Category Archives: parenting
Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #2: Melatih Kemandirian Anak
Ulasan Komunikasi Produktif
Review Tantangan 10 Hari Materi Bunda Sayang #1 Institut Ibu Profesional
KOMUNIKASI PRODUKTIF
Pertama, kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif. Dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan, dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa di antara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini. Tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham di mana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Dari Tantangan 10 Hari sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita:
a. Tahap Anomi: Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satu pun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.
b. Tahap Heteronomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.
c. Tahap Sosionomi: Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.
d. Tahap Autonomi: Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak hanya berhenti pada tantangan 10 hari, terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan kita.
Mendidik Anak dengan RICH Philosophy
Selain kelas online selama 9 sesi, Institut Ibu Profesional dalam program Matrikulasi Batch 2 juga menyelenggarakan kelas offline bagi para peserta. Kelas offline ini diadakan dua kali, dengan materi yang masih ada kaitannya dengan materi utama tetapi temanya sendiri ditentukan bersama-sama, pembicaranya pun atas usulan peserta. Karena minggu sebelumnya saya ada keperluan lain di sekolah Fathia, jadi saya hanya bisa menghadiri kelas offline grup Jakarta yang kedua yang diadakan di rumah salah satu anggota di Condet Balekambang, Jakarta Timur.
Yang memberikan materi dalam kuliah offline yang dikemas santai ini adalah ibu Ina Rizqie Amalia, M.M., PCC,Β Executive Coach, Founder and Director Loop Institute of Coaching Indonesia.

Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah
Orangtua bertindak sebagai coach, yang membawa keluarga termasuk anak untuk mencapai tujuannya.

Bagaimana agar orangtua menjadi coach yang baik? Kuncinya adalah mendengar dan bertanya. Dari sini bisa digali kebutuhan maupun keinginan anak seperti apa.
- Mendengar. Terdapat dua level yaitu internal listening (dalam otak kita terdapat judgement atau penilaian) dan tanpa judgement. Menjadi pendengar yang baik berarti kita harus fokus, mendengarkan dengan saksama, jaga kontak mata, abaikan hal lain dalam pikiran kita.
- Bertanya. Gunakan pertanyaan terkait situasi saat ini (misalnya perasaan anak) dan ke depan (rencana tindakan anak).
Tips lain, jangan suruh anak berhenti maupun membujuk saat ia menangis. Tunggu saja, peluk.
[Kliping] Postingan Ibu Elly Risman di Grup Parenting with Elly Risman & Family
Berpikir dan bertimbang rasa…
Saya menduga, sekali dalam hidup Anda pasti pernah merasakan atau menghadapi seseorang yang bertingkah laku seolah tak memikirkan apa yang ia lakukan dan tidak peduli akan perasaan orang lain… Bener-bener cuek bebek..
Ambillah sebuah contoh yang sangat lazim: Anda sedang berkendara (motorkah atau mobil), melaju di jalur kiri atau tengah. Tiba-tiba sekali, ada kendaraan lain dengan kecepatan tinggi memotong dari arah paling kanan untuk belok ke kiri!
Anda sangat terkejut, untung masih bisa injak rem. Tapi apa yang Anda katakan pada pengendara yang memotong jalan itu? Astagfirullah! Konyol! Gak mikir! Sinting nih orang! Dan mungkin puluhan kata dan umpatan lainnya yang otomatis keluar.
Umumnya kata atau umpatan itu tidak terkendali karena kaget dan kesal luar biasa. Jadi tak sempat terpikirkan sebelum diucapkan. Dengan kata lain, kata-kata tersebut keluar sesuai perasaan kita saja. Kita sebutlah itu sebagai Aksi yang berdasarkan pada Perasaan atau Emosi.
Seharusnya sebagai orang dewasa, kita ber-Aksi berdasarkan Emosi atau Pikiran? Ya, benar, Pikiran! Jadi seharusnya rumusnya menjadi seperti ini, bukan? E β P – A. Emosi β Pikir dulu β baru ber-Aksi. Kenyataannya, sebagai orang dewasa kita sering menunjukan reaksi seperti di atas: E βA- P!
Siapa yang biasanya atau yang sepantasnya ber-Aksi berdasarkan pola EAP? Betul: anak-anak! Karena pusat-pusat di otak mereka belum sempurna terbentuk atau bersambungan.
Ternyata berapa sering kita sebagai orang dewasa bertindak atau bertingkah laku sehari-hari masih dengan pola EAP?
Sensor Mandiri, Benteng Keluarga Masa Kini
“Anakku tahu jingle iklan susu itu. lho, padahal di rumah kita nggak pernah nyalain tv. Liat di Youtube, kali, ya?” begitu cerita seorang teman di kantor seminggu yang lalu.
“Ada-ada aja pemerintah sekarang, masak sekarang baju artis di TV pun di-blur. Konyol! Kalau yang nonton nggak suka, tinggal matikan aja, kan?” demikian pendapat lain yang sempat saya baca di dunia maya.
Apa, sih, sebetulnya pengertian dari sensor itu? Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sensor artinya sebagai berikut: sensor1/senΒ·sor/ /sΓ©nsor/ n 1 pengawasan dan pemeriksaan surat-surat atau sesuatu yang akan disiarkan atau diterima (berita, majalah, buku, dan sebagainya); 2 yang menyensor. Sedangkan definisi censor, kata dalam bahasa Inggris yang merupakan asal kata sensor, dalam kamus Merriam-Webster adalah “a person who examines books, movies, letters, etc., and removes things that are considered to be offensive, immoral, harmful to society, etc.” Jadi sensor memang dari sananya terkait dengan persoalan moral dan seberapa besar bahayanya terhadap masyarakat.
Jika ditilik lebih lanjut, wajar bila pemerintah berkepentingan terhadap isi siaran atau media pada umumnya, sebab bisa membawa pengaruh kepada kehodupan masyarakat luas. Pornografi, kekerasan, hal-hal yang sifatnya menghasut, dapat secara langsung maupun tidak langsung merusak pemikiran pemirsa, pendengar, atau pembaca. Untuk tujuan mencegah dampak negatif itulah Lembaga Sensor Film (LSF) didirikan. Kiprahnya memang secara khusus lebih mengarah ke perfilman, yaitu film dan reklame film.

Lantas, dengan adanya LSF, apakah masyarakat bisa sepenuhnya bernapas lega? Tentu tidak. Pasti ada saja yang merasa tidak puas. Sebagian tak suka karena sensor seolah menghalangi kebebasan penyiaran atau terlalu ikut campur mengatur kesenangan pribadi, yang lain justru merasa gunting LSF masih tumpul. Lembaga yang dinaungi keberadaannya oleh Undang-undang Nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman ini sejatinya memang tidak maksimal perannya tanpa peran serta aktif masyarakat.
Bayangkan, LSF sudah memberikan batasan usia untuk bisa menjadi penonton sebuah film yang disesuaikan dengan muatan film tersrbut. Namun, pada praktiknya seringkali terjadi di gedung bioskop penonton di bawah umur lolos melihat film untuk usia di atasnya. Sebagian malah diajak oleh orangtuanya, mungkin karena tidak ada yang menjaga di rumah atau tidak sadar bahwa konten filmnya tidak cocok untuk anak-anak (biasanya untuk tema seperti komedi atau film bertokoh superhero yang telanjur identik dengan ‘main-main’ khas anak-anak, padahal terselip adegan syur atau sadis di dalamnya).
Maka, sensor mandiri sudah seharusnya menjadi budaya. Orangtua misalnya, harus aktif mencari tahu rating (dalam hal pengkategorian umur) film yang hendak dinikmatinya bersama anak di sinepleks. Tak terbatas pada sinema layar lebar sebetulnya, media lain pun patut mendapat perhatian. Bajakan film-film box office terbaru baik Indonesia maupun luar negeri banyak beredar dalam bentuk keping DVD/VCD dan dijual di lapak-lapak offline tanpa pengawasan, belum termasuk hasil download alias unduhan yang mudah ditemukan linknya di dunia maya, for free and uncensored. Mau yang gambarnya sudah cling hasil membajak dari edisi blu-ray, extended version, rekaman dari yang nonton langsung, pakai subtitle Indonesia maupun tidak, tinggal pilih. Video di situs penyedia rekaman audio visual gratis pun menjadi contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat masa kini karena bisa diakses lewat gadget di genggaman tangan, di mana pun berada. Bisa jadi film yang diputar oleh anak (balita zaman sekarang canggih-canggih, lho) ‘aman’, channel yang dipilih sudah khusus video edukasi anak, tetapi bagaimana dengan iklan yang lewat? Bagaimana dengan rekomendasi video lain yang acapkali ikut muncul? Ada kemungkinan fitur filter tidak selalu berhasil menghalangi seluruh kata kunci yang berkaitan, salah-salah malah klip xxx yang muncul.
Nah, apa saja sebetulnya yang perlu dicermati dalam menerapkan budaya sensor mandiri ini, khususnya bagi orangtua?
- Miliki prinsip dan pegang dengan teguh. Nilai-nilai di tiap keluarga bisa jadi berbeda satu sama lain, ada yang memilih pijakan agama, ada yang berpatokan pada budaya timur. Tentukan pondasi terlebih dahulu agar ada pegangan dalam menentukan langkah ke depannya. Misalnya, adegan ciuman dianggap biasa sebagai bagian dari keragaman pilihan berekspresi yang ada di masyarakat, atau sepenuhnya tabu? Apa tindak lanjutnya jika menemui hal seperti itu, tutup mata anak, alihkan ke kegiatan lain, langsung ceramahi anak, atau biarkan saja anak berpikir sendiri nanti kalau ‘umurnya udah nyampe‘?
- Ajak seisi rumah berkolaborasi. Utamanya pasangan (suami/istri) agar kompak satu suara dalam menerapkan aturan. Jika ada nenek/kakek/pengasuh/penghuni rumah lainnya, sampaikan juga apa yang dirasa perlu untuk mencegah anak mengkonsumsi sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
- Bicarakan dengan anak sesuai usianya. Anak yang lebih besar sudah bisa diberi penjelasan beserta referensi atau ‘dalil’-nya, juga diberi contoh sebab akibat agar memacunya ikut berperan (bukan hanya didikte), sedangkan anak yang lebih muda mungkin lebih baik diberi benteng secara langsung seperti penjadwalan nonton dan pendampingan.
- Usahakan melakukan ‘sensor’ dalam arti yang sesungguhnya, contohnya membaca komik, majalah, tabloid, atau novel yang dibeli anak (termasuk bentuk digitalnya berupa e-book atau versi pdf buku best seller yang sering beredar atau dengan mudah didapatkan di internet) sebelum ia mulai menekuninya, atau menonton duluan DVD yang mau disetelnya maupun game yang hendak dimainkannya (minimal cari review-nya yang umumnya cukup mudah ditemukan di forum-forum atau blog). Keterbatasan waktu mungkin menjadi kendala mengingat sibuknya pekerjaan ayah dan ibu sehari-hari baik di kantor/tempat kerja maupun di rumah, maka kembali lagi ke prioritas keluarga masing-masing: layakkah efek yang mungkin ditimbulkannya kelak jika lolos dari pantauan kita? Pembatasan menyeluruh bisa menjadi solusi kalau belum percaya dengan kemampuan anak menyaring sendiri, dengan konsekuensi orangtua dianggap otoriter.
- Bisa juga anak menonton video di luar pengawasan kita, misalnya dari gawai teman, di warnet, saat main ke rumah saudara, dan seterusnya. Kembali lagi ke poin pertama, usahakan anak sudah mengerti akan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga beserta konsekuensinya. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak sedari dini juga bisa membantu agar anak tidak segan/takut menanyakan atau mengobrolkan hal-hal dengan topik sensitif. Jadilah sahabat terbaik bagi anak.
Beberapa tips di atas semoga bisa menjadi awal dari pembudayaan sensor mandiri di masyarakat. Jika bukan kita yang mulai, siapa lagi? Sebab, pembangunan manusia di negeri ini dimulai dari satuan terkecil masyarakatnya yaitu keluarga yang saling mendukung dalam kebaikan, bukan?
SMSBunda, Perantara Menuju Keselamatan Ibu dan Bayi
“Wah, boro-boro, deh…baca tulisan di dokumen grup aja suka pada males, kok!” demikian komentar dari seorang kawan sesama admin grup ketika kami membahas kemungkinan penerbitan buku yang dirancang komplet menjawab pertanyaan para ibu dan calon ibu khususnya terkait ASI, MPASI, dan kesehatan keluarga secara umum. Ingin rasanya saya membantah, berhubung saya suka sekali membaca. Namun, saya harus mengakui, sebagaimana yang pernah saya baca, rentang konsentrasi manusia masa kini menurut penelitian memang menurun. Daya tahan untuk membaca artikel panjang konon menipis. Banjir informasi instan di era teknologi informasi seperti sekarang, di mana untuk memperoleh jawaban dari suatu pertanyaan kadang cukup dengan sekali klik, acapkali justru membuat kewalahan. Seringkali sebuah informasi hanya dibaca sekilas kemudian perhatian teralih ke informasi lain yang ‘memanggil-manggil minta dibaca’.
Belum lagi jika bicara soal keterbatasan waktu. Se-multitasking-multitasking-nya seorang perempuan, seolah masih terlalu banyak hal yang ia harus kerjakan. Sebuah tips mengatakan bahwa multitasking dalam tindakan itu produktif dan menghemat waktu, sedangkan multitasking dalam pikiran itu bikin waktu terbuang percuma. Pada kenyataannya, yang namanya ibu pasti pernah mengalami yang seperti ini: menyusun menu untuk esok hari di kepala sambil mengingat-ingat jadwal imunisasi anak sembari memeriksa tas sekolah anak untuk besok seraya menyimak informasi mengenai banjir di televisi.
Di sisi lain, update ilmu baru sepertinya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap detik. Panduan MPASI terbaru, step by step IMD (Inisiasi Menyusu Dini), petunjuk perawatan tali pusat bayi baru lahir, jenis vaksin yang belum pernah ada sebelumnya, tata laksana ketuban pecah dini…semuanya perlu untuk dipelajari setidaknya sebagai bekal jika suatu saat mengalami baik diri sendiri maupun orang terdekat, tapi kapan waktunya? Padahal seorang ibu adalah manajer keluarga yang sekaligus menjadi pengambil keputusan-keputusan penting. Tentu, ayah pun seharusnya belajar bersama. Namun, sebagai pihak yang mengalami sendiri kehamilan, juga lazimnya lebih sering berinteraksi dengan bayi/anak, sudah sewajarnya ibu lebih tanggap dan aktif mencari informasi, yang nantinya bisa didiskusikan dengan suami. Kapan harus ke dokter? Bahan makanan mana yang aman dikonsumsi ibu hamil? Bagaimana jika menemui tantangan dalam menyusui? Bolehkah ibu menyusui memakai produk perawatan kulit? Kapan perlu khawatir ketika gigi anak tidak kunjung muncul?
Tentang Karin “awkarin” Novilda, Line, dan Liverpool.
Repost tulisan dari https://inineracauan.wordpress.com/ yang bagus menurut saya, walau telat bacanya tapi sukses bikin saya jadi ikut merenung, belajar, sedih…. Saya menggarisbawahi yang ini:
Para youtuber atau selebgram yang berani posting segala macem adalah orang yang (harusnya) berprinsip, tau batasnya sharing dan show off, tau kapan harus stop, dan tau gimana caranya tutup mata dan tutup mulut. Ketika kamu jadi sosok yang dilihat semua orang, everyone judges, because you let them to. Dan dalam kasus awkarin ini, aneh rasanya ketika dia playing victim, sedangkan dia sendiri yang mempertontonkan kehidupannya ke semua orang. Dan ketika dia mulai dapat keuntungan dari situ, dia ga lebih dari sekadar pekerja. Donβt play victim, honey, because you pull the trigger β we all just stand by here and watch.
Bukan untuk membenarkan bullying, ya. Hanya saja, memang jadi pengingat buat diri sendiri juga, harus lebih hati-hati dengan tingkah laku, terutama di era gencarnya media sosial sekarang (karena terus terang belum bisa benar-benar tidak menggunakan, toh masih banyak manfaatnya).
Oh, dan tentu saja yang jadi pusat perhatian saya juga adalah soal bagaimana Karin memberi pengaruh :(. Tulisan guru bahasa Inggris di bagian bawah (di versi viralnya jarang diikutkan) menjadi contoh nyata….
Bahwa adalah tugas ortu untuk membentengi anak-anaknya (karena ada yang komen “jangan salahin yang kasih pengaruh, dong!”), ya iyalah memang. Justru karena adanya kepedulian dan biar bisa jadi bekal untuk membentengi makanya tulisan seperti ini banyak di-share, biar bisa digali kan penyebabnya, diprediksi arahnya, dicari penangkalnya (mungkin selama ini belum mengenalkan anak ke idola yang lebih baik dengan anggapan yang kayak gitu juga bakal nemu dengan sendirinya), ortu bisa menyesuaikan pendekatan dan milih kata-kata yang lebih tepat dst. Bukan dengan maksud melimpahkan seluruh kesalahan ke ‘benda’ bernama media sosial, kok.
Tulisan lain terkait hal ini ada di Femina http://www.femina.co.id/trending-topic/fenomena-karin-awkarin-novilda-dan-generasi-swag-inilah-7-alasan-kenapa-para-orang-tua-harus-cemas-.
Yang ini sudut pandang lain dari mami Ubii yang menyatakan pernah segaul Karin dulu, kemudian mengupas apa yang mungkin menjadi akar masalahnya, plus surat terbuka yang semoga dibaca oleh Karin ya http://www.gracemelia.com/2016/07/catatan-untuk-para-orangtua-dulu-saya-pernah-menjadi-karin-novilda.html.
Bekal Menjawab Pertanyaan Anak
1. Seri Widya Wiyata Pertama Anak-anak (Tiga Raksa)
Ini bukunya gede, hardcover, berat juga, isinya cukup komplet (ada tema Roda dan Sayap, Ulah Binatang, Kehidupan di Bawah Air, Bumi dan Angkasa dst). dengan gambar dan foto yang besar-besar juga. Baru punya beberapa, beli ketengan kalau lagi ada yang jual 2nd (versi lama) hehehe.
2. Seri Aku Ingin Tahu Mengapa (Grolier)
Ini cuma punya satu sih, kado. Hard cover tapi tipis, bertema (yang dipunya ini soal padang pasir), banyak gambar kecil-kecil, lumayan lah untuk menerangkan.
3. Ensiklopedia Pertanyaan Besar Mengapa (BIP)
Buku tunggal, yang dibahas pertanyaan yang cenderung serius seperti apa HAM itu, kenapa nggak boleh terlalu banyak nonton, apa itu rasisme, mengapa kita suka lelucon, dst, jawabannya juga panjang-panjang sih, dan terjemahannya agak kaku. Tapi tetap nggak terlalu berat buat disimak, bergambar juga.
4. Emotional Intelligence Series #1: Apa Kamu Punya Rahasia? (BIP)
5. Seri Ensiklopedia Junior: Tubuh Manusia (Γmilie Beaumont, BIP)
Ada judul-judul lain dalam seri EJ, tertarik sama judul yang ini karena direkomendasikan mba Fatimah Berliana Monika Purba (konselor laktasi Leader la Leche League) untuk pendidikan seks bagi anak. Nah pas beli minggu lalu dan buka-buka, ngng…kayaknya perlu dibahas berdua sama ayahnya dulu deh ini sebelum dibacain ke kakak, hahaha. Soalnya gambarnya (kartun) lumayan jelas soal anatomi tubuh dan proses kehamilan.
6. Balita Bertanya, Anda Menjawab (Pritha Khalida & Saniawati, PandaMedia)
Yang bukunya nyelip waktu mau difoto:
7. Anak Bertanya, Anda Menjawab (Adil Fahmi, Maghfirah Pustaka)
8. Seri Mengapa Bagaimana (BIP)
Baru punya yang Dinosaurus sama Ekologi, nggak setebal dan sebesar WWP jadi praktis dibawa-bawa. Suka diselipi ilustrasi konyol dalam pembahasannya.
9. How to Make a Baby, Mommy? (Dian Mardi & Gita Lovusa, Mizan)
(bersambung, ada beberapa buku lain yang mau dimasukkan)
Pede Bicara Seks dengan Anak dan Mengenali Orientasi Seksual Anak
Resume Seminar Parenting di TK Alam Patrick Depok, 16 April 2016
Sesi I
Ir. Septriana Murdiani
Praktisi pendidikan dan parenting, salah satu pelopor sekolah alam di Indonesia, penulis buku “Bahasa Bunda Bahasa Cinta”.
Pede Bicara Seks dengan Anak
Ortu tak pede/merasa tak nyaman, tabu, merasa kalau diajari malah tahu dan pengin, merasa belum tahu ilmunya, punya kenangan buruk/merasa belum jadi contoh yang baik.
Riset: seberapa pun tak nyamannya, tapi anak lebih selamat jika ortu membicarakan soal seks ini.
Bicara, lebih dari sekadar ‘bicara’, tapi mendidik kita mulai dari bicara. Bahkan kalau anak tidak bertanya, kita perlu mendidik lewat bicara. Pastikan kita jadi ortu yang enak dan tepercaya jika ditanya tentang apa saja, apalagi soal seks.
Di tiap nafsu dan kesenangan yg besar ada amanah yang harus diemban. Anak senang bermain tanah, air, pasir. Manusia juga secara ‘primitif’ menyukai/menikmati seks.
Pendidikan seks penting untuk diajarkan sebagaimana akidah dan akhlak, karena berperan penting bagi kemanusiaan dan peradaban. Jangan kalah oleh media dan teman-teman dengan informasi yang kadang menyesatkan.
Ajarkan anak dan terutama diri sendiri untuk menghadapi semua tantangan zaman yang ada dengan keimanan. Jangan takut, jangan cemas, jangan sedih.
Berjamaahlah dalam mendidik anak, it takes a village to strengthen the family. Termasuk, sudah tak zaman lagi hanya mendoakan anak sendiri.
Inti dasar pendidikan seks adah akhlak.
Segitiga akhlak: kesadaran, perbuatan/pembiasaan, akhlak.
Jika kasih sayang full di rumah, fitrah anak dengan akhlak yang baik akan jalan.
Akhlak beda dengan karakter. Akhlak: perbuatan baik yang dilandasi dengan niat dan kesadaran.
12 fokus akhlak:
1. sayang (sayang dengan adik bagaimana, sayang dengan suami/istri bagaimana)
2. syukur (termasuk akan jenis kelamin dengan segala konsekuensinya mis.kalau haid shaumnya jadi batal.)
3. rendah hati (apalagi dalam menjalani pernikahan–institusi yang tidak mudah), 4. bersih (termasuk membersihkan alat kelamin)
5. positif
6. bijaksana
7. tanggung jawab
8. sabar
9. sungguh-sungguh
10. berani
11. kendali diri
12. adil. Selengkapnya bisa dibaca di Riyadush Sholihin.
Terjemah dan tafsirnya: sesungguhnya Allah memerintahkan kamu berlaku adil dan berbuat ihsan (memberikan kualitas terbaik), memberi bantuan kepada keluarga, dan Allah melarang dari perbuatan fakhsya-keji (semua perbuatan yang didasarkan pada pemenuhan hawa nafsu: zina, sawah, rumah, mobil dll), mungkar (perbuatan buruk yang bertentangan dengan akal sehat dan syariat…kalau sudah terang-terangan sudah masuk ke munkar), baghyu (mungkar yg dzalim, mengarah ke permusuhan).

