Cinta Sebening Embun, Pengingat untuk Berbakti pada Orangtua

Mengisi waktu minggu pagi, kami sekeluarga mengikuti kajian @pejuangsubuhid yang kali ini mengambil tema Cinta Sebening Embun. Dalam publikasinya, kajian yang diselenggarakan di aula kantor pusat Rabbani Jl. Pemuda Rawamangun ini disebutkan akan menekankan bahasan cinta kepada orangtua. Pembicara pertama adalah Hudzaifah Muhibullah, putra ustadz Taufik Ridho (Allahu yarham) yang menjadi salah satu contoh birrul walidain atau bakti kepada orangtua terkini. Mungkin sudah pada baca ya, cerita beliau yang hendak mendonorkan hati ke ayahanda tercinta, sepotong kisahnya sempat viral dan kisah lengkapnya antara lain bisa dibaca di sini http://www.portal-islam.id/2017/02/penuturan-seorang-bibi-12-jam-bersama.html?m=1.

Menurut Hudzaifah, kalau ditanya kenapa bisa begitu tegar dan kuat sewaktu mantap mengambil keputusan mendonorkan sebagian hati, kemudian juga ketika menerima kabar bahwa ternyata ayahnya berpulang terlebih dahulu sebelum hati sempat berpindah, ia juga tidak bisa berbagi tipsnya. Ujian tiap orang, katanya, berbeda. Doa dan perbuatan baik yang pernah dilakukan oleh seseorang sebelumnya bisa menjadi penguat diri dalam menghadapi ujian yang datang.

Continue reading

Bumil Jangan Garuk Perut, Hati-hati Stretch Mark!

Familiar dengan anjuran (lebih tepatnya larangan, sih) di atas? Cukup sering kalimat tersebut dilontarkan, biasanya jika ada bumil yang mengeluh gatal-gatal di kulit perut, baik meminta masukan maupun tidak. Umumnya, bumil diminta menahan diri supaya tidak menggaruk kulit perut yang terasa gatal itu, atau kalaupun mau garuk dibilang pakai pembatas seperti baju atau gunakan alat bantu seperti sisir. Tujuannya, agar bekas garukan tidak menjelma menjadi guratan lembah cekung panjang berwarna putih di kulit atau yang biasa disebut dengan istilah stretch mark.

Stretch mark ini sebenarnya bukan hanya rawan dialami oleh ibu hamil. Pada dasarnya orang yang berat badannya berubah secara drastis bisa mendapati keadaan tersebut di kulitnya. Lokasinya pun tidak melulu di perut, bisa saja pada kulit pinggul, paha, payudara, atau betis. Perubahan berat badan tersebut menyebabkan kulit meregang secara drastis dan meninggalkan bekas serupa garis yang tidak melulu berwarna putih. Ada stretchmark alba yang berwarna putih dan stretchmark rubra yang berwarna merah muda. Berikut saya kutip dari Kompas:

Continue reading

Kontroversi Buku Aku Berani Tidur Sendiri

Pekan lalu beberapa grup whatsapp yang saya ikuti, khususnya yang beranggotakan para ibu, diramaikan dengan kabar adanya buku anak yang kontennya tidak pantas karena justru seperti mengajarkan anak untuk bermain-main dengan kelaminnya, atau masturbasi. Sekilas lihat, sampul buku tersebut familiar bagi saya, dan memang ternyata dari penerbit dan penulis yang tidak asing: Tiga Ananda (imprint penerbit Tiga Serangkai, Solo, yang dulunya kebih saya kenal sebagai penerbit buku pelajaran, apalagi saya memang lahir dan besar di kota dekat Solo sehingga banyak memakai buku terbitannya) dan mba Fita Chakra (nama aslinya adalah mba Fitria Chakrawati, tulisan saya dan mba Fita pernah dimuat dalam satu buku yang sama yaitu Long Distance Love).

Penerbit sebesar Tiga Ananda, penulis sekaliber mba Fita, mestinya sudah mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan sebuah buku layak terbit. Memangnya sseperti apa sih, isinya? Jujur, saya juga punya buku Aku Berani Tidur Sendiri di rumah, tapi masih terbungkus rapi dan tersimpan di tumpukan buku yang harus saya saring dulu sebelum diberikan ke anak-anak. Dan karena keterbatasan waktu, saya belum sempat membukanya. Begitu membaca tulisan dalam foto yang viral beredar, saya mengerutkan dahi. Memang cenderung vulgar, ya. Tapi kalau sampai menduga-duga motif negatif mba Fita menulis ini, saya tak berani. Sedih saya membaca hujatan orang-orang di media sosial yang menghujat penerbit dan penulis yang dianggap sengaja agar anak meniru jalan cerita dalam buku, bahkan lebih jauh lagi punya misi menghancurkan generasi muda. Beberapa di antaranya dirangkum dalam berita BBC ini http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39038005. Ada teman-teman penulis yang juga membuat postingan tanggapan dengan sudut pandang masing-masing.

Continue reading

[Kliping] Seputar Radang Tenggorokan dari dr. Apin

Mumpung ada waktu, bikin kliping deh dari status-status dr. Arifianto, Sp.A., alias dr. Apin seputar radang tenggorokan. Radang tenggorokan ini bisa dibilang diagnosis yang cukup umum diberikan, termasuk ketika sedang batuk pilek dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Dulu, saya juga termasuk yang menerima saran “kalau tenggorokan sudah mulai gak enak, itu tandanya sudah saatnya minum antibiotik, sebelum menjadi-jadi”. Termasuk isap-isap FG Troches, tablet pink berlubang di tengah yang ternyata mengandung antibiotik juga.

Setelah kenal Milis Sehat sekitar 9 tahun yang lalu, pelan-pelan saya mulai paham. Meskipun, kadang kalau lagi berasa ‘menderita banget’ seperti ketika sakit tenggorokan di masa awal-awal pindah ke Jakarta dan menelan air putih pun sampai berjengit kemudian dokter keluarga kami tetap tidak memberikan resep antibiotik, kadang rasanya pengin nangis menahan nyeri, hehehe. Tapi, ya itu kan memang prosedurnya ya. Kalau tidak terbukti radang tenggorokan karena bakteri, buat apa dikasih antibiotik? Nanti malah membasmi bakteri baik di dalam tubuh kita.

Untuk membedakan radang tenggorokan karena bakteri atau virus, bisa gunakan Centor score yang juga dijelaskan dr. Apin di bawah, atau lebih lengkapnya ada di web Sehat dengan alamat http://milissehatyop.org/strep-throat-infeksi-tenggorokan-oleh-streptococcus-group-a/. Idealnya sih pakai uji usap tenggorok, tapi saya coba tanya lewat e-mail ke Prodia dulu, ternyata biaya tesnya amat mahal. Kultur swab tenggorokan harus bayar Rp477.500, itu tahun 2013 ya.

Siapa yang anaknya pernah didiagnosis dokter kena radang tenggorokan? Hayo angkat tangan! Ya, ya, saya seolah bisa melihat Anda mengangkat tangan.

Lalu…siapa yang anaknya dikasih antibiotik karena radang tenggoroknya? Ah, saya sepertinya melihat sebagian yang mengangkat tangannya tadi kembali mengacungkan telunjuknya.

Jadi…radang tenggorok perlu diobati dengan antibiotik? Kalau tidak diobati dengan antibiotik bagaimana? Katanya nanti bisa kena komplikasi ke jantung, radang ginjal, dan sebagainya.

Nah, ini dia tulisan yang ditunggu-tunggu selama ini: http://milissehat.web.id/?p=2636 yang menjelaskan perbedaan antara radang tenggorok alias sore throat dengan strep throat.

Ya, di artikel yg ditulis oleh seorang ahli infeksi tropis anak alumni Michigan University dr. Nurul Itqiyah Hariadi, FAAP ini, kita akan tahu fakta bahwa:
– radang tenggorok tidak semuanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A (strep throat). Padahal antibiotik hanya diberikan pada sore throat yang disebabkan oleh strep throat.
– strep throat adalah penyebab 20-35% sore throat pada anak (tidak sampai 50% kan?). Ini pun pada yang usianya 5-15 tahun. Anak di bawah 3 tahun jarang sekali mengalami strep throat
– bila ada gejala pilek, maka kemungkinannya lebih mengarah pada infeksi virus yang tidak butuh antibiotik

Lalu apa gejala strep throat yang membutuhkan antibiotik? Baca dulu ya artikelnya…


Arifianto Apin

Continue reading

Kenali Diri dan Kelemahannya, Wujud Introspeksi Kita

Masjid kantor tempat saya bekerja sering mengadakan kajian, baik yang rutin sehabis sholat wajib maupun pengajian insidentil yang biasanya membahas tema tertentu. Siang itu (22/03), yang mengisi adalah Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., dan materinya menurut saya sangat mengena, sehingga saya posting di sini.

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ

Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (Hasan secara sanad) — ini saya salin dari Rumaysho.com (https://rumaysho.com/3006-seorang-muslim-cermin-bagi-saudaranya.html).

Dalam hadits dikatakan, muslim cermin bagi muslim yang lain, ini artinya adalah anjuran untuk becermin, mengenali diri dan kelemahan.
Kondisi yang paling menyedihkan adalah ketika seseorang sudah tidak mampu lagi mengenali kekurangannya.
Bagaimana caranya mengenali diri sendiri? Hal-hal yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

Continue reading

Menyimak Indonesian Economic Outlook 2017 dari Pak Chatib Basri

Sudah lama saya mendengar tentang Mezzanine Club yang awalnya didirikan oleh dua pegawai muda Kementerian Keuangan kemudian menjadi acara berkala yang membahas isu-isu terkini atau ilmu bermanfaat dengan penyajian yang mudah diterima (utamanya untuk kalangan muda) tetapi sekaligus berbobot. Namun, karena faktor kesibukan kerja dan kemudian jarak, saya belum sempat mengikuti satu pun pertemuan Mezzanine Club. Di awal tahun ini, tak lama setelah saya dipindahkan ke kantor baru yang tidak terlalu jauh dari tempat kegiatan Mezzanine Club biasa digelar (tidak selalu di satu tempat, sih), ada pengumuman bahwa akan diselenggarakan Mezzanine Club 17. Pembicara untuk acara kali ini yang sekaligus untuk merayakan ulangtahun Mezzanine Club ke-2 pun tidak tanggung-tanggung, Dr. Muhammad Chatib Basri, S.E., M.Ec., mantan Menteri Keuangan RI periode 2013-2014.


Continue reading

Makan Jangan Bersuara…. 

Obrolan di grup whatsapp IIP beberapa hari yang lalu sempat membahas tentang trik membuat makan jadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak, terkait dengan materi utama mengenai menumbuhkan kemandirian anak. Ada salah satu anggota yang memberi saran makan sambil mengajak anak mengobrol. Ini mirip dengan saran dokter keluarga kami dalam kultwitnya, yaitu dengan menyelipkan cerita mengenai serba-serbi sayuran atau bahan makanan lain yang ada di hadapannya, mengapa perlu makan itu, dst. Kemudian ada anggota lain yang menanggapi, kan makan jangan bersuara, hehehe… kan ada lagunya juga tuh ya, yang dulu sempat populer lagi karena digunakan sebagai pengiring iklan sebuah merk susu kalau tidak salah.

Kalau secara table manner atau etiket makan, sebetulnya tidak terlarang juga bicara sambil makan, maksudnya ketika tidak ada makanan dalam mulut ya. Misalnya saya kutip dari sini https://agyeeta.wordpress.com/2009/06/21/table-manner/:

CARA BERBICARA
 Hindari berbicara saat makanan masih di dalam mulut
 Hindari bicara sambil menunjuk ke arah seseorang atau gerakan tangan yang berlebihan
 Hindari memotong, menguasai pembicaraan
 Sesuai intonasi berbicara, jangan terlalu keras atau lemah

Malah ada juga yang menuliskan bahwa secara etika, ketika semua yang sedang makan bersama diam saja kan malah suasana jadi kurang enak, bahkan tidak sopan kalau kita diam saja. Saya kutip dari http://fitritataboga.blogspot.co.id/2011/04/etiket-makan-part2.html:

Continue reading

Narasi Tunggal dan Adu Cepat Penyampaian Informasi

Tuntutan pekerjaan baru mengharuskan saya beradaptasi dengan penggunaan istilah-istilah yang juga baru bagi saya. Bukan istilah yang baru-baru amat sih, karena sebetulnya sudah lama dipakai. Saya aja yang ketinggalan berita.

Salah satu istilah yang saya maksud adalah narasi tunggal. Ketika saya mencari tahu lebih jauh tentang istilah ini, yang ternyata merupakan produk pemerintah, saya menemukan penjelasan yang mengena, yaitu:

Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas, Kementerian Kominfo Ismail Cawidu yang disampaikan dalam Pertemuan Tematik Bakohumas di Function Room Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (18/9) penyampaian informasi harus dilakukan dengan cepat dan akurat meskipun tidak lengkap. “Karena kita berpacu dengan waktu. Siapa yang pertama mengisi ruang ruang publik dengan baik maka dialah yang memenangkan persoalan. Tapi siapa yang terlambat itu akan tergilas dengan informasi meskipun dia benar, jadi faktor kecepatan menjadi sangat penting,” tegasnya.

Dalam sambutan mewakili Ketua Badan Koordinasi Humas (Bakohumas), Ismail mengingatkan kembali tentang pelaksanaan Government Public Relations (GPR) di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Menurutnya,  Kementerian Kominfo sudah menyebarluaskan konten kebijakan pemerintah untuk pelaksanaan GPR  ke seluruh jaringan humas di daerah sejak 27 Juli 2015. “Melalui pertemuan hari ini kita berharap semakin luas penyebarannya. Bagaimana kita menyampaikan sebuah kebijakan yang diambil pemerintah melalui humas pemerintah dan pranata humas,”.

Sejalan dengan Inpres Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik, Ismail Cawidu meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga agar mengirimkan berbagai macam data kebijakan. Data itu kemudian diolah Kemkominfo menjadi narasi tunggal. Narasi tunggal itu dipublikasikan melalui kementerian dan lembaga. “Jadi narasi tunggal dibuat berdasarkan data yang kami terima dan analisis. Sehingga setiap informasi kebijakan yang keluar adalah sifatnya resmi official dari Pemerintah,” tambahnya.

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/5975/Humas+Harus+Bertindak+Cepat+dan+Akurat/0/berita_satker

Continue reading

Seberapa Perlu Membatasi Pergaulan Anak di Lingkungan Rumah?

Salah satu kekhawatiran sebagai orangtua yang saya tangkap dari diri sendiri maupun kawan-kawan adalah jika anak mendapatkan pengaruh dari sekeliling. Tentu yang dimaksud adalah pengaruh buruk, ya. Lebih spesifik, dari orang lain yang bertemu sehari-hari dengan anak, dan lebih khusus lagi dari teman sebaya baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Sebab, anak-anak cenderung mudah meniru perilaku yang seumuran karena kemiripan kondisinya, bukan? Istilahnya, kita bisa jaga anak, apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, sudah kita batasi tontonan dan bacaannya sesuai dengan visi misi keluarga, tapi kita kan tidak selalu bisa kontrol apa yang diperoleh anak di luar sana.

Kalau tetangga banyak yang sepaham soal parenting atau setidaknya kondusif lah untuk hidup berdampingan dengan baik, alhamdulillah. Kalau tidak? Ada kan yang cerita misalnya sehari-hari kita dengar tetangga memarahi anaknya dengan suara keras, atau nongkrong tak jelas sambil merokok di sekitar rumah, atau anak-anak yang bercanda sambil melontarkan kata-kata kotor. Eh, tapi ini bukan bermaksud negative thinking lho ya, toh tetangga bisa diibaratkan keluarga dekat yang sunnahnya dimuliakan, trus kalau berprasangka jelek jangan-jangan bener kejadian, hanya saja pada kenyataannya keadaan tak selalu seideal harapan kita.

Bagaimana solusinya? Yang paling utama tentu membekali anak agar lebih kuat menghadapi pengaruh lain. Tujuannya agar baik di dalam maupun di luar jangkauan radar kita ia tetap bisa menjaga diri. Beberapa aspek mengenai bekal ini sempat disinggung juga di catatan saya sebelumnya, misalnya terkait internet dan pendidikan seks. Tentunya dengan diiringi doa juga ya agar kita sekeluarga selamat dunia akhirat. Pendekatan agama bisa dipakai, dan untuk ini pastinya orangtua harus belajar cara penyampaiannya dengan tepat sesuai cita-cita keluarga.

Langkah berikutnya yang acapkali bikin bimbang adalah soal pertemanan anak. Haruskah anak ‘dikekep’ di rumah? Nanti jadi anak kuper dong, tidak luwes bergaul, dan kita sebagai orangtua dicap lebay pula. Terus terang, pendekatan ini (tanpa kekerasan dan paksaan lho ya) dipakai pula oleh orangtua saya. Mungkin juga penyebabnya bukan kekhawatiran beliau akan pengaruh buruk, melainkan semata karena jarak rumah yang agak jauh dengan teman sebaya. Orangtua tetap memfasilitasi rumah dengan bacaan maupun mainan. Meski kedua orangtua bekerja, saya tak kekurangan teman main di rumah walaupun dalam wujud orang dewasa seperti mbah kakung, mbah putri, saudara orangtua, dan pengasuh/ART, plus para sepupu yang kadang berkunjung.

Kebijakan macam ini bagi sebagian orang memang mungkin tampak berlebihan, bahkan saya pernah menjadi peserta pelatihan di mana trainer-nya mengolok-olok karakter anak yang dibesarkan dengan cara demikian. Yang dicemaskan lazimnya adalah kalau anak tidak dibiasakan bergaul lepas, dia akan gagap ketika waktunya berinteraksi dengan masyarakat. Cakrawala pengetahuannya, toleransinya terhadap keberagaman, dan kepekaan sosialnya ditakutkan tidak terasah. Kecemasan yang sama saya amati diungkapkan juga oleh beberapa peminat homeschooling.

Namun, melihat kenyataan masa kini, sebetulnya tidak bisa dibilang melebih-lebihkan kalau orangtua mengambil sikap protektif. Salah satu orangtua yang cukup aktif menyuarakan hal ini adalah bu Sarra Risman (atau nama aslinya Yuhyina Maisura), putri bu Elly Risman yang juga aktif berbagi di grup Parenting with Elly Risman and Family di facebook, selain menjadi admin grup messenger Yayasan Kita dan Buah Hati. Sebelumnya saya pernah membaca tanggapan Busar–sapaannya–di grup yang sama ketika ada anggota yang menanyakan apakah opsi ‘menahan anak di rumah saja’ memang perlu diambil demi membentengi anak dari dampak negatif bermain dengan anak lain yang belum tentu orangtuanya satu pandangan dengan kita tentang pengasuhan. Jawaban busar, ia lebih memilih begitu. Ternyata kemudian oleh busar dibahas tersendiri di thread ini https://www.facebook.com/groups/1657787804476058/permalink/1770526713202166/, sebagaimana saya kutip di bawah.

Sarra Risman

5 October 2016

Continue reading

Materi Kelas Offline Bunda Sayang Jakarta #1: Komunikasi Produktif

Kuliah Offline IIP Jakarta: Komunikasi Produktif
Hujan yang cukup deras tidak menghalangi langkah kaki member IIP Jakarta terutama peserta kelas Bunda Sayang untuk mengikuti kuliah offline yang telah disepakati bersama. Kegiatan ini melanjutkan sesi kuliah offline ketika Kelas Matrikulasi. Teman-teman IIP Jakarta cukup bersemangat untuk melanjutkan kegiatan kuliah offline ini hingga ke kelas Bunda Sayang.
Tidak hanya ibu-ibu saja yang berpartisipasi, namun bapak dan anak pun turut serta. Bapak-bapak menemani anak bermain di sekitar lokasi dan tetap bisa mengikuti jalannya diskusi. Anak-anak pun difasilitasi dengan aktivitas di kids corner (persembahan dari salah satu member) sehingga tetap merasa aman dan nyaman ketika diskusi berlangsung.
Berikut ini disertakan hasil diskusi kuliah offline Komunikasi Produktif IIP Jakarta.
📝 Resume Diskusi Bersama Ibu Nurchasanah M.A
📆 Ahad, 19 Februari 2017
🏡 Rumah Bunda Sari Kalideres
Profil Pembicara:
👩🏻‍🏫 Ibu Nur Chasanah M.A
📝 Beliau adalah seorang Ibu dari 5 Anak
(2 anak sudah hafidz dan 3 lainnya sedang proses, ada yang sudah 16, 3 dan 5 juz)
Aktivitas terkait profesi:
🌀Direktur International Education Program NFbSL-Bandung (2014-2016)
🌀Dosen Fisip UI, kelas international komunikasi (2010-sekarang)
🌀School Principal Green Montessori Islamic School (2012-2014)
🌀Direktur Nurul Fikri English Course (2010-2014)
Vice Principal Cahya MOntessori (2006-2010)
🌀Bidang Pendidikan dan Pengajaran NEC (2002-2005)
Pengantar diskusi
Percakapan nabi Ibrahim dengan Ismail
Terjemah bebas:
T : “Semalam saya bermimpi, menyembelih engkau. Apa pendapatmu?”
J : “Sesungguhnya, engkau akan mendapatiku menjadi orang yang bersabar”.
Apa yang bisa kita lihat?
Sisi komunikasi:
🌷Bunda profesional harus mengawal fase komunikasi pada saat anak usia 3 tahun (sudah mulai mengetahui sifat yang abstrak)
Contoh:
a. Ada teh kotak di depan bunda. Lalu bunda pindahkan teh kotak ke belakang bunda. Apakah teh kotaknya hilang? Tidak. Teh kotak tetap ada, letaknya pindah di belakang bunda.
b. Main ciluk baa
🌷Hal abstrak pertama yang dikenalkan adalah adanya Allah dalam kehidupan kita. Komunikasi yang ada framenya (tuntunan dari Allah).
Pengenalan sederhana dimulai dengan berdoa (dalam bahasa Arab) sebelum melakukan aktivitas –> melatih otot (menyiapkan organ of speech) –> terbiasa dengan bahasa Arab sedari kecil melatih lidah anak untuk siap berbicara multibahasa (polyglot) dengan baik pada saatnya nanti.

Continue reading