Sugar Rush, Mitos atau Fakta?

Di grup ibu-ibu di whatsapp maupun di kantor (yang isinya padahal mayoritas lelaki), bahasan mengenai ‘mabuk gula’ ini mengemuka beberapa hari belakangan. Katanya, anak-anak memang jadi cenderung susah di-stop, cenderung lebih semangat lari-larian, lompat-lompat, hingga begadang kalau sudah banyak makan kue manis atau minum minuman manis. Bahkan tak hanya ‘di dunia nyata’, dalam trailer film Olaf’s Frozen Adventure yang sempat saya tonton tampak mata Olaf berputar begitu menggantikan wortel yang selama ini menjadi hidungnya dengan permen berbentuk tongkat (candy cane). “Sugar rush!” teriak si orang-orangan salju ‘hidup’ ini.

Sugar rush atau sugar high biasanya diartikan sebagai kondisi amat aktif atau kelewat bersemangat dalam berkegiatan, biasanya terjadi pada anak-anak, yang dipicu oleh banyaknya konsumsi gula. Sekilas sepertinya hal ini logis, karena kalori yang masuk menjadi bahan bakar dalam beraktivitas, bukan? Gula yang tinggi kalori pun lalu menjadi kambing hitam atas ulah anak-anak yang tampak berlebihan.

Continue reading

Nyaman dan Asyiknya bermain di Playground fx Sudirman

Kami sekeluarga jarang pergi ke mall. Kalau sampai ke mall, biasanya karena ada undangan dari teman (syukuran, perpisahan, atau kopdar komunitas) atau keluarga besar yang mengajak jalan-jalan. Saya dan suami juga nonton berdua sih kadang-kadang. Nah, tahun lalu saya mulai aktif di The Urban Mama (TUM) setelah sebelumnya lebih banyak menjadi pembaca saja. TUM seringkali mengadakan kegiatan semacam seminar, bincang santai atau workshop yang temanya menarik perhatian saya. Jadilah saya mendaftarkan diri, dan ternyata banyak di antara acara tersebut yang diselenggarakan di fx Sudirman.

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke dalam mall ini ya dalam rangka mengikuti acara TUM. Tepatnya untuk acara Pink Class #TUMMeTime yang mengangkat tema All About Kesehatan Kewanitaan. Kegiatannya digelar di food court Eat & Eat, lantai f5, dan saya tiba agak terlalu pagi waktu itu. Jadilah saya berkeliling…dan menemukan playground yang lucu di lantai yang sama! Wah, tahu gitu, tadi ajak anak-anak, ya. Tapi belum tahu juga sih sistem pemakaiannya bagaimana.

Saya mulai mencari tahu informasi tentang tempat bermain anak ini di internet. Ternyata gratis lho, alias tidak dipungut biaya jika mau bermain di situ. Tidak ada karcis masuk ataupun tanda sejenis. Sepertinya sistemnya mandiri ya, jadi tidak ada petugas penjaga juga. Maka orangtua, pengasuh, atau keluarga juga harus tetap mendampingi dan mengawasi selama anak-anak main di situ. Kalau sedang ada acara di panggung atrium, dari playground bisa ikut simak juga, entah itu sajian musik ataupun workshop/seminar. Sip, bisa ajak anak-anak nih kali berikutnya.

Continue reading

(Bukan) Critical Eleven

Novel Critical Eleven yang ditulis oleh Ika Natassa baru saya baca pada awal tahun ini. Agak terlambat sih ya memang. Tak banyak yang saya ketahui tentang isinya sebelum membaca buku tersebut, selain bahwa pengarangnya terkenal suka menulis cerita romantis yang bikin baper. Malah, saya kira angka sebelas pada judulnya merujuk pada sebelas tahun pernikahan dengan segala romantikanya hingga mencapai titik kritis. Ternyata saya salah besar. Yang dimaksud critical eleven di sini adalah sebelas menit kritis pada awal penerbangan, yang dihubungkan dengan permulaan perkenalan kedua tokoh utama dalam novel yang sudah difilmkan ini. Saya aja yang ge-er, gara-gara tahun ini pernikahan saya dan suami memang menginjak tahun kesebelas.

Kami tidak berjumpa untuk pertama kalinya di atas pesawat, tentu saja. Dua belas tahun yang lalu, saya adalah pegawai magang setelah lulus dari sebuah kampus kedinasan milik suatu kementerian, atau sekarang biasanya diistilahkan dengan on job training. Berbeda dengan generasi belakangan ini yang magangnya dijadwalkan berpindah-pindah unit secara bergantian dengan maksud lebih menguasai beragam jenis pekerjaan sebelum ditugaskan definitif sebagai pegawai negeri sipil, saat itu angkatan saya magang selama setahun lebih sedikit di tempat (masing-masing) yang tetap.

Continue reading

Peduli Kanker Payudara lewat Deteksi Dini

Pada bulan Oktober yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperingati sebagai Breast Cancer Awareness Month, saya ingin berbagi catatan yang belum sempat saya tuliskan sebelumnya. Tanggal 27 Agustus yang lalu saya mengikuti kegiatan seminar Hijab Motion Healthy Day di Prodia Tower. Topik utamanya memang membahas seputar kanker payudara. Selain ada materi dari segi medis, sejumlah survivor atau penyintas kanker payudara juga turut berbagi pengalaman.

Salah satu yang mengisi sharing session dalam acara tersebut adalah bu Ina Sumantri, penyintas (survivor) kanker payudara yang kemudian menjadi penggiat komunitas Love Pink. Tahun 2013, beliau terdiagnosa stadium 2 tahun dan sudah menjalani rangkaian pengobatan termasuk kemoterapi dan radiasi.

@lovepinkindonesia merupakan komunitas yang beranggotakan para warrior (yang masih berjuang) maupun survivor (yang sudah memperoleh diagnosis sembuh meski bisa saja bangkit lagi) kanker, dengan anggota sekitar 600 orang. Fokusnya memang pada kesehatan, khususnya payudara.

Love Pink awalnya bergerak memberikan sosialisasi pengajian-pengajian, lalu merambah ke kantor-kantor dan sekarang juga ke sekolah-sekolah, karena pergeseran umur penderita kanker masa sekarang. Sosialisasi yang diberikan seputar tanda-tanda, pengobatan, pemeriksaan secara berkala, deteksi dini kanker payudara, dan terutama awareness sejak awal. Visinya, dunia yang bebas dari kanker payudara stadium lanjut.

Continue reading

Menyimak Kisah Cinta 2 Kodi dan Misi Menulis Asma Nadia

Meski sudah beberapa kali bertemu muka dengan mba Asma Nadia dalam sesi bedah buku/film, diskusi menulis, atau nonton bareng dengan mba Asma, tetap saja kesempatan untuk bisa belajar lagi secara langsung pada ibu dua anak ini tidak saya sia-siakan. Pagi ini misalnya, saya ikut duduk menyimak acara Diskusi Buku Cinta 2 Kodi yang diadakan oleh Pustaka BKF.

Mba Asma Nadia mengawali pemaparannya dengan mengenalkan diri dan keluarganya. Teladan dari tokoh-tokoh yang berjuang dari keadaan serba-kekurangan, yang dikutip dari buku No Excuse karya suami mba Asma ikut dikisahkan.

Tulisan-tulisan mba Asma membahas berbagai hal, salah satunya tentang jomblo. Jomblo seringkali dianggap sebagai kaum yang ngenes, banyak pula meme yang beredar meledek betapa hinanya status jomblo. Padahal menurut mba Asma, jomblo biasanya ada di usia produktif dengan stamina dan waktu luang yang sayang kalau disia-siakan. Maka lahirlah buku untuk ‘menyelamatkan para jomblo’ seperti Catatan Hati Seorang Gadis. Sedangkan buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin terinspirasi dari kejadian saat mba Asma umroh. Mba Asma melihat bahwa saat ibadah pun, muslimah bisa jadi menyebalkan. Makanya dibuatlah buku tersebut agar menjadi bekal bagi para muslimah untuk tampil cantik tanpa berlebihan, dari segi kerapian penampilan maupun tingkah laku.

Continue reading

Belajar dari Generasi Z, Mengapa Tidak?

Awal bulan ini, tepatnya tanggal 1 lalu, saya kembali memboyong seisi rumah untuk mengikuti kegiatan wisuda program Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) Jakarta Batch 4. Lagi-lagi ‘jadi penyusup’ di acara batch lain, hehehe, seperti yang kami lakukan Mei lalu. Habisnya, sayang sih kalau melewatkan kesempatan belajar dari para pembiacara. Jika pada wisuda batch 3 yang diundang untuk mengisi materi adalah ustadz Harry Santosa, kali ini panitia menghadirkan ketiga putra-putri bu Septi Peni Wulandani (founder IIP) dengan pak Dodik Marianto.

Nurul Syahid Kusuma (Enes), Kusuma Dyah Sekararum (Ara), dan Elan Jihad Muhammad yang masa pendidikannya lebih banyak dijalani dengan metode homeschooling ini bisa dibilang merupakan bagian dari generasi Z. Enes kelahiran tahun 1996, Ara lahir setahun kemudian, sedangkan Elan, satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara ini, lahir tahun 2003. Terakhir saya melihat mereka sekitar dua tahun yang lalu, ketika ada kuliah umum IIP (waktu itu belum jadi anggota) di mana bu Septi sekeluarga menjadi pengisi acara. Menarik melihat perkembangan ketiga anak muda nan cerdas ini. Mereka tampak makin mantap dan fokus dengan proyek sesuai minat masing-masing.

Continue reading

Cepat Tanggap Atasi Anemia pada Anak

Anemia, khususnya anemia defisiensi besi (ADB) selalu menjadi salah satu topik hangat di grup facebook maupun whatsapp ibu-ibu, khususnya yang memiliki anak bayi atau balita. Jika ada yang curhat anaknya berbadan mungil, biasanya akan ada yang menanggapi dengan saran cek kadar Hb, kalau perlu screening secara keseluruhan. Sebab, anemia diketahui bisa menghambat pertumbuhan.

Tapi di sisi lain, ada juga yang beranggapan tes-tes semacam itu cenderung merepotkan, apalagi jika dokter yang memeriksa (dan sudah berkomentar tentang pertumbuhan) malah tidak pernah merujuk atau menyuruh supaya tes darah untuk mengetahui apakah statusnya anemia atau tidak.

Usai bahasan panjang tentang tes atau tidak, ada pula pro kontra seputar apakah suplemen zat besi perlu diberikan. Ada orangtua yang mengikuti rekomendasi IDAI untuk memberikan suplemen zat besi pada anak sejak bayi tanpa memandang status Hb, ada yang memilih tes dulu agar suplementasinya lebih tepat sasaran, ada juga yang meski sudah jelas-jelas anemia tapi beranggapan bahwa ‘yang alami lebih baik’, alias bertekad mengejar kekurangan zat besi dari makanan sehari-hari.

Continue reading

Langkah-langkah Jitu Atasi Anak Demam

“Demam itu sebenarnya adalah sesuatu yang muncul karena alasan. Tidak mungkin tubuh kita memunculkan sesuatu yang tidak lazim kalau tidak ada alasan,” sebut dr. Apin.

Kalimat di atas bukan untuk pertama kalinya saya dengar atau baca. Dari Milis Sehat, milis tempat dr. Arifianto, Sp.A. dan rekan-rekan termasuk para senior beliau dan para orangtua (non-nakes) yang peduli kesehatan keluarga aktif berbagi, juga dari postingan dr. Apin dan kawan-kawan, saya banyak belajar mengenai hal-hal serupa. Sejumlah sesi Program Edukasi keSehatan Anak untuk orangTua (PESAT) yang diselenggarakan oleh para anggota milis (tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-17 di Jakarta, belum terhitung yang di daerah lain) pun sudah saya ikuti, beberapa di antaranya diisi oleh dr. Apin.

Namun, kendati sudah belajar di sana-sini, keinginan untuk terus belajar membuat saya melangkahkan kaki ke stasiun untuk naik KRL menuju ke Depok pada tanggal 1 Oktober lalu. Tempat yang saya (bersama anak-anak dan pengasuh) tuju adalah Gramedia Depok, tidak jauh dari Stasiun Pondok Cina. Di sanalah diagendakan peluncuran buku Berteman dengan Demam yang ditulis oleh dr. Apin bersama dengan rekan sejawatnya sesama kontributor website Sehat (www.sehat.web.id), dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP. Pastinya bukan sekadar acara seremonial untuk menandai resminya buku tersebut beredar ya, tetapi ada pula sesi berbagi yang diisi oleh dr. Apin.

Continue reading

[Ulasan Buku] Talents Mapping

Judul buku: Talents Mapping, Inspirasi untuk Hidup Lebih Asyik dan Bermakna
Penulis: Abah Rama Royani
Cetakan: Pertama, Desember 2016
Tebal: 208 halaman
Penerbit: ToscaBook
ISBN: 978-602-74211-3-4

Saat ini terdapat cukup banyak tes untuk mengetahui bakat maupun tipe kepribadian manusia. Dengan mengetahui kekuatan maupun kelemahan diri, diharapkan seseorang bisa mengoptimalkan potensinya. Tes tersebut juga kerapkali digunakan oleh perusahaan, instansi pemerintahan, maupun institusi pendidikan untuk mengetahui kecocokan seseorang dengan posisi yang tersedia.

Sedikit berbeda dengan penggolongan potensi atau kepribadian manusia lainnya, talents mapping dirumuskan oleh penulis dari pengalamannya dengan keyakinan bahwa setiap orang punya kekuatan maupun keterbatasan. Bekerja sama dengan memberi manfaat di masing-masing bidang menjadi hal yang sangat penting. “Dalam talents mapping, tidak ada bakat yang buruk. Semua bakat berpotensi menjadi kekuatan. Tinggal bagaimana kita menyalurkan bakat itu ke tempat yang tepat. Jangan sampai bakat itu tersalurkan ke tempat yang salah sehingga malah menimbulkan kerusakan.” (halaman 51)

Continue reading

Belajar Mengoptimalkan Media Sosial untuk Jadi Mamapreneur Andal

Mamapreneur. Kata ini merupakan gabungan dari kata mama dan entrepreneur, atau jika disimpulkan memiliki arti perempuan yang sudah menikah dan memiliki usaha. Ketika publikasi #TUMNgopiCantik dengan tema Social Media for Mamapreneurs tayang di The Urban Mama, saya sempat maju mundur hendak ikut. Merasa diri tidak punya ‘jualan’ :D. Tapi sayang juga jika melewatkan kesempatan belajar dari ahlinya. Ya, yang didaulat untuk menjadi narasumber adalah pak Nukman Luthfie yang sudah kondang sebagai pakar internet marketing. Mantaplah saya mengisi formulir pendaftaran. Siapa tahu pemaparan beliau jadi memicu semangat saya untuk membuka usaha. Atau barangkali ada ilmu yang bisa saya terapkan dalam mengelola media sosial pribadi maupun kantor (yang sudah didukung oleh tim keren di level pusatnya pusat sih, tapi siapa tahu saya bisa dapat sudut pandang lain).

Pada hari penyelenggaraan #TUMNgopiCantik di fx Sudirman tanggal 16 September lalu, pak Nukman menyampaikan materinya dengan gaya santai, tetapi tetap mengena. Sesekali para mama yang menjadi peserta jadi terbahak karena lelucon yang beliau lontarkan, diselingi senyum malu-malu karena merasa tertohok. Maklum, sejumlah kebiasaan dalam bermedsos yang kurang pas juga ikut dikupas.

Menurut pak Nukman, penting sekali bagi para pengusaha untuk menguasai tiga hal yang disingkat dengan 3C dalam memanfaatkan media sosial. “Kalaupun kita tidak master (dalam 3C), minimal kita mengerti supaya kita bisa membentuk tim atau merekrut manajer medsos,” tegasnya.

Tiga hal ini meliputi Community, Content, dan Conversation atau sebetulnya lebih tepat disebut dengan Engagement. “Tapi biar pas gitu, 3C, makanya jadi Conversation,” jelas pak Nukman sambil bercanda.

Continue reading