasaan tidak nyaman kalau ada yang salah saat membaca. Belum tentu juga saya tahu persis koreksinya seharusnya bagaimana, sih, hehehe. Saya masih harus buka primbon dulu kalau soal itu…dan dari melakukan hal-hal seperti inilah saya memang sebetulnya banyak belajar.

Karena saya belajar bahasa Inggris dengan cara seperti ini (seringnya tidak mengkhususkan diri, sambil jalan saja), saya jadi membayangkan bagaimana kalau anak-anak yang baru belajar bahasa asing sudah diberi contoh yang kurang tepat. Dari pengalaman dan pengamatan saya, apa yang diketahui atau dibaca anak sejak dini, apalagi kalau berulang-ulang (anak suka kan ya minta dibacakan sebuah buku berkali-kali) akan menjadi patokan baginya, terbawa sampai besar (kecuali kalau ada yang membetulkan kemudian…itu pun kadang pakai ‘berantem’ pada awalnya, mungkin :), karena telanjur mengakar). Saya sampai berniat menyembunyikan beberapa buku anak bilingual yang telanjur dibeli karena grammar-nya keliru. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak perlu seekstrem itu juga mungkin, ya. Bisa saja saya beri catatan khusus, toh isi ceritanya sendiri bagus dan mendidik. Apalagi saat ini sebenarnya anak-anak saya belum ada yang bisa baca, hahaha.

Saya kutip dari tulisan teh Ary:

Karena kata dua pakar:

Anak-anak TK dan SD kelas rendah sebaiknya diberi bacaan yang berbahasa Inggris saja. ‘Bahaya’ bacaan bilingual adalah mereka bisa mendapatkan informasi yang salah, jika kedua bahasa tidak diperhatikan dengan baik.” (DR. Murti Bunanta SS, MA. Spesialis Sastra Anak, Ketua Kelompok Pencinta Bacaan Anak)

“Bacaan bilingual sebagai bahan pelajaran bahasa Inggris untuk anak adalah konsep yang keliru, karena dimulai dengan tahap tersulit, yaitu menerjemahkan. Ditambah kesalahan penerjemahan dan kosa kata yang tidak sesuai, bacaan bilingual semakin tidak efektif.” (Nasti M. Reksodiputro, M.A. Mantan dosen bahasa Inggris,  kepala Pusat Bahasa Universitas Indonesia, Pendiri Yayasan Pustaka Kelana)

Ary Nilandari's avatarMy World of Words

Bacaan Anak Bilingual: Tekstual dan Visual 

Handout Ary Nilandari untuk workshop Editor Buku Anak dengan IKAPI DKI Jakarta, 4-5 Juni 2013, Perpustakaan Nasional Jakarta

Dalam dasawarsa terakhir, bilingual seakan menjadi keharusan dalam menerbitkan bacaan anak di Indonesia. Bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin dipasangkan dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena yang paling sering adalah bahasa Inggris, untuk selanjutnya, bilingual yang dimaksud adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Motif mem-bilingual-kan bacaan anak sangat beragam. Antara lain:

  1. Memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia
  2. Memberi nilai tambah pada bacaan anak.
  3. Merespons kebutuhan orangtua untuk membantu anak-anak belajar bahasa Inggris.
  4. Menjangkau pasar lebih luas, yaitu anak-anak warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan anak-anak Indonesia yang tinggal di negara-negara berbahasa Inggris.
  5. Memudahkan penjualan copyright ke mancanegara.
  6. Dan diharapkan meraup keuntungan lebih banyak ketimbang buku monolingual

Apapun alasannya, tentu saja mendwibahasakan bacaan anak harus melalui kontrol kualitas ganda, dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Bilingual bukan sekadar proses pengalihan…

View original post 872 more words

Bukan Sakura dalam Pelukan

Bukan, saya memang bukan mau membahas lagu Fariz RM yang belakangan dipopulerkan kembali oleh Rossa kemudian karena masuk dalam CD kompilasi yang diedarkan oleh kantor pusat (saya tidak tahu siapa yang menyanyikan versi yang ini) jadi sering diputar di kantor….

SAMSUNG DIGIMAX A403

Ceritanya, beberapa tahun yang lalu seorang teman sesama pengguna Multiply (penyedia layanan blogging semi-media sosial yang sudah ditutup) memposting soal bunga-yang-sering-dikira-sakura ini. Saya lupa-lupa ingat sih bahasan utamanya waktu itu apa, tapi yang jelas waktu itu mbak Lessy yang lincah ini sedang berada di Jepang dan bercerita mengenai bunga sarusuberi. Melihat foto yang dipasang, saya jadi ingat pohon bunga serupa di rumah orangtua. Ya, selama ini kami tahunya pohon itu namanya pohon (bunga) sakura. Padahal sarusuberi dan sakura adalah dua bunga yang berbeda.

Tahun demi tahun berlalu dan saya sudah lupa nama sesungguhnya yang pernah diceritakan oleh mbak Lessy. Kemudian di pameran Flora-Fauna (Flona) di Lapangan Banteng saya melihat pohon bunga ini dijual dengan papan nama bunga sakura. Karena tidak berhasil mengingat nama asli yang pernah disebutkan itu, saya pun googling sambil bertanya juga ke mbak Lessy via facebook. Jadinya saya malah menemukan bahwa pohon bunga ini punya ‘nama Indonesia’ yang jauh lebih populer: bungur kecil. Nama Inggrisnya sih crape myrtle, sedangkan nama latinnya adalah Lagerstroemia indica L. Beberapa bagian dari tanaman sarusuberi juga ternyata dimanfaatkan orang sebagai obat-obatan, selengkapnya bisa dibaca di sini (walaupun kalau saya juga tidak berani coba-coba sendiri, hehehe).

Blog hasil pencarian saya ini memberikan informasi bahwa berbeda dengan bunga sakura alias cherry blossom yang mekar pada bulan April, sarusuberi akan berbunga pada bulan Agustus. Wah, sebentar lagi dong ya. Pantas saja waktu saya minta tolong adik memfotokan di bulan puasa dia bilang “Lagi ora kembang”. Untungnya ketika buka-buka folder lama masih ada foto di atas.

Masuk Majalah!

Sedikit nostalgia peristiwa lama karena waktu itu belum sempat diposting di blog. Tanggal 29 Agustus tahun lalu untuk pertama kalinya saya ikut gathering anggota grup pendukung ASI TATC (Tambah ASI Tambah Cinta) yang kali itu diselenggarakan di RS Meilia Cibubur. Sekalian seminar keluarga terkait ASI dan postpartum depression sih ceritanya. Nah, sebelum acara dimulai, Mba Wynanda, kreator dan admin grup tersebut sempat bilang bahwa nanti akan ada peliput dari majalah Mother & Baby Indonesia yang wawancara untuk masuk rubrik komunitas. Benar saja, ketika break acara saya dimintai pendapat mengenai TATC dan menyusui oleh perwakilan majalah tersebut.

Selesai rangkaian seminar, kami berempat yang diwawancarai (dua admin dan dua member yang hadir) diambil gambarnya bersama anak-anak. Sayang kedua putri mba Wynanda tidak bisa ikut berfoto, Kirana masih dirawat di RS sedangkan kakaknya Kasih sedang bersama eyang keluar ruangan. Kemudian kami diberi informasi bahwa liputan komunitas ini akan dimuat dalam majalah edisi dua bulan yang akan datang. Dan inilah hasilnya, yang tepatnya dimuat di rubrik Mum’s Club edisi Oktober 2015 (versi digital bisa dilihat di http://www.pressreader.com/Indonesia/mother-baby-indonesia/20151001/textview).

MnB