Lip Tie yang Mengintai

Sekitar lima tahun yang lalu ketika saya menyusui Fathia, tongue tie dan lip tie ini sepertinya belum terlalu popoler dibicarakan di forum-forum ibu menyusui di sini. Belakangan muncul ‘kehebohan’ setelah beberapa bunda posting di media sosial terkait diagnosis tongue tie anaknya disertai foto, lalu banyak di-share, dan ramailah ibu-ibu yang lain ikut mengunggah foto anaknya, menanyakan apakah anaknya ada masalah serupa.

Beberapa orang kemudian mengistilahkannya sebagai semacam ‘epidemi’ baru, karena konon kian banyak tenaga kesehatan yang memberikan diagnosis ini (berikut rekomendasi tindakan bedah untuk mengatasinya).

Muncullah pro dan kontra. Ada yang menganggap kok kondisi ini seperti menjadi kambing hitam dan mudah sekali dilakukan tindakan invasif seperti bedah (walaupun minor), padahal seharusnya bisa diupayakan langkah-langkah lain terlebih dahulu. Sudah bedah pun, belum tentu lancar dan bisa saja nyambung lagi. Yang lain berpendapat tongue tie maupun lip tie tidak boleh diremehkan, tidak ada salahnya waspada dan tindakan jangan sampai ditunda karena efeknya bisa ke pertumbuhan bayi yang terhmbat (karena bayi kesulitan melekat dengan baik jadi ASI yang terambil tidak maksimal dan ibu pun kesakitan).

Ketika seorang dokter anak memposting hal ini pun tanggapan netizen beragam, ada yang memberi testimoni anaknya bisa’ lulus’ tanpa bedah, cukup dengan pemosisian yang pas dan ketelatenan, ada juga yang bilang bersyukur karena anaknya segera mendapatkan tindakan bedah dan selanjutnya memang terasa bedanya, lebih nyaman buat bunda maupun bayinya.

Saya copas dari Detikhealth:

Jakarta, Selain tongue tie, bayi baru lahir juga berisiko mengalami lip tie. Kondisi ini kadang-kadang juga memerlukan tindakan serupa tongue tie seperti frenotomi.

Menurut dr Meta Hanindita, SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, lip tie memiliki empat kelas. Kelas satu, frenulum bibir atas melekat di bagian atas gusi. Kelas dua, frenulum melekat di sebagian besar gusi. Kelas tiga, frenulum melekat di bagian depan papila (jaringan lunak di tepi gusi). Kelas empat, frenulum menempel ke papila memanjang sampai ke bagian dalam gusi.

“Penyebab munculnya lip tie belum bisa dipastikan tapi diperkirakan ada faktor genetik. Lip tie bisa jadi berpengaruh pada proses menyusui, bergantung kelasnya,” ujar dr Meta kepada detikHealth dan ditulis pada Selasa (9/2/2016).

dr Meta menambahkan, lip tie pada kelas berat biasanya harus dilakukan tindakan frenotomi, terutama jika ditemukan ada masalah menyusui setelah dilakukan evaluasi. “Kalau lip tie tidak dilakukan frenotomi, kalau tumbuh gigi bisa jadi ada yang tumbuh renggang. Atau sering juga terjadi kerusakan gigi seri atas karena sisa makanan menumpuk di kantong antara lingual frenulum dan bibir,” imbuhnya.

Baca juga: Infografis: 4 Tipe Tongue Tie pada Bayi

Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengobati lip tie menurut dr Priscilla, SpBP-RE atau dr Priscil dari RS Bunda Jakarta yaitu frenulotomy atau frenotomy atau frenectomy. “Kalau di lidah, untuk tongue tie namanya lingual frenectomy, di bibir jadi labial frenectomy,” tutur dr Priscil.

Berbeda pendapat dengan dr Meta, dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA atau dr Tiwi, dari RS Bunda Jakarta justru menyebutkan bahwa lip tie tidak berpengaruh pada proses menyusui dan biasanya tidak memerlukan tindakan apapun.

Dari pengalamannya menjadi Satgas PP ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Tiwi mengatakan dirinya hampir tak menemukan bayi dengan lip tie yang memiliki masalah dalam menyusui atau memerlukan tindakan khusus.

“Saya pribadi tidak pernah melihat bahwa lip tie punya peran dalam proses menyusui. Pada derajat yang berat mungkin pertumbuhan gigi atas akan lebih rengggang tapi saya rasa itu bukanlah sesuatu yang harus diintervensi segera pada saat bayi. Saya melayani hampir puluhan bayi setiap hari untuk menyusui. Pada tahun 2015 hanya menemukan satu kasus yang benar-benar perlu tindakan,” terang dr Tiwi.

Nah, untuk lebih memastikan apakah anak dengan lip tie membutuhkan tindakan medis atau tidak, sebaiknya orang tua segera memeriksakan anak ke dokter. Nanti akan diperiksa apakah kondisi tersebut mengganggu proses menyusui dan tumbuh kembangnya, atau tidak. Dengan begitu, tindakan medis pun bisa diberikan lebih tepat dan sesuai dengan kondisi anak.

Baca juga: Sulit Menyusu, Bobot Bayi dengan Tongue Tie Derajat Berat Bisa Menurun

http://health.detik.com/read/2016/02/09/201119/3138024/775/bayi-juga-berisiko-mengalami-lip-tie-lho-apa-itu

Continue reading

Aktivitas Menyusui Yang Membuka Cakrawala Baru

Saya kira saya sudah siap dan paham mengenai dunia ASI dan menyusui ketika saya melahirkan anak pertama. Saya sudah bergabung dengan milis ibu menyusui lima tahun sebelum hamil, beberapa teman kantor pun telah menjadi contoh langsung bagi saya tentang bagaimana mengelola ASI perah sebagai ibu bekerja. Buku-buku referensi yang membahas ASI juga telah saya koleksi.

Di usia enam tahun saya bahkan bisa memberi saran pada mama (waktu itu saya baru punya adik) soal mengatasi bayi ‘ngempeng’ tapi tidak aktif menyusu, berkat majalah langganan mama. Lagipula, menyusui adalah hal yang alamiah, bukan?

Ternyata urusan ASI dan menyusui tidaklah sesederhana itu. Bahwa bayi bisa bertahan dengan cadangan makannya dan kalaupun butuh ASI masih sangat sedikit di tiga hari pertama pascapersalinan, itu saya tahu. Pihak rumah sakit tempat saya melahirkan juga alhamdulillah cukup mendukung ASI, termasuk dengan memberikan kelas breast care yang di antaranya mencakup pula praktik posisi menyusui yang tepat.

Ketika putri mungil saya menangis terus di hari-hari pertamanya di rumah akibat tak bisa melekat dengan baik, saya masih bisa menenangkan diri bahwa ‘semua akan berlalu pada waktunya’, sehingga tak berlanjut ke kepanikan akan kecukupan (ketidakcukupan, lebih tepatnya) ASI. Sewaktu tetangga datang menjenguk dan bilang hati-hati kalau pipi bayi terciprat ASI bisa merah-merah karena ASI itu keras, saya menanggapi dengan senyuman karena pernah membaca bahwa itu hanyalah mitos.

Continue reading

Kapan Sebaiknya Mulai Stok ASI?

Kapan sih waktu yang tepat untuk mulai memerah atau memberdayakan pompa ASI setelah melahirkan? Dulu, kalau ada yang nanya di grup ASI yang saya ikuti (dan di grup-grup lain juga) kapan sebaiknya mulai stok ASIP, banyak yang jawab: sesegera mungkin.

Kenapa memangnya the sooner the better? Alasannya banyak, di antaranya:

  • Agar makin banyak stok ASI Perah (ASIP) di kulkas atau freezer yang siap untuk digunakan, supaya enggak deg-degan di awal nanti mulai bekerja lagi. Ibu jadi lebih tenang memasuki dunia kerja kembali
  • Menyediakan ASIP sebagai sarana latihan memberikan ke bayi dengan media pilihan, agar nantinya penyajian ketika ditinggal kerja betulan sudah lancar
  • Membiasakan pakai pompa ASI atau memperlancar teknik perah tangan. Karena memerah ASI itu merupakan keterampilan yang perlu dilatih, kan? Makin sering berlatih biasanya makin luwes dan paham triknya
  • Karena bayi memang memiliki kondisi khusus, ada yang harus terpisah dengan ibu karena perawatan intensif, kelainan anatomi bawaan yang menyulitkan penyusuan langsung, atau kenaikan berat badan bayi kurang sehingga dianggap perlu intervensi berupa suplementasi atau top up dari ASI perah ibu sendiri yang diberikan dengan media lain di sela-sela waktu menyusu
  • Penasaran dan akhirnya ingin mengecek, sebetulnya betul nggak sih ASI-nya sedikit? Kok bayi nangis melulu, dan orang-orang mulai berkomentar, “Gara-gara ASI-nya kurang, tuh…”
  • Berjaga-jaga siapa tahu ibu ada perlu mendadak keluar, misalnya mengurus urusan administrasi yang tidak memungkinkan untuk bawa bayi dan tidak bisa diwakilkan
  • Karena ibu merasa payudara bengkak di sela-sela jam menyusui, dan bayi belum kelihatan lapar lagi atau sulit dibangunkan, sayang kalau dibiarkan saja sampai sakit dan rembes.

Nah, ternyata jawaban ‘lebih awal lebih baik’ untuk menimbun ASIP ini tidak pas.

Membaca postingan di grup Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang nanti saya kutip di bagian bawah tulisan bikin saya senyum-senyum sendiri (senyum kesentil maksudnya) mengingat saya pun sudah mulai memerah ASI sejak hari-hari awal pasca-melahirkan. Padahal tidak ada indikasi yang bikin saya harus memompa.

Setelah melahirkan Fathia, saya memerah ASI karena Fathia kesulitan melekat dengan baik. Jadi ASIP saya perah untuk kemudian disuapkan dengan sendok. Pendekatan yang salah tentunya, karena seharusnya saya lebih fokus pada upaya mencari posisi yang pas dan kontak kulit sebanyak mungkin agar proses menyusui secara langsung lebih lancar.

Continue reading

Demi Oleh-oleh ASIP untuk Anak Tercinta

Tema besar World Breastfeeding Week alias Pekan ASI Dunia tahun lalu adalah “Breastfeeding and Work, Let’s Make It Work!“. Kenapa sampai ditekankan soal ibu bekerja? Karena menyusui dengan status sebagai ibu bekerja, lebih khususnya bekerja di luar rumah, punya tantangan khasnya sendiri. Dari soal mengatur waktu memerah (harus rutin, kan, kalau tidak produksi ASI terancam dihambat karena payudara dibiarkan penuh terlalu lama),  mencari tempat memerah yang nyaman (tidak semua kantor menyediakan tempat khusus pumping, belum lagi kalau ada tugas lapangan), pandangan heran teman sekerja (ada teman di dunia maya yang katanya dijuluki tukang es karena bawaan cooler bag dkk-nya), bawaan sehari-hari yang nambah (minimal banget botol ASIP dan es pendingin, kalau memerah dengan tangan), melatih anak (sebetulnya lebih ke melatih pengasuhnya, biasanya :D) minum ASIP dengan media yang tepat, sampai ini nih…gimana kalau mendadak jadi harus meninggalkan bayi beberapa hari untuk urusan pekerjaan?

Ketika masih menyusui anak pertama, saya cukup ‘aman’ dari kemungkinan dinas ke luar kota karena kebetulan saya saat itu ditempatkan di bagian pelayanan terdepan yang jarang kebagian tugas dinas (kalau kerepotan mengatur jadwal pumping di ruangan yang disediakan kantor sih iya, hehehe…takut aja diprotes kok loketnya suka kosong, padahal sudah ada aturan pelindungnya ya). Alhamdulillah sih, karena kalau membaca beberapa cerita ibu-ibu yang mendapat penugasan ke luar kota bahkan luar negeri, atau malah bekerja di pulau yang berbeda dengan bayinya, atau pekerjaannya mengharuskan jarang menetap di satu tempat, rasanya perlu perjuangan banget. Walaupun sebetulnya kalau mau dibawa santai barangkali bisa dijalani dengan lebih tenang ya, tapi tetap saja penuh tantangan, kan.

Continue reading

Ketika Harus Berpisah dengan Calon Buah Hati

Status seorang teman membuat saya tersentak beberapa pekan yang lalu. Beliau mengalami keguguran di kehamilannya yang keempat.

Dulu, ketika tinggal di satu kota, kami sedang dalam kondisi sama-sama hamil setelah sebelumnya keguguran. Alhamdulillah kehamilan kami waktu itu berjalan lancar hingga saya melahirkan anak pertama dan beliau melahirkan anak kedua. Kebetulan keguguran yang saya alami juga terjadi di bulan Agustus, tepatnya awal Agustus 2010, di usia kandungan 9 minggu. Itu kehamilan saya yang pertama setelah empat tahun menikah.

Dari dulu sampai sekarang, tiap mendengar kabar keguguran pastilah jadi banyak dugaan penyebab yang dilontarkan orang-orang di sekitar. Dalam kasus teman di atas, beberapa kawan kami menerka bahwa kesibukan beliaulah yang memberi pengaruh, atau dengan kata lain kecapekan karena aktivitas.

Saya sendiri sempat mengira kehamilan saya tidak berlanjut karena kelelahan, mengingat sebelum sadar kalau hamil saya memang menjalani tugas dinas ke luar pulau, sempat jalan kaki keliling lumayan jauh pula. Tapi, dokter kandungan saya menyatakan bukan itu penyebabnya, melainkan diduga merupakan semacam mekanisme alami karena hasil pembuahan yang memang kurang baik sejak awal. Lupa sih waktu itu tergolong kematian mudigah (death conceptus/kematian embrio, ketika sudah pernah terdeteksi detak jantung janin, umumnya mulai usia kandungan 7 minggu) atau bukan, dokternya tidak menyebutkan diagnosis tersebut.

miscarriage

(gambar dari 123rf)

Jadi, secara ilmiah, apa sih yang sebetulnya menyebabkan terjadinya keguguran? Berikut saya terjemahkan dari March of Dimes, salah satu situs mengenai kehamilan dan kandungan tepercaya:

Keguguran adalah suatu kondisi di mana bayi meninggal di dalam rahim sebelum usia kandungan 20 pekan.

Penyebab keguguran belum semuanya diketahui. Beberapa kemungkinan meliputi:

  1. Masalah kromosom, yang menjadi penyebab lebih dari setengah keguguran pada trimester pertama. Masalah kromosom ini terjadi jika sel telur atau sperma memiliki terlalu banyak kromosom sehingga ketika dipasangkan jumlahnya ‘salah’ dan inilah yang dapat memicu keguguran.
  2. Kehamilan kosong/blighted ovum, jadi telur yang telah dibuahi melekat di rahim tetapi tidak berkembang menjadi embrio. Penyebabnya bisa karena masalah kromosom juga. Umumnya akan ada gejala pendarahan dengan warna coklat tua.
  3. Merokok, mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan.
  4. Kondisi kesehatan ibu. Terdapat beberapa masalah kesehatan yang meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, misalnya masalah hormon, infeksi, diabetes, penyakit tiroid, lupus dan penyakit autoimun lainnya. Terkadang penanganan yang baik sejak sebelum hamil dapat membantu menolong agar kehamilan bisa berjalan dengan sehat dan lancar.
  5. Ada beberapa studi yang menyatakan bahwa terlalu banyak kafein (biasa terdapat dalam kopi, teh, coklat, minuman bersoda, obat-obatan tertentu) dapat mengakibatkan keguguran, tapi penelitian-penelitian yang lain tidak sependapat. Amannya, batasi konsumsi kafein maksimal 200mg/hari saat sedang hamil.
Untuk kasus keguguran berulang, beberapa penyebab yang sudah diketahui adalah:
  1. Masalah pada rahim maupun leher rahim (serviks), misalnya bentuk rahim yang abnormal (sebagian bisa diatasi melalui operasi), fibroid maupun luka operasi pada rahim, inkompetensi leher rahim (mulut rahim lemah dan terbuka terlalu awal, biasanya pada trimester kedua dan dapat dicegah dengan semacam jahitan keliling/cerclage).
  2. Masalah kromosom, sama dengan di atas, tetapi kalau sampai berulang maka baiknya ayah maupun ibu menjalani tes karyotype.
  3. Sindrom antifosfolipid, suatu kondisi sistem kekebalan tubuh yang meningkatkan risiko penggumpalan darah di plasenta. Treatmnet-nya biasanya dengan aspirin dosis rendah dan obat-obatan pengencer darah.
  4. Masalah hormon, misalnya hormon progesteron yang rendah atau bisa juga PCOS (polycystic ovary syndrome) yaitu kista (kantong berisi udara, cairan, atau benda lain yang semi-padat) pada indung telur/ovarium.
  5. Thrombophilias, suatu kondisi penggumpalan darah yang sifatnya menurun.
  6. Infeksi khususnya yang menyerang organ reproduksi seperti ovarium, rahim, maupun leher rahim.
  7. Bahan kimia berbahaya, misalnya jika salah satu dari orangtua sehari-hari karena pekerjaan bersinggungan dengan zat kimia, termasuk pengencer cat.

Sedangkan situs Medscape menyebutkan etiologi keguguran di antaranya sebagai berikut:

  1. Abnormalitas genetik dalam embrio (misalnya terkait kromosom)
  2. Usia ibu maupun ayah yang lanjut.
  3. Abnormalitas struktural pada saluran reproduksi termasuk kelainan bawaan pada rahim, fibroid, inkompetensi serviks.
  4. Defisiensi korpus luteum (massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya–wiki).
  5. Infeksi aktif misalnya virus rubella, cytomegalovirus, listeria, toksoplasma, malaria, brucellosis (infeksi yang disebabkan bakteri yang berasal dari hewan –biasanya hewan ternak– ke manusia), HIV, demam dengue, influenza, dan infeksi bakteri pada vagina.
  6. PCOS.
  7. Diabetes mellitus yang tidak dikendalikan dengan baik.
  8. Penyakit ginjal.
  9. Systemic lupus erythematosus (SLE)
  10. Penyakit tiroid yang tidak ditangani.
  11. Hipertensi/tekanan darah tinggi yang parah
  12. Sindrom antifosfolipid.
  13. Konsumsi tembakau, alkohol, kafein dosis tinggi.
  14. Stres.
  15. Obat-obatan tertentu.
  16. Obesitas/kegemukan (indeks massa tubuh/BMI di atas 30).

Berapa lama harus menunggu sebelum boleh usaha lagi untuk kehamilan berikutnya pasca keguguran? Dokter kandungan saya dulu menyarankan tunggu 3 kali siklus menstruasi normal, jadi selama masa itu diusahakan tidak ada pertemuan sel telur dengan sperma (menggunakan alat kontrasepsi). Kompilasi beberapa penelitian yang dikutip oleh WebMD malah mengindikasikan bahwa kehamilan dalam 6 bulan pertama setelah keguguran cenderung lebih baik kondisinya (risiko komplikasi lebih kecil, tentunya ini kondisi pada umumnya ya), meskipun WHO dalam guideline-nya mencantumkan 6 bulan merupakan jarak minimal.

March of Dimes menyatakan sekali siklus normal biasanya sudah menandakan tubuh siap untuk hamil lagi sedangkan bagian lain dari WebMD menyebutkan 1-3 siklus haid, tetapi kedua situs tersebut juga mengingatkan bahwa keguguran juga punya efek emosional yang biasanya perlu waktu untuk pemulihan sehingga sisi psikologis ini juga harus dipertimbangkan. Termasuk menggarisbawahi agar ibu tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas kejadian tersebut.

Ya, keguguran memang bukan cuma perkara tubuh yang mengalami perubahan dan butuh penanganan, melainkan juga bisa jadi topik sensitif. Suami istri baiknya saling mendukung (bisa juga mencari pertolongan dari supporting group atau ahlinya), termasuk dalam menyaring informasi dan masukan dari pihak luar yang bermaksud baik tetapi terkadang penyampaiannya kurang pas.

Oh ya, sekalian, saya sertakan tulisan mengenai hukum darah yang keluar pada saat/setelah keguguran. Apakah dihukumi darah nifas atau darah penyakit? Sholatnya bagaimana?

Saya sendiri dulu mengalami pendarahan sehari sebelum hingga sehari setelah kuret (bahasa sononya D & C atau dilation and curettage) dilaksanakan, kemudian sempat berdarah lagi ketika kembali bekerja lima hari kemudian. Saya kutip kesimpulan dari situs dr. Raehanul Bahraen, lebih afdol sih baca sendiri lengkapnya di sana ya supaya paham keseluruhan dalilnya.

-yang menjadi patokan adalah sudah terbentuk rupa janin atau tidak (misalnya yang keguguran keluar ada bentuk tangan dan kaki, jika sudah terbentuk maka dianggap nifas, jika tidak maka dianggap darah biasa, wanita tersebut suci (tetap shalat, puasa dan hala bagi suaminya berhubungan dengannya).

-jika terjadi keguguran masih di bawah 80 hari, maka bukan darah nifas, wanita tersebut masih suci.

-jika telah di atas 80 hari perlu dipastikan apakah sudah terbentuk rupa fisik manusia tidak, misalnya bertanya kepada dokter terpercaya.

-jika di atas 90 hari (3 bulan) maka dihukumi dengan darah nifas.

Tentang Jentik Nyamuk, Denda, dan Fogging

Sebuah spanduk menarik perhatian saya saat sedang mampir jajan sepulang kantor.

img-20160813-wa0000.jpg

Wah. Saya baru tahu. Serem juga yak, sanksinya :D. Kalau ada jentik nyamuk ditemukan di rumah kita, kita bisa kena denda s.d. 50 juta!

Seperti biasa, saya tanya paman Google dan menemukan jawaban bahwa memang ada Perda Provinsi DKI Jakarta No. 6 Tahun 2007 tentang Pengendalian Penyakit DBD. Pada pasal 21, disebutkan bahwa:

Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan pada tempat tinggalnya ditemukan ada jentik nyamuk Aedes aegypti atau jentik nyamuk Aedes albopictus dikenakan sanksi sebagai berikut:
a. Teguran tertulis;
b. teguran tertulis diikuti pemberitahuan kepada Masyarakat melalui penempelan stiker di pintu rumah;
c. denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah) atau pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan.

Saya coba cari peraturan yang lebih baru tapi belum nemu, jadi masih pakai yang di atas ya berarti. Ada juga Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 21 tahun 2016 tanggal 17 Februari 2016 tentang Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang di antaranya mencantumkan juga aneka tanaman yang dapat menjadi alternatif pengusir nyamuk.

tanaman nyamuk 1tanaman nyamuk 2tanaman nyamuk 3tanaman nyamuk 4

Pemprov DKI memang tidak main-main soal upaya pencegahan demam dengue ini (soal beda demam dengue dan demam berdarah dengue bisa lihat postingan yang ini ya). Beberapa berita saya kutip dari http://jakarta.go.id sbb:

“Saat pemberantasan sarang nyamuk (PSN) saya akan datangi sekolah-sekolah. Kalau ketika PSN saya menemukan jentik nyamuk, dia sudah melanggar pakta integritas Perda Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Pengendalian Demam Berdarah Dengue,” ujar Edy Suherman, Camat Kebayoran Baru, Selasa (23/2).

Menurut Edy, jika ditemukan jentik, pertama akan ada surat teguran kepada pihak sekolah. Namun setelah diberikan waktu pembersihan masih ditemukan, sekolah tersebut akan ditempel stiker yang menginformasikan bahwa ada jentik nyamuk di lingkungannya.

“Saya akan pasang stiker di sekolah itu dan akan saya ekspos bahwa di sekolah tersebut terdapat jentik nyamuk. Buat sekolah-sekolah yang kita tidak temukan jentik nyamuk kita berikan stiker bebas jentik nyamuk,” tandasnya.

http://www.jakarta.go.id/v2/news/2016/02/ditemukan-jentik-nyamuk-sekolah-dapat-sanksi-sosial#.V6wxwxJ35dY

“Nyamuk DBD ini hanya menggigit pada jam 9 sampai jam 1 siang berarti bisa disimpulkan bahwa sasarannya adalah anak sekolah. Oleh karena itulah, kepala sekolah dan unsur lainnya harus giat mengecek jentik nyamuk di lingkungan sekolah,” jelas Ahok dihadapan ratusan peserta apel gerakan PSN yang terdiri dari siswa, guru, kepala sekolah, kader jumantik, anggota PPSU dan lain-lain.

http://utara.jakarta.go.id/srv4/detail/Gubernur-DKI-Jakarta-Monitoring-Gerakan-PSN

Wilayah yang masih kedapatan jentik nyamuk dan masyarakat yang terjangkit, perangkat pemerintahnya termasuk Camat, Lurah dan para Kepala Bagian terancam  kehilangan TKD (tunjangan kinerja daerah) selama satu bulan serta pemutasian Kepala Sekolah dan para guru di sekolah-sekolah yang kedapatan jentik. Sementara itu Walikota juga menyampaikan ancaman pencabutan satu bulan TKD kepada UKPD yang terlambat dalam memberikan gaji kepada para petugas PPSU.

http://selatan.jakarta.go.id/news/2016/02/tkd-hilang-sebulan-karena-jentik-nyamuk

Ngomong-ngomong pengendalian nyamuk, jadi ingat beberapa bulan yang lalu ketika fogging sedang gencar dilaksanakan. Efektifkah? Beberapa tulisan berikut mungkin bisa menjawab.

Agar terbebas dari penyakit demam berdarah dengue, sejumlah orang kerap melakukan fogging. Kegiatan ini pun dijadikan agenda rutin setiap bulan di lingkungan. Sayangnya, fogging tidaklah efektif.

Menurut ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor dr Saleha Sungkar, SpPar(K) fogging tidak bisa diandalkan untuk menghilangkan nyamuk aedes aegypti dan virus zika. Pasalnya, nyamuk tersebut memiliki pola hidup yang berbeda dari nyamuk lainnya.

“Aedes aegypti sangat suka bau manusia. Di mana yang ada bau paling keras? Ya di kamar tidur, di lemari, di pakaian yang menggantung. Ketika ada upaya fogging di jalanan atau di got nyamuk Aedes yang di kolong tempat tidur nggak mati. Oleh karena itu fogging sampai sekarang tidak pernah berhasil memberantas aedes aegypti,” papar Saleha saat panel diskusi Zika di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Rabu (17/2/2016).

Saleha menjelaskan, selama 25 tahun fogging dilakukan di negara ASEAN sebagai bentuk kontrol penyakit demam berdarah dengue. Namun, angka kejadian penyakit tersebut terus meningkat.

Fogging membuat rasa aman yang palsu, orang senang aja karena sudah disemprot nggak ada nyamuk padahal yang mati nyamuk Culex, nyamuk got, Aedes aegypti-nya masih ada,” kata dia.

Sementara, cara yang paling efektif untuk memberantas nyamuk adalah dengan cara rutin menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air atau mengubur kaleng bekas. “Kalau menutup nggak rapat dia bisa masuk malah jadi merasa terlindung. Kalau mengubur lahan di Jakarta udah sempit,” ujar dia.

(alv)

sumber: http://lifestyle.sindonews.com/read/1086119/155/fogging-tak-efektif-basmi-nyamuk-1455714832

Bila ada kasus seseorang kena Demam Berdarah Dengue di lingkungan, hal yang sering dituntut oleh masyarakat adalah untuk segera melakukan fogging. Alasannya mungkin karena lebih praktis daripada harus bersih-bersih rumah memberantas sarang nyamuk.

Padahal menurut ahli parasitologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor dr Saleha Sungkar, SpPar(K), fogging adalah cara yang tak efektif untuk memberantas nyamuk penyebar Demam Berdarah Dengue dan juga virus Zika: Aedes aegypti. Nyamuk A.aegypti adalah jenis nyamuk yang telah mengembangkan ‘rasa’ terhadap manusia dan pola hidupnya berbeda dari nyamuk lain.

Sebagai contoh bahkan ketika dibandingkan dengan nyamuk kerabatnya Aedes albopictus, A.aegypti lebih berhati-hati. A.aegypti akan memilih tempat yang kuat bau manusianya di dalam rumah sebagai tempat istirahat sementara A.albopictus istirahatnya di semak-semak.

“Aedes aegypti sangat suka bau manusia. Di mana yang ada bau paling keras? Ya di kamar tidur, di lemari, di pakaian yang menggantung. Ketika ada upaya fogging di jalanan atau di got nyamuk Aedes yang di kolong tempat tidur enggak mati. Oleh karena itu fogging sampai sekarang tidak pernah berhasil memberantas Aedes aegypti,” kata dr Saleha ditemui di FKUI, Salemba, Jakarta, Rabu (17/2/2016).

Baca juga: Saktinya Para Nyamuk, Puluhan Tahun Dibasmi Tapi Tidak Punah-punah

“Fogging sudah 25 tahun dilakukan sebagai kontrol Dengue di negara-negara ASEAN tapi angka kejadiannya tetap meningkat. Fogging membuat rasa aman yang palsu, orang senang aja karena sudah disemprot enggak ada nyamuk padahal yang mati nyamuk Culex, nyamuk got, Aedes aegypti-nya masih ada,” lanjutnya.

dr Saleha mengatakan saat ini cara yang paling efektif untuk memberantas nyamuk adalah dengan rutin menguras tempat penampungan air. Saran lain untuk menutup tempat penampungan air atau mengubur kaleng bekas misalnya bisa juga dilakukan namun harus benar.

“Kalau menutup enggak rapat dia bisa masuk malah jadi merasa terlindung. Kalau mengubur lahan di Jakarta udah sempit,” ucap dr Saleha.(fds/up)

sumber: http://health.detik.com/read/2016/02/17/132757/3144280/763/ini-alasan-mengapa-fogging-tak-pernah-berhasil-basmi-nyamuk

KOMPAS.com – Akibat wabah DBD, hampir seluruh wilayah di negara kita melakukan pengasapan atau fogging. Fogging berguna untuk memutus rantai pertama risiko penularan DBD dan penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk.

Kata kuncinya di sini adalah; memutus rantai pertama. Artinya, fogging hanya solusi sementara, bukan solusi jangka panjang untuk menghentikan wabah. Berikut ini alasan mengapa fogging tidak terlaksana dengan efektif dan tidak bisa dianggap sebagai solusi jangka panjang.
1. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa
Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, mengurangi populasinya dan ini hanya bersifat sementara. Larva nyamuk tidak terpengaruh oleh fogging dan hanya butuh beberapa hari bagi mereka untuk menetas menggantikan senior-seniornya yang mati terbunuh.

2. Fogging tidak membunuh larva nyamuk
Fogging bukan jawaban jika Anda ingin mengenyahkan larva nyamuk. Satu-satunya cara untuk membasmi larva itu adalah dengan tidak membiarkan ada air tergenang. Jika ada wadah berisi air yang tidak mungkin dikeringkan, menaburkan bubuk abate bisa membantu membunuh larva.

3. Anda tidak di rumah saat ada fogging
Nyamuk mencari makan bukan hanya di luar rumah, tapi juga di dalam rumah. Karena itu, sebaiknya fogging juga dilakukan di dalam rumah. Ini berarti, Anda harus berada di rumah untuk membukakan pintu bagi petugas fogging.

4. Anda tidak membiarkan petugas masuk rumah
Ada berbagai alasan mengapa orang tidak suka ada orang asing masuk ke dalam rumahnya. Salah satu alasannya adalah kekhawatiran terjadinya pencurian. Untuk mengantisipasi hal ini, sebaiknya petugas fogging didatangkan dari institusi kesehatan pemerintah, memakai seragam dan tanda pengenal. Atau, petugas fogging melakukan tugasnya dengan disertai pengurus warga setempat sebagai penanggungjawab pelaksanaan fogging.

Ada baiknya juga jika beberapa hari sebelum fogging, pemerintah atau pengurus warga membuat pengumuman. Pengumuman ini berguna supaya warga dapat mempersiapkan diri dan mengamankan barang-barang berharga ketika rumahnya dimasuki orang asing.

5. Anda takut fogging bisa membunuh Anda atau hewan piaraan Anda
Konsentrasi pestisida yang digunakan untuk fogging cukup kuat untuk membunuh nyamuk, tapi tidak akan kuat membunuh kelinci, kucing atau hewan peliharaan lainnya, termasuk tidak akan membunuh Anda. Senyawa kimia yang digunakan untuk fogging juga bersifat cepat terurai oleh udara bebas dan sinar matahari. Selain itu, dengan kadar yang tepat, bahan kimia yang digunakan tidak bersifat akumulasi dan tidak menyebabkan keracunan.

6. Perawatan mesin fogging menghabiskan banyak biaya
Ada beberapa wilayah yang memiliki mesin fogging dan melaksanakan program fogging secara mandiri. Anggapan bahwa perawatan mesin fogging adalah pemborosan, dapat membuat warga malas mendukung program fogging. Seperti mesin mobil, mesin fogging juga perlu dirawat dan dibersihkan agar berumur panjang. Mulut pipa mesin fogging harus rajin dibersihkan dari kotoran yang menempel. Kotoran yang menyumbat pipa tidak hanya membuat mesin cepat rusak, tapi juga menimbulkan asap tebal yang memicu batuk dan tidak efektif dalam membunuh nyamuk.

7. Kekurangan petugas, peralatan dan area yang perlu ditangani terlalu luas
Fogging bukan cuma kegiatan menyemburkan asap pestisida. Fogging memerlukan teknik yang benar supaya efektif membunuh sebanyak-banyaknya nyamuk. Selain dosis dan jenis bahan kimia harus tepat, petugas fogging juga harus menguasai teknik ayunan, kecepatan gerak, membaca arah angin dan lain sebagainya. Kurangnya keterampilan dan jumlah petugas, alat dan area yang terlalu luas, membuat program fogging menjadi tidak efektif.

Kesimpulan
Fogging jika dilakukan dengan benar, akan efektif untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di tahap awal. Tahap selanjutnya perlu melibatkan seluruh anggota masyarakat.

Tak perlu alat yang canggih, cukup jaga kebersihan rumah dan lingkungan, singkirkan sampah yang berpotensi menjadi tempat genangan air, gunakan losion antinyamuk, kuras dan tutup tempat penampungan air, pastikan saluran air berjalan lancar tidak tertutup oleh sampah. Lakukan ini setiap hari, bukan cuma saat ada wabah saja.

sumber: http://health.kompas.com/read/2016/02/23/091900623/7.Sebab.Fogging.Tidak.Efektif.Menghentikan.Wabah.DBD

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jambi menilai tindakan fogging atau pengasapan yang dilakukan untuk pemusnahan nyamuk yang menjadi sumber penyakit malaria dan dan demam berdarah di musim hujan saat ini sangatlah tidak efektif.

“Memang salah satu cara yang paling populer yang dilakukan adalah fogging atau pengasapan di kampung-kampung, dan sekolah-sekolah. Tapi cara ini sangat tidak efektif untuk memusnahkan atau menghilangkan tingkat risiko serangan nyamuk,” kata Sekretaris IDI Jambi, dr Emil di Jambi, Senin.

Hal tersebut disampaikannya saat melakukan penyuluhan pencegahan penyakit-penyakit menular ke sekolah-sekolah di kecamatan Jambi Timur belakangan ini.

Menurut dia, cara fogging atau pengasapan terhadap kampung-kampung, sekolah-sekolah dan pasar-pasar bila dilakukan dengan maksud membangun citra sehubungan dengan pencalonan dirinya sebagai kepala daerah menjelang musim Pilkada, justru bisa berdampak negatif.

“Pasalnya dari penelitian yang dilakukan Dinkes dan IDI dari tindakan fogging yang dilakukan hanya 40 persen nyamuk saja yang mati, sementara 40 persen lainnya hanya mengalami pelemahan sementara dan 20 persen lagi justru selamat dan dapat meneruskan hidup serta perkembangkan biaknya,” ujar Emil.

Dikatakannya, yang lebih mencemaskan adalah nyamuk-nyamuk yang selamat dari tindakan fogging tersebut itu adalah nyamuk-nyamuk dengan genetik yang kuat dan tahan, sehingga pada perkembangbiakan berikutnya nyamuk-nyamuk kuat ini akan menurunkan genetis nyamuk-nyamuk yang tahan terhadap fogging.

Sehingga akhirnya tindakan serupa di masa-masa berikutnya tidak akan berdampak meninggalkan efek atau dampak apa-apalagi pada keturunan mereka, karena yang tersisa adalah induk-induk terpilih.

“Selain itu, ketidakefektifan fogging juga dikarenakan tindakan ini hanya akan mengenai induk-induk atau nyamuk-nyamuk dewasa, sementara telur dan jentik-jentiknya yang tersimpan di genangan air justru akan selamat semuanya untuk selanjutnya dalam beberapa hari sudah tumbuh menjadi nyamuk dewasa pula,” ujarnya.

Dia mengingatkan, tindakan pemusnahan yang dilakukan sesungguhnya paling ideal adalah memusnahkan jentik-jentik dan sarang-sarang nyamuk berupa genangan air dengan cara 3M atau menebarkan bubuk abate ke dalam tempat penampungan air keluarga.

“Dari penelitian kami, cara penebaran bubuk pemusnah bibit nyamuk digenangan air ini terbukti sangat ampuh, 100 persen jentik dan telur nyamuk yang ada di wadah air tersebut didapati jadi mati semua. Perlu diketahui satu nyamuk betina bisa bertelur 2000 butir, dengan tindakan ini kesemua telur dan jentik nyamuk itu mati semua,” kata dia.

Lebih jauh, dr Emil mengkritik apa yang dilakukan para tokoh politik yang mencari atau membangun citra melalui tindakan-tindakan kesehatan massyarakat tersebut.

“Wajar fogging dipilih, karena sangat efektif untuk membangun pencitraan diri meski sangat tidak efektif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sesungguhnya. Pasalnya dengan fogging yang bisa menelan biaya belasan hingga puluhan juta sekali aksi itu, keberadaan sang tokoh jadi langsung diketahui masyarakat. Ini sungguh sangat tidak sehat,” tegasnya.

sumber: http://www.tribunnews.com/kesehatan/2012/12/12/fogging-tak-efektif-malah-justru-lahirkan-nyamuk-nyamuk-kebal

Demam Lebih dari 3 Hari, Wajibkah Cek Darah?

Beberapa waktu yang lalu, dr. Apin posting tentang tes lab yang seringkali dilakukan oleh para orangtua ketika buah hatinya sudah beberapa hari demam (nanti akan saya kutip di bawah). Yang saya baca sih, beberapa orangtua sudah tahu bahwa ada batasan tiga hari atau 72 jam untuk cek darah ketika ada yang demam, karena kalau sebelum itu maka penyakit seperti demam dengue (lazimnya disebut sebagai demam berdarah) belum terdeteksi keberadaannya. Karena belum terdeteksi, akhirnya malah bisa berujung hasil negatif palsu alias dianggap bukan padahal iya, baru terlihat setelah fase tertentu.

Saya pun pernah ke puskesmas dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan tanpa batuk pilek, oleh dokter di sana saya tetap tidak disarankan cek lab karena menurutnya tidak akan kelihatan juga di hari kedua. Tentu kalau ada tanda kegawatdaruratan seperti tanda awal dehidrasi, sesak napas, kehilangan kesadaran/tidak respon, harus dibawa ke IGD segera ya (dan bukan ke lab dulu). Tapi benarkah kalau sudah lebih dari 3 hari memang sudah harus cek lab?

Lebih lanjut, apakah cek lab itu melulu hanya cek darah? Bagaimana dengan tes pipis atau urin? Tes ini juga sudah sering disarankan di beberapa grup kesehatan anak, tetapi sepertinya tidak terlalu sering dijadikan prosedur. Setidaknya, jarang ada teman yang cerita anaknya demam lalu bilang diminta tes urin. Hampir selalu pada cerita tes darah. Tapi pernah seorang sahabat, setelah diskusi dengan teman-teman grup, menyampaikan pandangan ke dokter apakah mungkin perlu cek urin alih-alih tes darah yang awalnya diminta. Ketika itu anaknya demam beberapa hari tanpa batpil. Permintaan itu dikabulkan dan ternyata memang bayinya terkena infeksi saluran kemih (ISK).

Kalau pengalaman saya pribadi, karena dokter keluarga kami cukup mudah dihubungi untuk konsultasi dan saya sudah sering mengikuti sesi sharing beliau beserta kawan-kawannya (termasuk dr. Arifianto ‘Apin’, Sp.A.), juga alhamdulillah atas izin Allah tidak pernah sampai pada tahap gawat, saya belum pernah sampai cek lab untuk memastikan penyakit anak-anak. Kalaupun cek lab, biasanya malah (disarankan) bukan dalam keadaan demam, yaitu untuk screening zat besi. Tapi paham juga sih kalau orangtua pastinya ingin yang terbaik, makin cepat diketahui penyebab demamnya kan bisa makin cepat juga ditangani dengan tepat dan harapannya lekas sembuh, anak merasa nyaman kembali.

Di sisi lain, beberapa dokter yang aktif mengedukasi masyarakat juga mengingatkan, cek lab itu juga berisiko, baik risiko trauma pada anak, risiko tertular penyakit dari pasien lain di tempat periksa, risiko biaya (kalau menurut pengobatan rasional menurut WHO kan ada juga prinsip tepat biaya, artinya kalau tidak perlu kan sayang juga uangnya–meskipun orangtua pastinya nggak akan merasa sayang keluar uang untuk kesehatan keluarga), sampai risiko ‘mengobati hasil lab’ padahal seharusnya yang diobati adalah sesuai klinis pasiennya bukan hanya bagaimana agar angka di lembar hasil berubah.

Berikut tulisan dr. Apin selengkapnya:

Wednesday, December 09, 2015
Demam lebih dari 3 hari harus diperiksakan ke laboratorium?

Topik ini sepertinya sudah lebih dari sekali saya bahas, dalam thread yang berbeda. Tapi tak apalah, karena masih banyak yang bingung juga. Demam yang didefinisikan sebagai suhu tubuh lebih dari 38 derajat selsius, adalah salah satu penyebab tersering orangtua membawa anaknya ke dokter. Makanya dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebutkan istilah “fever phobia”.

Nah, lalu bagaimana dengan demam yang cenderung suhunya berkisar di atas 39 derajat selsius dan tidak disertai gejala penyerta lain? Tidak ada batuk, pilek, atau diare. Ya, kalau sejak awal demam disertai batuk dan pilek, kita sudah dapat memperkirakan penyakitnya adalah selesma (common cold) dan seharusnya tidak ada kekhawatiran lebih lanjut (ingat, selama tidak disertai tanda kegawatan ya!). Lalu bagaimana dengan demam yang tidak jelas diagnosisnya ini? Perlukah dibawa segera ke dokter? Kapan? Apakah patokannya “tepat 3 hari” alias 72 jam? Dan haruskah segera diperiksakan laboratorium?

Demam dengan suhu > 39 derajat selsius tanpa gejala penyerta yang jelas, berlangsung kurang dari 7 hari, dan terjadi pada anak berusia 3 – 36 bulan disebut juga dengan fever without source (FWS). Ada juga yang menyebutnya fever without focus atau fever with uncertain source. Umumnya bisa dibagi 2, yaitu anak tampak sakit (cenderung lemah/lesu sepanjang waktu) dan masih relatif aktif (ketika demam anak tampak lemas/rewel, tetapi ketika suhu turun anak kembali aktif bermain/beraktivitas).

Kondisi pertama tentunya mengharuskan segera ke dokter. Tidak perlu memikirkan dulu perlu/tidaknya pemeriksaan laboratorium, tetapi segera bawa ke dokter untuk memastikan kemungkinan diagnosisnya. Kondisi kedua membuat orangtua seharusnya lebih tenang dalam mengobservasi kondisi anaknya dalam 3 hari, atau bahkan lebih. Hal terpenting yang harus diperhatikan orangtua adalah: pastikan anak tidak dehidrasi atau kekurangan cairan. Ya, peningkatan suhu tubuh meningkatkan risiko penguapan dan terbuangnya cairan tubuh. Makanya semua anak yang demam harus banyak minum. Pastikan anak tidak dehidrasi.

Bukankah makin tinggi suhu meningkatkan risiko kejang demam? Sudah berkali-kali dibahas, jawabannya adalah: tidak. Dehidrasi justru lebih dikhawatirkan dibandingkan kejang pada anak yang demam.

Lalu makin tinggi suhu bukankah menggambarkan makin beratnya penyakit? Lagi-lagi ini sudah pernah dibahas: jawabannya adalah tidak. Bisa saja demamnya tidak terlalu tinggi tetapi anaknya sakit pneumonia atau meningitis yang mengancam jiwa. Sebaliknya, sangat mungkin demamnya tinggi, tapi sakitnya hanya selesma saja.

Apa yang dikhawatirkan dari kondisi pertama (anak yang cenderung lemah sepanjang hari)?

Bagaimanapun juga, penyebab tersering demam pada anak adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya. Tentunya antibiotik sama sekali tidak diperlukan pada infeksi virus.

Pada kondisi pertama, beberapa diagnosis penyakit yang paling dikhawatirkan adalah meningitis (radang selaput otak) dan pneumonia (radang akibat infeksi di jaringan paru). Makanya orangtua harus paham benar apa saja kondisi gawat darurat pada anak. Pada meningitis, terdapat tanda-tanda kekakuan tubuh (iritasi selaput otak), penurunan kesadaran, sampai kejang dan kematian. Sedangkan pada pneumonia, anak terlihat sesak napas, bisa dinilai dari gerakan dinding dada dan napas cuping hidungnya. Segera bawa anak ke dokter.

Kondisi kedua adalah keadaan yang paling sering terjadi, yaitu sakitnya sebenarnya “ringan saja” dan tidak potensial mengancam nyawa. Perlukah anak dibawa ke dokter pada FWS? Ya, untuk memastikan apakah diagnosisnya saat itu.
Kalaupun dokter belum bisa memastikan diagnosis pastinya, maka sebut saja FWS.

Apakah pemeriksaan laboratorium perlu dikerjakan pada FWS yang sudah lebih dari 3 hari? Sebenarnya dokte lah yang menentukan perlu tidaknya. Satu hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah: jangan melulu pemeriksaan darah yang harus dikerjakan.

Pemeriksaan air seni alias urinalisis adalah pemeriksaan wajib pada anak FWS. Mengapa? Banyak FWS yang ternyata diagnosisnya adalah infeksi saluran kemih alias ISK. Padahal gejalanya hanya demam saja, dan ditemukan banyak kuman (bakteri) di pemeriksaan urinalisis. Diagnosis ISK jelas adalah infeksi bakteri yang obatnya adalah antibiotik (diberikan setelah sampel untuk kultur urin diperiksa).

Di sini lagi-lagi saya tegaskan bahwa pemeriksaan urin sangatlah penting dan seharusnya rutin dikerjakan. Pemeriksaan ini sama sekali tidak menyakitkan. Bandingkan saja dengan anak yang ditusuk jarum untuk pemeriksaan laboratorium darah.

Apa saja kira-kira penyakit yang sering terjadi pada FWS?

Penyebabnya sangat bervariasi. Yang cukup serjng terjadk dalam pengalaman sehari-hari adalah:
– Common cold. Ya, batuk-pilek bisa saja demamnya setelah masuk hari keempat atau lebih baru muncul batuk-pilek. Ini adalah infeksi virus yang tidak perlu dikhawatirkan. Kecuali di luar dugaan mencetuskan serangan yang menyebabkan sesak napas.
– Roseola alias “tampak” (bukan campak lho yaa…). Ini pun jelas infeksi virus, tetapi anak yang orangtuanya tidak sabaran tidak jarang yang langsung berinisiatif memeriksakan laboratorium darahnya. Ruam-ruam di tubuh baru muncul setelah melewati hari ke-3, bahkan ke-5 demam. Anak tampak jauh lebih aktif sesuah ruam memenuhi seluruh tubuh.
– Demam Dengue atau DBD. Ini yang hampir selalu terlintas di benak orangtua untuk selanjutnya segera memeriksakan sendiri laboratorium darah anaknya. Pelajari ciri-ciri DD dan DBD.
– Infeksi saluran kemih. Ingat, gejala ISK pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Bisa saja anak demam tanpa gejala lain, ternyata sakitnya adalah ISK. Maka jangan lupa mintakan pemeriksaan urin rutin, bahkan kultur urin jika perlu, untuk pasien-pasien semacam ini.
Demam tifoid tidak dipikirkan dalam FWS, karena demamnya berlangsung selama minimal 7 hari.

Continue reading

[Kliping] Seputar Demam Dengue

Buat arsip, sebagian dari akun dr. Arifianto, SP.A.

(Baca juga: https://ceritaleila.wordpress.com/2016/08/11/demam-lebih-dari-3-hari-wajibkah-cek-darah/)

Arifianto Apin
12 October 2014 at 10:27 · Edited ·
Antara Demam Berdarah dan Tipes
Di RS, salah satu aktivitas saya adalah membimbing adik-adik mahasiswa FK YARSI yang menjalani tahap koasistennya (koas). Beberapa hari yang lalu, kami mendiskusikan demam berdarah Dengue (DBD) dan tipes alias demam tifoid dalam bentuk presentasi kasus.
Ada beberapa poin yang saya tekankan sebagai “take home message” dan ingin saya bagikan di sini.
Pertama, nilai trombosit turun tidak hanya terjadi pada DBD dan demam Dengue (DD) saja, tetapi dapat terjadi pada berbagai infeksi virus dan bakteri. Bahkan batuk-pilek alias selesma saja bisa turun trombositnya. Roseola pun cukup sering turun trombositnya. Perhatikan juga nilai hematokrit yang meningkat pada DBD. Jadi perhatikan keduanya.
Kedua, demam tifoid hanya dicurigai bila demamnya minimal 7 hari. Jangan curigai seorang anak mengalami tipes alias demam tifoid bila demamnya baru 3-5 hari.
Lalu, pemeriksaan Widal di Indonesia tidak dapat dijadikan patokan untuk menegakkan diagnosis tifoid, karena kalau saja orang-orang dewasa yang sehat tanpa gejala, ketika diperiksakan Widal-nya bisa jadi mayoritas akan positif. Widal mendeteksi adanya kekebalan tubuh (antibodi) yang dihasilkan ketika seseorang sudah pernah menelan kuman Salmonella penyebab tifoid, tetapi anak-anak yang Widal-nya positif belum tentu sakit.

===============================================================================

Arifianto Apin

2 March at 16:54 · Edited ·

Katanya Demam Berdarah Dengue alias DBD sedang mewabah ya? Bagaimana dengan “tipes” alias demam tifoid? Karena kabarnya ada beberapa yang dirawat akibat DBD dan demam tifoid bersamaan. Mungkinkah?

Ini pertanyaan favorit saya buat para Koas yang sedang menjalankan rotasi di bagian Anak. Apa pasalnya? Beberapa orang bercerita dirinya didiagnosis DBD dan tifoid bersamaan gara-gara: tes Widal!

Banyak orang familiar dengan pemeriksaan laboratorium satu ini. Katanya kalau Widal-nya positif, berarti sakitnya tipes. Ketahuilah bahwa diagnosis demam tifoid dipastikan dengan beberapa hal:

1. Gejala. Ya, namanya saja demam tifoid, jadi yang sedang sakit pasti bergejala demam. Nah, demamnya seperti apa? Ada yang bilang seperti “step ladder”, jadi makin lama hari sakitnya, maka ambang suhunya makin tinggi. Tapi ternyata tidak harus seperti ini. Yang menjadi kata kunci demam tifoid adalah: demamnya mininal 7 hari! Beda kan dengan DBD yang sudah bisa dicurigai sejak demam 2 hari bahkan.

2. Penyakit tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Kita sudah paham bahwa yang namanya infeksi bakteri butuh antibiotik (DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang tentunya tidak butuh antibiotik). Bakteri Salmonella ini masuk ke tubuh lewat makanan/minuman yang terkontaminasi Salmonella. Dan umumnya makanan pinggir jalan yang higienenya buruk yang berisiko menyebabkan tipes. Siapa yang biasa jajan makanan seperti ini? Anda dan saya tentunya. Hehe. Maksud saya, mungkinkah anak berumur 2 tahun atau lebih muda yang belum pernah jajan makanan seperti ini terkena demam tifoid? Inilah sebabnya tifoid umumnya menginfeksi anak besar usia SD ke atas. Evaluasi ulang bila seorang anak balita sampai didiagnosis tifoid.

3. Lalu bagaimana bisa memastikan diagnosis tifoid berdasarkan pemeriksaan darah? Dengan pemeriksaan Widal? Hmmm…

Jadi pemeriksaan laboratorium yang bertujuan menentukan kuman penyebab penyakit ada 2 cara: secara langsung menemukan kumannya dan yang secara tidak langsung.

Cara pertama adalah dengan pemeriksaan kultur (biakan) baik dari darah, air seni (urin), dan tinja (feses), maupun cairan tubuh lainnya. Jadi kuman dibiakkan dalam suatu media, dan ditunggu hingga beberapa hari untuk mendapatkan hasil apa sebenarnya bakteri penyebab penyakitnya. Inilah yang dilakukan pada kecurigaan demam tifoid, yaitu dengan pemeriksaan kultur darah/tinja/urin untuk mendapatkan si kuman Salmonella typhi. Sayangnya tidak semua RS punya fasilitas ini. Dan harganya juga tidak murah (tapi ditanggung BPJS Kesehatan lho…).

Cara kedua adalah dengan mendeteksi “jejak” keberadaan si kuman, yaitu dengan mengetahui adanya antibodi yang dihasilkan si antigen (kuman). Inilah Prinsip pemeriksaan seperti Widal, Tubex, TORCH, dan IgG-IgM Anti Dengue. Jadi ada risiko yang terdeteksi sebenarnya adalah “jejak” si kuman masa lampau, yang pernah masuk ke tubuh berbulan-bulan lalu. Bukan yang menyebabkan sakit saat ini.

Paham tidak sejauh ini? Mudah-mudahan tidak bingung.

Jadi bisa saja Widal-nya “positif”, tapi sebenarnya tidak sakit tipes! Karena Widal ini menandakan berbulan-bulan lalu ia pernah kemasukan kuman tifoid, dan saat itu ia tidak sampai sakit. Sedangkan saat ini sakitnya bukan tifoid dari gejala-gejala yang ada.

Pelajarannya adalah: selalu berhati-hati dalam menginterpretasi pemeriksaan laboratorium yang menilai keberadaan kuman secara tidak langsung, termasuk Tubex (IgM Anti Salmonella) yang katanya lebih sensitif dan spesifik dari Widal. Pemeriksaan semacam TORCH pun juga.

Saya kadang mengajak kawan-kawan berdialog seperti ini: “dari kita semua yang ada di sini dalam kondisi sehat wal afiat, bila “iseng-iseng” dicek Widal-nya, bisa saja mayoritas “positif”, padahal tidak satu pun yang demam tifoid.” Mengapa? Karena kita semua pernah makan jajanan pinggir jalan yang terkontaminasi Salmonella, tetapi alhamdulillah tidak sakit, karena adanya antibodi yang melawan kuman. Dan “jejak” inilah yang terbaca sebagai Widal positif.

Sebagai kesimpulan, lessons learned-nya adalah:

1. Kembalikan kepada diagnosis berdasarkan tanda dan gejala yang dialami. Kalau demamnya baru 3 atau 5 hari, ya kemungkinan kecil, bahkan jangan pikirkan dulu, demam tifoid. Berpikir demam tifoid ya kalau demamnya sudah lebih dari 7 hari. Bahkan kalau demam sudah 3 hari tapi jelas ada batuk pilek ya tidak usah juga berpikir DBD dan cek darah, karena diagnosisnya adalah selesma.

2. Setiap pemeriksaan laboratorium pastilah memiliki keterbatasan. Maka selalu kembalikan kepada diagnosis. Dokter tidak mengobati hasil laboratorium, tetapi dokter mengobati pasien.

Semoga bermanfaat

============================================================================

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal di daerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris. Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

–    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

–  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

–   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemis cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

–   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitif untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Selengkapnya di blog mba Auditya & dr. Ferry, SP.A

http://aufalactababy.com/2012/05/27/demam-berdarah-turun-trombositperdarahan/

===========================================================================

Sementara itu dokter spesialis anak RS Sardjito lainnya dr. Ida Safitri, Sp.A. menambahkan masih ada kesalahan persepsi di kalangan masyarakat bahkan tenaga medis yaitu penurunan jumlah trombosit merupakan penentu derajat keparahan DBD. Padahal yang menentukan derajat keparahan DBD adalah peningkatan kekentalan darah (hematokrit yang meningkat) maupun juga disertai penurunan trombosit.

“Hematokrit naik bisa sebabkan syok. Trombosit turun hanya di fase kritis dan akan normal di fase pemulihan. Sepanjang tak terjadi perdarahan berat tak perlu intervensi medis untuk menaikkan kadar trombosit,” kata Ida.

Sedangkan mengenai obat yang beredar di pasaran yang mengandung angkak, ekstrak jambu biji merah, sari kurma dll sampai saat ini ujar Ida belum ada penelitian atau bukti ilmiah tentang manfaat zat-zat tersebut dalam kaitannya untuk meningkatkan kadar trombosit.

http://m.okezone.com/read/2010/04/07/340/320286/trombosit-bukan-penentu-derajat-keparahan-dbd

=======================================================================

Perjalanan penyakit demam dengue umumnya hanya satu minggu. Setelah itu, pasien akan membaik, asalkan tidak disertai kebocoran pembuluh darah. Jika disertai perdarahan ini disebut DBD (demam berdarah dengue). Dari yang mengalami perdarahan ini, sekitar 30 persennya terkena syok dan 30 persen lagi bersisiko kematian.

Selama ini, anggota keluarga pasien akan merasa sangat khawatir jika kadar trombosit yang sakit dinyatakan turun. Sebetulnya bukan kadar trombosit yang menentukan keselamatan pasien, akan tetapi hematokritlah yang lebih penting diperhatikan.

“Trombosit turun sampai tinggal belasan ribu, kalau hematokrit masih bagus, ya tidak akan meninggal, karena berarti tingkat kebocoran pembuluh darah tidak tinggi,” jelas Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K)., M.TropPaed., Ketua Divisi Penyakit Infeksi dan Pediatri Tropis, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

Kondisi demamnya juga harus diperhatikan. Penyakit DBD biasanya ditandai demam tinggi selama tiga hari. Namun, bukan hanya demam pada tiga hari pertama itu yang harus diwaspadai. “Masa kritisnya justru di hari keempat dan kelima. Jadi, jangan lengah, jangan merasa sudah aman jika demam terkesan menurun di hari keempat dan kelima,” saran dr. Hingki, sapaan akrabnya.

http://m.tribunnews.com/kesehatan/2013/06/18/bukan-kadar-trombosit-penentu-keselamatan-pasien-demam-berdarah

================================================================================

Banyak kabar yang beredar di masyarakat kalau terkena demam berdarah diberikan jus jambu atau angkak. Namun sebenarnya tidak ada obat untuk demam berdarah, tapi hanya andalkan banyak cairan.

“Demam berdarah tidak ada obatnya, tapi hanya bermain cairan,” ujar Dr. Rita Kusriastuti, MSc., Direktur Pengendalian Penyakit bersumber Binatang (P2B2) Ditjen P2PL Kemenkes RI dalam acara peringatan pelaksanaan ASEAN Dengue Day ke-2 di Amilun Convention Hall, Medan, Jumat (15/6/2012).

Dr. Rita menuturkan pertolongan pertama untuk demam berdarah adalah memberikan cairan, mau jus jambu, sari kurma atau angkak yang terpenting memberikan cairan ke dalam tubuh. Lalu pantau pada hari ketiga dan kelima yaitu saat masa kritis.

Hal ini karena pada orang demam berdarah terjadi kebocoran di pembuluh darah sehingga harus diberikan banyak minum untuk mengganti cairan agar trombosit tidak makin turun. Tapi pemberian cairan ini jangan dipaksa hanya sekuatnya saja.

“Pada hari kelima trombosit akan naik sendiri meski hanya minum air putih, karena tubuhnya sudah bisa memperbaiki diri sehingga kadar trombositnya naik. Tapi kalau virusnya ganas maka kebocoran bisa parah dan harus dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.

Dr Rita menjelaskan dalam menangani kasus demam berdarah hanya perlu bermain dengan cairan, saat terjadi kebocoran harus banyak minum, tapi saat kebocorannya sudah selesai maka dalam waktu 2×24 jam asupan cairan harus dikurangi.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk pertolongan pertama terhadap penderita demam berdarah yaitu:
1. Memberikan minum sebanyak mungkin.
2. Kompres agar panasnya turun.
3. Memberikan obat penurun panas.
4. Jika dalam waktu 3 hari demam tidak turun atau malah naik segera bawa ke rumah sakit atau puskesmas.
5. Jika tidak bisa minum atau muntah terus menerus, kondiai bertambah parah, kesadaran menurun atau hilang maka harus dirawat di rumah sakit.

http://m.detik.com/health/read/2012/06/15/143241/1942274/763/demam-berdarah-tidak-ada-obatnya-hanya-andalkan-cairan

=============================================================================

Meski sama-sama disebabkan oleh infeksi virus dengue, demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) adalah hal yang berbeda. Mengapa? Dan apa penyebab serta bagaimana penanganan serta perawatan orang sakit demam dengue dan demam berdarah dengue?

Dokter spesialis penyakit dalam FKUI/RSCM Leonard Nainggolan, dilansir Kompas, mengatakan meski demam dengue dan DBD sama-sama disebabkan oleh virus dengue, ada perbedaan dasar pada keduanya, yaitu kebocoran plasma. Pada demam dengue gejala hanya berupa demam dan syok namun tidak sampai disertai dengan kebocoran plasma.

Ia menjelaskan, kebocoran plasma merupakan melebarnya celah antar sel di pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya plasma darah keluar dari pembuluh darah. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah.

Meski plasma darah bisa keluar, lanjut dia, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar. Jika plasma darah saja yang keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya.

Dengan kata lain, DBD lebih berbahaya dan memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan dengan demam dengue. Ini karena jika terjadi kebocoran plasma, DBD bisa berisiko kematian. Ini berhubungan dengan pengentalan darah yang tidak normal di dalam tubuh yang berakibat kurangnya pasokan bagi organ-organ penting dalam tubuh.

Dalam kesempatan berbeda, Profesor Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, ada dua pendapat mengenai demam dengue dan DBD itu sendiri. Pendapat pertama, kedua penyakit itu berbeda, namun ada pula yang mengatakan, demam dengue bisa berkembang menjadi DBD jika dibiarkan.

“Namun yang jelas, orang perlu mewaspadai kebocoran pada plasma karena bisa menyebabkan kematian,” kata Sri.

Mengapa mematikan?

Dengan risiko kematian mencapai 0,9%, penyakit demam berdarah jelas bukanlah penyakit yang bisa diremehkan. Apalagi kasus penyakit ini mencapai 140.000 setiap tahunnya.

“Kalikan saja 0,9% dengan 140.000, sudah 1.400 dalam setahun. Sehingga dalam sebulan paling tidak rata-rata ada 100 kematian karena DBD di Indonesia,” kata dr. Leonard Nainggolan, Sp.PD.

Ia menjelaskan, DBD bisa menyebabkan kematian jika pasien tidak bisa melewati fase kritis dengan baik. Pada fase kritis, virus dengue penyebab DBD mulai beraksi merusak celah antarsel di pembuluh darah.

Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini. Diketahui, darah terdiri dari dua komponen yaitu plasma yang berupa cairan dan sel darah. Meski plasma darah bisa keluar, namun celah tidak cukup besar untuk sel darah untuk keluar.

“Jika plasma darah keluar, maka darah akan menjadi lebih kental, karena konsentrasi sel darah berbanding dengan plasma akan lebih banyak dari yang biasanya,” tutur dia. Ia menganalogikan dengan cairan gula. Bila satu sendok gula biasa dilarutkan dalam satu gelas air, larutan gula akan lebih pekat bila gula hanya dilarutkan dalam setengah gelas air.

Nah, komplikasi pengentalan darah inilah yang berakibat fatal. Leonard menjelaskan, darah yang lebih kental akan lebih sulit dialirkan ke seluruh tubuh. Lama kelamaan organ-organ tubuh akan kekurangan pasokan oksigen dari darah.

Kurangnya oksigen pada organ akan menganggu fungsinya. Jika dibiarkan, pasien akan mengalami kegagalan multiorgan dan meninggal.

Perawatan Umum

Saat menderita demam berdarah, jus jambu menjadi minuman rutin dikonsumsi pasien. Mitos bahwa jus jambu cepat menurunkan trombosit memang telah mengakar kuat di masyarakat. Tetapi, seperti apakah faktanya? Leonard Nainggolan mengatakan hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat jus jambu untuk penyembuhan DBD. Namun, untuk meringankan fatalitas dari DBD, pasien perlu banyak minum.

“Namun cairan itu bisa didapat dari mana saja, tidak harus jus jambu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, prinsip cairan yang masuk ke dalam tubuh pasien DBD adalah yang mengandung isotonik dan glukosa. Itulah kenapa jus jambu yang umumnya merupakan minuman manis dan mengandung vitamin dan mineral dari buah masuk dalam kriteria minuman yang dibutuhkan oleh pasien DBD.

“Sebaiknya memang bukan air biasa, karena pasien membutuhkan pengganti isotonik dan glukosa yang banyak hilang saat sakit. Itu juga yang direkomendasikan WHO,” kata dia.

Menurut dia, selama pasien tidak mengalami keluhan setelah minum minuman, termasuk jus jambu, maka tidak ada masalah bila pasien meneruskannya. Ia menegaskan, supaya pasien selama sakit minum sebanyak yang ia mampu. Tujuannya untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran pembuluh darah.

Diketahui virus dengue penyebab DBD beraksi dengan merusak celah antarsel di pembuluh darah. Ketika celah antarsel ini melebar, maka cairan pada darah akan keluar melalui celah ini.

Perawatan di rumah sakit

Setiap kali terjadi wabah demam berdarah (DB), hampir setiap rumah sakit akan penuh oleh pasien DB yang dirawat inap. Bahkan, di beberapa rumah sakit pemerintah pasien sampai harus dirawat di aula atau selasar karena tidak kebagian tempat tidur.

Meski berisiko mematikan, DB sebenarnya merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa obat. Namun sebelum sembuh, orang yang menderitanya akan melewati masa kritis. Dan pada masa itulah pasien membutuhkan perawatan yang baik untuk menjaga kondisi tubuhnya hingga mampu melewati masa kritis. Perawatan yang baik seringkali diasosiasikan dengan rawat inap di rumah sakit. Namun sebenarnya tidak semua penyakit DB membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Gejala demam berdarah

Leonard Nainggolan mengatakan gejala demam berdarah biasanya mirip dengan gejala penyakit lain. Karena itu jika mengalami gejala demam tinggi secara mendadak selama hampir 7 hari, lesu, tidak ada gejala influenza, dan demam mendadak dibarengi rasa sakit kepala, nyeri pada tulang dan otot, serta nyeri di belakang mata, maka hal permata yang wajib dilakukan adalah membawa pasien ke dokter untuk memastikan diagnosis.

“Namun untuk menentukan selanjutnya apakah pasien harus dirawat inap atau rawat jalan, kuncinya yaitu ada tidaknya kedaruratan. Kedaruratan yang dimaksud adalah syok, kejang, kesadaran menurun, dan pendarahan,” papar dia.

Meski tidak terjadi kedaruratan, ada dua kemungkinan yaitu tetap harus dirawat inap atau rawat jalan. Untuk menentukannya dokter akan melakukan uji Torniquet yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya bintik-bintik merah pada kulit.

Bintik-bintik merah pada kulit merupakan tanda tubuh mengalami pendarahan akibat virus dengue. Jika sudah terjadi pendarahan, artinya sudah terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang menyebabkan pengentalan darah yang berakibatan fatal.

“Namun kalaupun hasilnya positif, perlu dilihat juga jumlah trombosit pada darah. Jika kurang dari 100.000/ul, maka perlu dirawat inap, namun jika lebih dari 100.000/ul bisa dilakukan rawat jalan,” kata Leonard.

Dengan catatan, lanjut dia, rawat jalan perlu disertai dengan kontrol setiap hari sampai demam reda. Dan selama dilakukan rawat jalan, pasien perlu diberikan cairan sebanyak-banyaknya, semampu yang pasien bisa minum.

Infeksi kedua lebih parah

Setiap mengalami penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh virus, tubuh secara alamiah akan membentuk antibodi untuk melawan virus tersebut. Antibodi tersebut kemudian akan terus berada di dalam tubuh sehingga ketika virus yang sama menyerang tubuh sudah memiliki kekebalan.

Kendati demikian, konsep tersebut sedikit berbeda untuk penyakit demam berdarah (DB). Sehingga meski tercipta antibodi, tubuh bukannya kebal melainkan merespon virus dengan berlebihan sehingga menimbulkan gejala yang lebih parah daripada yang sebelumnya.

Menurut Leonard Nainggolan, setelah sembuh dari DB seseorang mungkin terkena DB lagi. Alasannya, virus dengue penyebab DB terdiri dari beberapa tipe, yaitu tipe den-1, 2, 3, dan 4.

“Sehingga misalnya pertama DB seseorang terinfeksi virus tipe den-2, suatu saat mungkin ia terkena DB lagi dari virus tipe den-3,” tuturnya.

Ia menerangkan, saat terkena DB dengan virus dengue den-2, maka antibodi yang terbentuk adalah untuk virus tipe tersebut, bukan tipe lainnya. Maka paparan virus tipe lainnya tetap bisa menyebabkan seseorang itu terkena DB kembali. Sayangnya, gejala yang ditimbulkan dari infeksi yang kedua mungkin lebih berat dari yang pertama. Menurut Leonard, ini karena reaksi antibodi yang sudah diciptakan dari infeksi sebelumnya mengenali virus tipe berbeda, namun tidak bisa melawannya.

“Efek sampingnya tidak ringan karena antibodi merespon (virus tipe berbeda) dengan lebih aktif,” ujar dia.

Ia mengatakan, virus dengue terbanyak yang dijumpai di Indonesia adalah virus tipe den-2 dan 3. Meski gejala dari infeksi masing-masing tipe virus tidak ada perbedaan yang signifikan.

Kewaspadaan

Cuaca yang panas dan hujan datang bergantian dengan selang waktu yang cepat merupakan saat penyakit-penyakit biasanya lebih mudah berdatangan, tak terkecuali DB. Leonard Nainggolan menjelaskan, risiko DBD memang meningkat di musim pancaroba. Pasalnya, penyakit ini disebarkan oleh nyamuk yang berkembang biak di air bersih tergenang yang dibiarkan beberapa waktu.

“Kalau musim hujan, meski ada genangan juga namun relatif lebih mudah terganti dengan air hujan yang baru, air lebih mengalir. Berbeda dengan musim pancaroba, setelah hujan tercipta genangan, kemudian panas lagi. Di genangan itulah nyamuk bisa berkembang biak,” tutur dia.

Ia menegaskan setitik genangan air saja sudah bisa menjadi sarana berkembangbiaknya nyamuk. Sehingga untuk mencegah terjadinya kasus DBD, setiap orang perlu menyadari untuk mencegah terjadinya genangan. Cara yang selalu direkomendasikan untuk pencegahan DBD adalah 3M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur. Leonard menjelaskan, semua tempat yang bisa menampung air, khususnya air yang bening perlu ditutup dan dikuras secara rutin.

Bahkan tempat-tempat yang bukan dikhususkan untuk penampungan air namun bisa terdapat genangan, misalnya wadah pot bunga, dispenser, kaleng bekas, atau ban bekas pun perlu selalu dipantau. Khususnya untuk benda-benda tak terpakai yang berpotensi menyimpan genangan perlu dikubur.

DBD merupakan penyakit infeksi yang dimanifestasikan dengan demam dan pendarahan. DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk tipe tertentu. Leonard menjelaskan, nyamuk yang menjadi vektor virus dengue membutuhkan darah untuk mematangkan telur-telurnya. Itulah kenapa nyamuk yang menggigit adalah nyamuk betina.

Nyamuk juga memiliki sifat sulit kenyang, maka cenderung untuk menggigit beberapa orang sekaligus. Inilah kenapa seringkali kasus DBD yang dijumpai di suatu wilayah tidak hanya satu kasus, melainkan beberapa kasus dalam satu waktu.

Sumber: http://simomot.com/2014/06/17/beda-demam-dengue-dan-dbd-penyebab-penanganan-dan-perawatan/ (tapi mending jangan diklik kali ya, iklan beritanya banyak yang saru 😁, nyari sumber lain yg cukup lengkap menyeluruh tapi bahasanya gak teknis banget belum nemu lagi).

Sudut pandang lain dari pernyataan dr. Nainggolan pada acara yang sama:

Sejumlah orang percaya bahwa memberikan segelas jus jambu merah pada pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD) mampu menggantikan cairan yang keluar dari dalam tubuh selama sakit. Benarkah?

“Saya pribadi bukan antiherbal. Tapi memang, mengenai jus jambu merah ini belum ada penelitian pastinya,” Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI di Jakarta, Selasa (10/6/2014)

Menurut Leonard, dipilihnya jus jambu merah ini karena disinyalir memiliki zat yang mempermudah meningkatkan trombrosit. “Ini masih disinyalir, yah. Soal pastinya, belum,” kata dia menambahkan.

Jika memang dilakukan para peneliti melakukan penelitian terhadap jambu merah, kemungkinan zat untuk menyembuhkan itu benar ada. Bagaimana pun, tambah Leonard, dirinya percaya kalau pencipta alam semesta ini sudah memberikan penangkal untuk setiap penyakit yang diderita oleh tiap manusia.

“Cuma itu masih perlu eksplorasi. Mudah-mudahan nanti kita bisa menemukannya,” kata Leonard.

Sepanjang pasien mampu mengisi tubuhnya dengan banyak cairan, maka tidak ada salahnya untuk memberikan jus jambu merah. Dengan catatan, minuman yang dikonsumsi oleh pasien, tidak menimbulkan gangguan baru yang justru membuatnya semakin sakit.

“Mau minum jus jambu merah atau buah naga, silahkan. Sepanjang tidak menimbulkan keluhan pada pasien, ya,” kata dia menekankan.

https://www.liputan6.com/health/read/2061188/jus-jambu-merah-ampuh-bagi-penderita-dbd

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jus jambu disebut-sebut bisa menaikan jumlah trombosit dari penderita demam berdarah dengue (DBD). Namun hal itu belum pernah terbukti secara klinis.

“Sampai sekarang belum ada uji laboratorium yang membuktikan jus jambu bisa meningkatkan trombosit atau mengatasi DBD,” kata Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) Leonard Nainggolan dalam acara “SOHO #BetterU: Hari Demam Berdarah ASEAN” di Jakarta, Selasa (10/6).

Menurut dia, hal terpenting yang harus dilakukan oleh penderita DBD adalah menjaga asupan cairan tetap cukup. Dengan kata lain, untuk memberikan perawatan kepada penderita DBD tidak wajib dengan pemberian jus jambu.

“Sepanjang penderita minum yang banyak maka itu yang terbaik selama tidak memberi gangguan kesehatan yang lainnya. Jus jambu itu hanyalah salah satu dari sumber cairan bagi penderita DBD. Itu saja,” katanya.

Oleh karena itu, berbagai minuman seperti jus jambu, jus mangga, jus apel ataupun angkak adalah sumber cairan yang bisa dipilih oleh penderita DBD.

“Boleh mana saja cairannya selama tidak membahayakan penderita. Tapi kalau jus jambu dan kawan-kawannya itu dianggap sebagai zat yang bisa menambah trombosit darah ternyata belum pernah ada uji klinis,” katanya.

Ia menyatakan dirinya juga bukan termasuk pihak yang antiherbal. Apapun itu, penderita DBD sangat membutuhkan cairan yang banyak agar keadaannya membaik. “Dengan cairan yang banyak akan mencegah seorang penderita mengalami hematokrit (pengentalan darah). Pengentalan darah akan membahayakan penderita DBD,” katanya.

Menurut dia, jika darah terlalu kental atau tidak encer akan membuat pasokan nutrisi dan oksigen ke sejumlah jaringan tubuh tersendat atau bahkan terhenti. “Untuk itu, cairan sangat penting bagi penderita DBD. Jika terus berlanjut tekanan darah penderita bisa tidak stabil,” katanya. Leonard mengingatkan pentingnya asupan cairan terutama yang memiliki nilai tambah seperti elektrolit.

“Minum air putih atau minuman berelektrolit sangat disarankan bagi penderita DBD. Minumlah minimal sebanyak 2-2,5 liter cairan per harinya. Bila keadaan pasien memburuk sehingga tidak dapat minum, bahkan muntah-muntah, harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan dokter secepatnya,” katanya.

Walapun belum terasa haus, penderita DBD disarankan harus rajin minum, karena jika tidak akan terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan. “Biasanya, rasa haus timbul saat tubuh mengalami kekurangan cairan sebesar 2 persen dari berat badan. Cairan dapat menggantikan kekurangan cairan tubuh yang bocor akibat kerusakan dinding pembuluh darah,” katanya.

https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/14/06/10/n6y8nr-benarkah-jus-jambu-bisa-naikkan-trombosit

 

JUS Jambu dipercaya bisa mengembalikan level trombosit yang menurun akibat demam berdarah. Pasalnya, jus jambu disinyalir memiliki zat bisa meningkatkan kadar trombosit darah.

Hal inipun juga diungkapkan oleh Dr dr Leonard Nainggolan, Sp.PD-KPTI. Meski belum ada bukti penelitian secara nyata, dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu memercayai manfaat jus jambu untuk DBD.

“Diduga ada zat di dalam jus jambu yang dapat meningkatkan trombosit. Mungkin kalau diteliti dengan baik bisa-bisa ada,” katanya pada workshop Soho Global Health bertema “Waspadai Kebocoran Plasma saat DBD” di Artotel Hotel Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa 10 Juni 2014.

Lebih lanjut, Dr. Leonard juga mengatakan masih perlu eksplorasi lagi untuk menemukan penangkal penyakit DBD, termasuk pada jus jambu. Apalagi dia berkeyakinan jika semua penyakit tetap memiliki penangkalnya.

“Karena saya punya kepercayaan, kalau ada penyakit tertentu di suatu wilayah pencipta alam semesta ini sudah menyiapkan penangkalnya, hanya kita perlu mengeksplorasinya. Jadi mudah-mudahan nanti kita bisa menemukan,” ungkapnya.ungkapnya.

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk dan bersifat epidemik atau dapat ditularkan antar manusia.

https://lifestyle.okezone.com/read/2014/06/11/483/997026/jus-jambu-sembuhkan-dbd-perlu-penelitian-mendalam

 

Cara Mengatasi Fb Kita Memposting Link Ajaib

Masih berkaitan dengan postingan sebelumnya, tentang apps dalam facebook yang rawan berefek kurang menyenangkan. Pernah nggak melihat ada teman posting sesuatu yang aneh, bukan dia banget, biasanya menjurus ke pornografi? Tapi waktu ditanya, ybs bilang bukan dia yang posting. Apakah artinya akun fb dia di-hack? Atau kena virus?

Istilah fb di-hack atau kena virus memang menjadi sebutan gampang untuk akun yang mendadak posting aneh-aneh begitu. Ada memang yang di-hack betulan, tapi untuk kasus yang hendak dibahas ini sebetulnya istilah di-hack tidak tepat. Soalnya pemilik akun masih bisa mengakses akunnya dengan normal, bukan sepenuhnya diambil alih oleh orang lain (biasanya melibatkan penggantian password dst). Adapun virus, salah satu jenis malware, sasarannya adalah komputer, bukan hanya menyerang akun maya.

Seperti sudah disebutkan di atas, pemilik akun umumnya justru tidak sadar akunnya sudah menyebarkan link aneh-aneh alias spamming atau nyampah ke grup-grup maupun wall teman. Memang wall pemilik akun sendiri biasanya bersih. Link yang disebar pun tidak selalu berbau porno, bisa jadi berjudul berita terkini (kasus kopi sianida Jessica akhir-akhir ini sering dipasang di judul), update gosip yang mengundang rasa ingin tahu (yang sering saya dapati belakangan ini adalah rumor Raffi Ahmad-Ayu Tingting bahkan Ariel), pokoknya yang memancing orang untuk meng-klik, disertai foto ilustrasi yang mendukung.

Seorang teman pernah penasaran men-tap sebuah link yang dikirimkan member grup. Awalnya sih bermaksud mau menghapus postingan yang jelas-jelas OOT alias out of topic/keluar dari tema grup itu tapi pingin lihat dulu isi beritanya. Akibatnya ia sendiri kemudian secara otomatis mem-post link yang sama ke grup-grup lain yang ia ikuti. Yang lebih bikin gemes adalah kalau kejadiannya tidak disengaja, misalnya terlalu cepat scroll atau tap-nya meleset (risiko jadi admin grup nihh, suka deg-degan juga mau tap remove malah ke-klik preview linknya…moral of the story harus fokus dan hati-hati huhuhu).

Bagaimana cara mengatasinya agar akun kita berhenti mengirim link aneh bin ajaib? Tidak ada tips khusus sebenarnya untuk menghentikannya. Cara menghapusnya kira-kira seperti ini: Masuk ke pengaturan/setting facebook, cari applications/aplikasi, hapus aplikasi yang mencurigakan atau sekiranya jarang dipakai (game-game nggak jelas itu contohnya, buat apa juga, kan?).

Untuk postingan yang sudah telanjur ke mana-mana, bisa cek di activity log fb, hapus satu-satu. Kalau perlu, bikin semacam pengumuman minta maaf. Ganti password, cek add-ons di browser yang dipakai (utamanya di PC) boleh juga kendati kemungkinan pengaruhnya tidak besar. Masalah autopost selesai (semoga), postingan spam stop, tapi bagaimana dengan reputasi? Teman yang sering berinteraksi sih rasanya bisa maklum bahkan mungkin langsung mengabari ketika akun kita melakukan aktivitas di luar kebiasaan. Namun, bagaimana dengan yang lain?

Ada grup di facebook yang adminnya super-tegas, sekali posting OOT maka member tersebut akan di-ban alias diblokir dari keanggotaan grup. Mungkin masih bisa diusahakan dengan cara dilobi langsung (japri) ke admin ya, kalau terjadi seperti ini dan masih merasa perlu jadi anggota grup tersebut yang banyak manfaatnya.

Sekali waktu ada salah satu admin grup yang saya ikuti yang ngomel-ngomel atas postingan cabul yang masuk di grup, malah sampai menuduh anggota tersebut sebagai penyusup yang hendak mengacau. Waktu itu memang sedang ramai dibicarakan adanya akun fetish yang suka inbox ummahat berjilbab rapat untuk memuaskan hasratnya, dengan diawali menyamar sebagai muslimah dan masuk ke grup-grup misalnya grup jual beli hijab. Beberapa anggota grup termasuk saya lalu menjelaskan adanya kemungkinan yang lain, termasuk kena aplikasi autopost.

Sang admin lalu menyadari memang hal tersebut mungkin terjadi. Sayangnya sudah lupa siapa yang tadi ia hapus postingannya sekaligus ia blokir tersebut (kalau pakai komputer bisa sih ya cek daftar blokiran anggota grup), jadi kesulitan juga mau add lagi apalagi klarifikasi langsung. Ini contoh saja terkait ‘nama baik’ di dunia maya, kalau tidak peduli soal itu mari kita lanjut saja ke perkara berikutnya, hehehe.

Buat apa sih, orang bikin aplikasi begituan? Iseng banget kalau tujuannya cuma buat senang-senang. Eits, jangan salah, tujuan yang ingin dicapai biasanya jelas, kok. Meningkatkan klik ke website tertentu, misalnya, yang membuat reputasi website tersebut di mesin pencari jadi tinggi. Ujung-ujungnya situs tersebut bisa dijual lagi dengan harga tinggi.

Contoh kejadian dengan motif serupa untuk akun facebook bisa dibaca di sini https://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/11/20/apakah-anak-durhaka-itu-memakai-foto-anakmu/ dan di sini http://hai-online.com/Feature/Stuffs/Fakta-Mengejutkan-Di-Balik-Post-Komen-Angka-9-Dan-Lihat-Apa-Yang-Terjadi-Di-Facebook. Atau ‘sesederhana’ supaya jualannya yang dipajang di laman itu banyak dilihat orang dan meningkatkan kemungkinan orang beli, setidaknya tahu. Enak banget, yaaa…tapi merugikan orang lain kan kalau caranya begitu.

Tambahan referensi untuk metode atau trik lain yang bisa dilakukan:

Is your Facebook account posting spam? Here’s how to fix it.

http://www.thatsnonsense.com/beware-click-baity-spammy-facebook-apps/

Kliping Susah Makan

Kliping bahasan seputar problem makan anak (cenderung ke kesulitan makan ya) ini sedikit banyak terinspirasi postingan mba Luchantiq di https://keluargasehat.wordpress.com/category/problem-makan/. Semacam nambahin aja sih berhubung beliaunya belum sempat update blog lagi kayaknya.

================================================================

Serba-serbi penyebab anak susah makan & tips praktis mengatasinya

(Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber oleh Luluk Lely Soraya I, diposting di Milis Sehat)

Problema sulit makan ini dialami anak di usia balita. Umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 th. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan. Karena bagi anak, saat makan itu bukan hanya pemenuhan gizi tetapi juga saat penuh tantangan, rasa ingin tahu, berlatih, belajar, dsb.

Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (<6 bulan) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama spt orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter-nya ibu memberikan makanan
bervariasi. Seperti kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna dan bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

Continue reading