Sunpride, Kawan Menjalani Ramadhan Sehat

“Pola makan untuk ibu menyusui yang hendak menjalankan ibadah puasa sebetulnya tidak terlalu spesial, hanya pengaturan waktunya yang berubah.”

Demikian pernyataan dari beberapa konselor laktasi yang pernah saya baca. Artinya, makan seperti biasa dengan penyesuaian jam makan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu yang berpuasa maupun bayi yang masih disusuinya. Tidak perlu sampai melipatgandakan porsi, dan kalau mau mengkonsumsi suplemen khusus pun harus sesuai dengan indikasi.

Namun, di sisi lain, bulan puasa juga sekaligus bisa menjadi momentum perbaikan kebiasaan makan. Umumnya di bulan puasa orang merasa perlu memperhatikan asupan gizi lebih dari biasanya. Meski tidak makan dan minum dari subuh hingga maghrib, aktivitas sehari-hari harus jalan terus. Upaya meningkatkan ketakwaan dengan menambah ibadah khusus harian juga tentunya membutuhkan sokongan stamina yang prima.
image

Beberapa tips yang saya baca untuk membantu tubuh tetap fit dengan perubahan jam makan (dan seringkali juga jam tidur) pada umumnya mengingatkan untuk menjaga kecukupan cairan. Jelas, ini penting karena dehidrasi bakal menjadi hal yang tidak menyenangkan di saat kita berpacu memperbanyak amalan baik di bulan penuh berkah. Tips lain yang biasa dibagikan adalah makan dengan gizi seimbang. Nah, apa sih makan gizi seimbang ini?

Continue reading

Menyamarkan Alamat E-Mail

Sekitar dua minggu yang lalu pihak Tabloid Nova menghubungi saya melalui kolom komentar blog, meminta alamat e-mail saya. Tulisan saya dinyatakan sebagai salah satu pemenang blog competition dalam rangka ulang tahun Tabloid Nova yang ke-28. Saya sempat maju-mundur hendak membalas dengan langsung mengetikkan alamat e-mail saya apa adanya di kolom komentar. Soalnya, saya ingat bahwa hal tersebut bisa berisiko alamat e-mail kita jadi ditangkap oleh pihak-pihak yang punya niat tidak baik, lalu digunakan untuk mengirimi kita e-mail sampah atau penipuan.

Salah satu trik yang biasanya dianggap paling praktis dilakukan demi mencegah inbox kita diberondong e-mail gak jelas adalah dengan menyisipkan kata-kata sebagai pengganti tanda baca. Diharapkan web-crawlers (ini terjemahannya yang pas apa sih, hahaha) akan terkelabui dan menganggap kata-kata tersebut bukanlah alamat e-mail yang bisa ‘dipanen’. Namun, apakah sekarang cara tersebut masih efektif?

Pencarian saya membawa ke sini https://www.quora.com/Is-writing-out-the-at-in-email-addresses-effective-to-prevent-spam

That advice was once good, but anti-spam measures have advanced a lot since.

  • we now have massive  public blacklists of known spammer IP addresses to prevent spam being delivered in the first place
  • we have SPF domain name records which allow a website to indicate exactly what servers are allowed to send mail for it, to avoid spoofing
  • mailservers have more memory, and can remember senders that they have seen before recently. If they haven’t seen a sender before, they can “greylist” it by rejecting the connection temporarily. If the sender behaves properly, it should try again in a few minutes and the mailserver will accept the next connection. A spammer sending bulk mail is unlikely to retry sending the message.
  • heuristic spam filtering is much better at filtering spammy messages based on the content and other signals

These days, as long as the mailserver is configured correctly, the impact of spam is a lot lower. You also have to consider that “name at domain dot com” is inconvenient to users who could otherwise click on a mailto link to start a new e-mail without having to type or correct the address in manually. Ultimately, you have to decide if the inconvenience to your users is a bigger pain than receiving spam.

Fortunately, there are some methods that can prevent the stupidest web-crawlers without affecting human users. For example, use HTML entities in the e-mail text or link

    link href: mailto:contact@example.org

    link text: contact@

Serba-serbi MPASI dari Grup HHBF

Disclaimer: tulisan ini disusun berdasarkan rekomendasi pada saat itu (maka dari itu saya sebutkan sumbernya juga agar dapat langsung dicek). Semoga dapat memberikan wawasan bahwa memang ilmu terus berkembang dan akses terhadap informasi pun makin luas sehingga bisa jadi apa yang direkomendasikan dahulu berbeda dengan sekarang.

=======

Melengkapi bahasan MPASI dari AIMI yang sebagian klipingnya pernah saya posting dulu (bisa dibaca di sini https://ceritaleila.wordpress.com/2014/12/05/serba-serbi-mpasi-dari-grup-aimi/), berikut yang dari grup Homemade Healthy Baby Food ya…

Amanda Pingkan Wulandari Pratama Jika anak sembelit, evaluasi komposisi asupan menunya.

* apakah makan lengkap 4 bintang?
* apakah sudah diberi lemak tambahan ?
* apa selingan buahnya ?
* bagaimana tekstur dan porsi makannya ?
* bagaimana asupan asi dan air putihnya ?

MENU 4 bintang yaitu terdiri dari :
🌟Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga). Selain nasi, ada kentang, ubi, singkong, labu kuning, jagung, oat, pasta, bihun, mie, roti.
🌟🌟 Sumber hewani; sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk), dapat diberikan sesering mungkin. Aneka ikan air tawar, ikan laut, daging ayam, sapi, kambing (termasuk otak, ati), telur
🌟🌟🌟 Kacang-kacangan dan olahannya sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur). Ada kacang hijau, kacang merah, kacang polong, kacang kedelai, kacang tolo, edamame, kecambah (toge), buncis, tahu, tempe.
🌟🌟🌟🌟 Aneka buah dan sayuran berwarna hijau dan jingga yang kaya vitamin A (memenuhi fungsi zat pengatur).

Penunjang yang wajib ada yaitu sumber lemak tambahan (minyak/mentega/margarin/santan — boleh dan dianjurkan dikenalkan sejak usia 6 bulan ) untuk menambah nilai kalori makanan (bisa untuk membantu boost BB), sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K; menambah rasa gurih alami makanan serta untuk membantu melancarkan pencernaan.

 

Tentang komposisi makanan yang baik sudah pernah diposting di wall, pembahasan sembelit ada di file grup 🙂

Ol hp, buka fb via browser atau opera mini, masuk ke grup, scroll ke bawah, klik photos untuk ke album foto grups atau klik files untuk dokumen grup.

Yang ol hp fb aplikasi, masuk ke grup, klik tanda i di bawah foto cover grup, klik photos untuk ke album foto grups atau klik files untuk dokumen grup.

Untuk buka link, ol hp buka fb via browser atau opera mini.

Komposisi Makanan Ideal
https://m.facebook.com/groups/208836479136874?view=permalink&id=987647997922381&refid=18&_ft_

Sembelit Bayi Mpasi
https://m.facebook.com/groups/208836479136874?view=permalink&id=209212342432621&refid=18&_ft_

Saat sembelit jangan buru-buru panik ngasih anak buah atau sayur biar lancar BAB.

Bukan sekedar lengkap 4 bintangnya, tapi perlu dievaluasi juga :
* bagaimana komposisinya…apakah sayuran melebihi protein ? Bayi dan anak butuh serat, tapi cukup sedikit. Bayi dan anak butuh banyak protein dan lemak. Jika porsi sayur berlebih, kurangi sayur, perbanyak protein dan lemak tambahan.
* apa saja variasi lemak tambahannya? Apa hanya dikasih kaldu saja? Kenalkan minyak dan juga santan misalnya
* apa saja variasi buahnya? Apakah sering diberi pisang dan pepaya? Saat sembelit dijejali pepaya dan pisang justru makin sembelit. Imbangi dengan buah yang kandungan air (pir, buah naga, jeruk, semangka, melon) atau buah kaya kandungan lemak
* bagaimana asupan asi dan air putihnya? Cukupkah?
* apakah sering diberi oat/jagung/beras merah/beras hitam? Bahan karbohidrat ini tinggi serat.
* seberapa banyak porsinya? Porsi terlalu banyak pun bisa menyebabkan sembelit.
* apakah naik tekstur terlalu cepat? Perpindahan drastis dari lembut ke kasar pun bikin sembelit.
* terkadang sembelit bisa juga indikasi tidak cocok makanan tertentu

Continue reading

Muntah dan Diare yang Menyeramkan

Selain sariawan, satu lagi penyakit anak yang saya takuti adalah diare. Bagaimana tidak, Fathia sehari-hari saja masih butuh trik untuk bisa makan dengan baik, kalau diare kan lebih perlu perjuangan lagi. Tiga tahun pertamanya alhamdulillah terlewati tanpa infeksi pencernaan yang konon menjadi penyakit langganan anak-anak ini. Tapi November 2015 saya ‘dipaksa’ membuka dan membaca lagi dengan lebih saksama segala bekal terkait diare dan muntah atau gastroenteritis ini.

img_20160704_194310.jpg

Kasus yang ini lebih banyak muntah, sih. Diare hanya datang di dua hari terakhir, itu pun ‘hanya’ dua-tiga kali dalam sehari dengan konsistensi pup yang agak encer, tidak benar-benar cair (lebaran kemarin barulah kejadian yang betul-betul nyaris hanya air, tapi alhamdulillah juga tak sampai 5x/hari dan tidak tiap hari dalam satu minggu). Muntah ini sebetulnya tantangan juga karena harus berlomba dengan upaya rehidrasi. Jangan sampai anak kekurangan cairan, kan? Saat itu saya masih menggunakan oralit/cairan rehidrasi oral dalam bentuk bubuk yang dilarutkan dalam air, kalau CRO siap minum (untuk anak, ada merk Pedialyte) baru kami coba saat kejadian waktu mudik. Selama bisa beli, ya pilih pakai oralit/pharolit/sejenisnya yang takaran komposisinya sudah pas, larutan gula garam hanya untuk kondisi darurat.

Continue reading

Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.

Repost tulisan dari https://inineracauan.wordpress.com/ yang bagus menurut saya, walau telat bacanya tapi sukses bikin saya jadi ikut merenung, belajar, sedih…. Saya menggarisbawahi yang ini:

Para youtuber atau selebgram yang berani posting segala macem adalah orang yang (harusnya) berprinsip, tau batasnya sharing dan show off, tau kapan harus stop, dan tau gimana caranya tutup mata dan tutup mulut. Ketika kamu jadi sosok yang dilihat semua orang, everyone judges, because you let them to. Dan dalam kasus awkarin ini, aneh rasanya ketika dia playing victim, sedangkan dia sendiri yang mempertontonkan kehidupannya ke semua orang. Dan ketika dia mulai dapat keuntungan dari situ, dia ga lebih dari sekadar pekerja. Don’t play victim, honey, because you pull the trigger – we all just stand by here and watch.


Bukan untuk membenarkan bullying, ya. Hanya saja, memang jadi pengingat buat diri sendiri juga, harus lebih hati-hati dengan tingkah laku, terutama di era gencarnya media sosial sekarang (karena terus terang belum bisa benar-benar tidak menggunakan, toh masih banyak manfaatnya).

Oh, dan tentu saja yang jadi pusat perhatian saya juga adalah soal bagaimana Karin memberi pengaruh :(. Tulisan guru bahasa Inggris di bagian bawah (di versi viralnya jarang diikutkan) menjadi contoh nyata….

Bahwa adalah tugas ortu untuk membentengi anak-anaknya (karena ada yang komen “jangan salahin yang kasih pengaruh, dong!”), ya iyalah memang. Justru karena adanya kepedulian dan biar bisa jadi bekal untuk membentengi makanya tulisan seperti ini banyak di-share, biar bisa digali kan penyebabnya, diprediksi arahnya, dicari penangkalnya (mungkin selama ini belum mengenalkan anak ke idola yang lebih baik dengan anggapan yang kayak gitu juga bakal nemu dengan sendirinya), ortu bisa menyesuaikan pendekatan dan milih kata-kata yang lebih tepat dst. Bukan dengan maksud melimpahkan seluruh kesalahan ke ‘benda’ bernama media sosial, kok.

Tulisan lain terkait hal ini ada di Femina http://www.femina.co.id/trending-topic/fenomena-karin-awkarin-novilda-dan-generasi-swag-inilah-7-alasan-kenapa-para-orang-tua-harus-cemas-.

Yang ini sudut pandang lain dari mami Ubii yang menyatakan pernah segaul Karin dulu, kemudian mengupas apa yang mungkin menjadi akar masalahnya, plus surat terbuka yang semoga dibaca oleh Karin ya http://www.gracemelia.com/2016/07/catatan-untuk-para-orangtua-dulu-saya-pernah-menjadi-karin-novilda.html.

Memanjakan Diri di Salon Haura Muslimah

“Yang ada sepedanya itu ya, Bunda?” dengan mata berbinar putri saya menyambut tawaran yang saya lontarkan. Rambutnya memang semakin panjang, dan menurut kami, dengan persetujuannya juga meski ia pernah melontarkan keinginan memanjangkan rambut (“biar seperti princess“), lebih baik di awal masa sekolahnya ini rambutnya dipotong pendek dulu.

Berhubung saya khawatir tidak cukup kompeten memotong rambutnya sendiri, salon menjadi pilihan saya. Dan hanya satu nama salon yang terlintas, yaitu Haura Salon Muslimah.

Continue reading

Kenangan Kalender Abadi

Sepasang muda-mudi menyetop angkot yang saya tumpangi sore itu di Jatinegara. Mereka naik dengan membawa serta sebuah kardus berukuran besar. Meski bisa saja isinya adalah barang kulakan, alat rumah tangga atau yang lain lagi, saya menerawang (ngasal, maksudnya) bahwa yang mereka angkut itu adalah suvenir nikahan. Lokasinya pas, sih (walaupun Pasar Jatinegara juga terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan perlengkapan rumah tangga).

Sepuluh tahun yang lalu saya pun berbelanja cendera mata untuk resepsi pernikahan kami di lantai dasar Pasar Mester Jatinegara. Saya memperoleh info tempat penjualan ini dari forum Weddingku yang beralamat di http://discussion.weddingku.com/. Forum ini masih eksis tapi saya tidak berhasil menemukan arsip diskusi yang lama. Melalui Weddingku pula saya mendapatkan gambaran mengenai alternatif souvenir yang bisa dibeli berikut harganya. Pilihan saya jatuh ke kalender abadi, harganya tahun 2006 masih di bawah Rp5.000/pc (lupa persisnya, mungkin Rp3.500 ya). Intinya sih pengin cari tanda mata yang unik sekaligus bermanfaat bagi para tamu, meskipun kalau dipikir-pikir sekarang apa ya ada orang yang masih serajin adik saya di Solo sana mengganti angka kalendernya setiap hari :D.

img_20160630_104312.jpg

Berhubung hasil googling menyiratkan bahwa suvenir yang nyata-nyata menampilkan tulisan nama yang jelas akan kurang terpakai, jadi saya sengaja tidak memesan grafir/tambahan tulisan nama pengantin. Cukup diselipkan saja kertas dengan tulisan itu (pesan sekalian di tempat pembuatan undangan). Agak nyesel sih sekarang, sepertinya kan se-nggak mau-nggak maunya orang juga bakal tetap dipakai ya, minimal sebagai pajangan. karena dalam jumlah besar tentu tidak bisa langsung hari itu juga tersedia ya suvenirnya, jadi saya bolak-balik ke sana, pertama untuk berburu, deal, dan memesan (ditemani adik kelas di kampus), kedua untuk mengambil pesanan (ditemani sepupu). Dulu rasanya Jatinegara itu jauuuh banget dari Bintaro, pakai acara muter-muter pula karena naik kendaraan umum. Pulangnya, karena harus membawa dua kardus besar, saya pilih naik taksi yang ongkosnya juga lumayan (artinya sih memang jauh ya, bukan hanya perasaan saya saja). Eh, sekarang malah lewat pasar itu setiap hari, hahaha.

[Kliping] Pembatasan Televisi di Rumah

Tulisan dari Abah Ihsan (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, page fb @abahihsanofficial) di bawah ini kemarin lewat di news feed Facebook saya. Saya jadi teringat untuk menghitung hari. Terhitung sampai akhir bulan Juli ini kami telah delapan bulan menyingkirkan televisi. Nggak total banget, sih. Televisi cuma diungsikan ke lantai dua, tempat yang jarang banget dijangkau anak-anak.

Sekali dua, kami masih menyempatkan nonton khususnya jika sedang ada liputan atau ulasan bagus yang informasinya kami peroleh sebelumnya. Beberapa kali anak-anak juga kami ajak ke atas (biasanya sambil salah satu di antara kami beberes) dan akhirnya TV dinyalakan, tapi belum tentu dua bulan sekali kami melakukannya. Kami juga masih belum berniat benar-benar mensterilkan anak-anak dari televisi, apalagi di tempat saudara atau tetangga ketika kami berkunjung. Lebih-lebih di tempat umum. Ya, saya sempat membaca bahwa salah satu tips ayah Musa sang hafidz Al Qur’an ternyata termasuk meminta kepada tuan rumah untuk mematikan TV jika kebetulan sedang disetel.

Continue reading

New Es Krim Tentrem, Nikmat Disantap dan Cantik Dipandang

Beberapa hari setelah idul fitri, sepupu yang sedang mudik (seperti juga saya) menyatakan keinginannya untuk mencicipi es krim Tentrem. Wah, saya jadi ikut kepengin. Yang saya dan mama tahu, es krim ini adanya di Plaza Singosaren lantai dasar, jadi meluncurlah kami ke sana. Dulu, kalau sedang ke Singosaren (yang terkenal karena ada Matahari-nya saat belum banyak department store di Solo), membeli es krim ini jadi semacam agenda khusus yang istimewa. Nggak sering sih memang, karena saya dan adik tidak dibiasakan jajan, bahkan di tempat yang punya nama macam itu.

Sampai ke Singosaren, ternyata gerai Tentrem di sana sudah digantikan oleh penjual ponsel (kalau tidak salah). Di Solo Grand Mall seingat saya ada kafenya, tapi membayangkan parkirnya jadi agak malas, waktu juga beranjak kian malam. Maka saya bertanya ke mbak-mbak yang ada di situ dan dijawab bahwa sudah pindah ke Ngarsopuran. Meluncurlan mobil yang dikemudikan adik saya ke sana, tepatnya Jl Brigjen Slamet Riyadi No. 132, Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Langit mendung dan restoran New Es Krim Tentrem ini sebetulnya beberapa puluh menit lagi tutup (tertulis buka 09.00-21.00), tapi sudah kepalang tanggung.
image

Sekilas pandang saja, saya sudah kagum dengan interiornya yang natural-cantik. Ada hiasan tanaman buatan, sangkar-sangkar burung kosong, bingkai-bingkai antik, pernak-pernik dengan warna permen…. Konon restoran ini menyajikan 21 macam menu es krim, tapi keterbatasan waktu, kami hanya bisa memilih es krim contong (cone) dengan pilihan yang tersisa. Tak apalah, sekalian nostalgia. Saya memilih blueberry, suami saya pilihkan yang mocca, Fathia saya pesankan Oreo, sama dengan sepupu.
image

Wah, rasanya enaaakk… Secara tidak langsung saya membandingkan dengan es krim Ragusa dan Baltic Ice Cream di Jakarta yang perah saya makan, yah tekstur lembut dan rasa buahnya yang ‘dapet banget’ mirip-mirip lah, berhubung sama-sama homemade. Restoran atau cafe Tentrem yang ini baru dibuka pada 25 Juni 2016, pantas saja waktu terakhir kami jalan-jalan ke Ngarsapura Night Market (2014 saat hamil Fahira) rasanya kok belum ada. Rupanya ada juga restonya di Urip Sumoharjo, dekat Orion yang berarti dekat kantor mama juga (artinya harusnya cukup sering lewat kalau kebetulan ikut antar/jemput mama), tapi waktu itu tidak memperhatikan dan belum ada minat khusus coba-coba begini, hahaha. Es krim Tentrem sendiri sudah ada sejak tahun 1952, lho.
image

Es krim di bangunan berlantai dua ini sebagian besar (atau semua?) homemade alias buatan sendiri, bukan es krim pabrikan. Hasil browsing sih katanya ada nasi liwet dan gudeg Solo juga, tapi lagi-lagi karena waktunya mepet saya bahkan tidak sempat mengamati daftar menu. Sebetulnya kami masih tinggal agak lama sih sambil menghabiskan es krim masing-masing, tapi karena kami berdua harus bergantian menjaga Fahira yang penasaran dengan benda-benda baru di sekitarnya jadi ya begitulah, hehehe. Boro-boro mau foto-foto :D, padahal tata ruangnya instagrammable bangettt…
image

Beberapa sumber:
http://solo.tribunnews.com/2016/04/07/inilah-21-menu-es-krim-di-kafe-new-es-krim-tentrem-solo
https://m.solopos.com/kuliner-legendaris-es-krim-rasa-klasik-nuansa-kekinian-624156

Monokromatik yang Hipnotik

Sekitar tahun lalu, seorang teman kantor saya bilang bahwa yang sedang tren adalah jilbab monokrom. Saat itu saya jadi penasaran, maksudnya seperti apa, sih? Maklum lagi riweuh sama kerjaan sampai nggak sempat shopping *soksibuk. Belakangan setelah mengecek beberapa toko online khususnya di Instagram, terbukti motif yang menggunakan dua warna ini, biasanya warna gelap dan putih, berseliweran di sana-sini. Muncul di gamis, blus, kerudung, syal, kulot, rok, celana, cardigan, tas, sepatu, sprei, sarung bantal…. Awalnya kalau tidak salah booming-nya busana monokromatik ini memang dalam bentuk jilbab dulu, mungkin sekalian semacam tes pasar sebab motifnya yang cenderung tegas dan terkadang besar-besar belum tentu disukai jika muncul dalam bentuk baju berbahan banyak seperti gamis.

Seorang teman lain pernah bertanya, “Kalau hijab monokrom gitu panas nggak sih ya? Kan kayaknya bahannya kaku…”

Continue reading