Menikmati Kekayaan Wastra Indonesia: dari Songket Palembang hingga Batik Solo

Tulisan lama saya yang dulu menang lomba “Cinta Negeriku” yang diadakan oleh FLP Malang tahun 2010.
=========================================================================================

Berkunjung ke suatu daerah rasanya tak lengkap tanpa menyinggahi tempat-tempat yang menjadi ciri khasnya. Maka jika ada kesempatan pergi ke kota lain, biasanya saya mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasi-lokasi wisata yang kira-kira dapat dikunjungi. Mengingat waktu biasanya sempit karena hanya memanfaatkan cuti yang cuma sebentar atau harus menyempatkan diri di sela-sela tugas kantor, pilihan tempatnya perlu dikerucutkan lagi berdasarkan letak, ketersediaan transportasi atau yang mau menemani, dan jam bukanya kalau

Meskipun begitu, tidak jarang secara tak sengaja saya malah menemukan tempat tertentu. Waktu kuliah dulu misalnya, sementara oom dan tante menghadiri pesta pernikahan koleganya (yang memang menjadi tujuan utama), daripada bengong di kamar saya dan seorang sepupu iseng jalan kaki ke sekeliling Hotel Horison Bandung dan tiba-tiba sampailah kami ke Pasar Palasari. Biarpun mengaku orang rumahan, kadang naluri jalan saya memang timbul sendiri. Lagi-lagi dengan alasan ketimbang hanya menganggur, mumpung ada di kota yang jarang didatangi.

SAMSUNG DIGIMAX A403Dua tahun yang lalu, setelah beres urusan dinas kantor di Palembang dan menaruh berkas-berkas di kamar hotel, saya naik angkot ke Masjid Agung. Tidak lama di situ, hanya shalat Dhuha dan berdzikir sebentar sebab bagian dalam masjid sedang dibersihkan, mungkin juga untuk persiapan shalat Jumat. Usai menikmati martabak HAR di seberang masjid itu yang bikin kangen setelah mencobanya pertama kali tahun 2008, saya bermaksud kembali ke hotel. Di dalam angkot menuju hotel, saya melihat sebuah bangunan bergaya kolonial di kejauhan. Itu dia Museum Tekstil, yang belum sempat saya masuki tahun sebelumnya karena keterbatasan waktu. Mumpung kali ini waktunya cukup luang, saya putuskan untuk turun di situ.

Continue reading

[Ulasan] Belajar Percaya Diri dari Todi

Beberapa hari yang lalu facebook mengingatkan saya bahwa saya pernah ikutan lomba resensi yang diadakan oleh penulis buku ini, Mba Dhonna. Sekalian saya posting ulang di sini saja, nostalgia juga menengok kembali gaya menulis saya lima tahun yang lalu :).

Judul : Todi si Belalang Kerdil
Penulis : RF. Dhonna
Tebal : iv + 53 halaman
ISBN : 978-602-9079-45-6
Penerbit: Leutika
Tahun terbit: 2011
todi belalang 1
Buku untuk anak-anak konon memiliki pakemnya sendiri. Harus mudah dipahami, tetapi sekaligus tanpa mengabaikan kenyataan bahwa daya cerna anak-anak zaman sekarang kian canggih saja. Harus punya pesan moral, sebisa mungkin cukup tersirat tanpa harus menggurui. Dari segi penampilan, sebaiknya buku anak menggunakan huruf yang tidak terlalu rapat dan kecil, serta sebisa mungkin dilengkapi dengan ilustrasi yang semakin menarik minat baca.

Delapan cerita yang termuat dalam buku ini rata-rata tergolong sangat pendek jika dikonversikan ke halaman A4, sehingga bisa dikatakan cukup memadai untuk rentang perhatian anak khususnya usia awal SD (meskipun ternyata di sampul versi barunya tertulis untuk anak usia 9 s.d. 12 tahun). Ukurannya yang mungil dan tipis cocok untuk dibawa ke mana-mana, termasuk untuk dibaca atau dibacakan menjelang tidur. Ilustrasi yang ada pada setiap halaman masih mengacu pada cerita yang menjadi judul buku, sehingga semuanya sama dan tampil hitam-putih. Tema kisah para hewan alias fabel dan dunia khayal putri serta peri menjadi pilihan, dengan satu-dua kisah keseharian masa kini.

Pesan moral yang disampaikan dalam cerita-cerita yang ada cukup bervariasi, di antaranya mengenai makanan sehat, kejujuran, prioritas, kedisiplinan, pergaulan, kesabaran dan ketegaran, inisiatif, serta kerja keras. Benang merah yang paling menonjol di kebanyakan cerita adalah motivasi agar tetap percaya diri dalam berbagai kondisi. Beberapa hikmah cerita disampaikan dalam bentuk pertanyaan di akhir kisah, sehingga anak atau orang dewasa yang membacakan bisa berpikir sendiri atau berdiskusi mengenainya.

Cerita favorit saya adalah Senyum Terindah Molly, karena mengingatkan pada diri saya sendiri. Tidak enak memang disangka sombong karena tampak lebih suka menyendiri. Padahal aslinya hal tersebut disebabkan oleh kepribadian yang memang cenderung introvert (sedikit berbeda dengan Molly yang sempat minder akan keadaan fisiknya). Todi si Belalang Kerdil mengingatkan untuk tidak membalas keburukan orang-orang (atau dalam buku ini, hewan-hewan) lain dengan perbuatan jelek pula. Sedangkan Kisah Peri Warna menggelitik pemikiran saya, adakah cerita di situ dimaksudkan sebagai satir bagi kondisi masyarakat yang enggan mengubah sesuatu yang ‘sudah sejak dulu begitu’, alih-alih mencoba berinovasi demi masa depan yang lebih indah?

Masukan untuk penulis, ungkapan “Rasain!” yang muncul dalam cerita Banguuun, Nanda! tampaknya agak kurang pas karena rawan ditiru oleh anak-anak. Mungkin akan lebih baik jika diganti dengan kalimat lain yang meskipun intinya sama-sama girang karena rencana (yang sedikit ‘curang’ tapi maksudnya baik?) berhasil, tetapi tidak terlalu bernada keras atau puas di atas kesedihan orang lain (kendati tujuannya memang untuk memberi pelajaran).

Harum Apel Yang Bikin Kangen

Saya tidak fanatik terhadap sabun mandi tertentu. Merk dan varian yang digunakan di rumah juga seringkali berganti-ganti. Memang satu dua jenis tertentu rutin saya jadikan pilihan pertama dan kedua kalau sedang berbelanja, tapi lebih sering karena penasaran ingin coba ini dan itu, selama harganya masih masuk akal.

Belakangan setelah tahu bahwa sabun antiseptik tidaklah diperlukan, tidak lebih efektif jika dibandingkan dengan sabun biasa (http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150917144957-277-79384/studi-sabun-antibakteri-tidak-efektif-membunuh-kuman/), bahkan bisa berisiko jika digunakan (http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/12/sabun-antibakteri-justru-membahayakan-kita), saya juga meminimalkan pemakaian sabun yang dipromosikan mengandung antibakteri.

Continue reading

Penulisan insya Allah yang tepat…benarkah?

Hingga sekarang masih sering beredar gambar yang menyatakan bahwa Dr. Zakir Naik mengoreksi penulisan insya Allah. Seharusnya in shaa Allah, demikian disebutkan dalam gambar itu. Benarkah?

11037468_10203062489482772_9070729239158713232_n.jpg

15135824_10205784731737127_1824157765269986179_n.jpg

Saya termasuk yang membenahi cara penulisan saya begitu beredar informasi tersebut. Lupa sih, waktu itu informasinya bawa-bawa nama Dr. Zakir Naik atau tidak. Belakangan, saya membaca ada yang mengklarifikasi bahwa Dr. Zakir Naik tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu. Disertakan pula keterangan singkat bahwa sebetulnya tidak ada masalah karena ini soal transliterasi masing-masing negara saja. Penjelasan selengkapnya sendiri bisa dibaca di bawah, saya kutip dari konsultasisyariah.com.

Continue reading

Menikmati Kembali Gurihnya Siput Gonggong

“Dulu waktu saya kuliah di Jawa, mamak saya suka kirim siput gonggong. Pikir saya makanan apa sih ini, seringnya malah saya kasih-kasih ke teman-teman. Setelah balik ke Bangka saya baru tahu, rupanya itu makanan mahal,” demikian tutur tetangga kami di Pangkalpinang dulu.

image

Siput gonggong atau dog conch atau nama latinnya Strombus canarium (canis=anjing, sedangkan gonggong jelas merupakan tiruan bunyi anjing) menjadi salah satu makanan khas di Bangka Belitung dan di Kepulauan Riau (beberapa website menyebutkan bahwa hewan ini khas masing-masing daerah). Siput ini bisa pula ditemukan di berbagai negara (selengkapnya di https://en.m.wikipedia.org/wiki/Laevistrombus_canarium). Di pulau Bangka, cangkang siput gonggong dijadikan ikon misalnya dalam bentuk patung yang menjadi landmark. Siput gonggong bisa dibumbui kemudian dimasak bersama dengan cangkangnya dan disantap layaknya keluarga gastropod bercangkang, bisa juga digoreng kering menjadi keripik atau dihaluskan lalu digoreng sebagai kerupuk. Satu-satunya bentuk olahan yang pernah saya cicipi, juga yang dimaksud oleh tetangga kami di atas, adalah siput gonggong yang sudah jadi keripik. Mengingat rasanya yang gurih dan renyah sungguh bikin kangen karena sejak pindah dari Pangkalpinang lima tahun yang lalu saya belum pernah memakannya lagi. Harganya memang tergolong mahal, bulan lalu suami saya membelikan saat bertugas ke Pangkalpinang dengan harga Rp40.000,00 untuk kemasan 100 gram, kemudian saya lihat di salah satu lapak online ada yang menjual seharga Rp440.000,00/kg. Saya memang secara khusus minta dibelikan oleh-oleh siput gonggong, selain tentunya keritcu. Harga yang menggiurkan barangkali menjadi penarik minat penduduk berburu siput gonggong, yang lantas berdampak ke terancamnya eksistensi spesies ini seperti dipaparkan di Trubus
http://www.trubus-online.co.id/siput-gonggong-saatnya-budidaya/.

image

Hewan siput sendiri bagi kaum muslim seringkali masih membuat ragu terkait status kehalalannya. Biasanya orang awam akan mengaitkan dengan wujudnya sebagai hewan melata dan bisa hidup di dua alam. Bahasan lengkap mengenai halal atau haramnya siput/bekicot/keong dan sejenisnya bisa dibaca di https://rumaysho.com/2130-halalkah-bekicot-keong.html dan https://konsultasisyariah.com/17052-hukum-makan-bekicot.html. Siput gonggong adalah hewan laut, merujuk ke kedua tulisan tersebut hukumnya adalah halal.

Oh ya, nilai gizi siput gonggong goreng ini seperti dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Bangka Barat adalah sebagai berikut:
Sampel Siput Gonggong Goreng yang telah disampaikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat kepada Balai Riset dan Standarisasi Mutu Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Palembang untuk diuji nilai gizi makronya telah keluar hasilnya.

Berdasarkan hasil uji laboratorium dapat diketahui nilai gizi makro per 100 gram Siput Gonggong Goreng antara lain karbohidrat 4,1% dengan nilai gizi 16,4 kalori, Protein 31,19 dengan nilai gizi 124,8 kalori dan lemak 24,9% dengan nilai gizi 224,1 kalori.

Sampel adalah Siput Gonggong Goreng yang merupakan olahan dari Siput Gonggong yang didapatkan dari Desa Bakit, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat. Semoga Siput Gonggong dapat menjadi komoditi di Kabupaten Bangka Barat dengan nilai gizi dan nilai jual yang tinggi.

RPTRA Utan Kayu Utara

Inilah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Utan Kayu Utara, RPTRA terdekat dari tempat tinggal kami yang baru diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama tanggal 3 Juni 2016. Ada lapangan futsal, perpustakaan, kolam ikan, mainan panjat-panjatan, ayunan, perosotan, taman batu refleksi, taman hidroponik, kantin, ruang semi terbuka serbaguna, ‘amfiteater’, dan ruang laktasi. Selain toilet biasa, toilet untuk warga difabel juga tersedia. Belum sempat mencoba setiap fasilitas karena saat kami ke sana Sabtu 11 Juni lalu jelang buka puasa lagi rame banget, kapan-kapan lah main lagi. Lumayan memang sebagai ruang terbuka atau taman di mana warga bisa berkegiatan. Malah katanya ruang serbaguna yang ada dipersilakan untuk dipakai untuk hajatan warga. Berhubung dananya dari CSR produsen suatu merk mie instan, tak heran warna-warni yang dipakai juga mencerminkan warna yang digunakan dalam logo mie tersebut :D.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Video peresmiannya:

Imsak dan Menahan Diri

Pada suatu bulan Ramadhan saat saya masih jadi anak SD, seorang paman yang sedang mudik karena liburan kuliah (orangtua saya tinggal bersama dengan orangtua mama) menyampaikan sesuatu yang cukup membuat saya kaget.

“Imsak itu bukan waktunya berhenti sahur… Masih boleh makan kok, sampai adzan Subuh,” kata beliau. Diteguknya segelas air meski sirine tanda waktu imsak tiba telah berbunyi, seakan memberi contoh langsung. Hal ini terus terang tidak diajarkan di sekolah saya saat itu. Hingga kini, 20 tahun kemudian, sepertinya masih banyak yang menganggap bahwa waktu imsak, yang jamnya tercantum di jadwal yang sering beredar dan di banyak daerah diumumkan ‘kedatangannya’ secara khusus dengan cara masing-masing, adalah batas awal dimulainya shaum pada hari tersebut. Yang artinya aktivitas seperti makan dan minum harus berhenti pada saat itu. Dengan semakin majunya teknologi informasi khususnya di bidang informasi, tulisan tentang batas akhir yang benar ini juga banyak beredar. Memang kata imsak itu sendiri artinya adalah menahan, jadi ada yang menafsirkannya menahan diri untuk lebih hati-hati, takutnya keterusan makan minum saat sebetulnya sudah tidak boleh. Namun, yang saya baca dari beberapa referensi, imsak itu ya sinonim dari shaum alias puasa, yang disebut dengan menahan diri itu ya berhenti dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa, jadi adanya jadwal imsak yang punya selisih waktu dengan adzan subuh itu bikin rancu karena seolah-olah imsak dan mulai puasa ‘betulan’ setelah terbit fajar itu adalah dua waktu yang berbeda.

Bagi saya sendiri, dibunyikannya peringatan imsak ada manfaatnya untuk bersiap-siap. Terlebih setelah tahu bahwa mengakhirkan makan sahur itu disunnahkan. Maka kadang kami malah baru mulai sahur saat imsak tiba, walaupun tidak sering melakukannya karena khawatir ‘bablas’, terlebih jika anak sedang dalam usia bayi yang berpotensi terbangun minta menyusu sewaktu-waktu. Sebelum imsak artinya masih longgar waktu untuk sholat, sekalian memasak makanan untuk anak, atau menata perlengkapan ke kantor. Atau kalau bangun kesiangan, sudah tiba atau belumnya waktu imsak (ini sih sebetulnya sama aja dengan melirik jadwal adzan Subuh ya kalaupun tidak mendengar peringatan imsak, hehehe) bisa menjadi pertimbangan makanan apa yang bisa disajikan dalam waktu singkat kalau kebetulan tidak ada persiapan dari malam sebelumnya. Jika pun sudah selesai makan sahur, pengumuman imsak bisa dijadikan pengingat untuk minum lagi, sikat gigi dst.
image

image

Begitu pindah ke Jakarta di tahun kelima pernikahan, kami mendapati bahwa di tempat tinggal kami tidak ada peringatan imsak yang dibunyikan. Jadi kami paling-paling mengandalkan jadwal yang tersedia lalu mencocokkannya dengan jam dinding guna mengelola waktu sahur dengan sebaik-baiknya. Baru tahun ini, tahun kelima kami di Jakarta, entah bagaimana ceritanya (lupa terus mau tanya ke suami, barangkali bisa ditanyakan ke pengurus musholla) mulai ada pengumuman waktu imsak yang terdengar dari speaker musholla.

Berikut beberapa referensi terkait waktu sahur dan imsak ini (termasuk bagaimaja ketika tengah makan kemudian mendengar adzan Subuh dikumandangkan):
1. https://muslim.or.id/1290-kekeliruan-pensyariatan-waktu-imsak.html
2. https://muslimafiyah.com/dekat-dekat-adzan-waktu-terbaik-makan-sahur-dan-catatan-terhadap-waktu-imsak.html
3. https://m.facebook.com/notes/moslem-education/imsak-bukan-batas-akhir-makan-sahur/423973898410/
4. https://rumaysho.com/1231-hukum-makan-ketika-adzan-shubuh.html.

*maunya ditulis di bulan Ramadhan tapi nggak sempat-sempat :D*

Kamera Ponsel, si Pencair Kebekuan

Asus Zenfone Laser giveaway

“Mau foto, nggak?”

Sejenak aku tercenung. Bimbang antara menerima tawarannya atau bersikukuh jual mahal. Ah, tapi dia memang tahu saja bagaimana meluluhkan hatiku.

***

Keterampilan fotografiku tergolong payah. Aku tak kunjung menguasai teknik menyajikan gambar dengan indah, bahkan memotret makanan agar ‘instagrammable‘ kekinian pun aku tidak sanggup. Beberapa kali ikut pelatihan jurnalistik yang memuat materi singkat jurnalisme foto hanya sedikit meningkatkan kemampuanku (dan bukan salah pengajarnya).

Dulu seorang teman pernah berkomentar di blog lamaku, bahwa foto-foto yang kupajang di salah satu postinganku, saat itu isinya tentang pasar malam, termasuk kategori foto liputan. Memang, aku suka merekam berbagai peristiwa lewat lensa kamera. Bagiku, foto bisa menjadi kenang-kenangan yang berharga, bukti bahwa aku pernah berada di suatu tempat, alat bantu memantau tumbuh kembang anak, sekaligus sebagai sarana berkabar pada sanak saudara dan kawan yang terpisah jarak.

Aku suka menulis dan mulai ngeblog sejak tahun 2006. Keberadaan foto bisa menjadi ilustrasi tulisan atau blogpost-ku agar lebih sedap dipandang dan lebih ‘valid’. Foto juga bisa membantu mengingat sebuah kejadian, contohnya lewat keterangan tanggal foto tersebut diambil. Bahkan hasil jepretan bermanfaat sebagai sumber informasi, jadi tidak perlu terburu-buru mencatat pemaparan di slide dengan konsentrasi terpecah atau keterangan pada display di museum.

Yah, intinya sih aku bisa dibilang ‘asal’ memotret. Tak peduli komposisi, fokus, pencahayaan, dan seterusnya. Lebih sering ‘hajar’ saja, pokoknya ada yang bisa difoto.

Tentu saja, yang jadi andalanku di banyak kesempatan adalah kamera ponsel. Bukan aku tak punya kamera digital, tapi rasanya kok kurang praktis. Ponsel lebih mudah kuraih sewaktu-waktu, apalagi saat ini ketika ke mana-mana seringkali aku menggendong anak. Kamera biasanya tersembunyi di sudut tas, akibat khawatir hilang.

Hasil foto kamera ponsel juga lebih mudah langsung diunggah ke blog atau media sosial, baik apa adanya maupun diedit (sederhana, sih) terlebih dahulu, tanpa perlu ribet mencari kabel data atau card reader. Hanya saja memang sejauh ini aku harus puas dengan kualitas kamera ponsel yang kurang prima dibandingkan dengan kamera digital. Padahal kamera digitalku juga kamera saku biasa, bukan DSLR.

Keinginanku tak muluk sih sebetulnya, toh kami jarang mencetak foto yang memerlukan resolusi bagus, tapi setidaknya hasil foto yang prima akan lebih ‘bercerita’… dan keunggulan alat mungkin akan membantu menutupi kekuranganku di bidang teknik pengambilan foto.

Berkaitan dengan keinginan menyimpan (dan berbagi :p) foto yang ‘bagusan’ ini, dua bulan terakhir ini aku jadi sering merepotkan suami. Ia baru saja membeli hp baru, yang kameranya menurutku jauh lebih baik ketimbang punyaku. Bagiku juga lebih gampang meminta tolong ia mengulurkan ponsel berkamera miliknya, daripada sibuk merogoh sakuku sendiri (yang seringnya tergencet gendongan anak) guna meraih ponsel.

Tapi kelak kalau sudah punya ponsel yang lebih baik seperti Zenfone 2 Laser ZE550KL yang spesifikasi mumpuninya sempat kubaca, aku akan rela repot sedikit demi hasil foto yang lebih bagus pula. Ponsel keluaran ASUS ini kamera depannya saja sudah 5MP (belakangan –kadang dengan bantuan tongsis– terasa penting karena susah berfoto komplet berempat, hahaha), kamera belakangnya yang 13MP jelas lebih dari cukup untuk keperluanku.

***

“Nih,” suamiku mengulurkan ponselnya.

Aku tak bisa menolak. Seperti kubilang tadi, sepuluh tahun pernikahan telah membuatnya hafal apa saja hal yang bisa melumerkan kekesalanku. Ceritanya, aku memang lagi ngambek pagi itu karena beberapa hal yang sepele sih sebetulnya. Kelelahan badan akibat perjalanan mudik di waktu puasa sambil membawa dua balita (plus sedang PMS) rupanya membuat mood-ku berantakan.

Maka suamiku berinisiatif membawa kami ke landmark kota kelahirannya yang beberapa hari sebelumnya sempat kami bicarakan, pagi-pagi sekali tanpa memberitahukan tujuan sesungguhnya saat berangkat. Kami memang belum pernah ke ‘Keran Raksasa Tergantung’ di gerbang masuk Kota Pati yang dijuluki Hogwarts van Java (aku baru tahu tentang sebutan itu saat googling informasi soal kran raksasa) ini.

Suamiku tahu, tempat unik adalah salah satu objek foto favoritku. Mengajakku ke lokasi yang ‘blogable‘ macam itu dapat menjadi pendongkrak semangatku. Well, si ponsel berkamera sukses bertindak sebagai juru damai. Aku tersenyum sambil meraih hp yang ia berikan. Klik!

image

Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

Mengoptimalkan Manfaat Teknologi, Si Pisau Bermata Dua

Memesan jasa kurir untuk mengambilkan buku yang saya beli, memilih aneka kue kering untuk dikirim ke mertua di kota lain, melakukan transfer untuk transaksi baju lebaran dan oleh-oleh, mengecek video acara workshop kepenulisan tempo hari, menjelajahi web Jakarta Smart City untuk mencari data guna keperluan pekerjaan, mencari tahu harga tiket kembali setelah mudik, booking kursi travel, tilawah dengan Qur’an digital, semua itu hanya sebagian dari agenda saya sepekan terakhir ini. Semuanya melibatkan perangkat teknologi.

Bisa dibilang saya bahkan sudah jarang membeli groceries di hipermarket offline. Apalagi untuk urusan fashion wanita yang teramat banyak ditawarkan di dunia maya.

Continue reading