Beberapa waktu belakangan ini kepedulian terhadap kondisi baby blues yang berlanjut pada postpartum depression (PPD) kembali mengemuka. Sebuah kasus menyentakkan banyak orang. Ternyata masih banyak yang belum memahami kedua kondisi tersebut, dan bahkan mengetahui definisinya pun bukan jaminan akan terhindar. Terbebas dari baby blues dan PPD pascamelahirkan anak pertama, sudah memiliki pengalaman atas apa yang akan dihadapi, belum tentu membuat yang berikutnya juga demikian.
Selain membekali diri sendiri dengan informasi terkait baby blues dan PPD, jangan lupakan juga bahwa kita perlu lebih membuka mata pada kondisi di sekeliling. Sebab, salah satu pemicu baby blues dan PPD adalah ketika sang ibu yang baru melahirkan ini merasa sendirian. Tanpa teman, tanpa dukungan sekeliling. Sebisa mungkin, beri perhatian kepada teman kita yang sedang menyambut kehadiran anggota keluarga baru, meski mungkin sekilas kondisinya tampak baik-baik saja. Ya, pastinya kita sudah cukup sibuk dengan urusan pribadi, tapi setidaknya tunjukkanlah perhatian, tawarkan apa yang bisa dibantu.
Di sisi lain, perhatian yang berlebihan, termasuk pemberian saran tanpa diminta, bisa mengganggu bahkan membebani perasaan ibu yang baru melahirkan. Jadi, ada baiknya kita mempertimbangkan masak-masak sebelum berucap atau bertindak. Pilih kata-kata yang tidak menghakimi, tahan lidah kita untuk berkomentar, lebih banyak sediakan telinga untuk mendengar.
Satu hal yang mungkin bisa kita lakukan sebagai awalan adalah dengan memberikan hadiah pada ibu yang baru melahirkan. Orang-orang cenderung memberikan kado sesuatu yang bisa dipakai oleh bayinya, padahal akan sangat manis kalau ibunya pun mendapatkan hantaran. Memberikan kado kepada anak sebelumnya (kakak bayi) ada baiknya juga, tapi tulisan kali ini akan berfokus pada hadiah untuk ibunya.
Continue reading →