Push Yourself to the Limit!

Seperti sudah saya sampaikan dalam postingan laporan pelaksanaan tantangan 10 hari untuk hari pertama, saya sempat kaget dengan tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Bagi saya yang lebih dominan sisi mengikuti buku teks atau manual petunjuk, diminta untuk mengasah kreativitas melalui ‘apa saja yang ditemui sehari-hari’ itu… ‘menakutkan’. Bagaimana kalau saya salah memaknai instruksinya, dan yang saya laporkan berbelok dari yang seharusnya?

Apalagi di hari-hari awal tantangan, saya sedang banyak kerjaan di kantor sampai sering pulang malam. Sampai rumah suka sayang kalau buka hp alih-alih main dengan anak-anak, apalagi mama sedang ada di sini. Waktunya untuk bercengkrama, kan? Makin bingung saya, bagaimana memahami apa yang seharusnya dilakukan untuk tantangan Level 9 ini. Bahkan untuk mengikuti sesi diskusi bersama-sama (bukan pertanyaan yang insidental) pun kewalahan karena bersamaan waktunya dengan persiapan keberangkatan suami ke luar kota. Jelas saya memilih untuk menaruh ponsel dulu. Begitu baca keesokan harinya, waah, seru ya ternyata bahasannya. Banyak tantangan berpikir kreatif yang mengajak untuk melihat bukan hanya dengan sudut pandang yang selama ini dipakai.

Continue reading

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 2

Kemarin (04/11) kami bersama-sama nonton pertunjukan air mancur menari (Jakarta Fountain) di Monas. Kami benar-benar sampai di lokasi sekitar pukul 20, alias tepat setelah pertunjukan pertama selesai (dari kejauhan masih sempat lihat ujung-ujung show pertama). Jadilah kami harus menunggu 30 menit lagi untuk sesi kedua. Masih alhamdulillah sih kebagian, dan cuaca pun cerah.

Yang sempat saya rasakan menantang adalah bagaimana agar anak-anak tidak merasa bosan. Sayang kami lupa membawa cemilan, jadi butuh pengalih perhatian yang lain. Kalau nonton hp gitu kan gak seru, ya. Mau menggambar juga situasinya kurang memungkinkan. Banyak anak yang berlarian di sekitar undak-undakan tempat kami duduk, sepertinya memang jadi kesibukan yang seru buat anak-anak untuk menghabiskan waktu. Tapi remang-remang begitu, banyak orang dan anak-anak yang lari bikin risiko tertabrak tinggi, ditambah lagi banyak rumput di lokasi yang rawan terinjak (dan harusnya tidak boleh diinjak memang), saya, mama, dan pengasuh anak-anak memilih untuk membatasi aktivitas mereka. Berdiri, jalan-jalan sedikit tak apa.

Maka untuk menjaga mood anak-anak yang ketika masuk hitungan belasan menit terlihat mulai jenuh menanti, saya, atau tepatnya kami, sih,  mulai bercerita tentang apa saja. Paling banyak tentang aktivitas kami seharian sebelumnya, mulai dari festival dongeng yang kami hadiri sampai show tokoh boneka. Ya, hari yang amat sibuk, memang…. Alhamdulillah kreativitas dalam mencari bahan obrolan, termasuk akhirnya main tebak-tebakan juga, bisa menolong agar anak-anak betah.

 

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

Tantangan Level 9 Kelas Bunda Sayang IIP (Think Creative) – Hari 1

Tantangan kali ini cukup bikin saya kewalahan. Bagaimana tidak, bukannya diberi penjabaran harus ngapain, malah diajak kreatif pula menemukan ‘sesuatu’ dalam kehidupan sehari-hari. Boro-boro ada contohnya :D. Apalagi di kantor juga lagi banyak kerjaan, jadi ketinggalan melulu sesi diskusinya. Ya sudah, lapor sependek pemahaman saya saja ya…

Salah satu hal yang menuntut kreativitas menurut saya adalah bagaimana mengatur waktu untuk membersamai anak betul-betul ketika saya berada di rumah, termasuk ketika kami beraktivitas di luar rumah juga sih…intinya ketika saya sedang tidak ngantor. Apalagi kerjaan yang sekarang kadang bikin saya harus siaga pegang gawai di mana pun berada. Beberapa hari ini saya bertekad betul mengurangi pemakaian gawai di rumah.

Jumat kemarin (03/11) misalnya. Paling tidak, begitu pulang, saya mandi, sholat (kalau belum) tanpa mengecek ponsel dulu, termasuk sewaktu makan malam. Ceritanya biar fokus. Saya manfaatkan juga benda apa saja yang ada di sekeliling untuk memulai pembicaraan dengan anak-anak. Ya, pada dasarnya saya susah ngobrol soalnya. Tapi saya haruskan diri saya terus berpikir. Wawancara narasumber bisa, masa’ sama anak sendiri keok. Sebenarnya sih anak-anak juga dipancing sedikit sudah semangat cerita dan mengajak bermain. Tanpa ditanya pun mereka biasanya sudah bersahut-sahutan kasih laporan kegiatan seharian atau kondisi mereka dengan semangat. Saya saja yang belum bisa fokus betul. Seringnya ketika semua urusan saya beres, termasuk video call kami semua, sudah mendekati waktu tidur. Nggak mau juga jam tidur mereka berantakan. Maka solusinya ya itu tadi, saya komit untuk membersamai mereka dengan sepenuh pikiran dan segenap perasaan.

Kemarin ada paket dari teman datang, sebuah juicer manual yang kontan jadi rebutan. Lagi-lagi malah saya yang belajar dari anak-anak soal kreativitas ini, karena cara mereka berbagi kadang out of the box. Dan memang berkaitan dengan box beneran sih, jadi kotak kemasan pun ternyata dianggap mainan yang bikin keadaan imbang, lho.

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative

 

Rindu Tersampaikan lewat Lagu

Malam Minggu kemarin kami menghadiri pesta pernikahan sepupu jauh saya di bilangan Kalibata. Seperti umumnya resepsi di kalangan keluarga besar saya, para tamu dihibur dengan alunan gending Jawa, dengan sinden dan gamelan lumayan lengkap pula. Salah satu tembang yang mengalun adalah Yen ing Tawang Ana Lintang. Tembang yang dipopulerkan oleh Waldjinah ini sempat saya masukkan dalam daftar lagu-lagu yang bertema kerinduan. Dulu saya kira liriknya mencerminkan rasa kangen antara sepasang kekasih atau suami istri, tetapi belakangan saya membaca artikel yang penjelasannya berbeda.

Dari sini saya peroleh informasi bahwa sejatinya lagu tersebut digubah oleh pak Andjar Any saat menunggu kelahiran buah hatinya. Bintang, awan, dan bulan yang disebutkan dalam tembang adalah benda-benda langit yang menjadi saksi penantian beliau. Kegundahan yang tertuang adalah karena harap-harap cemas apakah istri maupun bayinya selamat dalam proses persalinan. Ternyata, bayi yang terlahir adalah bayi perempuan. Maka sapaan ‘Nimas‘ dan ‘Cah Ayu’-lah yang digunakan dalam tembang. Sehingga menjadi kurang tepat jika ada biduanita yang mengubah sapaan ‘Nimas‘ dan ‘Cah Ayu‘ dalam syair lagu tersebut dengan sapaan untuk lelaki seperti ‘Kangmas‘ atau ‘Cah Bagus‘.

Continue reading

Museum Sumpah Pemuda, Saksi Pergerakan Anak Bangsa

Postingan yang terlambat ini sebetulnya. Berhubung akhir pekan kemarin belum sempat bongkar-bongkar arsip foto, jadilah baru masuk blog sekarang (dan berakibat lagi-lagi ambil sehari libur ODOP :D). Kunjungan ke Museum Sumpah Pemuda ini pun sebetulnya kami lakukan tahun lalu. Saat itu sedang ada renovasi sehingga bisa jadi beberapa bagian museum tidak sama lagi. Namun karena dulu juga belum sempat ditulis di sini, nggak apa-apa ya dipublikasikan sekarang catatannya, mumpung masih dalam suasana peringatannya juga tiga hari yang lalu.

Museum Sumpah Pemuda ini terletak di Jl. Kramat no. 106, tidak begitu jauh dari halte Transjakarta Pal Putih (arah ke Kwitang/Senen). Awalnya, gedung yang didirikan pada permulaan abad ke-20 ini adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Sejak tahun 1908, Gedung Kramat disewa oleh pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) dan RHS (Rechts Hooge School) sebagai tempat tinggal dan belajar. Mereka yang pernah tinggal dalam gedung yang dulu dikenal dengan nama Commensalen Huis itu adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana (sumber: website museum).

Continue reading

Imunisasi Terjangkau dan Praktis, ke Sini Aja!

Sebagai salah satu bentuk ikhtiar demi kesehatan keluarga, saya mengikuti jadwal Kementerian Kesehatan RI dalam pemberian vaksin. Biasanya saya membawa anak-anak untuk mendapatkan vaksin yang ada dalam jadwal dari Kemenkes ini di puskesmas. Lumayan kan, bisa lebih menghemat biaya, sekaligus berpartisipasi dalam program pemerintah. Selain mematuhi jadwal yang tercantum dalam buku KIA versi Kemenkes, saya juga mengambil imunisasi lainnya untuk anak-anak, mengikuti rekomendasi IDAI. Nah, karena vaksin non-subsidi ini tidak tersedia di puskesmas, maka kami harus memperolehnya dari tempat lain.

Unduh Buku KIA Kemenkes versi 2016 di tautan ini

Hingga usia anak-anak dua bulan, mereka mendapatkan imunisasi di kota tempat mereka lahir alias kampung halaman saya di Sukoharjo, biasanya di RS. Sedangkan setelah kami kembali ke tempat bertugas di Jakarta, anak-anak memperoleh vaksin rekomendasi melalui sejumlah layanan jasa. Sejauh ini justru kami belum pernah ke rumah sakit untuk imunisasi, karena ada pilihan lain yang lebih praktis. Lebih minim risiko infeksi nosokomial (infeksi ‘oleh-oleh’ dari rumah sakit/pasien di sana) pula.

Baca juga: Jadwal Imunisasi IDAI Terbaru

Dulu kami biasa pergi ke Rumah Labeeba alias praktik pribadi dr. Ian (Farian Sakinah) untuk vaksinasi anak-anak (dan saya juga). Namun sayangnya belakangan stok vaksin di sana tidak selalu tersedia, apalagi yang non-subsidi. Kesibukan dokter keluarga kami itu pun semakin bertambah. Jadilah saya mulai mencari-cari alternatif tempat lain untuk imunisasi.

Berikut beberapa jasa imunisasi yang pernah saya gunakan untuk anak-anak:

Continue reading

[Ulasan Film] Duka Sedalam Cinta

Usai menonton film Ketika Mas Gagah Pergi pada awal tahun 2016, ada sepercik rasa kecewa di dada. Habisnya, kok ternyata filmnya bersambung, sih? Kapan lanjutannya tayang juga belum jelas betul. Kan penasaran dengan akhir cerita versi layar lebarnya, apakah akan setia dengan cerpen/novelet atau memberikan ruang untuk penutup yang berbeda. Dengan pengembangan sejumlah karakter orisinal dari cerpen/noveletnya maupun penambahan tokoh-tokoh baru, bisa saja alurnya jadi lain, kan?

Dalam acara Jumpa Penulis beberapa waktu yang lalu, mba Helvy Tiana Rosa selaku penulis Ketika Mas Gagah Pergi menjelaskan salah satu alasan kenapa film pertama dan kedua jadi harus berjarak sebegitu lama: terbentur soal pendanaan. Ya, mba Helvy nekad mengambil peran sebagai produser kedua film tersebut, konon dengan diiringi tangis sang adik, mba Asma Nadia, yang tahu betapa beratnya menembus dunia hiburan Indonesia dengan idealisme macam ini. Biaya pembuatan film ini sendiri dihimpun lewat crowd funding.

Baca juga: Pesan-pesan dari Helvy Tiana Rosa

Penantian cukup panjang itu akhirnya tuntas juga pekan kemarin. Film Duka Sedalam Cinta yang menampilkan sambungan kisah mas Gagah, Gita, Yudhi, serta keluarga dan kawan-kawan mereka naik tayang tanggal 19 Oktober 2017 di sejumlah jaringan sinepleks. Sayang, bioskop yang menyediakan layarnya untuk film ini di Jakarta tidak banyak-banyak amat. Ingin sebetulnya nonton bersama teman-teman seperti waktu itu menyaksikan film pertamanya, atau bergabung dengan sejumlah komunitas yang mengadakan sesi nonton bareng. Namun, belum ketemu waktu yang pas. Daripada nanti nggak jadi-jadi, juga sekaligus mengikuti ajakan mba Helvy untuk menonton di hari-hari awal pemutaran film, saya memantapkan diri memesan tiket sendirian di hari kedua filmnya ditayangkan. Kalaupun nanti ternyata ada teman yang mengajak nonton lagi dan jadwalnya klop, ya nonton lagi saja, pikir saya.

Continue reading

Blogger Muslimah, Antara Hamasah dan Iffah

Hari ini, 27 Oktober, diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Rangkaian tantangan One Day One Post Blogger Muslimah belum tuntas sebulan saya ikuti, tapi izinkan saya mengucapkan terima kasih untuk komunitas Blogger Muslimah khususnya pendiri dan admin yang sudah memberikan semangat dan motivasi. Sebelumnya, tak terbayangkan bagi saya untuk mengisi blog ini setiap hari. Bahkan di masa-masa rajin nge-blog di Multiply dahulu kala, seingat saya belum pernah terjadi saya bisa posting sampai lebih dari lima belas hari berturut-turut begini.

Ya, kadang yang dibutuhkan ‘hanya’ suntikan semangat, termasuk dari pihak luar. Niat saja belumlah memadai. Harus ada dorongan lebih untuk mewujudkan niat itu. Sebab kalau tidak, maka rintangan seperti keterbatasan waktu dan sarana akan selalu menjadi alasan. Tentu, sebagai hamba, pribadi, anak, istri, ibu, pegawai, pengusaha, pekerja paruh waktu, atau apa pun peran kita di dunia ini, ada hal-hal yang seringkali memang patut mendapat perhatian lebih atau dijadikan prioritas. Boro-boro sempat mencatat ide-ide untuk nanti dituangkan di blog. Di saat seperti itulah, tuduhan ‘cari-cari pembenaran’ yang disematkan atas blog yang mulai lumutan atau dihiasi sarang laba-laba jadi terasa tidak pas. Kenyataannya, kita semua punya kondisi masing-masing yang tidak bisa disamaratakan, kan? Jadi bukan bermaksud menjadikan anak, suami, atau pekerjaan sebagai tameng saat frekuensi menulis kita dipertanyakan, tetapi memang ada masanya kita perlu fokus ke urusan selain meng-update blog.

Continue reading

Batuk Pilek dan Influenza, Serupa tapi Tak Sama

Sudah beberapa pekan ini saya dan orang-orang di sekitar, baik di rumah maupun di kantor, bergantian kena batuk pilek. Komentar yang seringkali terlontar dari teman yang menyapa setelah melihat masker yang saya pakai atau mendengar suara saya jadi serak atau sengau adalah, “Flu, ya?” Gampangnya sih memang jawab saja “Iya”, hehehe. Namun, sebetulnya flu dan batuk pilek adalah penyakit yang berbeda, lho.

Saya rangkum dari WebMD, batuk pilek (cold) atau biasa diistilahkan dengan selesma adalah penyakit saluran pernapasan yang lebih ringan jika dibandingkan dengan influenza atau flu. Flu bisa berlangsung hingga berminggu-minggu, dan bisa berujung pada masalah kesehatan serius seperti pneumonia dan menyebabkan penderita harus dirawat inap.

Ada ratusan jenis virus yang bisa mengakibatkan batuk pilek (makanya belum ada vaksin untuk selesma, saking banyak macam virusnya). Batpil biasanya diawali dengan sakit tenggorokan yang hilang setelah sehari dua hari. Gejala yang mengikutinya adalah hidung berair/mengeluarkan ingus/meler, kemudian batuk pada hari keempat atau kelima. Pada orang dewasa, jarang disertai dengan demam sebagaimana yang terjadi pada anak-anak, tetapi bisa saja ada demam ringan.

Biasanya sih di awal-awal ingusnya bening dan encer, lama-lama menjadi lebih kental dan keruh warnanya. Ingus kental dan ‘berwarna’ ini belum tentu merupakan tanda infeksi bakteri, ya (ada yang berpendapat demikian soalnya). Batuk pilek ini biasanya paling menular pada tiga hari pertama, dan memakan waktu hingga lebih kurang seminggu hingga sembuh betul. Bahkan kalau berdasarkan grafik di bawah ini, hidung meler dan batuknya bisa bertahan sampai dua minggu, lho.

Continue reading

Kepada Siapa Kita Minta Pertolongan?

Materi dari grup Bimbingan Agama Islam (BiAS) hari ini lagi-lagi sayang kalau tidak diarsipkan di sini…

👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Zuhud Dan Wara’
🔊 Hadits 05 | Perintah Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allāh

Hadits 05 | Perintah Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allah (Bagian 1)

 PERINTAH MEMINTA PERTOLONGAN HANYA KEPADA ALLAH (BAG. 1)
klik link audioبِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــــــــم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول اللهKita masuk pada hadits yang ke-5 dari Bab Zuhud wal Wara’.وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله الهم قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَوْمًا، فَقَالَ: “يَا غُلاَمُ، اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.” رَوَاهُ التِرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā mengatakan:

Pada suatu hari aku pernah dibonceng Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau bersabda:

“Wahai remaja (pemuda), jagalah Allāh, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allāh, niscaya kamu akan mendapati-Nya selalu hadir di hadapanmu.

Jika kamu meminta sesuatu, mintalah kepada Allāh. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allāh.”

(HR Tirmidzi, dan ia berkata: “Hadits ini derajatnya adalah hasan shahih.”)

⇒Ibnu ‘Abbās merupakan sepupu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan shahābat kecil saat itu.

Hadits ini menjelaskan bagaimana perhatian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam memberi nasihat, bahkan kepada anak-anak.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menanamkan tauhid bukan hanya kepada para shahābat yang senior (besar) tetapi juga kepada para shahābat yang junior (kecil).

Dan anak-anak, kalau ditanamkan tauhid padanya sejak kecil maka akan terpatri dalam dada-dada mereka.

Yang dimaksud dengan “menjaga Allāh” adalah sebagaimana dijelaskan oleh Al Imām Nawawi rahimahullāh, yaitu:

◆ احفظ اوامره وامتثلها وانتبه عن نواهيه يحفظك في تطلباتك وفي دنياك واخرتك

◆ Jagalah perintah-perintah Allāh dan kerjakanlah, dan berhentilah engkau dari perkara yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Niscaya Allāh akan menjaga engkau dalam gerakanmu (perpindahanmu) dalam duniamu maupun akhiratmu.

⇒Jadi yang dimaksud dengan menjaga Allāh adalah menjaga syari’at Allāh; perintah Allāh dikerjakan dan larangan Allāh dijauhi.

Apa balasannya?

الجزاء من جنس العمل

Barang siapa yang menjaga perintah Allāh, maka Allāh akan menjaganya.

Allāh akan menjaga dia dalam dua perkara, yaitu:

■ Penjagaan Pertama | Allāh akan menjaga dia dalam urusan dunianya (kesehatan, istri, anak-anak, harta)

Orang yang menjaga perintah Allāh maka Allāh akan:

⑴ Menjaga keluarganya.
⑵ Mengirimkan malaikat untuk menjaganya.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ

“Baginya (bagi seorang manusia) ada malaikat-malaikat yang berada di depannya dan di belakangnya. Mereka menjaga menusia ini karena perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”
(QS Ar Ra’d: 11)

Oleh karenanya, di zaman yang penuh dengan fitnah (godaan) ini, sulit untuk bisa menjaga keluarga dan anak-anak kita kecuali kalau kita bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalau diri kita bertaqwa (menjalankan perintah Allāh dan menjauhi larangan-Nya) maka Allāh akan menjaga anak-anak kita.

Siapa yang bisa menjaga anak-anak kita sementara anak-anak dilepaskan di sekolah?

⇒Bertemu dengan orang-orang nakal.
⇒Melihat hal-hal yang diharamkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
⇒Bergaul dengan teman-teman yang tidak benar.
⇒Mendengarkan ucapan-ucapan yang kotor.
⇒Diajari oleh temannya untuk membohongi kedua orang tua.

Sulit bagi kita untuk menjaganya.

Kalau anak-anak di (dalam) rumah mungkin bisa kita jaga, itu pun tidak mudah.

Apalagi kalau kita punya kesibukan di luar rumah dan anak-anak di luar rumah, maka siapa yang bisa menjaganya?

Tidak ada yang bisa menjaganya kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karenanya, kita dapati banyak sekali orang-orang shalih (misal di Arab Saudi) yang Allāh berikan umur panjang, diberkahi umur dan ilmu mereka, dijauhkan dari pikun. Subhānallāh, sebagaimana para masyāyikh (para ulama) yang kita lihat.

■ Penjagaan Kedua | Allāh akan menjaga dalam urusan akhiratnya.

⇒Artinya, Allāh akan menjaga dia sehingga tidak terkena syubhat-syubhat (kerancuan pemikiran).

Ada syubhat yang bisa membuat seseorang menjadi kafir, munafiq atau ada yang membuat ragu terhadap agama.

Kita tahu, di zaman sekarang ini syubhat begitu banyak beredar di internet (dunia maya).

Maka kalau dia bertaqwa kepada Allāh, maka Allāh akan:

✓Melindungi (menjauhkan) dirinya dari syubhat-syubhat tersebut.
✓Menjaganya (menjauhkan) dari syahwat yang bisa menjerumuskan dia dalam perbuatan dosa besar.

Kemudian, kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Jagalah Allāh, niscaya engkau akan mendapati Allāh di hadapanmu.”

Artinya apa?
Allāh akan senantiasa bersamamu.

◆ Barang siapa yang bertaqwa kepada Allāh di manapun dia berada dan kapan pun, maka senantiasa Allāh bersama dia, menolong dia setiap ada kesulitan.

Olah karenanya, tatkala Allāh mengutus Nabi Mūsā dan Hārūn untuk berdakwah kepada Fir’aun, mereka berdua takut, maka Allāh berkata:

لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

“Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian dan Aku melihat apa yang kalian lakukan.”
(QS Thāhā: 46)

Barang siapa yang bertaqwa kepada Allāh, maka yakinlah kalau dia butuh Allāh, maka Allāh selalu berada di sampingnya untuk memudahkan urusannya.

والله تعالى أعلم بالصواب

Continue reading