Puisi “Cuma Emak Yang Tahu Rasanya”

Baru saja, salah satu anggota grup whatsapp yang saya ikuti mengirimkan puisi berjudul “Cuma Emak Yang Tahu” yang di bagian awalnya diberi tulisan “oleh Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sosial”. Puisi  tersebut familiar bagi saya, tapi saya tidak berhasil mengingat siapa penulis aslinya. Rasa-rasanya sih, bukan tulisan ibu Mensos. Bukan bermaksud menuduh bu Mensos plagiat, justru saya menduga mungkin seperti biasanya terjadi, ada orang yang iseng menempelkan nama orang lain ke sebuah tulisan.

Saya sempat terpikir puisi tersebut sebenarnya karya Teh Kiki Barkiah.  Kenapa? Karena teh Kiki selama ini selain rajin menuliskan kisah kesehariannya dengan kelima buah hati (yang kemudian dibukukan dengan judul 5 Guru Kecilku bagian 1 dan 2), juga suka menulis puisi dengan tema serupa. Bahkan judul buku puisi teh Kiki yang belum lama ini terbit membawa pesan serupa dengan apa yang tersirat dalam puisi yang di-forward teman tadi: “Percayalah, Kelak Engkau akan Merindukan Kembali…”. Namun, dari hasil pencarian sekilas saya, sepertinya itu bukan puisi Teh Kiki.

Teringat juga saya akan puisi lain yang ramai disebarluaskan dengan nama Teh Kiki maupun Ustadz Salim A. Fillah. Puisi tersebut berjudul “Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya Taat, kan?” (ada pula yang menuliskan judul “Jalankan Saja Peranmu”. Baik Ustadz Salim maupun Teh Kiki sudah memposting klarifikasi di media sosial masing-masing atas kesalahpahaman tersebut.

 

Penulis sesungguhnya ternyata adalah Aldiles Delta Asmara (adik Ustadz Bendri Jaisyurrahman), adapun redaksi yang sebenarnya bisa dicek di sini. Tapi seperti biasa, seringkali ‘hak jawab’ kalah cepat dan jauh larinya dibandingkan postingan dengan keterangan yang salah.

 

Kembali ke rasa ingin tahu saya akan siapa penulis yang sebenarnya, saya seperti biasa meminta bantuan Google. Oh, ternyata memang Sabtu lalu (25 Juni 2016) bu Khofifah membacakan puisi tersebut dalam sebuah acara di Gresik. Di Vivanews disebutkan bahwa seorang teman mengirimi bu Mensos puisi itu. Sedangkan di Kompas, ditulis bahwa Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa “sampai membuat sebuah puisi tentang peran ibu di keluarga” (diakses tanggal 29 Juni 2016).

Khofifah Kompas

Memang jadinya rancu kalau sudah media nasional yang bilang seperti itu, pantas saja banyak yang meneruskan dengan keterangan yang sama. Pencarian saya teruskan dengan kata kunci kata-kata dalam puisinya, yang akhirnya membuat saya menemukan nama penulis aslinya sebagaimana disebutkan di sini (warning: sebaiknya jangan diklik ya, saya tadi klik versi cache sebetulnya sih, tadi coba buka lagi kok ada peringatan mengandung virus). Saya telusuri nama yang disebutkan itu, dan sampailah saya pada postingan aslinya di sini.  Penulisnya memakai nama pena Ummu Nazma Hermawan, yang sudah ia pakai sejak lama (nama aslinya Hastuti Utami).

screenshot_2016-06-29-11-58-09.png screenshot_2016-06-29-11-58-23.png

Meskipun kebanggaan pastinya bukanlah tujuan utama, tapi ‘wow’ juga, ya, tulisan sampai dibacakan pejabat tinggi negara di acara yang diliput luas, hehehe. Toh bu menteri mengakui juga kalau itu bukan buah pikiran beliau, walaupun tidak menyebut penulis aslinya karena barangkali beliau belum memperoleh informasi lebih lanjut. Puisi itu memang jadi viral di dunia maya, banyak di-share khususnya oleh ibu-ibu (tentu saja), termasuk selebriti.

Yah, minimal bukan untuk tujuan komersial kan penyebarluasannya. Soalnya beberapa bulan yang lalu ada kasus tulisan seorang teman (yang sudah dibukukan!) dikutip semena-mena di buku tulisan orang lain. Masalah terkait cerita Uwais Al-Qarny itu sudah selesai sih, tapi tetap geregetan kalau ingat kasus serupa. Biarpun ada yang bilang ‘hak cipta sepenuhnya milik Allah’, tapi jerih payah seseorang perlu kita hargai kan, ya? Pencantuman sumber asli yang jelas juga mempermudah apabila ada hal-hal yang perlu diluruskan, ditanyakan, atau dibahas lebih lanjut.

Sebagai penutup, berikut saya kutipkan puisi versi yang sudah diedit dan dimuat oleh situs ini (plus sedikit editan juga dari saya karena postingan aslinya memang ‘asli’ emak-emak yang ditulis apa adanya termasuk soal ejaan, hehehe…maklum banget, sih).

Saat Emak baru saja memejamkan mata,
pecahlah tangisan Si Kecil dengan nyaringnya.
Dalam keadaan mengantuk, anak pun harus digendong sepenuh cinta.
Bagaimana rasanya?
Cuma Emak yang tahu rasanya.

Saat lapar melanda, terbayang makanan enak di atas meja.
Ketika suapan pertama, anak pup di celana.
Bagaimana rasanya?
Cuma Emak yang tahu rasanya.

Saat badan sudah lelah tak ada tenaga,
ingin segera mandi menghilangkan penat yang ada,
mumpung anak-anak sedang ‘anteng’ di kamarnya.
Belum sempat sabunan, anak sudah nangis berantem rebutan boneka.
Kacaulah acara mandi Emak, batal mandi walau daki masih menempel di badannya.
Bagaimana rasanya?
Cuma Emak  yang tahu rasanya.

Saat Emak ingin beribadah dengan khusuknya,
anak-anak mulai mencari perhatian, menarik-narik mukena,
mengacak-ngacak lemari baju, mumpung Emak tak berdaya.
Loncat sana loncat sini, punggung Emak jadi pelana.
Belum juga beres doa, anak-anak semakin berkuasa.
Bagaimana rasanya?
Cuma Emak yang tahu rasanya.

Sore hari anak berkumpul semua, bapak belum pulang dari kantornya,
anak-anak rebutan minta didengarkan ceritanya.
Yang satu lancar bercerita tanpa jeda, yang satu memanggil-manggil Emaknya,
minta dilihat sekarang juga.

Yang kecil menangis karena ribut gak bisa tidur
dengan indahnya, bagaimana rasanya?
Cuma Emak yang tahu rasanya.

Ah…di balik kerepotan itu semua, namun ada jua syurga di dalamnya.
Cuma Emak yang tahu lezatnya makna senyuman anak yang diberikan,
pelukan anak, ucapan cinta anak yang tampak sederhana di hadapan orang,
namun berubah menjadi intan permata di mata Emak.

Itulah mengapa saat anak bahagia, emak menangis.
Anak berprestasi, Emak menangis.
Anak tidur lelap, Emak menangis.
Anak pergi jauh, Emak menangis
Anak menikah, Emak menangis.
Anak wisuda TK saja, Emak menangis.
Anak tampil di panggung, Emak menangis….

Ah..
inikah tangis bahagia yang tak akan dapat dimiliki siapapun juga,
jika engkau tak mengalaminya sendiri sebagai Emak.

Mungkinkah ini bagian dari syurga milik-Nya
yang diberikan kepada seluruh Emak di dunia,
Sebuah cinta yang begitu lezatnya dirasa…

Dan akhirnya saya percaya, di mana ada kerasnya perjuangan Emak di dalam rumah,
maka di situ akan hadir cahaya surga yang menemani Emak yang tak kalah indahnya.

Jika hari ini engkau menangis karena repotnya mengasuh anak,
maka akan ada hari dimana engkau akan tersenyum paling manis,
karena kebaikan yang hadir bersamanya.

Keep fighting, Emak2 sayang!

Update: sehari setelah saya menulis blog ini, suami Ummu Nazma mengontak staf bu menteri

image

Beberapa kasus lain di mana nama seseorang yang tenar disematkan pada tulisan orang lain yang kemudian menjadi viral:

  1. Tulisan Yasa Singgih beredar dengan nama penulis pak Anies Baswedan.

    “Anak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama & sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi & disegani banyak orang. Mereka tau aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi ngga canggung makan di warteg kaki lima dst”

    Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.erlin_gustina.com/didikan-dalam-keluarga_564e371ef2927365184536f4

  2. Tulisan mba Yoanita Astrid beredar dengan nama Shahnaz Haque. Presenter kenamaan ini memang sempat men-share tulisan tersebut di facebook-nya (awalnya tanpa nama penulis karena memang belum tahu siapa penulis sebenarnya), kemudian dimuat pula di salah satu media online. Puisi bertajuk “Hanya Soal Waktu” tersebut aslinya bisa disimak di sini http://strobela.blogspot.co.id/2015/12/hanya-soal-waktu.html?m=1.

Bakpia Kencana yang Lezat Tak Terkira

Agak hiperbolis ya judulnya, hahaha… Tapi bener, deh, enak banget sih rasa bakpia ini.

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman di grup whatsapp ‘dharma wanita’ ngomongin kota Yogyakarta. Awalnya ada teman di Klaten yang hendak belanja untuk persiapan bikin kue lebaran ke toko bahan kue di Jogja, lalu ada yang menimpali dengan rencana liburan ke provinsi yang resminya bernama DIY tersebut, kemudian ada lagi yang bercerita bahwa dia jadi teringat masa-masa mendampingi suami tugas belajar di sana.  Saya? Saya bilang saya baper sama kota itu habis nonton AADC 2. Jogja sepertinya manis, diam-diam menghanyutkan gitu, ya (dan prospek tinggal di sana dalam waktu dekat agak memicu beberapa perasaan yang sulit dijelaskan, hahaha). Kenangan lampau saya pribadi terhadap Jogja sebetulnya lebih banyak didominasi silaturahim ke anggota keluarga besar (tempat asal saya tidak terlalu jauh dari Jogja), study tour masa sekolah, dan tentunya lagu KLA Project band favorit saya.

Dari bahasan soal Jogja, obrolan di layar gadget berlanjut ke oleh-oleh khas sana. Bakpia tentu menjadi topik utama, khususnya bakpia pathuk yang melegenda. Lalu seseorang melontarkan pendapat bahwa ada bakpia baru yang enak, lebih enak dari Kurnia Sari yang terkenal itu. Saya sendiri baru kenal bakpia Kurnia Sari begitu bertugas ke Jogja Agustus tahun lalu dan diajak rekan sejawat ke toko oleh-oleh yang menjualnya. Melihat stoknya yang tak bertahan lama di toko, saya langsung membatin kayaknya enak banget nih ya sampai laris manis begitu. Beberapa kios di Stasiun Tugu pun sampai merasa perlu memasang tulisan ‘bakpia kurnia sari bisa dibeli di sini’ (belakangan ketika saya googling, beberapa online shop juga menyediakan jasa titip beli bakpia merk ini). Dan memang setelah dicicipi, rasa gurih bakpia Kurnia Sari ini pas buat saya. Tapi memang ini soal selera ya, teman kantor ada yang berkomentar bahwa rasanya ‘terlalu nyusu’ buat dia, menutupi rasa asli bakpia yang identik dengan kacang hijau atau kumbu. Benar juga sih, walaupun banyak sekali variasi rasa bakpia zaman sekarang (coklat, teh hijau, ubi, kacang hitam, keju dst), khasnya tetap isi kacang hijau. Kalau ditilik dari namanya sih sebetulnya bakpia itu artinya pia (kue) isi bak (daging, dan yang paling umum dipakai di daerah asalnya di Tiongkok sana adalah daging babi).

Saya ikut penasaran apa merk bakpia yang katanya enak itu, terlebih setelah ada yang mengiyakan tentang ‘bakpia baru enak’ itu, sayangnya kompak juga sama-sama lupa merk tepatnya :D. Selang beberapa waktu, saya baru teringat sesuatu. Saya ubek-ubek galeri di hp, dan saya share ke grup sebuah foto bakpia berikut kotaknya, oleh-oleh suami dari tugas dinas ke Yogya beberapa bulan yang lalu. Bakpia Kencana, itulah nama yang tertulis di bagian luar kotak. Bakpianya dibungkus dengan plastik vacuum, memberikan kesan higienis dan bisa tahan lebih lama. Sudah ada sertifikat halalnya juga, lho. Terus terang ketika memakannya pertama kali, yang ada dalam pikiran saya adalah…ke mana aja saya ya sampai baru sekarang mencoba bakpia seenak ini. Lebih-lebih yang keju, varian favorit saya. Ngeju banget bukan hanya di isinya tapi juga ada lapisan tipis keju di bagian luar. Makanya sampai saya ambil fotonya, buat referensi kalau kapan-kapan memungkinkan untuk beli lagi.
image

Melihat foto yang saya kirimkan, beberapa teman membenarkan walaupun ada juga yang tidak yakin. Teman yang berdomisili di Klaten menceritakan bahwa sebetulnya bakpia Kencana ini sudah lama ada, hanya saja baru booming belakangan. Salah satu penyebabnya mungkin konsep open kitchen yang menarik minat orang berkunjung lantas menuliskan pengalamannya, yang menambah popularitas di samping rasanya sendiri yang memang enak. Seperti halnya bakpia Kurnia Sari, bakpia Kencana ini juga tersedia di beberapa online marketplace, jadi tidak harus jauh-jauh ke Jogja kalau hendak membeli.
image

Begalor di ‘Surga’ Kaya Timah

Annida-No-2-XVIII-Okt-08

Tulisan saya yang (dengan beberapa perubahan) dimuat di majalah Annida edisi Oktober 2008. Tentu Belitung sudah banyak berubah ya sejak itu, terlebih setelah suksesnya film Laskar Pelangi (saat saya di sana, filmya sedang dalam proses awal syuting). Tetap lumayan buat kenang-kenangan, apalagi belakangan majalah tersebut tidak rutin terbit lagi edisi cetaknya.

Begalor di ‘Surga’ Kaya Timah

Barangkali, dulu kita hanya mengenal Belitung sebagai salah satu penghasil timah utama di negeri ini. Meledaknya novel karya Andrea Hirata membuat pulau tersebut kemudian dikenal juga dengan julukan lain: Bumi Laskar Pelangi. Penggambaran Andrea tentang masa kecilnya dalam tetralogi (baru tiga yang diterbitkan hingga tulisan ini dibuat) tersebut memang merebut hati banyak orang. Kini Belitung telah jauh berkembang dibandingkan saat Ikal (nama julukan Andrea) dan kawan-kawannya mengecap pendidikan di sebuah SD sederhana. Kepulauan Bangka Belitung sudah menjadi provinsi terpisah dari Sumatra Selatan. Pulau Belitung juga telah terbagi menjadi dua kabupaten yaitu Belitung (atau Belitung Induk, dengan bandara yang terletak di Kecamatan Tanjung Pandan) dan Belitung Timur (di mana terdapat Kecamatan Gantung yang menjadi latar cerita Laskar Pelangi). Tak heran para sineas yang berencana melayarlebarkan novel itu harus berusaha keras menciptakan suasana sekian tahun lampau demi kemiripan tampilan.

Masa kejayaan timah di Bangka Belitung juga bisa dibilang sudah sedikit memudar. Padahal, ingat kan, pekerja PN Timah apalagi para petingginya sempat menjadi kalangan elit dengan fasilitas melimpah. Setelah dieksploitasi sejak abad ke-18, penambangnya kini lebih banyak masyarakat umum yang kerap disebut sebagai penambang timah inkonvensional (TI). Kendati tak menghasilkan sebanyak dulu, pemasukan satu tim penambang masih cukup menarik minat daripada bekerja kantoran. Kru film Laskar Pelangi sampai kebingungan karena tak banyak yang mau jadi figuran, mending cari timah katanya. Praktik ini sebenarnya cenderung ilegal, karena seringkali mengabaikan dampak lingkungan. Kalau teman-teman melintasi langit Bangka Belitung, akan tampak bahwa pulau-pulaunya ‘bopeng’ di sana-sini. Lubang-lubang itulah bekas situs penambangan atau kolong yang ditinggalkan begitu saja, yang bentuknya jadi mirip danau kecil dengan air berwarna kebiruan. Indah, dong? Sama sekali tidak, karena warna itu adalah efek samping dari mekanisme penjagaan suhu situs selama proses penambangan. Efek samping lainnya sudah pasti erosi dan bisa juga pencemaran sumber air bersih.
Kalau mau yang indah-indah, lebih baik menjelajahi pantainya. Sebagian orang mengatakan bahwa kata Belitung atau Belitong dalam dialek aslinya merupakan singkatan dari ‘Bali dipotong’. Namun, wisatawan pengunjung Belitung tampaknya memang belum sebanyak pelancong di Bali. Padahal letak yang tidak jauh dari Jakarta (tak sampai sejam perjalanan udara) dan kealamiannya menjadi nilai lebih. Sebut saja Pantai Tanjung Tinggi yang berpasir putih nan lembut dan bertaburkan bebatuan granit raksasa. Di awal kunjungan, jangan kaget kalau kamu mendadak ‘insyaf’ (sementara, hehehe) dari kenarsisan. Yang ada, kamu akan bertasbih berulang kali sambil berusaha merekamnya dalam ingatan. Beberapa belas menit kemudian, baru deh heboh mengabadikan diri sebagai bukti pernah datang ke sini.

Pantai-pantai lain seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Binga, Penyaeran, Tanjung Kiras, Teluk Gembira, sampai Batu Berlubang juga dihiasi batu-batu sebesar rumah yang membentuk formasi menarik. Salah satu yang paling terkenal adalah tumpukan batu di Pulau Burung (bisa ditebak, kan, bentuknya memang mirip paruh burung) Konon, bebatuan ini adalah pecahan meteor yang jatuh ke bumi.
Pecahan meteorit lain yang juga menjadi ciri khas Belitung adalah batu satam atau billitonite. Batu berwarna hitam mengilap ini tergolong langka, hanya ada di beberapa tempat di dunia dan diberi nama sesuai tempat ditemukannya. Biasanya ditemukan secara tak sengaja ketika sedang menambang timah, dan mengapa di pulau lain di Indonesia yang juga penghasil timah batu ini jarang sekali kelihatan masih menjadi misteri. Ada yang percaya batu satam mengandung kekuatan magis (duh, jatuhnya syirik nggak ya?), misalnya memberikan wibawa atau mengurangi rasa sakit saat melahirkan. Baik diasah sampai licin atau dibiarkan dalam bentuk aslinya yang dipenuhi cekungan dan alur halus, batu ini bernilai tinggi. Coba saja ketik billitonite di mesin pencari internet, akan muncul banyak penawaran perhiasan batu satam bahkan yang berharga selangit di pasaran internasional. Tapi kalau beli di Belitung langsung, masih cukup terjangkau kantong kita-kita, kok.

Jangan hanya puas dengan menikmati pemandangan. Air pantai yang berombak kecil dan landainya pantai mengundang kita untuk menceburkan diri. Kamu yang suka menyelam juga bisa melihat-lihat cantiknya panorama bawah laut. Tentunya tetap lihat-lihat situasi ya, sebab pada bulan-bulan tertentu ombak cukup besar atau sedang banyak ubur-ubur berkeliaran. Kalau ada waktu dan laut sedang bersahabat, kita bisa menyeberang ke pulau-pulau kecil tak jauh dari pantai. Pulau Lengkuas dekat Tanjung Kelayang dengan mercusuarnya yang berdiri sejak tahun 1882 dan masih berfungsi sampai sekarang adalah pilihan tepat.

‘Bosan’ dengan pantai? Ada Gunung Tajam, gunung tertinggi di Belitung yang dihiasi air terjun nan jernih. Awas, kadang ada monyet nakal di sini. Bisa juga main-main ke Kampung Bali, tempat berkumpulnya pendatang dari Pulau Dewata yang dari segi arsitektur dan budaya bikin serasa di Bali betulan. Suasana resort bisa didapatkan di Bukit Berahu. Ada pula dua museum buat yang tertarik pada sejarah. Pertama museum di tengah kota yang dulunya adalah museum geologi rintisan peneliti Belanda yang sekarang dilengkapi juga dengan kebun binatang di halaman belakang. Koleksi hewannya memang terbatas, tapi buaya terbesar di sini sudah jadi bintang film karena tempo hari dipinjam untuk syuting Laskar Pelangi. Satunya lagi museum yang memajang peninggalan kerajaan Badau.
Di Belitung Timur sendiri, tempat-tempat yang diceritakan Andrea Hirata jadi sering didatangi orang. Apalagi selama Mira Lesmana, Riri Riza dkk berada di sana. Meski, bahkan SD Muhammadiyah pun sudah roboh tahun 1991 hingga harus dibuatkan replikanya untuk adegan-adegan film. Toh masih ada kelenteng tempat janjian dengan A Ling, kedai kopi Akiong, sisa-sisa bioskop di mana para cowok ABG itu menyelinap nonton film, gedung-gedung milik PT Timah, dan tentunya rumah para tokohnya. Bisa saja kita ketemu Bu Muslimah yang masih penuh semangat dalam mengajar itu atau para anggota Laskar Pelangi.

Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan beragam upacara seperti Maras Taun (pesta panen), Buang Jong (melarung perahu mini), atau Nirok Nanggok (menombak ikan). Menyesal juga dalam jangka waktu setengah tahun lebih tinggal di sana saya belum sempat melihat satu pun. Ada pula seni dan permainan asli seperti Dulmuluk (teater tradisional), betiong, begambus, dan stambul (musik), begubang dan campak (berbalas pantun), beripat beregong (adu ketangkasan dengan pemukul rotan diiringi musik tradisional), serta lesong panjang. Pengaruh budaya Cina juga cukup terasa, kemeriahan Imlek biasanya dirayakan besar-besaran lengkap dengan pertunjukan barongsai di jalan-jalan utama.

Sedangkan Pantai Tanjung Pendam mungkin ‘penampakannya’ tak semenakjubkan pantai-pantai lain, tapi posisinya di pusat kota Tanjung Pandan membuatnya nyaris selalu ramai terutama pada sore hari. Di saat seperti itu jadi agak sulit mencari tempat di tepian pantai yang sudah dilengkapi dengan banyak bangku, trotoar, aneka sarana permainan anak, kios-kios makanan, dan lapangan voli. Minimal sepekan sekali saya jalan kaki dari kos ke Tanjung Pendam, sekadar bersantai setelah sehari-hari bekerja atau ‘pacaran’ dengan suami kalau dia sedang berkunjung. Pemandangannya bisa berubah tergantung pasang-surutnya. Saat penuh, enaknya duduk mengamati gelombang lautan memantulkan bias-bias cahaya mentari menjelang terbenam ditingkahi aneka warna layar kapal di kejauhan sambil mencelupkan kaki ke air. Jika sedang surut, kita bisa berjalan-jalan hingga jauh ke tengah, walaupun belakangan peringatan akan banyaknya lubang makin gencar diserukan. Sayang, suka banyak anjing berkeliaran.

Pergi ke suatu daerah rasanya tak lengkap kalau belum mencicipi makanan khas setempat. Teman-teman bisa mulai dengan mi Belitung berteman tahu yang disiram kuah kari udang dan ditaburi kerupuk emping plus taoge. Hati-hati, karena banyak tempat makan milik etnis Tionghoa yang juga menyediakan masakan daging babi. Kepiting telur berisiko bikin ketagihan (saya pun suka dititipi kalau ada yang tahu saya akan pergi ke Jakarta atau Bangka). Jangan lupa mencoba gangan alias ‘sup ikan’ berkuah kuning asam pedas serta tumis genjer dan otak-otak. Dampingi dengan segelas es jeruk kunci, hmmm… tentu makin menyegarkan. Harga masakan di rumah-rumah makan pinggir Tanjung Tinggi dijamin bikin kamu terpukau nggak percaya. Murah meriah!
Untuk buah tangan keluarga di rumah, bawakan sambelingkung (abon ikan), dodol agar-agar, madu manis dan pahit, keripik sukun, aneka kerupuk ikan (getas dan kemplang), keritcu (keripik telur cumi), juga kue rintak (kue kering dari sagu dan gula aren). Sebotol tauco, rusip (fermentasi ikan dengan proses mirip tauco), atau terasi (bahkan ada yang berbentuk bubuk) cocok juga sebagai oleh-oleh untuk ibu di rumah. Kalau mau yang awet, perhiasan batu satam, kerajinan tangan dari timah (pewter), peci resam (dari anyaman sejenis rotan), bermacam taplak atau peci dari bahan renda, gantungan kunci, hiasan magnet kulkas, sampai cangkir bergambar pemandangan Belitung bisa jadi alternatif.

Jadi, siap begalor (bergaul, nongkrong) di Belitong?

AcEPT, Tes Bahasa Inggris Khusus UGM

Beberapa hari yang lalu suami saya menghubungi lewat whatsapp, mengabarkan bahwa ia (yang dalam posisi sedang bertugas ke kota lain) harus segera mendaftar untuk AcEPT UGM sebagai salah satu syarat masuk program S2 di sana. Alhamdulillah tes beasiswa internal instansi kami telah berhasil ia lalui dengan baik, tetapi masih ada syarat lain berupa kelulusan dalam tes tertulis maupun wawancara, tergantung perguruan tinggi yang didapatkan (dipilihkan oleh instansi) dan jurusan yang dipilih. Kebetulan suami memang belum pernah mengikuti TOEFL maupun IELTS, sehingga diarahkan untuk mengambil AcEPT yang diselenggarakan sendiri oleh Universitas Gadjah Mada ini. Rekan-rekan lain yang sudah memenuhi syarat minimal nilai TOEFL atau IELTS tidak perlu lagi mengikuti AcEPT ini.

Nama tes tersebut masih asing bagi saya. Yang saya tahu, tes bahasa Inggris ya TOEFL dan IELTS yang pernah saya jalani, plus pernah juga dengar yang namanya TOEIC. Berhubung suami saya juga meneruskan alamat web resmi untuk pendaftaran tes tersebut, yaitu http://acept.ugm.ac.id/sessAcept/idx.php, jadi saya langsung meluncur ke sana. Informasi di laman tersebut ternyata lebih bersifat praktis seperti jadwal, persyaratan tes, pengumuman hasil, juga tentunya akses untuk pendaftaran. Maka saya melanjutkan googling, dan memperoleh jawaban bahwa AcEPT merupakan singkatan dari Academic English Proficiency Test. Banyak ternyata kursus baik online maupun offline untuk belajar trik-trik pengerjaannya agar mendapat nilai tinggi atau setidaknya memadai untuk lulus.

Salah satu laman atau tepatnya thread di Kaskus yang memberi gambaran singkat tentang bentuk dan contoh soal AcEPT bisa dibaca di sini untuk memperoleh gambaran sekilas. Memang, kalau membaca testimoni orang dan mendengar pengalaman teman-teman yang lebih dulu kuliah S2 di sana, penguasaan bahasa Inggris yang baik sangat diperlukan guna mendukung kelancaran pelaksanaan proses belajar. Setiap pekan ada saja tugas dari masing-masing mata kuliah, dan literatur yang digunakan banyak dalam bahasa aslinya alias bahasa Inggris.

Soal AcEPT berjumlah 170 terdiri atas 20 listening, 30 vocabulary, 40 grammar and structure, 40 reading, dan 40 composing skills. Setiap nomor konon bernilai 2,5 (tidak ada nilai minus), sehingga totalnya seharusnya 425. Tetapi berdasarkan informasi, skor tertinggi adalah 426. Nilai 426 ini setara dengan TOEFL score 677. Tabel konversi selengkapnya bisa dilihat di sini. Batas nilai untuk tiap jenjang pendidikan di UGM (hasil googling ternyata menjadi syarat juga untuk melamar pekerjaan ke sini) tentunya berbeda, yaitu 209 untuk S2 (setara nilai TOEFL 450, minimal benar 84 soal) dan 268 untuk S3 (setara nilai TOEFL 500, minimal benar 108 soal). Sepertinya untuk jenjang lainnya seperti D-III dan S1 ada juga nilai minimal tapi saya belum menemukan infonya. Tesnya sendiri diselenggarakan di Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Peserta pada umumnya harus membayar dulu biaya tes di BNI 46 untuk memperoleh username dan password yang akan digunakan untuk login di web resminya, guna mengisi informasi data diri peserta yang nantinya menghasilkan kartu peserta yang bisa dicetak. Tes berlangsung selama tiga jam, dan hasilnya bisa dicek 10 hari sejak tanggal pelaksanaan.

 

image

Pempek Khas Pati

20130808_212659Empek-empek, atau pempek. Makanan ini identik dengan daerah Sumatra bagian selatan. Umumnya terbuat dari ikan dengan berbagai variasi perpaduan bahan dan kuah. Di Bangka misalnya, biasanya pempek disajikan dengan semacam saus kacang. Belakangan saya juga baru tahu ada yang namanya pempek dos, dengan bahan utama nasi. Nah, di Pati, Jawa Tengah, tempat asal suami, saat ditawari empek-empek tentu ekspektasi saya adalah pempek Palembang yang paling populer dan cenderung mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Tapii ternyata yang kemudian dibawa pulang oleh saudara suami jauh berbeda. ‘isi’ empek empek khas Pati terdiri dari potongan aneka gorengan risol isi bihun, tahu, bakwan, semacam gorengan tepung, kadang ada tempenya. Kuahnya tidak sepekat cuko pempek, cenderung agak asam segar apalagi kalau ditambah sambal, tapi lain sensasinya dengan kuah pempek Palembang dan sekitarnya. Beberapa kali beli langsung tetapi saya belum jadi juga menanyakan asal-usul makanan ini, googling pun tidak banyak informasi yang bisa didapatkan. Di Pati kota, yang paling terkenal sih konon empek empek Guwangsan.

Tambahan: ini nih isi pempek Pati yang belum disiram kuah.
image

Rokok, si Kebutuhan Pokok

garis kemiskinan I

Beberapa waktu yang lalu saya menyusun sebuah laporan dalam rangka pekerjaan, dan salah satu data yang harus saya kutip cukup membuat tercengang. Ternyata rokok adalah bahan pokok kedua penyumbang Garis Kemiskinan masyarakat terbesar, hanya kalah oleh beras. Pengeluaran untuk daging, susu, ikan kembung, dan telur berada di bawah rokok. Saya jadi ingat tulisan seorang dokter anak yang cukup populer karena rajin memberikan edukasi lewat media sosial, kata beliau rokok bisa menyebabkan anak jadi anemia. Pasalnya, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk membeli daging merah (salah satu sumber zat besi yang paling mudah diserap) guna mencegah anemia malah dialokasikan untuk belanja rokok. (Masakan) dagingnya bisa untuk seisi rumah, pula. Tidak harus daging juga sebetulnya (yang harganya mungkin dianggap kemahalan), kalau dikonversi ke telur, ikan, sayur-sayuran, juga sudah lumayan, kan? Bandingkan dengan rokok yang hanya bisa ‘dinikmati’ oleh si pengisap, sedangkan penghuni rumah yang lain ‘menikmati’ efek sebagai perokok pasif bahkan bagi yang hanya menjadi third hand smoker.

BPS sendiri sudah memuat tulisan khusus mengenai hal ini. Tentu saja, ada yang membela dengan menyebutkan bahwa posisi itu diraih bukan karena segitu fanatiknya orang Indonesia pada rokok melainkan ada penyebab lain, tapi saya enggan mengutipnya di sini, dan saya tidak minta maaf untuk itu :D. Tapi saya masih tidak enggan mendoakan, semoga makin banyak yang menyadari dampak negatif rokok, dan berusaha menjauhinya.

(aslinya mau ditulis dekat-dekat Hari Anti Tembakau Internasional 31 Mei, tapi telat banget :D).

Tambahan:

Saat menyusun tugas tersebut saya juga sempat bertanya-tanya kenapa ada ikan kembung di situ. Kenapa bukan ikan lain? Saya tanyakan pada seorang kawan di BPS dan jawabannya seperti ini (sekaligus menjawab juga kenapa rokok bisa masuk penyumbang kemiskinan ya):

wp-1466632213626.jpegKarena ikan kembung termasuk dalam paket komoditas yang ada dalam diagram timbang. Penentuan satu komoditas masuk ke dalam paket komoditas berdasarkan hasil Survei Biaya Hidup (SBH). SBH merupakan survei dengan unit penelitiannya adalah rumah tangga. Pertanyaannya tentang konsumsi rumah tangga dan seluruh anggota rumah tangga. Satu responden dikunjungi selama 3 bulan berturut-turut untuk menjaring seluruh komoditas yang dikonsumsi. Dari seluruh komoditas yang dikonsumsi secara nasional, maka akan diurutkan berdasarkan bobotnya. Komoditas dengan bobot di atas 20% akan dimasukkan dalam paket komoditas tadi. Jadi, si kembung tadi merupakan komoditas dengan bobot besar karena dikonsumsi oleh sebagian besar rumah tangga di seluruh Indonesia, karena harga relatif stabil dan mudah diperoleh. Jadi kalau si kembung ini harganya naik, maka akan berpengaruh terhadap kemiskinan di Indonesia.

Oh ya, biasanya rokok dikonsumsi dengan alasan supaya nggak stres. Benarkah? Coba baca ini ya…
http://health.kompas.com/read/2015/02/28/161000223/Ternyata.Merokok.Tak.Hilangkan.Stres

“Apa yang dialami ketika kita menyalakan rokok adalah tanda awal dari gejala ketagihan. Dan, gejala-gejala itu sangat mirip dengan stres. Merokok akan menghilangkan gejala itu dan jika kita merasa lebih baik, sebenarnya itu adalah gejala awal ketagihan nikotin,” kata Mike Knapton dari British Heart Foundation.

Dengan kata lain, jika kita mengira merokok bisa mengendalikan stres, sebenarnya adalah rokok justru memperburuk.

Penelitian tersebut dilakukan tim dari University College London dan British Heart Foundation dengan melibatkan 6.500 orang berusia di atas 40 tahun. Diketahui bahwa lebih dari 18 persen perokok dalam studi tersebut melaporkan memiliki kecemasan dan depresi, dibandingkan dengan 10 persen pada nonperokok dan 11,3 persen pada mantan perokok.

“Rasa high yang kita dapatkan dari rokok tidak berguna karena justru merusak tubuh. Banyak cara lain untuk mengatasi stres, misalnya bicara dengan teman, berolahraga, atau memasak. Lakukan hobi yang disukai sehingga mood lebih baik,” kata Michael Roizen, pakar wellness dari Cleveland Clinic’s.

Kapan Pertama Kali Mens Setelah Nifas?

Setelah melahirkan anak pertama, saya mendapatkan menstruasi tak lama setelah nifas selesai. Sempat sebulan lebih sedikit tidak haid, kemudian setelah itu sudah mens rutin. Awalnya saya bingung karena yang pada saat itu dibaca di grup dukungan menyusui di fb adalah banyakkk member yang bertanya kenapa nggak mens-mens juga setelah lahiran. Tapi di kolom jawaban oleh adminnya dijelaskan kalau itu wajar aja, karena bisa beda di setiap orang. Isapan bayi, pola menyusui, kondisi tubuh dan hormon kan lain-lain.

Di kehamilan pertama saya mengalami keguguran saat usia kandungan 9 pekan. Seingat saya waktu itu siklus haid saya tidak makan waktu lama sudah kembali normal. Nah, sehabis melahirkan anak kedua, saya mens pertama setelah bayi berumur 6 bulan. Kebetulan pas bulan Ramadhan mens pertama ini, padahal sudah senang tadinya kirain bisa puasa full kayak pas hamil, hehehe, ternyata harus bolong.

Kakak dan dedek sama-sama full ASI (dedek baru 18 bulan sih, semoga bisa sampai 2 tahun :)) dan saya sampai sekarang tidak menggunakan KB hormonal maupun yang dipasang di tubuh saya. Analisis sementara penyebabnya mungkin karena kakak dikenalkan pakai dot sejak awal (dilatih dari sebelum masuk kantor kembali), sedangkan dedeknya memang sengaja nggak dipakaikan dot sama sekali. Pola menyusui/mengosongkan payudara khususnya yang secara langsung ke payudara ibu kan bisa mempengaruhi hormon yang menghambat ovulasi, sedangkan kebiasaan memakai dot berpotensi menurunkan daya isap bayi atau kadang disebut dengan bingung puting laten. Tapi banyak juga sih working mom yang bayinya pakai dot lantas baru mens setelah bayinya disapih (sekitar 2 tahun), tanpa KB hormonal tentunya (kalau pakai, jadwal menstruasi bisa jadi berbeda memang ya), termasuk beberapa teman kantor.

Continue reading

Mainan Anak dari Bahan Makanan

Selama ini sering saya baca baik di majalah, laman web, hingga akun pribadi ada yang berbagi tips membuat play dough sendiri, adonan mainan homemade, dan sejenisnya. Tentu saja sebagai ibu yang suka mentok soal permainan edukatif anak saya ikut mengumpulkan resep-resepnya, tapi belum sampai betul-betul bikin. Entahlah, rasanya kok sayang saja, gitu. Termasuk penggunaan kentang atau bawang untuk membuat semacam stempel. Itu bahan makanan kan, ya? Bisa buat memenuhi hak tubuh, dan di tempat lain bisa jadi ada yang lebih membutuhkan kan, ya?

Memang, permainan bukannya tidak bermanfaat, ada stimulasi sensori motorik di situ. Tapi pilihan lain kan ada, beli jadi misalnya. Mau pakai alasan ‘yang homemade lebih aman’ pun, produsen play dough terkemuka biasanya jelas mencantumkan cara pakai dan komposisi di kemasan kok, meliputi pewarna apa yang dipakai dan peringatan akan adanya kandungan tertentu yang berpotensi memicu reaksi alergi, termasuk terigu (nah, ini gimana ya, termasuk menyia-nyiakan bahan makanan juga nggak, ya?). Jadi bisa dipilih sesuai dengan kondisi. Kalau dibilang ‘proses bikinnya itu yang seru dan mendidik’, ya masih bisa juga anak diajak bikin adonan buat roti beneran. Misalkan kepepetnya anak ada alergi sehingga yang aman dimainkan hanya yang bikinan sendiri, yang ini mungkin bisa mendapat pengecualian (jika memang darurat ada kemampuan tertentu yang harus distimulasi dengan cara itu barangkali ya).

Belakangan seorang teman di grup whatsapp memposting kutipan artikel di bawah ini yang menjawab kegundahan saya. Yah, walaupun awalnya saya tidak kepikiran soal biji-bijian untuk kolase atau dironce misalnya. Mungkin karena dalam pikiran saya untuk biji-bijian yang terpakai tidak terlalu banyak sebagaimana yang terjadi untuk adonan ya. Omong-omong soal jumlah, mungkin kalau sedikit atau bisa dipakai kembali (biji-bijian, makaroni habis dironce yang bisa dibersihkan) tidak apa-apa? Harus ditanyakan lagi nih ke yang kompeten menjawab, nanti saya update postingan kalau sudah ada jawaban.

Lebay? Mungkin ada yang beranggapan begitu ketika membaca tulisan tersebut. Yah, namanya hati-hati dengan dalil yang jelas (bukan sekadar waspada karena testimoni atau kekhawatiran yang tidak beralasan) kan boleh, ya? 🙂 Yang jelas, saya saat ini mantap untuk tidak bikin sendiri play dough dan sejenisnya (bukan karena malas bikin ya, hehehe).

=============================================================================

Membuat Kolase dari Beras, Kacang dll

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini muncul permainan untuk anak-anak dengan bahan baku kacang, beras dan adas (sejenis rempah-rempah) dan bahan makanan lain dari nikmat-nikmat Allah. Bahan-bahan ini juga digunakan dalam pembuatan media pembelajaran. Seperti untuk membuat peta dan yang lainnya, kemudian dicat dengan warna tertentu. Apakah perbuatan ini diperbolehkan? Bagaimana jika digunakan untuk pembuatan ilustrasi? Kami mengharapkan penjelasan.

Jawaban:
Yang nampak bagiku tentang masalah ini bahwa perbuatan ini tidak boleh dilakukan. Karena di dalamnya terdapat unsur menghinakan nikmat-nikmat Allah. Juga terdapat unsur buang-buang harta tanpa ada keperluan. Perbuatan semacam ini mengumpulkan dua unsur tadi, buang-buang harta dan menghinakan nikmat, yang seharusnya nikmat tersebut dimanfaatkan dengan cara yang lain. (Pendapat) inilah yang menurutku paling kuat dan paling dekat dengan kebenaran. Wallahua’lam.
(Sumber: www.alifta.net)

Membuat Playdough dari Tepung, Minyak Goreng dan Garam

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta

Pertanyaan:
Kami adalah ibu guru yang mengajar di sebuah Taman Kanak-kanak. Kami memiliki  sebuah materi pelajaran yang disebut dengan pelajaran ketrampilan seni. Anak-anak diberikan adonan yang terbuat dari campuran tepung putih, garam,  minyak, pewarna makanan. Bahan-bahan ini diuleni ibu guru hingga menjadi adonan kalis berwarna yang lebih lembut daripada tanah liat. Adonan ini diberikan kepada anak-anak untuk bermain. Perlu diketahui, sebagian adonan ini berjatuhan di lantai, terinjak kaki dan ketika kering adonan ini dibuang ke tempat sampah. Apa hukum bermain adonan dengan model permainan seperti di atas, sementara pelajaran ini menjadi kurikulum yang ditetapkan kementerian pendidikan dan pengajaran. Berilah kami pencerahan tentang masalah ini dengan penuh ucapan terima kasih. Jazakumullahu khairan.

Jawaban:
Menyuguhkan adonan seperti yang disebutkan dalam soal diatas untuk diberikan kepada anak-anak agar mereka bermain dengan adonan tersebut, termasuk menghinakan dan menyia-nyiakan nikmat. Sementara banyak orang sangat membutuhkannya. Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan untuk menjaga nikmat dan memuliakannya. Beliau juga memberi arahan kepada orang yang membawa makanan lalu sepotong makanan terjatuh, agar orang tersebut membersihkan bagian yang kotor lalu memakannya dan tidak menyisakannya untuk setan. Dan masih memungkinkan memberikan mainan alternatif lain bagi anak seperti tanah liat dan bahan lainnya yang memiliki tujuan yang sama, yang dapat melatih anak-anak.

Wabillahit taufiq. Washallallahu’ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala aalihi washahbihi wa sallam

Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyyah Wal Ifta

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah Alu Asy Syaikh
Anggota
Abdullah bin Ghudayyan
Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Ahmad bin Ali Al Mubaraki
Abdullah bin Muhammad Al Muthalliq
Abdullah bin Muhammad bin Khunain
Sa’d bin Nashir Asy Syitri
(Sumber: www.alifta.net)

Boleh Bermain dengan Kulit dan Ampas Makanan

Oleh Syaikh Khalid bin Suud al Bulihid

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Saya tinggal di Swiss. Di sini, anak-anak TK biasa bermain adonan yang terbuat dari tepung,  garam sehingga tidak meracuni anak (jika tertelan). Apakah hal ini diperbolehkan meskipun terbuat dari bahan makanan? Apakah diperbolehkan jual beli mainan seperti ini?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,

Alhamdulillah,
Yang nampak bahwa tidak diperbolehkan bermain dengan adonan makanan secara mutlak. Karena termasuk membuang-buang dan menghinakan sesuatu yang seharusnya dimuliakan. Juga karena perbuatan semacam ini meniadakan syukur yang wajib. Sementara Allah Ta’ala sungguh memerintahkan kita untuk mensyukuri nikmat. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sangat memuliakan makanan walaupun hanya sedikit. Sampai-sampai beliau shallallahu’alaihi wasallam bermaksud memakan satu kurma yang beliau temui di jalan akan tetapi beliau khawatir kurma tersebut adalah kurma sedekah. Beliau shallallahu’alaihi wasallam juga memerintahkan  untuk mengambil sepotongan makanan yang terjatuh di tanah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam,

إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ ) ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ قَالَ : ( فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمْ الْبَرَكَةُ ) .

Jika sepotong makanan salah seorang di antara kalian terjatuh hendaknya ia membuang kotoran darinya kemudian memakannya. Dan janganlah membiarkannya untuk setan.” Beliau memerintahkan kami agar membersihkan makan yang tertinggal di piring (dengan tangan). Kemudian bersabda, “Sesungguhnya kalian tidaklah tahu, makanan mana yang mengandung berkah.” (HR. Muslim)

Bermain adonan makanan termasuk merugikan dan menyia-nyiakan harta dalam perkara yang tidak benar. Sungguh Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang kita dari hal-hal yang demikian sebagaimana terdapat dalam sunnah.

Bermain adonan makanan termasuk sikap boros dalam harta. Sungguh Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا

“Makan, minumlah dan jangan berlebihan.” (QS. Al A’raf: 31)

Adapun bermain kulit makanan atau sampah makanan yang umumnya tidak dapat diambil manfaatnya atau tidak jelas kegunaannya maka tidak mengapa. Karena itu bukan termasuk makanan yang dimuliakan. Dahulu,  para sahabat ridhwanullahi’alaihim saling melempari dengan kulit semangka,  sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Dengan demikian, tidak seharusnya menjadikan apapun jenis makanan selama makanan tersebut dimuliakan lalu digunakan sebagai bahan mainan anak-anak. Akan tetapi yang wajib dilakukan adalan memuliakan makanan, memperhatikan dan merawatnya karena rasa syukur kepada Dzat yang Maha Melindungi yang telah memberikan nikmat yang berharga.
Sudah selayaknya mencari alternatif material lain yang tidak dimuliakan namun cocok dibuat mainan dan senang-senang.

Demikian juga perlu diwaspadai untuk tidak menggunakan bahan makanan seperti telur, kelapa, tepung dalam perlombaan dan perayaan seperti kebiasaan sebagian orang bermain-main dengan bahan tersebut.

Tidak pantas bagi seorang muslim ikut-ikutan menjualbelikan, menyewakan makanan yang dipersiapkan sebagai bahan untuk acara permainan dan hiburan, karena hal ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Para ulama telah menegaskan haram hukumnya menjual makanan kepada orang yang akan menggunakannya untuk berjudi.

Diperbolehkan bagi seseorang menggunakan makanan untuk memperbaiki tubuhnya atau untuk pengobatan. Seperti menggunakan buah-buahan, madu untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan bintik-bintik dan tujuan baik yang lain. Karena ini termasuk menggunakan makanan untuk tujuan yang jelas kemanfataannya. Karena termasuk dalam pengobatan yang mubah serta bukan termasuk menerjang kemuliaan makanan dan bukan untuk main-main. Maka tidak mengapa memanfaatkan makanan untuk pengobatan atau kosmetik agar penampilan makin cantik (untuk berhias didepan suami-pen). Wallahua’lam.washallallahu’ala Muhammad wa aalihi washahbihi wasallam. (Sumber: https://saaid.net/Doat/binbulihed/f/365.htm)

Di antara alternatif mainan anak-anak dari sisa makanan yang tidak bermanfaat lagi misalnya menggunakan ampas kelapa, kulit semangka, kulit jeruk atau tepung yang sudah bau apek, berjamur, berkutu, banyak larva sehingga sangat tidak layak dikonsumsi bisa dimanfaatkan untuk bahan playdough daripada dibuang. Allahu Ta’ala A’lam.

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله واصحابه

***
Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti
Artikel wanitasalihah.com

Sumber:http://wanitasalihah.com/mainan-anak-anak-yang-terbuat-dari-bahan-makanan-apa-kata-ulama/

Penerapan Cashless pada Pemprov DKI Jakarta

Daripada blognya kosong…sekali-sekali posting yang agak serius 😀 (walaupun sebagian besar cuma kompilasi terkait pekerjaan dan ada tambahan beberapa kalimat dari atasan — ini sekalian buat nyimpan link sumbernya).

Pembatasan transaksi tunai, di mana transaksi dengan nilai di atas batas yang ditentukan harus dilakukan melalui sistem perbankan, merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah korupsi maupun pencucian uang. Ide pembatasan transaksi tunai ini di-launch pada saat pendaftaran Calon Pengganti Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 14 Juni 2010. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 37-39/PUU-VIII/2010 halaman 38 menyebutkan bahwa program prioritas pihak terkait untuk pemberantasan korupsi di Indonesia di antaranya adalah melalui pembatasan transaksi tunai. Transaksi keuangan di perbankan akan mudah dideteksi oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), sehingga apabila didapatkan informasi transaksi keuangan yang mencurigakan dapat disampaikan kepada lembaga yang berwenang. Negara lain seperti Perancis, Italia, Rusia, Belgia, Meksiko, Armenia, Ukraina, dan Argentina telah menerapkan pembatasan transaksi tunai (www.ori.or.id).

Pemerintah Pusat telah menyiapkan RUU tentang Pembatasan Transaksi Penggunaan Uang Kartal yang dalam konsideransnya menyebutkan “Penggunaan transaksi keuangan non-tunai melalui lembaga keuangan bermanfaat untuk membatasi penggunaan transaksi keuangan tunai untuk tujuan tindak pidana atau menjadikannya sebagai sarana pencucian uang”. Dalam RUU tersebut, yang diwajibkan menggunakan pembayaran non-tunai adalah transaksi dalam jumlah 100 juta rupiah atau lebih.

Bank Indonesia pun mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Selain efek transparansi dan akuntabilitas, transaksi non-tunai diharapkan juga berdampak pada meningkatnya kecepatan peredaran uang. Lancarnya sistem pembayaran, selain akan memberikan kepastian masyarakat dalam bertransaksi, juga akan mempercepat peredaran uang (velocity of money) dan mengurangi floating dana dalam setelmen. Perputaran uang yang semakin cepat dalam masyarakat akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi sebagai dampak dari money multiplier yang diciptakannya (www.bi.go.id).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut ambil bagian dalam gerakan menuju pembatasan transaksi tunai. Dalam acara penandatanganan kesepakatan bersama dengan PPATK pada bulan Januari 2015 untuk Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Gubernur DKI Jakarta menyampaikan bahwa transaksi tunai membuka peluang terjadinya kecurangan. Sebagai langkah nyata, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkecil besaran Uang Persediaan cash yang dipegang oleh Bendahara Pengeluaran, dimulai dari pengurangan uang pada bendahara semula Rp25.000.000 menjadi Rp2.500.000 pada tahun 2015, dan pada tahun 2016 sudah menjalankan prinsip cashless. Bendahara Pengeluaran sama sekali tidak diperkenankan menyimpan uang tunai di brankas. Dana UP/TUP yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran seluruhnya berada di rekening bank. Hal ini diatur dalam Instruksi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Transaksi Non Tunai (Transaksi Non-Cash).

Seluruh pembayaran transaksi belanja daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus dilakukan secara elektronik via perbankan melalui transfer dan/atau pemindahbukuan tanpa ada batasan nominal rupiah tertentu. Oleh karena itu, seluruh Kepala SKPD/UKPD melakukan pembayaran kepada pihak ketiga, penerima hibah, dan bantuan sosial yang dananya bersumber dari Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) melalui mekanisme non tunai. Untuk itu pihak ketiga dihimbau untuk membuka rekening pada Bank DKI selaku bank yang memegang rekening Kas Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta. Implementasi cashless ini juga dapat meminimalisir kesalahan penghitungan dan kesalahan pencatatan transaksi oleh bendahara pengeluaran.

Beberapa tantangan dalam penerapan pembatasan transaksi tunai adalah perlunya waktu untuk beradaptasi, ketersediaan infrastruktur keuangan yang memadai belum merata, serta bahaya cyber crime. Sosialisasi kepada masyarakat, pembangunan infrastruktur transaksi keuangan yang baik, serta pembangunan sistem pengaturan dan pengawasan yang baik untuk menjaga keamanan dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan tersebut (Buletin Hukum Kebanksentralan, volume 12, nomor 1/2015).

Lagu-lagu LDR

Ini daftar lagu-lagu mengenai Long Distance Relationship (LDR) yang pernah saya sebut dalam buku Long Distance Love (Lingkar Pena Publishing House, 2009). Tentunya dalam tujuh tahun ini banyak lagu baru dengan tema serupa ya, hubungan jarak jauh dan lagu-lagu tentang kangen. Sekilas kayaknya saya pernah tahu lagu Aura Kasih, Raisa, dan Ran tentang jauh-jauhan ini. Tapi belakangan sudah jarang mengikuti perkembangan lagu-lagu terbaru :D, jadi kapan-kapan sajalah update daftarnya.

Belum semua saya pernah dengar sebetulnya sih, sebagian cuma hasil googling karena banyak ternyata yang posting di forum dalam maupun luar dalam rangka cari atau kasih referensi lagu-lagu seputar rasa rindu. Rindu di sini lebih spesifik lagi rindu pada pasangan yang sedang berada di tempat lain, bukan rindu memiliki seseorang yang belum teraih atau rindu pada mantan, hehehe.

1. I Miss U (Incubus)
2. Leaving on a Jetplane (Chantal Kreviazuk)
3. Lagu Rindu (Kerispatih)
4. Rindu Ini (Warna)
5. Kangen (Dewa 19/Chrisye & Sophia Latjuba)
6. Kangen (Maliq & d’Essentials)
7. Merindukanmu (Minoru)

Continue reading